Author: admin

  • LSP Pers Indonesia Buka Pendaftaran SKW dan UKW

    LSP Pers Indonesia Buka Pendaftaran SKW dan UKW

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Sertifikasi Kompetensi Wartawan (SKW) atau yang selama ini dikenal dengan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) kini diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pers Indonesia. LSP Pers Indonesia adalah satu-satunya lembaga sertifikasi profesi pers di Indonesia yang telah disahkan dan terlisensi secara resmi oleh negara melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

    Saat ini pendaftaran calon peserta SKW dan UKW sudah dibuka. Wartawan yang berhak mengikuti SKW adalah wartawan yang sudah berpengalaman dan sedang bekerja di media massa, baik cetak, elektronik, online atau daring, dan media lainnya. SKW bagi calon wartawan berpengalaman akan menggunakan sistem sertifikasi berdasarkan portofolio yang dimiliki.

    Sementara untuk calon peserta yang belum berpengalaman atau memiliki kemampuan dan wawasan jurnalistik (berdasarkan ilmu yang diperoleh pada saat mengikuti pendidikan dan pelatihan pers di pendidikan tinggi seperti Universitas atau Akademi), berhak untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan atau UKW menggunakan sistem perangkat uji observasi.

    Untuk wartawan berpengalaman yang akan mengikuti SKW harus menyiapkan dokumen portofolio dari setiap aktifitas pekerjaan yang dilakukannya sehari-hari sebagai seorang reporter, kameramen, redaktur, redaktur pelaksana, dan pimpinan redaksi atau wakil pimpinan redaksi.

    Untuk jabatan Wartawan Muda Reporter, dokumen portofolio yang harus disiapkan adalah bukti dokumen tertulis berupa: bukti Daftar Usulan Berita yang pernah diajukan pada rapat redaksi dan sudah disetujui dan ditandatangani oleh redaktur pelaksana atau pimpinan redaksi, Bukti foto sedang mengikuti rapat redaksi, Daftar Berita yang sudah pernah ditayangkan di media selama sebulan, Dokumen naskah asli berita hasil wawancara dengan nara sumber yang ditulis sebelum diedit redaktur dan bukti berita hasil wawancara tersebut sudah ditayangkan di media, Bukti foto sedang meliput atau mewawancarai nara sumber tersebut, Bukti berita stright news yang pernah ditulis dan sudah ditayangkan di media, Bukti berita Indepth News atau berita mendalam (berita investigasi) yang pernah ditulis dan sudah ditayangkan di media, Bukti berita opini yang pernah ditulis dan ditayangkan di media.

    Untuk jabatan Wartawan Muda Kameramen, dokumen portofolio yang harus disiapkan adalah bukti dokumen tertulis berupa: bukti Daftar Usulan Liputan yang pernah diajukan pada rapat redaksi dan sudah disetujui dan ditandatangani oleh manajer pemberitaan atau pimpinan redaksi, Bukti laporan dan keterangan gambar/foto hasil liputan, Bukti video (khusus kameramen TV) yang menggunakan pola pergerakan kamera (pen, tilt, zoom) yang sudah pernah ditayangkan di media, Bukti video/foto yang menggunakan jarak dan sudut pengambilan gambar (Wide Shot, Long shot, Medium Shot, Close Up, High Angle, Low Angle, dan Eye Level) yang sudah pernah ditayangkan di media, Bukti foto sedang meliput menggunakan kamera.

    Untuk jabatan Wartawan Madya (Redaktur), dokumen portofolio yang harus disiapkan adalah bukti dokumen tertulis berupa: bukti Daftar Penugasan Liputan kepada reporter yang sudah ditandatangani selaku Redaktur, bukti Jadwal Liputan berdasarkan penugasan kepada reporter yang sudah ditandatangani selaku redaktur, Dokumen naskah asli berita milik reporter dan naskah yang sudah diedit serta bukti berita tersebut sudah ditayangkan di media, bukti tampilan halaman rubrik pada media (cetak atau online) yang ditata atau diatur oleh redaktur selaku penaggungjawab halaman (Bukti koran atau link media pada halaman rubrik).

    Untuk jabatan Wartawan Utama (Pimpinan Redaksi atau Wakil Pimpinan Redaksi, dan Redaktur Pelaksana), dokumen portofolio yang harus disiapkan adalah bukti dokumen tertulis berupa: Dokumen Laporan Evaluasi Kinerja Redaksi tentang Liputan dan Pemberitaan, Dokumen Hasil Evaluasi tentang keberhasilan atau kegagalan perencanaan dan pelaksanaan liputan, Bukti berita opini yang pernah ditulis dan ditayangkan di media, Bukti berita tajuk rencana yang pernah ditulis dan ditayangkan di media, Bukti tayangan editorial atau tayangan ulasan media tentang sebuah persoalan (khusus untuk media elektronik), bukti Standar Operasional Prosedur atau mekanisme kerja jajaran redaksi yang pernah dibuat, bukti tampilan media secara keseluruhan (link media untuk media online atau bukti koran, majalah, atau tabloid untuk media cetak, tayangan program berita untuk media elektronik), bukti Keputusan Rapat redaksi yang ditatandatangani selaku pimpinan rapat, bukti foto sedang memimpin rapat redaksi, Dokumen Laporan Bulanan tentang kinerja redaksi.

    Calon peserta yang belum berpengalaman dan akan mengikuti UKW harus melampirkan bukti Ijazah atau sertifikat Pelatihan Jurnalistik yang berbasis Standar Kompetensi Kerja Khusus yang digunakan LSP Pers Indonesia sebagai standar sertifikasi dan uji kompetensi.

    Terkait pelaksanaan kegiatan ini Manager Sertifikasi LSP Pers Indonesia Dhoni Kusmanhadji mengatakan, dua mekanisme yang dipilih ini berdasarkan ketentuan yang diatur oleh BNSP.

    “Bagi wartawan yang berpengalaman kami menggunakan perangkat uji portofolio. Artinya wartawan yang sudah berpengalaman itu kita sertifikatkan kompetensi atau kemampuan dan keahliannya sebagai reporter, kameramen, redaktur, atau pemimpin redaksi,” terang Dhoni.

    Menurut Dhoni, wartawan mengikuti sertifikasi kompetensi bukan seperti ikut ujian layaknya mahasiswa yang diuji melainkan orang yang profesional sebagai wartawan diukur kemampuannya berdasarkan pengalaman dan kompetensinya.

    “Jadi jika dia mengaku kompeten selaku pemimpin redaksi maka kita ukur dia dengan portofolio bukti hasil pekerjaan dia sendiri dengan standar kompetensi Wartawan Utama. Standar kompetensi yang digunakan oleh LSP hanya sebagai alat ukur untuk membuktikan bahwa yang diuji itu memenuhi standar sesuai jabatannya. Jadi peserta bukan ikut ujian layaknya mahasiswa atau ujian anak sekolah,” paparnya.

    Sementara itu, Dewan Pengarah LSP Pers Indonesia Soegiharto Santso mengatakan, kendala yang dihadapi pelaksanaan uji kompetensi wartawan selama ini lebih disebabkan karena wartawan senior yang sudah berpengalaman merasa risih mengikuti ujian kompetensi.

    Sehingga, menurutnya, wartawan yang sudah berpengalaman bertahun-tahun sebagai reporter, redaktur, dan bahkan pimpinan redaksi merasa enggan mengikuti UKW.

    “Nah di LSP Pers Indonesia kami memfasilitasi wartawan berpengalaman untuk disertifikatkan kompetensinya. Asesor atau penguji hanya sebagai alat perantara untuk mensertifikasi kemampuan dan pengalaman wartawan tersebut. Jadi wartawan berpengalaman atau yang sudah senior diakui atau diketahui berkompeten dari sertifikat kompetensi yang dimilikinya,” urai Hoky sapaan akrabnya.

    Sedangkan calon peserta yang belum berpengalaman tapi memiliki kemampuan dan wawasan jurnalistik dari dunia pendidikan, kata Hoky, akan diwajibkan mengikuti uji kompetensi dengan alat ukur Observasi dan praktek.

    “Bagi peserta UKW di LSP Pers Indonesia yang belum berpengalaman, maka peserta diwajibkan untuk mengikuti ujian praktek,” pungkasnya.

    Wartawan yang ingin mendaftarkan diri dalam pelaksanaan SKW dan UKW dapat mendaftarkan diri di Tempat Uji Kompetensi atau TUK di Kantor Pusat LSP Pers Indonesia di Jakarta, TUK SWI di Surabaya- Jawa Timur, TUK SPRI UNIBA di Batam, TUK PERJOSI di Makasar, TUK SPI di Riau, TUK SPRI di Aceh, TUK JNI di Bekasi.

    Kontak person dapat menghubungi Manajer Administrasi Tri Cahyandi di nomor 08112925599 dengan alamat Kantor Pusat LSP Pers Indonesia di Jalan KH. Zainul Arifin, Komplek Ketapang Indah, Blok B 2, Nomor: 33 & 34, Jakarta Barat. *

  • MENGEVALUASI PENGARUH FILSAFAT YUNANI DALAM GEREJA

    MENGEVALUASI PENGARUH FILSAFAT YUNANI DALAM GEREJA

    MENGEVALUASI PENGARUH FILSAFAT YUNANI DALAM GEREJA

    Oleh : Joiman Berkat Waruwu, M.Th

    STT BETHESDA BEKASI

    Dalam dunia kuno, ada dua pemikiran kuat yang menguasai dunia, yaitu pemikiran Ibrani dan pemikiran Yunani. Yang menarik adalah pemikiran Yunani lahir tetap pada saat Allah tidak berfirman kepada Israel selama 400 tahun, sampai nanti lahirnya Yesus Kristus. Seakan-akan kekosongan firman Allah itu digantikan oleh munculnya filsafat dunia kuno.

    Mengapa saya mengangkat isu ini? Ada beberapa alasan. Baik Socrates, Plato maupun Aristoteles mempengaruhi peradaban manusia melalui sistem pendidikan yang menekankan proses ‘berpikir’. Alkitab berkata dalam Amsal 23:7, “Sebab seperti orang berpikir dalam jiwanya, demikianlah ia.” (ILT). Pola berpikir mempengaruhi karakter dan gaya hidup secara personal dan komunal.

    Pengaruh kuat filsafat di dunia dapat terlihat dalam beberapa bidang :

    1. Bidang Arsitektur, contoh paling nyata bentuk-bentuk istana kepresidenan.
    2. Dalam bidang pemerintahan memperkenalkan sistem demokrasi.
    3. Dalam bidang olahraga memperkenalkan olimpiade. Olahraga menjadi obsesi layaknya agama, Pemaksimalan fisi, menampilkan tubuh manusia, olahraga dgn telanjang.

    Sifat pemikiran Yunani pada dasarnya mengutamakan debat (Logika – Akal dan Ideal – Ide). Logika, etika dan nilai untuk membuat manusia yang buruk menjadi manusia yang baik (ideal). Pemikiran Yunani menjunjung tinggi waktu santai (leisure), hiburan, pertunjukan drama, diskusi dan debat.

    Dalam memandang kerja, dua pemikiran kuno ini juga sangat berbeda. Dalam pemikiran Yunani, puncak hidup manusia adalah waktu santai (leisure), menjunjung tinggi liburan (holiday), kerja kasar itu buruk atau rendah, meninggikan pekerja intelektual, memandang pekerjaan fisik hanya untuk budak dan pada dunia Yunani kuno dua pertiga populasinya adalah imigran atau budak yang diperuntukkan untuk pekerjaan fisik. Sementara dalam pemikiran Ibrani, puncak hidup manusia adalah bekerja dan beribadah, menjunjung tinggi hari Sabat (holy day), bekerja kasar itu sacral, memandang semua jenis pekerjaan itu mulia dan kalau melihat sejarah Israel sebagian besar pelayan Tuhan berasal dari pekerja kasar seperti nelayan, gembala, tukang kayu, dan sebagainya.

    Mengevaluasi Pemikiran Para Filsuf Yunani dari Perspektif Ibrani

    1Socrates

    Dalam filsafat Socrates, segala hal yang bersifat spiritual itu sedangkan hal material itu buruk atau jahat.Dan kedua entitas ini terpisah secara total. Sementara dalam perspektif Ibrani, semua ciptaan itu baik adanya, tidak ada pemisahan total antara spiritual dan material/fisik.

    Dalam pemikiran Socrates, jiwa dan tubuh itu terpisah, hal sakral dan sekuler itu terpisah, dan hal natural dan supranatural itu terpisah total. Sementara dalam pemikiran Ibrani, idak ada pemisahan tubuh dan jiwa, manusia adalah makhluk utuh, satu-satunya yang sekuler adalah dosa, semua yang lain adalah sakral, pembedaan ciptaan dan Pencipta bukan natural dan supranatural. Karna pemikiran bahwa jiwa dan tubuh itu terpisah total, maka ketika Socrate dihukum mati dengan minum racun, ia mengatakan begini, “Jiwaku kini terbebas dari penjara tubuhku.”

    Dalam pemikiran Yunani, kematian itu harus diinginkan dan dirindukan. Sementara dalam pemikiran Ibrani, kematian itu tidak natural sejak penciptaan, kematian itu adalah hukuman, maut adalah musuh terkahir yang harus dikalahkan.

    Ada beberapa masalah penting dalam filsafat dualisme ini :

    • Spiritual itu baik, fisikal itu jahat.
    • Jiwa adalah sumber kebaikan, tubuh adalah sumber kejahatan.
    • Tuhan itu baik, namun ia terpisah dari dunia fisik.
    • Maka di antara Tuhan dan dunia fisik, harus ada seorang ‘Demi-God’ (Setengah-Tuhan) sebagai agen Tuhan di dunia fisik

    2. Aristoteles

    Aristoteles dapat disebut sebagai Bapa Penemu Hukum Logika. Ia mengatakan, “Semesta fisikal tidak dicipta namun ada dengan sendirinya. Ia mengatur dirinya sendiri.” Secara tidak langsung, ia dapat dikatakan berkontribusi dalam teori evolusi dan humanisme sekuler. Filsafatnya mempengaruhi sebagian bapa gereja yang non-Yahudi.

    Pengaruh Pemikiran Yunani Terhadap Orang Yahudi

    Pertemuan pertama pemikiran Ibrani dengan Yunani :
    Penyerangan Yerusalem oleh Antiokhus Epifane pada tahun 168 SM. Invasi ini berlangsung selama 3,5 tahun. Ia membangun arena olahraga dan patung Dewa Zeus di Bait Allah Yahudi. Ia juga membuat korban babi di altar. Hasil dari pertemuan dua pemikiran ini adalah melahirkan kelompok yang disebut kelompok Saduki. Ini adalah beberapa doktrin kelompok Saduki yang dipengaruhi oleh pemikiran Yunani :

    • Tidak percaya kebangkitan orang mati.
    • Tidak percaya adanya malaikat.
    • Tidak percaya pada Roh Kudus
    • Kompromi pada penguasa demi posisi dan keuntungan.
    • Hanas dan Kayafas adalah Saduki.

    Pertemuan kedua pemikiran Ibrani dengan Yunani adalah di
    Kota Alexandria di Mesir. Dimana banyak orang Yahudi diaspora belajar disini. Kemudian, orang Kristen yang berada di kota itu.

    Pengaruh pemikiran Yunani terhadap orang Yahudi :

    • Di Aleksandria, pemikiran Yunani dan Ibrani bertemu.
    • Menghasilkan Septuaginta, Perjanjian Lama yang diterjemahkan oleh para pemikir Ibrani ke dalam bahasa Yunani.
    • Melalui ini, kitab-kitab Apokrifa dimasukkan dalam PL.
    • Filsuf Yahudi, Philo, dipengaruhi pemikiran Yunani mengajukan demi-god ke dalam pemikiran Ibrani. Ia menamakannya “Logos”.
    • Ia tidak menjelaskan siapa/apa ‘logos’ itu.
    • Pengenalan metode penafsiran Alegori terhadap Alkitab.
    • Harus mencari makna tersembunyi dari setiap teks.
    • Tidak ada kontrol terhadap penafsiran doctrinal.
    • Menghasilkan ‘eisegesis’.
    • Metode ini dimulai di Aleksandria.
    • Baik Klemens maupun Origenus, keduanya dari Aleksandria, mengadopsi metode penafsiran Alegori.

    1. Pengaruh Pemikiran Yunani Terhadap Kekristenan

    Pengaruh pemikiran Yunani terhadap kekristenan dapat dilihat dalam pemikiran-pemikiran Augustinus dari Hippo. Augutinus lahir tahun 354, ia menjadi bishop di Kota Hippo, Tunisia. Augustinus adalah satu tokoh paling berpengaruh dalam gereja, baik Katolik maupun Protestan. Augustinus lahir di Ajajair, ke Italia, belajar pemikiran Neo-Platonisme. Di usia muda, pengikut aliran Gnostik Manikeaisme, dengan doktrin dualismenya. Mula-mula ia mengajarkan murni Injil. Namun di akhir pelayanannya, ajarannya sangat kental dengan paham Neo-Platonismenya.

    Pandangan Augustinus mengenai tubuh :

    • Dosa Adam ditransmisi secara fisik dan dibawa secara genetik dari orangtua kepada anak melalui reproduksi seksual kepada seluruh umat manusia.
    • Seks dalam pernikahan juga adalah ‘nafsu dunia’.
    • Hidup selibat lebih baik daripada hidup pernikahan. Ini berakibat pada pastor dan biarawati tidak menikah.
    • Bandingkan dengan para rabi Yahudi yang harus menikah dan mengalami cinta pernikahan.

    Sementara kalau dievaluasi kembali dari sudut pandang Ibrani dan Alkitab secara keseluruhan, inilah hasilnya :

    • Tubuh adalah bait Allah.
    • Kita akan dibangkitkan justru dengan tubuh yang baru kelak.
    • Tubuh dan jiwa adalah sebuah keberadaan yang utuh.
    • Bumi baru akan surga dimana Tuhan akan turun ke dalamnya.
    • Tubuh fisik sejatinya tidak jahat.
    • Seks adalah anugrah Tuhan (Kidung Agung).
    • Namun jangan menjadi budak nafsu.

    Pandangan Augustinus mengenai kerja adalah memisahkan antara yang sakral dan sekuler, antara rohaniawan dan awam. Hal ini terbukti sampai tahun 428, tidak ada pembedaan antara baju pelayan Tuhan dengan jemaat, hingga pemikiran Augustinus mempengaruhi gereja dan semuanya berubah.

    Pandangan Augustinus mengenai Israel :

    • Israel fisik digantikan oleh ‘Israel rohani’ yaitu gereja.
    • Segera istilah ‘hukum Taurat’ menjadi konotasi negatif.
    • Akhirnya banyak yang salah mengira bahwa hukum kasih karunia dimulai dari PB.
    • Tuhan telah selesai dengan Israel fisik.
    • Dengan metode Alegori, Augustinus menyatakan bahwa narasi tentang Tuhan dan Israel dalam PL adalah sebuah pembelajaran moral saja dan berfungsi seperti sebuah perumpamaan saja.
    • Paham ini kemudian dikenal ‘Replacement Theology’.

    Pandangan Augustinus mengenai Eskatologi :

    • Karna Yesus sudah Kembali kepada Bapa di surga maka Ia tidak dapat Kembali ke bumi fisikal yang adalah jahat.
    • Gereja Roma Katolik adalah ‘Kota Allah’ yang akan memerintah seluruh dunia sampai Kristus datang.
    • Menghasilkan paham Amillenialisme.
    • Tahun 431, Augustinus mempengaruhi konsili Efesus untuk menyatakan setiap pengajaran yang mengajarkan adanya Kerajaan Millenium di bumi harus diputuskan sebagai bidat.

    Pandangan Augustinus mengenai predestinasi :

    • Tuhan sudah memutuskan dan predeterminasi siapa yang akan selamat.
    • Tidak ada peran manusia agar ia diselamatkan. (Sama halnya Tuhan dalam pemikiran Plato sebagai Tuhan yang statis, membuat keputusan kekal dan tidak berubah pikiran-Nya.)
    • Bandingkan dengan pemikiran Ibrani. Contoh : Pejunan dan tanah liat dalam Yeremia 18
    • Pemikiran Ibrani : Tuhan itu dinamis, dapat dipengaruhi oleh pilihan tindakan manusia. Itu dibuktikan dalam sejarah mereka.

    Contoh lain dari pengaruh pemikiran Yunani terhadap kekristenan dapat terlihat dalam pemikiran-pemikiran Thomas Aquinas. Sementara Augustunius dipengaruhi oleh Plato, Thomas Aquinas dipengaruhi Aristoteles, dengan Teologi Natural yang didasarkan pada logika. Denominasi gereja yang dipengaruhi olehnya tidak menerima penggunaan karunia-karunia Roh Kudus (contoh bahasa roh) karna dianggap sudah selesai di gereja mula-mula dan lagipula tidak dapat dijelaskan secara logika.

    2. Pemikiran Akhir : Perspektif Mesianik Yahudi

    Tuhan membangkitkan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya untuk menyatakan diri-Nya dan jalan-Nya kepada dunia (Kel. 19:5-6). Tuhan menginspirasi para penulis Yahudi terhadap Alkitab (2 Tim. 3:16). Mereka tidak menulis berdasarkan logika mereka seperti yang dilakukan para penulis Yunani. Yesus adalah seorang Yahudi, dengan pemikiran, amsal dan perumpamaan Ibrani.

