Author: admin

  • Pdt. Ronny Mandang  Bersyukur Persoalan Dualisme Kepemimpinan Gereja Bethany Selesai

    Pdt. Ronny Mandang Bersyukur Persoalan Dualisme Kepemimpinan Gereja Bethany Selesai

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Persoalan dualism kepemimpinan Gereja Bethany Indonesia yang berpusat di Nginden Surabaya Jawa Timur banyak menyedot perhatian umat Kristen. Dan bicara dualisme atau perpecahan gereja ini menyangkut masalah yang sensitif dan sulit untuk mencari jalan tengahnya.

    Seperti apa yang terjadi dengan persoalan internal (dualisme – selama belasan tahun ) di Sinode Gereja Bethany Indonesia, antara Sinode Gereja Bethany Indonesia pihak Pdt. Bambang Hengky Surabaya dengan Sinode Gereja Bethany Indonesia pihak Pdt. Samuel Kusuma Balikpapan dan sekarang Menjadi Gereja Bethany Nusantara (anggota PGLII).

    Namun, ada kabar gembira dengan adanya penyelesaian terkait dualism gereja Bethany tersebut seperti yang disampaikan Pdt Ronny Mandang ketua umum Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia yang menjadi menyaksikan langsung proses penyelesaian dualism tersebut.

    Pdt. Ronny mengatakan kepada media ini bahwasanya dengan berkat pertolongan Tuhan Yesus Kristus pada hari ini (13/3/2025) telah diselesaikan dan berakhir di depan Dirjen Bimas Kristen Dr. Jeane Marie Tulung yang didampingi DirUr Agama Kristen Dr. Amsal Yowei dan Kasubdirektorat kelembagaan bidang hukum Marvel Kawatu, S.Th.

    Dalam penyelesaian tersebut selain hadir Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Jakarta, dan Pdt. Ronny Mandang selaku ketua umum PGLII menjadi saksi sejarah penyelesaian dualism antara gereja Bethany Indonesia di bawah pimpinan Bambang Henky Sinode Gereja Bethany Indonesia pihak Pdt. Samuel Kusuma Balikpapan dan sekarang Menjadi Gereja Bethany Nusantara (anggota PGLII).

    Berharap ke depan lanjut Pdt Ronny Mandang yang sedang mempersiapkan musyawarah nasional PGLII yang akan berlangsung Maret 2025 di Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

  • Kepala dan Perangkat Desa Siap Wujudkan Koperasi Desa Kopdes Merah Putih

    Kepala dan Perangkat Desa Siap Wujudkan Koperasi Desa Kopdes Merah Putih

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi menegaskan bahwa Koperasi Desa (Kop Des) Merah Putih merupakan milik masyarakat desa maka eksistensinya harus berguna untuk menjadi penggerak roda ekonomi di desa. Maka itu Kementerian Koperasi melakukan sinkronisasi program Kop Des Merah Putih bersama para Kepala/Aparat/Lembaga Desa.

    “KopDes bisa menjadi pusat produksi dan distribusi barang-barang yang ada di desa. Tentunya, dengan melibatkan sebanyak mungkin anggota warga desa sehingga kemanfaatan Kop des Merah Putih bisa dirasakan seluruh warga desa,” papar Menkop, saat audiensi bersama Asosiasi Kepala, Perangkat dan Lembaga Desa yang terdiri dari PAPDESI, APDESI, PPDI, di Jakarta, Senin (10/3).

    Menkop Budi Arie pun membandingkannya dengan BUMDes yang milik pemerintah desa, sedangkan Kop Des milik masyarakat desa. “Tidak akan ada saling mematikan. Kalau bisa malah bekerja sama. Koperasi itu dari kata kooperatif yang artinya kerja sama. Orang koperasi itu harus bisa bekerja sama dengan semua orang,” ucap Menkop.

    Menkop menekankan bahwa pemerintah pada tahap ini ingin memberikan dukungan. “Dukungan dalam pengertian percepatan penguatan Kop Des Merah Putih. Kini saatnya mesti bersatu, semua harus bersatu,” ucap Menkop Budi Arie.

    Terlebih lagi, lanjut Menkop, tujuan pendirian Koperasi Desa Merah Putih ini memang untuk kepentingan dan kesejahteraan warga desa, bukan yang lain. “Tujuannya adalah bagaimana kemiskinan ekstrim kita bisa berantas, tengkulak, rentenir, dan semua yang bisa menghambat dan menjadi jeratan dan lingkaran setan kemiskinan desa kita bisa berantas,” ucap Menkop.

