Author: admin

  • Peduli Kasih BNN melalui GMDM Kepada PEWARNA INDONESIA

    Peduli Kasih BNN melalui GMDM Kepada PEWARNA INDONESIA

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM, – Pandemi Covid 19 di tanah air masih terus meningkat. Tidak hanya kasus positif yang terus bertambah, penyebaran virus ini juga berdampak pada sektor sosial ekonomi. Banyak yang mendapat imbas dari pandemi ini. Menghadapi permasalahan ini, diperlukan saling kepedulian, semangat gotong-royong dan tolong menolong membantu sesama.

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka yang terdampak, Badan Narkotika Nasional atau BNN melalui Gerakan Mencegah Daripada Mengobati atau GMDM, salah satu organisasi yang memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan pencegahannya, memberikan bantuan Sembako kepada wartawan dibawah naungan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia).

    Bantuan ini diberikan kepada PEWARNA Indonesia pada Hari Senin sore, (09/08/2021) bertempat di kantor GMDM komplek Malaka Country, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Jefri Tambayong sebagai Ketua GMDM dan koordinator FOKAN, memberikan secara simbolik kepada Ketua umum PEWARNA Indonesia, Yusuf Mujiono. Jumlah yang diterima sebanyak 50 paket Sembako yang akan didistribusikan ke pengurus dan anggota PEWARNA Indonesia.

    Jefri Tambayong ketika memberikan keterangan Pers berharap, bantuan yang diberikan walaupun kecil dan sederhana, dapat menjadi berkatu untuk bagi teman-teman wartawan.

    “Saya dari BNN melalui GMDM dan FOKAN berbagi walaupun kecil, bisa menjadi berkat bagi teman-teman wartawan. Kita berbagi ditengah keterbatasan kita. Biarlah melalui Pak Yusuf sebagai ketum PEWARNA, bisa menjadi berkat bagi semuanya”, ujarnya.

    “Biar teman-teman PEWARNA bisa tetap semangat, merdeka dari Covid 19 dan juga tetap selalu merdeka dari narkoba. Dekatkan diri terus kepada Tuhan, Indonesia Bersinar, Indonesia bebas dari Covid 19,” ujar Jefri Tambayong lagi, seraya memberikan semangat kepada rekan-rekan PEWARNA Indonesia.

    Sementara itu, Ketum PEWARNA Yusuf Mujiono, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada pihak BNN, GMDM khususnya kepada Jefri Tambayong yang sudah mewakili dari BNN dan GMDM memberikan bantuan kepada PEWARNA Indonesia.

    “Kami berterima kasih bantuan yang diberikan dan bermanfaat bagi kami para jurnalis di lapangan dalam menjalankan tugas, ” ucap Ketum PEWARNA Indonesia.

    BNN bersama GMDM dan PEWARNA Indonesia biar terus bersinergi dalam menjalankan tugasnya masing-masing, sebagai penyuluhan dan pencegahan terhadap bahaya narkoba yang dijalankan oleh BNN dan GMDM dan sebagai pewarta berita yang dijalankan oleh PEWARNA Indonesia. (***)

  • Bantuan Sembako Dari BNN Kepada Pewarna Indonesia Melalui GMDM

    Bantuan Sembako Dari BNN Kepada Pewarna Indonesia Melalui GMDM

    JAKARTA | WARTANASRANI.COM Pandemi yang terus berlangsung di Indonesia men jadi penghambat di berbagai profesi di Indonesia. Banyak yang mendapat imbas dari pandemi ini. Namun, walaupun ditengah permasalahan ini, diperlukan saling kepedulian dan tolong menolong antar sesama. Memang wujud kepedulian tidak boleh hilang dari Kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Salah satu bentuk wujud kepedulian terhadap sesama dimasa pandemi ini adalah dengan saling berbagi bagi yang mampu kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Badan Narkotika Nasional atau BNN melalui Gerakan Mencegah Daripada Mengobati atau GMDM, salah satu organisasi yang memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan pencegahannya, memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang perlu di tolong dalam bentuk bantuan Sembako. Bantuan diberikan dari BNN melalui GMDM kepada para wartawan nasrani yang terhimpun dalam Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia atau PEWARNA Indonesia. Bantuan dalam bentuk Sembako ini diberikan kepada PEWARNA Indonesia pada Hari Senin sore, (09/08/2021) bertempat di kantor GMDM komplek Malaka Country di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Jefri Tambayong sebagai Ketua GMDM dan koordinator FOKAN, memberikan secara simbolik bantuan langsung kepada Ketua umum PEWARNA Indonesia, Yusuf Mudjiono. Jumlah yang diterima sebanyak 50 paket Sembako yang akan didistribusikan ke pengurus dan anggota PEWARNA Indonesia.

    Jefri Tambayong ketika memberikan keterangan Pers mengatakan bahwa bisa berbagi kepada teman-teman PEWARNA ditengah-tengah Pandemi. “Saya dari BNN melalui GMDM dan FOKAN berbagi walaupun kecil, bisa menjadi berkat bagi teman-teman wartawan. Kita berbagi ditengah keterbatasan kita. Biarlah melalui Pak Yusuf sebagai ketum PEWARNA, bisa menjadi berkat bagi semuanya. Biar teman-teman PEWARNA bisa tetap semangat, merdeka dari Covid 19 dan juga tetap selalu merdeka dari narkoba. Dekatkan diri terus kepada Tuhan, Indonesia Bersinar, Indonesia bebas dari Covid 19,” ujar Jefri Tambayong memberikan semangat kepada rekan-rekan PEWARNA Indonesia.

    Ketum PEWARNA Yusuf Mudjiono, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada pihak BNN, GMDM khususnya kepada Jefri Tambayong yang sudah mewakili dari BNN dan GMDM memberikan bantuan kepada PEWARNA Indonesia. “Kami berterima kasih bantuan yang diberikan dan bermanfaat bagi kami para jurnalis di lapangan dalam menjalankan tugas, ” ucap Ketum PEWARNA Indonesia.

    BNN bersama GMDM dan PEWARNA Indonesia biar terus bersinergi dalam menjalankan tugasnya masing-masing, sebagai penyuluhan dan pencegahan terhadap bahaya narkoba yang dijalankan oleh BNN dan GMDM dan sebagai pewarta berita yang dijalankan oleh PEWARNA Indonesia.

  • UJIAN KESETIAAN

    UJIAN KESETIAAN

    WARTANASRANI.COM – Kita pasti sepakat, ketidaksetiaan adalah jawaban dari berbagai kasus perselisihan dan perpecahan yang terjadi dalam keluarga dan gereja. Itulah sebabnya, kesetiaan menjadi sifat yang paling esensi dalam kehidupan kekristenan. Alkitab menyatakan bahwa sifat yang paling diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya (Amsal 19:22).

    Tak hanya itu, Tuhan pun menginginkan umat-Nya untuk selalu setia, tidak hanya dalam hubungan dengan sesama tetapi juga dengan Tuhan. “Hendaklah engkau setia sampai mati” (Wahyu 2:10b), “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu. Maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia” (Amsal 3:3-4).

    Kesetiaan juga menjadi penentu bagi seseorang untuk menikmati kehidupan yang penuh berkat. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab yang besar..” (Matius 25:23). Betapa bahagianya bila Tuhan mendapati kita sebagai umat-Nya yang setia.

    Tidak dapat disangkal dan harus kita akui bahwa menemukan orang yang setia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sulitnya menemukan orang yang setia ditegaskan Salomo dalam kitab Amsal. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).

    Mengapa sulit menemukan orang yang setia? Bila merenungkan Firman Tuhan dalam  Matius 25:14-30, maka kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan diatas. Kesetiaan menjadi barang langka karena kegagalan umat Tuhan dalam ujian kesetiaan.

    Ada tiga ujian kesetiaan. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, sebagai umat-Nya kesetiaan kita akan di uji oleh;

    Pertama: Tugas dan tanggung jawab (Matius 25:15). Ayat ini menunjukkan bahwa setiap umat Tuhan diserahi tugas dan tanggung jawab sesuai kesanggupannya. Ada empat hal yang membuat umat Tuhan seing gagal dalam ujian yang pertama ini, yaitu; menyalahgunakan tugas dan tanggung jawab, tidak maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, tidak menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan, serta tidak mengerjakan apa-apa.

