Author: admin

  • TEUFELSBRÜCKE, JEMBATAN BUATAN IBLIS DI SWISS

    TEUFELSBRÜCKE, JEMBATAN BUATAN IBLIS DI SWISS

    WARTANASRANI.COM  – Banyak jembatan yang terkenal di daerah Uri, Swiss, diantaranya  jembatan Teufelsbrücke atau Devil’s Bridge yang terletak di seberang Ngarai Schollenen, dan konon jembatan tersebut dibuat dengan bantuan iblis.

    Dahulu masyarakat desa Goschenen hidup tanpa akases karena terhalang oleh bebatuan Scholennen Gorge yang mengelilingi desa. Adapun masyarakat desa telah mencoba untuk membuat jembatan penghubung untuk melewati bebatuan, namun itu juga bukan hal yang mudah.

    Menurut legenda, karena sulitnya membangun jembatan tersebut,  seorang penggembala kambing meminta bantuan setan untuk membuat jembatan di atas gunung tersebut. Ia juga setuju akan memberikan jiwa orang pertama yang melintasi jembatan itu. Untuk mengelabui setan, penduduk desa mengirim kambing di jembatan, hal yang membuat sang Setan sangat marah dan bertekad  untuk menghancurkan jembatan dengan sebuah batu besar.

    Namun saat dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang pastur yang mengenakan salib, sehingga sang setan ketakutan kemudian menjatuhkan batu yang akan digunakan untuk menghancurkan jembatan dan melarikan diri.

    Dikisahkan, jembatan Devil Bridge akhirnya selesai sekitar 1820-an setelah dibangun secara penuh oleh manusia. Meneruskan apa yang telah setan lakukan.

    Terlepas dari sejarah dan rumor, daerah di sekitar jembatan setan Teufelsbrücke begitu mempesona dan indah luar biasa. Dari ngarai Schollenen yang menjadi rute akses utama dan transit terpendek ke St Gotthard Pass, kita dapat menemukan berbagai jembatan dan terowongan yang menghubungkan satu bukit batu dengan lainnya. (Diolah dari berbagai sumber/Foto: www.dewa-dewi.com)

  • DRS. MEKI M. ONIBALA, M.SI: SIAP RAMAIKAN PILKADA MINAHASA 2018

    DRS. MEKI M. ONIBALA, M.SI: SIAP RAMAIKAN PILKADA MINAHASA 2018

    WARTANASRANI.COM – Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2018 akan digelar serentak di 171 daerah di Indonesia. Pilkada ini diikuti 17 Provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Diantara 17 Provinsi tersebut, Sulawesi Utara akan menggelar Pilkada di 5 Kabupaten dan 1 Kotamadya. Dari 5 Kabupaten di Sulut, Minahasa menjadi salah satu Kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada.

    Jelang Pilkada Minahasa tahun 2018, suhu politikpun kian hangat. Sejumlah calon yang akan ikut meramaikan bursa demokrasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati kian bermunculan, berbagai manufer politik makin kental digaungkan di tengah-tengah masyarakat.

    Beberapa nama muncul kepermukaan dan mulai santer dalam pemberitaan media lokal maupun regional. Baik dalam opini maupun survey. Bahkan sudah mulai menjadi obrolan dan pembicaraan masyarakat dibeberapa tempat. Banyaknya nama yang muncul kepermukaan, menandakan situasi dan kondisi dinamika perpolitikan di Kabupaten Minahasa.

    Dari penelusuran wartanasrani.com,  didapati beberapa nama yang dimunculkan oleh warga selain nama yang sudah pernah terlibat dalam pertarungan pilkada sebelumnya. Salah satunya, nama birokrat handal Pemprov Sulut Drs. Meki M. Onibala, M.Si.

    Terus tuai dukungan warga, membuat mantan Plt Bupati Minahasa Selatan ini terang-terangan ke beberapa media, menyatakan siap maju dalam perhelatan Pilkada Minahasa 2018. Topangan doa dari hamba-hamba Tuhan Pantekosta, arus dukungan yang terus bermunculan dari seluruh penjuru tanah Minahasa, tukang ojek, tokoh agama, pencinta olahraga berkuda, karapi dan handai taulan, memberi warna tersendiri bagi birokrat yang sangat disiplin, loyal dan bertanggung jawab ini, untuk membawa perubahan dalam pembangunan tanah Minahasa tercinta.

