Category: Opini

  • Sekum PGI: Penegakkan Hukum dan Pelanggaran HAM masih Menjadi PR Bangsa ini

    Sekum PGI: Penegakkan Hukum dan Pelanggaran HAM masih Menjadi PR Bangsa ini

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Tahun 2022 segera lingsut akan segera berganti tahun 2023, banyak hal yang akan terjadi di tahun 2023 baik bidang politik yang sudah terasa di tahun ini, tentang tahun kegelapan ekonomi dan juga bencana. Membaca arah tahun 2023 serta program dan langkah apa yang mau dikerjakan Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI), sore Selasa 20/12/22 berkesempatan berbincang dengan Pdt Jacky Manuputy sekretaris umum PGI, mengupas tentang peran PGI tahun ke depan.

    Tahun depan ungkap Jacky ada tahun politik menjelang Pileg, Pilpres dan juga Pilkada tahun 2024 nanti, dan riak akan pertarungan politik sudah terasa tahun ini. Sekalipun riak itu terasa, PGI sebagai lembaga agama tetap menjalankan peranya mendorong adanya literasi politik masyarakat, terkait dengan penyelenggaraan pemilihan umum yang betul betul menjunjung demokrasi.

    Keterbukan dan transparasi harus menjadi pesta bersama yang dirayakan sebagai bagian penyelenggaraan masyarakat demokrasi yang majemuk. Bukan mengelola perbedaan menjadi ketegangan dan bahkan perpecahan dari kelompok, keperbagian etnis, berdasarkan agama, kelas sosial dan perbedaan politik dan sebagainya.

    “Satu yang selalu kita kuatirkan adalah merebaknya politisasi identitas di mana agama dan etnis mengalami instrumentalisasi untuk tujuan-tujuan politik terkait konstituante dan lain-lain”, tegas Jacky serius.

    Kondisi itulah yang harus selalu kita waspadai, karena bangsa ini memiliki pengalaman-pengalaman akibat permainan politisasi identitas mengakibatkan pembelahan-pembelahan di tengah masyarakat. Kita masih punya ingatan-ingatan kolektif yang membekas hingga saat ini akibat pemilihan-pemilihan sebelum-sebelumnya.

    Untuk itu Jacky mengajak perlu pematangan dari para pelaku politik agar bisa mandiri dan berdiri dari adanya berbagai kemajemukan yang ada ini. Sehingga mendorong pemilu yang berkualitas dan itu yang akan kita hadapi di tahun 2023.

    Tentunya PGI punya komitmen seperti itu dengan cara membuka relasi-relasi lembaga lintas pemuka agama, tokoh lintas iman untuk berbicara dengan mengendorse kembali tentang ingatan-ingatan narasi-narasi kebangsaan yang dibangu7n dan menjadi modal sosial yang kuat untuk keberlangsungan bangsa ini dengan waktu sangat panjang.

    Sehingga jangan sampai dirusak oleh kepentingan-kepentingan politik sesaat, sehingga merusak apa yang sudah dibangun oleh para faunding father bangsa ini.

    Kembali tentang membangun narasi seperti apa yang PGI perlu lakukan pertama adalah kontra narasi terhadap kerja-kerja narasi yang cenderung memecah belah. Untuk itu PGI mendorong bagi umat Kristen tidak membangun self defence mechanism, karena ada politisasi identitas lalu orang menarik diri dari politik dan menjaga atau membentengi diri dengan sangat sensitive.

    Jika umat Kristen melakukan sikap self defence tersebut tidak bagus bagi panggilan bangsa, karena umat Kristen terpanggil untuk memberi diri lagi negeri ini, bahwa tantangan seperti itu bukan baru sekarang, karena sejak awal sudah ada pertarungan-pertarungan identitas seperti itu.

    Kenapa, lanjut Jacky pertarungan politiasi identitas menjadi masiv karena memang ditopang dengan adanya sosial media dan macam-macam.

    Jadi melihat kebangsaan sebagai kewarganegaraan sebagai identitas yang utama, jadi mengangkat diri sebagai identitas sebagai orang Kristen ditengah bangsa ini pada level identitas kewarganegaraan dan kebangsaan itu salah satu narasi yang PGI kembangkan.

    Bahwasannya ada ketidakadilan itu juga dialami banyak masyarakat, bukan hanya kelompok Kristen tetapi ada dikelompok-kelompok yang lain. Artinya jika kita mengalami dan merasakan ketidakadilan tentu kita juga harus berbicara ketidakdilan yang dirasakan oleh kelompok-kelompok lain. Jacky mengajak umat Kristen jangan hanya melihat pada dirinya sendiri tetapi juga melihat orang lain dengan terus menerus mengembangkan visi kebangsaannya, terutama di tahun politik ini.

    PGI juga mendorong sebanyak mungkin warga gereja yang tertarik di bidang politik memasuki ruang-ruang politik, entah partai atau badan-badan penyelenggaraan pemerimtahan dan lain-lain dari tingkat pusat hingga daerah.

    Langkah untuk mewujudkan ini PGI mendorong warganya yang terjun politik bahkan memberikan rekomendasi serta melakukan pendampingan pastoral. Dalam rangka tersebut PGI membentuk Pokja Politik karena setiap warga gereja yang saat ini masuk ruang politik tantangannya akan sangat luar biasa, mereka akan menghadapi berbagai macam masalah yang menuntut dia mengambil sikap etis dalam menentukan ke3bijakan-kebijakan. Karena politik biasanya berjalan tak menentu, karena itu lembaga agama harus memberikan nilai-nilai etis itu dan sekaligus mengawal nilai-nilai tersebut.

    Karena bagaimanapun dia itu warga dari gereja dan warga dari kelembagaan agama yang lain dari komunitas agama lain. Dan itu tugas lembaga agama untuk menjaga nilai-nilai etis mengawal realiatas, oleh karenanya pastoral politik dirumuskan oleh gereja-gereja untuk mengawal warga gereja memasuki ruang-ruang politik praktis.

    “Gereja tidak berpolitik praktis tetapi panggilan gereja dalam politik adalah membekali nilai dan mendampingi agar nilai nilai etis itu tetap terjaga”, ujar Jacky yang juga pendeta Gereja Protestan Maluku ini.

    Pemberdayaan Pangan Lokal

    Tentang adanya pridiksi ekonomi tahun depan akan goncang, Jacky melihat bahwa negara kita yang penuh dengan keberagaman dan sumber daya manusia serta alam yang luar biasa, akan tetap kuat menghadapi ancaman krisis ekomomi.

    Untuk itu sambungnya PGi akan mendorong adanya ketahanan pangan artinya kita ini disadari dengan waktu lama tercerabut dengan pangan lokal. Bangsa ini mengalami politiasi pangan dengan waktu lama. Padahal Negara yang penuh keragaman dan sangat luar biasa mesthinya mampu untuk bertahan menghadapi ancaman krisis pangan.

    Gereja-gereja anggota PGI konsen mendorong pangan lokal itu untuk kembali dibudiayakan, dan itu dibiasakan lagi. Syukur-syukur ada beberapa gereja yang menyusun strateginya bagaimana dengan pengembangan pangan lokal masing-masing daerah dilakukan.

    Semisal di Maluku dan beberapa daerah di Papua dengan makanan sagunya, di mana beberapa lama makanan ini ditinggalkan akibat politik beras dan sebagainya. Padahal sagu itu karbohidratnya lebih bagus dari beras dengan lauknya ikan, namun semua itu mengalami pabrikasi dan ketika itu macet pada bingung karena orang sudah tidak terbiasa lagi dengan makanan lokal.