    Menang dari ujian pertama ini berarti kita harus menjalankan tugas dengan penuh integritas, maksimal dan sampai selesai seperti kata Rasul Paulus pada Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik…” (2 TImotius 4:7).

    Kedua: Masalah/Tantangan (Matius 25: 6-18). Masalah atau tantangan tidak dapat dihindari dalam perjalanan kehidupan sebagai umat Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa kita dipanggil bukan saja untuk percaya, tetapi juga untuk menderita. Hamba yang memiliki satu talenta gagal dalam ujian ini karena takut gagal. Ia takut menghadapi masalah saat menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ia menimbun talent aitu dalam tanah. Sementara yang lain berani menghadapi masalah sehingga menghasilkan laba 100%.

    Masalah bisa datang dari dalam diri kita sendiri, orang terdekat, orang lain bahkan dari Iblis. Harus kita ingat! Masalah adalah ujian kedua dari kesetiaan. Memang butuh keberanian dan Tuhan sudah mengaruniakan kepada kita umat-Nya. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekutatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7). Kita tidak bisa lari, menghadapi dengan kekuatan Tuhan Yesus yang Bersama umat-Nya akan membawa kita tampil sebagai pemenang dalam ujian kedua ini.

    Ketiga: Waktu (Matius 25:15). Penyeban kegagalan melewati ujian ketiga ini adalah “Ketidaksabaran”. Alkitab menyatakan bahwa Saul ditolak menjadi raja Israel hanya karena ketidaksasbarannya menunggu Samuel datang untuk mempersembahkan korban bakaran. Saul melaksanakan tugas imam yang bukan tugasnya.

    Kecenderungan manusia untuk cepat menyelesaikan sesuatu, cepat jadi, cepat sampai, cepat mendapatkan sesuatu atau instan, membuat kita tidak sabar menunggu waktunya Tuhan. Dan akhirnya mengambiil jalan pintas dengan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ketidaksabaran membuat gagal dari ujian ketiga ini. Padahal dalam kesabaran terdapat tiga unsur yang sangat menentukan kehidupan rohani, yaitu: orang yang sabar pasti memiliki pengendalian diri, pengampunan dan pengharapan.

    Akhirnya, jadilah umat yang setia sesuai kerinduan Tuhan kita Yesus Kristus. Kerjakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, tetap siap sedia dan berani menghadapi tantangan Bersama pimpinan Tuhan, dan Tetap sabar menanti waktu Tuhan yang indah bagi kita. Bersama Yesus Kristus Tuhan, kita pasti menang.