    Sebagai sosok yang takut dan taat akan Tuhan, M2O, begitu sapaan pria kelahiran tanah Minahasa, 17 Maret 1964 ini, tak pernah alpa dalam kegiatan-kegiatan kerohanian. Menghadiri berbagai acara kerohanian yang diselenggarakan gereja di Minahasa tak pernah diabaikannya. Tak heran, saat ini M2O dipercayakan untuk menjadi Ketua PELPRIP SULUT (Ketua Pelayanan Pria Pantekosta Sulawesi Utara).

    Memulai karir sebagai ASN, M20 terbilang cemerlang di masa kepemimpinan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang. Jabatan-jabatan strategis mulai dari Kepala BKD, ASS 1 Pemerintahan, Kepala Inspektorat, Kadispora, bahkan dipercayakan sebagai Penjabat Bupati Minsel, menjadikan Alumni IPDN ini semakin teruji kesiapannya untuk memimpin Minahasa 2018.

    Pandai bergaul serta gayanya yang low profile, menjadikan M2O selalu dekat di hati warga masyarakat. M2O sangat memperhatikan orang-orang yang ada disekitarnya. Tak pelak, dukungan baginya terus datang dari berbagai kalangan masyarakat di 25 Kecamatan Minahasa, bahkan secara spontanitas warga membuatkan sticker, spanduk, baliho, pos komunikasi hingga mengundang makan bersama sebagai bagian dari kerinduan warga bagi sosok M2O untuk memimpin Minahasa 2018.

    Dalam keluarga, M2O adalah sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab dan penyayang. Begitu ada waktu liburan, beliau sangat memanfaatkan waktu itu bersama isteri tercinta, anak-anak dan cucu yang ada.

    Bicara soal peluang dalam Pilkada Minahasa 2018, M2O hanya berserah pada rencana dan kehendak Tuhan. “Pada prinsipnya, sebagai manusia biasa tetap berusaha, bercita-cita tapi Tuhanlah yang menentukan,” begitu tutur Meki Marthen Onibala kepada sebuah media lokal setempat. (RSO/berbagai sumber)

  • WBI SEKTOR BARAT KOTA BEKASI  GELAR PELATIHAN PEMBINAAN KELUARGA MODUL VIP VISIONARY  PARENTING

    WBI SEKTOR BARAT KOTA BEKASI GELAR PELATIHAN PEMBINAAN KELUARGA MODUL VIP VISIONARY PARENTING

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Keluarga adalah unit terkecil didalam masyarakat, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Apabila keluarga sehat tentu akan membentuk masyarakat dan gereja yang sehat pula. Keluarga yang sehat memiliki mental-spiritual yang sehat sehingga mampu menciptakan karakter unggul dalam keluarga, untuk kemudian menjadi keluarga yang berdaya, mampu membentuk masyarakat yang mandiri sehingga tercapai kesejahteraan ekonomi, berdaya melakukan transformasi dan berdaya bagi kerajaan Allah. Untuk membentuk keluarga sehat seperti yang diharapkan tersebut, diperlukan pembinaan yang baik dan berkesinambungan.

    Menyikapi hal ini, WBI Sektor Barat, adakan Pelatihan Modul Pembinaan Keluarga VIP (Visionary Parenting), di GBI Solideo, Ruko Sentral Onderdil Blok EJ No. 16, Kota Harapan Indah, Kota Bekasi, Senin (10/9/2017).

    Menurut Ketua WBI Sektor Barat, Ida Napitupulu, Modul VIP diharapkan dapat memperlengkapi setiap orangtua agar dapat menangkap Visi Allah bagi keluarga dan mempraktekkan dalam hidup keluarga masing-masing. “Banyak manfaat sekaligus menjadi tujuan dari pelatihan modul VIP ini, diantaranya agar setiap peserta atau orangtua dapat menangkap visi Allah, mempraktekkannya dalam keluarga masing-masing. Juga setiap orangtua dapat membangun keluarga berdasarkan Alkitab,” ujar alumni Pasca Sarjana STT Bethesda Harapan Indah ini.