    Sementara Ketua Umum PAPDESI (Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia), Wargiyati mengatakan, pihaknya mendukung dan menyambut baik program satu desa, satu koperasi, atau Koperasi Desa Merah Putih. “Harapan ke depan tentu saja dengan adanya koperasi desa otomatis membangkitkan ekonomi di seluruh desa di seluruh Indonesia, sesuai potensinya. Ada yang pertanian, perikanan, kelautan,” kata Wargiyati.

    Hal senada diucapkan Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Anwar yang mendukung penuh dengan adanya Koperasi Desa Merah Putih. “Bagi kami, ini sudah bisa menjadi jembatan peningkatan ekonomi di masyarakat. Yang tentunya warga masyarakat harus berproduktif, tidak boleh lagi konsumtif,” kata Anwar.

    Anwar berharap, dengan adanya Koperasi Desa bisa memutus mata rantai tengkulak, rentenir, dan sebagainya. Sehingga, kemandirian juga kesejahteraan akan diraih masyarakat desa seluruh Indonesia. “Yang semula masyarakat kami mendapatkan harga-harga yang mahal kemudian dengan Koperasi Desa Merah Putih ini menjadi harga terjangkau yang bisa dibeli masyarakat,” ujar Anwar.

    Begitupun dengan Ketua Majelis Pertimbangan DPP APDESI Agung Heri menyampaikan dengan adanya Kop Des akan membangkitkan kembali keberadaan koperasi. “Sehingga ekonomi kerakyatan akan muncul dari desa untuk Indonesia lebih hebat,” ucap Agung.

    Agung menambahkan nanti juga akan ada harmonisasi dengan bumdes, dengan peraturan-peraturan desa yang ada termasuk permodalannya dan sebagainya. “Sehingga kami beraudiensi di sini dengan tujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dan tumpang tindih aturan-aturan yang nanti bisa menjadi benturan di tingkat bawah. Kami siap mendukung program Pak Presiden untuk Koperasi Desa Merah Putih ini,” ucap Agung.

    Sumber: Humas Kementerian Koperasi

  • Pendeta dan Jurnalistik: Peran Ganda dalam Misinya Memberitakan Kebenaran

    WARTANASRANI.COM – Pendeta dan jurnalis adalah dua profesi yang tampak berbeda, tetapi keduanya memiliki kesamaan dalam tugasnya: menyampaikan kebenaran. Pendeta memberitakan kebenaran firman Tuhan kepada jemaat, sementara jurnalis menyampaikan fakta dan informasi kepada masyarakat.

    Dalam konteks kekristenan, peran pendeta dalam dunia jurnalistik menjadi semakin relevan, terutama dalam menyampaikan pesan-pesan moral, sosial, dan spiritual melalui berbagai media.

    Pendeta dalam Dunia Jurnalistik

    Seorang pendeta yang terjun dalam jurnalistik memiliki tanggung jawab ganda. Ia tidak hanya bertugas sebagai gembala jemaat, tetapi juga sebagai pengawal informasi yang jujur dan berintegritas. Pendeta yang aktif di dunia jurnalistik memiliki beberapa peran penting, di antaranya:

    1. Pewarta Kebenaran dalam Media.

    Seperti halnya seorang nabi di zaman Alkitab yang menyuarakan kebenaran kepada umat, seorang pendeta dalam dunia jurnalistik bertugas untuk menegakkan kebenaran di tengah arus informasi yang sering kali bias atau dimanipulasi. Dalam era post-truth, di mana hoaks dan misinformasi merajalela, pendeta dapat menjadi suara yang berimbang dan terpercaya dalam menyampaikan berita.

    2. Pendorong Etika dalam Jurnalisme.

    Dunia jurnalistik membutuhkan prinsip etika yang kuat, seperti kejujuran, keadilan, dan objektivitas. Pendeta yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik dapat mendorong penerapan nilai-nilai Kristiani dalam praktik jurnalisme, sehingga media menjadi alat yang membangun, bukan sekadar mengejar sensasi.

    3. Jurnalisme sebagai Sarana Misi.

    Dalam era digital, media menjadi salah satu alat paling efektif untuk menyebarkan pesan Injil. Pendeta yang memahami dunia jurnalistik dapat menggunakan platform media untuk menyampaikan firman Tuhan, membangun kesadaran sosial, serta menginspirasi perubahan positif dalam masyarakat.