    Judul: Ujian Kesetiaan

    Penulis: Ronald Stevly Onibala, S.Th., M.Pd.K

  • KETIKA TUHAN SEAKAN TERTIDUR, Kontemplasi di tengah terpaan Badai Covid

    KETIKA TUHAN SEAKAN TERTIDUR, Kontemplasi di tengah terpaan Badai Covid

    WARTANASRANI.COM – Anda tentu membayangkan kalau berjalan bersama Yesus, semuanya pasti akan terasa indah, nyaman, aman, dan bahagia. Anda juga pasti meyakini bahwa hidup bersama Yesus semua proses kehidupan akan berjalan  mulus, tak ada masalah yang perlu dikuatirkan, dan sudah barang tentu hidup akan diberkati.
    Murid-murid Yesus juga membayangkan seperti itu. Mereka berpikir perjalanan bersama Yesus melintasi laut Galilea akan diwarnai dengan sukacita, kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka yakin akan tiba di  seberang danau lebih cepat datipada biasanya. Dan yang pasti, mereka sangat meyakini perjalanan melintasi laut Galilea kali ini akan menjadi sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan, sebuah perjalanan yang akan memberi  pengalaman spiritual yang terindah, tidak hanya karena Yesus ada bersama mereka di dalam berahu, tetapi karena Yesuslah yang mengajak mereka untuk naik perahu dan berlayar ke seberang (Mark. 4:35-41).
    ANTARA BAYANGAN DAN KENYATAAN
    Tetapi apa yang diyakini murid-murid berbeda dari kenyataan yang mereka hadapi. Sinar mentari yang cerah tidak kunjung muncul. Suasana perjalanan  indah nan bahagia yang mereka bayangkan mungkin hanyalah hasil kreatitifas imaginasi manusiawi belaka. Bayangan Laut Galilea yang teduh nan damai ternyata bergelora karena badai mengamuk.
    Ternyata perjalanan bersama Yesus hari itu justru penuh dengan kecemasan, ketegangan, dicekam ketakutan, bahkan diwarnai teriakan-teriakan keputusasaan dari rasul-rasul. Secara tidak terduga keadaan di laut Galilea berubah menjadi mendung dan gelap, disusul dengan bunyi deru badai yang dahsyat, membuat laut Galilea bergelorah seakan sedang mengamuk, menghantam perahu Yesus, dan membuat perahu itu nyaris karam. Tetapi anehnya, disebutkan bahwa ketika situasi gawat dan genting itu sedang berlangasung, YESUS justru TERTIDUR  di buritan, sehingga para rasul-Nya harus membangunkan Dia sambil berteriak-teriak: “Guru, Yesus, Engkau tidak peduli kalau kita binasa”.
    Perhatikan cerita Markus berikut ini: “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali”. (Mark. 4:37-39)
    Timbul pertanyaan-pertanyaan:  mengapa perjalanan bersama Yesus justru dihadang oleh badai dan ombak yang sangat dahsyat sehingga nyaris menenggelamkan kapal mereka? Mengapa pula murid-murid merasa sangat ketakutan sementara mereka tahu persis bahwa Yesus ada bersama-sama dengan mereka? Dan mengapa pula Yesus TERTIDUR sementara situasi alam sedang mengancam nyawa orang-orang pilihan-Nya? Apakah Yesus tidak  menyadari dan merasakan situasi alam yang mencekam serta ketakutan murid-murid-Nya?
    Yesus sesungguhnya mengetahui, melihat, dan juga merasakan situasi ganasnya laut Galilea ketika itu. Hanya saja ‘Yesus bersikap seakan tertidur. Sikap Yesus yang ‘seakan’ tertidur’ itu membuat murid-murid terbangun dari buaian kesibukan masing-masing, dan tersadar dari kelalaian mereka akan kehadiran Yesus.
    MUNGKIN TUHAN SENGAJA SEAKAN SEDANG TERTIDUR…
    Bila dibandingkan dengan situasi badai dan ombak dahsyat yang nyaris mengaramkan kapal para rasul bersama Yesus di laut Galilea, situasi dunia kita yang sedang diterpa badai dan gelombang dahsyat pandemi covid saat ini, jauh lebih buruk dan menakutkan, bahkan jauh lebih mengerikan. Sudah lebih dari setahun bangsa kita dan seluruh penduduk dunia diterpa badai dan gelombang maut yang bernama Covid-19. Sementara badai dan gelombamg Covid-19 belum reda, muncul lagi secara beruntun badai dan gelombang virus maut yang jauh lebih berbahaya dan mematikan, namanya Virus Delta, Alfa, Betha, dan Gamma.
    Jutaan sudah, nyawa manusia yang telah ditelan badai dan gelombang Pandemi Covid. Tidak terhitung sudah, harta benda yang ludes akibat bencana ini, sementara perusahaan-perusahaan raksasa satu persatu mulai karam, dan belum ada tanda-tanda badai ini akan berhenti. Malahan sebaliknya, tampak dengan jelas badai Virus Covid semakin dahsyat. Saat renungan ini ditulis, data korban badai Virus Covid menunjukkan angka yang sangat mengejutkan sekaligus menakutkan.
    Kompas.com 19 Juli, 2021, memberi data yang sangat mengejutkan mengenai jumlah kematian setiap hari akibat Virus Covid, dan Indenesia berada pada posisi tertinggi: Berikut 5 negara dengan angka kematian harian tertinggi: 1)Indonesia: 1093 orang, 2)Brazil: 939 orang,  3)Rusia: 764 orang, 4)India: 501 orang,  5)Kolombia: 476 orang.  Perhatikan! Di Indonesia, setiap hari ada 1093 nyawa ditelan badai dan gelombang pandemi Covid. Jika ditotal, satu bulan berapa? Dan satu tahun berapa? Ini jumlah kematian yang sungguh-sungguh mengerikan.
    Melihat kenyataan situasi dunia kita saat ini yaitu badai Virus Corona yang  tanpa mengenal waktu terus-menerus merenggut nyawa manusia tanpa pandang bulu, timbul pertanyaannya: “Mengapa Tuhan seakan TERTIDUR sementara umat-Nya menjerit, meratap, dan berteriak hampir putusasa dari tengah-tengah pusaran badai dan gelombang dahsyat virus-virus jahat ini?
    Mengapa Tuhan seakan BERDIAM diri sementara suara dan seruan doa-doa umat-Nya yang disertai dengan air mata siang malam naik ke hadapan-Nya? Raja Daud pernah mengeluhkan sikap Tuhan yang seakan tertidur, seakan berdiam diri, dan seakan tak peduli ketika Daud berada dalam situasi yang sulit. Daud bahkan mempertanyakan sikap Tuhan:  “Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus”! (Maz. 44:24). Bukan hanya Daud yang mempertanyakan sikap Tuhan yang seakan TERTIDUR dan BERDIAM diri itu. Musuh-musuh Daudpun bertanya-tanya apakah Tuhan yang disembah Daud itu sungguh ada atau tidak. Pertanyaan musuh-musuh itu membuat hati Daud semakin hancur: “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” (Maz. 42:4).
    Realita kehidupan yang sulit, tekanan hidup yang berat, dan keadaan terancam oleh musuh-musuh membuat Daud berpikir Tuhan mungkin tertidur.
    TIDAK MUNGKIN TUHAN TERTIDUR
    Kita semua sangat yakin bahwa Yesus sesungguhnya tidak tertidur ketika itu dalam pengertian yang sesungguhnya, sehingga Ia tidak tahu dan tidak merasakan situasi yang cukup genting bagi murid-murid. Demikian pula  kita meyakini bahwa saat ini Tuhan tidak mungkin tertidur sehingga Ia tidak tahu dan tidak melihat apa yang sedang terjadi di bumi ini. Tuhan tidak mungkin tertidur sehingga Ia tidak memahami kekuatiran dan ketakutan yang sedang mencengkram umat-Nya saat ini. Ada juga pengakuan Pemazmur bahwa Tuhan sang Penjaga Israel itu sesungguhnya tidak pernah tertidur atau terlelap. “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu” (Maz. 121:4-7).
    Tuhan bukan tidak melihat, bukan tidak merasakan atau tidak tahu akan situasi dan kondisi dunia kita saat ini. Tuhan bukan tidak mendengar jerit dan ratap tangis umat-Nya yang kehilangan anak, suami, istri, orang tua, sanak saudara, dan orang-orang yang disayangi. Dan Tuhan bukan tidak turut merasakan kepedihan hati, dukacita, kekecewaan, dan bahkan keputusasaan yang menggoreskan luka-luka batin dalam diri umat manusia. Tetapi mengapa mengapa seakan ertidur? Mengapa Tuhan seakan berdiam diri? Mengapa Tuhan seakan tidak peduli?
    JIKA TUHAN SENGAJA SEAKAN SEDANG TERTIDUR..
    – Ketika itu raja Daud pernah mengalami situasi yang membahayakan nyawanya, terdesak, dan tak berdaya menghadapi tekanan-tekanan musuh. Di tengah-tengah situasi yang sulit itu Daud berseru-seru memohon pertolongan Tuhan, tetapi Tuhan tidak segera turun tangan. Daud berpikir bahwa Tuhan sedang tertidur. “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus”! (Maz. 44:23-24). Daud tidak hanya berpikir bahwa Tuhan sedang tertidur, tetapi ia bahkan menganggap Tuhan seakan sedang bermasa bodoh ketika bangsa Israel – umat Allah sendiri, sedang terancam dipunahkan dari muka bumi oleh musuh-musuh mereka. Daud mengungkapkan keluhan terhadap sikap Tuhan yang seakan bermasa bodoh: “Ya Allah, janganlah Engkau bungkam,  janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah! Sebab sesungguhnya musuh-musuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau meninggikan kepala. Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi. Kata mereka: “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi!” (Maz. 82:2-5).
    Jika Yesus sengaja seakan tertidur sementara badai dan gelombang mengamuk nyaris membinasakan perahu mereka di laut Galilea, dan jika saat ini Tuhan sengaja bersikap seakan tertidur sehingga Corona mengamuk lebih ganas daripada badai dan gelombang di laut Galilea, bahkqn telah menelan korban jitaan nyawa manusia, apakah ada makna, hikmah, atau pesan yang kita bisa tangkap dari sikap Tuhan itu? Kita bisa memgandai-andai bahwa jika Tuhan sengaja bersikap seakan Ia  tertidur sementara umat-Nya sedang bergumul hampir tak berdaya menghadapi maut, paling tidak ada dua pesan yang Tuhan ingin sampaikan kepqda kita:
    Pertama: JIKA TUHAN SENGAJA BERSIKAP SEAKAN TERTIDUR, KITALAH TERBANGUN.
    Sikap Yesus yang seakan tertidur nyenyak sementara badai dan ombak mengamuk itu, justru membangunkan murid-murid. Mereka bangun dari keadaan dininabobokan oleh rasa nyaman, rasa aman, dan mapan.
    Memasuki era milenial, era yang di dalamnya hampir seluruh bangsa di dunia menikmati hasil-hasil kamajuan sains dan teknologi, masyarakat dunia, termasuk di dalamnya gereja, mulai dininabobokkan oleh keadaan nyaman, aman, dan mapan. Teknologi digital misalnya yang demikian maju dan canggih, telah memanjakan hidup masyarakat. Dengan teknologi digital semua proses kehidupan manusia menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien, termasuk dalam hal mencari uang menjadi lebih mudah dan cepat. Dalam kondisi ini masyarakat – tidak terkecuali kaum religius, mulai menikmati rasa nyaman, rasa aman, dan mapan. Lalu tanpa disadari, kaum religius dan rohaniawan pun telah tenggelam ke dalam budaya hedonisme. Saat ini hampir semua aktifitas manusia dimotivasi oleh materi, karena dengan materi, seseorang bisa bebas mengejar kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan diri. Dan pada saat yang sama, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai solidaritas, dan nipai-nilai spiritualitas merosot tajam tanpa disadari.
    Tepat pada saat-saat masyarakat dunia, termasuk kita, sedang dininabobokkan dan terbuai dalam rasa nyaman, aman, dan mapan, badai Covid mengamuk dari WUHAN Tiongkok, menyerbu dengan bebas seluruh negara dan bangsa sampai ke ujung bumi tanpa pandang buluh, dan tak ada satupun bangsa di dunia yang mampu menghambat atau meloloskan diri dari terkaman Corona.
    Jika Tuhan bersikap seakan tertidur saat ini sehingga badai dan gelombang Corona masih terus mengamuk, kitalah yang harus bangun dari buaian  kemapanam hidup. Kitalah yang harus bangun dari keadaan dininabobokkan oleh rasa nyaman dan aman. Kitalah yang harus bangun dari pangkuan hedonisme dan materialisme. Jika Tuhan bersikap ‘seakan tertidur’ kitalah yang harus bangun untuk menyapa Dia.  Jika Tuhan bersikap ‘seakan diam’ maka kitalah yang harus bangun untuk berseru kepada-Nya. Jika Tuhan bersikap ‘seakan tertidur, seakan berdiam diri, sementara dunia kita diobrak-abrik oleh Covid, kitalah yang harus bangun dari buaian hedonisme dan materialisme.
    Kiranya teks ini relevan dengan situasi dan kondisi moralitas manusia masa kini: “Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia”. (Mat. 24:38-39)
    Kedua:  JIKA TUHAN SENGAJA BERSIKAP SEAKAN TERTIDUR, KITALAH YANG HARUS TERSADAR
    Ketika seseorang sudah behasil, level hidup sosial ekonominya telah naik, sudah masuk kategori atau kelas orang berada dan sudah merasa nyaman dan mapan selalu diikuti dengan perubahan karakter, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan perubahan hubungan dengan sesama. Khususnya hubungan sosial dengan sesamanya, biasanya berubah secara drastis. Yang tadinya biasa bergaul dengan siapa saja,  sekarang ia bergaul hanya dengan orang-orang yang dianggap selevel dengan dirinya. Tadinya rumahnya selalu terbuka pada semua tetangga, sekarang pintu pagarnya selalu terkunci rapat dan hanya terbuka bagi orang-orang yang sekelas dengan dirinya. Pada saat yang sama sensitifitas sosialnya makin hari makin pudar dan memuncak pada sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan dan sesama. Materi telah mengubah watak manusia manjadi egois dan angkuh serta tidak peduli pada sesama. Ini adalah dosa dan kejahatan yang kebanyakan tidak disadari.
    Jika Allah seakan tertidur sementara alam kita dihacengkram oleh maut Covid,  kitalah yang harus “TERSADAR” akan dosa-dosa dan kejahatan sosial yang semakin hari semakin menguasai dunia kita.
    -Kejahatan dan dosa kemanusiaan yang sering dilakukan tanpa disadari adalah ‘meraup keuntungan’ di tengah penderitaan manusia. Setiap kali terjadi kesulitan atau kelangkaan kebutuhan-kebutuhan urgen di masyarakat, selalu ada kelompok-kelompok orang yang berusaha meraup keuntungan. Di masa pandemi Covid ini beberapa kali terjadi kelangkaan kebutuhan yang paling urgen yaitu obat dan oksigen. Kelangkaan itu mengakibatkan kematian ratusan penderita Covid. Di RS Dr. Sarjito Yogyakarta terjadi kematian 63 orang pasien Covid dalam sehari karena tidak mendapatkan oksigen.
    Dan kejamnya adalah, bahwa yang menimbun obat dan oksigen itu justru orang-orang kaya. Dalam berita online Megapolitan, disebutkan: direktur dan komisaris PT ASA melakukan penimbunan obat atas motif ekonomi.    Bayangkanlah, berapa ratus atau berapa ribu nyawa manusia yang melayang akibat kekurangan oksigen dan obat? Di satu RS. Dr. Sarjito Jogja saja sudah ada 63 nyawa manusia melayang dalam sehari karena tidak mendapat oksigen. Bayangkan jika di rumah sakit-rumah sakit lainnya mangalami nasib yang sama, berapa ribu nyawa manusia yang melayang dalam sehari akibat keserakahan oknum-oknum yang mengejar keuntungan. Bayangkanlah di rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia, sedang tergeletak ribuan manusia yang sedang berjuang untuk bertahan hidup, tetapi akhirnya harus merengang nyawa karena kekurangan oksigen dan obat-obatan, sementara di tempat lain ada kelompok-kelompok manusia yang sedang duduk-duduk di ruang VIP menghisap rokok dalam-dalam sambil menghitung keuntungan dari oksigen dan obat-obatan yang tertimbun di gudang-gudang mereka.
    Jika saat ini Allah seakan tertidur, sementara hidup mamusia dicekam oleh rasa takut karena ancaman virus Covid, kitalah yang harus TERSADAR akan dosa keserakahan yang telah mengorbankan nyawa orang-orang tak bersalah.
    Yang lebih buruk lagi adalah kejahatan terhadap sesama atas nama Allah atau agama. Di Indonesia, sudah dianggap hal biasa kalau ada kelompok-kelompok orang tertentu yang mengatasnamakan Allah atau agamanya, dengan leluasa mengobrak abrik dan membubarkan umat yang sedang beribadah, bahkan dalam beberapa kejadian mereka tidak segan-segan menganiaya umat yang sedang beribadah, sementara di situ ada oknum-oknum penegak hukum hanya menonton. Di negara RI yang katanya religius ini, tindakan brutal dan sewenang-wenang merusak, membongkar, dan bahkan membakar rumah ibadah agama lain atas nama Allah atau agama oleh kelompok-kelompok tertentu, dianggap kejadian yang biasa. Aksi-aksi merazia dan mengobrak-abrik bahkan menjarah restoran-restoran atau warung-warung yang dicap haram, itu juga sudah biasa dilakukan tanpa merasa bersalah.
    Dalam skala yang lebih luas, di belahan-belahan lain bumi kita ini terus terjadi  penculikan, penganiayaan yang tak mamusiawi, pembantaian sebangsa,  sesuku, dan bahkan saudara sekandung Allah dan agama. Tengoklah ke Timur Tengah, belahan bumi yang katanya sangat religius, terpatnya di Surya dengam ISIS. Berapa juta kepala manusia tak berdosa yang dipenggal atas nama Allah? Lihatlah ke beberapa negara di Afrika, penculikan dan pemerkosaan massal anak-anak sekolah, penganiayaan, pembantai, dan pemusnahan etnis atas nama Allah/agama. Sementara itu di berbagai negara termasuk Indonesia, gerakan terorisme tidak pernah surut. Tanpa rasa kemanusiaan, para teroris mengindoktrinasi rakyat yang polos-polos untu melakukan bom bunuh diri untuk membom rumah-rumah ibadah, dan menteror masyarakat atas nama Allah atau agama.
    Jika saat ini Allah seakan tertidur sementara Virus Covid merenggut ribuan nyawa saudara dan sebangsa kita, Allah menunggu kita TERSADAR akan dosa dan kejahatan kita terhadap Nama-Nya yang kudus dan mulia, yang selama ini telah ternoda oleh ulah dan kebodohan kita manusia, yaitu melakukam tindakan sewenang-wewnang,  merusak, menindas, menganiaya, kekerasan, bahkan membunuh sesama atas Nama Allah.
    AKHIRNYA….
    Tuhan bukan tidak melihat akan pergumulan hidup yang dihadapi bangsa dan dunia kita saat ini. Tuhan bukan tidak mengerti apa yang sedang menerpa seluruh kehidupan manusia dunia tanpa memandang bangsa dan agama. Tuhan bukan tidak mendengar seruan-seruan doa umat manusia dari semua agama yang disertai dengan linangan air mata.Tuhan bukan tidak merasakan beratnya beban-beban hidup dan kepedihan-kepedihan hati bangsa ini akibat pandemi Covid. Tetapi mengapa Allah bersikap ‘seakan tertidur? Mengapa Tuhan seakan berdiam diri dan tidak peduli?
    Sekali lagi, jika Tuhan bersikap seakan tertidur atau seakan diam, itu sebuah pertanda Tuhan ingin kita bangun dari keadaan dininabobokan dalam rasa nyaman dan aman oleh kemapanan. Kitalah yang harus tersadar akan banyaknya dosa sosial dan kejahatan terhadap kemusiaan yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap sesamanya di negara ini dengan mengatasnamakan Allah, iman, HAM dan katanya demi hukum…. Amin…..
    KETIKA TUHAN SEAKAN TERTIDUR
    (Kontemplasi di tengah terpaan Badai Covid)
    Oleh: Dr. S. Tandiassa
  • Langkah Hukum PGI Dan Yayasan RS PGI Cikini Bagi Penyebar Berita Hoax