    Lebih lanjut menurutnya, Modul VIP dapat menajamkan visi keluarga Kristen dan menolong setiap keluarga Kristen untuk mengalami transformasi spiritual dan pemulihan. “Intinya, dengan buku panduan ini setiap orangtua dapat menjadi penanggung jawab utama untuk penginjilan dan pemuridan anak-anak mereka,” pungkas Ida penuh harap.

    Ditambahkannya pula, modul VIP yang terdiri dari 5 sesi akan diselesaikan dalam 3 kali pertemuan. “Nantinya setiap pertemuan, ada 2 sesi yang akan diterima peserta VIP, sehingga ditargetkan modul VIP yang terdiri dari 5 pelajaran, selesai dalam 3 kali pertemuan,” ujar Ida Napitupulu. “Untuk pembicara dari setiap pelajaran modul VIP ini, WBI Sektor Barat memberdayakan pengurus yang ada,” ujarnya lagi, menjawab pertanyaan soal pembicara yang dihadirkan dalam pelatihan modul VIP ini.

    Pada pertemuan pertama ini, Ketua WBI Sektor Barat, Ida Napitupulu, S.Kom., M.Th., menjadi pembicara pertama yang menyajikan pelajaran 1, tentang “Visi Allah Bagi Keluarga”. Selanjutnya pada sesi kedua, Pdp. Ayin, dengan apik menyampaikan pelajaran 2, tentang “Rumah Sebagai Tempat Yang Aman”.

    Sementara itu, saat pengumuman, pengurus WBI Sektor Barat, menyampaikan harapannya agar seluruh peserta yang hadir pada pertemuan pertama ini, akan juga hadir pada pertemuan kedua yang akan dilaksanakan pada minggu berikutnya dengan 2 sesi, yaitu; pelajaran 4 tentang “Cinta Seorang Ibu” dan Pelajaran 5 “Visi Seribu Generasi”, bahkan sampai pertemuan terakhir, pelajaan tentang “Misi Seorang Bapa”. “Pertemuan kedua VIP akan dilaksanakan pada tanggal 18 September 2017, di GBI Mawar Sharon, Kota Harapan Indah, yang digembalakan oleh Pdt. J. Yohanes Sihombing, M.Th,” sebut Ida.

    Ucapan terima kasih tak lupa diberikan kepada Gembala dan Jemaat GBI Solideo Harapan Indah. “Pengurus WBI Sektor Barat mengucapkan banyak terima kasih kepada pengurus WBI GBI Solideo, khususnya Gembala Jemaat, Pdt. Devy J. Sugiono, SE., M.Th, yang sudah menyiapkan tempat buat pelaksanaan modul VIP pertemuan pertama,” sebut Ida penuh syukur. Akhirnya, Ibu gembala GBI Solideo Harapan Indah, Ibu Christine, menutup pertemuan pertama modul VIP dengan doa. (RSO)

  • Aneka Budaya dan Ras, Konser 3 Negara di PICF 2017

    Aneka Budaya dan Ras, Konser 3 Negara di PICF 2017

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM  – Di ujung acara hari ketiga pagelaran PENABUR Internadional Choir Festival (PICF) 2017, digelar konser 3 negara yakni; Tim Paduan Suara (Ps) dari Smukiez Choir-SMAK 1 PENABUR dari Indonesia, Tim Ps. The Silhouettes dari Malaysia, Ps. Manresa High School Glee Club dari Philipines dan PSM UNIMA (urutan ke-15 “1000 Word Ranking List yang dikeluarkan oleh Interkultur German) dari Indonesia.

    Di hari ketiga, Kamis (07/09/2017), pagelaran yang berlangsung sejak hari Selasa hingga Sabtu (5-9 September 2017) tersebut menampilkan kelompok umum dengan kategori Folkflore dan Musica Sacra. Untuk kategori Folkflore, festival digelar di aula sekolah Penabur Internasional Kelapa Gading, sedangkan kategori Musica Sacra mengambil tempat di gereja GKI Kayu Putih. Aneka budaya, ras hingga agama tampil di ajang tersebut. Begitu pun saat konser 3 negara, aneka ragam ras dan budaya dari berbagai negara ditampilkan dengan kreografi yang atraktif dan menghibur.

    Tampil pertama dalam konser bertajuk “Special Concert 3 Nations, dibawah pimpinan konduktor  Paulus Chandra, Smukiez Choir-SMAK 1 Penabur mewakili Indonesia, nyanyi membawakan lagu “Ondel-ondel” (lagu daerah Betawi) dan “Everytime I Feel The Spirit”.

