Author: admin

  • Peran Jurnalis Membangun Kebersamaan Lintas Agama di Indonesia Jadi Tema Sentral Konferda I Pewarna Jabar

    Peran Jurnalis Membangun Kebersamaan Lintas Agama di Indonesia Jadi Tema Sentral Konferda I Pewarna Jabar

    WARTANASRANI.COM, KOTA BEKASI – Sesuai amanat Kongres II 2019, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) sebagai organisasi profesi Wartawan terus mengembangkan kepengurusan Daerah (DPD) di seluruh Indonesia. Di Tahun 2020 ini sudah ada 3 DPD yang sudah menyelenggarakan Konferensi Daerah (Konferda), yaitu; DPD DKI Jakarta, DPD Banten, dan DPD Jawa Barat.

    Menurut Sekretaris Jenderal Pewarna Indonesia, legalitas pelaksanaan Konferda Jawa Barat tertuang dalam SK Pengurus Pusat Nomor 008/SK/PP-PI/II/2020 tentang Penunjukkan Ketua Pelaksana Konferensi Daerah (KONFERDA) Pewarna Provinsi Jawa Barat.

    “Sesuai SK PP Pewarna Indonesia, penyelenggaraan Konferda Jawa Barat diberikan kepada Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K pada bulan Februari 2020. Harusnya pelaksanaan Konferda tiga bulan sejak SK dikeluarkan. Namun dikarenakan Pandemi COVIDS 19, agenda Konferda Jabar dan daerah lainnya pun urung segera terlaksana. Dan baru terealisasi hari ini, Rabu, 28 Oktober 2020 bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda,” tutur Ronald Stevly Onibala setelah membacakan SK Penugasan Pelaksanaan Konferda Jawa Barat.

    Sementara itu, Konferda Pearna Jawa Barat, yang mengambil tema; Peran Jurnalis Membangun Kebersamaan Lintas Agama di Indonesia, dimaksudkan mengkobarkan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 ditengah berbagai persoalan Bangsa dan Negara menghadapi Pandemi COVIDS 19 yang mendunia.

    Kefas sebagai ketua panitia mengungkapkan bahwa Konferda I Jabar ditengah situasi pandemi tidaklah mudah. Dikarenakan Jawa Barat memilki wilayah yang lebih luas dengan penduduk yang lebih banyak dibanding daerah lainnya. Tapi dengan modal keyakinan bersama tim panitia bahu membahu menghubungi berbagai jaringan rekan2 jurnalis di Jawa Barat.

    “Kami panitia modalnya hanya doa dan keyakinan serta langkah nyata dalam mensukseskan Konferda I Jawa Barat” tuturnya. Lebih lanjut dijelaskannya bahwa kerja-kerja panitia dan dukungan rekan-rekan jurnalis di Jawa Barat menghasilkan tahapan persiapan hingga pelaksanaan Konferda I Jabar.

    Konferda I Jabar dilaksanakan di Kota Bekasi tepatnya di BICC Hall,kota Bekasi. Kota Bekasi dipilih dimaksudkan agar sejarah Patriotik dikota Bekasi menjadi spirit bagi Jurnalis di Jawa Barat dalam menjalankan Profesinya.

    Pelaksanaan Konferda I Jawa Barat mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Bekasi dan stakeholder kota bekasi. Hadir di Konferda, Kesbangpol kota Bekasi diwakilkan oleh H. Abdul Kadir Djaelani S.IP, M.M . Kasubbid Bela Negara dan Karakter Bangsa, Humas Pemerintah Kota Bekasi, H. Abdul Manan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Bekasi, Ketua MUI kota Bekasi melalui perwakilan.

    Rangkaian Konferda dimulai dengan pembukaan, sesi Diskusi dan lanjut dengan proses pemilihan dan penetapan Ketua DPD. Para pembicara dalam diskusi menyampaikan kesepahaman tentang bagaimana peran Jurnalis dalam pemberitaan. Bahwa Peran Jurnalis ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara mengikuti ketemtuan UU Pers dan menjadi sumber informasi terpercaya bagi seluruh masyarakat.

    Usai dskusi dilanjutkan dengan proses Pemilihan. Proses Pemilihan diawali demgan pembacaan SK penugasan pelaksana Konferda I Jawa Barat oleh SekretarisJenderal Pewarna Indonesia Ronald Onibala. Selanjutnya Sekjen menunjuk 3 peserta untuk memimpin persidangan. Pimpinan Sidang adalah David Napitupulu memulai dengan membaca mekanisme pemilihan berdasarkan AD/ART Pewarna Indonesia. Kesepakatan proses pemilihan diputuskan oleh suara terbanyak dari anggota Konferda. Muncul 2 Calon ketua DPD yaitu Tommy Lantang dan Kefas Hervin Devananda. Hasil vote terpilihlah Kefas dengan perolehan 31 suara dan Tommy Lantang 6 suara.

    Usai sujud Syukur Kefas menyampaikan pidato kemenangan bahwa hasil konferda adalah kemenangan untuk seluruh anggota pewarna DPD Jawa Barat. “DPD Jawa Barat Pewarna Indonesia adalah Rumah kita bersama”, pekiknya. Diakhir sambutannya Kefas berharap roda organisasi digerakan bersama sama agar seluruh anggota bisa merasakan hasilnya.

    Panitia Konferda menyampaikan Banyak Terima Kasih kepada banyak Pihak atas dukungan materi dan Imateri bagi terselenggaranya Konferda I Jawa Barat Pewarna Indonesia. Kiranya kedepan DPD Jabar bisa menjadi mitra dalam pemberitaan dan kerjasama lainnya. (Red)

  • Philip Buulolo Sah Pimpin Pewarna Provinsi Banten Lima Tahun Kedepan

    Philip Buulolo Sah Pimpin Pewarna Provinsi Banten Lima Tahun Kedepan

    WARTANASRANI.COM, BANTEN – Suasana konferda Banten berjalan dinamis, setelah kurang lebih tiga bulan dalam persiapan, maka Sabtu 12/9/20, bertempat di GPKDI Victory Ruko Panorama Rodeo Gading Serpong Tangerang, Banten, konferdapun dilaksanakan, tiga puluh jurnalis Nasrani yang tergabung dalam Pewarna turut hadir dalam konferda yang berlangsung setengah hari itu.