    Dalam perspektif Mesianik Yahudi, Allah yang hidup dan kudus dalam hubungan yang dinamis dengan manusia. Alkitab menyatakan bahwa tindakan kita dan doa kita dapat mempengaruhi Tuhan. Tuhan tidak jauh dan terpisah namun Ia adalah “Immanuel”. Bagi orang Yahudi, Tuhan adalah keselamatan. Bagi Yunani, pengetahuan (gnosis) adalah keselamatan. Yunani percaya pada logika dan pembuktian, Yahudi percaya pada pewahyuan.

    Perspektif Mesianik yahudi mengenai tubuh :

    • Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sejak kelahiran hingga kebangkitan-Nya, Ia selalu memiliki tubuh manusia.
    • Tuhan mencipta dan berinteraksi dengan dunia fisik.
    • Hidup selibat tidak lebih baik dari pernikahan (1 Kor. 7)
    • Seks diberikan kepada manusia bahkan sebelum dosa masuk dalam dunia.
    • Jubah dan budaya tidak membuat aku bermoral dan kudus.
    • Tuhan membuat manusia kudus.

    Perspektif Mesianik Yahudi mengenai kerja :

    • Semua pekerjaan adalah sakral kecuali yang illegal dan immoral.
    • Avodah (Ibrani) – kata yang sama untuk kerja dan ibadah.
    • Semua orang percaya sedang dalam pelayanan baik di tempat kerja maupun di gereja.
    • Jangan memisahkan pelayanan sebagai spiritual dan pekerjaan umum sebagai material.
    • Baik pelayan di gereja maupun pekerja umum sama-sama memerlukan iman untuk hidup.
    • Yang paling penting bukanlah apa pekerjaanmu namun bagaimana kamu bekerja.

    Perspektif Mesianik Yahudi mengenai eskatologi :

    • Nubuatan Eskatologi sebagai repetisi, setiap repetisi memberikan informasi tentang penggenapan final.
    • Contoh Matius 24:15 ‘Pembinasa keji di tempat kudus’ sudah digenapi oleh Atiokhus Epifane namun akan direpetisi lagi pada tahun      70 oleh Roma, sebelum penggenapan final di masa depan.
    • Melihat kitab Wahyu sebagai historis, futuris, preteris dan idealis.
    • (Namun pengaruh pemikiran Yunani melalui Augustinus melihat kitab Wahyu hanya dari satu sisi).

    Perspektif Mesianik Yahudi mengenai Israel :

    • Israel fisik tidak pernah digantikan oleh gereja, tapi keduanya melebur dalam Missio Dei.
    • Janji kepada Israel : pemulihan Yerusalem, tidak pernah dibatalkan.
    • Yesus secara fisik akan kembali ke bumi dan memerintah, baik di Kerajaan Millenium maupun di Bumi Baru.
    • Teokrasi akan ditegakkan.

    Saran dari penulis :

    • Jangan mengabaikan PL sebagai ‘lama’. Pemikiran-pemikiran ibrani yang terkandung dalam Perjanjian Lama adalah berasal dari Allah, bukan hasil filsafat manusia.
    • Kembalilah kepada warisan pemikiran Ibrani.
    • Gali seluruh Alkitab dan belajar dari perspektif Ibrani.
    • Sadari pengaruh pemikiran Yunani dalam doktrin gereja.
    • Terapkan Roma 12:2, “Janganlah menjadi serupa dengan (filsafat) dunia ini tetapi  berubahlah oleh pembaharuan budi (pemikiran) mu.”
  • WABUP BANTUL JOKO B. PURNOMO TUTUP KEGIATAN PESPARAWI DI GKJ PATALAN BANTUL

    WABUP BANTUL JOKO B. PURNOMO TUTUP KEGIATAN PESPARAWI DI GKJ PATALAN BANTUL

    Bantul , wartanasrani.com – Bertempat di Gedung Gereja Kristen Jawa Patalan. Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubbag TU) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul (Kankemenag Bantul) H. Mukotip, S.Ag., M.Pd.I. mengunjungi penutupan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kabupaten Bantul di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Patalan, Sabtu (4/6).

    Turut hadir Wakil Bupati Bantul Joko B Purnomo, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bantul Stephanus Heru Wismantara, SIP, MM.

    Ketua Umum LPPD (Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah) Bantul Dwi Kristiantoro, ST menghaturkan rasa terima kasihnya atas segala dukungan dari semua pihak, terlebih dahulu untuk Kankemenag Bantul dan juga Pemerintah Kabupaten Bantul. Dwi mengatakan jika Pesparawi ini tidak berhenti di tahun ini.

    “Kami mencoba akan merutinkan. Jadi kami mohon dukungannya agar kami bisa terus melaksanakannya,” jelasnya.

    Mukotip turut memberikan apresiasi dalam pelaksanaan Pesparawi ini, pasalnya menurut Mukotip, pelaksanaan Pesparawi di Bantul ini merupakan Pesparawi yang paling meriah.

    “Selama saya tempatkan di Kanwil, di kota, maupun di Gunung Kidul, Pesparawi di Bantul ini yang saya rasa paling meriah,” ucapnya.

    “Jika Ketua LPPD tadi akan mengatakan akan memberikan presentasi setiap tahunnya, maka kami siap mendukungnya, jika mau memakai tempat di kantor untuk keperluan rapat, senang dipakai,” ucap Mukotip lagi dalam sambutannya.

    Lebih jauh, Mukotip berharap kegiatan Pesparawi kedepan lebih meriah dan banyak pesertanya.

    “Semoga kedepannya, Pesparawi ini bisa lebih meriah, lebih banyak lagi pesertanya. Perlu saya sampaikan bahwa Bantul merupakan salah satu proyek percontohan kerukunan umat beragama oleh Menteri Agama, oleh karena itu kegiatan keagamaan seperti ini harus didukung,” pungkasnya.

    Sementara itu, Joko B Purnomo dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Pesparawi ini berlangsung dengan baik.

    “Ini menunjukkan bahwa Bantul merupakan Kabupaten yang agamis, memerangi intoleransi. Sesuai salah satu visi Kabupaten Bantul yaitu menjadi kabupaten yang harmonis, sehingga mampu mewujudkan harmonisasi untuk Babupaten Bantul sendiri, serta berupaya bersama-sama mewujudkan keadilan, kesejahteraan, agamis, dan projotamansari,” jelasnya.

    “Kami atas nama Pemkab Bantul mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya Pesparawi ini. Ini merupakan salah kontribusi yang berguna bagi pembangunan Kabupaten Bantul. Tadi pak Kemenag siap mendukung kelanjutan Pesparawi, maka kami juga turut mendukung. Pesparawi ini bisa diusulkan kepada kabupaten untuk mendapatkan APBD. Oleh karena itu proposal bisa disiapkan dari sekarang untuk pelaksanaan tahun depannya,” jelasnya lagi.

    Pesparawi ini ditutup oleh Joko B Purnomo Didampingi Mukotip, Heru dan beberapa panitia Pesparawi dengan pemukulan gong sebagai simbolisnya. HS

  • Pdt Gomar Gultom: Indonesia Kehilangan Tokoh Pluralis dan Nasionalis Juga Guru dan Bapa Bangsa

    Pdt Gomar Gultom: Indonesia Kehilangan Tokoh Pluralis dan Nasionalis Juga Guru dan Bapa Bangsa

    YOGYAKARTA, WARTANASRANI.COM – Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom yang melayat langsung ke Yogyakarta tepatnya di Masjid Gede Kauman tempat jenazah Buya disemayamkan, langsung mengucapkan belasungkawa kepada Ketua Umum PP Muhadiyah Prof. Haedar atas meninggalnya mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP), Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, pukul 10.15 WIB, Jumat (27/5/2022). Buya Syafii tutup usia pada umur 87 tahun.

    Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom yang melayat langsung ke Yogyakarta tepatnya di Masjid Gede Kauman tempat jenazah Buya disemayamkan

    Berkenaan dengan Buya, Pdt Gomar yang melayat ke Mesjid Gede Kauman, tempat jenazah Buya Maarif disemayamkan sebelum dibawa ke pemakaman Kulon Progo, menyampaikan bahwa Indonesia kehilangan tokoh pluralis dan nasionalis yang juga guru dan bapa bangsa yang patut menjadi pola teladan.

    “Kita semua kehilangan Safei Maarif, panggilan akrab “Buya Safei”, yang bukan hanya seorang tokoh pluralis dan nasionalis, tetapi lebih merupakan guru dan bapa bangsa, yang banyak menyumbang gagasan untuk mencerdaskan bangsa. Beliau sangat dekat dengan semua kalangan dan patut menjadi pola teladan bagi semua pemimpin agama di Indonesia sebagai bangsa yang besar dan menghargai kemajukan,” sebutnya.

    “Keteladanannya yang sangat sederhana dan menolak berbagai bentuk fasilitasi sangat perlu ditiru. Dia menolak tawaran pengobatan di Jakarta, baik dari Ibu Megawati maupun dari Presiden RI, karena merasa lebih sreg dirawat di rumah sendiri: RS PKU Muhammadyah Yogyakarta. Bahkan untuk penguburannya pun beliau mewasiatkan untuk dikebumikan di pemakaman kalayak Muhammadyah di Kulon Progo, dan tidak di pemakaman yang dikhususkan bagi Pimpinan Muhammadyah,” sebut Gomar lagi.

    Menurut Ketua Umum PGI ini, kedatangannya merupakan penghormatan terakhir sekaligus merupakan wujud kebersamaan menyatakan turut sepenanggungan dengan keluarga Buya Ma’arif bahkan umat muslim yang cinta damai.

    Lebih lanjut Gomar mengatakan bahwa ketokohan, pemikiran dan perjuangan beliau sangat segaris dengan perjuangan Gereja-gereja di Indonesia untuk kemajuan dan kesejahtetaan bangsa ini.

    “Saya memohon Presiden untuk mengajak seluruh masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang sebagai penghormatan kepada beliau. Dan kiranya tak berlebihan bila saya juga mengusulkan agar kepada beliau, pada waktunya kelak, dianugerahi Pahlawan Nasional”, ujarnya.

    Ketua umum Muhamadiyah Haedar berharap”Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka. Telah wafat Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif pada hari Jumat tgl 27 Mei 2022 pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

    Haedar mendoakan almarhum agar beliau husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dilapangkan di kuburnya, dan ditempatkan di jannatun na’im.

    “Mohon dimaafkan kesalahan beliau dan do’a dari semuanya. Pemakaman dan lain-lain informasinya menyusul,” tutupnya.

    Sikap nasionalisnya Buya yang juga tokoh lintas iman ini pernyataannya sempat viral yang mengatakan Kalau kita hanya diam saja, mereka yang memperalat agama bisa leluasa, seakan akan mereka yang benar itu harus dilawan. Kita harus menunjukan bahwa agama itu jangan untuk tujuan yang kotor, kumuh. Pernyataan Buya ini berkaitan dengan maraknya politik identitas seperti saat pilkada DKI ketika itu.

  • KETRITUNGGALAN ALLAH

    KETRITUNGGALAN ALLAH

    Kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab. Dan kendati Tertullianus sudah menggunakan kata itu pada abad ke 2, barulah pada abad ke 5 kata ini mendapat tempat resmi dalam teologi Kristen. Dalam konsili di kota Nicea, Turki pada tahun 325, mengakui bahwa Allah adalah satu zat, hakikat (Latin: substantia) yaitu Allah; dan tiga oknum atau pribadi (Latin: persona) yaitu Bapa, Anak dan Roh. Istilah persona tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Istilah ini berarti topeng. Dalam bahasa Yunani juga dipakai istilah “prosopon” yang berarti “wajah”. Doktrin mengenai Allah Tritunggal inilah ajaran Kristen yang paling khas dan mencakup seutuhnya segenap unsur kebenaran mengenai adanya kegiatan Allah dalam hanya satu istilah umum yang luhur.

    Teologi berusaha menerangkan keberadaan Allah dengan menyatakan bahwa Ia satu dalam diri-Nya yang hakiki, tapi Ia berada dalam tiga cara atau bentuk, masing-masing merupakan satu diri, namun dalam cara demikian hakikat-Nya yang sebenarnya utuh dalam masing-masing diri. Harus diakui bahwa uraian mengenai Tritunggal mula-mula dikemukakan oleh para ahli yang berbahasa Yunani, dan istilah-istilah yang mereka kemukakan sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia.

     

    1. Asal Usul Doktrin Tritunggal

    Asal usul dari istilah Tritunggal dapatlah kita lihat dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yakni sebagai berikut:

    1. Perjanjian Lama

    Kendati ajaran ini tidak jelas nyata dalam Perjanjian Lama, Tritunggal itu sudah tersirat dalam penyataan diri Allah sejak masa paling dini. Tapi selaras dengan sifat historis penyataan Allah, maka ajaran ini mula-mula dikemukakan hanya dalam bentuk yang sangat bersifat bayangan saja. Ajaran ini tersirat bukan hanya dalam bagian-bagian tersendiri, tapi terajut di sepanjang bentangan kain penyataan Perjanjian Lama. Siratan yang paling tua ialah teracu dalam riwayat penciptaan, dimana Allah mencipta melalui firman dan Roh, seperti ditulis Musa, ”Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: Jadilah terang. Lalu terang itu jadi” (Kej. 1:2-3). Di sini pertama kalinya diperkenalkan firman Allah sebagai pribadi yang memiliki kuasa mencipta, dan sekaligus diperkenalkan Roh Allah sebagai pembawa hidup dan ketertiban bagi seluruh ciptaan ini.

    Jadi dari sejak masa paling dini sudah dinyatakan suatu pusat kegiatan dari tiga yang satu seutuhnya. Allah sebagai pencipta membuat alam semesta sebagai karya pikiran-Nya, mengungkapkan pikiran-Nya itu dalam wujud firman, dan membiarkan Roh-Nya bekerja sebagai asas yang menghidupkan. Justru alam semesta tidak terpisah atau lepas dari Allah, juga tidak bertentangan dengan Dia.

    Secara tidak langsung telah dinyatakan bahwa penyataan Allah Tritunggal telah diberikan kepada manusia saat ia diciptakan, atas dasar bahwa manusia akan diberi persekutuan ilahi, tapi pemberian ini kemudian hilang karena manusia jatuh dalam dosa. Musa menulis, ”Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej. 1:26).

    Kegiatan Allah dalam penciptaan dan pemerintahan-Nya kemudian dihubungkan dengan firman yang dipersonifikasikan sebagai hikmat, seperti ditulis Salomo, ”TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala” (Ams. 8:22). Ayub menulis, ”Allah mengetahui jalan ke sana Ia juga mengenal tempat kediamannya” (Ayb. 28:23). Juga dihubungkan dengan Roh sebagai pembagi segala berkat dan sumber kekuatan badani, semangat, kebudayaan dan pemerintahan. Musa menulis, ”Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” (Kel. 31:3); ”Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi” (Bil. 11:25).

    Tiga yang satu seutuhnya sebagai sumber kegiatan yang dinyatakan dalam penciptaan alam semesta, nampak lebih jelas lagi dalam peristiwa penebusan. Penyataan penebusan ini dipercayakan kepada Malaikat (Ibrani: mal’akh) Yahweh yang kadang-kadang disebut Malaikat Perjanjian, sebagaimana ditulis Musa, ”Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api” (Kel. 3:2).

    Dan setiap ayat Perjanjian Lama yang mengandung ungkapan ini merujuk kepada diri Allah, sebab jelas bahwa rujukan itu mengartikan makhluk ilahi dengan kuasa ilahi yang ditugasi untuk melaksanakan tugas khusus, sebagaimana ditulis dalam 2 Samuel, ”Ketika malaikat mengacungkan tangannya  ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah TUHAN karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu. Pada waktu itu malaikat TUHAN itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus” (2 Sam. 24:16). Tapi dalam beberapa ayat, Malaikat Allah tidak hanya memakai nama Allah, tapi juga mempunyai martabat dan kekuasaan Allah, melaksanakan penyelamatan oleh Allah dan menerima penghormatan dan pemujaan yang sepatutnya. Musa menulis, ”Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya, dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur” (Kej. 16:7).

    Roh Allah juga diberi tempat khas dalam sejarah penyataan dan penebusan. Ia memperlengkapi Mesias untuk pekerjan-Nya, sebagaimana ditulis Yesaya, ”Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yes. 11:1-2). Juga memperlengkapi umat-Nya untuk menanggapi Mesias dengan iman dan ketaatan, sebagaimana juga ditulis Yesaya, ”Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas; Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan” (Yes. 32:15). Jadi Allah yang menyatakan diri-Nya secara obyektif melalui Malaikat Utusan, juga menyatakan diri-Nya secara subyektif dalam dan melalui Roh Allah, Sang Pembagi segala berkat dan karunia-karunia dalam rangka penebusan.

    1. Masa antar perjanjian

    Dalam masa ini membentang kepastian kendati secara samar-samar dan baru merupakan bayangan, yakni persiapan akan penyataan Allah Tritunggal seutuhnya yang akan dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Menurut pemikiran Yahudi bahwa karena Allah transenden, jauh di luar alam semesta, menyebabkan manusia harus mencari seorang pengantara.

    Philo (20sM-45M), seorang filsuf Yahudi yang terkungkung oleh pandangan yang mempertentangkan antara Allah dengan dunia ini secara mutlak dan metafisik, menggambarkan tentang adanya makhluk-makhluk yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Jadi ia berusaha menyesuaikan ajaran Perjanjian Lama dengan filsafat Plato (428-348 sM), yang mau membuktikan bahwa segala hikmat Yunani sudah terdapat dalam kitab Taurat dan Nabi-nabi. Sebab itu ia menafsirkan Alkitab secara alegoris, yaitu suatu cerita nyata yang ditafsirkan secara rohani. Menurutnya bahwa Logos itu hanyalah kuasa Allah; Firman itu bukan suatu pribadi, bukan Tuhan Yesus, melainkan hanya suatu kuasa dari Tuhan.

    Diakui oleh banyak orang bahwa tugas sebagai pengantara itu adalah tugas Mesias yang sudah dinubuatkan, tapi ada kecenderungan yang menganggap bahwa Mesias itu juga transenden. Kendati demikian orang berharap bahwa bila Mesias hadir di bumi maka Roh Kudus juga akan hadir serta, karena menurut mereka bahwa Roh Kudus sudah mengundurkan diri dari gelanggang kenabian sesudah nabi Maleakhi. Jadi walaupun sudah disiratkan tentang adanya tiga oknum Allah, tapi hubungan mereka hampir tidak disinggung dan dibiarkan tersembunyi.

    1. Perjanjian Baru

    Sebelum Yesus Kristus datang, Roh Kudus datang memasuki hati orang-orang yang takut akan Allah, dengan cara yang belum pernah dikenal sejak akhir pelayanan nabi Maleakhi. Yohanes Pembaptis secara khusus dan khas menyadari kehadiran dan panggilan Roh Kudus. Pemberitaannya menggambarkan ke-Tritunggalan Allah, yang tersirat dalam hal ia memanggil orang supaya bertobat dari dosa, percaya kepada Yesus Kristus, dan tentang baptisan oleh Roh Kudus. Dengan demikian bahwa baptisan air yang dilakukannya hanyalah sebagai lambang pertobatan.

    Kepada Maria dinyatakan melalui malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan mengambil bagian dalam inkarnasi Yesus, bersama pemberitahuan bahwa Anak yang akan dilahirkan itu akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, pewaris takhta Daud. Lukas menulis, ”Jawab malaikat itu kepadanya: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut Kristus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Dengan demikian diungkapkan bahwa Allah Bapa dan Roh Kudus bekerja dalam penjelmaan Anak Allah. Dan pada baptisan-Nya di sungai Yordan, ketiga oknum ini dapat dibedakan yakni: Anak sedang dibaptis, Bapa sedang berbicara dari sorga dan Roh Kudus sedang turun dalam wujud nyata, yaitu seekor burung merpati. Matius menulis, ”Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17). Jadi dengan demikian Yesus Kristus menerima kekuasaan untuk membaptis dengan Roh Kudus. Nampaknya Yohanes Pembaptis sudah menyadari bahwa Roh Kudus bukan hanya bersama-sama dengan Yesus tapi juga akan datang dari Yesus. Maka oknum ketiga yakni Roh Allah, juga adalah Roh Yesus.

    Dalam pelayanan Yesus Kristus di muka umum, maupun pada saat Ia mengajar para murid-Nya secara tersendiri, Ia selalu mengarahkan perhatian mereka kepada Allah Bapa sebagai yang mengutus Dia dan dari siapa Dia memperoleh kekuasaan-Nya. Yohanes menulis, ”Maka Yesus menjawab mereka kata-Nya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19). Dalam perdebatan-Nya dengan orang-orang Yahudi, Yesus menyatakan bahwa kedudukan-Nya sebagai Anak tidaklah melulu berasal dari Daud, dan keadaan-Nya memang demikian saat Daud mengungkapkan kata-kata itu, seperti ditulis Matius, ”Kata-Nya kepada mereka: Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu” (Mat. 22:43-44). Jadi hal ini menyatakan keallahan Yesus dan bahwa Dia ada sebelum segala sesuatu ada.

    Yesus Kristus memberi kesaksian tentang oknum dan tugas Roh Kudus yang mengacu pada pemberitahuan bahwa pelayanan-Nya sudah mendekati akhirnya, dengan berkata, ”Jikalau Penghibur yag akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh. 15:26). Ia menyebut Roh Kudus sebagai Roh yang datang dari Allah Bapa yang juga datang dari Dia sendiri. Inilah dasar ajaran bahwa Roh Kudus keluar dari dua oknum, yaitu dari Bapa dan Anak. Persekutuan Bapa dengan Roh Kudus tampil dalam karya penyelamatan yang dilaksanakan oleh Yesus. Allah Bapa mengutus Allah Anak, untuk melaksanakan pekerjaan penyelamatan, dan Allah Bapa bersama Allah Anak, mengutus Roh Kudus untuk menerapkan keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus. Dengan demikian jelas mengapa Allah Perjanjian dinyatakan sebagai Tritunggal, karena keselamatan berasal pada tiap oknum dalam keallahan itu.