    Tim Paduan suara (Ps.), The Silhouettes dari Malaysia kemudian tampil kedua dikonser tersebut membawakan lagu “Mak Inang” (lagu tradisional Malaysia) dan lagu Medley of Southheast Asian Music yang merupakan lagu khas dari berbagai negara di Asia Tengara yang dinyanyikan secara medley (bersambung), dilanjutkan oleh tim Ps. Manresa High School Glee Club dari Philipines yang membawakan lagu asal negara mereka berjudul “Orde-e” dan “Saligumay”.

    Kesempatan istimewa diberikan khusus kepada Paduan Suara Mahasiswa Universitas Manado (PSM UNIMA) pemenang PICF 2013, usai penampilan ketiga grup paduan suara perwakilan tiga negara dengan membawakan 5 lagu berturut-turut, yakni;  Fajar dan Senja II composed by Ken Steven, disusul Dung Nene Dung Tete lagu tradisional dari Manado. Berikutnya adalah Rockin’ Jerusalem yang diaransemen Stacey V. Gibbs, Paris Barantai hasil aransemen Ken Steven, dan ditutup dengan Circle of Life OST Lion King yang diaransemen oleh Ana Abeleda.

    Selain membawakan 5 lagu secara fantastik dan atraktik, PSM Unima diberikan kesempatan untuk menggalang dana lewat penjualan CD album mereka guna membiayai kebutuhan mereka mengikuti ajang internasional Suwon City Festival dan konser di Soul dan Jeju, Korea Selatan.

    Sebagai penutup konser, keempat grup paduan suara tersebut tampil bersama di atas panggung menyanyikan lagu Amigos Para Siempre yang dikonduktori oleh Janis Liepins, juri asal Latvia. Disebutkan, bahwa lagu itu dilatih hanya dalam waktu 30 menit. Seluruh grup paduan suara ditambah para juri dapat menyanyikan lagu tersebut dengan indah.

    “Konser malam ini menunjukkan bahwa meski berbeda-beda, kita bisa punya satu ‘bahasa’, yaitu musik,” kata Liepins di tengah lagu dari atas panggung, Kamis (07/09/2017) malam. (ARP)

  • MARIA SHANDI: Dibalik Lagu Kunanti KedatanganMu

    MARIA SHANDI: Dibalik Lagu Kunanti KedatanganMu

    WARTANASRANI.COM – Beberapa waktu lalu, saya menghadiri acara pernikahan salah satu teman baik saya. Pestanya sangat indah dan berlangsung dengan baik. Tak heran, karena persiapannya dilakukan lebih dari 1 tahun sebelumnya. Teman saya rela mengeluarkan tenaga, waktu dan dana yang sangat besar untuk acara yang berlangsung sekitar dua jam. Dan ternyata fenomena ini sudah menjadi suatu hal yang biasa, dimana banyak orang rela mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin untuk acara pernikahan yang berdurasi hanya beberapa jam saja.

    Kenyataan ini menyadarkan kita, kalau kita rela mempersiapkan acara berdurasi 2 jam dari berbulan- bulan bahkan bertahun- tahun sebelumnya, bagaimana dengan persiapan kehidupankekal kita setelah ini? Waktu rata- rata persiapan kita hanya 70 tahun untuk sebuah kehidupan yang tak berujung. Artinya betapa singkat dan berharganya setiap detik, menit dan jam yang ada untuk mempersiapkan kita memasuki kehidupan yang sesungguhnya melalui sekolah kehidupan selama ada di dunia ini.

    Berangkat dari kesadaran ini, saya menulis lagu Kunanti KedatanganMu yang sudah dirilis dalam album “Dia Tahu” beberapa waktu lalu. Saya berharap melalui lagu ini bisa mengingatkan setiap kita untuk menggunakan waktu hidup kita dengan bijaksana. Kiranya berbagai kesibukan dan kesenangan hidup lainnya tidak mengalihkan focus utama kita yaitu mempersiapkan diri untuk kehidupan yang sesungguhnya, dimulai dari persekutuan pribadi setiap hari. Ketika kita meluangkan waktu setiap hari untuk berdiam diri dan berdialog dengan Tuhan, disitulah kita akan semakin mengenal Tuhan dan kasihNya yang Maha Agung. Di saat itu jugalah kita disadarkan akan segala perbuatan dan sikap hati kita yang belum sesuai dengan kehendakNya sehingga kita akan membenahi diri setiap hari.

