Category: Artikel

  • Partisipasi Gereja Dalam Mempersiapkan Jemaat  Menuju Generasi Emas 2045

    Partisipasi Gereja Dalam Mempersiapkan Jemaat Menuju Generasi Emas 2045

    Partisipasi Gereja Dalam Mempersiapkan Jemaat

    Menuju Generasi Emas 2045

    Oleh: Amistan Purba, S.Si (Teol.), SE, MM.

     

    PENGANTAR

     Pada tahun 2045 Indonesia akan menyongsong masa keemasan, yaitu saat usia kemerdekaan mencapai 100 tahun (1945-2045). Ini populer disebut dengan julukan Indonesia Emas 2045. Untuk merealisasi generasi emas ditahun 2045 seperti  yang dicanangkan  oleh  pemerintah ini bukanlah hanya  menjadi  tugas pemerintah saja namun gereja juga berperan penting dalam mempersiapkan jemaat untuk menuju generasi emas yang dimulai dari pemimpin gereja itu sendiri, dan ini menjadi tanggung jawab  bersama  baik pemerintah  dan  gereja.    Peran seorang pemimpin di  sini dibutuhkan kepribadian yang dibimbing dan dikuasai oleh Roh Kudus, sehingga tercermin kualitas integritas dari seorang pemimpin  memberi karisma kepada jemaat. Seorang pemimpin Kristen itu mendapat visi bukan berdasarkan ambisi yang dimiliki tetapi benar-benar inspirasi dari Tuhan.  Untuk mempersiapkan generasi emas di 2045 harus dibangun pondasi mulai dari saat ini dan yang untuk ditanamkan adalah karakter yang berpusat pada Kristus dan ini menjadi agenda untuk merealisasi visi yang dicapai.

    Generasi emas terbentuk dari SDM yang unggul. Peran gereja dalam mempersiapkan jemaat menuju generasi emas 2045 menjadi krusial. Gereja dapat berpartisipasi dalam mempersiapkan generasi emas 2045 melalui pendidikan, pembinaan, pengajaran nilai-nilai moral, dan perdamaian.

     

    I.  PENDIDIKAN

    Gereja dan lembaga pendidikan memegang peran penting dalam membentuk generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan diperhitungkan sebagai pilar utama pembangunan, karena memegang peran krusial dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Untuk merealisasi generasi emas Indonesia, diperlukan juga usaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Penting bagi gereja dan lembaga pendidikan untuk berkolaborasi.

     

    1. Kepemilikan Perguruan Tinggi

    Beberapa gereja yang memiliki perguruan tinggi dan sejenisnya (mencakup universitas, institut, sekolah tinggi, akademi) diantaranya:

    1) Gereja Katolik

    Gereja Katolik memiliki universitas, antara lain: Universitas Katolik Parahyangan di Bandung, Universitas Katolik Widya Mandala di Surabaya, Universitas Atmajaya di Jakarta.

    2) Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

    HKBP memiliki beberapa lembaga pendidikan tinggi, antara lain: Universitas HKBP Nommensen Medan, Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematang Siantar, Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Seminarium Sipoholon, Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti, Sekolah Tinggi Diakones HKBP Balige, Akademi Keperawatan HKBP Balige, semua berdomisili di Sumatera Utara.

    3) Gereja Methodist Indonesia

    Gereja Methodist Indonesia memiliki satu universitas yang dikelola, yaitu Universitas Methodist Indonesia di Medan.

    4) Gereja Kristen Indonesia (GKI)

    Gereja Kristen Indonesia memeiliki beberapa universitas yang dasosiasikan dengannya, antara lain Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Jakarta, Unversitas Kriten Krida Wacana (UKRIDA) di Jakarta, dan Universitas Kristen Maranatha di Bandung. Selain itu, ada Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Yogyakarta, yang juga memilki hubungan dengan GKI.

    5) Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh

    Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memiliki universitas yaitu Universitas Advent Indonesia di Bandung.

    6) Gereja Kristen Sumba

    Gereja Kristen Sumba memiliki universitas yaitu Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.

    7) Gereja Kristen Pasundan

    Gereja Kristen Pasundan memiliki perguruan tinggi yaitu Institut Kesehatan Immanuel di Bandung.

    8) Gereja Kristus Yesus

    Gereja Kristys Yesus memiliki Sekolah Tinggi teologi Amanat Agung di Jakarta.

    9) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) memiliki Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT)  di Sulawesi Utara.

    10) Gereja Bethel Indonesia (GBI)

    Gereja Bethel Indonesia memiliki kampus pendidikan tinggi teologi yaitu Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia (STTBI) di Jakarta.

    11) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI)

    Gereja Pantekosta di Indonesia memiliki beberapa kampus pendidikan tinggi, seperti Sekolah Tinggi Alkitab Batu, STT Cianjur, Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia.

    Selain gereja-gereja di atas, masih banyak gereja lainnya yang mempunyai asosiasi dengan perguruan tinggi. Asosiasi antara gereja dan perguruan tinggi bisa heterogen, mulai  dari gereja yang secara formal mendirikan atau mempunyai kepemilikan atas perguruan tinggi, hingga gereja yang memberikan support personalitas, finansial, atau sumber daya lainnya.

     

    1. Hal Penting Yang Perlu Dilakukan

    Beberapa hal yang penting untuk dilakukan

    • Melakukan transformasi digital pendidikan Kristen
    • Meningkatkan kualitas guru dan dosen
    • Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran
    • Pendidikan berbasis riset
    • Memfasilitasi penelitian dan publikasi ilmiah
    • Penguatan akreditasi program studi
    • Memfasilitasi sinergi nilai religius dan sekular

     

    1. Kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan

    Kolaborasi antara gereja dan lembaga pendidikan penting untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, berkarakter stabil, dan berkeyakinan. Kolaborasi ini juga dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan rohani.

    1)  Signifikansi

    Signifikansi kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan:

    • Membantu menghasilkan generasi masa depan yang berkualitas dan berkarakter kuat
    • Membantu meningkatkan kualitas pendidikan rohani
    • Membantu meningkatkan mutu guru menjadi guru yang kompeten dan sehat rohani
    • Membantu menyelenggarakan sekolah yang bermutu
    • Membantu membentuk generasi muda yang memiliki pondasi iman yang kuat dan nilai-nilai moral yang benar
    • Membantu mendorong kemajuan sosial dan pembangunan

    Contoh kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan adalah membantu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat, baik dari segi rohani maupun kesejahteraan sosial.

    2) Kendala

    Kendala kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan:

    • Keterbatasan sumber daya, terutama di daerah terpencil
    • Persaingan dengan lembaga pendidikan lainnya.

     

    II. PEMBINAAN

    Pembinaan jemaat merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan gereja. Gereja dan tugas pembinaan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Gereja dapat mempersiapkan jemaat menuju generasi emas 2045 melalui pembinaan dengan berbagai kegiatan, seperti ibadah, sosial, dan katekisasi.

    1. Kegiatan

    Kegiatan pembinaan gereja di antaranya:

    • Mengadakan seminar tentang pergaulan masa kini
    • Memberikan konseling kepada remaja
    • Membangun relasi dengan lembaga pemerintah dan masyarakat
    • Membina iman Kristen dan karakter kristiani
    • Membina pemahaman dan kedewasaan iman kepada Yesus Kristus
    1. Peran

    Peran gereja dalam pembinaan di antaranya:

    • Membina orang-orang yang ada di dalam Kristus
    • Membangun karakter kristiani
    • Memanfaatkan remaja Kristen sebagai penerus bangsa di masa depan
    • Memanfaatkan anak sebagai bagian penting dari proses pembinaan jemaat

    Peran pemimpin gereja di antaranya:

    • Membina jemaat yang Tuhan percayakan
    • Memiliki sikap dan perilaku yang baik
    • Berkualifikasi memberi gagasan dan memotivasi orang lain untuk meneladaninya
    1. Tujuan

    Tujuan pembinaan di antaranya:

    • Mempersiapkan seluruh anggota jemaat dalam menghadapi tantangan
    • Membina pemahaman dan kedewasaan iman kepada Yesus Kristus
    • Membina generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang berdampak negatif.

     

    III. PENGAJARAN NILAI-NILAI MORAL

    Pengajaran nilai-nilai moral jemaat adalah proses pembelajaran nilai-nlai moral yang dilakukan kepada jemaat suatu agama. Gereja dapat mempersiapkan jemaat menuju generasi emas 2045 dengan mengajarkan nilai-nilai moral kepada jemaatnya melalui berbagai kegiatan dengan memadukan nilai agama dan ilmu pengetahuan.