    Ajaran Yesus tentang Tritunggal terungkap paling jelas dan ringkas dalam rumusan baptisan, yaitu membaptis ke dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, sebagaimana ditulis Matius, ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Membaptis  ”ke dalam nama” lebih merupakan bentuk ungkapan Ibrani daripada ungkapan Yunani, dan bermakna pemisahan dari Yudaisme, karena mencakup nama yang tunggal, tidak hanya nama Allah Bapa saja, tapi nama Anak dan nama Roh Kudus juga.

    Pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta lebih menonjolkan lagi kedirian Roh Kudus, dan serentak dengan itu Roh Kudus memberikan terang baru perihal Anak Allah. Pengertian para rasul tentang Roh Kudus dan hubungannya dengan Allah Bapa dan Allah Anak disajikan jelas dalam Kisah Para Rasul.

    Petrus dalam menerangkan peristiwa Pentakosta, menggambarkannya sebagai pekerjaan Allah Tritunggal. Lukas menulis, ”Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengan di sini” (KPR. 2:32-33). Tepat jika dikatakan bahwa gereja zaman rasul dibangun beralaskan kepercayaan kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Semua surat rasuli sepakat mengaitkan penebusan kepada Tritunggal, dan tiap oknum tampil sebagai tujuan penyembahan dan pemujaan.

    Salam yang disaksikan oleh Paulus dalam 2 Korintus 13:13: ”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”, tidak hanya menyimpulkan seluruh ajaran para rasul, tapi juga menerangkan makna yang lebih dalam dan hakiki dari Allah Tritunggal dalam pengalaman hidup orang Kristen, yakni kasih karunia yang menyelamatkan dan Anak sebagai yang membuka pendekatan pada kasih sayang Allah Bapa dan persekutuan Roh Kudus.

     

    1. Perumusan Doktrin Tritunggal

    Alkitab tidak memberikan rumusan yang lengkap tentang Allah Tritunggal tapi dalamnya disajikan semua unsur yang diperlukan teologi untuk menyusun ajaran itu. Ajaran Yesus mengandung kesaksian tentang kepribadian yang sebenarnya dari setiap oknum yang berbeda dalam keallahan dan mengurai hubungan antara ketiga oknum itu. Jadi para teolog diberi kepercayaan untuk merumuskan Tritunggal berdasarkan data-data acuan yang tersedia. Perlunya merumuskan doktrin Tritunggal adalah akibat timbulnya reaksi musuh-musuh orang Kristen. Yang paling utama dituntut dalam perumusan itu ialah kejelasan tentang keillahian Kristus, sebagai kepercayaan gereja.

    Irenaeus (hidup antara abad ke 2 dan 3) lahir di Asia Kecil dari keluarga Kristen; Origenes (185-254) lahir di Alexandria dari keluarga Kristen; Tertullianus (155-220) seorang ahli hukum dari propinsi Afrika yang sekitar tahun 190 masuk Kristen, memulai upaya mereka untuk merumuskan doktrin Tritunggal, dan hasilnya diterima oleh gereja yang am. Di bawah pimpinan Athanasius (lahir abad ke 3 dan meninggal tahun 373), ajaran Tritunggal diumumkan di Konsili Nicea (325). Konsili ini mengakui  bahwa Allah adalah satu zat, hakekat (Latin: substantia), yaitu Allah; dan tiga oknum atau pribadi (Latin: persona), yaitu Bapa, Anak dan Roh. Istilah ”persona” sulit untuk diterjemahkan. Istilah ini berarti topeng; dalam bahasa Yunani juga dipakai istilah ”prosopon” yang berarti wajah. Dengan demikian doktrin Tritunggal dirumuskan.

    Konsili Nicea tidak mau merumuskan hakikat Allah menurut filsafat, tetapi ingin mengakui bahwa dalam Yesus Kristus dan dalam Roh Kudus, manusia sungguh-sungguh bertemu dengan Allah yang Esa. Rumusan doktrin Tritunggal nyata dalam ”Pengakuan Iman Nicea” yang berbunyi sebagai berikut:

    “Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, pencipta segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah, yang diperanakkan dari Bapa, yang dari hakekat Bapa. Allah dari allah, terang dari terang, Allah sejati dari Allah sejati, yang diperanakkan, bukan dijadikan, sehakekat (Yunani: homoousios) dengan Bapa, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu apa yang di sorga dan yang di bumi. Yang demi kita manusia dan demi keselamatan kita, turun dan menjadi daging, menjelma menjadi manusia, menderita sengsara dan bangkit pula pada hari yang ketiga, naik ke sorga dan akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Dan kepada Roh Kudus. Gereja am mengutuki mereka yang mengatakan bahwa: pernah ada waktu, dimana Ia belum ada; sebelum Ia diperanakkan, Ia belum ada; dan: Ia diperanakkan dari yang tidak ada; atau yang mengira bahwa Anak Allah adalah atau mempunyai hakekat lain (daripada Bapa), atau adalah diciptakan, atau dapat berubah atau menjadi lain”.

     

    Konsili di Konstantinopel yang diadakan pada tahun 381, juga memutuskan tentang doktrin Tritunggal. Dalam konsili ini 3(tiga) ajaran sesat juga dikutuk, antara lain:

    1)   Arianisme, yang menyangkal dan menentang keallahan Yesus Kristus.

    2)   Macedonianisme, yang percaya bahwa Yesus  Kristus adalah Allah, tetapi Roh Kudus dianggap makhluk.

    3)   Apollinarisme, yang menyangkal bahwa Yesus Kristus mempunyai jiwa manusia.

    Hasil konsili Konstantinopel, dijabarkan dalam “Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel”, yang berbunyi sebagai berikut:

    “Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat (hommousios) dengan Sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia; yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi Kitab-kitab, dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa, dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir. Aku percaya kepada Roh Kudus, yang jadi Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa. Yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan, yang telah berfirman dengan perantaraan nabi. Aku percaya satu gereja yang kudus dan am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan di zaman yang akan datang”.

     

    Satu abad kemudian dibawa pimpinan Agustinus (354-430) seorang teolog besar, ajaran Tritunggal mendapat perumusannya yang diabadikan dalam pengakuan yang disebut Pengakuan Iman Athanasius yang dijunjung tinggi oleh gereja-gereja yang mengakui Tritunggal sampai hari ini. Sesudah doktrin ini dijelaskan lebih lanjut oleh Yohanes Calvin, gereja-gereja reformasi juga menerimanya sebagai asas kepercayaan yang ortodoks (Yunani: ”orthos” artinya lurus, benar; ”doxa” artinya pendapat, pandangan). Pengakuan Iman Athanasius berbunyi sebagai berikut:

    ”Barangsiapa hendak menjadi selamat, pertama-tama ia harus memegang iman yang am; jikalau seseorang tidak memeliharanya dengan sebulat semurninya, niscaya ia akan binasa kekal. Adapun iman yang am ialah ini: bahwa kita menyembah satu Allah dalam ketigaan dan ketigaan dalam kesatuan; tanpa mengaduk oknum, tanpa menceraikan tabiat. Memang oknum Bapa adalah lain; oknum Anak adalah lain; oknum Roh Kudus adalah lain; akan tetapi Bapa, Anak dan Roh Kudus keallahan-Nya satu, kehormatan-Nya sama, kemuliaan-Nya seabadi. Sedemikian Bapa, demikian juga Anak, dan demikian juga Roh Kudus. Bapa adalah tak tercipta, Anak adalah tak tercipta dan Roh Kudus adalah tak tercipta. Bapa adalah tak terhingga, Anak adalah tak terhingga, dan Roh Kudus adalah tak terhingga. Bapa adalah abadi, Anak adalah abadi, dan Roh Kudus adalah abadi. Meskipun demikian tiada tiga yang abadi akan tetapi satu yang abadi. Seperti juga tiada tiga yang tak tercipta dan tak terhingga, tetapi satu yang tak tercipta dan satu yang tak terhingga. Demikian juga Bapa adalah mahakuasa, Anak adalah mahakuasa dan Roh Kudus adalah mahakuasa; Meskipun demikian tiada tiga mahakuasa tetapi satu mahakuasa. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; Meskipun demikian tiada tiga Allah tetapi satu Allah. Demikian juga Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan; Meskipun demikian tiada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan. Seperti kita diperintahkan oleh kebenaran Kristen untuk menyebut tiap oknum tersendiri Allah atau Tuhan, demikian juga dilarang oleh iman yang am untuk mengatakan ada tiga Allah atau tiga Tuhan. Bapa tidak dibuat oleh siapa pun dan tidak diciptakan dan tidak diperanakkan. Anak adalah hanya dari Bapa, tidak dibuat dan tidak diciptakan, tetapi diperanakkan. Roh Kudus adalah dari Bapa dan Anak, tidak dibuat dan tidak diciptakan, tidak diperanakkan tetapi keluar dari mereka. Dengan demikian adalah satu Bapa, bukannya tiga Bapa, satu Anak bukannya tiga Anak, satu Roh Kudus bukannya tiga Roh Kudus. Dan di dalam Tritunggal tiada yang lebih dahulu atau lebih kemudian, tiada yang lebih tinggi atau lebih rendah, akan tetapi ketiga oknum semua seabadi dan semua setaraf. Sehingga dalam segala hal, seperti di atas telah dinyatakan, di dalam ketigaan kesatuan dan di dalam kesatuan ketigaan harus disembah. Oleh karena itu barangsiapa hendak menjadi selamat harus demikian keyakinannya mengenai Tritunggal. Akan tetapi untuk memperoleh keselamatan yang kekal perlu juga bahwa orang percaya dengan sungguh, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus telah menjadi manusia. Sebab iman yang benar ialah percaya dan mengakui, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah, adalah baik Allah dan manusia. Ialah Allah dari hakikat Bapa, diperanakkan sebelum segala zaman, dan Ialah manusia dari hakikat ibunda-Nya, lahir di dalam zaman. Dialah Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna, dengan jiwa akali dan daging insani, sama dengan Bapa dalam keallahan-Nya, lebih rendah daripada Bapa dalam kemanusiaan-Nya. Meskipun Ialah Allah dan manusia, Ia bukanlah dua melainkan satu Kristus. Akan tetapi Ialah satu bukan dengan mengubah keallahan-Nya menjadi daging, melainkan dengan mengenakan kemanusiaan-Nya dalam Allah. Dialah satu, sekali-kali bukanlah karena mengaduk hakekat-hakekat melainkan karena kesatuan oknum. Oleh karena seperti jiwa akali dan daging manusia satu, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus. Dia telah menderita untuk keselamatan kita, turun ke kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Bapa. Dari sana Ia akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. Pada kedatangan-Nya segala orang akan bangkit dengan badannya dan mereka akan mempertangungjawabkan perbuatan-perbuatan. Dan yang telah berbuat baik akan pergi ke hidup kekal, sebaliknya yang telah berbuat jahat akan pergi ke api yang kekal. Inilah iman yang am. Barang siapa tidak memeliharanya dengan setia dan kuat, ia tak menjadi selamat”.

     

    Doktrin Tritunggal mengatakan bahwa Allah satu dalam harkat dan hakikat-Nya tapi dalam diri-Nya ada tiga oknum yang tidak membentuk perseorangan yang tersendiri dan berbeda. Ketiga oknum itu adalah tiga cara atau bentuk dalam mana Allah berada. Tapi oknum adalah ungkapan yang tidak sempurna untuk mengungkapkan kebenaran itu, karena ungkapan ini mengartikan kepada kita perseorangan yang tersendiri, yang berbudi dan bisa memilih. Padahal dalam harkat Allah bukan ada tiga perseorangan, tapi hanya tiga pembedaan diri dalam Allah yang satu seutuhnya.

    Kepribadian manusia mencakup kebebasan berkehendak, bertindak dan merasa, yang mencirikan tingkah laku mereka. Semua hal itu tidak dapat dihubungkan dengan Allah Tritunggal: tiap oknum memiliki kesadaran sendiri dan penguasaan diri sendiri, tapi tidak pernah bertindak sendiri-sendiri apalagi bertentangan. Mengatakan bahwa Allah esa, maksudnya ialah kendati Allah pada diri-Nya adalah pusat kehidupan trimitra dan hidup-Nya tidaklah terbelah tiga atau trilateral atau tiga pihak yang berbeda. Ia satu dalam hakikat, kepribadian dan kehendak. Mengatakan bahwa Allah Tritunggal dalam keutuhan, maksudnya ialah keutuhan dalam keanekaan, dan keanekaan itu nampak dalam tiga oknum, dalam sifat dan dalam tindakan. Lagipula substansi dan tindakan-tindakan ketiga oknum itu dicirikan oleh urutan tertentu, berupa subordinasi dalam soal hubungan, tapi tidak dalam kodrat.

    • Bapa sebagai sumber keallahan ialah asal mula dari segala sesuatu;
    • Anak yang diperanakkan kekal oleh Bapa. Dia yang menyatakan Bapa;
    • Roh Kudus; Roh Allah; Roh Anak yang kekal, yang keluar dari Bapa dan Anak, Dialah yang melaksanakannya.

    Karena ketiga oknum itu ilahi dan kekal, maka subordinansi itu tidaklah mengartikan ada yang lebih utama daripada yang lain, tapi memaksudkan urutan giliran dalam tindakan dan penyataan. Jadi dapat dikatakan bahwa penciptaan adalah dari Allah Bapa, melalui Anak Allah, oleh Roh Kudus.

    Doktrin Tritunggal disajikan oleh bapa-bapa gereja dengan menggunakan kategori-kategori filsafat Yunani yang sukar sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Masalahnya ialah istilah apa yang dapat dipakai bagi Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang tidak memberi kesan bahwa ada tiga Allah? Bahasa Yunani, ”hupostatis”; bahasa Latin, ”persona”, bahasa Inggris, ”person”; bahasa Indonesia, ”oknum”, masing-masing sudah diusulkan tapi semuanya tidak ada yang memuaskan.

     

    C.      Ilustrasi Tentang Doktrin Tritunggal

    Tidak ada ilustrasi yang dapat menerangkan dengan tepat tentang doktrin ketritunggalan Allah.  Ilustrasi yang diberikan kebanyakan hanya sejajar dengan gagasan ”tiga di dalam satu”. Namun demikian perlu bagi kita untuk melihat ilustrasi di bawah ini, sebagai berikut:

    1).  Air mungkin cocok sebagai ilustrasi ”tiga di dalam satu”, karena unsur kimianya tetap walaupun dalam keadaan padat, gas atau cair. Juga ada keadaan yang disebut titik tripel di mana es batu, uap, cairan air, dapat berada bersama-sama secara seimbang. Semuanya memang air, tetapi masing-masing berlainan.

    2).  Matahari sinarnya dan kekuatannya mungkin menolong menggambarkan Tritunggal. Sebetulnya kita tidak pernah melihat matahari seperti kita pun tidak pernah melihat Allah Bapa. Kita belajar banyak mengenai matahari dengan mempelajari sinarnya, seperti kita belajar mengenai Allah Bapa melalui Yesus Kristus yang adalah cahaya kemuliaan-Nya, sebagaimana ditulis dalam surat Ibrani, ”Ia adalah cahaya kemulian Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3). Demikian juga kita melihat energi matahari di dalam pertumbuhan benih serta tanaman. Bila ditanya apa yang membuat semua itu tumbuh, kita pasti akan mengatakan bahwa mataharilah yang membuat semuanya itu. Jadi Roh Kudus adalah seperti energi matahari yang memberikan kehidupan kepada kita.

     

    1. Implikasi-Implikasi Dari Doktrin Tritunggal

    Implikasi-implikasi doktrin Tritunggal sangat vital bagi teologi dan juga bagi pengalaman dan hidup umat Allah. Berkaitan dengan keallahan, doktrin ini menyatakan bahwa Allah benar-benar hidup. Dan bahwa Ia jauh sama sekali dari apapun yang disebut berhenti atau pasif. Allah Tritunggal adalah keutuhan dan kepenuhan hidup, berada dalam hubungan yang kekal, dan dalam persekutuan yang tidak pernah putus atau berhenti. Hal ini membuat penyataan dan pengungkapan diri-Nya dapat dimengerti.

    Allah dalam arti mutlak, dapat mengungkapkan diri-Nya sendiri melalui tindakan penyataan diri sendiri antara ketiga oknum itu. Dia dapat juga dalam arti terbatas, mengungkapkan diri-Nya keluar melalui penyataan diri sendiri berkomunikasi dengan ciptaan-Nya.

    Mengenai alam semesta doktrin Tritunggal mengupayakan kesatuan dan keanekaan, membuat alam semesta menjadi suatu kosmos dalam keteraturan. Karena semua hal tergantung pada kehendak baik Allah, maka tidak mungkin ada dualisme di pusat alam semesta. Tidak ada tempat bagi keanekaan yang tidak terhingga.

    Kita dapat berkata bahwa keanekaan hidup dalam Allah dipantulkan dalam alam semesta berupa bentuk-bentuk hidup yang berbeda-beda secara luas. Hidup Allah bisa mendapati bermacam-macam manifestasi, dan hal ini memberi kejamakan unsur dan kejamakan sisi kepada alam semesta yang Dia rencanakan itu. Lagi pula persekutuan yang mengikat Allah Tritunggal, menjadi dasar bagi persekutuan kita; persekutuan dalam keluarga, persekutuan dalam masyarakat, dan secara istimewa persekutuan dalam gereja, karena di situ Roh Kudus menjadi petugas dan pengantara persekutuan itu.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1996).

    Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Yohanes Pasal 1-7 (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 2006).

    Boehlke, Robert, R, Sejarah Perkembangan Pemikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 2006).

    Brill, J, Wesley, Tafsiran Surat Timotius & Titus (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996).

    Dyrness, William, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1993).

    Elleas, Indrawan, Isi Masa Kini Tentang Nama Allah (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2008).

    Hadiwijono, Harun, Iman Kristen (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1999).

    Jacobs, Tom, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya (Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius, 1983).

    Jones, A, A, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 1 & 2 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1999).

    Lane, Tony, Runtut Pijar (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1996).

    Marjorie & Don Gray, Menyingkap Tabir (Bandung: Indonesia Publishing House Cimindi, 1991).

    Ryrie, C, Charles, Teologi Dasar 1 & 2 (Yogyakarta: Yayasan Andi,  2004).

    Soedarmo, R, Ikhtisar Dogmatika (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1996).

    Tafsir Alkitab Masa Kini 1 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000).

    Thiessen, C, Henry, Teologi Sistematika (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2003).

  • SIFAT-SIFAT ALLAH

    SIFAT-SIFAT ALLAH

    Ia menjabarkan “logos” menjadi malaikat Yahweh dan juga nama Yahweh dalam Perjanjian Lama, dan menyebutkan suatu Allah yang kedua serta manusia Idaman, pola bagi manusia yang diciptakan-Nya.

    Dalam Perjanjian Baru, “logos” dipakai baik dalam arti kata biasa, maupun dengan pengertian pesan Injil, seperti ditulis Markus, “Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka” (Mark. 2:2); Lukas menulis, “Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja” (KPR. 6:2); Paulus menulis, “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal. 6:6).

    Dalam surat-surat kiriman kita dapat membaca tentang firman kehidupan, seperti ditulis Paulus, “Sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah” (Flp. 2:16); firman kebenaran, juga ditulis Paulus, “Di dalam Dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Ef. 1:13); kabar keselamatan, seperti ditulis Lukas, “Hai saudara-saudaraku baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita” (KPR. 13:26); berita pendamaian, seperti ditulis, Paulus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2 Kor. 5:19); pemberitaan tentang salib, juga ditulisnya, “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Kor. 1:18). Dalam bahasa Yunani semuanya disebut “logos”, yang artinya amanat Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, yang wajb diberitakan dan ditaati.

    Philo, dalam pengajarannya tentang “logos” menyajikan kerangka teologis yang jelas, dimana firman memiliki suatu kesatuan yang mirip dengan Allah dan sekaligus memiliki perbedaan dengan-Nya, mengandung kegiatan mencipta dan memelihara semesta alam, dan juga memiliki kegiatan yang bersifat menyatakan diri kepada manusia.

    Lebih lanjut konsep khas mengenai inkarnasi, setidak-tidaknya merupakan pengembangan yang tepat dari penyamaan logos menurut Philo dengan Manusia sejati. Jadi mungkin sekali di balik ini semua dijumpai penggunaan langsung dari konsep Philo atau pemikiran dari kelompok cendekiawan Yahudi yang menganut Helenisme.

    Kita dapat mencatat 5(lima) pokok mengenai logos dalam pemikiran Philo, antara lain:

    1. Logos itu tidak memiliki kepribadian khusus. Logos digambarkan sebagai gambar Allah dan melalui gambaran itu seluruh alam semesta dibentuk. Tetapi karena logos juga digambarkan sebagai kemudi yang memimpin segala sesuatu dalam jalurnya, atau sebagai alat Allah untuk menata dunia, maka nampaknya jelas bahwa Philo tidak memikirkan bahwa logos itu berpribadi.
    2. Philo berbicara tentang logos sebagai anak sulung (Yunani: prologonos huios) Allah yang secara tidak langsung menyatakan keberadaan-Nya sebelum segala sesuatu ada. Tentu saja logos dianggap kekal, juga digambarkan sebagai duta (Yunani: presbeutes) Allah, sebagai pembela (Yunani: parakletos) manusia dan sebagai imam besar (Yunani: arkhiereus). Gambaran ini walaupun memberikan kesejajaran yang menarik dengan Yesus Kristus, namun tidak menyinggung soal keberadaan sebelum segala sesuatu ada.
    3. Gagasan logos tidak dihubungkan dengan terang dan hidup oleh Philo seperti halnya dalam Injil Yohanes, dan gabungan itu tidak dapat diambil dari pemikirannya, walaupun pasti akan menyenangkannya seandainya ia dapat mengetahuinya.
    4. Philo tidak menduga bahwa logos dapat menjadi manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang asing bagi pemikiran orang Yunani, karena mereka percaya bahwa meteri memiliki sifat
    5. Dengan pasti Philo menganggap logos memiliki fungsi pengantara untuk menjembatani jurang pemisah antara Allah yang transenden dengan dunia. Logos itu baik, dia dapat dianggap sebagai personifikasi dari pengantara yang efektif, walaupun tidak pernah dinyatakan secara pribadi.