    Dilanjutkan dengan belajar kebenaran Firman Tuhan, yang akan menjadi panduan kita dalam menjalani hidup. Ketika kita menghidupi kebenaranNya, setiap peristiwa yang terjadi akan kita responi dengan tepat sehingga karakter kita dibentuk dan disempurnakan selalu. Orang- orang yang tidak menyenangkan dan keadaan yang buruk sekalipun akan menjadi sekolah kehidupan yang mendewasakan karakter kita. Kita berusaha menghidupi Tuhan Yesus kembali dalam setiap tindakan, pikiran dan perkataan kita, sehingga orang- orang di sekitar kita bisa merasakan pribadi Tuhan Yesus melalui kehidupan kita.

    Kita menyadari bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan, termasuk tubuh, keluarga dan pekerjaan, sehingga kita akan mengelolanya sebaik mungkin. Kita akan menjaga kesehatan, belajar dan bekerja dengan giat, mengurus serta mengasihi keluarga, sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kita akan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas melalui waktu, tenaga, harta dan segenap hidup kita. Tujuannya adalah supaya pada akhirnya kita bias berada dimana Tuhan ada serta tinggal bersama denganNya sampai selamanya. Mari selesaikan pertandingan hidup kita dan setia sampai akhir.

  • MUKI Rilis Pernyataan Sikap Tragedi Rohingya

    MUKI Rilis Pernyataan Sikap Tragedi Rohingya

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menanggapi tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya yang terusir dari kediamannya di Rakhine, Myanmar, Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) merilis pernyataan sikap. Dalam pernyataan sikap yang ditanda tangani oleh ketua Umum (Djasarmen Purba, S.H.) dan Sekjen (Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th) tertanggal 4 September tersebut, MUKI menyampaikan 4 pernyataan sikap.

    Poin pertama pernyataan sikap ditujukan pada pemerintah Myanmar. Dalam bagian ini dinyatakan bahwa MUKI menuntut pemerintah Myanmar menghentikan segala bentuk tindakan kekerasan kemanusiaan yang sedang berlangsung terhadap etnis Rohingya di Rakhine.

    Sementara poin kedua dan ketiga pernyataan sikap ditujukan kepada pemerintah Republik Indonesia. Dukungan terhadap pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam penyelesaian kekerasan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan. Selain itu MUKI juga mendorong Pemerintah Republik Indonesia menjadi penggerak kemanusiaan di Myanmar dan Asia Tenggara.

    Selain terhadap Pemerintah Myanmar dan Republik Indonesia pada poin keempat MUKI mengajak semua umat, khususnya umat Kristiani untuk memanjatkan doa bagi kseslamatan dan kesejahteraan etnis Rohingya baik yang berada di Rakhine maupun yang berada di pengungsian (Cak Yos)

  • PESAN SIMBOLIS DARI ISTANA: Jadikan Istana sebagai Rumah Persatuan Bangsa

    PESAN SIMBOLIS DARI ISTANA: Jadikan Istana sebagai Rumah Persatuan Bangsa

    Oleh : EKO SULISTYO *)

    “Politik itu kegembiraan” benar-benar terjadi di Istana saat peringatan ke 72 hari Kemerdekaan Indonesia. Tanpa mengurangi kesakralan dan kekhidmatan upacara detik-detik proklamasi, peringatan kali ini secara simbolis menjadikan Istana—tempat presiden berkantor dan menerima tamu negara—sebagai “rumah keberagaman” dan “rumah persatuan.”

    Pakem kaku, formal dan protokoler yang puluhan tahun menjadi kebiasaan berubah menjadi karnaval budaya Nusantara. Presiden, wakil presiden, pejabat negara dan undangan hadir memakai busana daerah warna-warni. Suasana makin cair ketika Presiden memberikan hadiah sepeda pada peserta dengan pakaian daerah favorit.

    Penampilan Istana dalam wajah budaya sebenarnya bukan fenomena baru. Presiden Sukarno pernah menjadikan budaya sebagai soft diplomacy. Dengan cara itu, seremonial menjadi estetis dan jauh dari kesan protokoler.  Semua orang merasa nyaman karena formalitas dan informalitas berjalan bersamaan, sekaligus menunjukkan karakter bangsa Indonesia yang bhineka.