    Dalam konferda yang diketuai Philip Buulolo ini dirangkai dengan ibadah pembukaan yang dipimpin Ps. Dony ketua DPA GBI Banten, serta diawali diskusi dengan menghadirkan pimpinan aras dan ormas Kristen di Banten, antaranya ketua PGLII Banten Pdt Yusuf Eko W, MT.h, Jaya Purba dari Majelis Umat Kristen Indonesia, Gunawan dari wasekjend PPHKI yang mendampingi Sekjen PPHKI Arnold Hasudungan Manurung serta Pendeta Doni Susanto mewakili BPD GBI Banten.

    Diskusi mengangkat peran jurnalis Nasrani pemersatu bangsa dalam bingkai Pancasila masing-masing bersepakat bahwasannya peran itu memang sangat mungkin dilakukan para jurnalis nasrani, mengingat Pewarna memiliki kebebasan bergerak, dengan demikian lebih mampu mewarnai bangsa khususnya di propinsi Banten ini, melalui tulisan yang mengangkat tema-tema kebersamaan serta peran dalam menyatukan gereja dan umat.

    “Untuk itu perlunya menuliskan berita yang berimbang dan jangan hanya share berita begitu saja tanpa konfirmasi pada yang bersangkutan”, ungkap ketua PGLII Banten Pdt Yusuf Eko.

    Disisi lain Hasudungan sekjen PPHKI sudah merasakan bagaimana kehadiran PEWARNA itu mampu memberikan dampak yang positif dalam keberagaman maupun dalam ke oikumenean gereja-gereja. Maka melihat peran itu PPHKI Banten siap bekerjasama dengan PEWARNA, tambah Gunawan.

    Sedangkan Jaya Purba dari MUKI berharap PEWARNA juga mampu menyajikan berita-berita yang memberikan pembelaan kepada kaum minoritas yang acapkali di anaktirikan, seperti pelarangan rumah ibadah ketidak adilan termasuk ketika ada pelayanan yang sudah melanggar etika.

    Doni yang sekaligus menyampaikan kotbah tersebut agar peran Pewarna makin intensif lagi dalam menjaga keberagaman yang ada, dengan mengangkat issue-isue kebersamaan antar sesama anak bangsa khususnya di Banten. Dalam hal ini Ps Dony berjanji akan menyiapkan anak-anak muda gereja agar dilatih menjadi jurnalis yang baik agar mampu menuliskan berita yang membangun kebersamaan dan kebhinekaan.

    Acara konferda yang berlangsung dari jam 13.00 hingga 16.30 juga dihadiri jajaran pengurus pusat seperti Yusuf Mujiono Kertua Umum, Albert Muntu Bendahara Umum sekaligus memimpin ibadah penutup, Thony Ermando mewakili sekjen yang berhalangan hadir sebagai sekretaris satu, Horlas Suhardo Sitanggang Koordinator wilayah Jawa, Bali, NTB dan NTT, Joe Macpal ketua bidang organisasi, Hervin ketua bidang Hukum serta Ketua DPD DKI terpilih Argo Pandoyo.

    Menarik dalam pemilihan ketua ada dua kandidat yang maju, Philip Buulolo dan Joe Loing yang akhirnya berdasarkan voting, Philip secara meyakinkan terpilih menahkodai PEWARNA Banten.

    Dalam sambutannya Philip akan melakukan mandate ini sepenuh hati dan akan segera merangkul teman-teman jurnalis yang ada di wilayah Banteng. Dalam tempo dua minggu akan segera terbentuk pengurus lengkap.

    “Saya meminta dukungan semua pihak dan arah dari Ketua Umum untuk menjalankan mandate ini”, tutur pria yang tergabung dalam media SERGAP ini.

    Yusuf Mujiono mengucapkan selamat kepada ketua terpilih dengan harapan Pewarna Banten mampu memberi warna di propinsi ini dengan menggandeng aras gereja, ormas dan gereja-gereja agar peran kebersamaan ini mampu mensinergikan eksistensi umat Kristen dalam memberi warna di Banten.

    Demikian pula terus menjalin kebersamaan dengan umat yang lainnya agar Indonesia khususnya Banten tetap terjaga keberagamannya. {Ym}

  • Sabam Sirait: Wartawan Harus Rajin Membaca dan Tidak Buat Tulisan yang Memecah Belah

    Sabam Sirait: Wartawan Harus Rajin Membaca dan Tidak Buat Tulisan yang Memecah Belah

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Dari sisi kepenulisan, Bung Karno adalah seorang jurnalis. Selain pandai menulis, Bung Karno juga membuat koran dan majalah sendiri. Dalam banyak kesempatan, Bung Karno juga menujukkan kedekatan dengan para jurnalis. Demikian disampaikan senator dari daerah pemilihan DKI Jakarta yang juga anggota MPR RI paling senior, Sabam Sirait, saat menyampaikan sambutan dalam acara Konferensi Daerah (Konferda) Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Indonesia yang dilakukan secara virtual, Jumat (11/9/2020).

    Sabam pun mengatakan bahwa Bung Karno mengingatkan para wartawan untuk selalu rajin membaca dan tidak membuat tulisan yang bisa memecah-belah bangsa. Dan sejak semula, Bung Karno yang gandrung akan kata-kata persatuan, memberikan contoh demikian.

    “Tulisan-tulisanya adalah bagaimana mengokohkan dan memperkuat persatuan Indonesia,” kata Sabam, yang sangat mengagumi Bung Karno dan berpolitik sejak era Bung Karno.