    Nah, langkah PGI tukas Jacky akan mendorong gereja-gereja dengan sidang tahunan akan memberikan anjuran menu makanan dengan perbandingan 70 persen makanan lokal selebihnya boleh saja makanan lain. PGI mengawal hingga seperti itu, karena dengan kembali membudidayakan makanan lokal sekaligus terjadi pemberdayaan ekonomi masyarakat atau jemaat.

    Pemberdayaan makanan lokal ini akan semakin bisa terwujud bagi gereja-gereja yang memiliki lahan yang luas. Makanya ketika pangan lokal itu bisa kembali dihidupkan, tentang pridiksi ekonomi yang gelap itu salah satu cara mengatasi dengan pemberdayaan pangan masyarakat lokal.

    Walaupun ada daerah-daerah yang minus sekalipun mereka punya kemampuan menghidupi dirinya, karena sudah teruji menghadapi kehidupan yang minus namun tetap bertahan. Kalaupun kemudian menjadi biasa karena adanya politisasi pangan. Sehingga dipakai ukuran kalau belum makan nasi tiga kali sehari ini dikatakan masih hidup dalam standar kemiskinan dan sebagainya.

    Makanya harapan tahun depan khususnya di bidang pangan kembali ke ugaharian itu dengan merasa cukup dengan apa yang ada, pola hidup yang sederhana serta saling membantu memsupport yang lain. Tidak mudah memang, maka perlu perumusan strategi dan dicontohkan salah satu yang sudah dilakukan PGI adalah melarang menggunakan botol atau gelas dari bahan plastic dan ini sudah diikuti beberapa sinode anggota PGI jika ada acara tidak menggunakan lagi bahan plastik.

    “Orang kita perlu sukses story lihat contoh perilaku jadi sekecil apapun itu berikan cantoh terlebih dahulu ketimbang dengan suara atau anjuran”, tandas Jacky peraih Apresiasi PEWARNA figure Oikumene dan lintas agama ini.

    Kemudian menyangkut pandangan PGI terkait penegakan hukum dan HAM, Jacky tanpa tedeng aling-aling melihat itu masih menjadi wilayah yang butuh pergumulan yang tidak ringan. Karena melihat pembangunan selama periode ini memimpin dalam bidang HAM banyak kasus. Entah terkait posisi terkait konflik agrarian ataupun pelanggaran-pelanggaran HAM yang lain, baik masyarakat adat, tanah dan lain sebagainya.

    Penegakkan hukum kita ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar di negeri ini, kadang-kadang menentukan pilihan-pilihan prioritasnya untuk infrasrtuktur dulu, baru kemudian HAM dan lain-lain. Sekalipun harusnya bisa seiring, tetapi kenapa seperti itu, Jacky mengaku bukan ahli di bidang pembangunan infrastruktur sehinga bisa menakar strategi mana yang terlebih dulu.

    Namun kami sebagi konsep gereja selalu menyikapi bagaimana kondisi hak asasi, kondis lingkungan dan lain sebagainya. Tentu dengan mensyukuri segala kemajuan yang dicapai tapi ada hal-hal yang tertinggal yang masih membutuhkan pembenahan seperti penegakkan hukum dan HAM tersebut. Kemudian seperti masalah di Papua yang masih menjadi lobang hitam di negeri ini yang harus segera diselesaikan .

  • MURFATI LIDIANTO INGATKAN MASYARAKAT UNTUK HATI-HATI DALAM BERMEDSOS

    MURFATI LIDIANTO INGATKAN MASYARAKAT UNTUK HATI-HATI DALAM BERMEDSOS

    KOTA BEKASI, WARTANASRANI.COM – Akhir-akhir ini banyak informasi atau berita palsu “hoax” bermunculan di media sosial dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ketidakdewasaan dalam berbagi informasi dan kurangnya akan pengetahuan tentang IT menjadikan berita Hoax bertebaran dimana – mana yang menciptakan keresahan, kegaduhan, pertikaian dan sebagainya. Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Kota Bekasi, Murfati Lidianto, SE., M.A., kembali mengingatkan masyarakat untuk hati-hati dalam bermedsos.

    “Sangat disayangkan, akhir-akhir ini isu hoax kembali naik. Ditengah ramainya pemberitaan terkait pandemi Covid-19, masih saja ada oknum tertentu yang menyebarkan informasi bohong yang membuat masyarakat resah dan percaya dengan berita tersebut,” ungkap Murfati.

    “Bila kita kurang berhati-hati dalam menyaring sebuah informasi, maka kita akan mudah termakan tipuan hoax tersebut. Bahkan kita juga mungkin terpengaruh ikut-ikutan dalam menyebarkan berita hoax dan berita bohong itu, sehingga ada pihak yang merasa dirugikan. Nah, kalo pihak yang dirugikan menuntut, maka kita yang menyebarkan, bisa kena Undang-Undang ITE dengan ancaman enam tahun penjara,” ungkap Murfati lagi.

    Anggota Dewan dari Fraksi Gerindra inipun mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan kritis dalam menerima setiap informasi. Menurutnya, ada langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menghindari hoax sekaligus membantu menghentikan penyebarannya di media sosial.

    “Perhatikan judul informasi dan sumber berita. Langkah Ini perlu kita lakukan karena beberapa oknum sering memasang judul yang menjebak, artinya menarik masyarakat agar membacanya. Berita palsu biasanya memiliki judul yang mengejutkan agar membuat rasa penasaran. Isi kontennya pun biasanya terlihat provokatif dan memanfaatkan isu-isu yang sedang tren. Seperti isu penyebaran Covid-19 saat ini mulai banyak oknum-oknum yang memanfaatkan dengan menciptakan berita bohong,” terang Murfati Lidianto.

    “Kemudian, periksa sumbernya, apakah dari situs resmi dan terpercaya atau tidak! Apabila informasi berasal dari situs-situs media sosial dan web yang belum dapat dipercaya, segera mengecek ke situs-situs lainnya,” terang Murfati lagi.

    Melihat hoax bermacam-macam bentuknya dan salah satunya berupa foto dan video, maka memeriksa foto dan video adalah langkah yang juga harus dilakukan masyarakat.

    “Sama halnya dengan tulisan, hoax bentuk foto dan video yang Anda terima jangan langsung mempercayai begitu saja. Terkadang oknum juga mengedit sebuah foto dan video sebelum menyebarkannya di media sosial,” sebut Murfati.

    “Sekarang ini, kita bisa cek keaslian dari berita foto dan video dengan memanfaatkan teknologi fitur dari Google Images dengan tautan images.google.com,” sebut Murfati lagi menambahkan.

    Pada akhirnya, Murfati menghimbau masyarakat untuk melaporkan ke kementerian komunikasi dan informatikan jika menemukan berita hoax.

    “Apabila masyarakat menemukan berita hoax, sebaiknya segera melaporkan konten tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Informatika agar berita hoax segera ditindak tegas,” pesannya.

  • COVID-19: ANTI KRISTUS atau ALAT KRISTUS, Antara Keyakinan dan Fakta

    COVID-19: ANTI KRISTUS atau ALAT KRISTUS, Antara Keyakinan dan Fakta

    WARTANASRANI.COM – Topik tentang COVID-19 terus menjadi perbincangan yang hangat setiap hari di semua lapisan masyarakat di seluruh dunia. Bukan hanya karena virus Corona yang lahir di akhir 2019 ini membawa maut, tetapi juga karena adanya berbagai macam cara pandang dan keyakinan religius terhadap wabah Virus Corona. Melalui tulisan yang singkat ini, penulis mencoba menelusuri dan menghimpun informasi tentang wabah COVID-19 ini bagian dari antikris atau bukan.

