Category: Liputan

  • Kegiatan Asesmen Lapangan untuk Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi Pais Jakarta

    Kegiatan Asesmen Lapangan untuk Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi Pais Jakarta

    Bekasi – Tim Asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) telah melaksanakan kegiatan Asesmen Lapangan (AL) untuk Program Studi (Prodi) S1 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pais Jakarta. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan konstruktif ini merupakan bagian dari proses akreditasi untuk menjamin dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi teologi di Indonesia.

    Asesmen lapangan ini bertujuan untuk melakukan verifikasi, validasi, dan klarifikasi terhadap data serta informasi yang telah disampaikan oleh STT Pais Jakarta melalui Laporan Evaluasi Diri (LED) yang telah diunggah sebelumnya. Tim Asesor LAMDIK yang bertugas melakukan peninjauan mendalam terhadap berbagai aspek akademik dan non-akademik di lingkungan kampus.

    Selama proses asesmen, Tim Asesor mengadakan serangkaian pertemuan dengan berbagai pihak di STT Pais Jakarta. Agenda kegiatan meliputi diskusi dengan jajaran pimpinan sekolah tinggi, pimpinan program studi, dosen, serta tenaga kependidikan. Selain itu, asesor juga berdialog langsung dengan para mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai kualitas proses pembelajaran, luaran yang dihasilkan, serta kepuasan para pemangku kepentingan.

    Dr. Zakarias Manambe sebagai Ketua STT Pais Jakarta dalam sambutannya menyampaikan bahwa kunjungan Tim Asesor LAMDIK merupakan momen penting bagi institusi untuk melakukan evaluasi diri dan mendapatkan masukan berharga demi pengembangan di masa depan. “Kami menyambut baik kehadiran Tim Asesor LAMDIK. Proses asesmen ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas dan relevansi Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen agar dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan berintegritas untuk melayani gereja dan masyarakat,” ujarnya.

    Selain verifikasi dokumen dan wawancara, asesmen lapangan juga mencakup peninjauan langsung terhadap berbagai fasilitas pendukung kegiatan akademik seperti ruang kelas, perpustakaan, sarana ibadah, dan fasilitas penunjang lainnya.

    Hasil dari asesmen lapangan ini akan menjadi dasar bagi LAMDIK untuk menetapkan peringkat akreditasi Prodi S1 Pendidikan Agama Kristen STT Pais Jakarta. Peringkat akreditasi ini tidak hanya menjadi tolok ukur kualitas program studi di mata publik, tetapi juga menjadi acuan bagi pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan perguruan tinggi. Seluruh sivitas akademika STT Pais Jakarta berharap proses ini dapat membuahkan hasil terbaik yang akan semakin memantapkan langkah STT Pais dalam mencetak para pendidik Kristen yang profesional dan berdampak.

  • Lindungi Anak, PGI Gagas Gereja Ramah Anak di Indonesia

    Lindungi Anak, PGI Gagas Gereja Ramah Anak di Indonesia

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia kian mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 oleh Kementerian PPPA, sekitar 11,5 juta anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan, dan sekitar 7,6 juta di antaranya mengalaminya dalam satu tahun terakhir. Termasuk dalam kasus tersebut, kekerasan yang terjadi di lingkungan keagamaan, termasuk gereja, menjadi perhatian serius.

    Menanggapi kondisi darurat ini, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melalui Biro Keluarga dan Anak, bekerjasama dengan United Evangelical Mission (UEM), Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), dan Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JKLPK), menggelar diskusi bertajuk “Gereja Merespons Darurat Perlindungan Anak di Indonesia” secara daring pada Selasa, 29 April 2025.

    Sekretaris Umum PGI Pdt. Darwin Darmawan dan Pendiri ECPACT Dr. Ahmad Sofyan, SH., MA. menjadi pemantik dalam diskusi yang dihadiri jemaat, pendeta, pimpinan sinode, dan perwakilan lembaga Kristen. Dalam paparannya, Pdt. Darwin menyatakan bahwa gereja harus mengambil sikap serius terhadap kekerasan anak, yang seringkali menjadi fenomena “gunung es” karena banyak kasus tidak dilaporkan.

    Ia menyoroti berbagai hambatan seperti budaya patriarki, anggapan kekerasan sebagai cara mendidik, hingga narasi religius yang memaksa korban untuk memaafkan demi nama baik gereja. Meski beberapa gereja telah memiliki kebijakan perlindungan anak dan membentuk satuan tugas, masih banyak gereja yang belum memiliki kemampuan dalam menghadapi persoalan tersebut.