    1. Metode

    Metode gereja mempersiapkan jemaat di antaranya:

    • Memfasilitasi pendidikan agama yang menjadi landasan untuk membentuk karakter dan moral
    • Mengajarkan nilai-nilai moral dan etika
    • Mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan pola kehidupan yang sesuai dengan firman Tuhan
    • Mengajarkan nilai-nilai solidaritas dan mengatasi sikap materialistik
    1. Tujuan

    Tujuan pengajaran nilai-nilai moral di antaranya:

    • Membentuk generasi penerus yang beriman, berkarakter , dan bertanggung jawab
    • Membentuk generasi muda yang memiliki pondasi iman yang kuat dan nilai-nilai moral yang benar
    • Membimbing sikap hidup manusia supaya berbentuk kepribadian Kristen yang dapat dipercaya
    • Membangun individu yang bertanggung jawab dan bermoral
    • Meningkatkan empati, dan membentuk sikap positif terhadap orang lain.

     

    IV. PERDAMAIAN

    Perdamaian bagi jemaat Kristen adalah ajaran untuk hidup damai dengan sesama, lingkungan, dan Tuhan. Dunia sering diwarnai dengan konflik dan perpecahan, gereja memegang peran penting sebagai agen perdamaian di tengah ketidakpastian. Gereja juga dapat berperan penting di tengah masyarakat majemuk dalam mengajarkan misi perdamaian, termasuk didalam jemaatnya.

    1. Peran

    Peran gereja dalam mewujudkan perdamaian di antaranya:

    • Mengajarkan nilai-nilai perdamaian seperti kasih, toleransi, dan hidup berdampingan dengan komunitas lain
    • Menjadi contoh perdamaian dengan perbuatan cinta kasih terhadap sesama dan seluruh ciptaan
    • Mengajarkan untuk meneladani pribadi Yesus yang senantiasa mengajarkan perdamaian
    • Membawa damai antar umat beragama dan menjunjung toleransi yang setinggi-tingginya
    • Membangun masyarakat yang lebih baik dengan solidaritas sosial
    • Membangun komunitas di masyarakat melalui pelayanan diakonia.

    Peran gereja dalam jemaat di antaranya:

    • Menangani konflik di tengah-tengah jemaat
    • Membina karakter dan melakukan pengembalaan agar iman dan moral jemaat semakin bertumbuh
    • Melakukan kunjungan, mendoakan, dan mengasihi jemaat
    • Membangun hubungan yang harmonis dengan jemaat
    • Menjadi garam dan terang dunia bagi sekitar
    • Mengakomodasi perbedaan pendapat untuk membangun kesatuan dalam jemaat
    1. Tujuan

    Tujuan mengajarkan misi perdamaian kepada jemaat adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan bergereja.

     

    PENUTUP

    Peran gereja  merupakan satu hal  yang sangat fundamental untuk mempersiapkan jemaat menuju generasi emas, karena gereja juga harus berpartisipasi dalam merealisasikan yang dicanangkan pemerintah di tahun 2045 Indonesia Emas.

    Gereja berperan dalam pendidikan jemaat sebagai bentuk partisipasi Kristen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembinaan warga gereja bertujuan untuk membina orang-orang yang ada di dalam Kristus. Mengaktualisasikan generasi emas 2045 bukanlah sesuatu yang mudah, perlu ditanamkan passion yang berdasarkan nilai religius, kebangsaan serta nilai kehidupan yang dihiasi dengan  moral, etika dan budi pekerti tinggi.  Gereja berperan penting di tengah masyarakat majemuk dalam mengajarkan misi perdamaian, karena gereja hadir membawa perdamaian bagi semua orang di tengah masyarakat majemuk.

    Penulis adalah Akademisi, Pemerhati Ekonomi dan Sosial, 

    Tinggal di Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat.

  • Pendeta dan Jurnalistik: Peran Ganda dalam Misinya Memberitakan Kebenaran

    WARTANASRANI.COM – Pendeta dan jurnalis adalah dua profesi yang tampak berbeda, tetapi keduanya memiliki kesamaan dalam tugasnya: menyampaikan kebenaran. Pendeta memberitakan kebenaran firman Tuhan kepada jemaat, sementara jurnalis menyampaikan fakta dan informasi kepada masyarakat.

    Dalam konteks kekristenan, peran pendeta dalam dunia jurnalistik menjadi semakin relevan, terutama dalam menyampaikan pesan-pesan moral, sosial, dan spiritual melalui berbagai media.

    Pendeta dalam Dunia Jurnalistik

    Seorang pendeta yang terjun dalam jurnalistik memiliki tanggung jawab ganda. Ia tidak hanya bertugas sebagai gembala jemaat, tetapi juga sebagai pengawal informasi yang jujur dan berintegritas. Pendeta yang aktif di dunia jurnalistik memiliki beberapa peran penting, di antaranya:

    1. Pewarta Kebenaran dalam Media.

    Seperti halnya seorang nabi di zaman Alkitab yang menyuarakan kebenaran kepada umat, seorang pendeta dalam dunia jurnalistik bertugas untuk menegakkan kebenaran di tengah arus informasi yang sering kali bias atau dimanipulasi. Dalam era post-truth, di mana hoaks dan misinformasi merajalela, pendeta dapat menjadi suara yang berimbang dan terpercaya dalam menyampaikan berita.

    2. Pendorong Etika dalam Jurnalisme.

    Dunia jurnalistik membutuhkan prinsip etika yang kuat, seperti kejujuran, keadilan, dan objektivitas. Pendeta yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik dapat mendorong penerapan nilai-nilai Kristiani dalam praktik jurnalisme, sehingga media menjadi alat yang membangun, bukan sekadar mengejar sensasi.

    3. Jurnalisme sebagai Sarana Misi.

    Dalam era digital, media menjadi salah satu alat paling efektif untuk menyebarkan pesan Injil. Pendeta yang memahami dunia jurnalistik dapat menggunakan platform media untuk menyampaikan firman Tuhan, membangun kesadaran sosial, serta menginspirasi perubahan positif dalam masyarakat.

    4. Penghubung Antara Gereja dan Masyarakat.

    Jurnalisme yang dilakukan oleh pendeta dapat menjadi jembatan antara gereja dan masyarakat luas. Melalui tulisan, berita, atau opini yang dimuat di media, gereja dapat berkontribusi dalam berbagai isu sosial seperti keadilan, toleransi, pendidikan, dan kemanusiaan.

    Tantangan dan Peluang

    Pendeta yang berkecimpung dalam jurnalistik tentu menghadapi tantangan. Salah satunya adalah menjaga keseimbangan antara tugas pelayanan di gereja dan tugas sebagai jurnalis. Selain itu, tekanan dari berbagai pihak dalam dunia jurnalistik juga bisa menjadi tantangan tersendiri.

    Namun, di sisi lain, ini juga merupakan peluang besar bagi gereja untuk hadir dalam ruang publik dan memberikan pengaruh yang lebih luas.

    Pada akhirnya, Pendeta yang aktif dalam dunia jurnalistik adalah sebuah panggilan yang mulia. Dengan membawa nilai-nilai Kristiani ke dalam media, mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa terang bagi dunia.

    Dalam era informasi saat ini, peran pendeta dalam jurnalistik tidak hanya penting, tetapi juga strategis dalam memberitakan kebenaran dan membangun masyarakat yang lebih baik.

    Pendeta dan jurnalis, meskipun memiliki latar belakang berbeda, pada dasarnya memiliki tugas yang sama: menyampaikan kebenaran. Ketika keduanya menyatu dalam satu pribadi, maka lahirlah pewarta yang bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membawa pesan harapan dan kasih bagi dunia. (*)

    Oleh: Ronald Stevly Onibala

  • Dukung Penyandang Disabilitas: Anggur Perjamuan Kudus dengan Izin BPOM Kini Tersedia

    Dukung Penyandang Disabilitas: Anggur Perjamuan Kudus dengan Izin BPOM Kini Tersedia

    WARTANASRANI.COM – Sebuah inisiatif mulia hadir bagi umat Kristen yang ingin menjalankan Perjamuan Kudus sekaligus mendukung penyandang disabilitas (tunadaksa). Kini, tersedia Anggur Perjamuan Kudus yang diproduksi oleh saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Produk ini telah memiliki izin resmi dari BPOM RI, sehingga terjamin kualitas dan keamanannya untuk digunakan dalam ibadah.

    Berikut adalah pilihan produk serta harganya:

    1. Anggur & Roti Perjamuan dengan Ayat Firman Tuhan (Terpisah)

    – 1 pack berisi 100 pcs anggur + roti ayat terpisah

    – Harga: Rp. 120.000,- (termasuk ongkir) untuk wilayah Jabodetabek.

    2. Anggur & Roti Perjamuan dengan Ayat Firman Tuhan (Dalam Satu Kemasan)

    – 1 pack berisi 100 pcs

    – Harga: Rp. 185.000,- (termasuk ongkir) untuk wilayah Jabodetabek.

    Untuk pemesanan, dapat menghubungi:

    Banuara Sihombing: Telepon/WhatsApp: +62 811-3991-2348

    Pembayaran dilakukan melalui rekening Yayasan Tunanetra Pelangi Kasih.