    1. COVID-19 – ANTI KRISTUS ?

    Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di dalam aliran kharismatik yang diutamakan adalah pengalaman-pengalaman spiritual. Secara doktrinal, kaum kharismatik menenkankan penggenapan nubuatan-nubuatan, yaitu nubuatan-nubuatan para nabi, terutama yang bersifat futuristik, dan yang berkaitan dengan akhir zaman. Setiap peristiwa yang terjadi, entah di bidang politik, ekonomi, sosial, atau fenomena-fenomena alam, selalu dilihat dan dimaknai sebagai penggenapan dari nubuatan-nubuatan Alkitab dan merupakan tanda-tanda akhir zaman. Mereka membaca semua peristiwa historis atau fenomena  dengan menggunakan kacamata rohani, maksudnya diberi makna rohani.

    COVID-19, atau Corona Virus Disease 2019, yang mematikan itu, kemunculannya di Wuhan dan penyebarannya ke seluruh dunia, tak pelak lagi,  dilihat oleh kaum kharismatik sebagai pertanda kemunculan sang antrikris. Maka dunia Medsos pun langsung dibanjiri oleh berbagai pernyataan dan interpretasi khas kharismatik. Mereka dengan mudah mengutip teks-teks Alkitab di sana sini tanpa menghiraukan konteks dari teks-teks tersebut dan tanpa peduli ada atau tidak relasi antar teks-reks yang dikutip.

    Beberapa pernyataan atau penjelasan interpretatif yang meramaikan dunia Medsos kaum karismatik dapat dikutip kembali di sini.

    Virus Corona Dikaitkan dengan Angka Setan 666

    Media Online, INDOZONE, mengulas tentang asumsi yang mengaitkan Virus Corona dengan angka 666. “Anda mungkin sering mendengar angka 666 yang penuh konspirasi. Banyak orang yang menyebutnya angka setan. Bilangan ini juga dikenal sebagai “jumlah binatang” atau beast dalam Perjanjian Baru atau segala sesuatu yang berbau satanisme dan Antikristus. Baru-baru ini banyak di grup Whatsapp beredar informasi teori konspirasi yang mengaitkan pandemi Virus Corona atau COVID-19 dengan angka setan 666. Jika dipecah, CORONA  terdiri dari 6 huruf. Jika masing-masing alfabetnya diubah ke dalam angka, maka akan membentuk: C=3, O=15, R=18, O=15, N=14, A=1. Jika angka-angka ini dijumlahkan, maka hasilnya adalah 66. Jika digabungkan dengan kata “corona” yang memiliki 6 huruf, maka hasilnya adalah 666”.

    Selanjutnya, masih di INDOZONE, dijelaskan bahwa gara-gara angka 666 ini dikaitkan dengan antikris, beberapa perusahaan besar pernah dituding sebagai kaki tangan setan. Pada Tahun 1999, ketika Intel memperkenalkan Pentium III 666 Mhz, banyak orang menuding Intel sebagai kaki tangan setan. Oleh sebab itu, Intel terpaksa mengumumkan produknya sebagai Pentium III 667 sebagai pembulatan dari 666,666 MHz. Bukan hanya Intel, dalam dunia industri komputer, nama Bill Gates pun terkena imbasnya. Nama Bill Gates III, jika dikonversi ke dalam kode ASCII (American Standars Code for Information Interchange) akan berjumlah 666. Demikian juga dengan MS-DOS 6.21 dan Windows 95”.

    Virus Corona dan Murka Allah

    Media WE Online menceritakan, seorang evangelis Amerika Serikat mengklaim bahwa virus corona jenis baru, 2019-nCoV, yang sudah membunuh ribuan orang di China dan menyebar di berbagai negara, merupakan azab Tuhan. Malaikat maut sudah dikirim untuk membersihkan planet Bumi dari para pendosa. Virus itu dimulai di China karena “pemerintah Komunis yang tidak ber-Tuhan menganiaya orang-orang Kristen dan melakukan aborsi paksa. Tuhan akan membersihkan banyak dosa dari planet ini. Ada orang-orang yang keji dan menjijikkan di negara ini sekarang, melampaui anak-anak kecil, menyesatkan mereka.

    Kaum kharismatik dan sebagian hamba-hamba Tuhan Pentakosta di Indonesia juga meyakini bahwa virus Corona adalah sebuah bencana yang dirancang oleh sang antikris. Pernyataan sepotong-sepotong dari kelompok penganut Corona sebagai antikris, hampir setiap hari menghiasi Medsos, entah itu di FB, di YouTube, atau di grup-grup WA, bahkan sampai di khotbah-khotbah dalam gereja.

    Melalui YouTube, seorang hamba Tuhan berceramah tentang akhir zaman mengatakan bahwa ‘Virus Corona adalah langkah awal dari Antikris’. Dalam sebuah Website luar negeri bernama ‘After the Warning’, yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, seorang wanita Katolik bernama Julie Wedbee, mengaku mendapat pesan dari surga tentang Virus Corona dan Antikris. Di Indonesia banyak hamba Kharismatik menganggap bahwa bukti Corona sebagai antikris adalah ditiadakannya ibadah-ibadah di gereja. Ada pula hamba Tuhan yang terus sibuk mencocok-cocokkan atau mencari-cari salah satu di antara tujuh meterai murka yang bisa ditempeli nama Corona, atau yang bisa dianggap sebagai Corona.

    Sebuah media online yang bernama ‘Jalan Iman.com’ mengulas pendapat kaum kharismatik yang menghinakan Corona dengan akhir Zaman: Virus Corona Peringatan Tanda Zaman. Peringatan Yesus bahwa menjelang hari kiamat akan muncul penyakit sampar tidak perlu mengejutkan kita. Yesus mengatakan, “Dan apabila kamu mendengar… janganlah kamu terkejut..” Lukas 21:9. Penyakit sampar hanyalah salah satu dari sekian banyak peristiwa yang menjadi tanda-tanda kesudahan zaman. Saat ini tanda zaman yang muncul adalah penyakit sampar Virus Corona. Lihatlah bagaimana virus ini mewabah lintas Negara dan membuat dunia terkejut, dan pemerintah Negara-negara dengan sigap mengantisipasi penyebarannya”.

    2. APA ITU ANTIKRIS?

    Untuk membuktikan bahwa COVID-19 benar-benar adalah alat antikris, lebih dahulu perlu dipahami siapa, seperti apa, dan bagaimana si antikris  atau antikristus itu.  Kata antikris atau anti Kristus dapat mempunyai dua arti, yaitu 1)”menentang Kristus”, dalam artian seseorang atau suatu kekuasaan yang menentang Kristus dan karya Kristus, 2) “pengganti Kristus”, artinya, seseorang atau suatu kekuasaan, atau suatu institusi” yang “mengambil tempat Kristus”, atau seorang “Kristus palsu”.

    Yohanes mengatakan bahwa antikristus adalah siapa pun yang sengaja menyebarluaskan kebohongan tentang Yesus Kristus dan ajaran-Nya. Rasul

    Yohanes menyebutkan ”ada banyak anti-kristus”. Jadi menurut Yohanes,  antikristus itu bukan hanya satu orang saja. Si Antikris bisa komunitas orang, bisa organisasi, bisa lembaga politik atau kekuasaan, bisa berupa ajaran, yang    menyebarluaskan kebohongan tentang Yesus. Antikris tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Mesias, dan membuat orang bingung tentang hubungan antara Allah dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Antikris bisa juga mengaku sebagai kristus atau wakil-wakil Kristus – 1 Yoh. 2:18-22

    3. COVID-19 – ALAT KRISTUS?

    Terlepas dari adanya berbagai keyakinan yang didasarkan atas tafsiran-tafsiran atau asumsi-asumsi terhadap teks-teks kitab suci, COVID-19 memunculkan FAKTA YANG BERBEDA dari keyakinan-keyakinan yang disebutkan di atas. Paling sedikit ada tiga (3) fakta yang menunjukkan bahwa Virus Corona berbeda dari karakter antkris atau tidak sesuai dengan atribut-atribut yang melekat pada sosok si antikris.