    Pdt. Darwin berharap diskusi ini menjadi langkah awal untuk membangun gereja yang lebih responsif terhadap hak dan perlindungan anak. “Evaluasi terhadap sejauh mana gereja menjadi ruang yang ramah anak harus terus dilakukan agar pelayanan gereja semakin relevan dengan kebutuhan dasar anak-anak,” ujarnya.

    Sementara itu, Dr. Ahmad Sofyan mengingatkan bahwa eksploitasi seksual kini telah bergeser ke ranah digital. Ia mendorong orang tua untuk menjadi cakap digital agar dapat melindungi anak-anak dari kekerasan di ruang siber. “Anak-anak saat ini berpindah dari dunia nyata ke dunia maya yang penuh tantangan, maka orang tua perlu tahu aktivitas daring anak mereka,” jelas dosen Universitas Bina Nusantara ini.

    Lebih jauh, Sofyan menekankan pentingnya lembaga keagamaan memiliki panduan perlindungan anak (child protection guide) dan membangun budaya yang aman bagi anak. Orang tua juga perlu mampu menangani kasus eksploitasi seksual online tanpa menyalahkan anak dan segera berkonsultasi dengan pihak profesional.

    Diskusi diakhiri dengan sesi kelompok reflektif. Para peserta menyepakati bahwa PGI perlu mendorong anggotanya memiliki kebijakan perlindungan anak, menyosialisasikan pilot project Gereja Ramah Anak (GRA), melibatkan pusat krisis perempuan, serta meningkatkan edukasi berjenjang bagi para pemimpin gereja, pendeta, dan pembina remaja demi gereja yang aman bagi anak-anak. (RSO)

  • Papua Dipercaya Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Hari Doa Nasional 2025

    Papua Dipercaya Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Hari Doa Nasional 2025

    WARTANASRANI.COM, DK JAKARTA – Papua kembali dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Hari Doa Nasional (HDN) 2025. Agenda berskala internasional ini akan digelar pada 1–5 Juli 2025, dengan puncak perayaan HDN berlangsung di lapangan terbuka Sentani, Papua, pada 5 Juli 2025.

    Pernyataan resmi ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Senin (21/4/2025). Acara dihadiri oleh para pemimpin aras gereja nasional yang tergabung dalam Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI), antara lain Ketua Umum PGI Pdt. Jacky Manuputty, Ketua Umum PGLII Pdt. Tommy Lengkong, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Pdt. Dr. Ronny Mandang, serta Anggota Majelis Pertimbangan PGLII sekaligus Pendiri House of Prayer for All Nations, Pdt. Lipiyus Biniluk.

    Turut hadir dalam konferensi pers tersebut: Sekum PGPI Pdt. Hano Palit, Mayor Maxel D. Latuputty dari Humas Gereja Bala Keselamatan, Mayor Stefanus Tulumang, Sekretaris Persekutuan Baptis Indonesia David Vidyatama, Wakil Sekum Gereja Ortodoks Indonesia Rm. Agapios Hideo, Sekretaris Eksekutif PGI Pdt. Muliathy Briany, Robby Repi (PP PGLII/Convocator FUKRI), dan Ketua Panitia Deinas Geley.

    Dengan mengusung tema “Ignite the Fire, From Papua to the Nations”, konferensi internasional dan Hari Doa Nasional 2025 menjadi seruan profetik agar api doa dan penginjilan kembali menyala dari Timur Indonesia menuju bangsa-bangsa. Pdt. Dr. Ronny Mandang dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini akan melibatkan pembicara dan peserta dari dalam serta luar negeri. “Kami hadir atas undangan Pdt. Lipiyus Biniluk dan Ketua Panitia untuk menyampaikan bahwa pada tanggal 1 hingga 5 Juli mendatang akan digelar konferensi internasional, doa, dan penginjilan, dengan puncak acara Hari Doa Nasional di Sentani,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa kegiatan ini bersifat inklusif. “Momentum ini bukan hanya untuk para tokoh aras nasional atau anggota FUKRI, tetapi terbuka bagi seluruh umat Kristiani dan masyarakat Indonesia. Bahkan diharapkan, setiap kota dan kabupaten turut ambil bagian aktif. Papua akan menjadi mercusuar doa dan penginjilan bagi bangsa-bangsa,” tambah Ronny.