    Langkah Hukum PGI Dan Yayasan RS PGI Cikini Bagi Penyebar Berita Hoax

    Menyikapi polemik dan tuduhan miring oleh beberapa pihak atas bentuk kerjasama BOT antara rumah sakit PGI Cikini dengan Yayasan Primayasa, maka Senin 26/7/21 pihak MPH PGI, Pembina Yayasan, ketua Yayasan dan semua pihak menggelar konferensi pers yang digelar di Grha Oikumene Salemba 10 Jakarta Pusat. Dimana dalam kompres tersebut pihak Yayasan dan MPH PGI menggandeng pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

    Constant Ponggawa bendahara Yayasan RS PGI Cikini yang sekaligus tim negosiator yang didampingi Jacky Manuputy sekum MPH PGI, Cris Canter ketua tim negoisator PGI dan David Tobinng sekrtaris Yayasan RS PGI Cikini mengawali komprensinya, di mana Costant Ponggowa yang sukses menggelar HUT ke 50 Tahun PGI ini yang juga akrab dipanggil Nino dalam keteranganya mengatakan proses kerjasama BOT ini sesuai dengan hasil sidang Raya 2019 serta sidang MPL PGI tahun 2021 dimana sudah memutuskan supaya meningkatkan pelayanan masyarakat dengan melakukan revitalisasi rumah sakit PGI dengan melakukan BOT, mengingat RS PGI Cikini sudah sangat tua bentuk bangunannya sudah berumur lebih dari 100 tahun demikian pula dengan peralatannya yang sudah jauh ketinggalan.

