JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Menkumham), Dr. Yasonna H. Laoly, SH., M.Sc membuka secara resmi Sidang Majelis Pendeta GKPS Se-Indonesia yang akan berlangsung selama 3 hari yaitu tanggal 17-20 Januari 2018 di Hotel Grand Cempaka Jakarta, rabu (17/01/2018).

Menkumham Yasonna Laoly saat menyampaikan sambutan
Dalam sambutannya, Yasonna Laoly, mengajak semua peserta Sidang Majelis Pendeta GKPS agar mendoakan tahapan-tahapan Pilkada yang berlangsung pada tahun 2018 bahkan Pileg dan Pilpres 2019 agar berjalan dengan baik.
“Doakan agar semua tahapan Pilkada serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019 Â dapat berjalan dengan baik. Jangan membuat hoax sendiri. Gereja harus terdepan untuk membawa kebenaran,” ungkap Laoly.
Turut hadir bersama Menkumham, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, yang dalam sambutannya, selain mengingatkan agar gereja tidak menarik diri untuk bicara politik, Menteri Enggartiasto Lukito juga menyampaikan soal komitmen pemerintah yang akan selalu berpihak kepada masyarakat.
“Gereja tidak boleh berpolitik tapi jangan tabu bicara politik. Politik itu tidak kotor, yang kotor adalah orangnya,” terangnya
“Satu hal yang ingin saya pastikan, bahwa Pemerintah tidak akan membiarkan daya beli masyarakat turun! Pemerintah tidak akan membiarkan kebutuhan bahan pangan kita terganggu. Apapun kita akan lakukan! Pemerintah akan memikirkan atau lebih berpihak kepada masyarakat,” terangnya lagi kepada para peserta Sidang Majelis Pendeta GKPS.

Ephorus Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Pdt. M. Rumanja Purba, didampingi Ibu Rosdiana Sipayung mewakili Panitia saat Konferensi Pers dengan awak media.
Sementara itu, dalam konferensi pers yang dilaksanakan disela-sela acara, Ephorus Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Pdt. M. Rumanja Purba, didampingi Ibu Rosdiana Sipayung mewakili Panitia, menyatakan soal pentingnya Sidang Majelis Pendeta tahun 2018 yang mengambil tema; “Diperlengkapi untuk melakukan perbuatan baik” (2 Timotius 3:17) dan sub Tema; “Bimbinglah jemaat bermurah hati, seperti Kristus bermurah hati kepada orang miskin, yang menderita dan tertindas”.
“GKPS Gereja Kristen Protestan Simalungun yang pusatnya di Siantar Sumatera Utara, tahun ini mengadakan sidang penting yang itu Sidang Majelis Pendeta. Sebelumnya juga telah dilaksanakan Sidang Majelis Penginjil seminggu yang lalu. Kedua sidang ini adalah sebuah lembaga untuk membicarakan pertimbangan-pertimbangan teologia kepada GKPS, kemudian dia juga sebagai lembaga untuk menyusun kalender liturgis. Yaitu menyusun tata ibadah, sakramen-sakramen , topik-topik khotbah. Itulah fungsi dari lembaga ini, Majelis Pendeta,” jelasnya pada awak media yang hadir.