    Rangkaian kegiatan akan disusun secara sistematis. Pada Mei 2025, penyusunan kerangka kegiatan akan dimulai; Juni 2025 menjadi waktu untuk sosialisasi besar-besaran; dan Juli 2025, pelaksanaan acara puncak yang dimulai dengan konferensi internasional dan ditutup dengan Hari Doa Nasional.

    Ronny berharap Presiden Republik Indonesia dapat hadir langsung memberikan arahan dalam acara puncak. “Kegiatan ini direncanakan berlangsung di lapangan terbuka sebagai simbol keterbukaan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya.

    Ia menambahkan bahwa Papua dipilih karena memiliki makna spiritual yang kuat. “Kami percaya doa dapat menjadi pemersatu bangsa. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi awal dari gerakan spiritual nasional,” Ketua Panitia, Deinas Geley, menyampaikan harapan agar tanggal 5 Juli dapat ditetapkan sebagai Hari Doa Nasional resmi dalam kalender negara. “Kami sedang mengajukan usulan tersebut. Papua akan menjadi titik kumpul para pemimpin dunia untuk berdoa bersama bagi Indonesia,” ujarnya.

    Pdt. Lipiyus Biniluk menambahkan bahwa sejumlah pembicara kelas dunia telah menyatakan kesediaan hadir, antara lain: Rick Warren, Rick Riding dari Yerusalem, Michael Joe dari Korea, Tom Victor dari gerakan 2 Billion Children Movement, dan Charlie Rood dari India. “Papua adalah ‘surga kecil yang jatuh ke bumi’. Namun, justru karena banyaknya kepentingan di tanah ini, gereja harus bersuara, berdiri bersama rakyat Papua, dan membawa suara keadilan serta pengharapan,” tegasnya.

    Pdt. Jacky Manuputty menyampaikan refleksi mendalam tentang peran kekristenan di tengah krisis bangsa. “Papua tetap bisa menjadi berkat meski terluka. Seperti gereja abad pertama yang bertahan dan melayani saat kota-kota Romawi dilanda tragedi, demikian pula gereja hari ini: hadir, bertahan, dan menjadi terang di tengah tantangan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Pdt. Tommy Lengkong menekankan pentingnya menjangkau gereja lokal. “Gerakan ini tidak hanya menyasar pimpinan nasional, tetapi bergerak dari rumah doa di Papua hingga ke desa-desa,” katanya.

    Dukungan juga disampaikan oleh Rm. Agapios Hideo, David Vidyatama, dan Mayor Stefanus Tulimang, yang menilai acara ini sebagai momentum memperkuat fondasi spiritual bangsa lewat kesatuan gereja dalam doa.

    Menutup konferensi pers, Pdt. Ronny Mandang kembali menegaskan bahwa HDN 2025 merupakan ruang bersama lintas denominasi. “Di tengah dunia yang tidak baik-baik saja, gereja Indonesia terpanggil untuk bersatu, berdoa, dan menyuarakan keadilan serta kasih Tuhan.”

    Dengan tema besar “Ignite the Fire, From Papua to the Nations”, Hari Doa Nasional 2025 diharapkan menjadi titik balik kebangkitan rohani Indonesia. Dari tanah Papua yang menyimpan luka, nyala doa akan dikobarkan untuk memberkati Indonesia dan bangsa-bangsa. (RS)

  • Bedah Buku Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar Dari Balik Gunung Mbaham di Jakarta Berjalan Sukses

    Bedah Buku Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar Dari Balik Gunung Mbaham di Jakarta Berjalan Sukses

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Pemerintah Provinsi Papua Barat kembali menorehkan sejarah literasi dengan meluncurkan buku biografi bertajuk Napak Tilas Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham. Buku ini menghadirkan kisah inspiratif perjalanan hidup Ali Baham Temongmere (ABT), seorang putra asli Kampung Kotam, Fakfak, yang berhasil mengukir prestasi sebagai Penjabat Gubernur Papua Barat.

    Bedah Buku Napak Tilas Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar dari balik Gunung Mbaham. (27/3/2025)

    Peluncuran buku ini berlangsung pada Senin, 10 Maret 2025, di Kantor Gubernur Papua Barat. Dalam acara tersebut, hadir Gubernur Dominggus Mandacan, Wakil Gubernur Muhamad Lakotani, dan Sekretaris Daerah Ali Baham Temongmere. Buku ini ditulis oleh tim penulis profesional, yakni Dwi Urip Premono, Wolas Krenak, dan Yusuf Mujiono, atas inisiasi Biro Administrasi Pimpinan Setda Papua Barat.