    Fakta 1:

    Sejak munculnya di Wuhan Tiongkok, COVID-19 dengan semua aspek atau semua pihak yang berkaitan dengan masalah Corona, belum pernah ada, dan belum pernah muncul sebuah pernyataan dari siapapun, belum pernah ada gerakan apapun, dan belum pernah ada propaganda atau provokasi yang menentang keyakinan kepada Yesus Kristus, atau yang mendiskreditkan ketuhanan Yesus Kristus, atau yang menganiaya orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dengan kata lain, bila Corona dicap atau diyakini sebagai alat antikris, keyakinan itu tidak sesuai dengan fakta, karena tidak ada sedikit pun yang berkaitan dengan Corona, yang anti pada Kristus.

    Bahwa ada banyak orang yang jadi korban COVID-19, itu tidak bisa dijadikan acuan, karena yang meninggal akibat COVID-19, bukan hanya orang-orang yang mengikut Kristus, malahan mungkin lebih banyak yang tidak percaya Kristus. Lagi pula, ada banyak peritiwa (bencana) lainnya yang juga menelan banyak korban jiwa, tetapi tidak serta merta disebut sebagai antikris, misalnya bencana Tsunami, bencana gempa bumi, bencana banjir, bencana longsor, bencana kelaparan, dan bencana-bencana wabah lainnya.

    Fakta 2

    Kemunculan COVID-19 telah membangkitkan kesadaran, kehausan, kelaparan  dan kebutuhan di dalam diri manusia akan Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang bisa menyangkali fakta ini. Perhatikanlah, setiap kali kita membuka Medsos, kita disuguhi dengan berita-berita, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk YouTube, tentang gerakan doa masal, atau gerakan masal mencari Tuhan, atau gerakan pertobatan masal. Gerakan masal ini terjadi hampir seluruh belahan bumi yang dilanda wabah Corona. Di berbagai negara atau daerah yang tidak mayoritas muslim, gerakan doa masal ini dilakukan di jalan-jalan raya, di trotoar-trotoar, di mall-mall, di kantor-kantor, di markas-markas tentara dan polisi di supermarket-supermarket, bahkan Rumah sakit-rumah sakit.

    Beberapa kutipan berikut ini adalah pernyataan atau ungkapan-ungkapan kekaguman melihat apa yang sedang terjadi, tepatnya apa yang sedang lakukan Allah, di tengah-tengah cengkraman virus Corona. Gerakan doa dan pertobatan masal sedang terjadi di berbagai negara, sesuatu yang sedang terjadi dalam sejarah kekristenan.

    Di AS, seseorang menulis di FB: “How Amazing it is to see these Men praying together with police officers in the street. The World is turning to Jesus through Corona Virus. Praise God”. Di FB lainnya seseorang menulis: ‘These employees know that their help comes from Jesus’

    Di FB yang satu lagi, sesorang menulis: This hospital comes together to pray and worship JESUS through this virus. Medical Tim all over The World are turning to Jesus through this Virus. Even the Children are turning back to our God.. They are worshipping Jesus.. Praise God somebody. People all around the world are turning to Jesus for healing in their land.

    Di Spanyol: Nyanyian ‘BECAUSE HE LIVES’ – bergema setiap saat ketika mereka berlutut berdoa dan menangis di jalan-jalan raya dan di trotoar-trotoar, bahkan sampai di gang-gang.

    Di Brazil, seseorang menulis di FB: Through covid-19, the people of Brazil are turning to Jesus to heal their land.

    Di Honduras seseorang menulis: People of Honduras turn to Jesus and Rise up to Worship and pray for the nation.

    Di Guatemala ada yang menulis: ‘They are turning and Call on the Name of Jesus in Guatemala’

    Bagaimana di indonesia? Salah satu anjuran yang selalu disampaikan oleh pemerintah dan pihak-pihak yang berwewenang sejak virus Corona merajalela adalah beribadah di rumah. Sejauh ini belum pernah ada anjuran, pernyataan, atau gerakan yang mendompleng peritiwa Corona untuk menentang, atau melawan, atau mendiskreditkan nama Yesus Kristus, atau menganiaya para pengikut Yesus Kristus. Malahan sebaliknya, sejak adanya himbauan social distancing dan physical distancing, gerarakan penginjilan di indonesia terjadi secara besar-besaran dan masif. Anda ingin bukti? Bukalah FB Anda. Begitu Anda online, yang muncul pertamakali adalah pengkhotbah. Dan jika  Anda mempunyai 1000 friends pendeta, maka Anda akan melihat dan mendengar 1000 pendeta memberitakan Injil dengan bebas melalui Medsos. Gerakan penginjilan dan kebebasan menginjil yang terjadi saat ini, juga belum pernah terjadi dalam sejarah kekristenan di Indonesia. Ini semua adalah dampak dari COVID-19.

    Fakta 3

    Sesuai dengan namanya,  ANTIKRIS atau ANTIKRISTUS adalah sosok atau gerakan, atau  kekuasaan yang melawan atau yang anti terhadap Kristus atau melawan Allah.  Oleh karena anti atau memusuhi Allah, antikris akan menghujat Allah, menghujat nama Allah, dan menghujat semua yang ada di surga. Si antikris akan melakukan penindasan dan penganiayaan secara besar-besaran terhadap para pengikut Kristus.

    Kenyataan yang sedang terjadi di depan mata kita saat ini di tengah-tengah wabah virus Corona justru KONTRADIKTIF dengan apa yang seharusnya terjadi bila si antikris muncul. Di tengah-tengah situasi bayang-bayang maut akibat Cengkraman virus Corona, yang terjadi justru bangsa-bangsa bangkit memuja dan menyembah Tuhan. Tanpa ada yang memprakarsai, atau yang mengomando, atau yang menganjurkan, hampir seluruh penduduk dunia  sujud dan bertekuk lutut merendahkan diri di hadapan Allah. Jika Anda melihat secara kritis situasi global saat ini, Anda akan terkejut melihat fakta bahwa saat ini gerakan penginjilan dan kebangunan rohani, yang diikuti oleh gerakan pertobatan sedang terjadi secara dahsyat di seluruh dunia. Gerakan penginjilan dan pertobatan masal yang sedang terjadi di seluruh dunia saat ini tidak lagi membutuhkan penginjil yang hebat, atau pengkhotbah yang luar biasa, atau hamba Tuhan yang naik turun surga dan masuk keluar naraka. Saat ini Allah sendiri yang sedang beraksi dengan kekuatan kuasa-Nya di alam semesta. Allah sedang bergerak dan beraksi ketika seluruh bangsa sedang menghadapi ancaman virus Corona..

    4. LANTAS…

    Melihat fakta-fakta atau fenomena-fenomena religi yang muncul di tengah Cengkraman virus Corona, dan dengan menggunakan PENALARAN YANG SEHAT, sangat SULIT  untuk menerima dengan AKAL SEHAT jika COVID-19 atau Virus Corona Disease yang muncul di akhir tahun 2019 disebut, atau dianggap, atau diyakini sebagai langkah awal antikris atau sebagai bagian dari skenario antikris. Jadi, COVID-19 – Alat Anti Kristus atau Alat KRISTUS, tergantung pada KONDISI AKAL Anda.

    Amin……Gbu all.

    Judul Artikel:  COVID-19: ANTI KRISTUS atau ALAT KRISTUS (Antara Keyakinan dan Fakta)

    Penulis: Dr. S. Tandiassa

  • BINCANG SORE BERSAMA KETUA BPD BEKASI GBI, PDT. SAHALA NAINGGOLAN: ADA LIMA GONCANGAN YANG AKAN DIHADAPI GEREJA.