    Dalam rangka peningkatan pelayanan rumah sakit PGI Cikini MPH PGI membentuk tim negoisasi, setelah terbentuk kemudian tim negoisasi melakukan tugasnya melakukan penjaringan dengan pihak investor. Setelah melalui proses yang panjang selama satu tahun diputuskanlah Primaya Group menjadi mitra PGI dalam merevitalisais dan membangun rumah sakit PGI Cikin.
    Dalam klausal perjanjian tersebut ada tiga yang ditetapkan oleh PGI dalam melakukan kerjasama yang pertama tidak boleh ada pengalihan kepemilikan, tidak boleh ada pengambil alihan dalam bentuk apapun atas tanah PGI Cikini, usulan ini langsung disarankan Ketum dan Sekum PGI.

    Kedua tidak boleh dilakukan penjaminan atas tanah dan bangunan RS PGI Cikini pada pihak bank artinya harus dicari investor Fresh Money yang mempunyai uang sehingga tak perlu mengagunkan dalam proyek ini dan ketiga yang tidak kalah pentingnya yang selalu diingatkan MPL PGI adalah visi misi rumah sakit PGI harus tetap dipertahankan.

    Dengan ketiga persyaratan ini kemudian dilakukan negoisasi baru kemudian ditetapkanlah kerjasama dengan Group Primaya Capital sebagai rekanan.

    Namun Nino menyanyangkan karena kerja keras pihak PGI dirusak dalam pemberitaan bohong dan hoax dari beberapa pihak yang tak puas dengan visi besar ini, lalu mengatakan bahwa PGI telah menjual rumah sakit. Atas pemberitaan hoax dan pembohongan ini PGI sudah berusaha melakukan penjelasan-penjelasan dan sosialisasi-sosialisasi dan melakukan pendekatan kepada mereka yang tidak setuju.

    “Sayangnya pihak yang tidak setuju ini bukannya mengerti dan mau tetapi justru melakukan pelaporan dan perlindungan ke KAPOLRI dengan mengatakan PGI menghambat pelayanan covid19 dengan menjual RS sakit PGI CIKINI dan melakukan BOT”, tegas Constant Ponggawa yang juga seorang lawyer ini.

    Namun upaya oknum yang melaporkan ke Kapolri itu ternyata gagal karena pihak kepolisian melakukan peninjauan ke lapangan mereka pihak polisi tidak menemukan seperti apa yang dilaporkan. Mereka kepolisian melihat langsung pelayanan pasien covid19 berjalan normal dan baik.

    Namun demikian lanjut Constant mereka para oknum tidak berhenti disitu saja tetapi mereka meminta agar anggota Yasayan RS PGI Cikini diperiksa karena dituduh telah melakukan tindakan melawan hukum yaitu menjual satu hektar RS PGI Cikini kepihak ketiga itulah yang menjadi tuduhan pelaporan mereka. Dan ini lanjut Constant memang berita hoax.

    Masuk Ranah Hukum
    Karena mereka yang menuduh dan melaporkan itu sudah masuk ranah hukum, maka PGI tidak ada pilihan lain kecuali harus menunjuk pengacara untuk melindungi hak-hak PGI dan yayasan dari pembohongan-pembohongan dan hoax dari pihak-pihak oknum tertentu yang tidak setuju dan tidak bertanggung jawab ini.

    Padahal program ini hasil program keputusan sidang raya PGI dan sidang MPL tahun 2021, oleh karenanya karena tak ada pilihan, akhirnya PGI memutuskan untuk meminta kepada pengacara Hotman Paris Hutapea sebagai pengacara.

    “Puji Tuhan Hotman Paris dengan besar hati bersedia membantu PGI untuk mengambil langkah hukum yang dianggap perlu terhadap mereka yang selama ini sudah melakukan pembohongan hoax dan merusak nama baik PGI”, tegas Nino serius.

    Selanjutnya Hotman sebagai pengacara PGI ada hal pokok yang utama bahwa tanah itu atas nama PGI jadi tanah rumah sakit Cikini atas nama PGI, demikian pula rumah sakit oleh yayasan. Menjadi pertanyaan besar siapa yang mengadu ini, apakah dia pengurus yayasan atau bukan, kan yang mengadu ini bukan pengurus dari yayasan. Oleh karenanya lanjut Hotman oknum-oknum yang mengadu ini tidak mempunyai kapasitas atau legal standing apapun.

    “Saya kasih contoh kalau seseorang mempunya rumah atas nama seseorang dan mau kerjasamakan orang lain, apakah pegawai anda berhak menghalangi tentu tidak, dan pengajuan yayasan ke BOT tidak dadakan karena itu kalau pegawai itu mengajukan permohonan itu sangat tidak berdasar”, tandas pengacara beken ini menjelaskan.

    Jadi yang paling focus adalah sudah seratus dua puluh tiga tahun, demikian pula dengan peralatan sudah sangat unzur dan selama ini merugi, jada sangat masuk diakal apalagi diadakan strategi baru agar keadaan merugi itu berubah menjadi untung. Kenapa, kalau dibiarkan peralatan yang unzur tersebut terus menerus akan memakan korban dan dituduh malpraktek kalau peralatan sudah unzur begitu.

    Kalau dengan BOT ini toh yayasan tetap mengelola dan ada kerjasama artinya hak kepemilikan RS PGI Cikini tidak akan berkurang. Jadi semua tindakan oknum ini pada akhirnya buntu dengan sendirinya karena tidak memiliki kapasitas.

    Menjawab pertanyaan wartawan Nino tentang melibatkan pengacara terutama menunjuk Hotman Paris sebagai lawyer, tegas ini keputusan terakhir untuk PGI dan yayasan PGI menunjuk pengacara.

    “Karena langkah yang kami ambil selalu melakukan pendekatan dan sosialisasi, namun ternyata sekarang para oknum itu sudah membawa masalah ini masuk pelaporan ke ranah hukum dan membawa ke PN untuk meminta Yayasan ini diperiksa, maka PGI tidak punya pilihan lainnya untuk meminta bantuan pengacara, karena kami semua adalah bukan ahlinya”, tegas mantan anggota DPR RI ini.

    Lanjutnya Kalau pilihannya jatuh bang Hotman Paris karena bang Hotman anggota gereja juga dan terutama beliau berbesar hati membantu PGI.

    Berbicara tindakan yang akan diambil pihak PGI ataupun Yayasan, Nino berharap dengan kami melakukan komprensi pers ini kawan-kawan yang melakukan pelaporan itu tak punya legal standing, maka dengan rasa hormat tarik semua pelaporan, maka kami akan selesaikan baik-baik, tetapi kalau memang tidak mau menarik kami juga melanjutkan pelaporan ke polisi atas berita berita bohong yang disebarkan.

    Kemudian Hotman menambahkan sepanjang berbicara tindakan hukum, toh mereka kan sudah melakukan tindakan hukum pelaporan kepihak polisi dan pengadilan maka langkah yang diambil PGI tentu melakukan dengan cara hukum juga.

    Menjadi catatan kalau memang tak puas terhadap kebijakan yang diambil PGI dan Yayasan mereka bisa pergi dan kalau perlu membangun rumah sakit sendiri. Namun kalau saat ini tak mempunyai legal standing jangan sampai PGI sebagai majikan bertindak ini yang perlu hati-hati.

    David Tobing sekretaris Yayasan RS PGI Cikini menambahkan perlu disampaikan bahwa situasi RS berjalan dengan baik, pelayanan terhadap pelayanan pasien covid19 yang tadinya dari 110 menjadi 100 dari kapasitas 300 tempat tidur sejak dulu tidak pernah mencapai 30 persen dari beberapa tahun terakhir tidak pernah.

    Peningkatan pelayanan itu tak pernah tercapai karena memang fasilitas kamar dan sebagai nya tertinggal dari rumah sakit moderen.

    ”Hari ini sudah ditandai tangani dari pengelolaan kepada PT dimana PT ini juga dimiliki oleh Yayasan dan PT Primaya di mana yayasan ada juga ditempatkan di PT dengan saham 50 persen dan dari yayasan menempatkan komisaris utama, jadi kontrol tetap ada di yayasan melalui komisaris utama’, ungkapnya.

    David yang juga pengacara komsumen ini menyampaikan semua yang ada di RS berjalan dengan baik ada 600 orang dan semua ditingkatkan kesejahteraan di mana sebelumnya kalau membayar gaji dicicil, tetapi mulai Juli ini dibayar sekaligus.