    Buku ini tidak hanya memuat perjalanan karier ABT, tetapi juga menggali lebih dalam tentang budaya, sejarah, dan potensi daerah Papua Barat. Sebagai anak dari kampung yang sederhana, ABT berhasil menunjukkan bahwa kerja keras, pendidikan, dan cinta pada tanah air dapat membawa seseorang mencapai puncak kepemimpinan.

    Bedah buku ini juga digelar pada Kamis, 27 Maret 2025, di Hotel Redtop, Jakarta. Salah satu pembicara, Dr. Marlina Flassy dari Universitas Cenderawasih, menyoroti bahwa kepemimpinan ABT adalah contoh bagaimana budaya lokal dapat menjadi landasan kokoh bagi seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan modern.

    Kepala Badan Pengkajian Strategis Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menilai buku ini sebagai salah satu karya literasi yang tidak hanya mencatat sejarah kepemimpinan, tetapi juga memberikan nilai-nilai inspiratif bagi generasi muda dan calon pemimpin Indonesia.

    Buku Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham menjadi simbol semangat literasi dan motivasi bagi masyarakat Papua Barat. Lebih dari sekadar biografi, buku ini adalah pelajaran hidup tentang bagaimana memimpin dengan integritas, budaya, dan visi untuk membawa perubahan positif bagi daerah dan masyarakatnya. (RSO)

  • BMPTKKI WUJUDKAN SINERGI MELALUI MOU DENGAN DENGAN LAI DAN SILATURAHMI DENGAN PGI

    BMPTKKI WUJUDKAN SINERGI MELALUI MOU DENGAN DENGAN LAI DAN SILATURAHMI DENGAN PGI

    WARTANASRANI.COM, Jakarta, 27 Maret 2025 – Bidang Komunikasi dan Kerjasama Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Kristen se-Indonesia (BMPTKKI) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mempererat sinergi dengan lembaga-lembaga Kristen melalui berbagai inisiatif strategis.

    Penandatanganan MoU dengan LAI

    Hari ini, BMPTKKI bersama Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) secara resmi menjalin kerjasama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Penandatanganan ini dilaksanakan oleh Ketua Umum BMPTKKI, Dr. Stevri P.N.I. Lumintang dan Ketua Umum LAI, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang. Sesi penandatanganan dilanjutkan oleh Sekretaris Umum BMPTKKI, Dr. Nasokhili Giawa, dan Sekretaris Umum LAI, Dr. Sigit Triyono, M.M., dengan disaksikan oleh Kepala Departemen Terjemahan LAI, Kabid Kerjasama dan Kemitraan LAI, serta beberapa staf lainnya.

    Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah pengurus BMPTKKI, yakni Dr. Eliver Radjagoekgoek (Dewan Pengawas), Dr. Antonius Natan (Bendahara Umum), Dr. Marintan Sitorus (Kabid Komunikasi dan Kerjasama), Dr. Eben Munthe (Sekretaris Bidang Komunikasi dan Kerjasama), dan Sheline (staf). Kolaborasi ini diharapkan memperkuat layanan Alkitab dan pengembangan pendidikan berbasis nilai-nilai Kristen di seluruh perguruan tinggi Kristen di Indonesia.

    Silaturahmi BMPTKKI dengan PGI

    Pada kesempatan yang sama, Bidang Komunikasi dan Kerjasama BMPTKKI juga memfasilitasi pertemuan silaturahmi dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Pertemuan ini diterima dengan baik oleh Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Dharmawan, M.A., Wakil Sekretaris Umum, Pdt. Lenta Enni Simbolan, M.A., M.Th., serta sejumlah kepala bidang dan staf PGI.

    Dalam pertemuan tersebut, beberapa isu strategis dibahas, antara lain:

    1. Krisis pendidikan di Indonesia – PGI dan BMPTKKI berkomitmen untuk mencari solusi bersama guna meningkatkan kualitas pendidikan berbasis Kristen.

    2. Fasilitasi pertemuan organisasi Perguruan Tinggi Kristen – PGI diharapkan dapat menjadi penghubung bagi sinergi antara berbagai organisasi PTKK.

    3. Rencana MoU antara PGI dan BMPTKKI – Kerjasama ini diharapkan menjadi landasan dalam mengembangkan program-program strategis bersama.

    Pertemuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menjawab tantangan-tantangan pendidikan dan pelayanan di tengah masyarakat Indonesia. Langkah-langkah konkret dari hasil pertemuan ini akan segera ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak.