    Membangun komunikasi

    Kegiatan upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan di Istana yang baru lalu bisa dianggap soft diplomacy untuk membangun komunikasi pemerintah dengan rakyat, pemerintah pusat dengan daerah, serta antara pemerintah dengan tokoh-tokoh politik nasional.  Dalam balutan budaya, upacara menjadi luwes dan sukses mempertemukan banyak aktor dan kepentingan.

    Secara simbolis upacara peringatan proklamasi tahun ini dapat dianggap sebagai peristiwa budaya yang mengedepankan dialog kebangsaan. Ini sesuai dengan visi Presiden Jokowi tentang “Indonesia-sentris” bahwa pemerintah adalah “pelayan bagi rakyat Indonesia”, bukan kekuasaan.

    Selama ini Indonesia-sentris lebih mengemuka sebagai visi pembangunan untuk memajukan Indonesia diluar pulau Jawa serta daerah-daerah terluar dan terdepan dari Indonesia. Namun Indonesia-sentris juga merupakan konsepsi budaya. Sejarah bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dalam kebhinekaan karena terus berdialog dengan berbagai suku bangsa di dalamnya. Bangsa Indonesia adalah sebuah “kebangsaan kolektif”, semua anak bangsa turut andil, berperan dan bersepakat membentuk Indonesia.

    Upacara peringatan 72 tahun Indonesia merdeka kemarin juga dapat dianggap sebagai penyegaran kembali komitmen keberagaman dan persatuan kebangsaan, seperti yang pernah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.  Bahwa kebhinekaan adalah jati diri bangsa dan oleh karena itu menjadi harga mati.

    Keberagaman memang terus digoyang dalam setahun terakhir di Indonesia. Berbagai kelompok mengeluarkan wacana rasis dan intoleran, bahkan melakukan persekusi atas kebhinekaan dengan mengatasnamakan agama dan suku.

    Keberagaman pakaian adat yang dikenakan Presiden, Wakil Presiden, para pejabat dan undangan yang hadir, menyimbolkan bahwa kami mengabdi bagi Indonesia yang terdiri dari beragam daerah dan suku bangsa, bukan mengabdi pada pemerintah dan kekuasaan. Tugas pemerintah adalah melayani keberagaman suku bangsa di Indonesia demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Dengan kegiatan budaya yang ceria, Presiden Jokowi secara simbolis ingin menyatakan bahwa Istana Kepresidenan adalah “Rumah Keberagaman bangsa”, bukan milik penguasa, agama dan suku tertentu. Sebagai “Rumah Keberagaman” maka pintu Istana selalu  terbuka untuk merawat, memperkuat dan melindungi keberagaman bangsa.

    Rumah Persatuan Bangsa

    Dalam negara yang bhineka seperti Indonesia maka salah satu peran pimpinan nasional yang wajib dijalankan adalah fungsinya sebagai “solidarity maker”. Presiden Sukarno pernah memainkan peran ini dengan baik guna menjaga persatuan bangsa yang baru merdeka di bawah tekanan Perang Dingin dan kompetisi politik yang keras di dalam negeri.

    Di era milineal sekarang ini, peran sebagai “solidarity maker” bisa dimainkan dengan posisi sebagai “fasilitator kebangsaan”. Sebagai  fasilitator, tugas pentingnya adalah menjadikan dialog kebangsaan berlangsung konstruktif dan memberikan solusi untuk bangsa.

    Untuk itu, fasilitator kebangsaan harus berdiri diatas semua kepentingan dan golongan. Pegangannya adalah konstitusi sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

    Dalam sejarah Indonesia potensi gangguan bagi persatuan nasional  pernah terjadi karena dua sumber utama. Pertama, daerah-daerah menganggap pemerintah pusat bersikap tidak adil dalam pembangunan dan distribusi kesejahteraan. Sejarah kita tahun 1950-an, ketidakpuasan daerah meledak menjadi ancaman bagi persatuan nasional. Kedua, kompetisi politik dan ideologis untuk merebut kekuasaan diantara elit politik dan pendukunngya.