    Bank BRI – No. Rek: 042101001335309

    (Paket akan dikirim setelah pembayaran diterima).

    Melalui pembelian produk ini, selain mendapatkan anggur Perjamuan Kudus berkualitas, Anda juga turut berkontribusi dalam memberdayakan penyandang disabilitas agar lebih mandiri secara ekonomi. Mari bersama mendukung karya mereka! (*)

  • Aggie Hurst: Kisah Mencengangkan Seorang Gadis Tanpa Negara

    Aggie Hurst: Kisah Mencengangkan Seorang Gadis Tanpa Negara

    Aggie Hurst: Kisah Mencengangkan Seorang Gadis Tanpa Negara

    Terkadang, dibutuhkan waktu bertahun-tahun atau seumur hidup untuk melihat maksud Tuhan

    WARTANASRANI.COM – Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Tuhan untuk melayani misi penginjilan di Afrika. Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire.

    Mereka adalah David Flood & isterinya Svea, serta Joel Erickson & isterinya Bertha.

    Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria.

    Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. “Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah,” demikian kata penduduk desa itu.

    Di desa N’dolera itu mereka ditentang habis oleh kepala suku yang khawatir kehadiran orang-orang putih ini membuat dewa-dewa setempat murka. Jadi didirikan sebuah pondok dari lumpur, kira-kira 750 meter di luar desa.

    Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi.

    Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.

    Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut.

    Anak kecil itulah satu-satuya kontak dengan penduduk lokal yang diijinkan menjual telur dan daging ayam seminggu dua kali, dan kemudian disambut dengan senang hati, dibimbing kepada Kristus.

    Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa.

    Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, “Berikan nama Aina pada anak kita,” lalu ia meninggal.

    David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya.

    Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru:

    “Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!”

    Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan:

    “Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu.”

    Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Tuhan. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.

    Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.

    Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami-istri Erickson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani.

    Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil “Aggie”. Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo.

    Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya.

    Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis.

    Saat Aggie beranjak dewasa ia mendapat kiriman majalah Kristen dengan berbahasa Swedia di kotak suratnya. Saat ia melihat sebuah halaman di majalah tersebut ia terhenti kaget karena foto-foto yang ada di majalah tersebut. Ada sebuah kuburan primitif dengan salib putih dan di salib tertulis nama Svea Flood. Aggie pun spontan beranjak ke mobilnya dan pergi menemui seseorang yang bisa menerjemahkan artikel berbahasa Swedia tersebut.

    Kemudian penerjemah itu membacakan dengan ringkas bahwa dulu ada pasangan suami isteri misionaris yang datang ke Afrika yang memperkenalkan Yesus kepada seorang bocah laki-laki. Suami isteri ini dikaruniai seorang anak perempuan tapi ibunya meninggal dunia setelah beberapa hari. Namun melalui anak kecil yang pernah dibimbing Svea Flood, Tuhan telah menyelamatkan 600 orang Zaire. Ketika si bocah tersebut beranjak dewasa ia mendirikan sekolah di desanya tersebut dan oleh semangat belas kasihan Kristus yang ia peroleh dari Svea kini ia telah menjadi Pemimpin dari Gereja Pentakosta di Zaire dan memimpin 110.000 orang-orang Kristen di Zaire.

    Sejak itu Aggie pun berusaha mencari tahu keberadaan ayahnya tapi sia-sia.

    Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie).

    Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.

    Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, “Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?”

    Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, “Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.”

    Aggie segera berseru: “Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie – Aina!”

    Mendengar seruan itu Ruhigita Ndagora si Pengkotbah kulit hitam itu segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.

    Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang.

    Ia bertanya kepada mereka: “Dimana David kakakku ?” Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol.

    Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: “Bagaimana dengan saudaraku perempuan?”

    Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata:

    “Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana.”

    Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya. Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil.

    Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh di sisinya dan menangis, “Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika.” Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, “Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi.” Aggie menjawab, “Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku”.

    Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, “Tuhan tidak memeliharamu!” Ia mengamuk. “Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!”

    Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. “Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar.”

    Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat. Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Tuhan telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.

    Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!

    Mungkin awalnya di mata David Flood, ia dan istrinya telah gagal sebagai seorang misionaris. Namun jerih payah di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Terbukti bahwa belas kasihan dan kepedulian yang disertai pemberitaan Injil terhadap satu orang melahirkan 600 orang yang bertobat dan dimuridkan.

    Beberapa tahun kemudian Aggie dan suami mengunjungi desa N’dolera tersebut. Disambut riuh rendah penuh sukacita, mereka berziarah juga ke kubur Svea Flood.

    Aggie berlutut mengucap syukur di sana, dan pendeta setempat membacakan 2 ayat berikut:

    Yohanes 12:24* _*Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

    Mazmur 126:5* _*Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorai-sorai.

    [Dikutip dari buku Aggie Hurst: The Inspiring Story of A Girl Without A Country]

  • Sekum PGI: Penegakkan Hukum dan Pelanggaran HAM masih Menjadi PR Bangsa ini

    Sekum PGI: Penegakkan Hukum dan Pelanggaran HAM masih Menjadi PR Bangsa ini

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Tahun 2022 segera lingsut akan segera berganti tahun 2023, banyak hal yang akan terjadi di tahun 2023 baik bidang politik yang sudah terasa di tahun ini, tentang tahun kegelapan ekonomi dan juga bencana. Membaca arah tahun 2023 serta program dan langkah apa yang mau dikerjakan Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI), sore Selasa 20/12/22 berkesempatan berbincang dengan Pdt Jacky Manuputy sekretaris umum PGI, mengupas tentang peran PGI tahun ke depan.

    Tahun depan ungkap Jacky ada tahun politik menjelang Pileg, Pilpres dan juga Pilkada tahun 2024 nanti, dan riak akan pertarungan politik sudah terasa tahun ini. Sekalipun riak itu terasa, PGI sebagai lembaga agama tetap menjalankan peranya mendorong adanya literasi politik masyarakat, terkait dengan penyelenggaraan pemilihan umum yang betul betul menjunjung demokrasi.

    Keterbukan dan transparasi harus menjadi pesta bersama yang dirayakan sebagai bagian penyelenggaraan masyarakat demokrasi yang majemuk. Bukan mengelola perbedaan menjadi ketegangan dan bahkan perpecahan dari kelompok, keperbagian etnis, berdasarkan agama, kelas sosial dan perbedaan politik dan sebagainya.

    “Satu yang selalu kita kuatirkan adalah merebaknya politisasi identitas di mana agama dan etnis mengalami instrumentalisasi untuk tujuan-tujuan politik terkait konstituante dan lain-lain”, tegas Jacky serius.

    Kondisi itulah yang harus selalu kita waspadai, karena bangsa ini memiliki pengalaman-pengalaman akibat permainan politisasi identitas mengakibatkan pembelahan-pembelahan di tengah masyarakat. Kita masih punya ingatan-ingatan kolektif yang membekas hingga saat ini akibat pemilihan-pemilihan sebelum-sebelumnya.

    Untuk itu Jacky mengajak perlu pematangan dari para pelaku politik agar bisa mandiri dan berdiri dari adanya berbagai kemajemukan yang ada ini. Sehingga mendorong pemilu yang berkualitas dan itu yang akan kita hadapi di tahun 2023.

    Tentunya PGI punya komitmen seperti itu dengan cara membuka relasi-relasi lembaga lintas pemuka agama, tokoh lintas iman untuk berbicara dengan mengendorse kembali tentang ingatan-ingatan narasi-narasi kebangsaan yang dibangu7n dan menjadi modal sosial yang kuat untuk keberlangsungan bangsa ini dengan waktu sangat panjang.

    Sehingga jangan sampai dirusak oleh kepentingan-kepentingan politik sesaat, sehingga merusak apa yang sudah dibangun oleh para faunding father bangsa ini.

    Kembali tentang membangun narasi seperti apa yang PGI perlu lakukan pertama adalah kontra narasi terhadap kerja-kerja narasi yang cenderung memecah belah. Untuk itu PGI mendorong bagi umat Kristen tidak membangun self defence mechanism, karena ada politisasi identitas lalu orang menarik diri dari politik dan menjaga atau membentengi diri dengan sangat sensitive.

    Jika umat Kristen melakukan sikap self defence tersebut tidak bagus bagi panggilan bangsa, karena umat Kristen terpanggil untuk memberi diri lagi negeri ini, bahwa tantangan seperti itu bukan baru sekarang, karena sejak awal sudah ada pertarungan-pertarungan identitas seperti itu.

    Kenapa, lanjut Jacky pertarungan politiasi identitas menjadi masiv karena memang ditopang dengan adanya sosial media dan macam-macam.

    Jadi melihat kebangsaan sebagai kewarganegaraan sebagai identitas yang utama, jadi mengangkat diri sebagai identitas sebagai orang Kristen ditengah bangsa ini pada level identitas kewarganegaraan dan kebangsaan itu salah satu narasi yang PGI kembangkan.