    Melalui kedua kegiatan penting ini, BMPTKKI terus menunjukkan perannya sebagai mitra strategis dalam pelayanan pendidikan dan pengembangan nilai-nilai kekristenan di Indonesia. (RSO)

  • RUAT BMPTKKI 2025: KETUM PGPI PDT. DR. JASON BALOMPAPUENG TEKANKAN PENTINGNYA DOA YANG BERKUASA

    RUAT BMPTKKI 2025: KETUM PGPI PDT. DR. JASON BALOMPAPUENG TEKANKAN PENTINGNYA DOA YANG BERKUASA

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) resmi dibuka di Season City, Jakarta Barat, dengan khidmat dan penuh makna. Mengusung tema “Bertolong-tolonglah Menanggung Bebanmu!” (Galatia 6:2), kegiatan ini diawali dengan tarian misi Nusantara yang menggambarkan semangat persatuan dan kerjasama dalam menuntaskan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus.

    Ibadah pembukaan menghadirkan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGPI), Pdt. Dr. Drs. Jason Balompapueng, MBA., M.Th., yang menyampaikan firman Tuhan berdasarkan Yakobus 5:16. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya doa sebagai kekuatan spiritual yang tidak hanya berdampak dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sekuler dan kebangsaan.

    “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Doa mampu mengubah dari tidak ada menjadi ada. Doa tidak pernah sia-sia, karena melalui doa, kita berbicara langsung dengan Allah dan mendapatkan jawaban dari-Nya,” ujar Pdt. Jason di hadapan para peserta yang hadir, Senin (24/3/2025).

    Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga faktor utama yang menentukan kekuatan doa. Pertama, doa itu sendiri sebagai hak istimewa orang percaya. “Doa adalah jalur khusus yang Allah berikan kepada kita. Ketika kita menyadari bahwa doa adalah hubungan dua arah dengan Tuhan, maka kita harus melakukannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Jika program kerja kita dipersembahkan dalam doa, maka Allah akan memproteksi dan memberkati program tersebut,” jelasnya.

    Kedua, faktor orang yang berdoa. Menurut Pdt. Jason, doa yang berkuasa adalah doa dari orang benar, yaitu mereka yang telah dibersihkan dari ketidakbenaran dan mengaku dosa mereka kepada Tuhan. “Yang dibutuhkan dari kita adalah belas kasihan dan pengampunan, bukan hukuman. Hanya orang benar yang doanya memiliki kuasa besar,” tegasnya.

    Ketiga, keyakinan dalam berdoa. “Tingkat keyakinan sangat memengaruhi kualitas doa kita. Apapun yang kita doakan harus dilandasi oleh iman dan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan akan menjawab,” tambahnya.

    Khotbah Pdt. Jason memberikan inspirasi mendalam bagi para peserta RUAT untuk menjadikan doa sebagai dasar dari setiap tindakan dan program kerja. Ia juga mengingatkan bahwa doa adalah kebutuhan rohani yang membawa setiap orang percaya semakin mengenal Tuhan secara pribadi.

    Ibadah pembukaan ini menjadi momentum penting bagi RUAT BMPTKKI 2025 untuk memulai rangkaian kegiatan dengan semangat baru. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari para pemimpin BMPTKKI serta berbagai pleno yang membahas program kerja dan kebijakan strategis untuk masa depan pendidikan tinggi Kristen di Indonesia.

    RUAT ini diharapkan tidak hanya memperkuat sinergi antar anggota BMPTKKI, tetapi juga menjadi wadah refleksi spiritual untuk menjalankan pelayanan dengan komitmen yang lebih tinggi. Dengan tema “Bertolong-tolonglah Menanggung Bebanmu!”, kegiatan ini menegaskan kembali pentingnya kerjasama dan doa dalam mewujudkan visi besar pendidikan Kristen yang berdampak luas. (RSO)

  • Munas Ke- 13 PGLII Berlangsung Sukses dan Meriah di Balikpapan

    Munas Ke- 13 PGLII Berlangsung Sukses dan Meriah di Balikpapan

    WARTANASRANI.COM, BALIKPAPAN – Musyawarah Nasional (Munas) ke-13 Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang berlangsung pada 17-21 Maret 2025 di DOM Balikpapan berjalan sukses dan meriah. Acara yang mengusung tema *“Berdirilah Teguh dan Giatlah Selalu dalam Pekabaran Injil”* (1 Korintus 15:58b) ini dihadiri oleh ribuan umat dan pengurus PGLII dari seluruh Indonesia. Munas dibuka secara resmi oleh Direktur Pendidikan Kementerian Agama Republik Indonesia dan dihadiri oleh berbagai tokoh pemerintahan serta pemimpin gereja.