    Demikian juga dengan pensiuanan yang dulu dicicil sekarang dibayar sekaligus juga. Paling penting ada dana pensiun yang sudah dialokasikan, ini juga salah satu cara kesejahteraan karyawan dan pensiunan.

    Mengenai areal sekarang hanya satu hektar yang dikerjasamakan dengan rumah sakit sementara 4,5 hektar sebentar dikelola Yayasan bahkan saat ini sudah ada salah satu sinode anggota PGI akan menindaklanjuti dengan kerjasama membangun rumah duka modern. Semua ini dilakukan untuk kesejahteraan karyawan.

    Paling penting mengenai visi dan misi di bidang sosial terutama warga gereja, pendeta dan pengerja gereja masih berjalan, karena dalam kerjasama sudah mengatur berapa porsi tempat tidur yang disiapkan warga gereja terutama para pendeta. Jadi semuanya berjalan seperti biasa bahkan ditingkatkan.

    Demikian pula Jacky Manuputy sekum MPH PGI menjelaskan bahwa proses kerjasama sama ini, sudah diputuskan dalam sidang Raya maupun sidang MPL PGI yang disetujui 91 anggota PGI, artinya proses-proses itu sudah berjalan tinggal MPH PGI melaksanakan apa keputusan sidang tentang pengelolaan RS PGI CIKINI, pungkasnya.

  • DISKUSI HYBRID PEWARNA: Tegakkan Kedamaian dan Keadilan di Tanah Papua Tanpa Hoaks

    DISKUSI HYBRID PEWARNA: Tegakkan Kedamaian dan Keadilan di Tanah Papua Tanpa Hoaks

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) kembali menggelar Diskusi Hybrid dengan tema, “Tegakkan Kedamaian dan Keadilan di Tanah Papua Tanpa Hoaks” dengan narasumber Prof. Dr. Drs. H. Henri Subiakto, SH., MA (Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika RI Bidang Hukum), Theo Litaay (Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden), Dorince Mehue (Anggota Panitia Urusan Rumah Tangga Majelis Rakyat Papua), dan Sugeng Teguh Santoso (Ketum DPP PERADI Pergerakan).

    Diskusi yang dipandu Ashiong Munthe, Ketua Depatemen Litbang Pewarna dan didukung Vox Point Indonesia, Asosiasi Pendeta Indonesia, Majelis Umat Kristen Indonesia, Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia, dan Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur ini berlangsung di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jl. Salemba Raya No. 12, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, hari ini, Rabu (9/6).

    Terputusnya jaringan internet di Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Keerom menjadi awal paparan Prof. Henri Subiakto. Penyebabnya, menurut Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika RI Bidang Hukum, adalah putusnya system komunikasi kabel bawah laut karena factor alam, bukan karena kesengajaan pemerintah.

    “Paling ramai sekarang ini adalah terputusnya jaringan internet di beberapa kota dan kabupaten di Papua. Internet putus karna factor alam! Putusnya kabel bawa laut karena efek gunung berapi dibawah laut. Tapi hoaxnya adalah diputus oleh pemerintah dengan alasan tidak ingin ribut-ribut”, tuturnya mengawali paparan tentang berita hoaks rugikan bangsa.

    Lebih lanjut Prof. Henri Subiakto menjelaskan tentang fenomena komunikasi di era digital dimana siapapun bisa jadi komunikator, pemroduksi pesan, wartawan, pengamat, komentator, bahkan provokator.

    “Hoax sepertinya sudah menjadi bagian dari hidup kita. Di Indonesia pengguna internet mencapai 202,6 juta, sehingga siapapun bisa jadi komunikator, pemroduksi pesan, jadi wartawan, jadi pengamat, jadi komentator, bahkan provokator. Media sosial Indonesia penuh carut-marut dimana perdebatan terjadi di medsos dan ditonton banyak orang”, jelasnya.

    Prof. Henri Subiakto mengajak masyarakat untuk semakin cerdas bermedsos karena hoax dan disinformasi, hate speech dan radikalisme menjadi ramuan ampuh proxy war yang bisa menyebabkan terjadi pembelahan masyarakat, memunculkan kegaduhan, merusak demokrasi, menciptakan ketegangan konflik, hingga kekacauan dan peperangan bahkan bisa menghancurkan negara.

    Sementara itu, Theo Litaay, Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden, menekankan soal pentingnya literasi digital dan penanganan ekosistem digital secara terpadu untuk mencegah hoax.

    “Hoax terjadi karena literasi digital masyarakat rendah, kemampuan memilah informasi budaya cek-fakta rendah, awareness atas bahaya cyber-crime dan konten negative masih kurang. Ekosistem dunia digital belum ditangani secara terpadu; Antar pemangku kepentingan belum bersinergi, kurang tanggap dan regulasi belum komprehensif”, ungkapnya.

    Narasumber ketiga Dorince Mehue, Anggota Panitia Urusan Rumah Tangga Majelis Rakyat Papua (MRP) menjelaskan peran MRP yang hadir bersamaan dengan UU Otsus Papua. Menurutnya UU Otsus harus dapat memberikan harapan bagi warga Papua.

    “MRP hadir untuk menjaga hak-hak orang Papua. Kekayaan orang Papua adalah hasil tambang sebagai karunia Tuhan. MRP diberi kesempatan oleh 2 sampai 3 juta jiwa orang Papua. MRP satu-satunya Lembaga yang ada di Indonesia dengan tugas menjaga hak-hak dasar orang Papua”, jelasnya.

    Terkait berita bohong atau hoax, Dorince menegaskan sikap warga Papua yang tidak mau dikacaukan oleh berita-berita bohong.

    “Siapapaun bisa menyebarkan berita bohong tentang Papua karena kepentingan masing-masing. Kami warga Papua tidak mau dikacaukan oleh berita-berita bohong. Tanah Papua adalah tanah Injil dan kami harus pastikan bahwa tanah Papua harus menjadi berkat, kami harus hidup berdampingan dengan siapa saja yang datang ke Papua”, terangnya.

    “Putusnya internet yang baru-baru terjadi sangat merugikan orang Papua dan ini merupakan pelanggaran HAM. Orang Papua hanya berkata, hanya Tuhan saja yang tahu, kenapa terjadinya pemutusan internet”, terangnya lagi.

    Ditambahkannya, sebagai tanah damai dan tanah Injil, orang Papua benar-benar mengimplementasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.

    “Orang Papua sudah membuka diri bagi siapapun yang datang di Papua. Orang Papua punya komitmen bahwa Papua adalah tanah damai, Papua adalah tanah Injil dan Injil mengajarkan orang Papua tidak membeda-bedakan”, terangnya.

    “Lima sila Pancasila benar-benar diimplementasikan oleh orang Papua. Orang Papua menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Injil diimplementasikan dengan amanatnya yaitu kasih. Bahasa orang Papua, siapa (orang Papua) yang masih menyebarkan hoax berarti dia dipakai “setan!”, terangnya lagi.

    Pada akhirnya Dorince mengajak untuk bijaksana dalam merspon informasi.

    “Jangan sebarkan kabar bohong! Jangan ikut membantu orang yang bersaksi dusta! Tidak semua berita harus direspon. Harus bijaksana apakah berita ini membangun atau tidak. Mari, sebarkan hoax yang positif”, ajaknya disambut tepuk tangan peserta diskusi.

    Adapun narasumber terkahir, Sugeng Teguh Santoso (Ketum DPP PERADI Pergerakan), lebih menekankan soal penghapusan kekerasan dalam bentuk apapun di Papua sebagai solusi terciptanya kedamaian.

    “Kedamaian di Papua, bisa terjadi bila ada penghapusan kekerasan dalam berbagai bentuk di Papua. Kalau Papua mau damai adalah penghapusan kekerasan!”, tegasnya.

    Sementara itu beragam tanggapan dan pertanyaan pada narasumber disampaikan penanggap dari Vox Point Indonesia Goris Lewoleba (Waketum dan Juru Bicara Vox Point Indonesia), Pdt. Harsanto Adi, M.Th Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia, Djasarmen Purba, SH., Ketua Umum Majelis Umat Kristen Indonesia, Fredrik Pinakunary, SE., SH., Ketua Umum Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia, Yusuf Mujiono Ketua Umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia dan Sentot Dwi Urip Premono utusan dari Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur.