    Bahwasannya ada ketidakadilan itu juga dialami banyak masyarakat, bukan hanya kelompok Kristen tetapi ada dikelompok-kelompok yang lain. Artinya jika kita mengalami dan merasakan ketidakadilan tentu kita juga harus berbicara ketidakdilan yang dirasakan oleh kelompok-kelompok lain. Jacky mengajak umat Kristen jangan hanya melihat pada dirinya sendiri tetapi juga melihat orang lain dengan terus menerus mengembangkan visi kebangsaannya, terutama di tahun politik ini.

    PGI juga mendorong sebanyak mungkin warga gereja yang tertarik di bidang politik memasuki ruang-ruang politik, entah partai atau badan-badan penyelenggaraan pemerimtahan dan lain-lain dari tingkat pusat hingga daerah.

    Langkah untuk mewujudkan ini PGI mendorong warganya yang terjun politik bahkan memberikan rekomendasi serta melakukan pendampingan pastoral. Dalam rangka tersebut PGI membentuk Pokja Politik karena setiap warga gereja yang saat ini masuk ruang politik tantangannya akan sangat luar biasa, mereka akan menghadapi berbagai macam masalah yang menuntut dia mengambil sikap etis dalam menentukan ke3bijakan-kebijakan. Karena politik biasanya berjalan tak menentu, karena itu lembaga agama harus memberikan nilai-nilai etis itu dan sekaligus mengawal nilai-nilai tersebut.

    Karena bagaimanapun dia itu warga dari gereja dan warga dari kelembagaan agama yang lain dari komunitas agama lain. Dan itu tugas lembaga agama untuk menjaga nilai-nilai etis mengawal realiatas, oleh karenanya pastoral politik dirumuskan oleh gereja-gereja untuk mengawal warga gereja memasuki ruang-ruang politik praktis.

    “Gereja tidak berpolitik praktis tetapi panggilan gereja dalam politik adalah membekali nilai dan mendampingi agar nilai nilai etis itu tetap terjaga”, ujar Jacky yang juga pendeta Gereja Protestan Maluku ini.

    Pemberdayaan Pangan Lokal

    Tentang adanya pridiksi ekonomi tahun depan akan goncang, Jacky melihat bahwa negara kita yang penuh dengan keberagaman dan sumber daya manusia serta alam yang luar biasa, akan tetap kuat menghadapi ancaman krisis ekomomi.

    Untuk itu sambungnya PGi akan mendorong adanya ketahanan pangan artinya kita ini disadari dengan waktu lama tercerabut dengan pangan lokal. Bangsa ini mengalami politiasi pangan dengan waktu lama. Padahal Negara yang penuh keragaman dan sangat luar biasa mesthinya mampu untuk bertahan menghadapi ancaman krisis pangan.

    Gereja-gereja anggota PGI konsen mendorong pangan lokal itu untuk kembali dibudiayakan, dan itu dibiasakan lagi. Syukur-syukur ada beberapa gereja yang menyusun strateginya bagaimana dengan pengembangan pangan lokal masing-masing daerah dilakukan.

    Semisal di Maluku dan beberapa daerah di Papua dengan makanan sagunya, di mana beberapa lama makanan ini ditinggalkan akibat politik beras dan sebagainya. Padahal sagu itu karbohidratnya lebih bagus dari beras dengan lauknya ikan, namun semua itu mengalami pabrikasi dan ketika itu macet pada bingung karena orang sudah tidak terbiasa lagi dengan makanan lokal.

    Nah, langkah PGI tukas Jacky akan mendorong gereja-gereja dengan sidang tahunan akan memberikan anjuran menu makanan dengan perbandingan 70 persen makanan lokal selebihnya boleh saja makanan lain. PGI mengawal hingga seperti itu, karena dengan kembali membudidayakan makanan lokal sekaligus terjadi pemberdayaan ekonomi masyarakat atau jemaat.

    Pemberdayaan makanan lokal ini akan semakin bisa terwujud bagi gereja-gereja yang memiliki lahan yang luas. Makanya ketika pangan lokal itu bisa kembali dihidupkan, tentang pridiksi ekonomi yang gelap itu salah satu cara mengatasi dengan pemberdayaan pangan masyarakat lokal.

    Walaupun ada daerah-daerah yang minus sekalipun mereka punya kemampuan menghidupi dirinya, karena sudah teruji menghadapi kehidupan yang minus namun tetap bertahan. Kalaupun kemudian menjadi biasa karena adanya politisasi pangan. Sehingga dipakai ukuran kalau belum makan nasi tiga kali sehari ini dikatakan masih hidup dalam standar kemiskinan dan sebagainya.

    Makanya harapan tahun depan khususnya di bidang pangan kembali ke ugaharian itu dengan merasa cukup dengan apa yang ada, pola hidup yang sederhana serta saling membantu memsupport yang lain. Tidak mudah memang, maka perlu perumusan strategi dan dicontohkan salah satu yang sudah dilakukan PGI adalah melarang menggunakan botol atau gelas dari bahan plastic dan ini sudah diikuti beberapa sinode anggota PGI jika ada acara tidak menggunakan lagi bahan plastik.

    “Orang kita perlu sukses story lihat contoh perilaku jadi sekecil apapun itu berikan cantoh terlebih dahulu ketimbang dengan suara atau anjuran”, tandas Jacky peraih Apresiasi PEWARNA figure Oikumene dan lintas agama ini.

    Kemudian menyangkut pandangan PGI terkait penegakan hukum dan HAM, Jacky tanpa tedeng aling-aling melihat itu masih menjadi wilayah yang butuh pergumulan yang tidak ringan. Karena melihat pembangunan selama periode ini memimpin dalam bidang HAM banyak kasus. Entah terkait posisi terkait konflik agrarian ataupun pelanggaran-pelanggaran HAM yang lain, baik masyarakat adat, tanah dan lain sebagainya.

    Penegakkan hukum kita ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar di negeri ini, kadang-kadang menentukan pilihan-pilihan prioritasnya untuk infrasrtuktur dulu, baru kemudian HAM dan lain-lain. Sekalipun harusnya bisa seiring, tetapi kenapa seperti itu, Jacky mengaku bukan ahli di bidang pembangunan infrastruktur sehinga bisa menakar strategi mana yang terlebih dulu.

    Namun kami sebagi konsep gereja selalu menyikapi bagaimana kondisi hak asasi, kondis lingkungan dan lain sebagainya. Tentu dengan mensyukuri segala kemajuan yang dicapai tapi ada hal-hal yang tertinggal yang masih membutuhkan pembenahan seperti penegakkan hukum dan HAM tersebut. Kemudian seperti masalah di Papua yang masih menjadi lobang hitam di negeri ini yang harus segera diselesaikan .

  • PELAYANAN PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

    PELAYANAN PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

    PELAYANAN PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

    Penulis: MAHIPAL, M.Pd.K

    Dosen STT Paulus Jakarta

     

    Sebagian besar orang Kristen berpandangan bahwa bagian yang paling penting dalam liturgi kebaktian Kristen adalah Pemberitaan Firman Allah. Anggapan yang keliru ini mengakibatkan banyak jemaat Kristen tidak lagi memberikan perhatian dan penghargaan yang sepantasnya atau semestinya terhadap bagian yang lain dalam kebaktian-diantaranya terhadap puji-pujian.

    Puji-pujian dalam kebaktian mempunyai peranan dan kepentingan khusus yang tidak boleh diabaikan. Dalam pemberitaan Firman Tuhan, Allah yang berbicara kepada kita, tetapi dalam puji-pujian, kita mengagungkan Tuhan dan menyatakan isi hati kepada-Nya. Kita memberikan persembahan buah bibir kepada Tuhan (Ibr.13:15)

    Seorang pemberita Firman Allah dipakai Allah untuk menyampaikan Firman-Nya kepada umat, tetapi seorang Pelayan Puji-pujian (Worship Leader), dipakai Roh Kudus membawa umat Allah kehadirat-Nya

    PERANAN SEORANG PEMIMPIN PUJI-PUJIAN

    1. Memandu dan Mengarahkan Jemaat ke Hadirat Allah

    Suatu keharusan yang tidak dapat ditawar bagi seorang pemimpin puji-pujian adalah bahwa ia harus dipimpin oleh Roh Kudus dalam melaksanakan pelayanannya. Sebab hanya dengan pimpinan Roh Kudus seorang pemimpin puji-pujian mampu menghantar jemaat ke hadirat Allah dan merasakan kehadiran-Nya.

    Bila seorang pemimpin puji-pujian dipenuhi dan dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus, maka pelayanannya akan benar-benar bermutu. Jemaat yang dilayaninya akan terdorong untuk menyanyi, memuji dan menyembah Allah dengan kerelaan, ketulusan, dan tidak munafik.