    Dalam sambutannya, Ketua Umum PGLII, Pdt. Ronny Mandang, menekankan pentingnya peran PGLII dalam tugas pemberitaan Injil di tengah bangsa dan negara. “Munas ini menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali mengingat dan memperkuat panggilan kita sebagai pemberita Injil,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa meskipun dirinya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum, ia akan tetap setia dalam pelayanan pemberitaan Injil.

    Direktur Urusan Agama RI, Dr. Amsal Yowei, turut mengapresiasi peran PGLII dalam menjaga keberagaman dan keharmonisan lintas denominasi gereja. Menurutnya, PGLII telah berkontribusi besar dalam memperkuat peran gereja sebagai suara keadilan dan kemanusiaan di tengah masyarakat. “Keberagaman harus dijaga dengan sikap saling menghormati, dan PGLII telah membuktikan peranannya dalam membangun harmoni di berbagai kelompok,” katanya.

    Munas kali ini juga diharapkan dapat menghasilkan program kerja strategis, khususnya dalam membangun generasi muda. Dr. Amsal menegaskan bahwa gereja harus menjadi bagian dari solusi dalam membina anak-anak muda agar memiliki karakter yang kuat dan nilai-nilai Kristiani yang kokoh. “Munas ini bukan hanya seremonial, tetapi juga momentum untuk merancang program yang berkontribusi bagi masa depan bangsa,” tambahnya.

    Pembukaan Munas PGLII semakin semarak dengan kehadiran berbagai tokoh, seperti perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang diwakili oleh Kolonel Sembiring, Staf Ahli Gubernur Kaltim, serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Yulius Henock. Seluruh anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Kalimantan Timur juga turut hadir dalam acara tersebut.

    Kemeriahan Munas semakin terasa dengan pertunjukan gelar budaya yang menampilkan tarian *Bhinneka Tunggal Ika*, tarian adat Dayak, dan tarian Papua yang penuh semangat. Ketua Panitia, Pdt. Anthon Tarigan, didampingi Wakil Ketua Panitia, Pdt. Samuel Wattimena, serta Sekretaris Panitia, Pdt. Samuel Kusuma, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya Munas ke-13 PGLII dengan lancar dan sukses. (RS)

  • Munas PGLI ke-13 Dilaksanakan di Balikpapan Tanggal 17-21 Maret 2025

    Munas PGLI ke-13 Dilaksanakan di Balikpapan Tanggal 17-21 Maret 2025

    WARTANASRANI.COM, BALIKPAPAN – Musyawarah Nasional (Munas) Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLI) ke-13 resmi dimulai hari ini di Balikpapan, Kalimantan Timur.  Acara yang berlangsung dari tanggal 17 hingga 21 Maret 2025 ini bertujuan mempererat persatuan dalam memberitakan kabar baik serta memperkenalkan Ibu Kota Negara (IKN) baru kepada warga Injili Indonesia.

    Ketua Panitia, Pdt. Anthon Tarigan, menegaskan bahwa Munas ini merupakan bentuk kontribusi PGLI dalam mendukung program-program pemerintah, termasuk pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

    “Kami berharap, melalui acara ini, dapat terjalin harmoni di tengah masyarakat Balikpapan yang majemuk dan turut mendukung suksesnya program pemindahan Ibu Kota Negara. PGLI ingin menjadi bagian dari proses besar ini dengan terus membawa pesan-pesan kasih dan persatuan,” ujar Pdt. Anthon Tarigan.

    Penyambutan Tamu dan Akomodasi yang Optimal

    Wakil Ketua Panitia, Pdt. Samuel Wattimena, menyampaikan bahwa panitia menyambut dengan hangat semua tamu, termasuk pimpinan Sinode, pimpinan lembaga-lembaga Injili, yayasan Injili, serta pengurus wilayah dan pusat.

    “Penyambutan di bandara telah kami lakukan dengan baik, dan akomodasi sudah disiapkan di dua hotel, yaitu Novotel dan Hotel Ibis. Kami terus berkoordinasi untuk memastikan semua peserta terlayani dengan baik, mengingat adanya kemungkinan keterlambatan pesawat atau perubahan jadwal,” jelas Pdt. Samuel Wattimena.