    4. Penghubung Antara Gereja dan Masyarakat.

    Jurnalisme yang dilakukan oleh pendeta dapat menjadi jembatan antara gereja dan masyarakat luas. Melalui tulisan, berita, atau opini yang dimuat di media, gereja dapat berkontribusi dalam berbagai isu sosial seperti keadilan, toleransi, pendidikan, dan kemanusiaan.

    Tantangan dan Peluang

    Pendeta yang berkecimpung dalam jurnalistik tentu menghadapi tantangan. Salah satunya adalah menjaga keseimbangan antara tugas pelayanan di gereja dan tugas sebagai jurnalis. Selain itu, tekanan dari berbagai pihak dalam dunia jurnalistik juga bisa menjadi tantangan tersendiri.

    Namun, di sisi lain, ini juga merupakan peluang besar bagi gereja untuk hadir dalam ruang publik dan memberikan pengaruh yang lebih luas.

    Pada akhirnya, Pendeta yang aktif dalam dunia jurnalistik adalah sebuah panggilan yang mulia. Dengan membawa nilai-nilai Kristiani ke dalam media, mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa terang bagi dunia.

    Dalam era informasi saat ini, peran pendeta dalam jurnalistik tidak hanya penting, tetapi juga strategis dalam memberitakan kebenaran dan membangun masyarakat yang lebih baik.

    Pendeta dan jurnalis, meskipun memiliki latar belakang berbeda, pada dasarnya memiliki tugas yang sama: menyampaikan kebenaran. Ketika keduanya menyatu dalam satu pribadi, maka lahirlah pewarta yang bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membawa pesan harapan dan kasih bagi dunia. (*)

    Oleh: Ronald Stevly Onibala

  • BMPTKKI Siap Gelar RUAT 2025: Hadirkan Sesi Khusus Kenaikan Jabatan Akademik dan Peningkatan Kualitas PTKKI

    BMPTKKI Siap Gelar RUAT 2025: Hadirkan Sesi Khusus Kenaikan Jabatan Akademik dan Peningkatan Kualitas PTKKI

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA, 1 Maret 2025 – Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) akan menyelenggarakan Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) 2025 pada 24-25 Maret 2025. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara hybrid (daring dan luring) untuk memastikan partisipasi luas dari perguruan tinggi anggota BMPTKKI di seluruh Indonesia. Panitia telah membuka pendaftaran bagi peserta yang ingin mengikuti acara ini.

    RUAT 2025 akan dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd. Kehadirannya tidak hanya untuk membuka acara, tetapi juga memberikan pengarahan strategis terkait kebijakan pemerintah dalam pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKKI) di Indonesia.

    Selain agenda tahunan BMPTKKI yang mencakup laporan dan program kerja, RUAT kali ini akan menghadirkan pengarahan dan pendampingan bagi dosen yang tengah mengajukan kenaikan jabatan akademik ke Lektor Kepala dan Guru Besar. Sesi ini akan dipandu oleh Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang akan memberikan bimbingan teknis dalam proses kenaikan jabatan akademik.

    Di samping itu, pembahasan mengenai peningkatan kualitas PTKKI juga menjadi agenda utama. Materi ini akan disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Harianto GP, D.Th., D.Ed, bersama Tim Akreditasi BMPTKKI, yang akan membahas strategi penguatan mutu akademik, akreditasi, serta inovasi dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi keagamaan.

    BMPTKKI berharap melalui RUAT ini, sinergi antarperguruan tinggi keagamaan Kristen semakin kuat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian. Selain itu, forum ini juga menjadi kesempatan bagi para dosen untuk mendapatkan wawasan serta pendampingan dalam pengembangan karier akademik mereka.

    Para anggota BMPTKKI yang ingin berpartisipasi dalam RUAT 2025 dapat segera melakukan pendaftaran melalui panitia penyelenggara. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat eksistensi dan kontribusi PTKKI di dunia pendidikan tinggi Indonesia. (RSO)

  • Ibadah Pembentukan WBI Lokal Pengurus Wanita Wilayah 1 di WBI GBI Kabar Baik Harapan Baru, Bekasi Barat Berjalan Lancar

    Ibadah Pembentukan WBI Lokal Pengurus Wanita Wilayah 1 di WBI GBI Kabar Baik Harapan Baru, Bekasi Barat Berjalan Lancar

    WARTANASRANI.COM, KOTA BEKASI – Ibadah Pembentukan WBI (Wanita Bethel Indonesia) lokal Pengurus Wilayah Wanita 1 berlangsung dengan penuh sukacita di WBI Kabar Baik Harapan Baru, Bekasi Barat, pada Jumat sore ini (28/02/2025).