    Kata “logos “ dalam bentuk jamaknya, yakni “ta logia”, berarti seluruh Perjanjian Lama atau suatu bagiannya yang khas. Dalam Kisah Para Rasul, “firman-firman yang hidup” menunjuk kepada dasa titah atau kepada seluruh isi Taurat Musa, seperti ditulis Lukas, “Musa inilah yang menjadi pengantara dalam sidang jemaah di padang gurun di antara malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang menerima firman-firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kamu” (KPR. 7:38).

    Dalam surat Paulus kepada jemaat Roma, “ta logia” artinya ialah Perjanjian Lama, khususnya janji-janji Allah kepada Israel, seperti yang ditulis Paulus, “Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah” (Rm. 3:2). Dalam surat Petrus, pemberitaan firman berarti pengkotbah wajib menjaga beritanya sedemikian rupa sehingga ia seolah-olah mengucapkan kitab Suci yang diilhamkan. Dia menulis, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin” (1 Ptr. 4:11).

    “Ta logia” muncul pula dalam Ibrani 5:12 yang berkata: “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras”. Kata dimaksud diterjemahkan dengan “penyataan Allah, yang berhubungan dengan dasar-dasar pada Perjanjian Lama maupun penyataan Allah melalui Anak-Nya, sebagaimana disaksikan oleh penulis Ibrani, “Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:2). Akhirnya makna teologis dari “ta logia” ialah pengumuman-pengumuman Allah yang mempunyai kekuasaan, dan di hadapan-Nya manusia berdiri dengan hormat dan menyembah dengan merendahkan diri.

    Kata Yunani: “rhema”, yang artinya kata yang diucapkan, lalu menjadi inti ucapan, dan kenyataan. Juga memperoleh pengertian “firman Allah”, seperti “logos”, dan dengan demikian berarti “Injil Kristen”. Matius menulis, “Tetapi Yesus menjawab: Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4); Lukas menulis, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu” (Luk. 2:29); Yohanes menulis, “Kata Yesus kepada mereka: Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 3:34); Petrus menulis, “Tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu” (1 Ptr. 1:25).

    Dalam perkembangannya timbul juga arti lain dari kata “rhema”, yaitu pengakuan umat Tuhan yang membawa mereka kepada keselamatan yang diperoleh di dalam Kristus Yesus, seperti ditulis Paulus, “Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman” (Ef. 5:26).

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui pengalaman pribadi

    Banyak tokoh-tokoh iman yang mengakui bahwa mereka memiliki persekutuan pribadi dengan Allah. Mereka menyatakan bahwa mereka mengenal Dia, bukan hanya melalui alam, sejarah, hati nurani, juga bukan hanya melalui mujizat dan nubuat, tetapi juga melalui pengalaman pribadi mereka. Kitab Kejadian menyaksikan bahwa Henokh hidup bergaul akrab dengan Allah. Ia membangun hubungan yang intim dengan Allah setiap saat, seperti ditulis Musa, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah” (Kej. 5: 24). Ia juga menyaksikan bahwa Allah berbicara kepada Nuh, dengan menulis, “Berfirmanlah Allah kepada Nuh: Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kej. 6:13). Nuh sungguh-sungguh taat kepada perintah Allah. Ketika Allah menyuruhnya untuk membangun bahtera, ia menuruti perintah itu sehingga ia dan keluarganya selamat dari hukuman air bah.

    Musa juga menyaksikan bahwa Allah berbicara kepada Abraham, dan ia mengikuti apa yang difirmankan Allah dan bergaul akrab dengan-Nya, sehingga dia menjadi bapa banyak bangsa dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Musa menulis, “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kej. 12:1). Juga Allah berbicara kepada Musa sendiri, seperti ditulisnya, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: Musa, Musa, dan ia menjawab: Ya, Allah” (Kel. 3:4). Musa pada akhirnya menjadi pemimpin bangsa Israel yang penuh kuasa yang membawa mereka keluar dari tanah perbudakan di Mesir.

    Demikian pula dalam Perjanjian Baru, Allah berbicara dengan Yesus Kristus, seperti ditulis Matius, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17). Dia berbicara kepada Paulus, seperti ditulis Lukas, “Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawab Saulus: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus yang kau aniaya itu” (KPR. 9:4-6). Pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus, menjadikan Paulus sebagai seorang rasul yang luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk menyampaikan Injil kepada orang-orang non Yahudi. Dan melalui pelayanannya banyak gereja di masa Perjanjian Baru berdiri.

    John Newton adalah seorang pedagang budak dari Inggris, yang mengangkut para budak dengan kapal laut dari benua Afrika kemudian dijual ke Eropa. Ia adalah seorang yang suka mengumpat dan tidak mengakui ajaran firman Tuhan. Menjadi salah satu kebiasaan dari John Newton bahwa jika ada budak wanita dewasa, pastilah akan diperkosanya. Di Tahun 1748 dalam perjalanannya mengangkut para budak, kapal Greyhound yang ditumpanginya bocor dan dihantam ganasnya badai samudera Atlantik. Sebuah ayat Alkitab yang pernah diajarkan oleh ayahnya pada waktu dia masih anak-anak timbul dalam pikirannya, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang memintanya kepada-Nya” (Luk. 11:13). Ayat dimaksud mempengaruhinya sehingga dia mau berdoa, “Ya Allah, jika Engkau benar, Engkau pasti menepati janji-Mu. Sucikanlah hatiku yang kotor ini”. Sesampainya di sebuah pelabuhan di Irlandia, dia pergi ke gereja dan di sana ia mengakui serta menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Orang yang tidak mau menerima ajaran firman Allah dan yang selalu mengumpat itu akhirnya menjadi seorang pengkhotbah untuk para pelaut. Kesaksian tentang kebaikan Allah diungkapkannya dalam sebuah lagu pujian yang sampai saat ini masih dinyanyikan oleh banyak jemaat Tuhan, “Sangat besar anugerah-Mu yang b’ri aku s’lamat. Ku t’lah hilang Tuhan dapat, buta s’karang lihat” (Amazing Grace).

    Pengalaman hidup dengan Allah memiliki dampak yang mengubah kehidupan orang-orang yang mengalaminya, sehingga pemazmur menulis, “Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri dan tidak akan malu tersipu-sipu” (Maz. 34:6). Mereka juga makin menyerupai Allah, seperti ditulis Lukas, “Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (KPR. 6:15).

    Persekutuan dengan Allah juga disertai penyataan kebenaran yang lebih dalam lagi tentang Dia. Penyataan-Nya dalam pengalaman pribadi juga merupakan sumber utama yang digunakan Roh Kudus ketika mengilhami para penulis Alkitab. Dengan demikian, dalam penyataan-penyataan-Nya, yang disaksikan dalam Alkitab, kita memperoleh materi untuk teologi dan memungkinkan tersusunnya teologi.

     

     

    3. SIFAT-SIFAT ALLAH

    Sifat Allah adalah dasar watak, tabiat, perangai, kelakuan, tingkah laku-Nya. Dan ada berbagai sifat-Nya yang dapat disebut juga sebagai kesempurnaan-Nya.  Walaupun pada suatu waktu tertentu Dia menunjukkan salah satu sifat-Nya, namun tidak ada sifat-Nya yang berdiri sendiri atau yang lebih unggul dari pada sifat-sifat yang lain. Apabila Dia menunjukkan murka-Nya misalnya, maka Ia tetaplah Allah yang pengasih. Ketika Ia menunjukkan kasih-Nya, maka Ia tetaplah Allah yang adil.

    Bila kita mendaftarkan semua sifat Allah, kita belum sepenuhnya mampu menggambarkan-Nya, karena Ia tidak bisa dipahami seutuhnya. Dia adalah Allah yang transenden. Bahkan jikalau kita mengatakan bahwa kita memiliki daftar lengkap dari seluruh sifat-Nya, kita tidak dapat mengukur artinya, sebab kita yang terbatas tidak mungkin dapat mengerti tentang Allah yang tidak terbatas.

    Sifat-sifat Allah dinyatakan kepada kita melalui penyataan-Nya. Kita tidak memberi sifat-sifat itu kepada-Nya, tetapi Dia menyatakannya kepada kita. Ia memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

    1. Kekal

    Allah selalu ada dan tak pernah berakhir. Keberadaan-Nya tak berujung pangkal baik ke masa silam maupun ke masa depan, tidak terbatas, yang disebabkan oleh rangkaian peristiwa. Kekekalan Allah sebagai kesempurnaan-Nya di mana Ia ditinggikan di atas segala batas-batas yang sifatnya sementara dan segala rangkaian waktu.

    Bertalian dengan kekekalan Allah, beberapa teolog memakai kata Ibrani, “aseity” untuk menunjukkan keberadaan-Nya, dimana Ia bergantung pada diri-Nya sendiri. Jika Allah ada tanpa permulaan dan tanpa akhir, maka Ia tidak  pernah menjadi ada  dan juga tidak pernah disebabkan untuk menjadi ada. Ia tidak berujung pangkal, tidak berawal dan tidak berakhir. Ia adalah Allah yang kekal (Ibrani: “El Olam”), sebagaimana ditulis oleh pemazmur, “Dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Maz. 90:2b).

    Sebagai suatu Pribadi yang kekal, Allah memandang masa lalu dan masa depan kita sejelas masa kini. Ia tidak akan pernah berhenti ada, kuasa-Nya yang terus menerus mengatur segala sesuatu dan segala peristiwa adalah terjamin.

     

    1. Bebas

    Allah tidak bergantung dari makhluk-makhluk dan ciptaan-Nya, seperti ditulis Yesaya, “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasehat? Kepada siapa TUHAN meminta nasehat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?” (Yes. 40:13-14). Ia hanya dibatasi oleh sifat-Nya sendiri yakni kesucian-Nya yang menahan-Nya untuk berbuat dosa. Dalam hubungan dengan kesempurnaan-Nya, tidak ada keterbatasan pada-Nya.

    Karena bebas, maka Allah tidak memiliki kewajiban apa pun kepada kita, namun Ia memilih untuk berkewajiban kepada kita. Ia tidak harus melakukan apa pun bagi kita, namun Ia memilih untuk melakukannya bagi kita. Karena itu kita tidak dapat menuntut Dia.

    1. Tidak berubah

    Allah tidak dapat berubah karena Ia tidak berubah. Ia tetap, tidak bertumbuh atau berkembang. Sebagai Allah yang tidak berubah, maka Ia menjamin keberadaan Israel, bahkan keberadaan kita sebagai anak-anak-Nya, seperti ditulis oleh Yakobus, ”Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yak. 1:17).

    Ketidak-berubahan-Nya memberikan penghiburan dan jaminan kepada kita bahwa janji-janji-Nya tidak pernah gagal. Dia tidak pernah lalai dalam menepati janji-janji-Nya. Apa yang telah difirmankan-Nya pasti digenapi, sebagaimana ditulis Maleakhi, ”Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap” (Mal. 3:6). Paulus juga menulis, ”Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim. 2:13). Ketidak-berubahan Allah mengingatkan kita bahwa sikap-Nya terhadap dosa juga tidak berubah, sehingga Ia tidak pernah dapat dibujuk atau berkompromi dengan dosa.

    d.       Tidak terbatas

    Allah tidak terikat atau terbatas. Ia tidak mungkin dibatasi oleh alam semesta atau oleh batas-batas ruang dan waktu. Tetapi itu tidak berarti bahwa Ia terpencar-pencar, sebagian di sini dan juga sebagian di sana.

    Dalam doanya Salomo mengakui ketidakterbatasan Allah pada saat peresmian bait Allah dengan berkata, ”Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (1 Raj. 8:27). Paulus menyaksikan tentang ketidakterbatasan Allah pada saat ia berdebat melawan kepalsuan allah orang-orang Atena, dengan menulis:

    ”Allah telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing” (KPR. 17:24-27).

     

    Sifat di atas itulah yang dinamakan dengan “keluasan” (immensity), yakni bahwa Ia tidak dibatasi oleh ruang.

    e.       Suci

    Dalam Alkitab kesucian berarti pemisahan dari hal-hal yang najis, yang diterjemahkan dari kata Ibrani, “qadosh”, yang artinya kudus. Kesucian berarti bahwa tidak ada kejahatan, dan hanya ada kebenaran yang ada pada Allah. Namun kesucian-Nya bukan hanya berarti bahwa Ia terpisah dari segala sesuatu yang najis dan jahat, tetapi juga bahwa Ia benar-benar suci, sehingga berbeda dengan allah yang lain.

    Kesucian Allah adalah kemurnian keberadaan, sifat, kehendak serta tindakan-Nya. Pada akhirnya kesucian adalah sifat yang Ia inginkan untuk dimiliki semua orang, seperti ditulis Musa, ”Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi” (Im. 11:44). Yosua juga menulis, ”Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: Tidakkah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu” (Yos. 24:19).

    Kesucian Allah yang mutlak itu berarti bahwa orang berdosa terpisah dari Dia, Mereka dapat menjadi suci hanya melalui suatu jalan yang telah disediakan-Nya di dalam karya Kristus. Dan gambaran tentang kesucian Allah seharusnya menjadikan kita peka terhadap dosa, seperti ditulis Yesaya, ”Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya. . . . . .Lalu kataku: Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:3,5).

    Kesucian Allah merupakan standar bagi kehidupan dan kelakuan kita, seperti ditulis Yohanes, ”Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yoh. 1:7). Dan walaupun seringkali kita tidak mampu memenuhinya, bukan berarti bahwa kita boleh kompromi. Sama sekali tidak! Kita dituntut untuk hidup suci di hadapan Allah.

    1. Kasih

    Yohanes menyaksikan bahwa Allah adalah kasih, dengan menulis, ”Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Ungkapan ini menunjukkan bahwa inilah sifat-Nya. Dan ungkapan ini tidak dapat dibalik, bahwa “kasih adalah Allah”, seperti dalam pemahaman Christian Science.

    Karena Allah adalah kasih (Yunani: agape), maka harus ada suatu interaksi kasih. Ia yang adalah kasih, mengizinkan diri-Nya mengasihi orang berdosa. Itu adalah anugerah, seperti ditulis Paulus, ”Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Ef. 2:4-5). Kasih-Nya telah dicurahkan ke dalam hati kita seperti yang ditulis Paulus, ”Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:5).

    Dalam menghadapi berbagai pencobaan, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, seperti yang ditulis dalam surat Ibrani, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibr. 12:6). Yang erat hubungannya dengan kasih adalah kebaikan, belas kasihan, kesabaran, dan anugerah. Kebaikan-Nya dapatlah didefinisikan sebagai perhatian-Nya terhadap makhluk ciptaan-Nya, seperti ditulis Lukas, ”Namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (KPR. 14:17).

    Belas kasihan adalah aspek dari kebaikan Allah yang menyebabkan Dia menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita, seperti ditulis Paulus, ”Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita” (Ef. 2:4). Yakobus juga menulis, ”Sesunguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun, kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan adalah maha penyayang dan penuh belas kasihan” (Yak. 5:11). Kesabaran-Nya berbicara tentang Ia yang menahan murka-Nya karena pelanggaran-pelanggaran kita sebagaimana yang ditulis oleh Petrus, ”Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya” (2 Ptr. 3:15). Anugerah adalah kebaikan Allah yang dinyatakan kepada kita di dalam karya Kristus. Konsep-konsep ini saling berhubungan dan berasal dari kasih-Nya.

    Bidat Universalisme mengajarkan bahwa karena Allah adalah kasih maka Ia pada akhirnya akan menyelamatkan semua orang. Ini pemahaman yang keliru. Sesungguhnya kasih-Nya tidak dapat dipisahkan dari sifat-Nya yang lain, termasuk kesucian dan keadilan. Kasih-Nya tidak dapat menggagahi kesucian-Nya, lalu menyelamatkan mereka yang menolak Dia. Universalisme tidak mempunyai definisi yang memadai tentang kasih karena ia hanya melihat aspek kasih dan melupakan aspek koreksi. Ajarannya sangat bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan.

    1. Mahakuasa

    Mahakuasa berarti bahwa Allah kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja, sesuai dengan sifat-Nya (Ibrani: El Shadai). Ia mengatakan diri-Nya sebagai yang Mahakuasa kepada Abraham, yang ditulis oleh Musa, “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak” (Kej. 17:1). Musa juga menulis, “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri” (Kel. 6:2). Kepada jemaat Korintus, Paulus menulis, “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2 Kor. 6:18).

    Kemahakuasaan Allah memiliki keterbatasan dalam 2 (dua) hal yakni:

    1)   Pembatasan yang wajar, yakni hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah karena bertentangan dengan sifat-Nya, yakni: (1) Ia tidak dapat berdusta, seperti ditulis Paulus, ”Dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta” (Tit. 1:2); (2) Ia tidak dapat dicobai untuk berdosa, seperti ditulis Yakobus, ”Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: Pencobaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun” (Yak. 1:13); (3) Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri, sebagaimana ditulis Paulus, ”Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim. 2:13).

    2)   Pembatasan yang dikenakan sendiri, yakni hal-hal yang tidak dipilih Allah untuk dimasukkan ke dalam rencana-Nya, yakni: Ia tidak memilih untuk tidak mengorbankan Anak-Nya; Ia tidak memilih untuk menyelamatkan semua orang; Ia tidak memilih semua bangsa pada zaman Perjanjian Lama; Ia tidak memilih Esau.

    Kuasa Allah tampak dalam penciptaan, seperti ditulis oleh pemazmur, ”Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Maz. 33:9). Dia menopang segala sesuatu, sebagaimana ditulis penulis surat Ibrani, ”Ia adalah cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3).

    Kuasa-Nya juga nampak pada waktu membebaskan bangsa Israel dari Mesir, dan kejadian yang ajaib terjadi pada saat itu  (Maz. 114). Namun pertunjukan terbesar dari kuasa-Nya adalah dengan membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, seperti ditulis Paulus, ”Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah” (2 Kor. 13:4).

    Kuasa Allah berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti Ezra menulis  ”Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkau-lah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya” (1 Taw. 29:12); berhubungan juga dengan Injil, seperti ditulis Paulus, ”Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (Rm. 1:16); berhubungan juga dengan keselamatan, seperti ditulis Petrus, ”Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada akhir zaman” (1 Ptr. 1:5); juga berhubungan dengan pengharapan akan kebangkitan tubuh, seperti ditulis Paulus, ”Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (1 Kor. 6:14).

    1. Mahahadir

    Mahahadir berarti bahwa Allah hadir di mana-mana dengan seluruh keberadaan-Nya pada segala waktu, sehingga Daud bertanya: ”Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari kegelapan-Mu?” (Maz. 139:7). Dengan kata lain apakah ada tempat dimana seseorang dapat melepaskan diri dari hadirat Allah? Sesungguhnya tidak, karena kemahahadiran-Nya tidak dibatasi oleh ruang, tidak gentar oleh kecepatan, dan tidak dipengaruhi oleh gelap. Daud menulis pula, ”Jika aku mendaki ke langit Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam, maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang” (Maz. 139:8-12).

    Kemahahadiran Allah bukan berarti bahwa diri-Nya disebarkan ke seluruh alam semesta seolah-olah sebagian di sini dan sebagian di sana. Seluruh keberadaan-Nya ada di mana-mana, di setiap tempat. Dan kehadiran-Nya di dalam kita memberikan contoh tentang hal ini.

    Kemahahadiran Allah berbeda dengan pandangan panteisme yang menyamakan alam semesta dengan Allah. Mereka mengajarkan bahwa Allah adalah pikiran atau jiwa dari alam semesta. Mereka tidak mampu membedakan antara pencipta dan ciptaan. Mahahadir juga berbeda dengan pemahaman para “teolog proses” yang menjelaskan bahwa diri Allah menembus seluruh alam semesta tetapi tidak dihabiskan oleh alam semesta.

    Mahahadir sebenarnya berarti bahwa Allah berada di mana-mana, tidak disebarkan atau menembus alam semesta, tidak sedang berkembang sebagaimana yang mereka ajarkan. Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari hadirat-Nya. Ini merupakan peringatan bagi orang fasik, sekaligus penghiburan bagi kita, yang karena Ia adalah Mahahadir, dapat hadir pada setiap keadaan hidup kita.

    1. Mahatahu

    Mahatahu berarti bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Ia mengetahui dan tanpa kesulitan mengetahui semua perkara, semua pikiran dan setiap pikiran, semua roh, semua dan setiap makhluk dan ciptaan, setiap perbedaan dan semua perbedaan, semua dan setiap hukum, semua hubungan, semua sebab, semua pikiran, semua rahasia, semua teka-teki, semua perasaan, semua kerinduan, semua rahasia yang tak diucapkan, semua takhta dan penguasa, semua pribadi, semua yang tampak maupun tak tampak di sorga dan di bumi, gerakan, ruang, waktu, hidup, kematian, baik, jahat, sorga dan neraka.