    BINCANG SORE BERSAMA KETUA BPD BEKASI GBI, PDT. SAHALA NAINGGOLAN: ADA LIMA GONCANGAN YANG AKAN DIHADAPI GEREJA.

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Pandemi Covid-19 di Indonesia kian hari kian meningkat. Terhitung hari ini, tanggal 16 April 2020, Juru Bicara Pemerintah Terkait Penanganan Wabah Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang ditayangkan You Tube BNPB, Kamis (16/04/2020), sudah tercatat yang positif 5.516 kasus, sembuh 448 sembuh, dan meninggal 496 kasus. Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 ini sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dan kehidupan pelayanan gereja.

    Ditemui di kediamannya, kompleks perumahan Kota Harapan Indah Bekasi, Rabu (15/04/2020), Ketua BPD Bekasi GBI, Pdt. Sahala Nainggolan, M.Th menyampaikan pandangan dan harapannya terkait wabah Covid-19. Secara gambalang, Pdt. Nainggolan menuturkan lima goncangan yang melanda gereja di hari-hari ini.

    “Memang kita tidak bisa pungkiri, pandemi Covid 19 ini sangat berpengaruh,” tuturnya singkat membuka bincang-bincang santai sore itu.

    “Tahun 2018, 2019 dan awal tahun 2020, saya menyampaikan khotbah pada jemaat, dimana dalam khotbah tersebut, saya menjelaskan ada 5 goncangan yang akan terjadi yaitu; goncangan iman, keluarga, kesehatan, keuangan dan goncangan diri sendiri,” tuturnya lagi.

    Lebih jelas gembala GBI Kasih Karunia Harapan Indah ini meyakini bahwa apa yang telah ia khotbahkan (5 goncangan) sedang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan berjemaat.

    “Nah, hampir tiga tahun ini saya berkhotbah menyinggung hal ini dan ternyata terjadi! Goncangan iman dimana orang berpindah agama, goncangan keluarga terjadi penceraian dan jadi berantakan. Kemudian goncangan kesehatan yang sekarang terjadi, dimana kita semua mengharapkan tidak terjadi sebab berdampak pada gonjangan ekonomi dan melumpuhkan sendi-sendi kehidupan sekarang. Kemudian goncangan diri sendiri yang paling parah membuat orang tidak stabil, iman dan roh tidak stabil juga gampang putus asa,” urainya.

    Oleh karenanya, Ketua BPD Bekasi GBI periode 2018-2022 mengajak hamba-hamba Tuhan untuk terus memberitakan firman Tuhan bahwa apa yang terjadi hari-hari ini adalah penggenapan firman Tuhan.

    “Tugas kita sebagai gereja memberikan firman kepada jemaat bahwa ini adalah pengenapan firman Tuhan, seperti tertulis di kitab 2 Timotius:1, bahwa menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kali, akan muncul kesukaran yang besar, salah satunya termasuk hal ini (Pandemi Covid-19), yang terjadi sekarang,” tuturnya.

    “Jadi semua orang Kristen harus siap menghadapi, tetapi ini belum seberapa menurut saya. Oleh karena itu, pihak gereja harus terpanggil untuk mempersiapkan jemaatnya,” tuturnya lagi.

    Terkait adanya pendapat yang mengatakan bahwa “kita jangan takut menghadapi virus ini, karena ada Tuhan”, dengan bijak Pdt. Nainggolan menyampaikan pendapatnya dilihat dari tanggung jawab orang percaya dan tanggung jawab Tuhan.

    “Memang kita tahu semua ini atas seijin dari Tuhan. Tetapi kita punya bagian dalam tanggung jawab, ada tanggung jawab kita sebagai orang percaya dan ada tanggung jawab Tuhan. Dimana tanggung jawab kita dalam masalah ini, menjaga kesehatan dan mempersiapkan diri, kalau tidak pasti terkena wabah corona ini. Kemudian jangan mentang-mentang kita punya iman, lalu menggampangkan Tuhan, itu tidak boleh. Menganggap atau berfikir pasti sembuh karena ada mujizat. Jadi kita juga ada tanggung jawab pada Tuhan,” tegasnya.

    Pada kesempatan itu, Pdt. Sahala Nainggolan juga menuturkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh seorang gembala akibat wabah Covid-19 dan permasalahan Ibadah Online.

    “Memang permasalah virus ini dampaknya sangat terasa sekali dan masalah ibadah secara online ini memang tidak maksimal karena jemaat itu banyak dari berbagai latar belakang baik dari segi ekonomi maupun usia. Llalu bila kita live streaming, tidak semua orang bisa mengikuti terutama banyak orang tua yang tidak mengikuti perkembangan tehnologi sehingga tidak bisa menggunakan alat tersebut. Intinya memang tidak maksimal,” terangnya.

    “Lalu secara ekonomi memang ada dampaknya, dimana persembahan jadi menurun, dimana penggunaan anggaran persembahan, kita gunakan buat gereja dan orang yang bekerja di gereja, seperti contoh; cleaning servis , satpam dan pekerja di gereja,” terangnya lagi.

    “Memang dari segi positifnya ibadah secarai online ini bisa menjangkau segala pelosok sampai keluar negeri, tetapi yang kita utamakan internal kita, yaitu jemaat di gereja kita sendiri. Kalau dikatakan secara untuk umat memang bermanfaat tetapi tidak secara langsung. Sentuhan itu penting dari pada lewat media sosial. Sebab keakraban bisa terlihat disitu, sehingga pelayan bisa lebih ekfekti dan jauh lebih bagus daripada tayangan, tambah Pdt. Nainggolan.

    Disinggung soal sikap hamba Tuhan yang tidak terbuka bila terkena Virus Corona, Pdt. Nainggolan pun menuturkan soal pentingnya keterbukaan, jangan sungkan dan gengsi.

    “Mungkin ada rasa sungkan dan gensi. Bagi sebagian orang, yang namanya hamba Tuhan pasti dekat pada Tuhan, jadi malu mengakui. Justru harus berani mengakui agar bisa sembuh,” tegasnya.

    Pada bagian akhir pembicaraan, Ketua BPD Bekasi GBI ini menyampaikan harapannya dan mengajak semua umat Tuhan untuk terus berdoa supaya wabah Covid-19 segera selesai.

    “Pertama, saya akan terus berdoa supaya masalah wabah ini cepat selesai dan saya mengimani terhadap doa saya, agar tanggal 15 Mei itu, sudah bisa kebaktian kenaikan, sebab saya sudah programkan disini kebaktian gabungan dari anak sampai dewasa, juga umum,” harapnya.

    “Tetap kita berdoa supaya Tuhan tolong kita! Dan kita sebagai hamba Tuhan, terus mempersiapkan jemaat agar bisa kuat menghadapi krisis ini dan melewati dengan baik. Dengan cara melalui grup whatsaap dan media sosial lainya, untuk pesan himbauan agar kita kuat menghadapi krisis ini. Kesulitan pasti terjadi tapi kalau Tuhan menyertai kita, pasti Tuhan menolong kita,” harapnya lagi

    Secara khusus Pdt. Nainggolan mengajak semua umat untuk tetap mengikuti anjuran pemerintah. Ia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi pada para dokter, perawat yang bertugas di garis depan dalam menghadapi wabah virus corona.