    Roh Kuduslah yang menciptakan dan mengalirkan atmosfir penyembahan ke tengah-tengah persekutuan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin puji-pujian (WL) tidak diperkenankan “memompa” emosi dan perasaan palsu yang dibuat-buat yang dapat menimbulkan kemunafikan dalam ibadah

    1. Mengajak Jemaat untuk Memuliakan Tuhan

    Seorang pemimpin puji-pujian tidak boleh hanya sekedar mengajar jemaat untuk menyanyi bersama, tetapi harus dapat membawa jemaat kepada sikap menyanyi yang sungguh-sungguh memuji, memuja dan menyembah Allah. Dalam hal ini penting sekali pemimpin puji-pujian memiliki sikap memuji dan menyembah yang benar. Sikap pemimpin puji-pujian akan menjadi pola dengan mana jemaat belajar memuji dan menyembah.

    Menyembah dalam bahasa Ibrani “shachah”, yang dapat diartikan : menyembahberbaktitengkurap atau menelungkupsujud bertelut dengan dahi menempel di lantai dan tunduk.

    Kata Shachah dalam bahasa Yunani sejajar dengan kata “Proskuneo” yang artinya : mencium, seperti seekor anjing mencium (menjilat) tangan tuannya.

    Seorang pemimpin puji-pujian tidak boleh puas dengan semangat jiwani yang menggerakkan jemaat melompat-lompat antusias memuji Tuhan, atau mengeluarkan air mata Nampak khusyuk menyembah Allah. Tetapi yang penting adalah sikap hati jemaat yang sungguh-sungguh tunduk kepada Allah, sebagai sikap batiniah yang benar

    1. Mempersiapkan Jemaat Menyambut Firman Tuhan

    Harus ditegaskan bahwa keberhasilan seorang pelayan Firman Tuhan juga dipengaruhi oleh peran seorang pemimpin puji-pujian. Hal ini dapat dimengerti sebab hati yang terjamah oleh Roh Kudus dalam puji-pujian dan hadirat Tuhan pada waktu memuji dan menyembah Allah menjadikannya bagai tanah yang subur guna menerima taburan benih.

    Pemimpin puji-pujian dikategorikan berhasil menunaikan pelayanannya kalau ia dapat dipakai oleh Roh Kudus dalam mempersiapkan hati jemaat, sampai hati jemaat bagai tanah yang sudah dibajak dan siap untuk menerima benih yaitu Firman Tuhan.

    Inilah indikasi awal yang menunjukkan bahwa memandu dan mengarahkan jemaat ke hadirat Allah dikatakan berhasil

    KRITERIA SEORANG PEMIMPIN PUJI-PUJIAN

    Ada kriteria yang harus dikenakan bagi seorang yang mengambil bagian dalam pelayanan puji-pujian. Kriteria ini didasarkan pada hidup Tuhan Yesus Kristus (1Yoh.2:6).

    Kriteria tersebut antara lain :

    1. Kehidupan Doa

    Seorang pemimpin puji-pujian (termasuk singer dan pemusik) haruslah seorang yang memiliki kehidupan doa. Melalui doa inilah seorang pemimpin puji-pujian (Team PW) dapat memilih lagu-lagu yang tepat sesuai dengan suasana kebaktian yang akan dilayani, peka membaca situasi ibadah: apakah mau mengulang lagu, jemaat diajak berdiri atau duduk, bersalaman, dll.

     

    1. Hidup dalam Pujian dan Penyembahan

    Bila seorang pemimpin puji-pujian hidup dalam pujian dan penyembahan, maka hal memuji dan menyembah Allah baginya adalah hal yang “biasa” ia lakukan, dengan demikian ia menjadi terlatih. Ia memiliki “kuasa” dalam memuji dan menyembah Allah. Dengan demikian kuasa pujian dan penyembahan akan mengalir  kepada jemaat

     

    1. Kehidupan yang Bersih

    Seorang pemimpin puji-pujian haruslah seseorang yang mempunyai kehidupan yang bersih atau hidup suci di hadapan Allah. Kesucian hidup seseorang akan membuahkan kuasa yang melaluinya Allah berkarya (2Tim.2:19-22). Kesucian hidup harus dirajut dan dibangun setiap hari, bukan hanya pada waktu hendak melayani di mimbar. Semakin bersih hidup seorang pemimpin pujian, semakin efektif ia dipakai Tuhan. Kesucian inilah yang menjadikan seseorang peka dan mengerti kehendak Allah.

     

    Dalam Mat.5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena ia akan melihat Allah”. Kata “melihat” di dalam ayat ini teks aslinya menggunakan kata”iopsontai”, yang akar katanya adalah “horao” artinya melihat dengan hati, bukan melihat dengan mata jasmani. Bila kata yang digunakan untuk melihat di situ adalah “blepo” atau “theoreo” maka berarti melihat dengan mata jasmani. Sebaliknya, “Horao” berarti melihat dengan hati atau peka dengan suara Allah

     

    1. Dewasa Rohani

    Seorang pemimpin puji-pujian haruslah seorang yang dewasa secara rohani. Kedewasaan rohani tidak diukur dengan kecakapan kita berdiri di mimbar dan melakukan tugas gerejawi. Dewasa rohani diukur dari sejauh mana seseorang telah menyangkal diri, memberi pribadinya dibentuk dan mengalami kuasa Tuhan secara pribadi.

     

    Seorang yang mudah tersinggung, egois, tidak mau mengalah, mengharapkan pujian dan sanjungan, materialistis, dll, belum dapat memuji dan menyembah Tuhan dengan benar.

    Ukuran kedewasaan rohani memang relatif.

     

    Tentu seseorang tidak perlu menunggu menjadi sempurna baru kemudian boleh naik ke mimbar. Tetapi  kalau ia benar-benar memberi diri dibentuk oleh Allah setiap hari, maka Allah akan mempercayainya untuk mengambil bagian dalam pelayanan.

    Secara umum, dewasa rohani dapat diukur dan ditandai dalam kehidupannya dipenuhi buah Roh (Gal.5:22-26). Semakin dewasa rohani, semakin bermutulah pelayanannya dibidang ini.

     

    1. Memiliki Talenta di Bidang Pelayanan ini

    Harus diterima bahwa setiap kita memiliki talenta yang berbeda. Inilah kebijaksanaan Tuhan dan hikmat-Nya. Dengan demikian setiap orang percaya di dalam ladang pelayanan, harus saling melengkapi dan merupakan “team work” yang bergantung dan berkaitan satu dengan yang lain.

     

    Kriteria ini tidak mutlak, sebab bakat musik seseorang relatif  kualitasnya, maksudnya setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyanyi. Tetapi mutlak bagi seorang pemimpin puji-pujian untuk dapat mengerti nada lagu, ketukan, irama dan tidak fals

     

    1. Bebas dari Ikatan-ikatan

    Seorang pemimpin puji-pujian harus telah hidup dalam pertobatan yang benar, lahir baru dan dilepaskan dari ikatan-ikatan kuasa gelap. Ikatan-ikatan disini adalah kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Firman Allah, dan ikatan-ikatan akibat kuasa kegelapan atau okultisme di masa lalu, harus dilepaskan, karena akan mengurangi “kuasa rohani” yang seharusnya mengalir dalam pelayanan

    Sikap hati memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan seorang pemimpin puji-pujian. Diantaranya adalah :

    Percaya dan menyerah kepada pimpinan Roh Kudus, Memimpin dan Menyembah, Rendah hati, Murni dan Tulus, Hubungan batin dengan jemaat, Kepercayaan diri.

  • SURAT PERNYATAAN PGLII, SERUAN HENTIKAN KEKERASAN

    SURAT PERNYATAAN PGLII, SERUAN HENTIKAN KEKERASAN

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menyikapi tindak kekerasan dan pembunuhan di Kampung Nogolait, Distrik Keneyam, Kabupaten Nduga, Papua pada hari Sabtu, tanggal 16 Juli 2022, Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) mengeluarkan Surat Pernyataan PGLII Seruan Hentikan Kekerasan. Berikut isi lengkap seruan PGLII tertanggal 21 Juli 2022 yang ditandatangani oleh Pengurus Pusat PGLII Pdt. Dr. Ronny Mandang, M.Th (Ketua Umum) dan Pdt. Tommy Lengkong, M.Th (Sekretaris Umum);

    Bahwa pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2022, Pkl. 09.15 WIT, kembali terjadi tindak kekerasan dan pembunuhan di Kampung Nogolait, Distrik Keneyam, Kabupaten Nduga, Papua, oleh “kelompok tertentu” yang menyebabkan korban jatuh 10 orang: 7 orang meninggal dunia, 2 orang sekarat dan 1 luka-luka. Di antara yang meninggal tercatat seorang tokoh agama Kristen setempat, Pdt. Eliazer Baner, S.Th. dari Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) yang menjalankan tugas gereja di GKII wilayah Nduga.