    Suasana Ibadah penggabungan WBI di GBI Kabar Baik Harapan Baru Bekasi

    Acara ini dihadiri oleh para pengurus dan jemaat, serta dipimpin oleh Pdt. Ferra Manajang, S.PAK, Ketua Pengurus Daerah Wanita GBI Bekasi.

    Dalam khotbah yang mengangkat tema “Menjadi Dewasa Rohani dalam Iman dan Karakter”, Pdt. Ferra menekankan pentingnya merenungkan Firman Allah (FA), mentaati Firman Allah, serta memperbarui pikiran sebagai langkah awal menuju kedewasaan rohani.

    “Kedewasaan rohani bukanlah sebuah proses instan, melainkan perjalanan yang berkelanjutan,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Pdt. Ferra menjelaskan bahwa untuk bertumbuh dalam karakter yang dewasa, setiap pribadi harus melatih kebiasaan yang baik, hidup dalam kasih, dan siap menerima makanan keras dalam pengajaran iman.

    Sebagai umat yang dewasa rohani, kita juga harus bisa membedakan yang salah dan benar, bertanggung jawab, dapat dipercaya, serta memiliki keyakinan yang teguh.

    Mengutip Roma 12:12, Pdt. Ferra mengajak setiap anggota WBI untuk terus bertumbuh dan mengembangkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

    Setelah khotbah, para pengurus WBI di GBI Kabar Baik diundang maju untuk didoakan oleh Pdt. Ferra bersama dengan Pengurus Daerah dan PWW 1, sebagai bentuk dukungan dan berkat dalam tugas pelayanan yang akan diemban.

    Ibadah ini dilaksanakan dengan penuh damai dan pengharapan, di bawah penggembalaan Pdm. Sutanto Fajar, yang dengan setia memimpin jemaat di GBI Kabar Baik Harapan Baru.

    Semoga ibadah penggabungan ini semakin memotivasi setiap WBI untuk tumbuh dewasa rohani dalam iman dan karakter, serta menjadi terang bagi sesama di tengah kehidupan yang penuh tantangan. (Ida/Ayin)

  • Dukung Penyandang Disabilitas: Anggur Perjamuan Kudus dengan Izin BPOM Kini Tersedia

    Dukung Penyandang Disabilitas: Anggur Perjamuan Kudus dengan Izin BPOM Kini Tersedia

    WARTANASRANI.COM – Sebuah inisiatif mulia hadir bagi umat Kristen yang ingin menjalankan Perjamuan Kudus sekaligus mendukung penyandang disabilitas (tunadaksa). Kini, tersedia Anggur Perjamuan Kudus yang diproduksi oleh saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Produk ini telah memiliki izin resmi dari BPOM RI, sehingga terjamin kualitas dan keamanannya untuk digunakan dalam ibadah.

    Berikut adalah pilihan produk serta harganya:

    1. Anggur & Roti Perjamuan dengan Ayat Firman Tuhan (Terpisah)

    – 1 pack berisi 100 pcs anggur + roti ayat terpisah

    – Harga: Rp. 120.000,- (termasuk ongkir) untuk wilayah Jabodetabek.

    2. Anggur & Roti Perjamuan dengan Ayat Firman Tuhan (Dalam Satu Kemasan)

    – 1 pack berisi 100 pcs

    – Harga: Rp. 185.000,- (termasuk ongkir) untuk wilayah Jabodetabek.

    Untuk pemesanan, dapat menghubungi:

    Banuara Sihombing: Telepon/WhatsApp: +62 811-3991-2348

    Pembayaran dilakukan melalui rekening Yayasan Tunanetra Pelangi Kasih.

    Bank BRI – No. Rek: 042101001335309

    (Paket akan dikirim setelah pembayaran diterima).