    Sabam melanjutkan bahwa jurnalis atau pers memang memiliki peran yang sangat penting sebagai alat pemersatu bangsa. Peran itu bisa diwujudkan pers melalui upaya penyebaran dan implementasi dari nilai-nilai Pancasila. Sebab dengan pers, nilai- nilai keluhuran dan keagungan Pancasila bisa disebarluaskan kepada masyarakat.

    “Pers juga bisa mengenalkan semua kebudayaan di Indonesia sehingga satu sama lain mencintai ragam kebudayaan yang berbeda itu sebagai bagian utuh budaya itu sendiri. Pers juga harus menyebarkan nilai-nilai yang bisa memperkuat toleransi, bahwa kita bangsa Indonesia berbeda-beda namun satu juga. Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Sabam, yang sangat dekat dan dianggap sebagai guru politik oleh politisi lintas partai ini.

    Pers, sambung Sabam, yang juga punya hubungan dekat dengan tokoh lintas-agama ini, harus hadir dalam rangka menjaga demokrasi sehingga mengabarkan yang benar. Pers harus menulis apa-apa yang bisa memperkuat persatuan, bukan menulis yang bisa membuat perpecahan.

    “Kita butuh pers yang kredibel, yang selalu mengabarkan apa-apa yang bermanfaat buat masyarakat dan buat kepentingan umum secara berkualitas,” jelas Sabam, yang meraih anugerah Bintang Mahaputra Utama dari Negara.

    Sementara itu, Ketua Umum Yusuf Mujiono mengatakan bahwa Konferda dilakukan untuk mengisi kekosongan pengurus lama yang masa baktinya sudah berakhir, sekaligus untuk konsolidasi. Ia pun mengatakan bahwa sosok Sabam Sirait sangat inspiratif. Anggota DPR 7 periode, Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dua periode dan anggota DPD RI dua periode itu sudah berkiprah di dalam maupun luar negeri.

    “Nasihat dan gagasan Pak Sabam sangat dan masih kita butuhkan,” jelas Yusuf. {***)

  • Pondok Pesantren Al-Zaytun Kembali Salurkan 1 Ton Beras Untuk Jurnalis Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia

    Pondok Pesantren Al-Zaytun Kembali Salurkan 1 Ton Beras Untuk Jurnalis Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Kasih tidak mengenal syarat latarbelakang suku, ras, maupun agama. Kasih mampu dimanifestasikan menjadi banyak wujud, termasuk rasa kemanusiaan. Rasa kasih dan kemanusiaan itulah yang tampak dari persaudaraan yang terjalin antara keluarga besar Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun dengan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia). Di tengah masa pandemi yang serba sulit, pondok pesantren pimpinan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang Al-Zaytun, itu, kembali menjadi saluran berkat bagi para wartawan nasrani dan hamba Tuhan yang tergabung di PEWARNA Indonesia.

    Pada Senin pagi (07/09/2020), pihak Pondok Pesantren Al-Zaytun kembali menyalurkan paket bantuan berupa 1 ton beras dan sejumlah bahan pokok lainnya. Simbolis penyerahan bantuan dilakukan oleh Ustadz Ali Aminullah yang mewakili pihak pondok pesantren, di Kantor Redaksi Majalah Gaharu, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

    Dalam kesempatan itu ustadz Aminullah berkata selaku anak bangsa sudah menjadi kewajiban dari Pondok Pesantren Al-Zaytun untuk berbagi kasih di tengah pandemi yang sedang melanda Indonesia.

    “Saya ditugaskan oleh Syaykh Al-Zaytun untuk menyampaikan bingkisan sebagai tanda cinta kasih kami. Kemanusiaan, yang dikedepankan oleh Syaykh itu adalah kemanusiaan. Jadi Syaykh memahami hari ini semua serba sulit. Kebetulan, Alhamdulillah, kami di pesantren sana baru saja panen jadi kita berbagi dengan sesiapapun sahabat-sahabat sebangsa Indonesia,” ujarnya ramah.

    Meski tengah menjalankan ibadah puasa, pria yang dipercaya sebagai pengurus yayasan Al-Zaytun juga pendidik di sekolah menengah dan Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia itu tetap semangat menempuh perjalanan dari Indramayu ke Jakarta, guna mendukung penyaluran bantuan kepada PEWARNA Indonesia. Dirinya juga berharap dengan ada kegiatan penyaluran bantuan ini kiranya dapat mempererat tali persaudaraan yang sudah ada antara Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun dengan pihak PEWARNA Indonesia.

    “Maka kita tidak melihat perbedaan apapun. Kita ini sama-sama bangsa Indonesia yang ketika ada kesulitan maka kita harus berbagi, sesuai dengan kemampuan kita tentunya. Ya harapan kita adalah ini (bantuan) bisa menjadi manfaat, ya tentunya semakin mengikat tali persaudaraan dalam rangka mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” kata Ustadz Aminullah, mantap.

    Sementara itu Ketua Umum Pengurus Pusat PEWARNA Indonesia, Yusuf Mujiono, turut mengucapkan terima kasihnya kepada Syaykh Al-Zaytun dan seluruh jajarannya, atas kepedulian mereka kepada PEWARNA Indonesia sebagai salah satu pihak yang terdampak pandemi Covid-19. Terlebih, telah 3 kali pihak Al-Zaytun menyalurkan bantuan untuk PEWARNA selama masa pandemi berlangsung. Total hampir 3 ton beras dan bahan pangan lainnya yang telah disalurkan Al-Zaytun.