    “Ikutilah anjuran pemerintah, kemudian tidak lupa saya mengucapkan terimakasih tak terhingga pada dokter, perawat juga relawan yang tergabung di tim medis sebab mereka garda terdepan dalam menghadapi virus Covid-19,” tutupnya mengakhiri bincang-bincang. (*)

  • Pdt Dr. Erastus Sabdono : Memang Pandangan Saya Agak Tidak Sesuai Dengan Pandangan Umum

    Pdt Dr. Erastus Sabdono : Memang Pandangan Saya Agak Tidak Sesuai Dengan Pandangan Umum

    Ditengah-tengah kesibukannya Pdt. Dr. Erastus Sabdono menerima Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) di ruang kerjanya (9/08/2019). Dalam pertemuan tersebut, terjadi perbincangan yang hangat karena kedatangan PEWARNA disambut baik oleh beliau.  Dan ia pun sedikit membagikan pandangan-pandangannya yang melandasi kehidupan pribadinya untuk melayani Tuhan, diantaranya; Pertama, Kesucian Hidup menurutnya orang Kristen harus hidup dalam kebenaran. Menjaga kehidupannya dari berbagai macam godaan dunia ini.

    Kedua, Pengharapan Langit Baru dan Bumi Baru menurutnya kehidupan manusia itu sangat singkat dan hal itu pun jelas tercantum dalam Alkitab sebagai firman Tuhan.

    “Sebab hidup kita singkat dibumi ini”, tuturnya.

    Dan ketiga, Tanggung Jawab menurutnya setiap orang percaya diberikan tanggung jawab oleh Tuhan selama hidup didalam dunia ini, oleh sebab itu setiap orang harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Dengan memerankan hidupnya sesuai dengan bidang yang digeluti untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

    “Mau sehat jaga pola makan yang baik, mau kaya kerja keras tidak hanya bergantung pada mujizat” terang ketua sinode Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI).

    Kemudian ia lanjutkan dengan menjelaskan bahwa orang Kristen harus bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Dimanapun berada, sesuai dengan bidang yang mereka geluti, harus bisa memerankan panggilannya baik sebagai seorang wartawan, praktisi hukum, tenaga medis, pengusaha dan lain-lain.

    “Dan sudah saatnya orang Kristen memahami bahwa pelayanan itu bidang yang dia geluti, dimanapun berada. Anda sebagai seorang wartawan, inilah tempat dimana memerankan panggilan anda. Dan anda ini adalah hamba-hamba Tuhan, hamba Tuhan di kewartawanan”, pungkasnya.

    Penjelasannya pun tetap berlanjut, bahwa sebuah pelayanan itu tidak bergantung pada waktu tetapi semuanya bergantung dari motivasi, dan Erastus pun memberikan contoh seperti dirinya, bahwa ia adalah Pendeta, dan ia harus memiliki motivasi yaitu motivasi hati, artinya melakukan segala sesuatu dengan hati yang mengasihi Tuhan.

    “Soal full time atau tidak, itu tidak tergantung dari waktu tapi tergantung dari motivasi, motivasi hati kalo seorang pendeta seperti saya. ”, lanjutnya.

    Menurutnya seluruh hidup ini adalah milik Tuhan, oleh karena itu sudah selayaknya orang percaya mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. “Jadi full time itu adalah motivasi, apakah praktisi hukum, apakah pendidik, apakah tenaga medis harus sepenuhnya untuk Tuhan”, tuturnya.

    Beliau kemudian menjelaskan kembali secara singkat mengenai Perpuluhan yang sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Nasrani. Dan banyak orang menganggap dirinya tidak setuju dengan perpuluhan yang menjadi perintah Tuhan. Pada kesempatan ini ia mengatakan bahwa semua anggapan-anggapan demikian adalah salah. Karena yang ia maksudkan adalah bahwa tidak hanya perpuluhan yang menjadi milik Tuhan tetapi seluruh hidup orang percaya adalah milik Tuhan, jadi tidak hanya terbatas pada perpuluhan.

    “Maka kalo saya sering diserang tidak setuju perpuluhan, itu salah. Aku bukan tidak setuju karena Tuhan memberikan kita itu kebenaran bahwa segenap hidup kita milik Dia. Ndak pake hitungan sepuluh persen, segenap hidup”, tandas direktur STT Ekumene ini.

    Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penerapan perpuluhan gerejanya untuk membantu gereja-gereja di daerah. Sekalipun sudah ada yang memberikan ia sebidang tanah dengan luas 5000 meter persegi untuk membangun gereja, ia pun mengembalikannya kepada pemiliknya. Karena ia tidak mau waktunya terbuang habis hanya untuk membangun sebuah gedung.

    “Saya sudah diberi tanah orang lima ribu meter, saya kembalikan. Kalo saya bangun gedung, waktu saya kan habis bangun gedung dan saya cari dana” tutur Gembala Sidang GSKI Mall Artha Gading ini.

    “Saya medingan kontrak aja begini, belum tentu sepuluh tahun lagi saya masih hidup”, lanjutnya dengan nada bercanda kepada awak media.

    Eras pun tidak menolak apabila ada yang ingin membangun gedung untuk gerejanya. “Kecuali ada orang bangunin saya, you boleh bangunin tapi kalo saya bangun saya enggak mau”, terangnya.

    Pada kesempatan yang baik ini pun wartawan meminta pandangan beliau sebagai seorang pemimpin gereja untuk menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun. Menurutnya kemerdekaan Indonesia yang sudah direbut dengan darah para pahlawan sangat perlu untuk terus dijaga oleh seluruh masyarakat Indonesia, dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Karena memang Indonesia memiliki keberagaman yang sangat kompleks, dari Sabang sampai Merauke. Tetapi dengan keberagaman tersebut dapat dibangun persatuan dan kesatuan untuk menjadi bangsa yang bermartabat sesuai dengan kerinduan dan cita-cita para pejuang. “Belum (ideal), makna kemerdekaan, saya bahkan putus asa melihat keadaan negeri kita ini yang makin jauh dari cita-cita bapak pendiri Bangsa Indonesia,” ucapnya penuh harap.

    Ia pun turut memberikan semangat kepada wartawan yang hadir dan mengucapkan selamat kepada PEWARNA Indonesia karena tidak lama lagi acara Kongres II akan diadakan pada akhir Oktober 2019. Semoga PEWARNA Indonesia dapat terus mewarnai dan mengawal negeri ini dengan ide-ide dan terobosan yang berguna untuk persatuan dan kesatuan. (AW)

  • Bahaya, Jika Lemah Dalam Pemberantasan Narkoba, Indonesia Dikhawatirkan Mengalami Lost Generation

    Bahaya, Jika Lemah Dalam Pemberantasan Narkoba, Indonesia Dikhawatirkan Mengalami Lost Generation

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba Nasional (FOKAN), Jeffry Tambayong, mengatakan Indonesia dikhawatirkan akan mengalami lost generation di masa yang akan datang bila penyalahgunaan narkoba tidak segera diberantas secara menyeluruh. Hal ini dikatakan Jeffry berkaca dari sejarah negeri Tiongkok yang dikalahkan Inggris tanpa melalui peperangan senjata, melainkan menggunakan jenis Narkoba yang populer ketika itu, yakni candu.

    “Karena kalau tidak (diberantas), percaya kepada saya ke depan ini kita akan menghadapi lost generation. Jadi kita siap-siap kaya China waktu itu kalah sama Inggris karena perang candu,” ungkap Jeffry ketika berjumpa dengan awak PEWARNA Indonesia di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu malam (11/03/2019).

    Berdasarkan pengamatan pendiri Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM} ini, ada fakta yang mengejutkan. Dikatakannya bahwa ancaman lost generation yang dimaksud bukanlah sekedar isapan jempol belaka, melainkan telah menunjukan tanda-tanda nyata di berbagai wilayah di Indonesia, dan terjadi saat ini.