    Melalui pembelian produk ini, selain mendapatkan anggur Perjamuan Kudus berkualitas, Anda juga turut berkontribusi dalam memberdayakan penyandang disabilitas agar lebih mandiri secara ekonomi. Mari bersama mendukung karya mereka! (*)

  • Aggie Hurst: Kisah Mencengangkan Seorang Gadis Tanpa Negara

    Aggie Hurst: Kisah Mencengangkan Seorang Gadis Tanpa Negara

    Aggie Hurst: Kisah Mencengangkan Seorang Gadis Tanpa Negara

    Terkadang, dibutuhkan waktu bertahun-tahun atau seumur hidup untuk melihat maksud Tuhan

    WARTANASRANI.COM – Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Tuhan untuk melayani misi penginjilan di Afrika. Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire.

    Mereka adalah David Flood & isterinya Svea, serta Joel Erickson & isterinya Bertha.

    Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria.

    Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. “Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah,” demikian kata penduduk desa itu.

    Di desa N’dolera itu mereka ditentang habis oleh kepala suku yang khawatir kehadiran orang-orang putih ini membuat dewa-dewa setempat murka. Jadi didirikan sebuah pondok dari lumpur, kira-kira 750 meter di luar desa.

    Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi.

    Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.

    Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut.

    Anak kecil itulah satu-satuya kontak dengan penduduk lokal yang diijinkan menjual telur dan daging ayam seminggu dua kali, dan kemudian disambut dengan senang hati, dibimbing kepada Kristus.

    Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa.

    Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, “Berikan nama Aina pada anak kita,” lalu ia meninggal.

    David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya.

    Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru:

    “Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!”

    Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan:

    “Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu.”

    Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Tuhan. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.

    Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.

    Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami-istri Erickson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani.

    Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil “Aggie”. Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo.

    Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya.

    Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis.

    Saat Aggie beranjak dewasa ia mendapat kiriman majalah Kristen dengan berbahasa Swedia di kotak suratnya. Saat ia melihat sebuah halaman di majalah tersebut ia terhenti kaget karena foto-foto yang ada di majalah tersebut. Ada sebuah kuburan primitif dengan salib putih dan di salib tertulis nama Svea Flood. Aggie pun spontan beranjak ke mobilnya dan pergi menemui seseorang yang bisa menerjemahkan artikel berbahasa Swedia tersebut.

    Kemudian penerjemah itu membacakan dengan ringkas bahwa dulu ada pasangan suami isteri misionaris yang datang ke Afrika yang memperkenalkan Yesus kepada seorang bocah laki-laki. Suami isteri ini dikaruniai seorang anak perempuan tapi ibunya meninggal dunia setelah beberapa hari. Namun melalui anak kecil yang pernah dibimbing Svea Flood, Tuhan telah menyelamatkan 600 orang Zaire. Ketika si bocah tersebut beranjak dewasa ia mendirikan sekolah di desanya tersebut dan oleh semangat belas kasihan Kristus yang ia peroleh dari Svea kini ia telah menjadi Pemimpin dari Gereja Pentakosta di Zaire dan memimpin 110.000 orang-orang Kristen di Zaire.

    Sejak itu Aggie pun berusaha mencari tahu keberadaan ayahnya tapi sia-sia.

    Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie).

    Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.

    Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, “Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?”

    Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, “Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.”

    Aggie segera berseru: “Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie – Aina!”

    Mendengar seruan itu Ruhigita Ndagora si Pengkotbah kulit hitam itu segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.

    Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang.

    Ia bertanya kepada mereka: “Dimana David kakakku ?” Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol.

    Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: “Bagaimana dengan saudaraku perempuan?”

    Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata:

    “Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana.”

    Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya. Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil.

    Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh di sisinya dan menangis, “Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika.” Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, “Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi.” Aggie menjawab, “Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku”.

    Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, “Tuhan tidak memeliharamu!” Ia mengamuk. “Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!”

    Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. “Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar.”

    Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat. Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Tuhan telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.

    Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!

    Mungkin awalnya di mata David Flood, ia dan istrinya telah gagal sebagai seorang misionaris. Namun jerih payah di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Terbukti bahwa belas kasihan dan kepedulian yang disertai pemberitaan Injil terhadap satu orang melahirkan 600 orang yang bertobat dan dimuridkan.

    Beberapa tahun kemudian Aggie dan suami mengunjungi desa N’dolera tersebut. Disambut riuh rendah penuh sukacita, mereka berziarah juga ke kubur Svea Flood.

    Aggie berlutut mengucap syukur di sana, dan pendeta setempat membacakan 2 ayat berikut:

    Yohanes 12:24* _*Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

    Mazmur 126:5* _*Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorai-sorai.