    “Masa pandemi ini tentunya memiliki pengaruh yang besar terhadap keberadaan maupun kinerja wartawan nasrani yang tergabung di PEWARNA Indonesia. Dengan adanya bantuan ini tentu makna dan manfaatnya sangat besar bagi kami. Terima kasih kepada Syaykh Panji Gumilang yang telah begitu perhatian kepada kami, dan mau memberi diri untuk menjadi saluran berkat bagi PEWARNA Indonesia. Puji Tuhan. Doa kami semoga Syaykh berserta jajarannya selalu diberi karunia kesehatan dan di dalam perlindungan Tuhan. Sekali lagi terima kasih,” ujarnya saat ditemui di kawasan Harmoni, Jakarta Utara.

    Pondok Pesantren Al-Zaytun Ma’had Al-Zaytun didirikan oleh Dr. Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, di Indramayu, Jawa Barat. Dengan mengusung tagline “Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian”, pondok pesantren yang baru saja merayakan ulang tahun peraknya itu menjadi salah satu barometer pengajaran nilai-nilai toleransi, perdamaian, sekaligus pengamalan nilai-nilai kebangsaan.

    Berdiri di atas lahan seluas 1.200 hektare, Pondok Pesantren Al-Zaytun juga ikut menjadi penggerak bagi lumbung pangan nasional. Secara mandiri, pihak pondok pesantren memproduksi kebutuhan pangan mulai dari beras unggulan, gula, garam, hingga daging ayam berkualitas tinggi. (Gaharu)

  • Turki Bukanlah Negara Islam Yang Memiliki Kekuatan Untuk Menghancurkan Israel

    Turki Bukanlah Negara Islam Yang Memiliki Kekuatan Untuk Menghancurkan Israel

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Rencana Turki mencaplok Mesjid Al-Aqsa di Yerusalem dinilai hanya menggertak Israel sembari mencari dukungan politik di dalam negeri dan kelompok Islam konservatif di seluruh dunia. Bahkan hari-hari ini, sejumlah negara di Arab justeru membangun pertemanan dengan Israel.

    Hal itu kesimpulan yang disampaikan Jozeph Paul Zhang, Penulis Buku Kilafah Terakhir dalam diskusi zoom Pewarna Indonesia bertajuk, Setelah Hagia Sophia, Al-Aqsa Berikutnya, Apa kata Alkitab tentang akhir zaman, yang berlangsung di Jakarta, Kamis (23/7).

    Menurut Paul, Turki bukanlah negara Islam yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan Israel. Meskipun kekhilafahan pernah berjaya di kawasan itu selama hampir 1400 tahun, namun saat ini Turki menjadi salah satu negara yang paling lemah, bahkan dibandinkan Israel.

    Israel di bawah pemerintahan PM Benyamin Netanyahu saat ini paling banyak disanjung oleh negara-negara di dunia karena tidak melakukan provokasi balasan terkait status Mesjid Al-Aqsa di Yerusalem.

    “Israel itu diam saja, kalau negara itu mau membalas, itu ibaratnya sekali mencet tombol bisa menghancurkan,” katanya.

    Menurut dia, negara Islam yang ditakutkan itu sangat mungkin adalah Iran karena memiliki senjata nuklir. Ancaman terhadap kedaulatan teritorial Israel sangat tinggi dari negara itu.

    Di sisi lain, Samuel Siahaan, penginjil yang mendalami eskatologi, berpendapat Turki dapat diindikasikan sebagai Antikris yang dinubuatkan dalam kitab Wahyu pasal 17 dan Wahyu Pasal 2:12-17.

    Rangkaian provokasi yang dilakukan Erdogan terhadap situs bangunan bersejarah, seperti Hagia Sophia, termasuk mengambilalih Al-Aqsa di Yerusalem mempertegas posisi negara tersebut sebagai sang Antikris nanti.

    Dijelaskannya, kitab Wahyu Pasal 2:13 yang menyebutkan bahwa Pergamus sebagai tempat tahta Iblis, mengindikasikan secara jelas bahwa yang dimaksud nats tersebut adalah Turki saat ini. Saat ini Turki akan bangkit menjadi negara Khilafah terkuat setelah runtuh oleh kekuatan nasionalis sekuler di bawah pemerintahan Ataturk, pendiri Turki.

    Selama hampir 500 tahun periode 1453-1924, wilayah Kekaisaran Binzantium itu dikuasai kekhalifahan Utsmaniyah. Dalam masa itu, terjadi serangkaian kekejaman yang dilakukan oleh kekaisaran itu kepada jemaat gereja Ortodoks.

  • Webinar: Buku Politik Hukum PK Dan Perlindungan HAM Di Indonesia, Pendapat Ahli Sebagai Novum Karya Dr. Stefanus Roy Rening, SH., MH

    Webinar: Buku Politik Hukum PK Dan Perlindungan HAM Di Indonesia, Pendapat Ahli Sebagai Novum Karya Dr. Stefanus Roy Rening, SH., MH

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Nama Joko Tjandra kembali menuai sorotan publik Tanah Air. Pasalnya, buronan kasus korupsi Bank Bali ini kembali masuk ke Indonesia setelah sempat melarikan diri ke luar negeri sejak tahun 2009 silam. Joko lalu diketahui masuk kembali ke Indonesia guna mendaftarkan upaya Peninjauan Kembali-nya (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

    Dr. Stefanus Roy Rening, SH., M.H | Penulis Buku, Politik Hukum PK & Perlindungan HAM di Indonesia, Pendapat Ahli Sebagai Novum

    Kasus Joko Tjandra kemudian mengundang perhatian dari masyarakat luas, tak terkecuali dari kalangan praktisi maupun akademisi hukum. Khususnya, terkait upaya PK yang diajukannya.

    Kedudukan PK sebagai salah satu upaya penegakan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Air kemudian dikupas dalam sebuah webinar (seminar daring) bertajuk “Diskusi Buku Hukum: Satu Tahun Peluncuran Buku Politik Hukum PK & Perlindungan HAM di Indonesia, Pendapat Ahli Sebagai Novum”, karya dari Dr. Stefanus Roy Rening, SH., MH. Webinar yang digagas oleh PEWARNA Indonesia bekerja sama dengan Kasimo Institute, DPC-PMKRI Makassar, serta Kantor Hukum RR & Partners ini menghadirkan enam pembicara.