    Jumlah peserta yang telah terkonfirmasi hadir mencakup 97 Sinode, 65 lembaga Injili, dan perwakilan dari 32–33 wilayah. Meski proses input data masih berlangsung, Pdt. Samuel Wattimena memastikan bahwa persiapan sudah mencapai 90 persen.

    “Kami bekerja keras agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Kami ingin memastikan bahwa semua peserta mendapatkan pengalaman yang nyaman dan bermakna selama Munas ini,” tambahnya.

    Acara Pembukaan yang Meriah dan Penuh Nilai Budaya

    Acara pembukaan Munas akan dilangsungkan di Dome Balikpapan, sementara persidangan akan diadakan di Living Plaza, lantai 3 Balikpapan, tempat yang biasa digunakan oleh Gereja Favor of God untuk melaksanakan ibadahnya.

    Acara pembukaan terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu Pembukaan Resmi dan Ibadah Pembukaan, serta Penampilan Budaya dan Ibadah.

    “Pembukaan resmi ini bersifat seremonial dan kami berharap dapat dibuka langsung oleh perwakilan dari Kementerian Agama. Kehadiran pejabat pemerintah dari Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Balikpapan juga menjadi dukungan penting bagi acara ini,” ujar Pdt. Anthon Tarigan.

    Dalam acara ini, keberagaman budaya Indonesia akan ditampilkan melalui Tarian Tradisional Dayak serta Tarian Korosal yang melibatkan lebih dari 100 penari.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa PGLI menghargai keberagaman budaya Indonesia. Ini bukan hanya soal pertemuan agama, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai kebudayaan yang ada,” tambah Pdt. Anthon Tarigan.

    Agenda Persidangan dan Pembicara Utama

    Rangkaian persidangan akan mencakup penyampaian laporan, rapat-rapat sidang komisi, serta peningkatan kapasitas melalui berbagai pemaparan dari pembicara ternama.

    Para tokoh yang akan mengisi acara antara lain: Dr. Bambang Budijanto, Sekretaris Jenderal Asia Evangelical Alliance.l, Gomar Gultom, Mantan Ketua Umum PGI dan Ketua Pengarah PGLI, Pdt. Jose Carol, Pastor dari JPCC, salah satu gereja terbesar di Indonesia, serta Beberapa Ketua Sinode lainnya yang akan memberikan materi terkait topik-topik penting.

    “Ini adalah kesempatan emas bagi seluruh peserta untuk mendapatkan pengetahuan baru dan mempererat jejaring pelayanan Injili di Indonesia,” tegas Pdt. Anthon Tarigan.

    Proses Pemilihan Ketua Umum PGLI

    Sesi terakhir dalam persidangan pada tanggal 20 Maret 2025 akan diisi dengan proses pemilihan Ketua Umum PGLI yang baru. Panitia menargetkan agar Ketua Umum terpilih dapat segera dilantik pada tanggal 21 Maret 2025.

    “Pemilihan ini diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang mampu membawa PGLI menjadi lebih baik dalam menjalankan amanah pelayanan di tengah masyarakat Indonesia,” kata Pdt. Anthon Tarigan.

    Target Kehadiran yang Signifikan

    Acara pembukaan diharapkan akan dihadiri oleh sekitar 3.000 orang, terdiri dari 2.500 jemaat PGLI dan 500 peserta undangan. Jemaat yang hadir sebagian besar berasal dari Balikpapan dan sekitarnya, menunjukkan antusiasme besar dari warga Injili terhadap acara akbar ini.

    “Dengan persiapan yang matang dan dukungan berbagai pihak, Munas PGLI ke-13 diharapkan menjadi momentum bersejarah bagi PGLI dalam mempererat persatuan, merumuskan visi pengabdian, dan menentukan langkah strategis dalam menghadapi tantangan zaman, pungkas Pdt. Anthon Tarigan. (*)

  • Pdt. Ronny Mandang  Bersyukur Persoalan Dualisme Kepemimpinan Gereja Bethany Selesai

    Pdt. Ronny Mandang Bersyukur Persoalan Dualisme Kepemimpinan Gereja Bethany Selesai

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Persoalan dualism kepemimpinan Gereja Bethany Indonesia yang berpusat di Nginden Surabaya Jawa Timur banyak menyedot perhatian umat Kristen. Dan bicara dualisme atau perpecahan gereja ini menyangkut masalah yang sensitif dan sulit untuk mencari jalan tengahnya.