    “Sekarang di pedalaman, orang-orang di pedalaman, petani-petani kalau nggak pakai sabu  nggak bisa kerja. Nelayan-nelayan di Pantura itu kalau nggak pakai sabu, rata-rata baik di Belawan, Bitung, itu para nelayan bisa patungan-patungan. Jangankan itu, anak-anak tangkapan Polres, anak tukang bajaj, tukang siomay yang dikirim ke kita (GMDM), mereka patungan perorang 50 ribu untuk nyabu bareng,” ungkapnya dengan nada prihatin.

    Jeffry yang datang bersama dengan aktivis muda anti narkoba, Richard Nayoan, kemudian memaparkan bahwa saat ini proses pengungkapan kejahatan narkoba belum menyentuh angka 10 persen jika dibandingkan dengan volume peredarannya. Pandangan itu disampaikan berdasarkan data yang dirilis oleh mantan Kepala BNN, Komjen. Pol. (Purn) Budi Waseso alias Buwas.

    “Karena waktu sebelum lengser pak Buwas (Komjen. Pol. Budi Waseso) bilang kurang lebih 350 sampai 600 ton sabu-sabu yang beredar. Nah sedangkan pak Arman Depari (Deputi Bidang Pemberantasan BNN) tangkap kurang lebih 5 ton, belum lagi Mabes Polri. Katakanlah kita anggap besarnya 10 ton, itu berarti tidak sampai sepuluh persen yang beredar bisa ditangkap,” ungkapnya.

    Kondisi itu menurut Jeffry ikut diperparah dengan masih adanya oknum dari instansi penegakan hukum yang bermain mata dengan para Bandar. Belum lagi minimnya pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang melebihi daya tampung semakin menjadikan Lapas sebagai tempat yang cukup “aman” bagi jaringan pengedar.

    “Kemarin kan pak Arman tangkap 1,5 ton, 200 kg Sabu di luar, tetapi dikendalikan di jaringan Lapas. Tapi saya mengerti mungkin tak bisa ditangani semua oleh orang Lapas karena kapasitas. Contoh di Cipinang seribu (daya tampung tahanan), tapi sekarang sudah empat ribu lima ratus. Siapa yang bisa jaga (jumlah) tersebut? Impossible bisa menjaga itu semua. Jadi ya beberapa Bandar lebih senang berada di Lapas karena mereka lebih gampang, nggak takut ketangkep,” ujarnya.

    Sikapi Dengan Ketegasan Hukum

    Dengan tergolongnya penyalahgunaan narkoba sebagai kejahatan luar biasa, Jeffry mengatakan tindakan tegas dengan menghukum mati Bandar adalah harga yang harus dibayar untuk menciptakan efek jera bagi para pelaku kejahatan ini. Kalau pun ada pihak yang memandang hukuman mati sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), Jeffry kemudian mengajak publik untuk melihat dengan kacamata yang lebih luas bahwa peredaran gelap narkoba telah merampas hak asasi para korban dan keluarga mereka.

    “Banyak orang tua yang kehilangan anak mereka, para istri yang kehilangan suami, atau pun kehilangan saudara yang mati karena narkoba. Sekarang justru mereka (keluarha korban) bangkit melawan dan menjadi yang terdepan untuk mendukung hukuman mati terhadap Bandar,” jelasnya lebih lanjut.

    Lebih dalam Jeffry berkata Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2018 tentang P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba) yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo telah memperkuat landasan hukum dalam melakukan penindakan penyalahgunaan narkoba.

    “Tetapi menurut saya, kan pak Jokowi sudah mengeluarkan Inpres (Instruksi Presiden) nomor 6 tahun 2018 tentang P4GN yang leading sectornya BNN. Kenapa Inpres ini timbul? Karena persoalan narkoba tidak bisa tertangani lagi, harus melalui penanganan dari hilir sampai hulu, begitu. Nah ini ambil saja kebijakan Pemerintah, orang yang sudah ditetapkan, sudah mengajukan PK satu-dua kali tembak mati saja sudah. Tetapi Jokowi harus ada (sebagai) Panglima di depan, artinya harus berani,” tutup Jeffry Tambayong.

  • Murfati Lidianto, SE: Perangi Narkoba Demi Masa Depan Anak-Anak Kita

    Murfati Lidianto, SE: Perangi Narkoba Demi Masa Depan Anak-Anak Kita

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Pernyataan Presiden RI Joko Widodo bahwa Indonesia berada dalam status darurat narkoba pada saat ini, disikapi berbagai kalangan dengan tindakan dan kerja nyata untuk memutus mata rantai peredaran narkoba. Semua bergandengan tangan demi satu tujuan mulia, menyelamatkan masa depan anak bangsa yang menjadi target para bandar narkoba.

    “Meski terasa dan terdengar pahit, namun fakta bahwa Indonesia masih menjadi surga bagi sindikat narkoba kelas dunia tidak bisa kita pungkiri. Oleh karena itu, saatnya kita bergandengan tangan untuk perangi narkoba demi menyelamatkan anak bangsa yang menjadi target para bandar narkoba”, pungkas Murfati Lidianto, SE., anggota DPRD Kota Bekasi ini penuh semangat.

    Penasihat Pergerakan Anti Napza Nusantara Amartha (PANNA) DPD Bekasi ini menuturkan bahwa sikap Presiden Jokowi untuk tidak memberi pengampunan kepada para bandar narkoba yang di penjara harus didukung.

    “Kita harus mendukung segala cara dan usaha pemerintah dalam memutus mata rantai peredaran narkoba, termasuk untuk tidak memberikan pengampunan bagi pelaku narkoba yang ditangkap dan dipenjarakan!”, tegas Murfati.

    Sementara itu, terkait pencegahan, Anggota DPRD Kota Bekasi, Dapil Bekasi Barat – Medan Satria yang pernah duduk di komisi IV, yang membidangi Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat ini, menyarankan agar perlunya materi tentang bahaya narkoba diajarkan di sekolah-sekolah. Selain itu, bentuk pencegahan terhadap narkoba juga bisa dilakukan di sekolah melalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

    “Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan khususnya bagi anak-anak usia sekolah SD, SMP dan SMA. Selain perlunya materi berkaitan dengan bahaya narkoba, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang sudah jadi peraturan presiden, juga dapat menjadi ujung tombak dalam pencegahan, sehingga PPK ini harus segera ditindaklanjuti dengan pedoman dan turunan, dan harus disampaikan kepada siswa,” ungkap Murfati.

    Pada akhirnya, Anggota Dewan yang selalu dekat dengan masyarakat ini, mengajak semua komponen bangsa, warga masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba di Indonesia, khususnya di Kota Bekasi.

    “Saya mengajak, semua warga bangsa khususnya masyarakat Kota Bekasi untuk ambil bagian dan mendukung kerja pemerintah dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba. Saatnya kita bersatu hati untuk memerangi narkoba, demi masa depan anak-anak kita”, terang Murfati Lidianto, SE., Anggota DPRD Kota Bekasi yang saat ini duduk sebagai Wakil Ketua di Komisi III (Bidang Pendapatan dan Anggaran).

  • Pernyataan Sikap PEWARNA Indonesia: Serukan Untuk Tetap Mengadakan Penyajian Informasi Utuh dan Sebenarnya

    Pernyataan Sikap PEWARNA Indonesia: Serukan Untuk Tetap Mengadakan Penyajian Informasi Utuh dan Sebenarnya

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menyikapi ledakan bom pagi ini, Minggu (13/05/2018) di tiga Gereja Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di jalan Arjuna yang mengakibatkan korban jiwa meninggal dan luka-luka, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) melalui Departemen Komunikasi dan Informasi, hari ini, Minggu (13/05/2018) mengeluarkan pernyataan sikapnya, sebagai berikut:

    Terkait dengan Peristiwa pengeboman terhadap 3 gereja di Surabaya, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) menyerukan untuk tetap mengadakan penyajian informasi utuh dan sebenarnya, demi keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia.