    Selain Roy Rening, diskusi turut dihadiri oleh mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, SH., MH; Ketua Umum PERADI-RBA, Dr. Luhut. M. P. Pangaribuan, SH., L.LM; Dekan Fakultas Hukum UNIKA Atma Jaya Makassar, Dr. Anton Sudirman, SH., M.Hum; Mantan Ketua PBHI, Dr. Syamsudin Rajab, SH., MH; serta politisi yang juga merupakan praktisi hukum, Hermawi. F. Taslim, SH.

    Selain sejumlah pembicara, testimoni terkait penegakan hukum juga diberikan oleh mantan pilot Garuda Indonesia, Polly Carpus; serta Robert Tibo yang merupakan putra dari terpidana mati kasus kerusuhan Poso, Fabianus Tibo.

    Humto Marbun yang didaulat sebagai moderator webinar membuka diskusi dengan memberikan kesempatan kepada Roy Rening selaku penulis buku untuk menyampaikan pandangannya. Buku tersebut merupakan naskah Disertasi yang dirampungkannya saat mengikuti program Doktor Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

    “Mengapa buku ini perlu didiskusikan? Sebagai peneliti yang meneliti tentang kasus-kasus PK, memang saya mendapati buku tentang PK ini sangat sedikit di toko-toko buku maupun perpustakaan. Hampir hanya dua atau tiga orang saja yang menulis tentang itu,” ungkap Roy membuka diskusi.

    Ada banyak dorongan mengapa Roy kemudian membukukan disertasinya. Salah satunya, dirinya beringinan agar buah penelitiannya tersebut mampu memperkaya cakrawala mahasiswa dan penegak hukum, khususnya seputar Pendapat Ahli Sebagai Novum pada upaya PK yang diajukan oleh para pencari keadilan.

    “Sehingga memang diharapkan buku ini dapat memperkaya wawasan hukum bagi mahasiswa hukum, lalu yang kedua untuk masyarakat dan para penegak hukum yang memang betul-betul mau memperjuangkan keadilan,” harapnya.

    Lebih lanjut disampaikan Roy, melalui buku itu dirinya menyoroti tidak kurang dari lima kasus besar yang terjadi baik di Indonesia maupun Negeri Belanda. Mulai dari kasus yang menjerat Antasari Azhar, Polly Carpus, Tibo, maupun kasus Joko Tjandra yang saat ini tengah hangat.

    “Dan diharapkan memang masyarakat kalau membaca buku ini, mahasiswa membaca buku ini, menjadi sebuah masukan dalam kerangka yang pertama tentang pemahaman hukum, lalu yang kedua buku ini dapat memberikan masukan bagi politik hukum ke depan agar terjadi yang namanya sinkronisasi hukum di bidang PK,” urainya.

    Sinkronisasi yang dimaksud, lanjut Roy, adalah keberadaan dari 3 Undang-Undang yang mengatur tentang PK. Menurutnya hal tersebut sangatlah krusial bagi masyarakat yang sedang berjuang untuk memperoleh keadilan.

    “Karena ada tiga Undang-Undang yang mengatur tentang PK sekarang ini. Satu, KUHAP, yang Kedua Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Undang-Undang tentang Mahkamah Agung. Tiga Undang-Undang ini semacam ada multi interpretasi, yang sehingga membuat masyarakat sulit sekali dalam memperoleh keadilan,” sorotnya.

    Sementara itu mantan Jaksa serta Ketua KPK, Antasari Azhar, membuka pemaparan dengan mengungkap banyaknya persoalan teknis terkait KUHAP dan PK. Antasari lalu menjelaskan tentang persidangan yang pernah dijalaninya di tahun 2009, atas tuduhan Direktur PT. Rajawali Putra Banjaran. Pada waktu itu dakwaan Penuntut Umum, menurut Antasari, mengatakan bahwa dirinya selaku terdakwa menghendaki kematian korban.

    “Saya (terdakwa) dibilang mengancam korban, dan seterusnya. Sementara di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) tidak pernah diperiksa tentang itu. Pertanyaan saya adalah, ‘Apakah dakwaan tanpa dasar BAP bisa diterima?’,” tanya Antasari.

    Antasari lalu mengerucut kepada pembahasan ketika dirinya harus menjalani proses hukum hingga ke tingkat PK. Dirinya lalu menjelaskan terkait siapakah pihak yang berhak mengajukan PK. Menurutnya pihak yang berhak untuk mengajukan PK adalah terpidana, bukan Jaksa.

    “Yang berhak mengajukan PK adalah terpidana. Siapa sih terpidana itu? Menurut kaca mata saya selaku penegak hukum, terpidana itu adalah mereka yang diputus di Pengadilan kemudian dieksekusi di Lembaga Pemasyarakatan. Itu baru terpidana. Sebagai terhukum saja dieksekusi, itu belum bisa dikatakan (sebagai) terpidana),” urai Antasari.

    Pandangan terkait PK juga kembali didalami oleh Dr. Luhut Pangaribuan. Luhut mengawalinya dengan memberi apresiasi kepada Roy Rening, karena dinilai telah sukses memberikan sebuah sumbangsih pemikiran, literatur, bagi dunia Hukum Acara Pidana di Indonesia. Luhut mengungkap bahwa Hukum Acara Pidana di Indonesia atau SPP (Sistem Peradilan Pidana) sudah mendesak untuk diperbaharui.

    “Tadi Pak Antasari sudah mengatakan, ‘Bagaimana Jaksa kok bisa PK?’ Kan tidak ada yang mengatur itu,” kata Luhut.