    [Dikutip dari buku Aggie Hurst: The Inspiring Story of A Girl Without A Country]

  • Grand Opening GBI Grand Wisata Rayon 18 di Mall Living World Grand Wisata Bekasi

    Grand Opening GBI Grand Wisata Rayon 18 di Mall Living World Grand Wisata Bekasi

    WARTANASRANI.COM, BEKASI – Gereja Bethel Indonesia (GBI) Grand Wisata Rayon 18 resmi membuka tempat ibadah barunya di Mall Living World Grand Wisata Bekasi, Lantai 3 No. 2, pada Sabtu (22/2/2025). Acara grand opening ini dihadiri oleh jemaat, tokoh agama, dan perwakilan dari pihak mall serta Forum Persaudaraan Kerukunan Umat Beragama Grand Wisata. Kegiatan ini menandai babak baru pelayanan rohani di kawasan Grand Wisata dan sekitarnya.

    Pemotongan tumpeng oleh Pdm. Agus, S.Th gembala jemaat sebagai tanda syukur pembukaan tempat Ibadah baru di Mall Living World Grandwis Bekasi, disaksikan Gembala Rayon 18 Pdt. Dr. Andy Markus.

    Tempat ibadah ini akan digembalakan oleh Pdm. Agus, S.Th, bersama istrinya, Pdm. Liany. Mereka akan menggelar tiga kali ibadah setiap minggunya, yaitu Ibadah Raya Minggu I pukul 10.00, Ibadah Raya Minggu II pukul 13.00, dan Ibadah Raya Minggu III pukul 17.00. Pelayanan ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak jemaat dan menjadi berkat bagi masyarakat sekitar.

    Ibadah syukur grand opening pentahbisan dipimpin oleh  Gembala Rayon. 18, Pdt. Dr. Andy Markus, yang membawakan firman Tuhan dari Mazmur 127:2. Ayat ini mengingatkan bahwa segala usaha manusia akan sia-sia tanpa campur tangan Tuhan. “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya,” tegas Pdt. Andy dalam khotbahnya. Ia menekankan pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap rencana dan pelayanan.

    Pdt. Andy juga menyampaikan tiga syarat agar Tuhan menyertai tempat pelayanan ini. Pertama, Tuhan harus menjadi pusat dan tujuan utama pembangunan rumah ibadah. Kedua, dukungan dari banyak pihak menjadi tanda bahwa Tuhan mengizinkan pelayanan ini berdiri. Ketiga, adanya unsur mukjizat dalam proses pembangunan dan pelayanan. “Banyak orang bekerja keras, tetapi tanpa Tuhan, semuanya sia-sia,” ujarnya.

    Selain itu, Pdt. Andy mengingatkan tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian jemaat. Pertama, Tuhan harus menjadi dasar segala usaha. Kedua, Tuhan adalah pelindung sejati yang memberikan keamanan yang tidak bisa dijamin oleh dunia. Ketiga, berkat Tuhan jauh lebih besar daripada usaha manusia. “Bekerja tanpa mengandalkan Tuhan hanya akan membawa kelelahan dan stres,” tambahnya.

    Foto bersama Tim pelayanan GBI Grand Wisata dan Gembala Rayon serta tamu undangan

    Acara grand opening ini juga dihadiri oleh Bpk. Sugianto Wibawa, Direktur Mall Living World Grand Wisata Bekasi, dan Bpk. H. Sandy Siswantoro, Ketua Forum Persaudaraan Kerukunan Umat Beragama Grand Wisata. Keduanya menyampaikan apresiasi dan dukungan atas berdirinya tempat ibadah ini. “Ini adalah langkah positif untuk memperkuat kerukunan umat beragama di kawasan ini,” kata Bpk. Sandy.

    Pdm. Agus, dalam sambutannya, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan serta Pdt. Andy Markus yang telah mendukung pembangunan tempat ibadah ini. Ia juga mengungkapkan visi pelayanan GBI Grand Wisata Rayon 18 untuk menjadi berkat bagi masyarakat sekitar. “Visi ini akan menjadi kenyataan jika kita terus memperkatakan dan memperjuangkannya,” ujarnya.