    Indonesia-sentris

    Presiden Jokowi menyadari kedua potensi perpecahan itu, tersebut. Karena itu, visi Indonesia-sentris menjadi strategi pembangunan agar kesejahteraan dan keadilan sosial  tidak hanya dirasakan di Jawa dan Sumatera.

    Rivalitas politik bisa menjadi penyebab terkotak-kotaknya masyarakat berbasis figur dan parpol. Maka, dalam budaya politik primodial saat ini, figur politik menjadi faktor yang strategis dalam suhu politik nasional. Tokoh-tokoh nasional menjadi kunci persatuan bangsa.

    Dalam konteks ini, upacara peringatan ke 72 kemerdekaan RI dapat dianggap sebagai medium komunikasi diantara tokoh-tokoh nasional yang berdampak pada kesejukan politik nasional. Pertemuan antara Presiden Republik Indonesia sejak era BJ Habibie, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono hingga Presiden Jokowi menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak boleh mengabaikan kenyataan yang paling esensial: persatuan Indonesia.

    Upacara peringatan ke 72 kemerdekaan RI itu dapat dianggap sebagai komitmen Presiden Jokowi untuk menjadikan Istana sebagai “Rumah Persatuan Bangsa.”  Sebagai rumah persatuan bangsa, istana menjadi inklusif bagi semua kelompok dan golongan.

    ———————

    Penulis adalah Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden.

    Sumber: KOMPAS, 4/9/2017.

  • PDT. JOEL MANALU, M.TH  PIMPIN DPA PUSAT GBI, PERIODE 2017-2021

    PDT. JOEL MANALU, M.TH PIMPIN DPA PUSAT GBI, PERIODE 2017-2021

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Kongres Nasional merupakan pertemuan raya pemimpin/pengurus pelayanan anak, remaja, pemuda dan dewasa muda di lingkungan Gereja Bethel Indonesia di seluruh Indonesia dan Internasioanl. Acara akbar DPA GBI yang diadakan setiap empat tahun sekali ini, selain menjadi momentum yang penting untuk saling berbagi visi, misi dan pengalaman demi memenangkan generasi ini, juga memiliki agenda utama pemilihan Ketua Pengurus Pusat (KPP) DPA GBI periode 2017-2021.

    Dihadiri lebih dari 1700 pemuda GBI yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia dan Timor Leste, Kongres Nasional DPA GBI yang dibuka oleh Ketum BPH GBI, Pdt. Japalin Marbun, akhirnya memilih Pdt. Joel Manalu, M.Th, sebagai Ketua Pengurus Pusat DPA  periode 2017-2021. Joel Manalu sebagai KPP DPA GBI baru, akan menggantikan Pdt. Timotius Tan yang sudah dua periode menahkodai generasi muda gereja Kharismatik di Indonesia ini.

    Berdasarkan informasi dari peserta sidang, selain Joel Manalu, dalam pemilihan ketua DPA sesuai yang diatur AD/ART GBI ada dua kandidat lain yang bertarung untuk menjadi KPP DPA dalam Kongres Nasional  XV yang diselenggarakan selama 3 hari (29-31 Agustus 2017) di Wisma Kinasih Resort, Caringin, Bogor, Jawa Barat ini. Dua kandidat yang belum mendapatkan mandat memimpin DPA GBI empat tahun kedepan tersebut adalah Yohanes Nahuway dan Yohanes Sirait.

    Dalam pemungutan suara oleh peserta Kongres, Joel Manalu meraih 514 suara (53,5%), disusul Yohanes Nahuway dengan 406 suara (42,2%) dan 35 suara untuk Yohanes Sirait (0,04%). Sementara itu suara tidak sah ada 6 suara (0,006%). Total suara berjumlah 961 suara.

    Selain harapan  DPA GBI kedepan menjadi lebih baik di bawa komando Joel Manalu, rasa terima kasih juga disampaikan peserta Kongres kepada Pdt. Timotius Tan, MA., atas pelayanan dan pengabdian penuh yang sudah dilakukan untuk DPA GBI selama dua periode (2009-2017).