    Adapun nama-nama para korban tersebut sebagai berikut:

    1. Yulius Watu , 23 thun, laki-laki, swasta, suku NTT. Meninggal Dunia (MD).
    2. Hubertus Goti, 41 thn, laki-laki, swasta, suku NTT. MD.
    3. Daeng Marannu, 42 thun, laki-laki, swasta ,suku Makassar. MD
    4. Taufan Amir ,42 thun, laki-laki, swasta , suku Makassar. MD
    5. Johan, 26 thun, laki-laki, swasta, suku NTT. MD.
    6. Alex, 45 thun, laki-laki, swasta ,suku Key. MD.
    7. Yuda Nurusinga, laki-laki, 22 tahun , swasta, suku Batak. Sekarat
    8. Nasjen , laki’-laki, 41 tahun, swata, suku Makassar . Sekarat.
    9. Sudirman, laki-laki, 36 tahun, swasta, suku Makassar. Luka  bacok di tangan sebelah kiri.
    10. Eliaser Baner, laki-laki, 54 tahun, Pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia di Nduga. MD

    Memperhatikan hal tersebut di atas, maka dengan ini PGLII menyatakan:

    1. Rasa dukacita yang sangat mendalam kami sampaikan kepada seluruh keluarga para korban dan Gereja Kemah Injil Indonesia, disertai doa kiranya Tuhan memberi penghiburan dan kekuatan. Rasa penyesalan yang mendalam karena di antara korban terdapat tokoh agama setempat, Pendeta Eliaser Baner (54), yang adalah pelayan umat GKII.
    2. Bahwa PGLII mendesak kepada Presiden RI, Panglima TNI dan KAPOLRI untuk mengusut tuntas berbagai kekerasan yang patut diduga melibatkan oknum aparat keamanan dan kelompok-kelompok yang memegang senjata, dan yang telah berwujud kepada korban manusia dan harta benda dari masyarakat sipil dan aparat keamanan, bahkan menimbulkan pengungsian masyarakat demi menghindari ancaman kekerasan. Pemerintah harus bertindak melindungi dan memberikan rasa aman secara maksimal pada masyarakat di tanah Papua, dan dalam segala kondisi agar tidak pernah mencederai rakyat sipil yang tidak bersenjata.
    3. Bahwa PGLII mendesak kepada seluruh pihak baik kelompok-kelompok yang memegang senjata dan aparat keamanan untuk menghentikan berbagai bentuk kekerasan yang hingga kini masih belum berakhir, sekaligus mengusut tuntas peristiwa pada tanggal 16 Juli 2022 yang memakan korban sangat banyak. Kami juga meminta agar dibentuk Team Pencari Fakta dari unsur yang netral, yang melibatkan bidang yang terkait, maupun tokoh masyarakat guna menjamin profesionalisme, transparansi dan akuntabilitas.
    4. Bahwa PGLII mendesak Pemerintah dan aparat keamanan agar seluruh wilayah Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Pegunungan dan Papua Tengah, tetap hanya melaksanakan kegiatan-kegiatan pengamanan dalam tingkatan atau status “Tertib Sipil”, demi tetap terciptanya damai serta toleransi di antara seluruh masyarakat di tanah Papua.
    5. Bahwa PGLII menyerukan kepada umat kristiani di tanah Papua tetap harus mengutamakan pentingnya nilai-nilai iman Kristen sebagai tonggak hidup damai dan sejahtera. Narasi-narasi kekerasan bukanlah nilai-nilai iman Kristen dan praktek-praktek kekerasan bukanlah praktek keimanan Kristen.

  • MENGEVALUASI PENGARUH FILSAFAT YUNANI DALAM GEREJA

    MENGEVALUASI PENGARUH FILSAFAT YUNANI DALAM GEREJA

    MENGEVALUASI PENGARUH FILSAFAT YUNANI DALAM GEREJA

    Oleh : Joiman Berkat Waruwu, M.Th

    STT BETHESDA BEKASI

    Dalam dunia kuno, ada dua pemikiran kuat yang menguasai dunia, yaitu pemikiran Ibrani dan pemikiran Yunani. Yang menarik adalah pemikiran Yunani lahir tetap pada saat Allah tidak berfirman kepada Israel selama 400 tahun, sampai nanti lahirnya Yesus Kristus. Seakan-akan kekosongan firman Allah itu digantikan oleh munculnya filsafat dunia kuno.

    Mengapa saya mengangkat isu ini? Ada beberapa alasan. Baik Socrates, Plato maupun Aristoteles mempengaruhi peradaban manusia melalui sistem pendidikan yang menekankan proses ‘berpikir’. Alkitab berkata dalam Amsal 23:7, “Sebab seperti orang berpikir dalam jiwanya, demikianlah ia.” (ILT). Pola berpikir mempengaruhi karakter dan gaya hidup secara personal dan komunal.

    Pengaruh kuat filsafat di dunia dapat terlihat dalam beberapa bidang :

    1. Bidang Arsitektur, contoh paling nyata bentuk-bentuk istana kepresidenan.
    2. Dalam bidang pemerintahan memperkenalkan sistem demokrasi.
    3. Dalam bidang olahraga memperkenalkan olimpiade. Olahraga menjadi obsesi layaknya agama, Pemaksimalan fisi, menampilkan tubuh manusia, olahraga dgn telanjang.

    Sifat pemikiran Yunani pada dasarnya mengutamakan debat (Logika – Akal dan Ideal – Ide). Logika, etika dan nilai untuk membuat manusia yang buruk menjadi manusia yang baik (ideal). Pemikiran Yunani menjunjung tinggi waktu santai (leisure), hiburan, pertunjukan drama, diskusi dan debat.

    Dalam memandang kerja, dua pemikiran kuno ini juga sangat berbeda. Dalam pemikiran Yunani, puncak hidup manusia adalah waktu santai (leisure), menjunjung tinggi liburan (holiday), kerja kasar itu buruk atau rendah, meninggikan pekerja intelektual, memandang pekerjaan fisik hanya untuk budak dan pada dunia Yunani kuno dua pertiga populasinya adalah imigran atau budak yang diperuntukkan untuk pekerjaan fisik. Sementara dalam pemikiran Ibrani, puncak hidup manusia adalah bekerja dan beribadah, menjunjung tinggi hari Sabat (holy day), bekerja kasar itu sacral, memandang semua jenis pekerjaan itu mulia dan kalau melihat sejarah Israel sebagian besar pelayan Tuhan berasal dari pekerja kasar seperti nelayan, gembala, tukang kayu, dan sebagainya.

    Mengevaluasi Pemikiran Para Filsuf Yunani dari Perspektif Ibrani

    1Socrates

    Dalam filsafat Socrates, segala hal yang bersifat spiritual itu sedangkan hal material itu buruk atau jahat.Dan kedua entitas ini terpisah secara total. Sementara dalam perspektif Ibrani, semua ciptaan itu baik adanya, tidak ada pemisahan total antara spiritual dan material/fisik.

    Dalam pemikiran Socrates, jiwa dan tubuh itu terpisah, hal sakral dan sekuler itu terpisah, dan hal natural dan supranatural itu terpisah total. Sementara dalam pemikiran Ibrani, idak ada pemisahan tubuh dan jiwa, manusia adalah makhluk utuh, satu-satunya yang sekuler adalah dosa, semua yang lain adalah sakral, pembedaan ciptaan dan Pencipta bukan natural dan supranatural. Karna pemikiran bahwa jiwa dan tubuh itu terpisah total, maka ketika Socrate dihukum mati dengan minum racun, ia mengatakan begini, “Jiwaku kini terbebas dari penjara tubuhku.”

    Dalam pemikiran Yunani, kematian itu harus diinginkan dan dirindukan. Sementara dalam pemikiran Ibrani, kematian itu tidak natural sejak penciptaan, kematian itu adalah hukuman, maut adalah musuh terkahir yang harus dikalahkan.

    Ada beberapa masalah penting dalam filsafat dualisme ini :

    • Spiritual itu baik, fisikal itu jahat.
    • Jiwa adalah sumber kebaikan, tubuh adalah sumber kejahatan.
    • Tuhan itu baik, namun ia terpisah dari dunia fisik.
    • Maka di antara Tuhan dan dunia fisik, harus ada seorang ‘Demi-God’ (Setengah-Tuhan) sebagai agen Tuhan di dunia fisik

    2. Aristoteles

    Aristoteles dapat disebut sebagai Bapa Penemu Hukum Logika. Ia mengatakan, “Semesta fisikal tidak dicipta namun ada dengan sendirinya. Ia mengatur dirinya sendiri.” Secara tidak langsung, ia dapat dikatakan berkontribusi dalam teori evolusi dan humanisme sekuler. Filsafatnya mempengaruhi sebagian bapa gereja yang non-Yahudi.