    Pilah dan pilihlah informasi yang mengarah pada penyelesaian yang menguatkan persatuan dan kesatuan negara. Setiap masyarakat wajib memperhatikan penyebaran informasi teks dan gambar, baik gambar bergerak atau tidak bergerak. Agar penyebaran informasi itu adalah informasi yang tidak menguntungkan gerakan teror di Indonesia.

    Sebaliknya, memberikan informasi perlawanan yang menyadarkan masyarakat untuk tetap meyakini bahwa pelaku bukanlah mereka yang mengingini keberagaman sebagai kekuatan negara.

    Gelorakan pergerakan nyata bagi seluruh elemen masyarakat yang masih setia mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, agar tidak terkungkung pada  tataran slogan semata. Namun tindakan nyata untuk mempertahankan Pancasila sebagai Ideologi Indonesia.

    Menginformasikan bahwa masyarakat Indonesia percaya, aparatur negara tidak lamban dalam merespon peristiwa ini. Bahkan negara mampu bersikap tegas demi keadilan pelayanan perlindungan bagi setiap warga negara.

    Jakarta, 13 Mei 2018.

    DPP PEWARNA Indonesia

    Yusuf Mujiono (Ketua Umum)

    Argo Pandoyo (Sekjen)

  • SIARAN PERS SEKUM PGI TERKAIT PEMBUBARAN DAN PENYERANGAN KANTOR YLBHI JAKARTA

    SIARAN PERS SEKUM PGI TERKAIT PEMBUBARAN DAN PENYERANGAN KANTOR YLBHI JAKARTA

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Aksi pengepungan kantor LBH Jakarta di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, hari Minggu, 17 September 2017, sekitar pukul 21.00 WIB hingga Senin dinihari, menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai pihak tak terkecuali Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Melalui Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom, hari ini (18/9/2017), PGI mengeluarkan beberapa poin pernyataan sikap terkait Pembubaran dan Penyerangan Kantor YLBHI Jakarta.

    Menurut Gomar Gultom, mobilisasi massa untuk menggeruduk Kantor YLBHI di Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin, 17 September 2017, malam, merupakan langkah mundur dalam proses demokratisasi yang sedang diperjuangkan bersama. “Peradaban yang mengedepankan pengerahan massa, kerasnya suara dan kekuatan otot tidak akan pernah menyelesaikan masalah, selain hanya akan melahirkan masalah baru,” tegasnya, lewat siaran pers yang diterima wartanasrani.com.

    Ditegaskan Gomar Gultom, bahwa Negara tidak boleh takluk pada ancaman massa dan harus mengusut tuntas para pelaku penyerbuan tersebut, termasuk  provokator yang menyebarkan informasi menyesatkan melalui medsos.

    Gomar juga menghimbau kepada pemerintah, dalam hal ini negara, untuk menjamin kebebasan masyarakat berkumpul dan berdiskusi sepanjang tidak mengganggu ketertiban umum.

    Sementara itu, kepada masyarakat, himbauan Gomar agar lebih dewasa dan cerdas dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di masyarakat dan tidak mudah terhasut oleh informasi yang menyesatkan di medsos. “Tindakan main hakim sendiri akan mengacaukan peradaban kita dan olehnya haruslah dihindari demi pencapaian masyarakat dan bangsa bermartabat,” pungkasnya.

    Tak ketinggalan, himbauan disampaikan kepada para elit dan kelompok-kelompok kepentingan untuk tidak bermain-main dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan atau ambisinya. Menurut Gomar, cara-cara pembenturan kelompok di tengah masyarakat pada gilirannya hanya akan memecah kita sebagai bangsa.

    Pada bagian akhir, terkait dugaan pelanggaran berat HAM masa lampau, Gomar mengatakan dibutuhkan percakapan dalam suasana teduh, yang memberi kesempatan kepada semua pihak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya, tanpa ada yang merasa terancam atau tertekan. Bahkan menurutnya, upaya rekonsiliasi nasional menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Dan rekonsiliasi sejati adalah dengan pengungkapan fakta sejarah secara obyektif yang diikuti dengan pengakuan dan pemulihan.

  • CATATAN KECIL DARI BAKSOS PEWARNA DI GKP TAMIYANG INDRAMAYU

    CATATAN KECIL DARI BAKSOS PEWARNA DI GKP TAMIYANG INDRAMAYU

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Sebuah acara yang sukses tentu tak lepas dari kekompakkan dan kerja keras panitia, baik dalam segi perencanaan maupun pelaksanaan. Hal inilah yang terlihat pada pewarta pewarna yang melaksanakan Bakti Sosial Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna) ke GKP Jemaat Tamiyang, Indramayu, kamis (17/08/2017).

    Tiada kenal kata lelah, panitia bahu membahu memberikan kerja maksimal untuk sebuah hasil yang maksimal, yaitu, kunjungan karya kasih dengan visi mulia yang tertuang dalam spanduk acara “Bingkai Karya dengan Warna”, benar-benar tercapai.

    Tak dipungkiri, riak-riak kecil dan kerikil-kerikil tajam yang menghalangi langkah kaki para pejuang pewarna dalam aksi penuh kasih ini, tak bisa dihindari. Namun rupanya, hal ini tidak membuat panitia pelaksana patah arang dan mundur seribu langkah. Semangat mereka tak pudar. Patah satu tumbuh seribu, yah! Mungkin prinsip ini yang ada dalam hati panitia dibawah komando koordinator acara Bung Tenny M. Deen.

    Semangat, spirit, motivasi dan antusias yang ditunjukkan Hotman J. Lumban Gaol sang nakhoda dari kapal yang bernama Rakernas III Pewarna Indonesia 2017, menjadi suntikan penguat daya juang panitia, untuk tetap melangkah dan memberi kerja maksimal.

    Tak pelak, hasil maksimalpun diraih. Sambutan Pdt. Johanes Simanjuntak, S.Si, pendeta berdarah Batak, Sumatera Utara, juga harapan Pak Arya yang tampil mewakili majelis jemaat, serta tak ketinggalan, antusiasme jemaat yang hadir, memberi warna tentang suksesnya acara mulia yang menjadi rangkaian Rakernas III Pewarna Indonesia.

    Sukacita penuh terlihat diwajah para pejuang pewarna saat berpamitan untuk kembali pulang menekuni tugas dan tanggung jawab jurnalistik yang diembannya.

    Salut untuk kerja dan hasil maksimal panitia. Kata Alkitab, jerih lelahmu dalam pelayanan ini tidak akan sia-sia. Ada doa dan harapan dari hamba Tuhan dan Jemaat GKP Tamiyang, Indramayu, yang Tuhan Yesus dengar dari tempat yang maha tinggi. Aminkanlah berita baik dari Alkitab, bahwa kesetiaan dalam perkara kecil membawa kita pada perkara besar.

    Dari semua sukses kegiatan Pra Rakernas, tetaplah rendah hati dan selalu berserah pada Tuhan Yesus Kristus. Karena semua sukses ini adalah semata-mata kasih dan anugerah-NYA. Terus, jangan sampai panitia terlena dari sukses kecil Pra Rakernas, karena sukses besar, acara puncak Rakernas III pada tanggal 25-27 Agustus 2017, menanti didepan mata. “Jangan kita terlena dengan sukses kecil ini, siapkan diri kita untuk mengalami sukses besar pada acara puncak pewarna tahun 2017, yaitu Rakernas III”, pungkas Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono, memberi semangat.

    Salut! Bravo! Pewarta Pewarna Indonesia. Imanuel! (RSO)