    Sementara itu, menanggapi soal isu tak perlu lagi kongres semacam ini, Ketua BPH GBI, Pdt. Japarlin Marbun, justru berbeda, menurutnya kongres harus tetap dilaksanakan karena disitulah anak-anak muda sebagai generasi pemimpin GBI ke depan berlatih bagaimana cara berdemokrasi dan berorganisasi. Memang mungkin perlu ditinjau ulang sistem nya saja. Karena GBI memakai sistem perwakilan makanya ke depan yang diutus hanya perwakilan saja sehingga tidak mendatangkan masa yang akan muncul dinamika yang negatif. Baru kemudian diadakan slebrasi yang melibatkan semua pemuda sebagai ajang untuk kebersamaan.

  • Makan Ramai-Ramai diatas Daun Pisang

    Makan Ramai-Ramai diatas Daun Pisang

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Bangkitnya semangat Ke-Bhinekaan yang digaungkan oleh Presiden Jokowi untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI ditanggapi dengan beragam kegiatan oleh masyarakat Indonesia.

    Bagi  yang “Anti” dengan Ke-Bhinekaan, tak henti-hentinya menyuarakan ketidak-sukaan mereka, mulai dari berita HOAX di media sosial sampai kepada penistaan terhadap simbol atau lambang-lambang Negara.

    Lain halnya dengan masyarakat Gang Pedul RT/RW 008/010, kelurahan Bekasi Jaya, Bekasi Timur, yang merasa terpanggil terhadap seruan Presiden Jokowi, bahwa mereka juga wajib ikut serta merawat persatuan dan kesatuan dengan motto “NKRI Harga Mati” dengan melakukan perayaan kemerdekaan RI, bahu membahu berbekalkan swadaya masyarakat yang dimotori oleh beberapa warga secara spontan. Menggelar acara makan bersama bagi seluruh penghuni kampung Gang Pedul, kamis (17/8/2017).

    Acara tersebut menjadi unik dan patut di acungi jempol oleh karena makan bersama di lakukan bukan diatas piring tetapi diatas daun pisang, yang digelar sepanjang kurang lebih 30 meter, dan atasnya disediakan menu sederhana, orang tua, muda, kaya, miskin dari segala suku, ras dan agama. Membaur menjadi satu laksana sebuah keluarga, yang tinggal di rumah besar yang bernama Republik Indonesia.

    Semoga semangat kebersamaan masyarakat Gang Pedul dapat terinfluence ke seluruh Anak Bangsa, maka niscaya Indonesia menjadi rumah yang lebih damai, lebih enak dan nyaman untuk dihuni. (DN)

  • E-Rajawali Ministry Gelar Raker 2 Hari di Lembang

    E-Rajawali Ministry Gelar Raker 2 Hari di Lembang

    LEMBANG, WARTANASRANI.COM – Rapat Kerja Perdana Team E-Rajawali akhirnya di gelar di Eagle School, Jl. Baru Adjak No. 194B, Lembang, Jawa Barat. Raker yang sudah direncanakan jauh-jauh hari ini, berlangsung selama 2 hari dan dihadiri oleh para pendiri (the Founding Fathers) serta Pengurus lengkap.

    Rapat kerja ini menjadi penting karena disamping menyusun program jangka pendek dan panjang, juga berisi pemantapan Visi dan Misi E-Rajawali.

    Setelah breakfast di Hotel Balibu Lembang, rapat di buka secara resmi oleh President Rajawali, Pdt. Dr. Lodewyk E. Saerang. Selanjutnya, Vice President yang membidangi Resources, Pdt. Ruddy Assa, memaparkan dengan apik visi dan misi e-rajawali ministry.

    Setelah itu, kembali peserta Raker mendengarkan paparan langsung dari President Rajawali mengenai mekanisme kerja atau job description.

    Dari semua diskusi yang berjalan, esensi atau inti dari Pembaharuan adalah keterlibatan semua unsur, dimana seluruh personil baik Board, dan seluruh Team Management, juga pimpinan Distrik, bahkan seluruh peserta wajib mengalami transformasi diri, sehingga Visi dan Misi E-Rajawali Ministry dapat “dijual” kepada pribadi, pasutri dan banyak komunitas.

    “E-Rajawali harus tetap solid, menjadi berkat sehingga memberi dampak positif bagi banyak orang untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan”, ujar Gembala GPdI City Light Church.

    Harapan untuk E-Rajawali terus grow-up nampak terlihat jelas dari wajah-wajah peserta Raker yang bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus, bertumbuh dalam perluasan teritorial dan bertumbuh dalam segala aspek, agar teritorial Kerajaan Allah dilebarkan.