    Seperti apa yang terjadi dengan persoalan internal (dualisme – selama belasan tahun ) di Sinode Gereja Bethany Indonesia, antara Sinode Gereja Bethany Indonesia pihak Pdt. Bambang Hengky Surabaya dengan Sinode Gereja Bethany Indonesia pihak Pdt. Samuel Kusuma Balikpapan dan sekarang Menjadi Gereja Bethany Nusantara (anggota PGLII).

    Namun, ada kabar gembira dengan adanya penyelesaian terkait dualism gereja Bethany tersebut seperti yang disampaikan Pdt Ronny Mandang ketua umum Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia yang menjadi menyaksikan langsung proses penyelesaian dualism tersebut.

    Pdt. Ronny mengatakan kepada media ini bahwasanya dengan berkat pertolongan Tuhan Yesus Kristus pada hari ini (13/3/2025) telah diselesaikan dan berakhir di depan Dirjen Bimas Kristen Dr. Jeane Marie Tulung yang didampingi DirUr Agama Kristen Dr. Amsal Yowei dan Kasubdirektorat kelembagaan bidang hukum Marvel Kawatu, S.Th.

    Dalam penyelesaian tersebut selain hadir Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Jakarta, dan Pdt. Ronny Mandang selaku ketua umum PGLII menjadi saksi sejarah penyelesaian dualism antara gereja Bethany Indonesia di bawah pimpinan Bambang Henky Sinode Gereja Bethany Indonesia pihak Pdt. Samuel Kusuma Balikpapan dan sekarang Menjadi Gereja Bethany Nusantara (anggota PGLII).

    Berharap ke depan lanjut Pdt Ronny Mandang yang sedang mempersiapkan musyawarah nasional PGLII yang akan berlangsung Maret 2025 di Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

  • Ibadah Pembentukan WBI Lokal Pengurus Wanita Wilayah 1 di WBI GBI Kabar Baik Harapan Baru, Bekasi Barat Berjalan Lancar

    Ibadah Pembentukan WBI Lokal Pengurus Wanita Wilayah 1 di WBI GBI Kabar Baik Harapan Baru, Bekasi Barat Berjalan Lancar

    WARTANASRANI.COM, KOTA BEKASI – Ibadah Pembentukan WBI (Wanita Bethel Indonesia) lokal Pengurus Wilayah Wanita 1 berlangsung dengan penuh sukacita di WBI Kabar Baik Harapan Baru, Bekasi Barat, pada Jumat sore ini (28/02/2025).

    Suasana Ibadah penggabungan WBI di GBI Kabar Baik Harapan Baru Bekasi

    Acara ini dihadiri oleh para pengurus dan jemaat, serta dipimpin oleh Pdt. Ferra Manajang, S.PAK, Ketua Pengurus Daerah Wanita GBI Bekasi.

    Dalam khotbah yang mengangkat tema “Menjadi Dewasa Rohani dalam Iman dan Karakter”, Pdt. Ferra menekankan pentingnya merenungkan Firman Allah (FA), mentaati Firman Allah, serta memperbarui pikiran sebagai langkah awal menuju kedewasaan rohani.

    “Kedewasaan rohani bukanlah sebuah proses instan, melainkan perjalanan yang berkelanjutan,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Pdt. Ferra menjelaskan bahwa untuk bertumbuh dalam karakter yang dewasa, setiap pribadi harus melatih kebiasaan yang baik, hidup dalam kasih, dan siap menerima makanan keras dalam pengajaran iman.

    Sebagai umat yang dewasa rohani, kita juga harus bisa membedakan yang salah dan benar, bertanggung jawab, dapat dipercaya, serta memiliki keyakinan yang teguh.

    Mengutip Roma 12:12, Pdt. Ferra mengajak setiap anggota WBI untuk terus bertumbuh dan mengembangkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

    Setelah khotbah, para pengurus WBI di GBI Kabar Baik diundang maju untuk didoakan oleh Pdt. Ferra bersama dengan Pengurus Daerah dan PWW 1, sebagai bentuk dukungan dan berkat dalam tugas pelayanan yang akan diemban.

    Ibadah ini dilaksanakan dengan penuh damai dan pengharapan, di bawah penggembalaan Pdm. Sutanto Fajar, yang dengan setia memimpin jemaat di GBI Kabar Baik Harapan Baru.

    Semoga ibadah penggabungan ini semakin memotivasi setiap WBI untuk tumbuh dewasa rohani dalam iman dan karakter, serta menjadi terang bagi sesama di tengah kehidupan yang penuh tantangan. (Ida/Ayin)