    Pengaruh Pemikiran Yunani Terhadap Orang Yahudi

    Pertemuan pertama pemikiran Ibrani dengan Yunani :
    Penyerangan Yerusalem oleh Antiokhus Epifane pada tahun 168 SM. Invasi ini berlangsung selama 3,5 tahun. Ia membangun arena olahraga dan patung Dewa Zeus di Bait Allah Yahudi. Ia juga membuat korban babi di altar. Hasil dari pertemuan dua pemikiran ini adalah melahirkan kelompok yang disebut kelompok Saduki. Ini adalah beberapa doktrin kelompok Saduki yang dipengaruhi oleh pemikiran Yunani :

    • Tidak percaya kebangkitan orang mati.
    • Tidak percaya adanya malaikat.
    • Tidak percaya pada Roh Kudus
    • Kompromi pada penguasa demi posisi dan keuntungan.
    • Hanas dan Kayafas adalah Saduki.

    Pertemuan kedua pemikiran Ibrani dengan Yunani adalah di
    Kota Alexandria di Mesir. Dimana banyak orang Yahudi diaspora belajar disini. Kemudian, orang Kristen yang berada di kota itu.

    Pengaruh pemikiran Yunani terhadap orang Yahudi :

    • Di Aleksandria, pemikiran Yunani dan Ibrani bertemu.
    • Menghasilkan Septuaginta, Perjanjian Lama yang diterjemahkan oleh para pemikir Ibrani ke dalam bahasa Yunani.
    • Melalui ini, kitab-kitab Apokrifa dimasukkan dalam PL.
    • Filsuf Yahudi, Philo, dipengaruhi pemikiran Yunani mengajukan demi-god ke dalam pemikiran Ibrani. Ia menamakannya “Logos”.
    • Ia tidak menjelaskan siapa/apa ‘logos’ itu.
    • Pengenalan metode penafsiran Alegori terhadap Alkitab.
    • Harus mencari makna tersembunyi dari setiap teks.
    • Tidak ada kontrol terhadap penafsiran doctrinal.
    • Menghasilkan ‘eisegesis’.
    • Metode ini dimulai di Aleksandria.
    • Baik Klemens maupun Origenus, keduanya dari Aleksandria, mengadopsi metode penafsiran Alegori.

    1. Pengaruh Pemikiran Yunani Terhadap Kekristenan

    Pengaruh pemikiran Yunani terhadap kekristenan dapat dilihat dalam pemikiran-pemikiran Augustinus dari Hippo. Augutinus lahir tahun 354, ia menjadi bishop di Kota Hippo, Tunisia. Augustinus adalah satu tokoh paling berpengaruh dalam gereja, baik Katolik maupun Protestan. Augustinus lahir di Ajajair, ke Italia, belajar pemikiran Neo-Platonisme. Di usia muda, pengikut aliran Gnostik Manikeaisme, dengan doktrin dualismenya. Mula-mula ia mengajarkan murni Injil. Namun di akhir pelayanannya, ajarannya sangat kental dengan paham Neo-Platonismenya.

    Pandangan Augustinus mengenai tubuh :

    • Dosa Adam ditransmisi secara fisik dan dibawa secara genetik dari orangtua kepada anak melalui reproduksi seksual kepada seluruh umat manusia.
    • Seks dalam pernikahan juga adalah ‘nafsu dunia’.
    • Hidup selibat lebih baik daripada hidup pernikahan. Ini berakibat pada pastor dan biarawati tidak menikah.
    • Bandingkan dengan para rabi Yahudi yang harus menikah dan mengalami cinta pernikahan.

    Sementara kalau dievaluasi kembali dari sudut pandang Ibrani dan Alkitab secara keseluruhan, inilah hasilnya :

    • Tubuh adalah bait Allah.
    • Kita akan dibangkitkan justru dengan tubuh yang baru kelak.
    • Tubuh dan jiwa adalah sebuah keberadaan yang utuh.
    • Bumi baru akan surga dimana Tuhan akan turun ke dalamnya.
    • Tubuh fisik sejatinya tidak jahat.
    • Seks adalah anugrah Tuhan (Kidung Agung).
    • Namun jangan menjadi budak nafsu.

    Pandangan Augustinus mengenai kerja adalah memisahkan antara yang sakral dan sekuler, antara rohaniawan dan awam. Hal ini terbukti sampai tahun 428, tidak ada pembedaan antara baju pelayan Tuhan dengan jemaat, hingga pemikiran Augustinus mempengaruhi gereja dan semuanya berubah.

    Pandangan Augustinus mengenai Israel :

    • Israel fisik digantikan oleh ‘Israel rohani’ yaitu gereja.
    • Segera istilah ‘hukum Taurat’ menjadi konotasi negatif.
    • Akhirnya banyak yang salah mengira bahwa hukum kasih karunia dimulai dari PB.
    • Tuhan telah selesai dengan Israel fisik.
    • Dengan metode Alegori, Augustinus menyatakan bahwa narasi tentang Tuhan dan Israel dalam PL adalah sebuah pembelajaran moral saja dan berfungsi seperti sebuah perumpamaan saja.
    • Paham ini kemudian dikenal ‘Replacement Theology’.

    Pandangan Augustinus mengenai Eskatologi :

    • Karna Yesus sudah Kembali kepada Bapa di surga maka Ia tidak dapat Kembali ke bumi fisikal yang adalah jahat.
    • Gereja Roma Katolik adalah ‘Kota Allah’ yang akan memerintah seluruh dunia sampai Kristus datang.
    • Menghasilkan paham Amillenialisme.
    • Tahun 431, Augustinus mempengaruhi konsili Efesus untuk menyatakan setiap pengajaran yang mengajarkan adanya Kerajaan Millenium di bumi harus diputuskan sebagai bidat.

    Pandangan Augustinus mengenai predestinasi :

    • Tuhan sudah memutuskan dan predeterminasi siapa yang akan selamat.
    • Tidak ada peran manusia agar ia diselamatkan. (Sama halnya Tuhan dalam pemikiran Plato sebagai Tuhan yang statis, membuat keputusan kekal dan tidak berubah pikiran-Nya.)
    • Bandingkan dengan pemikiran Ibrani. Contoh : Pejunan dan tanah liat dalam Yeremia 18
    • Pemikiran Ibrani : Tuhan itu dinamis, dapat dipengaruhi oleh pilihan tindakan manusia. Itu dibuktikan dalam sejarah mereka.

    Contoh lain dari pengaruh pemikiran Yunani terhadap kekristenan dapat terlihat dalam pemikiran-pemikiran Thomas Aquinas. Sementara Augustunius dipengaruhi oleh Plato, Thomas Aquinas dipengaruhi Aristoteles, dengan Teologi Natural yang didasarkan pada logika. Denominasi gereja yang dipengaruhi olehnya tidak menerima penggunaan karunia-karunia Roh Kudus (contoh bahasa roh) karna dianggap sudah selesai di gereja mula-mula dan lagipula tidak dapat dijelaskan secara logika.

    2. Pemikiran Akhir : Perspektif Mesianik Yahudi

    Tuhan membangkitkan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya untuk menyatakan diri-Nya dan jalan-Nya kepada dunia (Kel. 19:5-6). Tuhan menginspirasi para penulis Yahudi terhadap Alkitab (2 Tim. 3:16). Mereka tidak menulis berdasarkan logika mereka seperti yang dilakukan para penulis Yunani. Yesus adalah seorang Yahudi, dengan pemikiran, amsal dan perumpamaan Ibrani.

    Dalam perspektif Mesianik Yahudi, Allah yang hidup dan kudus dalam hubungan yang dinamis dengan manusia. Alkitab menyatakan bahwa tindakan kita dan doa kita dapat mempengaruhi Tuhan. Tuhan tidak jauh dan terpisah namun Ia adalah “Immanuel”. Bagi orang Yahudi, Tuhan adalah keselamatan. Bagi Yunani, pengetahuan (gnosis) adalah keselamatan. Yunani percaya pada logika dan pembuktian, Yahudi percaya pada pewahyuan.

    Perspektif Mesianik yahudi mengenai tubuh :

    • Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sejak kelahiran hingga kebangkitan-Nya, Ia selalu memiliki tubuh manusia.
    • Tuhan mencipta dan berinteraksi dengan dunia fisik.
    • Hidup selibat tidak lebih baik dari pernikahan (1 Kor. 7)
    • Seks diberikan kepada manusia bahkan sebelum dosa masuk dalam dunia.
    • Jubah dan budaya tidak membuat aku bermoral dan kudus.
    • Tuhan membuat manusia kudus.

    Perspektif Mesianik Yahudi mengenai kerja :

    • Semua pekerjaan adalah sakral kecuali yang illegal dan immoral.
    • Avodah (Ibrani) – kata yang sama untuk kerja dan ibadah.
    • Semua orang percaya sedang dalam pelayanan baik di tempat kerja maupun di gereja.
    • Jangan memisahkan pelayanan sebagai spiritual dan pekerjaan umum sebagai material.
    • Baik pelayan di gereja maupun pekerja umum sama-sama memerlukan iman untuk hidup.
    • Yang paling penting bukanlah apa pekerjaanmu namun bagaimana kamu bekerja.