    Karena Allah mengetahui segalanya dengan sempurna, Ia tidak hanya mengetahui sesuatu lebih baik daripada yang lain, tetapi semuanya Dia ketahui sama baiknya. Ia tak pernah menemukan sesuatu, tak pernah heran, tak pernah terkejut. Ia tak pernah ingin tahu tentang sesuatu atau mencari informasi tentang sesuatu.

    Allah mengetahui semua karya-Nya sejak dari permulaan, seperti yang ditulis Lukas, “Yang telah diketahui dari sejak semula” (KPR. 15:18). Ia menghitung dan menamai bintang-bintang, seperti yang ditulis oleh pemazmur, “Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya” (Maz. 147:4).

    Allah menunjukkan kemahatahuan-Nya ketika Ia menyatakan apa yang akan terjadi di Tirus dan Sidon, seperti ditulis Matius, ”Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Mat. 11:21).

    Allah mengetahui segala sesuatu tentang hidup kita sebelum kita dilahirkan, seperti ditulis Daud, ”Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya” (Maz. 139:16).

    Bertalian dengan kemahatahuan Allah, dapatlah dikatakan bahwa:

    1)   Allah kita Mahatahu, sehingga tak sesuatu pun yang datang dalam kehidupan kita yang akan mengejutkan-Nya.

    2)   Allah kita Mahatahu dan peka; setiap peringatan yang Allah berikan kepada kita datang dari satu Pribadi yang Mahatahu. Karena itu kita harus peka terhadap peringatan itu. Ia tidak memperingatkan kita atas dasar hanya menerka apa yang mungkin terjadi, tetapi sungguh-sungguh akan terjadi.

    3)   Allah kita Mahatahu dan memberikan penghiburan; bila diperhadapkan dengan keadaan yang sulit, kita selalu mendapatkan penghiburan di dalam kemahatahuan Allah. Ia tahu apa yang sedang terjadi, juga tahu apa yang mungkin akan terjadi. Ia juga selalu tahu kebaikan dan kemuliaan apa pada akhirnya akan muncul dari kejadian-kejadian yang tidak dapat kita mengerti, seperti ditulis Paulus, ”Kita tahu sekarang, bahwa Alah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28).

    4)   Allah kita Mahatahu dan memberikan ketenangan hati; dalam masalah dan tekanan yang menghimpit kita, Tuhan memanggil kita untuk datang kepada-Nya dan Ia berjanji akan memberikan ketenangan dan kelegaan. Yesus berkata, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).

    1. Adil

    Keadilan adalah merupakan sebuah sifat Allah yang berbeda dengan kesucian. Kesucian berkenaan dengan keterpisahan-Nya, sedangkan keadilan berkenaan dengan peradilan-Nya. Ia adil dalam melakukan tindakan.

    Dalam hubungan dengan diri-Nya, tidak ada hukum baik di dalam diri-Nya sendiri atau pun yang dibuat-Nya yang dilanggar oleh sesuatu sifat-Nya. Dalam hubungan dengan makhluk ciptaan-Nya, tidak ada tindakan yang diambil-Nya yang melanggar suatu  moralitas atau keadilan, seperti ditulis Daud, “Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan” (Maz. 11:7a).

    1. Sederhana

    Sifat sederhana berarti bahwa Allah bukan suatu Pribadi campuran atau terdiri dari berbagai campuran. Sifat-Nya ini mengingatkan kita bahwa bila kita merenungkan-Nya sebagai satu pribadi Tritunggal, Ia tidak dapat dibagi-bagi atau tersusun dari bagian-bagian atau berciri ganda. Di dalam inkarnasi, memang Allah kita menjadi daging, tetapi keallahan Allah-Manusia itu hanya Roh, seperti ditulis Yohanes, “Allah itu Roh” (Yoh. 4:24a).

    1. Berdaulat

    Berdaulat sama artinya dengan yang utama, kepala, yang tertinggi. Dalam kaitan dengan kedudukan Allah, bahwa Ia adalah Pribadi yang utama di alam semesta; Ia penguasa alam semesta. Seseorang yang berdaulat dapat menjadi seorang diktator, namun tidaklah demikian dengan Allah; seseorang yang berdaulat dapat melepaskan tanggung jawab penggunaan kuasanya, namun tidaklah dengan Allah.

    Manusia diciptakan oleh Allah dengan kebebasan murni, tetapi dalam kebebasannya mereka memberontak terhadap Allah, dan menjadikan mereka berdosa. Meskipun Ia adalah perancang rencana itu, Ia sama sekali tidak terlibat di dalam perbuatan jahat itu. Jadi kedaulatan tidak harus menghapuskan kehendak bebas, dan kehendak bebas tidak pernah harus menipiskan kedaulatan.

    1. Benar

    Sesungguhnya bahwa Allah kita adalah yang benar, dalam pengertian bahwa Ia konsisten dengan diri-Nya sendiri. Ia telah menyatakan diri-Nya, dan bahwa penyataan-Nya sepenuhnya dapat dipercaya.

    Kebenaran Allah berarti sesuai dengan apa yang digambarkan, dan mencakup gagasan tentang kejujuran, kesetiaan dan konsistensi-Nya. Dia adalah satu-satunya Allah yang benar, seperti ditulis Yohanes, ”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Ia tidak dapat berdusta, seperti ditulis Paulus, ”Dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta” (Tit. 1:2). Ia selalu dapat dipercaya, seperti ditulis Paulus, ”Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi” (Rm. 3:4).

    Karena Allah adalah benar, maka Ia tidak dapat melakukan sesuatu yang tdak konsisten dengan diri-Nya. Janji-janji-Nya tidak pernah dapat diingkari atau tidak digenapi-Nya, seperti ditulis Paulus, ”Jika kita tidak setia, Da tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim. 2:13). Dan Alkitab adalah perkataan-Nya yang sungguh-sungguh benar dan tanpa salah, yang penulisannya merupakan ilham yang diberikan kepada para penulis, seperti ditulis Paulus, ”Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16).

    1. Esa

    Esa berarti bahwa hanya ada satu Allah yang tak dapat dibagi-bagi. Keesaan Allah merupakan sebuah pernyataan utama di dalam Perjanjian Lama seperti yang dicontohkan dalam “pengakuan iman Israel (Ibrani: shema; Arab: syahadah), yang arti harafiahnya, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN Esa” (Ul. 6:4). Ayat ini dapat diterjemahkan sebagai berikut: (1) “Tuhan adalah Allah kita, Tuhan itu esa”, yang menekankan keesaan-Nya. (2) “Tuhan adalah Allah kita, Tuhan saja”, yang menekankan keunikan-Nya yang kontras dengan dewa-dewa kafir.

    Perjanjian Baru pernyataannya yang jelas mengenai Trinitas, menguatkan kesatuan Allah, seperti ditulis Paulus, ”Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef. 4:6); ”Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6). Ini berarti bahwa Pribadi-pribadi dari Trinitas Allah bukan zat-zat yang terpisah di dalam zat ilahi yang satu. Allah adalah esa dalam jumlah dan keunikan. Satu-satunya Allah yang sebenarnya yang ada ialah Dia yang dinyatakan terutama dalam Alkitab dan dinyatakan oleh sifat-sifat atau kesempurnaan keberadaan-Nya.

    4. NAMA-NAMA ALLAH

     

    Banyaknya nama Allah di dalam Alkitab menyaksikan dan menggambarkan tentang sifat-sifat-Nya. Ini bukan sekedar nama yang diberikan oleh orang, tetapi merupakan penggambaran Allah tentang diri-Nya sendiri.

    Bahkan sekalipun tidak ada nama tertentu yang dipakai, ungkapan ”Tuhan” digunakan untuk menyatakan tentang sifat-Nya. Misalnya, menyerukan nama Tuhan sama artinya dengan menyembah-Nya. Musa menulis, ”Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal” (Kej. 21:33). Menyebut nama-Nya dengan sia-sia sama artinya dengan tidak menghormati-Nya, seperti ditulis Musa, ”Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Tidak mengikuti tuntutan hukum berarti mencemarkan nama-Nya, seperti juga ditulis Musa, ”Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis” (Im. 22:2). Nama-Nya menjanjikan kesinambungan bangsa Israel, seperti ditulis dalam 1 Samuel, ”Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, sebab nama-Nya yang besar. Bukankah TUHAN telah berkenan untuk membuat kamu menjadi umat-Nya” (1 Sam. 12:22).

    Bertalian dengan nama-nama Allah, maka nama-nama-Nya dapatlah digolongkan sebagai berikut:

    1. Nama Pribadi

    Nama pribadi dari Allah kita adalah Yahweh, yang pertama-tama digunakan oleh Hawa, seperti ditulis Musa, “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, istrinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” (Kej. 4:1). Nama Yahweh digunakan oleh orang-orang di zaman Set, sesuai tulisan Musa, “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kej. 4:26). Digunakan juga oleh Nuh, seperti ditulis Musa, ”Lalu katanya: Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya” (Kej. 9:26). Digunakan juga oleh Abraham, sesuai tulisan Musa, ”Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur. Lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN” (Kej. 12:8).

    Kepada Musa arti sesungguhnya dari Yahweh dibukakan. Ia berkata bahwa walaupun Ia telah menyatakan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, Ia belum dikenal oleh mereka dengan nama Yahweh. Arti yang paling lengkap dan dalam dari nama itu belum dikenal. Musa menulis, “Lagi Ia berfirman: Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah” (Kel. 3:6). Penyataan-Nya kepada Musa melalui belukar yang menyala, yang menyebut diri-Nya sebagai “AKU ADALAH AKU”, yang artinya Aku akan senantiasa ada dan yang akan ada; “Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (Kel. 3:14).

    Nama Yahweh menekankan keberadaan Allah yang tak berubah, seperti ditulis Yohanes, “Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Ia senantiasa menyertai umat-Nya, seperti yang ditulis Musa, “Lalu firman-Nya: Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini” (Kel. 3:12).

    Nama Yahweh berkaitan dengan kuasa Allah yang bekerja bagi umat-Nya Israel untuk memelihara perjanjian-Nya dengan mereka, yang dilukiskan dan dikuatkan oleh karya-Nya dalam melepaskan mereka dari Mesir, seperti ditulis Musa, “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir” (Kel. 6:6).

    Setelah kembali dari pembuangan di Babel, yakni sekitar tahun 450 sM, nama Yahweh yang merupakan nama pribadi dari Allah, oleh orang-orang Yahudi mulai dipandang sakral sehingga tidak mereka ucapkan lafalnya. Mereka merasa tidak sepatutnya untuk menyebut nama pribadi dari Allah mereka yang Mahakudus, Mahamulia, Mahaadil, Mahasuci. Mereka menganggap tidak etis. Nama umum yakni Adonai yang artinya majikan, penguasa, mereka jadikan ganti nama dimaksud. Pada masa inilah kita kenal dengan lahirnya Yudaisme atau agama Yahudi, dimana Ezra-lah yang dianggap sebagai pelopornya.

    Pada tahun 150 sM oleh 70 orang tua-tua Yahudi, Alkitab Perjanjian Lama yang tentu saja ditulis dalam bahasa Ibrani dan Aram, mereka terjemahkan ke dalam bahasa Yunani atau yang lebih dikenal dengan terjemahan Septuaginta (LXX). Terjemahan ini sering juga disebut sebagai terjemahan misioner. Baik nama Yahweh maupun Adonai, kedua-duanya mereka terjemahkan dengan menggunakan kata Yunani, ”Kurios”; Inggris, ”Lord”, yang juga artinya pemilik, penguasa. Untuk membedakan kedua nama dimaksud, maka Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menterjemahkan nama pribadi dari Allah yakni Yahweh dengan TUHAN, sedangkan Kurios diterjemahkan Tuhan.

    Secara teologis kita tidak dianjurkan untuk mencari, memanggil, menyebut nama Yahweh sebagaimana dalam agama Israel Kuno (Yahwisme), karena justru Yahweh sudah menyatakan diri-Nya atau menyingkapkan diri-Nya atau memperkenalkan diri-Nya kepada kita dalam diri Yesus. Yesus berasal dari kata Yunani, “Iesous”, dan dari kata Ibrani, “Y’hosyua” (singkatan dari Yahweh Hosyua) yang artinya “Yahweh Keselamatan”. Yahweh telah datang ke dunia dalam rupa  manusia Yesus untuk menyelamatkan kita. Dan karenanya para penulis Alkitab Perjanjian Baru baik Paulus, Petrus, dan lain-lain, dalam tulisannya tidak pernah menyebut nama Yahweh (Indonesia: “TUHAN”), tetapi Kurios, karena mereka mengerti bahwa Yesus Kristus adalah penyataan diri Yahweh. Untuk berjumpa dengan Yahweh secara pribadi dan memperoleh keselamatan, justru kita harus datang kepada Yesus, seperti ditulis Yohanes, “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Ibarat kalau kita mau berkunjung atau tinggal di Amerika, kita tidak harus meminta visa langsung kepada presiden Amerika, tetapi melalui duta besarnya yang ada di Jakarta.

    Nama-nama gabungan yang bertalian dengan Yahweh, yang merupakan gelar-gelar dalam memperingati suatu peristiwa tertentu, antara lain:

    1)   Yahweh-Yireh yang artinya Tuhan menyediakan semua kebutuhan dan keperluan kita. Pada waktu Allah meminta kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya sebagai korban persembahan bagi-Nya, maka Abraham sungguh-sungguh menuruti perintah Allah. Tatkala ia akan menyembelih anaknya yang tunggal itu, maka Allah berfirman: ”Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (Kej. 22:12). Dan Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai korban bakaran bagi-Nya sebagai pengganti Ishak, seperti ditulia Musa, ”Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: TUHAN menyediakan, sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: Di atas gunung TUHAN, akan disediakan” (Kej. 22:13-14).

    2)   Yahweh-Nissi yang artinya Tuhan adalah panji-panjiku. Pada waktu orang Israel berperang melawan orang Amalek, maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Pasukan Israel yang dipimpin oleh Yosua mengalahkan mereka. Musa menulis, “Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: TUHANlah panji-panjiku” (Kel. 17:15).

    3)   Yahweh-Shalom artinya Tuhan itu keselamatan. Pada waktu Gideon melihat malaikat TUHAN dengan berhadapan muka, maka ia menjadi sangat takut karena ketidaklayakannya itu. Namun Tuhan menjamin bahwa ia tidak akan mati. Kitab Hakim-hakim menulis, “Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer” (Hak. 6:24).

    4)   Yahweh-Sabbaoth artinya Tuhan semesta alam, sesuai tulisan dalam 1 Samuel, “Orang itu (Elkana) dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas” (1 Sam. 1:3). Para nabi memakai gelar ini untuk menyatakan bahwa Allah adalah pemimpin dan pelindung Israel, juga sesuai tulisan 1 Samuel, “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (1 Sam. 17:45).

    5)   Yahweh-Makkaddeshkem artinya Tuhan yang menguduskan. Dia yang menjadikan status umat Israel bahkan kita anak-anak-Nya, sebagai umat pilihan-Nya. Musa menulis, “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu” (Kel. 31:13).

    6)   Yahweh-Roi artinya Tuhan adalah gembalaku. Kita akan dipelihara, dijaga, dirawat oleh Dia, seperti ditulis Daud, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Maz. 23:1).

    7)   Yahweh-Tsidkenu artinya Tuhan adalah keadilan. Nabi Yeremia menubuatkan bahwa akan lahir seorang raja, ialah Yesus Kristus yang akan memerintah dengan bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran. Yeremia menulis, “Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN – keadilan kita” (Yer. 23:6).

    8)   Yahweh-Shammah artinya Tuhan hadir di situ, sesuai yang ditulis Yehezkiel, “Jadi keliling kota itu adalah delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR DI SITU” (Yeh. 48:35).

    9)   Yahweh-Allah-Israel artinya TUHAN adalah Allah Israel. Kitab Hakim-hakim menulis, “Dengarlah, ya raja-raja! Pasanglah telingamu, ya, pemuka-pemuka! Kalau aku, aku mau bernyanyi bagi TUHAN, bermazmur bagi TUHAN, Allah Israel” (Hak. 5:3).

     

    1. Nama Umum

    Di samping ada nama pribadi, juga ada nama-nama umum dari Allah kita, yang bertalian dengan karya-Nya, pemeliharaan-Nya kepada kita. Nama-nama dimaksud dapatlah disebutkan sebagai berikut:

    1. Tuhan

    Kata Tuhan diterjemahkan dari kata Ibrani, ”Adonai”; Yunani, ”Kurios”; Inggris, ”Lord”, yang artinya adalah majikan, pemilik, penguasa. Musa menulis, “Tuan-tuan, silahkanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya. Jawab mereka: Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang” (Kej. 19:2).

    Bila dipakai untuk hubungan antara Allah dan manusia, maka kata Adonai, Kurios dan Lord mengandung arti otoritas mutlak (Yunani ”exousia” yang artinya kuasa yang adil, sungguh dan tak terhalangi bertindak atau memiliki, mengontrol, memakai atau menguasai sesuatu atau seseorang). Yosua menulis, ”Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: Kawankah engkau atau lawan? Jawabnya: Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang. Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini” (Yos. 5:13-14). Paulus menulis, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan” (Kol. 3:22).

    Sewaktu Yesus Kristus hidup di bumi sebagai manusia, Ia disebut sebagai Tuhan, yang artinya rabi atau tuan. Matius menulis, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita” (Mat. 8:6). Tomas juga menganggap Dia sebagai Allah dan Tuhan sepenuhnya, seperti yang ditulis Yohanes, “Tomas menjawab Dia: Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28).

    Kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga menempatkan Dia sebagai Tuhan atas seluruh alam semesta, seperti ditulis Lukas, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (KPR. 2:36). Bagi orang Kristen mula-mula, Yesus sama dengan Allah dalam Perjanjian Lama. Mereka mengakui bahwa Ia adalah Tuhan, yang mengenakan sifat dan hakikat Allah. Ia  sebagai Yahweh dari Perjanjian Lama.

    1. Penguasa

    Kata penguasa diterjemahkan dari kata Yunani, “Despotes” mengandung arti kepemilikan. Allah-lah yang menjadi penguasa atas langit dan bumi serta segala isinya. Dialah pemilik atas semua ciptaan, termasuk kita umat-Nya. Lukas menulis, ”Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (KPR. 4:24).

    1. Bapa

    Bapa diterjemahkan dari kata Aram, ”Abba”, nama panggilan seorang anak terhadap ayahnya. Kata ini mengandung arti rasa hormat dan keakraban, tetapi orang Yahudi tidak pernah memakainya untuk Allah. Nampaknya Yesus-lah yang pertama-tama memanggil Allah dengan Bapa, dan memberi hak kepada para murid-Nya untuk berbuat demikian.

    Dalam teologi sebutan bapa terutama mengacu kepada oknum pertama dari Tritunggal. Karena oknum pertama dianggap sebagai sumber dari Allah yang ilahi, yakni melambangkan martabat, kehormatan dan kemuliaan Tritunggal, maka sebutan bapa dipakai menunjuk kepada-Nya. Petrus menyaksikan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1 Ptr. 1:17).

    Pengertian tentang Allah sebagai Bapa menunjuk kepada hubungan dasariah antara Allah dengan kita yang telah Ia ciptakan dalam gambaran-Nya. Hubungan alamiah itu meliputi pemberian hidup. Maleakhi mengatakan, “Bukankah kita sekalian mempunyai satu Bapa, bukankah satu Allah menciptakan kita?” (Mal. 2:10). Yesaya mengatakan, “Sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkau-lah yang membentuk kami; dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” (Yes. 64:8). Sebutan Bapa juga mengungkapkan hubungan perjanjian Allah kepada umat Israel. Dalam pengertian ini hubungan tersebut adalah hubungan kolektif, bukan hubungan perorangan. Israel sebagai umat perjanjian adalah anak Allah.

    Dalam Perjanjian Baru sebutan Bapa dipakai dalam pengertian khas dan sangat pribadi. Kristus memakainya terlebih dahulu, mengenai hubungan-Nya sendiri dengan Allah. Bahwa hubungan tersebut adalah unik. Allah adalah Bapa-Nya melalui kelahiran-Nya yang kekal. Dalam konteks penyelamatan, hal dimaksud dilihat dari dua segi yakni dari kedudukan kita di dalam Kristus dan dari pekerjaan Roh Kudus yang membaharui kita.

    1. a) Kita dalam persekutuan dengan Kristus diterima masuk ke dalam keluarga Allah dan dengan demikian diberikan hak istimewa sebagai anak-Nya. Paulus menulis, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris” (Rm. 8:17).
    2. b) Kita dianggap sebagai dilahirkan ke dalam keluarga Allah melalui kelahiran kembali. Oleh kedudukan kita yang baru (pembenaran) dan hubungan (pengangkatan) kepada Allah Bapa di dalam Kristus, kita diikutsertakan dalam kodrat ilahi dan dilahirkan ke dalam keluarga Allah (2 Ptr. 1:4).

    Allah disebut sebagai Bapa, yang memberikan kepada kita status sebagai anak-Nya, anugerah dan damai sentosa. Paulus menyaksikan, “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu” (Ef. 1:2). Ia yang memberikan kepada kita pemberian yang baik, sebagaimana disaksikan Yakobus, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yak. 1:17). Dia memberikan kepada kita perintah, sebagaimana yang ditulis Yohanes, “Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang kita terima dari Bapa” (2 Yoh. 4).