    Luhut lalu menjelaskan bahwa PK yang diajukan oleh Jaksa sesungguhnya merupakan sebuah semangat untuk menghukum melalui jalan keluar (PK). Menurut Luhut, langkah yang ditempuh Jaksa dalam mengajukan PK terhadap suatu perkara sudah dikategorikan ‘Loncat Pagar’. Yang turut disayangkan olehnya, perilaku ‘Loncat Pagar’ tersebut berawal dari langkah PK yang dilakukan oleh salah seorang Jaksa di Sumatera Utara, yang kemudian diikuti oleh Jaksa lainnya di Indonesia.

    “Kalau kita bicara mengenai secara konsisten itu (sudah) ‘Loncat Pagar’, karena PK itu diberikan kepada terpidana dan ahli warisnya. Sementara upaya hukum luar biasa kepada Jaksa itu adalah kasasi demi kepentingan hukum,” tegas Luhut.

  • Pdt. Ferry Rompas, Ketua MD GPdI Jabar: Kebersamaan Jajaran Pengurus MD dan Hikmat Tuhan, Bekal dalam Memajukan GPdI Jabar

    Pdt. Ferry Rompas, Ketua MD GPdI Jabar: Kebersamaan Jajaran Pengurus MD dan Hikmat Tuhan, Bekal dalam Memajukan GPdI Jabar

    WARTANASRANI.COM – Sepeninggal ketua Majelis Daerah GPdI Propinsi Jawa Barat (MD Jabar) Pdt . J.E. Awondatu, dibutuhkan pelanjut dalam kepimpinan, Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) wilayah Jawa Barat agar roda organisasi tetap berjalan. Dalam rangka mengisi kekosongan kepemimpinan MD GPdI tingkat Jawa Barat, Rabu 2/7/2020 diadakan pemilihan ketua MD GPdI Jawa Barat yang dilaksanakan oleh MP GPdI Pusat di bawah kepimpinan Pdt. Dr John Weol.

    Maka dari para kandidat yang dicalonkan akhirnya mempercayakan Pdt. Ferry Rompas memimpin MD GPdI Jawa Barat, untuk melanjutkan estafet kepemimpinan mendiang Pdt J.E Awondatu yang merupakan pencipta lagu yang cukup tenar lagu-lagu ciptaannya tersebut.

    Ketika diwawancara melalui sambungan telepon apa langkah ke depan yang dilakukannya dan bagaimana meresponi tugas panggilan memimpin MD GPdI wilayah Jawa Barat yang cukup luas ini. Dengan ramah Ferry mengatakan tentang tugas barunya, pertama sebagai hamba Tuhan tentu ada sukacita karena Tuhan mempercayakan satu tugas yang cukup besar. Walaupun bagi ayah dua anak dan satu cucu ini merasakan bahwa tugas yang dipercayakan itu berat.

    “Saya yakin dengan kekuatan dari Tuhan itu andalan saya, dan tentu dengan menempatkan rekan-rekan anggota MD yang kompak dan kapabel di bidangnya, semuanya akan membuat pelayanannya semakin menjadi berkat”, tukas suami dari Fanny Gosal Rompas ini serius.

    Sebagai pelanjut yang notabene juniornya mendiang Pdt. J.E Awondatu, Ferry masih terpatri dalam hatinya pesan yang disampaikan bahwa agar pelayanan di payung GPdI khususnya wilayah Jawa Barat mampu mengemban amanat agung Tuhan kita Yesus Kristus, persoalan membina persatuan sesuai pesan Bpk Alm dan Ibu Awondatu, di mana kita yakin dalam persatuan, Tuhan akan memerintahkan berkat yang akan dilihat dan pasti dirasakan oleh rekan hamba Tuhan, umat dan masyarakat.

    Ketika di mintai pendangannya dengan siniornya yakni pdt J.E Awondatu, Ferry lugas bahwa, “Kharisma Alm tidak akan sama dengan siapapun, Alm luar biasa, saya berusaha meneladani ketegasan, kebapaan, semua yang Alm lakukan dari hati tanpa kebencian”, tukasnya mengenang akan kiprah Pdt. J.E Awondatu.

    Berbicara organisasi tak terpisahkan dengan program yang akan dilakukan, menanggapi ini Ferry memaparkan, mengenai program sudah sebagian dijalankan dan akan terus dijalankan dan yang belum akan kami jalankan, seperti pesan Ibu Melanie Awondatu, apa yang baik yang sudah dijalankan, jalankan lebih baik Sedangkan bilamana ada hal yang kurang baik yang sudah dijalankan, perbaiki untuk jadi lebih baik.

    Mengenai sejauhmana pengembangan gereja-gereja khususnya GPdI di wilayah Jawa Barat, Pdt. Ferry Rompas dengan rendah hati menegaskan bahwa menyangkut pembangunan gereja, hal ini kita tidak bisa paksakan, pembangunan Gereja secara fisik tetap akan kami usahakan, tentunya dengan mengikuti syarat pemerintah, tapi keyakinan kita pembangunan Gereja secara iman yan harus kita perhatikan juga.

    Terpilihnya dirinya menjadi ketua MD GPdI Jabar, agar roda pelayanan bisa berjalan optimal maka rekonsiliasi,menatap ke depankedepan, bergandengan tangan, dengan satu visi misi untuk kemulianNya. Mengenai peran dalam gerakan oikumene gereja-gereja di wilayah Jawa Barat, tergabung dalam wadah BKSG, artinya kebersamaan itu sudah terjalin dalam wadah tersebut.

    Sebagai pelanjut dan sesama pelayan di GPdI, Ferry mengenang sosok Pdt. Awondatu sangat luar biasa, tidak ada yang seperti Alm. Sepanjang kebersamaannya, dalam satu pelayanan Ferry merasakan kalau Mendiang Pdt. J.E Awondatu tersebut memperlakukan semua juniornya kadang ada saat kami seperti terdakwa, ada saat kami seperti murid, ada saat kami seperti sahabat, ada saat kami dijadikan pemimpin sementara Alm jadi yang dipimpin, sangat unik. Namun dengan caranya sehingga kami menjadi sosok yang terlatih menghadapi apapun didepan kami.