    Diskusi diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber dan penanggap yang hadir baik secara onsite dan online. Foto Bersama menjadi bagian penutup acara.

  • Pdt. Ronny Mandang: Hentikan Kekerasan Di Tanah Papua Jadikan Papua Tanah Damai

    Pdt. Ronny Mandang: Hentikan Kekerasan Di Tanah Papua Jadikan Papua Tanah Damai

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Papua kembali memanas, pasca gugurnya Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha setelah ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kampung Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, Minggu (25/4/2021), Dengan peristiwa tersebut pihak pemerintah melalui Menkopolhukam Mahfud MD menetapkan kelompok KKB sebagai teroris. Kemudian tindakan yang diambil pemerintah dengan mengirimkan pasukan ke Papua.

    Menyikapi kondisi tersebut Pdt. Dr. Ronny Mandang, M.Th., Ketua Umum Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia di depan awak media, Selasa (4/5/2021) di sebuah resto bilangan Cikini Jakarta Pusat, menegaskan tiga hal sebagai masukan kepada pemerintah.

    Pertama, mendesak Pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo untuk segera menarik seluruh pasukan non organic dari Papua, karena menurutnya, kehadiran pasukan non organic tidak akan menyelesaikan masalah.

    “Sudah terbukti selama ini dengan hadirnya pasukan non organic ke Papua belum bisa menyelesaikan akar masalah di Papua. Belum lagi Papua bukan termasuk wilayah darurat militer, artinya pihak TNI dan Kepolisian yang ada di Papua sudah cukup untuk menjaga keamanan di sana”, terangnya.

    Ke dua, Ronny Mandang berharap Presiden Joko Widodo sebaiknya bersedia membuka dialog kepada pimpinan gereja di Papua dan PGLII siap menjadi penghubung jika diperlukan.

    “Dalam hal ini PGLII mengusulkan dan sekaligus bersedia menjadi penghubung dalam dialog antara Presiden dengan pimpinan gereja di Papua. Dalam dialog ini bersifat mendengar langsung aspirasi dari tokoh-tokoh gereja di Papua  khususnya dari Persekutuan Gereja-gereja Papua dan gereja anggota PGLII”, tuturnya.

    Terakhir terang Ronny mereka yang saat ini disebut KKB ini lebih suka kalau disebut dirinya adalah OPM bukan KKB yang selama ini di stempelkan ke mereka. Kalau usulan kenapa tokoh gereja yang mewakili dalam dialog pertama bahwa orang Papua mayoritas Kristen dan mereka sangat hormat kepada pendeta. Hal inilah yang menjadi bahan pertimbangan tersendiri, pendekataan melalui gereja.

    Sementara itu, terkait tentang adanya stigma Papua merdeka, perlu dijawab dengan pendekatan khas Papua, tak perlu ada kekuatiran berlebihan karena gereja-gereja di Papua mayoritas masih memakai nama Indonesia.

    “Bagi PGLII sikapnya jelas, yakni mendorong terciptanya damai di Papua, hentikan berbagai kekerasan. Hingga saat ini tak ada sedikitpun PGLII memikirkan Papua merdeka, kalaupun bersuara tentang Papua semata dikarenakan adanya tindakan yang dianggap tidak adil dan melanggar sila kelima Pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” juga bagi masyarakat asli Papua, masih sangat jauh di Papua”, ungkap Ketua Umum PGLII ini.

    Sekali lagi Ronny berharap persoalan Papua bisa dilakukan dengan berdialog dengan hati jernih dan dalam terang Injil, agar memutus rantai kekerasan yang terjadi di pulau di ujung timur ini, tukasnya berharap.

    “Hentikan kekerasan di tanah Papua, jadikan Papua tanah damai”, pungkasnya.

  • YAYASAN A2K DAN PELANGI KASIH GELAR IBADAH PASKAH DISERTAI PEMBAGIAN DIAKONIA DAN SEMBAKO

    YAYASAN A2K DAN PELANGI KASIH GELAR IBADAH PASKAH DISERTAI PEMBAGIAN DIAKONIA DAN SEMBAKO

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Memperingati kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, Anugerah Amal Kasih (A2K) dan Yayasan Pelangi Kasih Tunanetra didukung pelayanan diakonia GBI Taman Aster Harapan Indah mengadakan Ibadah Paskah Bersama, Hari ini, Sabtu (17/04/2021). Acara berlangsung dengan protokol kesehatan ketat, dimana semua yang hadir, wajib mengenakan masker, harus mencuci tangan dan diukur suhu tubuhnya.

    Pengurus Yayasan Pelangi Kasih Tunanetra 

    Menurut Ketua A2K sekaligus Pembina Yayasan Pelangi Kasih Tunanetra, Pdt. Dr. Paul F. Gulo, M.Th, perayaan Paskah ini dilaksanakan sekaligus memperingati Ulang Tahun ke-22 Pelangi Kasih.

    “Perayaan Paskah ini diadakan sekaligus memperingati 22 tahun penyertaan Tuhan dalam pelayanan Yayasan Pelangi Kasih Tunanetra. Dan mengingat pandemi covid-19, acara dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat sesuai anjuran pemerintah. Semua yang masuk dalam ruangan Ibadah, wajib mencuci tangan, pakai masker dan diukur suhu tubuhnya,” tutur Gembala GBI Taman Aster ini.

    Sementara itu, Pdt. Samuel Hernadi yang menjadi pengkhotbah mengajak semua anggota Yayasan Pelangi Kasih Tunanetra yang hadir untuk tidak kehilangan pengharapan di masa-masa yang sukar sekarang, karena Paskah kebangkitan Kristus adalah anugerah kasih Allah yang besar. Kebangkitan Kristus memberi pengharapan pasti bagi umat manusia.

    “Kita punya masa depan karena Tuhan Yesus sudah bangkit dan menang! Sekalipun menghadapi masa-masa sukar sekarang ini. Menjadi pegangan kita sebagai umat Tuhan, bahwa sebagai orang-orang percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan pasti menolong kita!” terangnya.

    Adapun Ketua Yayasan Pelangi Kasih Tunanetera, Arwin Daniel Pandaleke, S.Th., mendorong semua anggotanya untuk semakin dewasa dalam Tuhan dan tetap setia untuk melayani Tuhan sekalipun deitengah-tengah keterbatasan.

    “Bagi bapak/ibu, teman-teman, sahabat-sahabat yang tergabung dalam Persekutuan Pelangi Kasih, Kiranya dalam Paskah ini, kita semua semakin dewasa dalam kerohanian, dewasa dalam iman, sekalipun dalam keterbatasan yang ada, kita tetap menjadi saksi Tuhan, kita menjadi berkat bagi banyak orang, dan semua kita kembalikan bagi hormat kemuliaan nama Tuhan,” ungkapnya.

    “Selamat Paskah untuk kita semua, Tuhan Yesus memberkati!”, tutupnya.

    Selain Ibadah Paskah, kepada semua anggota persekutuan tunanetra Pelangi Kasih yang hadir, dibagikan persembahan kasih diakonia dan paket sembako. Untuk itu, Pdt. Paul F. Gulo menyampaikan terima kasih kepada para donator dan pelayanan diakonia GBI Taman Aster yang sudah memberkati tunanetra anggota Persekutuan Pelangi Kasih. (RSO)

    Pemberian Diakonia dan Sembako

  • ABETNEGO TARIGAN: Keputusan SKB Harus Dibarengi Penguatan Peran Keluarga dan Otoritas Keagamaan

    ABETNEGO TARIGAN: Keputusan SKB Harus Dibarengi Penguatan Peran Keluarga dan Otoritas Keagamaan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menyikapi terbitnya SKB 3 Menteri, yaitu; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas terkait penggunaan pakaian seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah negeri jenjang pendidikan dasar dan menengah, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA INDONESIA), menggelar Webinar, hari ini, Jumat, (12/02/2021).

    Salah satu narasumber dalam Webinar bertajuk, “SKB 3 Menteri, Memupuk Asa Toleransi di Sekolah” adalah Abetnego Panca Putra Tarigan, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Pembangunan Manusia.