    Ajaran Yesus tentang ke-Bapa-an Allah dalam “Doa Bapa Kami” (Mat. 6:9-13), membatasi hubungan itu hanya bagi kita yang percaya kepada-Nya. Tidak pernah Ia menganggap dan memaksudkan hubungan ini terjadi antara Dia dan mereka yang tidak percaya. Hal itulah yang menyebabkan Ia mengatakan dengan sangat tajam kepada orang-orang Yahudi, ”Iblislah yang menjadi bapamu” (Yoh. 8:44a). Dalam hubungan bapa inilah ditunjukkan segi-segi dari tabiat-Nya yakni: kasih-Nya, seperti yang disaksikan oleh pemazmur, “Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan” (Maz. 36:6). Juga menyatakan pemeliharaan-Nya yang sempurna, seperti yang disaksikan Ayub, “Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku” (Ay. 10:12). Dan Ia menjanjikan karunia serta kesetiaan-Nya, seperti yang disaksikan pemazmur, “Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit” (Maz. 89:3).

    1. Yang Mahakudus Allah Israel

    Yang Mahakudus Allah Israel (Ibrani: qedosy Yisra’el) merupakan nama atau gelar yang digemari oleh Yesaya baik dalam nubuat-nubuatnya yang terdahulu maupun yang kemudian, dan juga dalam Yeremia dan Mazmur. Yesaya menyaksikan, “Celakalah bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat-jahat, anak-anak yang berlaku buruk! Mereka meninggalkan TUHAN, menista yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia (Yes. 1:4).

    1. Yang lanjut usia

    Yang lanjut usia (Aram: attiq yomin”) adalah gelar terhadap Allah yang merupakan gambaran yang diberikan oleh Daniel, yang menggambarkan Allah dan takhta pengadilan-Nya, mengadili kerajaan dunia yang besar. Daniel menyaksikan, “Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usia-Nya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar” (Dan. 7:9).

    1. El’ Olam

    El’ Olam artinya Allah yang kekal. Nama dimaksud dikenal tatkala Abraham mengadakan perjanjian dengan Abimelekh, maka ia menanam sebatang pohon tamariska di tempat dimana perjanjian itu diadakan, dan memanggil nama Allah. Musa menyaksikan, Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariksa di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal” (Kej. 21:33).

    1. El’ Elohe Israel

    El’ Elohe Israel artinya Allah adalah Allah dari Israel. Nama ini dikenal tatkala Yakub memperingati pertemuan yang baru saja ia alami dengan malaikat di tempat yang ia namakan Pniel (Ibrani: peni/-el artinya muka Allah). Jadi ia menerima Israel sebagai namanya dan taat beribadah kepada-Nya. Berkenaan dengan nama itu, Musa menulis, “Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: “Allah Israel ialah Allah” (Kej. 33:20).

    1. El’ Elyon”

    El’ Elyon artinya Allah yang Mahatinggi, adalah gelar dari Allah seperti yang disembah oleh Melkisedek. Bertalian dengan nama ini, Musa menulis, “Tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap” (Bil. 24:16).

     

    BERSAMBUNG  https://wartanasrani.com/detailpost/ketritunggalan-allah

  • PENGERTIAN TENTANG ALLAH

    PENGERTIAN TENTANG ALLAH

    Penulis:
    Tommy Lantang, M.Th., M.Pd.K
    Dosen Tetap STT PAIS JAKARTA
    Dosen Tidak Tetap Universitas Bhayangkara Jakarta
    Dosen Tidak Tetap Universitas Trilogi Jakarta
    Dosen Tidak Tetap STT Makedonia Jakarta
    Dosen Tidak Tetap STT Hasta Efata Indonesia Tarakan

     

    Kata Ibrani “elohim”; Yunani, “theos”; Inggris, “god” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata Allah, diambil dari kata Semit “el” yang bersumber dari kata “il”, yang artinya dewa, dan dalam bahasa Arab disebut “ilah”. Kata “il” bukan saja berkaitan dengan sesuatu yang ilahi tetapi berhubungan juga dengan nama utama ilah. Bahkan dewa orang Kanaan namanya ialah “il”.

    Istilah Allah sendiri berasal dari bahasa Arab, “al-ilah”. Kata “al” merupakan kata sandang yang definitif (Inggris: “the”; Indonesia: “sang”). Kata “ilah” sama artinya dengan “el”. Jadi kata “al-ilah” artinya sang Mahakuasa atau yang Mahakuasa. Kata “al-ilah” menurut peraturan baca bahasa Arab harus dibaca “al-lah”, karena huruf “i” di antara “al” dan “ilah”, tidak dibaca.

    Islam bersama dengan bahasa Arab yang masuk ke Indonesia abad ke 13, memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu. Dan kata Allah yang merupakan istilah Arab yang artinya sang Mahakuasa, yang Mahakuasa, dipakai oleh Melchior Leijdekker untuk menterjemahkan kata el atau elohim, dalam terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1733. Kata ini juga dipakai oleh Lembaga Alkitab Indonesia untuk menterjemahkan kata el atau elohim, sebagai Allah yang Mahakuasa, Mahaagung, Mahakasih, dan lain-lain.

    Kata Allah dipakai oleh 20 juta orang Kristen sampai hari ini di negara Arab, dan tidak pernah ada masalah, karena bagi mereka Allah sama dengan el atau elohim. Bahkan orang Yahudi di Arab menterjemahkan kata elohim dalam Perjanjian Lama dengan Allah. Di zaman jahiliah memang makna dan nilai sebutan Allah merosot. Istilah Allah pada waktu itu mereka samakan dengan dewa, patung-patung, berhala-berhala, namun maknanya kembali diperbaharui oleh Islam yang berkembang pada abad ke 7.

    Alkitab menyaksikan tentang fakta-fakta yang tidak dapat disangkal bahwa Allah kita dapatlah dijelaskan sebagai berikut:

    1)   Bahwa Allah kita tidak dapat dipahami oleh akal pikiran. Pikiran kita tidak mampu menguasai pengetahuan tentang Dia sebagai Allah yang Mahakuasa (transendensi). Dia tidak dapat disamakan dengan allah bangsa-bangsa lain, seperti ditulis Ayub, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” (Ay. 11:7). Yesaya juga menulis, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes. 40:18).

    2)   Walaupun Allah kita tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran kita, namun Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita dan dapat kita kenal di dalam diri Tuhan Yesus Kristus (imanen). Yohanes menulis, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7). “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”  (1 Yoh. 5:20).

    Pengetahuan tentang Allah dapat digolongkan dalam hubungan dengan sumbernya, isinya, keprogresifannya dan maksudnya. Allah sendiri adalah sumber pengetahuan kita tentang Dia. Tentu saja semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Hanya kebenaran sejati berasal dari Dia, karena sejak dosa masuk ke dalam dunia, manusia melakukan apa yang disebutnya kebenaran, tetapi yang sebenarnya tidak. Manusia telah menodai, menumpulkan, menipiskan dan merusakkan kebenaran yang datangnya dari Allah itu.

    Bagi kita sekarang, satu-satunya ukuran yang tak dapat salah untuk menentukan kebenaran yang sejati adalah firman Allah. Alam semesta walaupun menyatakan sesuatu tentang Allah, namun terbatas dan dapat saja kita salah membacanya. Pikiran kita walaupun banyak kali cemerlang di dalam prestasi, tetapi sebenarnya terbatas. Pengalaman-pengalaman kita sekalipun agamawi, tidak dapat dipercayai sebagai sumber pengetahuan akan Allah yang benar.

    Sudah tentu pengetahuan dari agama yang sejati harus berasal dari Allah. Di masa yang silam Yudaisme dinyatakan sebagai agama yang sejati dari Allah, namun sekarang digenapi dalam kekristenan. Dan pengetahuan yang sejati tentang kekristenan telah dinyatakan oleh Yesus dan para rasul-Nya. Dan salah satu maksud dari inkarnasi, adalah bahwa Ia menyatakan diri-Nya. Yohanes menulis, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya” (Yoh. 1:18). “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7).

    Janji akan datangnya Roh Kudus sesudah kenaikan Yesus Kristus ke sorga termasuk pernyataan selanjutnya mengenai Dia dan Bapa. Yohanes menulis, “Tetapi apabila Ia datang; yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:13). Roh Kudus membukakan mata rohani kita sehingga kita dapat mengerti akan isi Alkitab dan tentunya kita dapat mengenal Allah.

    Suatu pengetahuan yang lengkap tentang Allah ialah pengetahuan yang berdasarkan fakta-fakta dan juga bersifat pribadi. Mengetahui fakta tentang seseorang tanpa mengenalnya secara pribadi terbatas adanya; sebaliknya mengenal seseorang secara pribadi tanpa mengetahui faktanya adalah dangkal. Dan Allah sendiri telah menyatakan banyak fakta mengenai diri-Nya, yang kesemuanya penting agar hubungan kita dengan Dia boleh terjalin dengan intim.

    Seandainya Allah hanya menyatakan fakta tentang Dia tanpa kita mengenal Dia secara pribadi, maka pengetahuan itu sedikit sekali manfaatnya dan tidak memiliki manfaat dalam kekekalan. Hubungan antara kita dengan Allah yang bersifat pribadi itu akan membangkitkan kerinduan kita untuk mengetahui lebih banyak fakta tentang Dia yang kemudian memperdalam hubungan itu, yang pada gilirannya menambah kerinduan kita untuk lebih mengenal-Nya lagi.

    Pengetahuan akan Allah dan karya-Nya dinyatakan secara bertahap sepanjang sejarah. Bukti paling jelas ialah membandingkan teologi Yahudi yang belum lengkap itu dengan pernyataan yang lebih lengkap dari teologi Kristen dalam banyak hal, misalnya pada ajaran-ajaran seperti Allah Tritunggal, Kristologi, Roh Kudus, gereja Tuhan, akhir zaman, keselamatan, dan lain-lain.

    Pengetahuan tentang Allah penting kita pelajari dengan tujuan, sebagai berikut:

    1)   Dapat menuntun kita untuk memperoleh hidup yang kekal, sebagaimana ditulis Yohanes, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Paulus menulis juga, “Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4).

    2)   Untuk membantu pertumbuhan kerohanian kita, seperti ditulis Petrus, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya” (2 Ptr. 3:18). Dan pertumbuhan dimaksud dapat terjadi melalui pengetahuan yang bersifat pengajaran. Yohanes menulis, “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri” (Yoh. 7:17). Paulus menulis, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Ef. 1:18). Pertumbuhan dimaksud dapat juga terjadi melalui cara hidup yang mampu untuk memilih yang benar. Paulus menulis, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Flp. 1:9-10).

    3)   Mengingatkan kepada kita tentang penghukuman yang kekal, sebagaimana ditulis dalam kitab Ibrani, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka” (Ibr. 10:26-27). Hosea juga menulis, ”Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hos. 4:6).

    4)   Menyebabkan kita suka untuk menyembah Allah, sebagaimana ditulis Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rm. 11:36).

    Pengetahuan tentang Allah berbeda dengan pengetahuan yang lain. Di dalam pengetahuan akan Dia, kita hanya dapat memperolehnya sejauh Dia menyatakannya kepada kita. Jika Dia tidak mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya, mustahil kita dapat mengenal-Nya. Dalam ilmu pengetahuan lainnya, kita sering menempatkan diri di atas obyek penyelidikan, tetapi tidaklah demikian dalam mempelajari tentang Allah. Kita harus menempatkan diri di bawah Dia yang adalah obyek pengetahuan itu.

    Suatu bagian penting dari penyataan Allah ialah menyediakan cara untuk menyampaikan penyataan itu. Juga penyataan pribadi Allah di dalam Kristus itu memberikan beberapa cara dalam menyampaikan penyataan itu. Untuk maksud inilah Allah memberikan bahasa. Ia memberikan bahasa kepada Adam dan Hawa bahkan kepada kita semua, agar supaya Dia dapat menyampaikan perintah-perintah-Nya kepada mereka. Musa menulis, “Alah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej. 1:28). Juga dimaksudkan supaya Allah dapat berkomunikasi dengan mereka. Musa menulis, “Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: Apakah yang telah kau perbuat ini? Jawab perempuan itu: Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (Kej. 3:13).

    Sekalipun bahasa manusia telah terpecah-pecah menjadi banyak bahasa di Babel pada zaman Nimrod, bahasa tetap merupakan sarana komunikasi pada segala tingkatan. Kita percaya bahwa Allah telah menyediakan bahasa untuk menyampaikan pernyataan mengenai diri-Nya kepada kita.

    Tatkala Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, Ia menciptakan manusia sebagai makhluk rasional yang cerdas dan mampu untuk berpikir, walaupun memang intelegensia kita tidak sama dengan intelegensia-Nya. Karena itu kita mempunyai kemampuan untuk mengerti kata-kata, kalimat serta paragraf. Namun dosalah yang membuat pengertian kita tidak dapat diandalkan, tetapi dosa tidak melenyapkan kemampuan dan pengertian kita.

    Allah telah memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita guna menyatakan perkara-perkara dari Dia, sebagaimana  Paulus menulis, “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Kor. 2:10). Hal ini tidak menjadikan kita tidak dapat keliru, tetapi memberikan kepada kita kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Yohanes menulis, “Sebab di dalam diri kamu telah ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (1 Yoh. 2:27).

    Semua karya Allah memungkinkan kita mengetahui dan mentaati perintah-perintah-Nya yang tertulis dalam Alkitab guna mengenal-Nya. Yakobus menulis, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

     

    1. PENYATAAN ALLAH

    Kata penyataan diterjemahkan dari kata Ibrani, “gala”; Yunani, “apokalupto”; Latin, “revelo”, artinya membuka selubung yang tersembunyi. Karena itu bila Alkitab berbicara tentang penyataan, maka pemikiran yang dimaksudkannya ialah Allah aktif membuka bagi manusia kuasa dan kemuliaan-Nya, hakikat dan sifat-Nya, kehendak, jalan dan rencana-Nya. Pendek kata Ia menyingkapkan tentang diri-Nya sendiri, supaya manusia dapat mengenal-Nya.

    Perbendaharaan kata mengenai penyataan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru cukup luas, meliputi gagasan-gagasan tentang: membuat hal-hal yang samar-samar menjadi jelas, membuat hal-hal yang tersembunyi menjadi terang, memperlihatkan tanda-tanda, mengucapkan kata-kata, dan membuat orang-orang yang menjadi obyek penyataan, melihat, mendengar, merasa, mengerti dan mengetahui.

    Dari sudut isinya, penyataan Allah adalah menerangkan dan juga menyuruh, dan dalam setiap hal adalah normatif. Penyingkapan-penyingkapan oleh Allah selalu dilakukan dalam konteks tuntutan untuk percaya kepada, dan taat terhadap apa yang dinyatakan – suatu tanggapan, yaitu yang seluruhnya ditentukan dan dibatasi oleh penyataan itu sendiri. Dengan kata lain, penyataan Allah datang kepada kita bukan sebagai penerangan tanpa kewajiban, melainkan sebagai peraturan yang bersifat perintah berkaitan dengan iman dan tingkah laku. Hidup kita harus ditata, bukan oleh gagasan dan angan-angan sendiri, bukan pula oleh dugaan-dugaan mengenai hal-hal yang ilahi yang tidak dinyatakan, melainkan oleh kepercayaan yang khidmat mengenai semua apa yang dikatakan oleh Allah kepada kita, yang membimbing kita kepada kepatuhan yang sungguh-sungguh mengenai segala perintah yang terkandung dalam penyataan. Musa menulis, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita  dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul. 29:29).

    Alkitab seluruhnya menganggap bahwa Allah haruslah lebih dulu menyingkapkan diri-Nya sebelum kita dapat mengenal Dia. Gagasan Aristoteles (384-322 sM) tentang Allah yang tidak aktif yang dapat ditemukan dengan melakukan suatu penalaran, adalah tidak beralasan sama sekali. Diperlukan lebih dulu suatu prakarsa penyataan, sebab Allah adalah transenden. Dia di dalam cara berada-Nya adalah begitu jauh dari kita sehingga kita tidak dapat melihat Dia, sebagaimana ditulis Yohanes, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18).

    Manusia tidak dapat menemukan Dia dengan mencari-Nya, ataupun membaca pikiran-pikiran-Nya dengan terkaan yang cerdik. Bahkan seandainya kita tidak jatuh dalam dosa, kita tidak dapat mengenal-Nya tanpa penyataan-Nya. Dalam kitab Kejadian, dinyatakan bahwa Ia berbicara kepada Adam yang belum jatuh ke dalam dosa, sebagaimana ditulis Musa, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas” (Kej. 2:16).

    Ada dua cara Allah dalam mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, antara lain:

    1. Penyataan Allah secara umum, yang mencakup segala sesuatu yang dinyatakan Allah di dalam dunia di sekitar kita, termasuk manusia. Penyataan umum sering disebut sebagai teologi naturalis (prelapsarian).
    2. Penyataan Allah secara khusus; mencakup berbagai cara yang dipakai Allah untuk menyampaikan ilham-Nya yang ditulis di dalam Alkitab. Penyataan khusus disebut teologi yang diilhamkan (postlapsarian) atau yang bersifat penyelamatan. Namun demikian, baik penyataan umum maupun penyataan khusus semuanya adalah “dari Allah dan tentang Allah sendiri”.

     

    1. Penyataan Allah Secara Umum

    Penyataan Allah yang umum dapat dilihat melalui alam semesta, sejarah dan hati nurani manusia. Penyataan umum ini disampaikan lewat fenomena yang terjadi dalam alam atau dalam alur sejarah. Penyataan itu ditujukan kepada semua makhluk yang berakal sehingga mereka dapat memahaminya. Penyataan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan alamiah kita serta meyakinkan kita, agar kita mencari Allah yang benar.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui alam semesta

    Para sarjana ilmu alam  yang menolak gagasan tentang adanya Allah dan beranggapan bahwa alam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak mampu melihat penyataan Allah melalui alam. Kaum panteisme yakni ajaran yang menyamakan Allah dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam, yang mengidentikkan Allah dengan “segala sesuatu”, “universum”, juga tidak mampu melihat penyataan-Nya yang adikodrati melalui alam semesta. Mata rohani mereka tertutup dan tidak mampu untuk melihat hal-hal yang sifatnya rohani.

    Para sarjana teologi kritis juga tidak mampu melihat penyataan Allah melalui alam. Bahkan para filsuf yang bersifat skeptis dan kritis menyatakan bahwa apa yang kita anggap sebagai penyataan Allah melalui alam itu tidaklah lebih daripada sekadar kebenaran yang samar-samar yang diperoleh khususnya melalui pengajaran dalam kekristenan.

    Namun secara jujur kita harus berkata bahwa kita telah melihat penyataan Allah melalui alam semesta. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan, namun ada suatu Pribadi yang telah menjadikannya. Pemazmur menulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Maz. 19:2). Penyataan Allah yang terlihat melalui alam semesta menunjukkan bahwa Dia ada dan bahwa Dia memiliki sifat-sifat sebagai: Mahakuasa, Mahamulia, Mahabaik, Allah di atas segala allah.

    Selama berabad-abad manusia mengagumi rahasia antariksa sambil bertanya-tanya rahasia-rahasia apakah yang terpendam di angkasa luar? Selama abad pertengahan, gereja berusaha mencegah manusia untuk memandang alam semesta melalui teleskop. Para pemimpin gereja merasa takut jika manusia menyelidiki antariksa itu dengan begitu mendalam, dan kemudian mereka mungkin menemukan hal-hal yang menggoncang iman mereka. Namun ketika manusia menemukan sarana-sarana yang lebih besar dan lebih baik untuk menyelidiki antariksa, imannya kepada Allah semakin besar, sebagaimana ditulis oleh pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia” (Maz. 19:2-4). Tidak ada rintangan bahasa terhadap berita yang dipancarkan melintasi langit yang menceritakan tentang Allah. “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia” (Maz. 19:4,5a).

    Sebelum teleskop ditemukan, manusia menghitung bintang yang dapat mereka lihat dan teliti dan menyimpulkan bahwa di angkasa hanya ada 5.119 bintang, namun sudah berabad-abad Alkitab mengatakan, “Seperti tentara langit tidak terbilang” (Yer. 33:22). Sekarang apabila kita mengarahkan teleskop ke antariksa, akan didapati bahwa banyak titik-titik cahaya yang kecil sekali berkelap-kelip di langit bukan hanya bintang, tetapi merupakan bima sakti-bima sakti yang terdiri dari berjuta-juta matahari yang bersinar seperti matahari kita. Dan di sekeliling matahari-matahari yang tak terhitung jumlahnya ini terdapat planet-planet yang juga tidak terhitung banyaknya, yang bergerak bersama-sama mengelilingi ruang angkasa. Jika alam semesta ini dibagi rata, maka kita akan sampai pada angka 100 milyar bima sakti masing-masing terdiri atas 200 sampai 500 milyar bintang, dan setiap bintang satu juta kali lebih besar dari bumi kita.

    Tampaknya tidak masuk akal! Namun Allah menggunakan dua ilustrasi yang dapat menolong kita  agar mengerti sedikit lebih baik mengenai kehebatan semua hal itu. Allah membawa Abraham keluar dari rumah dan menyuruhnya menghitung bintang-bintang, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang – jika engkau dapat menghitungnya”. Kemudian Ia menambahkan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej. 15:5). Kemudian Allah membawa Abraham ke tepi laut Mati pada saat yang lain dan berkata kepadanya, “Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut” (Kej. 22:17).

    Seorang ahli perbintangan mengatakan bahwa jikalau kita dapat menghitung semua biji pasir di semua tepi pantai di dunia, maka kita akan tahu jumlah biji pasir itu sudah mendekati jumlah bintang-bintang di langit. Bila nantinya kita berada di tepi pantau bolehlah kita coba-coba menghitung berapa jumlahnya biji pasir yang berada dalam satu ember penuh. Bukankah menakjubkan sehingga Daud berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (Maz. 8:4-5a).