    Proses pembangunan tempat ibadah ini tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal biaya dan pemilihan tim. Namun, Pdm. Agus dan tim bersyukur karena Tuhan menyertai setiap langkah mereka. Ibu Liany, yang ditunjuk menangani interior ruangan ibadah, menceritakan bagaimana Tuhan memberikan mukjizat dalam proses negosiasi biaya.

    Bpk. H. Andy Siswanto, Ketua Forum Persaudaraan Kerukunan Umat Beragama Grand Wisata, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan moderasi beragama. Ia juga mendorong agar kebutuhan tempat ibadah untuk semua agama dipenuhi. “Kami akan mengajukan permohonan lahan fasos khusus untuk 6 agama kepada Pemda,” ujarnya. Hal ini diharapkan dapat menciptakan suasana ibadah yang nyaman dan layak bagi semua umat beragama.

    Acara grand opening ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur atas berdirinya GBI Grand Wisata Rayon 18. Jemaat dan tamu undangan pun diajak untuk terus mendoakan pelayanan ini agar semakin berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang. “Kami berharap GBI Grand Wisata dapat menjadi wadah yang membawa damai sejahtera dan kebersamaan di tengah masyarakat,” tutup Pdm. Agus. (Ida)

  • Para Tokoh dan Aparatur Sambut Hangat Walikota Tri Adhianto dan Wawali Harris Bobihoe

    Para Tokoh dan Aparatur Sambut Hangat Walikota Tri Adhianto dan Wawali Harris Bobihoe

    WARTANASRANI.COM, KOTABEKASI – Tri Adhianto dan Abdul Haris Bobihoe resmi dilantik menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi periode 2025-2030 oleh Presiden Prabowo Subianto, di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (20/2/25).

    Pelantikan ini menandai dimulainya kepemimpinan Tri Adhianto- Abdul Haris Bobihoe di Kota Patriot selama lima tahun ke depan. Kini, berbagai harapan dan aspirasi muncul dari banyak kalangan masyarakat. Mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur, layanan publik hingga perluasan lapangan pekerjaan baru.

    Kehadiran Walikota dan Wakil Walikota disambut hangat dan meriah oleh seluruh aparatur dan para tokoh agama serta tokoh masyarakat.

    Sesampainya di Pendopo Wali Kota Bekasi. Tri Adhianto melakukan serah terima jabatan dengan Penjabat Wali Kota Bekasi R Gani Muhammad.

    Dalam sambutanya Wali Kota Bekasi menekankan pentingnya kerja sama untuk memajukan Kota Bekasi.

    “Bagaimana Kota Bekasi semakin keren menjadi kota yang nyaman dan sejahtera masyarakatnya,” ujar Wali Kota Tri Adhianto. Ia mengatakan bahwa ketika seseorang berbicara, maka harus bertanggung jawab karena ucapannya berasal dari hati yang dicurahkan ke dalam perkataan dan akan dibuktikan.

    Oleh karena itu, kata Tri Adhianto kepada seluruh jajaran Pemerintah Kota Bekasi, ia mengharapkan adanya kerja sama dalam mengejar mimpi masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Harapannya, hal ini dapat membawa Kota Bekasi menjadi lebih baik lagi.

    Dikepemimpinannya, Ia segera mengambil langkah-langkah yang tepat dalam membangun Kota Bekasi, terutama dalam merumuskan kebijakan-kebijakan seperti meningkatkan implementasi reformasi birokrasi.

    Adapun 5 misi Kota Bekasi juga turut Ia sampaikan diantaranya :

    1. Meningkatkan Jangkauan Dan Mutu Pelayanan Publik Perkotaan Yang Semakin Memuaskan Dengan Didukung Ketersediaan Infrastruktur Yang Memadai;

    2. Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Dan Lingkungan Kehidupan Perkotaan, Baik Jasmani Maupun Rohani, Yang Semakin Kondusif Dan Berkelanjutan;

    3. Membuka Lapangan Pekerjaan Yang Seluas-Luasnya Didukung Dengan Pengembangan Ruang-Ruang Inovasi Dan Kreativitas Generasi Produktif Dalam Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi Dan Komunikasi;

    4. Mengembangkan Iklim Yang Kondusif Dan Kemudahan Bagi Investasi Pembangunan Dan Dunia Usaha Yang Berkeadilan Rakyat;

    5. Mengembangkan Kolaborasi Strategis Dan Dukungan Penguatan Manajemen Pemerintahan Kota Yang Mendorong Kota Bekasi Sebagai Kota Bertaraf Internasional Yang Keren. (EZ/DOKPIM)