    Penegasan tentang tujuan utama pendidikan untuk menjadikan manusia Indonesia seutuhnya, yang menyadari dan menghargai kemajemukan lingkungannya, agamanya menjadi awal paparan Tarigan. Menurutnya, pendidikan memainkan peran penting dalam transformasi masyarakat untuk menjadi lebih adil dan inklusif, dan Pendidikan yang majemuk adalah kuncinya.

    Terkait tema Webinar, Tarigan menjelaskan bahwa Inti SKB Tiga Menteri adalah peserta didik, dan tenaga kependidikan di sekolah negeri jenjang dasar dan menengah berhak memilih untuk menggunakan ataupun tidak pakaian dengan atribut kekhasan agama tertentu, sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

    “SKB bukan pelarangan tapi memberikan kebebasan kepada peserta didik. Dan keputusan ini untuk mempersatukan bukan memecah belah,” terangnya.

    “Oleh karenanya Pemda dilarang mewajibkan, memerintah, mensyaratkan, menghimbau, atau melarang penggunaan pakaian seragam dengan atribut kekhasan tertentu di sekolah-sekolah negeri. Karena religiositas tidak diukur dari pakaian, keislaman Muslimah, tidak diukur dari jilbab yang dikenakannya,” terangnya lagi.

    Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Pembangunan Manusia menambahkan bahwa Indeks negara islami, misalnya tidak menjadikan pakaian sebagai ukuran. Yang dijadikan ukuran ialah kemakmuran ekonomi, penegakan hukum, tata Kelola pemerintahan yang baik, hak asasi manusia dan politik, serta hubungan internasional.

    “Pada tahun 2018, Selandia Baru negara yang sangat sedikit penduduknya berjilbab, diganjar predikat negara paling islmai. Negara-negara yang banyak penduduknya berjilbab, seperti Iran di urutan 125, Mesir 137, Pakaistan 140, Sudan 152, Indonesia 64, dalam deretan negara-negara Islami,” Sebut Tarigan mencontohkan.

    Tarigan juga menegaskan soal komitmen pemerintah soal prinsip dasar adanya SKB Tiga Menteri adalah penghormatan terhadap hak yang berbeda.

    “UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pun telah menyebut prinsip yang senada dengan SKB, yakni penyelenggaraan demokratis dan menjunjung tinggi HAM. SKB penggunaan seragam dan atribut di sekolah negeri dianggap mengandung pendekatan hak asasi manusia. Pendekatan ini semestinya juga termaktub dalam peraturan atau kebijakan seputaran Pendidikan lainnya,” tuturnya.

    “Kebebasan menjalankan agama atau kepercayaan seorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum. Ini diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, Kesehatan, moral masyarakat, dan hak mendasar orang lain,” tuturnya lagi.

    Pada bagian akhir paparannya, Tarigan mengungkapkan harapan pemerintah agar pengawas ataupun komite sekolah perlu turut menyisir peraturan ataupun ketentuan penyelenggaraan Pendidikan yang tidak sesuai dengan UU No. 20/2003. Pasal 4 ayat (1) UU No. 20/2003 adalah roh penyelenggaraan Pendidikan yang menghormati keberagaman.

    Dalam hal nilai-nilai keagamaan yang fundamental (keadilan dan kemanusiaan), negara harus hadir. Namun dalam konteks pandangan agama yang masih diperdebatkan, negara tidak bisa mengatur secara sepihak.

    “Keputusan SKB harus dibarengi dengan penguatan peran keluarga dan otoritas keagamaan untuk memperkuat Pendidikan Agama dan nilai-nilai penguatan karakter di kalangan peserta didik,” tutup Tarigan. (RSO)

  • Fredrik Pinakunary: PPHKI Berterimakasih Atas Peran Pewarna Indonesia Menggelar Webinar

    Fredrik Pinakunary: PPHKI Berterimakasih Atas Peran Pewarna Indonesia Menggelar Webinar

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Pro kontra SKB 3 Menteri, yaitu; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas terkati penggunaan pakaian seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah negeri jenjang Pendidikan dasar dan menengah, menjadi pemantik bagi Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA INDONESIA) untuk menggelar Webinar, hari ini, Jumat (12/02/2021).

    Webinar yang mengangkat tema, “SKB 3 Menteri, Memupuk Asa TOleransi di Sekolah” yang dimoderatori Ashiong Munthe (Departemen Litbang PP Pewarna), menghadirkan beberapa narasumber diantaranya, Fredrik Pinakunary, S.H., S.E., Ketua Umum Perhimpunan Profesi Hukum Kristen Indonesia (PPHKI).

    Dalam tanggapannya merespon pertanyaan Raya Desmawanto kepada Dirjen PAUD Pendidikan Dasar Menengah tentang mekanisme pelaporan serta pengawalan SKB 3 Menteri, Fredrik dengan lugas menyatakan siap menyediakan bantuan hukum juga memberi konsultasi hukum bagi mereka yang memang membutuhkan bantuan baik dalam Pendidikan, gereja dan juga persoalan keumatan lainnya.

    “Sudah banyak yang dilakukan oleh PPHKI dalam pendampingan dan pembelaan bagi mereka yang membutuhkan seperti narapidana mendapatkan grasi, membela pemerintah saat masalah hukum dengan HTI, persolana saat terjadi bencana di Poso tentang siswa negeri yang hilang dan banyak lagi yang sudah dilakukan PPHKI,” ungkap Fredrik yang akrab dengan para pewarta ini.

    Lebih lanjut, Fredrik mengungkapkan bahwa PPHKI sudah memiliki beberapa chapter yang tersebar di beberapa kota, sehingga Ketika ada persoalan hukum, tinggal berkoordinasi dengan pengurus chapter terdekat.

    Berkantor di Kawasan Thamrin Jakarta, Fredrik merasa terhormat dan berterimakasih atas peran Pewarna Indonesia yang menggelar Webinar dan berharap acara ini terus dilakukan sehingga mampu melahirkan orang-orang berkualitas dalam masalah hukum. Selain itu, dengan acara seperti ini, banyak masyarakat dan umat bisa mendapatkan pelajaran baik dalam hukum dan bermanfaat Ketika menghadapi masalah yang dihadapinya.

    Lebih lanjut Fredrik berujar dengan acara yang digelar Pewarna, bisa menjadi jembatan bagi orang yang tidak tahu kemana mau mencari keadilan.

    “Banyak orang minoritas yang membutuhkan bantuan karena kerap terjadi permaslahan hukum, ini bukan persoalan salah satu agama saja tetapi acapkali Ketidakadilan juga dialami mereka yang tinggal di daerah-daerah yang dianggap minoritas. Nah, yang dianggap minoritas ini, mereka tidak tahu mencari keadilan kemana. Oleh karena itu mereka perlu pendampingan hukum dan PPHKI siap untuk itu,” tegas pria kelahiran Papua ini.

    Sedangkan kepada pemeriontah, Fredrik meminta harus memperhatikan mekanisme internal sendiri dengan membuat pengawasan yang lebih tegas, sehingga Tindakan intoleran tidak terjadi lagi di manapun di belahan Indonesia tercinta.

    Berbicara intoleran terang pengacara yang kale mini, bukan saja menimpa dunia Pendidikan saja, tetapi juga masalah rumah ibadah dalam izin mendirikan, dan para pendeta tikda punya aksses untuk pembelaan hukum.

    “Oleh karena itulah, saya juga akan berkonsen mengawasi terhadap SKB 3 Menteri ini dan perlu semua masyarakat baik agama manapun di negeri ini untuk mendapat informasi terhadap SKB 3 Menteri sebab ini negara hukum”, tegasnya.

    Ditegaskan Fredrik lagi, bahwa melalui forum-forum seperti ini, bisa melahirkan orang-orang yang mampu membela hukum dengan baik. Dan, PPHKI siap membantu dengan kehadiran 10 chapter di seluruh Indonesia.

    “Acara yang Pewarna lakukan bisa menjadi jembatan bagi orang-orang yang tidak tahu kemana mencari keadilan dan kita berterimakasih dengan Pewarna yang telah mengadakan Webinar seperti ini,” pengkasnya mantap.

    Selain Fredrik, narasumber lain dalam Webinar ini, Dr. Sutanto Dirjen PAUD Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Putra Nababan Anggota DPR RI Komisi X dari Partai PDIP, Abetnego Tarigan dari KSP,  Djaserman Purba Ketua Umum MUKI, Dating Palembangan dari Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) dan Elianu Hia Orangtua murid SMK II Negeri Padang. (RSO)