    Terkesan karena matahari dan bima sakti yang mungkin tak terhitung jumlahnya itu, maka ukuran semesta alam di mana kita hidup bahkan lebih dahsyat. Manusia sudah menempuh perjalanan hampir 250 ribu mil menjelajah angkasa luar dengan Apollo 11, Neil Amstrong dan Edwin Aldrin berjalan-jalan di bulan, tetapi itu sesungguhnya bukanlah suatu perjalanan yang jauh. Bulan adalah tetangga kita yang paling dekat. Bintang tedekat dengan bumi adalah matahari adalah lebih dari pada sejuta kali besarnya bumi kita dan jauhnya 93 juta mil dari bumi kita. Di samping matahari, bintang terdekat dengan bumi adalah Proxima Centauri, lebih dari pada empat tahun cahaya jauhnya, atau sekitar 24 triliun mil dari bumi.

    Sulit bagi pikiran kita untuk mengerti dunia-dunia yang tak terhitung jumlahnya, angkasa raya yang tidak terukur, dan rancangan rumit semesta alam ini. Namun semesta alam yang luar biasa rumitnya ini berjalan dengan lancar seperti sebuah jam berkualitas baik yang disetel dengan baik. Bermilyar-milyar bima sakti, masing-masing menempuh perjalanan dengan kecepatan ajaib ke arah yang sudah ditentukan melintasi langit, kadang-kadang berpapasan satu dengan yang lainnya, sama seperti pemain ski air dalam tarian ballet.

    Yesaya mengungkap kuasa di belakang tangan yang menentukan perputaran yang hebat itu, yang membuat jam antariksa bergerak terus, seperti ditulisnya, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tidak hadir, oleh sebab Ia Mahakuasa dan Mahakuat” (Yes. 40:25-26).

    Apakah kita mempelajari atom-atom yang kecil sekali atau bima sakti-bima sakti raksasa. Kita menemukan rancangan dan susunan luar biasa seorang ahli pikir dan ahli perancang. Semua ciptaan menjadi saksi bagi pencipta. Kalimat pertama dalam Alkitab dengan jelas menyebutkan pencipta tersebut, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Bagi kita, iman dimulai dengan suatu kesadaran bahwa suatu hikmat yang melebihi segala sesuatu membuat semesta alam menjadi ada dan membuat manusia jadi tercipta. Tidaklah sulit bagi kita untuk memiliki iman ini karena memang tidak dapat disangkal bahwa dimana ada suatu rencana, maka di sana pasti ada hikmat. Semesta alam yang berjalan teratur menyaksikan kebenaran pernyataan yang paling agung, “Pada mulanya Allah”.

    Oleh firman Allah langit telah dijadikan, sebagaimana ditulis pemazmur, “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Maz. 33:6,9). Allah menggunakan kuasa-Nya yang tidak terbatas itu dan membentuknya menjadi sesuatu. Yeremia menulis, “Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya” (Yer. 10:12).

    Kemudian ada juga kuasa besar Allah di cakrawala. Jikalau matahari sedikit lebih besar atau sedikit lebih dekat dengan bumi, maka lautan kita akan mendidih, Jikalau matahari sedikit lebih kecil atau sedikit lebih jauh dari bumi, maka atmosfir kita akan menjadi beku. Dengan demikian tidak ada kehidupan di bumi. Tetapi Allah bukan hanya menciptakan saja, melainkan Ia pun memelihara semua ciptaan itu.

    Bilamana kita memandang semua keajaiban di alam, sekali lagi kita melihat bukti bahwa Allah semesta alam  memang memelihara kita dan mau menolong kita. Ia mengetahui semua keperluan kita dan Ia memiliki kuasa untuk menyediakan keperluan-keperluan tersebut. Yeremia menulis, “Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu” (Yer. 32:17).

    Harus kita akui bahwa memang penyataan Allah melalui alam semesta terbatas sifatnya karena sekalipun penyataan itu membuat kita mengakui keberadaan-Nya, namun hal itu tidak dapat menuntun semua orang untuk menemukan keselamatan. Penyataan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk mendorong kita dalam mencari penyataan yang lebih lengkap tentang Dia serta rencana keselamatan-Nya. Juga penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Dia kepada kita agar datang kepada-Nya. Kita perlu mencari dan menemukan penyataan khusus dari Allah yang akan membawa kita kepada pengenalan akan Dia sebagai Pribadi yang hidup yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus. Dialah wujud penyataan Allah yang sanggup memberikan keselamatan kepada kita.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui sejarah

    Pemazmur membuat suatu pernyataan yang tegas sekali bahwa nasib kita berada di tangan Tuhan, ketika ia menulis, “Sebab bukan dari timur atau dari barat, dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Maz. 75:7-8). Lukas juga menulis, “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia” (KPR. 17:26-27).

    Berdasarkan pernyataan tersebut, kita dapat menemukan dalam sejarah, penyataan tentang kuasa dan pemeliharaan Allah yang luar biasa. Kitab Keluaran menyaksikan bahwa sungguh Allah dengan kuasa-Nya yang tak terbatas telah menuntun bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir untuk menuju tanah yang telah dijanjikan kepada para leluhur mereka. Sebagai umat pilihan-Nya, secara ajaib mereka boleh keluar dari Mesir, melewati laut Kolsum, dan mengalami pemeliharaan-Nya selama empat puluh tahun di padang gurun, dan semua kebutuhan  mereka dipenuhi oleh-Nya.

    Ketika seluruh dunia terjerumus ke dalam politeisme, Abraham, Ishak, Yakub serta keturunan mereka dapat mengenal Allah, sebagai Allah yang benar, tak terbatas, kudus, pencipta, pemelihara dan penguasa alam semesta ini. Namun peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mereka dalam menjalankan agamanya, melainkan karena Allah menyatakan diri-Nya kepada mereka melalui sejarah. Dia sendiri menampakkan diri kepada para leluhur, memperkenalkan diri-Nya dan menyatakan kehendak-Nya melalui mimpi, penglihatan. Dia menyampaikan amanat-Nya langsung kepada mereka, dan mengungkapkan sifat-Nya yang kudus dalam hukum-hukum Taurat, sistem persembahan korban, dan kebaktian dalam kemah perhimpunan dan Bait Suci.

    Sekalipun Israel itu hanya merupakan bangsa yang kecil yang hidup di daerah yang terpencil, dan hampir tidak memiliki hubungan dagang dengan dunia di sekitarnya, mereka tetap merupakan bangsa yang diperhatikan oleh Allah, sehingga Musa menulis, “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ul. 28:2). Ketika Allah mengancam akan membinasakan mereka di padang gurun akibat dosa pemberontakan, ketidakpercayaan, penyembahan berhala yang telah mereka perbuat, Musa memohon dengan sangat kepada-Nya untuk mengasihani mereka itu demi kehormatan-Nya. Dia menulis, “Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu” (Kel. 32:11-12).

    Pada waktu Israel taat kepada Allah, mereka mengalahkan bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari mereka. Musa menulis, “Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Hebus, tujuh bangsa yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu” (Ul. 7:1). Tetapi ketika mereka mengikuti jalan mereka sendiri, Allah menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa lain untuk menindas dan kemudian mereka dibuang ke Babilonia. Namun ketika mereka bertobat dan berseru kepada Allah, maka Dia mengutus seorang pembebas dan memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka.

    Setiap kali bangsa Israel menjauh dari Allah, mereka mengalami musim kering berkepanjangan, bencana belalang, dan kekalahan dalam perang. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa dalam semua pengalaman Israel, Allah menyatakan diri-Nya bukan saja kepada mereka, tetapi juga melalui mereka kepada seluruh dunia. Setiap bangsa boleh mengenal sesungguhnya yang menjadi Allah Israel ialah TUHAN yang menciptakan langit dan bumi, yang berdasarkan hak prerogatif-Nya telah memilih mereka, memberkati mereka dan menjadikan mereka berkat bagi semua bangsa. Setiap bangsa boleh mengakui bahwa Allah Israel adalah Allah yang perkasa, dahsyat, yang tidak dapat dipahami oleh akal pikiran manusia namun yang menyertai dan yang berperang bagi mereka.

    Sebagai umat Tuhan, kita pun dapat berkata bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang baik, yang senantiasa membimbing, menuntun, memelihara kehidupan kita. Semua kebutuhan kita dipenuhi-Nya, semua masalah hidup kita diberikan jalan keluar yang terbaik. Ia tidak pernah terlambat untuk menolong kita dan tidak pernah lalai dalam menepati janji-Nya. Apa yang dinyatakan dalam Alkitab semuanya digenapi-Nya. Jadi tidaklah kebetulan ketika kita ada di tengah-tengah dunia ini, semuanya karena Tuhan, oleh Tuhan dan untuk hormat bagi nama Tuhan.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui hati nurani manusia

    Secara etimologi hati nurani diterjemahkan dari kata Yunani, “syneidesis” yaitu alat yang dengannya orang memahami tuntutan moral Allah, dan yang menyebabkan derita baginya jika ia tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Karena itu perlu sekali hati nurani kita dibina secara wajar dan sungguh-sungguh diberi penerangan oleh Roh Kudus. Hati nurani bukanlah sesuatu yang berdaya cipta, melainkan sesuatu yang mampu membedakan dan mendorong. Hati nurani menentukan apakah suatu kelakuan atau sikap kita selaras dengan standar moral atau tidak. Hati nurani mendorong kita untuk melakukan apa yang selaras dengan standar tersebut serta menjaga agar kita tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengannya. Kesadaran tentang benar dan salah yang ada pada kita itulah yang  membedakan antara benar dan salah serta mendorong kita melakukan apa yang benar. Itulah yang merupakan penyataan dari Allah. Hati nurani merupakan pencerminan Allah dalam jiwa kita.

    Sebagaimana cermin dan permukaan air danau yang tenang mencerminkan matahari serta menyingkapkan bukan saja keberadaan matahari itu tetapi juga sifatnya, demikian pula hati nurani menyingkapkan bahwa Allah itu ada dan Dia juga menyingkapkan sifat-Nya. Hati nurani kita menyingkapkan bukan saja bahwa Dia ada, tetapi bahwa Dia membedakan antara yang benar dan yang salah. Paulus menulis, “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus” (Rm. 2:14-16). Bahwa karena Dia melakukan yang benar karna sifat-Nya yang benar itu, maka Ia menuntut pertanggungjawaban kita untuk selalu melakukan yang benar dan menjauhi yang salah.

    Hati nurani juga menyiratkan bahwa setiap pelanggaran kita akan dihukum. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa hati nurani kita merupakan penyataan dari Allah. Hati nurani menunjukkan bahwa ada hukum benar dan salah yang nyata di alam semesta ini, dan bahwa ada pembuat hukum tertinggi yang mewujudkan hukum tersebut, yakni Allah.

     

    1. Penyataan Allah Secara Khusus

    Yang dimaksud dengan penyataan khusus ialah tindakan-tindakan Allah yang dengannya Dia memperkenalkan diri-Nya serta kebenaran-Nya secara khusus pada saat-saat tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Namun sekalipun penyataan khusus ini diberikan kepada orang-orang tertentu dan pada saat-saat tertentu, penyataan ini tidak selalu diperuntukkan kepada seseorang saja, tetapi diperuntukkan kepada semua orang.

    Penyataan khusus ini adalah bagian harta kekayaan yang harus disampaikan kepada seluruh manusia. Lukas menulis, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (KPR. 1:8). Penyataan khusus itu diungkapkan kepada kita melalui berbagai cara, antara lain dalam bentuk mujizat, nubuat, dalam diri dan karya Yesus Kristus, dalam Alkitab dan dalam pengalaman pribadi.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui mujizat

    Alkitab menggunakan kata Ibrani, “gevura”; Aram, “temah”; Yunani, “teras”, untuk mengartikan pekerjaan Allah. Semuanya diterjemahkan dengan tanda atau mujizat. Hal yang paling membingungkan mengenai mujizat timbul karena manusia gagal melihat bahwa Alkitab tidak membedakan pemeliharaan Allah yang tetap dan berdaulat dari tindakan-tindakan-Nya yang khas dan istimewa. Kepercayaan kepada mujizat dikaitkan dengan pandangan dunia yang memandang seluruh ciptaan tergantung pada Allah yang terus menerus bekerja dan menopang ciptaan-Nya, dan tunduk kepada kehendak-Nya yang berdaulat.

    Kendati keberatan-keberatan apriori terhadap cerita-cerita mujizat tidak berlaku, namun tetap tinggal pertanyaan, apa sebenarnya peranan peristiwa-peristiwa luar biasa itu dalam seluruh penyataan diri Allah dalam sejarah. Para teolog ortodoks (Yunani: ”orthos” artinya lurus, benar; ”doxa” artinya pendapat, pandangan), menganggap mujizat sebagai tanda otentik dari nabi-nabi Allah, rasul-rasul-Nya dan terutama Yesus Kristus. Mujizat adalah sarana untuk melihat apa yang selalu dilakukan Allah dan untuk melihat siapa sebenarnya Dia. Mujizat adalah jendela-jendela ke arah kenyataan kebenaran Allah.

    Akhir-akhir ini para kritikus liberal mempersoalkan bahwa cerita-cerita mujizat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki ciri yang sama dengan cerita mujizat  dari para allah kafir  dan nabi-nabi mereka. Pandangan mereka menyiratkan bahwa mereka tidak mengakui hubungan yang erat antara cerita-cerita mujizat  dengan seluruh penyataan diri Allah.

    Mujizat sejati sifatnya supra-alami, yang merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa, yang bermanfaat untuk menyingkapkan kehadiran dan kuasa Allah, sedangkan mujizat palsu adalah suatu bentuk tipuan yang dilakukan oleh Iblis. Dalam hal ini Matius menulis, “Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:24).

    Saat terjadinya suatu mujizat, sifatnya sungguh ajaib dan bertentangan dengan hukum alam seperti terlihat dalam peristiwa terbelahnya laut Kolsum. Mujizat dimaksud merupakan penyataan yang khusus tentang kehadiran dan kuasa Allah. Mujizat itu membuktikan keberadaan, kehadiran, kepedulian-Nya. Pada saat sebuah mujizat terjadi, Allah sedang membuktikan kepada kita bahwa Dia adalah Allah yang hidup, menguasai alam semesta, dan mampu juga untuk mengatasi semua masalah yang kita hadapi. Mujizat pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada pesta perkawinan di Kana, membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kualitas hidup kita (Yoh. 2:1-11); Lazarus yang sudah empat hari mati dan dibangkitkan oleh Yesus, membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kematian (Yoh. 11:1-44). Ketika Yesus berjalan di atas air, hal itu membuktikan bahwa Dia berkuasa atas alam semesta (Yoh. 6:16-21). Ketika Dia sanggup memberi makan lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan, hal ini membuktikan bahwa kuasa pemeliharaan-Nya berlaku atas umat-Nya dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.

    Golongan panteisme atau mereka yang menyamakan Allah dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam, secara apriori menolak adanya mujizat. Bagi mereka alam semesta merupakan sebuah mesin yang dapat memelihara diri dengan usahanya sendiri. Mujizat bagi mereka mustahil karena dianggap melanggar hukum-hukum alam, juga tidak masuk akal karena bertolak belakang dengan pengalaman manusia. Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum alam dapat berdiri sendiri dan tanpa pengaruh, pengarahan dan pemeliharaan dari luar.

    Kita mengakui bahwa hukum-hukum alam itu tidak sepenuhnya dapat berdiri sendiri karena kuasa saja tidak dapat memelihara dirinya dan tidak dapat bekerja menurut maksud tertentu. Untuk itu diperlukan suatu kuasa yang tak terbatas, dan kuasa itu searah dalam segenap kegiatannya, baik yang berkaitan dengan benda maupun yang berkaitan dengan akal, tanpa merusak semuanya itu. Dialah Allah yang memiliki kuasa itu. Dan kalau Allah melakukan hal itu mengapa kita menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hukum alam, bila Dia berkenan meningkatkan atau menambahkan kekuatan hukum-hukum alam, bertindak tidak searah dengan hukum-hukum itu atau bertindak terlepas dari hukum-hukum tersebut.

    Kebangkitan Tuhan Yesus adalah merupakan salah satu fakta dalam sejarah. Kitab-kitab Injil semuanya meyakinkan kita bahwa Dia benar-benar mati dan telah bangkit dari kematian-Nya. Banyak para pengikut-Nya yang melihat bahwa Dia ada dalam keadaan hidup beberapa hari setelah penyaliban-Nya. Mereka begitu yakin akan kebangkitan-Nya, sehingga dengan berani mereka menyaksikan peristiwa tersebut di depan umum di kota Yerusalem. Para murid Yesus telah mengorbankan status sosial, harta benda dan nyawa mereka untuk menyaksikan kebangkitan-Nya itu. Paulus memakainya sebagai bukti bahwa semua  orang percaya  suatu hari akan dibangkitkan juga, sehingga ia menulis, “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1 Kor. 15:13).

    Monsignor Giulio Ricci meneliti kain kafan (Yunani: sindon) yang disimpan di kota Turin-Italia Utara selama lebih dari 27 tahun dengan dibantu oleh ilmu-ilmu pengetahuan modern. Dari penyelidikan dimaksud banyak hal ditemukan dan diungkap tentang Yesus sebagai manusia yang menderita; tentang penderaan-Nya, pemahkotaan duri di kepala-Nya, pemanggulan salib, perjalanan salib dan penyaliban serta kematian-Nya. Tentang lambung-Nya yang ditusuk tombak dan pemakaman-Nya. Jadi kain kafan Turin diyakini sebagai kain kafan yang dipakai oleh para murid Yesus untuk membungkus jenazah-Nya waktu Ia dimakamkan. Yohanes menulis, “Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat” (Yoh. 19:40). Pada waktu Yesus bangkit dari antara orang mati, kain kafan ditinggalkan di dalam kubur. Dan dapat dipastikan bahwa para rasul membawa kain kafan itu ke Yerusalem dan menyimpannya di sana.

    Pada tahun 1005 ketika Yerusalem diserbu dan diduduki oleh orang-orang Turki, orang-orang Kristen melarikan diri dari Yerusalem ke Konstantinopel (sekarang Istambul). Harta gereja dan barang-barang suci yang sangat berharga mereka bawa serta, termasuk kain kafan. Namun Konstantinopel pun tidak luput dari serbuan orang-orang Turki, dan banyak relikui-relikui suci yang hilang, namun kain kafan masih tetap aman dan utuh. Tetapi kota Konstantinopel terus menerus menjadi bulan-bulanan serangan orang-orang Turki. Maka selama perang-perang salib berikutnya, diamankanlah barang-barang suci dari sana. Pada tahun 1353 kain kafan diketahui berada di tangan keluarga Geoffrey de Charny dari Perancis. Pada tahun 1452 kain kafan itu dipertukarkan dengan sebuah tanah dan puri yang ada di atasnya oleh Pangeran Louis Savoie. Dan ia menyimpannya di sebuah kapel yang indah di Chambery. Pada tahun 1532 ketika terjadi kebakaran di kapel tersebut, lipatan-lipatan kain kafan itu hangus, namun telah diperbaiki pada tahun 1534, oleh para suster di Chambery. Pada tahun 1578 Emmanuele Filibert II, raja Savoie, memindahkan kain kafan dimaksud ke Turin, untuk memperpendek perjalanan Karolus Borromeus, uskup agung Milan, yang ingin menghormati kain kafan.  Dan sampai saat ini kain kafan tersebut tetap menjadi milik dari keluarga Louis Savoie, dan ditempatkan di sebuah kapel yang dirancang dan dibangun secara khusus di kota Turin. Jadi kain kafan ini merupakan bukti sejarah bahwa sesungguhnya Yesus benar-benar telah mati namun pada hari yang ketiga Ia telah bangkit dari antara orang mati. Dia hidup!   Sungguh suatu mujizat yang luar biasa.

    Bila kita percaya bahwa kebangkitan Yesus Kristus merupakan fakta sejarah maka kita juga pasti percaya akan mujizat-mujizat, dan akhirnya kita percaya bahwa mujizat masih saja terjadi. Mujizat bahkan juga tidak bertolak belakang dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kita semua memiliki kesaksian bahwa Allah menjawab doa-doa yang kita panjatkan. Kita yakin bahwa Ia telah mengadakan mujizat demi kepentingan kita atau demi kepentingan orang yang kita doakan. Kita yakin bahwa hukum-hukum alam tidak dapat menjelaskan hal-hal yang telah kita saksikan dan alami dalam kehidupan kita. Secara lebih khusus lagi kita berkali-kali dapat melihat mujizat pembaharuan hati  yang sampai kini pun masih tetap berlangsung. Kita tidak dapat mengubah muka, warna kulit kita, namun secara ajaib Allah dapat dan telah mengubah hati kita yang percaya kepada-Nya.

    Mujizat bukanlah melulu penyuguhan lahiriah dari penyataan tapi merupakan bagian intinya, dan tujuannya yang sebenarnya  adalah memupuk iman kepada kuasa campur tangan Allah untuk menyelamatkan kita. Mujizat dimaksudkan untuk memperdalam pengertian kita tentang Allah. Mujizat adalah media-Nya untuk berbicara secara dramatis kepada orang-orang yang memiliki telinga untuk mendengar. Mujizat berkaitan langsung dengan iman para pengamat atau orang-orang yang terlibat langsung, dan dengan iman orang-orang yang akan mendengar atau membaca Alkitab. Yohanes menulis, “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mara murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:30-31). Yesus mencari iman sebagai tanggapan atas kehadiran-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menyelamatkan. Imanlah yang membuat utuh dan membuat perbedaan antara pengungkapan yang murni ciptaan dan komunikasi yang menyelamatkan dari penyataan-Nya.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui nubuat

    Nubuat dalam pemakaian umum Perjanjian Lama diterjemahkan dari kata kerja Ibrani: “khaza” dapat disejajarkan dengan kata kerja “ra’a”, dimana keduanya dipakai sehubungan dengan ramalan, pengamatan akan arti kejadian-kejadian dan akan penafsiran watak. Keduanya dipakai bagi penglihatan dan bagi keaktifan kenabian. Nubuat yang dimaksudkan di sini adalah penyampaian tentang terjadinya suatu peristiwa sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Hal ini bukan melalui kemampuan tembus pandang, melainkan melalui penyampaian langsung dari Allah. Jadi secara sederhana nubuat adalah menyampaikan pikiran serta isi hati Allah seperti yang diungkapkan oleh Roh Kudus. Nubuat adalah curahan hati dan sifat alamiah-Nya.