    Sikap dan semangat serta cara memimpinnya itu diakuinya sangat menginspirasi dan akan dijadikan bekal dalam memimpin ke depan, bisa dikatakan bahwa rupanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya terjadi dalam kehidupan dirinya.

    “Banyak tantangan tapi ada satu keyakinan bagi saya, kebersamaan, persatuan jajaran MD dan tentunya kekuatan dan hikmat dari Tuhan, itulah yang menjadi andalan kami dalam menghadapi tantangan apapun”, pungkasnya ketika menjawab apa harapan dan keyakinan dalam memimpin MD GPdI Jawa Barat. (***)

  • GANDENG KAGAMA MANADO, PEWARNA SULUT GELAR AKSI SOSIAL BAGIKAN MASKER DAN FACESHIELD

    GANDENG KAGAMA MANADO, PEWARNA SULUT GELAR AKSI SOSIAL BAGIKAN MASKER DAN FACESHIELD

    MANADO, WARTANASRANI.COM – Aksi sosial yang di gelar Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Sulut bekerjasama dengan Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA) Manado. Kegiatan aksi kemanusiaan membagikan faceshield dan masker kepada para Lanjut usia (Lansia) yang dipusatkan di kantor Bank BTPN jalan samratulangi Manado, Rabu (01/07/2020).

    Usai kegiatan, ketua KAGAMA Manado Taufik Tumbelaka kepada sejumlah media mengatakan pengurus cabang (Pengcab) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Manado, bekerjasama dengan teman-teman Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Sulawesi Utara (Sulut) untuk berbagi dalam bentuk yang lain.

    “Jadi kalau yang lain ada yang bahan pokok, itu sangat bagus. Tapi ini modal sosial kami adalah berbagi yang namanya pelindung muka atau yang dibilang Faceshield dan juga berbagi masker,” kata bang taufik sapaan akrabnya.

    Lanjut Tumbelaka, dalam kegiatan ini kami mencoba menerapkan protokel WHO, karena kebetulan hari ini setiap tanggal satu adalah para lansia (opa-oma), mengambil pensiun.

    “Protokolnya sudah betul di bank ini, cuci tangan dan segala macam. Tapi sebetulnya yang terlupa adalah harus masker baru. Ini yang jadi usulan-usulan kita ke teman-teman yang lain. Jangan lupakan bahwa salah satu kelompok rentan adalah lansia, selain balita dan anak-anak,” jelasnya.

    Ditambahkannya, dalam gerakan sosial dan ilmu sosial ada istilah modal sosial. Sekecil apapun yang kita perbuat tapi kalo kita bersama, gerakannya akan jadi bigbang. Gemanya besar dan akan bisa lebih bermanfaat. Selain itu, saat ini Sulawesi Utara sudah tembus 1000, sedangkan jumlah penduduk kita cuma 2.6 juta. Itu angkanya sudah cukup tinggi. Dengan ini kita mencoba kebiasaan baru (new normal) tapi tetap menjaga kesehatan tubuh.

    “Ini belum banyak, tidak sampai 100. Kita uji coba pertama. Kita berharap tanggall 1 bulan depan saya ajak teman-teman Pewarna juga turun kembali. Jadi kita himbau untuk membiasakan gunakan pelindung muka atau Faceshield , ketika masuk ruangan harus pakai masker baru. Karena sirkulasi diruangan tidak menguntungkan dengan masker yg kita pakai dari luar ruangan,” terangnya.

    Sementara itu, Ketua PEWARNA Sulut Sisco Manossoh menyebutkan kegiatan ini sebagai bentuk aksi kemanusiaan dalam memerangi dan mencegah penyebaran pandemi. Meskipun memasuki tatanan kebiasaan baru atau yang disebut new normal,namun tetap mengikuti protokol kesehatan.

    “Jadi ini adalah aksi sosial dari KAGAMA Manado bekerja sama dengan pewarna sulut. Kami PEWARNA Sulut dan KAGAMA Manado bekerjasama dalam aksi sosial untuk kemanusiaan,” ungkapnya.

    Disisi lain, Manossoh mengatakan aksi kemanusiaan ini sasarannya kepada para lansia.

    “Kami mengambil lokasi yang ada di tempat ini untuk dibagikan kepada lansia. Kebetulan hari ini mereka sedang mengambil pensiun. Inilah momen yang kami ambil. Meskipun saat ini memasuki keadaan new normal, tapi kami laksanakan sesuai dengan protokol kesehatan. Kedepan kami akan tetap bekerja sama dengan KAGAMA Manado dalam bentuk aksi kemanusiaan lainnya,” tutup Manossoh. (GN)

  • LAWAN COVID-19, MURFATI LIDIANTO AJAK MASYARAKAT UNTUK TETAP WASPADA DAN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN

    LAWAN COVID-19, MURFATI LIDIANTO AJAK MASYARAKAT UNTUK TETAP WASPADA DAN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN

    WARTANASRANI.COM, BEKASI – Lebih dari enam bulan, dunia terus berperang melawan pandemi Virus Covid-19. Peningkatan kasus di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia signifikan. Update Covid-19 Indonesia, Jumat (12/6/2020) yang disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia, Achmad Yurianto terjadi penambahan kasus, baik yang positif, dinyatakan sembuh, maupun meninggal dunia. Total kasus yang terjadi di Indonesia sebanyak 36.406 pasien positif virus corona,13.213 pasien yang sembuh dan 2.048 kasus kematian.

    Menyikapi hal ini, Anggota Dewan Kota Bekasi, Murfati Lidianto, SE., mengingatkan masyarakat Kota Bekasi untuk tidak lengah dan tetap waspada dengan mengikuti protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah.