Menteri Yasonna Laoly dan Enggartiasto Lukita menerima hio atau ulos dari Panitia
Kehadiran 2 Menteri, disambut dengan rasa syukur karena memberi warna tersendiri dalam pelaksanaan Sidang Majelis Pendeta GKPS Se-Indonesia tahun 2018 bahkan sebelum meninggalkan acara Menteri Yasonna Laoly dan Enggartiasto Lukita sempat menerima hio atau ulos.
“Saya bersyukur dipembukaan ini hadir 2 menteri yang memberi warna khusus pada GKPS bahwa negeri ini adalah sebuah negeri yang menjadi milik kita bersama. Dengan kehadiran Bapak Menteri Yasonna Laoly dan Enggartiasto Lukita hari ini, memberi motivasi, memberi spirit bagi GKPS untuk berperan lebih besar lagi terutama merawat NKRI,” ungkap Ephorus, Pdt. M. Rumanja Purba penuh syukur.
“GKPS ini ada sekitar 250 ribu jiwa anggotanya dan ini bukan tugas yang gampang. Kalau dibuat klasifikasi, GKPS ini termasuk gereja yang menengah yang termasuk 25 besar gereja di Indonesia. Kami ingin berperan lebih besar lagi terutama merawat NKRI,” ungkapnya lagi.
Sementara itu, Ibu Rosdiana Sipayung sebagai perwakilan Panitia Pelaksana menyatakan bahwa terlaksananya Sidang Majelis Pendeta GKPS di Jakarta karena semangat “Haroan Bolon” atau gotong royong dari jemaat Distrik VII Jabodetabek dan Bandung.
“Dihadiri 279 orang Pendeta yang terdata hadir sampai hari ini rabu 17 Januari dan mungkin masih ada yang menyusul karena acara kita akan berlangsung sampai dengan hari jumat malam. Acara ini walaupun membutuhkan biaya yang besar namun dapat terselenggara karena semangat “Haroan Bolon” atau dalam bahasa Indonesia gotong royong dari seluruh jemaat yang ada di Distrik VII khususnya Jabodetabek dan Bandung. Puji Tuhan! Jemaat-jemaat bisa menanggulangi,” jelas Rosdiana Sipayung penuh syukur.

Suasana Sidang Majelis Pendeta GKPS Se-Indonesia
Lebih jauh dikatakan Ephorus GKPS, bahwa sebagai gereja suku, GKPS memiliki 2 mandat, yaitu; mandat rohani dari Sorga dan mandat budaya dari Simalungun.
“Dua mandat ini yang membuat gereja ini tetap eksis, karena tidak hanya soal Sorga yang dibicarakan tetapi juga soal budaya Simalungun. Dan ini tertuang dalam kontitusi gereja bahwa GKPS harus menjaga budayanya,” tegas Ephorus.
Sementara menjawab soal istilah Majelis Pendeta, Ephorus GKPS menjelaskan bahwa Istilah majelis pendeta menggambarkan bahwa GKPS tidak dipimpin oleh satu orang, tetapi gereja ini dipimpin secara kolektif .
“Jadi mejelis pendeta ini menggambarkan kolektifitas. Sebagai ephorus, saya tidak bsia bertindak sendiri melakukan apa yang saya pikirkan, saya harus menerima mandat dari majelis ini. Majelis ini akan memberikan pertimbangan theologia seperti yang saya katakan tadi. Contoh kecilnya mengenai jubah kami pendeta, itu harus diputuskan melalui sidang majelis ini. Tidak boleh pendeta yang lain-lain jubahnya. Jadi intinya GKPS ini sangat menjaga asas kolektifitas,” jelasnya.
Pada bagian lain, Preases GKPS Distrik VII, Pdt. Jameldin Sipayung, S.Th., MA., mengharapkan ditengah kondisi dunia saat ini yang terlalu mendorong kebebasan, Sidang Majelis Pendeta GKPS sebagai suatu permusyawaratan Pendeta dapat memberikan pertimbangan Theologis tentang pelaksanaan tugas dan tanggung jawab gereja agar dapat menambah motivasi pendeta-pendeta GKPS untuk mendorong peningkatan kualitas Penatalayanan. GKPS harus terus bertumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Tuhan Yesus , dan tunduk pada kehendakNya dalam kehidupan baik secara pribadi maupun bersama-sama.
Akhirnya Ephorus GKPS Pdt. M. Rumanja Purba, berpesan agar seluruh peserta sidang dapat mengikuti jalannya sidang dengan baik, dan penuh sukacita, mendapatkan pengalaman dan wawasan baru, dan membawa pulang pengalaman berharga, membagikan kepada seluruh jemaat di daerahnya masing-masing, demi pertumbuhan iman yang lebih baik dan hanya Tuhan yang dimuliakan.

Leave a Reply