    Fungsi nabi yang pertama ialah sebagai pelayan firman. Tetapi jelas mereka berbicara pada situasi mereka, terutama berupa peringatan-peringatan dan bimbingan-bimbingan mengenai masa depan. Hampir tiap nabi pertama-tama tampil sebagai peramal. Amos menulis, “Berkatalah ia: TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel” (Am. 1:2). Bagaimana nabi menerima amanat untuk menyampaikannya kepada sesamanya di mana dia diutus? Jawaban lazim yang diberikan adalah: “Firman Tuhan datang”. Allah sendiri yang mengucapkan firman-Nya itu, yang disampaikan-Nya kepada nabi dan melalui nabi kepada umat-Nya. Pengalaman yang sama seperti itulah  yang dialami oleh Yeremia ketika tangan Allah menjamah mulutnya. Yeremia menulis, “Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (Yer. 1:9).

    Akan tetapi nilai nubuat bergantung kepada orang yang menyampaikannya. Ia harus memiliki persekutuan yang nyata dan intim dengan Allah. Dalam Perjanjian Lama, para nabi palsu digambarkan sebagai pusing karena arak dan pening karena anggur. Yesaya menulis, “Tetapi orang-orang di sini pun pening karena anggur dan pusing karena arak” (Yes. 28:7). Di antara mereka ada pezinah, seperti ditulis oleh Yeremia, “Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorang pun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka telah menjadi seperti Sodom bagi-Ku” (Yer. 23:14). Di antara mereka ada pengkhianat, seperti ditulis oleh Zefanya, “Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat” (Zef. 3:4). Di antara mereka ada pendusta, seperti ditulis Mikha, “Seandainya seseorang datang mereka-reka yang hampa dan dusta: Aku bernubuat kepadamu tentang anggur dan arak, maka dialah yang patut menjadi orang yang bernubuat terhadap bangsa ini” (Mi. 2:11). Ada juga nabi yang oportunitis, sehingga Mikha menulis, “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mi. 3:11).

    Telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya bahwa Yesus Kristus akan dilahirkan oleh seorang perawan, dengan menulis, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Ia merupakan keturunan Abraham dari suku Yehuda, seperti ditulis Musa, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa” (Kej. 49:10). Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai, seperti ditulis Zakharia, “Bersorak-soraklah dengan nyaring hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Za. 9:9). Ia dikhianati oleh teman-Nya sendiri, seperti ditulis pemazmur, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Maz. 41:10). Dan masih banyak lagi nubuat tentang diri-Nya yang semuanya telah digenapi, sementara digenapi dan akan digenapi. Tidak perlu kita membuktikan penggenapan semua nubuat yang terdapat dalam Alkitab satu persatu, karena semuanya pasti digenapi.

    Karena Allah merupakan pencipta dan pemelihara kita, maka tidak ada yang terlepas dari Dia. Dia bekerja sama dengan pikiran kita sebagaimana Dia bekerja sama dengan hukum alam. Dan bila Allah bertindak dalam proses-proses pikiran yang umum, tidaklah aneh bila Dia melampaui proses pikiran itu dan bertindak terlepas darinya.

    Banyak orang Kristen di Amerika Serikat yang menjadi anggota dari gereja yang tidak percaya “dengan pemikiran bahwa Allah berbicara pada kita zaman ini”. Mereka diajarkan tentang cessationisme, yang artinya bahwa karunia Roh seperti kesembuhan, berbahasa roh, penafsiran bahasa roh, mujizat dan sejenisnya sudah berakhir di abad pertama. Padahal tidaklah demikian. Karunia-karunia Roh diberikan kepada umat Allah supaya kehidupan kerohanian mereka dapat dibangun, dan mereka bertumbuh ke arah Dia yang adalah Kepala atas gereja. Langit dan bumi akan berlalu tetapi firman-Nya akan tetap untuk selama-lamanya.

    1. Allah menyatakan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus

    Israel memang percaya akan adanya Allah yang benar dan hidup, tetapi pengertian mereka tentang Dia tidak sempurna dan cenderung kurang benar. Mereka terutama memandang Allah sebagai pemberi hukum dan hakim yang sangat menekankan ketaatan yang terinci dan teliti terhadap hukum Taurat, tetapi tidak memperhatikan keadaan hati manusia dan dalam melakukan keadilan. Mereka menganggap bahwa murka Allah dapat diredakan dengan korban dan Ia dapat dibujuk untuk memberkati mereka melalui korban bakaran. Mereka menganggap bahwa Ia telah menjadikan keturunan lahiriah Abraham sebagai satu-satunya syarat untuk memperoleh kemurahan dan berkat-Nya, serta memandang orang-orang non Yahudi lebih rendah dari mereka.

    Perjanjian Lama penuh dengan berita kasih, kemurahan, kesetiaan Allah, tetapi Israel dengan cepat berbalik ke legalisme, yakni ajaran keselamatan melalui perbuatan baik. Karena itu mereka memerlukan penyataan yang lebih lengkap tentang Dia. Penyataan tersebut didapatkan di dalam diri dan pelayanan Yesus Kristus. Ia merupakan pusat penyataan Allah dan sejarah umat manusia. Penulis surat Ibrani menulis, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1-2). Penulis Ibrani kemudian memperkenalkan Kristus sebagai “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:3).

    Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Hal itu disampaikannya dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol. 1:15). “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Dalam hal ini Yohanes menulis, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Yesus sendiri mengatakan, “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27). Yohanes menulis juga, “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Oleh karena itu gereja sejak dahulu telah melihat di dalam Kristus penyataan yang sempurna dari Allah Bapa. Apa yang Ia lakukan ialah membuka sebuah jendela yang nyata di dalam waktu sehingga kita boleh memandang kasih-Nya yang abadi dan tidak berubah itu.

    Di dalam Yesus Kristus kita memiliki penyataan Allah tentang keberadaan, sifat dan kehendak-Nya. Ia merupakan bukti tentang keberadaan-Nya, karena Ia menjalani kehidupan Allah di antara manusia. Ia sangat sadar akan kehadiran Allah Bapa dalam kehidupan-Nya dan senantiasa berhubungan dengan Dia, sehingga Ia berkata, “Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku” (Yoh. 8:18). Dia juga menunjukkan melalui penyataan-Nya tentang siapa diri-Nya dengan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58).

    Yesus Kristus mengatakan tentang kehidupan-Nya yang tidak bercacat cela dengan berkata, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku” (Yoh. 8:46). Berbagai jabatan dan hak istimewa diberikan Allah kepada Yesus sehingga rasul Matius menulis, “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Mat. 9:2).

    Yesus Kristus menyingkapkan kekudusan Allah dengan berkata, “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11). Ia menyingkapkan kasih-Nya dengan berkata, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikianlah juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-16).

    Yesus Kristus juga menyatakan bahwa Dia adalah Bapa dari setiap orang percaya, dengan berkata, “Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah” (Yoh. 16:27). Ia juga mengungkapkan kehendak Allah agar semua orang bertobat, percaya kepada-Nya dengan berkata, “Jawab Yesus kepada mereka: Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh. 6:29). Dan pada akhirnya Tuhan Yesus menghendaki agar supaya setiap kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia, dengan berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20).

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui Alkitab

    Alkitab adalah nama kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai kanonik, dan diakui pula sebagai firman Allah oleh gereja. Nama ini berdasarkan pemakaian kata Yunani, “biblia” (buku-buku) bagi keseluruhan kumpulan kitab-kitab itu seolah-olah satu kitab saja. Alkitab terdiri dari 66 kitab saja, yang terbagi atas Perjanjian Lama sebanyak 39 kitab, dan Perjanjian Baru sebanyak 27 kitab.

    Di dalam Alkitab kita memiliki penyataan dari Allah yang paling nyata dan yang tidak mungkin salah. Alkitab tidak dapat dipandang sebagai suatu penyataan yang sederajat dengan penyataan-penyataan lainnya, namun lebih tepat sebagai perwujudan dari semua penyataan tersebut. Misalnya Alkitab mencatat pengetahuan akan Allah serta tindakan-tindakan-Nya terhadap manusia, sejarah, mujizat, nubuat, Tuhan Yesus Kristus, dan pengalaman batin serta pengarahan ilahi. Karena itu kita harus percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah dan satu-satunya sumber tertinggi yang tidak mungkin salah, seperti ditulis Paulus, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16).

    Kata firman Allah diterjemahkan dari kata Ibrani, “davar”, yang secara harafiah artinya “hal yang ada di belakang”. Hal ini menunjuk kepada “kamar di belakang rumah”, yaitu tempat yang Mahakudus di Bait Suci. Dalam psikologi Ibrani, ucapan seseorang dianggap sebagai sebagian dari diri si pembicara yang memiliki keberadaan  sendiri yang nyata. Jadi “davar” berarti ucapan atau firman Allah dalam Alkitab, yakni penyataan atau penyingkapan diri Allah sendiri. Kata ini dipakai bertalian dengan komunikasi dari Dia kepada manusia.

    “Davar” mengandung kuasa yang serupa dengan kuasa Allah yang mengucapkannya, seperti ditulis Yesaya, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:11); melaksanakan kehendak-Nya tanpa alangan, sehingga harus diperhatikan oleh para malaikat dan manusia, seperti ditulis oleh pemazmur, “Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Maz. 103:20); tetap untuk selama-lamanya firman-Nya, seperti ditulis Yesaya, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yes. 40:8). Dalam Mazmur 119, kata “davar” lebih menunjuk kepada firman Allah yang tertulis.

    Kata Yunani untuk firman Allah ialah “logos”, dipakai dalam terjemahan Septuaginta (LXX) untuk menterjemahkan “davar”. Dalam bahasa Yunani pada dasarnya “logos” berarti “kata”, tapi kemudian berkembang dengan berbagai arti, antara lain:

    1. Dalam tata bahasa Yunani, istilah “logos” mengartikan kalimat yang lengkap.
    2. Dalam logika, istilah “logos” mengartikan suatu pernyataan yang berdasarkan kenyataan.
    3. Dalam retorika, istilah logos mengartikan pidato yang tersusun secara tepat.
    4. Dalam filsafat, istilah “logos” dipakai oleh aliran filsafat Stoa, untuk mengartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta (Yunani: logos spermatikos). Manusia dijadikan selaras dengan dasar yang sama, dan manusia itu sendiri dikatakan memiliki “logos”, baik sebagai budi atau rasio (Yunani: logos endiathetos), maupun sebagai kemampuan berbicara (Yunani: logos proforikos). Aliran filsafat Stoa, yang berasal dari kata “Stoa Poikile”, yaitu nama suatu gang di Atena yang bertiang-tiang tinggi besar. Di situlah Zeno (335-263 sM) untuk pertama kalinya mengajarkan ajarannya yang khas itu.

    Istilah “logos” banyak sekali dipakai oleh ahli filsafat Philo (20 sM-45 M), seorang sarjana Yahudi, yang terkungkung oleh pandangan yang mempertentangkan Allah dengan dunia ini secara mutlak dan metafisik. Ia beranggapan bahwa pikiran Yunani sudah digambarkan dalam Perjanjian Lama, dan ia memakai ayat-ayat seperti Mazmur 33:6: “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya”, untuk menerangkan bagaimana Allah yang transenden  mencipta alam semesta dan menyatakan diri-Nya kepada Musa dan para leluhur Israel. Ia menyamakan “logos” dengan pikiran Plato (428-348 sM) tentang dunia ide-ide, sehingga kata ini mengartikan “rencana Allah” dan “kuasa-Nya untuk mencipta”.

    BERSAMBUNG https://wartanasrani.com/&

  • Gandeng Bahana Chanel dan Pewarna Jogja, BKSADK Gelar Seminar Istimewa

    Gandeng Bahana Chanel dan Pewarna Jogja, BKSADK Gelar Seminar Istimewa

    YOGYAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menggandeng Bahana Chanel dan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Yogyakarta (PD Pewarna Indonesia Yogyakarta) Badan Kerjasama Antar Denominasi Kristen Kota Jogja ( BKSADK) menyelenggarakan seminar istimewa, Rabu (25/05) di hotel Abadi Kota Jogja.

    Acara Seminar yang diperuntukkan bagi para pendeta, gembala, majelis , pengurus dan aktivis gereja ini dihadiri oleh 120 peserta dari kota Jogja, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Cilacap, Solo dan Surabaya. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya mengawali pembukaan acara seminar dilanjutkan dengan sambutan oleh Pdt. Arief Arianto sebagai Ketua Panitia.

    Acara ini dimulai tepat pukul 08.30 WIB dengan pembicara Pdt. Dr. Esrom Lempau seorang hamba Tuhan yang menggembalakan jemaat di LA USA selama 34 tahun. Tema yang disampaikan oleh hamba Tuhan yang bergerak di pelayanan Misi ini adalah: Ketahanan Gereja Lokal Menghadapi Era Globalisasi dan Digitalisasi.

    Sebelum masuk sesi kedua, acara dilanjutkan dengan kata sambutan oleh ibu Dra. Sri Gunarti Sabdaningrum M.Pd.K Pembimas Kristen DIY,  dan tepat pukul 10.30 WIB, Pdt. Dr. Bambang Noorsena melanjutkan acara seminar sesi kedua dengan tema: Etika Evangelisasi di Masyarakat Majemuk.

    Peserta seminar sangat antusias mengikuti acara seminar ini karena materinya sangat berbobot. Suasana seminar makin hangat saat peserta seminar mengajukan beragam pertanyaan yang ditujukan kepada kedua pembicara yang dimoderatori oleh Pdt. Bakhoh Jatmiko, M.Th dari STT Nazarene Jogja.

    Seminar Istimewa hamba-hamba Tuhan istimewa ini diakhiri dengan komitmen untuk melayani Tuhan secara istimewa.

  • GEREJA YANG SEHAT YANG MELAKUKAN PENANAMAN GEREJA JADI TEMA SIDANG MAJELIS DAERAH KHUSUS 2022  BPD BEKASI GBI

    GEREJA YANG SEHAT YANG MELAKUKAN PENANAMAN GEREJA JADI TEMA SIDANG MAJELIS DAERAH KHUSUS 2022 BPD BEKASI GBI

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Mengambil tema, menjadi gereja yang sehat yang melakukan penanaman gereja, Sidang Majelis Daerah Khusus 2022 Badan Pengurus Daerah Bekasi, Gereja Bethel Indonesia digelar di Hotel Santika Harapan Indah Bekasi, hari ini, Selasa (24/05).

    Dalam sambutan tertulisnya, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat GBI, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham mengharapkan Gereja Bethel Indonesia dapat bertumbuh secara kuantitas dan kualitas menjadi Gereja yang sehat.

    “Melalui tema ini diharapkan Gereja Bethel Indonesia dapat bertumbuh secara kuantitas dan kualitas menjadi Gereja yang sehat, yaitu gereja yang memberitakan Injil, memuridkan, tekun berdoa dan dipenuhi kuasa Allah dan menjadi berkat bagi masyarakat,” ungkapnya.

    “Selain menjadi gereja sehat, tema ini juga mendorong seluruh warga Gereja Bethel Indonesia untuk bergerak bersama secara sehati melakukan penanaman gereja baru, dimana satu Gereja diharapkan dapat menghasilkan satu Gereja baru yang dapat memberkati lingkungan dan bangsa Indonesia,” tambahnya.

    Terkait hasil sidang MDK BPD Bekasi GBI, Ketua Umum BPP GBI mengharapkan dapat menghasilkan keputusan-keputusan dan program kerja nyata yang membawa GBI lebih produktif untuk Kerajaan Allah.

    “Kita mengemban tugas Amanat Agung untuk membawa GBI bukan hanya besar secara kuantitas yaitu mencapai 10.000 GBI, tetapi juga kian berkualitas, yaitu menjadi seperti Yesus sehingga menjadi berkat nyata bagi masyarakat,” tutup Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham.

    Hal yang sama disampaikan Ketua BPD Bekasi GBI, Pdt Sahala Nainggolan dengan SMDK, peserta dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif untuk kemajuan GBI di Kota dan Kabupaten Bekasi.

    “Dalam persidangan yang terhormat ini, saya berharap setiap peserta persidangan memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif yang dapat dilakukan dalam rapat-rapat komisi, untuk kemajuan, kemandirian, sinergi dan kolaborasi para pejabat dan BPD Bekasi GBI, yang kemudian disahkan dalam rapat pleno, sehingga setiap dari kita dapat menjadi rekan sekerja dilarang Tuhan,” terangnya.

    Sesuai dengan rundown acara sidang Majelis Daerah Khusus 2022 Badan Pengurus Daerah Bekasi Gereja Bethel Indonesia akan berlangsung seharian penuh, mulai Pukul 08.00 Wib sampai dengan Pukul 19.50 Wib.

  • VOX POINT INDONESIA SAMPAIKAN LIMA HIMBAUAN MENJAGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA

    VOX POINT INDONESIA SAMPAIKAN LIMA HIMBAUAN MENJAGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Dalam rangka HUT ke 6,  Vox Point  Indonesia menggelar ‘Silahturahmi Kebangsaan’ dengan tema Bersatu Membangun Negeri, Berkarya Merawat Kebhinekaan” dan Sub Tema, “Bertumbuh Berkontribusi dan Bersinergi Merajut Keberagaman demi Gereja dan NKRI, hari ini, Senin (23/05) di Hotel Novotel Cikini, Jakarta Pusat.

    Pemukulan Gong sebanyak lima kali oleh Romo Hans Jeharut Pr., Sekretaris eksekutif KWI Pusat

    Lagu Indonesia tanah air beta, tarian daerah dari Papua mewarnai awal acara yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Hadir juga beberapa Pimpinan Parpol diantaranya Presiden PKS Achmad Syaiku, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan beberapa anggota DPR RI, DPRD. Terlihat hadir, anggota DPD RI dari Sulawesi Utara Maya Rumantir, beberapa pengamat politik, dan berbagai pimpinan ormas, termasuk pimpinan Ormas yang tergabung dalam Aliansi Perdamaian dan Keadilan (Perekad) yaitu; Ketua Umum API Brigjen (Purn) Harsanto Adi, Ketum MUKI Djasarmen Purba, Ketum Pewarna Yusuf Mujiono, Ketum PMKIT Louis Pakaila, Ketum PIM Dwi Urip Premono, Sekjen PPHKI Hasudungan Manurung

    Setelah penjelasan terkait sepak terjang Vox Point Indonesia sebagai Ormas Katolik yang perkenalan Pengurus Pusat dan Pengurus daerah baik yang hadir onsite maupun online,  Acara dibuka dengan menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Vox Point Indonesia, dilanjutkan doa lintas agama, dan sambutan-sambutan. Pemukulan Gong sebanyak lima kali oleh Romo Hans Jeharut Pr., Sekretaris eksekutif KWI Pusat, menandakan acara Silaturahmi Kebangsaan dibuka secara resmi.

    Ketua Umum Vox Point’ Indonesia Handoyo Budhisejati dalam sambutannya menyampaikan keprihatinan atas berbagai permasalahan bangsa khususnya perpecahan bangsa akibat pilpres dan pilkada. Menyikapi ini, Vox Point Indonesia menyampaikan beberapa himbauan.

    “Perkenankan Vox Point Indonesia menyampaikan beberapa himbauan; satu, hendaknya semangat serta rasa persatuan dan kesatuan sebagai penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman bagi kita semua,” sebut Ketum Vox Point Indonesia ini.

    “Kedua, setiap pimpinan partai politik, pimpinan lintas agama, ormas, perkumpulan, institusi, paguyuban, komunitas dapat meneduhkan suasana sosial politik  yang sedang tidak kondusif ini, dengan memberikan pengertian pada warga masyarakat dimanapun kita berada,” sebutnya lagi.

    Pesan yang ketiga, Ketum Vox Point Indonesia yang juga Dewan Pengawas Pengurus Pusat Pewarna Indonesia meminta ketegasan dalam membuat peraturan untuk menjaga ujaran kebencian, serta tidak menjadi komoditas masyarakat yang dapat di politisasi demi kepentingan kelompok dan golongan yang bersifat parsial.

    “Perlu peranan seluruh aparat penegak hukum untuk bertindak aktif dan tegas secara imparsial serta tidak memihak,” ujar Handoyo Budhisejati.

    “Keempat, menjaga kerukunan antar warga sebagai sesama anak bangsa adalah sesuatu yang wajib kita lakukan bersama dan pemerintah harus bijak menghadapi dinamika politik yang terjadi ditengah masayarakat,” ujar handoyo lagi.

    Pada poin kelima, disampaikan soal hukum yang harus jadi panglima demi keadilan masayarakat pencari hukum.

    “Hukum harus menjadi panglima sehingga masyarakat pencari keadilan merasakan Indonesia sebagai negara hukum bukan negara kekuasaan,” tutup Handoyo mengakhiri sambutannya.