    “Perjuangan melawan Covid-19 belum berakhir. Ancaman Covid-19 masih ada. Jangan sampai terjadi gelombang kedua! Oleh karenanya saya mengingatkan dan mengharapkan masyarakat tetap waspada melawan musuh yang tidak tampak dan kasat mata ini”, terang Anggota DPRD Kota Bekasi Dapil Kecamatan Medan Satria dan Bekasi Barat ini kepada redaksi wartanasrani.com, Hari ini, Selasa (13/06/2020).

    Murfati juga mengingatkan masyarakat Kota Bekasi agar protokol kesehatan tetap dijalankan dengan baik, sampai vaksin Covid-19 diemukan dan diproduksi massal.

    “Tetap Lakukan protokol Kesehatan untuk memutuskan mata rantai penularan wabah Covid-19. Gunakan MASKER setiap 4 jam ganti dengan masker baru. Rajin mencuci tangan dan gunakan HAND SANITIZER bila di luar rumah. JAGA IMUNITAS Tubuh dengan rajin mengkonsumsi Vitamin. Bersihkan lingkungan dalam dan luar rumah dengan disinfektan secara rutin dan got2 di kasih garam kasar utk mematikan jentik dan cacing-cacing”, sebut Murfati Lidianto.

    Beberapa tips saat beraktivitas khususnya ditempat-tempat yang beresiko tertular disampaikan juga oleh Murfati. Menurutnya, tetap menjaga jarak, hindari keramaian dan bepergian bila tidak penting, perlu menjadi perhatian masyarakat.

    “Tetap menjaga jarak minimal 1.2 meter, hindari tempat keramaian dan kerumunan, hindari bepergian ke luar kota, hindari keluar rumah bila tidak penting. Diam di rumah lebih baik”, tegasnya.

    “Semoga kita semua diberikan kesehatan dan sayangilah diri kita dan keluarga. Pulang kerumah segera mandi dan ganti baju”, tegas Murfati lagi mengingatkan masyarakat untuk selalu jaga kesehatan diri sendiri, keluarga dan orang lain. (*)

  • PENGHAPUSAN KITAB SUCI INJIL BERBAHASA MINANG DI PLAY STORE, AKAN MENJADI PRESEDEN BURUK PENGHORMATAN PRINSIP KEBHINEKAAN DALAM BINGKAI NKRI

    PENGHAPUSAN KITAB SUCI INJIL BERBAHASA MINANG DI PLAY STORE, AKAN MENJADI PRESEDEN BURUK PENGHORMATAN PRINSIP KEBHINEKAAN DALAM BINGKAI NKRI

    BOGOR, WARTANAARANI.COM – Menyikapi penghapusan Kitab Suci Injil berbahasa Minang di Play Store, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia (DPD PSI) Kota Bogor, SUGENG TEGUH SANTOSO, S.H., mengecam tindakan penghapusan aplikasi kitab suci Injil berbahasa Minang, dan meminta agar aplikasi kitab suci Injil berbahasa Minang itu dipulihkan kembali.

    Berikut Press Release DPD PSI Kota Bogor yang diterima redaksi wartanasrani.com;

    Negara melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), kembali menunjukkan sikap ketidakberdayaan dengan mengakomodir permintaan Gubernur Sumatera Barat, Irawan Prayitno, yang meminta agar aplikasi Kitab Suci Injil berbahaaa Minang, yang ada di layanan distribusi digital play atore untuk dihapus. Kini, aplikasi Kitab Suci Injil berbahasa Minang itu sudah di take down dari play store.

    Setidaknya ada 2 (dua) klaim Gubernur Sumbar meminta Kemenkoinfo menghapus aplikasi Kitab Suci Injil berbahasa Minang itu:

    Pertama, masyarakat Minangkabau sangat keberatan dan resah dengan aplikasi tersebut.

    Kedua, aplikasi tersebut sangat bertolak belakang dengan adat dan budaya masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’. Klaim sosiologis dan kultural (kearifan lokal) yang dikemukakan oleh Gubernur Sumbar itu, belum tentu mewakili pandangan masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Lagi pula, aplikasi Kitab Suci Injil berbahasa Minang itu, tidak serta merta memaksa pembacanya mengubah agama atau kepercayaannya.

    Hal ini mengingat, hak atas kebebasan beragama dan berkepercayaan adalah hak asasi manusia, dan “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” sebagaimana diatur dalam Pasal 29 ayat (2) UUD Tahun 1945.

    Pada saat yang sama, klaim Gubernur Sumbar ini, terkesan mempertentangkan antara kearifan lokal dengan prinsip-prinsip dasar bernegara sebagaimana tertuang dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal seharunya tidak.

    Bahkan Pasal 18 B ayat (2) UUD Tahun 1945 mengatur bahwa “negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.

    Oleh karena itu, tindakan penghapusan aplikasi Injil berbahasa Minang itu, akan menjadi preseden buruk bagi penghormatan nilai-nilai kebhinekaan di Indonesia.

    Apalagi belum adanya keputusan hukum apapun yang menyatakan bahwa aplikasi Injil berbahasa Minang melanggar atau bertentangan dengan konstitusi dan peraturan lainnya. Justru sebaliknya, aplikasi itu dapat dilihat sebagai inovasi dan memperkaya pengetahuan kita.

    Atas hal tersebut, Dewan Perwakilan Daerah Partai Solidaritas Indonesia Kota Bogor (DPD PSI Kota Bogor) menyatakan sikap:

    1. Mengecam tindakan penghapusan aplikasi kitab suci Injil berbahasa Minang, karena dapat menjadi preseden buruk bagi kebhinekaan dalam bingkai NKRI;

    2. Meminta agar aplikasi kitab suci Injil berbahasa Minang itu dipulihkan kembali; Demikian press release ini kami sampaikan, salam solidaritas.

    Hormat Kami, Ketua DPD PSI KOTA BOGOR SUGENG TEGUH SANTOSO, S.H.