  • Pdt. Dr. J. Yohanes Sihombing, M.Th: Yayasan Berkat Maranatha Peduli Indonesia Terus Perkuat Komitmen di Bidang Sosial Kedukaan dan Pendidikan

    Pdt. Dr. J. Yohanes Sihombing, M.Th: Yayasan Berkat Maranatha Peduli Indonesia Terus Perkuat Komitmen di Bidang Sosial Kedukaan dan Pendidikan

    WARTANASRANI.COM, Kota Bekasi – Yayasan Berkat Maranatha Peduli Indonesia terus menunjukkan kiprahnya dalam bidang sosial dan pendidikan. Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Yayasan Harapan Indah, Kota Bekasi, Selasa (18/2/2025), Ketua Yayasan, Pdt. Dr. J. Yohanes Sihombing, M.Th, menegaskan bahwa organisasi yang berdiri sejak Februari 2017 ini semakin berkembang pesat dengan berbagai program unggulan yang bertujuan membantu masyarakat, terutama dalam pendidikan dan pelayanan sosial.

    Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Yohanes Sihombing yang juga gembala jemaat GBI Mawar Sharon Harapan Indah Bekasi ini menjelaskan bahwa yayasan memiliki komitmen tinggi dalam mendukung pendidikan anak-anak dari berbagai daerah. Setiap tahunnya, yayasan menargetkan untuk membiayai pendidikan 12 anak secara penuh, mencakup biaya makan, tempat tinggal, pendidikan, hingga uang wisuda. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, lulusan program beasiswa ini diwajibkan menjalani satu tahun pengabdian sebelum kembali ke daerah asal atau ditempatkan di cabang yayasan.

    Selain berfokus pada pendidikan, Yayasan Berkat Maranatha Peduli Indonesia juga bergerak di bidang pelayanan gerejawi. Saat ini, yayasan telah memiliki tiga cabang pelayanan gereja di Kota Bekasi serta beberapa cabang lainnya di Pekanbaru, Medan, dan Makassar. Para lulusan dari program pendidikan yayasan akan ditempatkan di berbagai cabang tersebut untuk membantu pelayanan selama satu tahun sebelum mereka kembali ke daerah masing-masing.

    Dalam aspek pelayanan sosial, yayasan turut aktif dalam bidang kedukaan dengan menyediakan layanan ambulans, bantuan kedukaan, serta tanah makam bagi jemaat yang membutuhkan. Hingga saat ini, yayasan telah menaungi lebih dari 140 gereja dengan jumlah jemaat mencapai sekitar 6.000 orang. Untuk mendukung pelayanan ini, yayasan menjalin kerja sama dengan sembilan rumah duka serta mengelola satu rumah duka sendiri di Kota Bekasi.

    Guna memperkuat layanan kedukaan, yayasan juga memiliki gedung khusus untuk produksi peti jenazah, gudang, serta kantor pusat yang mendukung operasional pelayanan. Yayasan terus berupaya meningkatkan kapasitas layanan ini agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan dalam menghadapi momen duka.

    Dalam bidang pendidikan, Pdt. Yohanes Sihombing mengungkapkan rencana besar yayasan untuk mendirikan sekolah berbasis teologi Kristen, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Program ini bertujuan untuk membangun generasi muda yang memiliki landasan iman kuat serta karakter yang tangguh dalam menjalani kehidupan.

    Untuk pelayanan kedukaan, yayasan memiliki divisi khusus bernama Sahabat Duka Maranatha (SDM), yang bertujuan mengubah kepanikan menjadi ketenangan bagi keluarga yang sedang berduka. SDM melayani penyediaan peti jenazah, ambulans, rumah duka, tanah makam, crematorium, serta pengiriman jenazah ke luar kota dan luar negeri, baik melalui jalur darat maupun udara.

    Bagi gereja, lembaga, atau individu yang ingin bergabung dalam pelayanan ini, dapat menghubungi Sahabat Duka Maranatha melalui kantor yayasan atau menghubungi kontak berikut: Pdt. Dr. J. Yohanes Sihombing (081210469970), Pdp. Yosua Sihombing, M.Th (081318223266), dan Feriza, SE (089675129772). Dengan berbagai program dan pelayanan yang terus dikembangkan, Yayasan Berkat Maranatha Peduli Indonesia berharap dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat luas. (RS)