    Perspektif Mesianik Yahudi mengenai eskatologi :

    • Nubuatan Eskatologi sebagai repetisi, setiap repetisi memberikan informasi tentang penggenapan final.
    • Contoh Matius 24:15 ‘Pembinasa keji di tempat kudus’ sudah digenapi oleh Atiokhus Epifane namun akan direpetisi lagi pada tahun      70 oleh Roma, sebelum penggenapan final di masa depan.
    • Melihat kitab Wahyu sebagai historis, futuris, preteris dan idealis.
    • (Namun pengaruh pemikiran Yunani melalui Augustinus melihat kitab Wahyu hanya dari satu sisi).

    Perspektif Mesianik Yahudi mengenai Israel :

    • Israel fisik tidak pernah digantikan oleh gereja, tapi keduanya melebur dalam Missio Dei.
    • Janji kepada Israel : pemulihan Yerusalem, tidak pernah dibatalkan.
    • Yesus secara fisik akan kembali ke bumi dan memerintah, baik di Kerajaan Millenium maupun di Bumi Baru.
    • Teokrasi akan ditegakkan.

    Saran dari penulis :

    • Jangan mengabaikan PL sebagai ‘lama’. Pemikiran-pemikiran ibrani yang terkandung dalam Perjanjian Lama adalah berasal dari Allah, bukan hasil filsafat manusia.
    • Kembalilah kepada warisan pemikiran Ibrani.
    • Gali seluruh Alkitab dan belajar dari perspektif Ibrani.
    • Sadari pengaruh pemikiran Yunani dalam doktrin gereja.
    • Terapkan Roma 12:2, “Janganlah menjadi serupa dengan (filsafat) dunia ini tetapi  berubahlah oleh pembaharuan budi (pemikiran) mu.”
  • KETRITUNGGALAN ALLAH

    KETRITUNGGALAN ALLAH

    Kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab. Dan kendati Tertullianus sudah menggunakan kata itu pada abad ke 2, barulah pada abad ke 5 kata ini mendapat tempat resmi dalam teologi Kristen. Dalam konsili di kota Nicea, Turki pada tahun 325, mengakui bahwa Allah adalah satu zat, hakikat (Latin: substantia) yaitu Allah; dan tiga oknum atau pribadi (Latin: persona) yaitu Bapa, Anak dan Roh. Istilah persona tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Istilah ini berarti topeng. Dalam bahasa Yunani juga dipakai istilah “prosopon” yang berarti “wajah”. Doktrin mengenai Allah Tritunggal inilah ajaran Kristen yang paling khas dan mencakup seutuhnya segenap unsur kebenaran mengenai adanya kegiatan Allah dalam hanya satu istilah umum yang luhur.

    Teologi berusaha menerangkan keberadaan Allah dengan menyatakan bahwa Ia satu dalam diri-Nya yang hakiki, tapi Ia berada dalam tiga cara atau bentuk, masing-masing merupakan satu diri, namun dalam cara demikian hakikat-Nya yang sebenarnya utuh dalam masing-masing diri. Harus diakui bahwa uraian mengenai Tritunggal mula-mula dikemukakan oleh para ahli yang berbahasa Yunani, dan istilah-istilah yang mereka kemukakan sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia.

     

    1. Asal Usul Doktrin Tritunggal

    Asal usul dari istilah Tritunggal dapatlah kita lihat dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yakni sebagai berikut:

    1. Perjanjian Lama

    Kendati ajaran ini tidak jelas nyata dalam Perjanjian Lama, Tritunggal itu sudah tersirat dalam penyataan diri Allah sejak masa paling dini. Tapi selaras dengan sifat historis penyataan Allah, maka ajaran ini mula-mula dikemukakan hanya dalam bentuk yang sangat bersifat bayangan saja. Ajaran ini tersirat bukan hanya dalam bagian-bagian tersendiri, tapi terajut di sepanjang bentangan kain penyataan Perjanjian Lama. Siratan yang paling tua ialah teracu dalam riwayat penciptaan, dimana Allah mencipta melalui firman dan Roh, seperti ditulis Musa, ”Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: Jadilah terang. Lalu terang itu jadi” (Kej. 1:2-3). Di sini pertama kalinya diperkenalkan firman Allah sebagai pribadi yang memiliki kuasa mencipta, dan sekaligus diperkenalkan Roh Allah sebagai pembawa hidup dan ketertiban bagi seluruh ciptaan ini.

    Jadi dari sejak masa paling dini sudah dinyatakan suatu pusat kegiatan dari tiga yang satu seutuhnya. Allah sebagai pencipta membuat alam semesta sebagai karya pikiran-Nya, mengungkapkan pikiran-Nya itu dalam wujud firman, dan membiarkan Roh-Nya bekerja sebagai asas yang menghidupkan. Justru alam semesta tidak terpisah atau lepas dari Allah, juga tidak bertentangan dengan Dia.

    Secara tidak langsung telah dinyatakan bahwa penyataan Allah Tritunggal telah diberikan kepada manusia saat ia diciptakan, atas dasar bahwa manusia akan diberi persekutuan ilahi, tapi pemberian ini kemudian hilang karena manusia jatuh dalam dosa. Musa menulis, ”Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej. 1:26).

    Kegiatan Allah dalam penciptaan dan pemerintahan-Nya kemudian dihubungkan dengan firman yang dipersonifikasikan sebagai hikmat, seperti ditulis Salomo, ”TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala” (Ams. 8:22). Ayub menulis, ”Allah mengetahui jalan ke sana Ia juga mengenal tempat kediamannya” (Ayb. 28:23). Juga dihubungkan dengan Roh sebagai pembagi segala berkat dan sumber kekuatan badani, semangat, kebudayaan dan pemerintahan. Musa menulis, ”Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” (Kel. 31:3); ”Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi” (Bil. 11:25).

    Tiga yang satu seutuhnya sebagai sumber kegiatan yang dinyatakan dalam penciptaan alam semesta, nampak lebih jelas lagi dalam peristiwa penebusan. Penyataan penebusan ini dipercayakan kepada Malaikat (Ibrani: mal’akh) Yahweh yang kadang-kadang disebut Malaikat Perjanjian, sebagaimana ditulis Musa, ”Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api” (Kel. 3:2).

    Dan setiap ayat Perjanjian Lama yang mengandung ungkapan ini merujuk kepada diri Allah, sebab jelas bahwa rujukan itu mengartikan makhluk ilahi dengan kuasa ilahi yang ditugasi untuk melaksanakan tugas khusus, sebagaimana ditulis dalam 2 Samuel, ”Ketika malaikat mengacungkan tangannya  ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah TUHAN karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu. Pada waktu itu malaikat TUHAN itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus” (2 Sam. 24:16). Tapi dalam beberapa ayat, Malaikat Allah tidak hanya memakai nama Allah, tapi juga mempunyai martabat dan kekuasaan Allah, melaksanakan penyelamatan oleh Allah dan menerima penghormatan dan pemujaan yang sepatutnya. Musa menulis, ”Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya, dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur” (Kej. 16:7).

    Roh Allah juga diberi tempat khas dalam sejarah penyataan dan penebusan. Ia memperlengkapi Mesias untuk pekerjan-Nya, sebagaimana ditulis Yesaya, ”Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yes. 11:1-2). Juga memperlengkapi umat-Nya untuk menanggapi Mesias dengan iman dan ketaatan, sebagaimana juga ditulis Yesaya, ”Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas; Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan” (Yes. 32:15). Jadi Allah yang menyatakan diri-Nya secara obyektif melalui Malaikat Utusan, juga menyatakan diri-Nya secara subyektif dalam dan melalui Roh Allah, Sang Pembagi segala berkat dan karunia-karunia dalam rangka penebusan.

    1. Masa antar perjanjian

    Dalam masa ini membentang kepastian kendati secara samar-samar dan baru merupakan bayangan, yakni persiapan akan penyataan Allah Tritunggal seutuhnya yang akan dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Menurut pemikiran Yahudi bahwa karena Allah transenden, jauh di luar alam semesta, menyebabkan manusia harus mencari seorang pengantara.

    Philo (20sM-45M), seorang filsuf Yahudi yang terkungkung oleh pandangan yang mempertentangkan antara Allah dengan dunia ini secara mutlak dan metafisik, menggambarkan tentang adanya makhluk-makhluk yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Jadi ia berusaha menyesuaikan ajaran Perjanjian Lama dengan filsafat Plato (428-348 sM), yang mau membuktikan bahwa segala hikmat Yunani sudah terdapat dalam kitab Taurat dan Nabi-nabi. Sebab itu ia menafsirkan Alkitab secara alegoris, yaitu suatu cerita nyata yang ditafsirkan secara rohani. Menurutnya bahwa Logos itu hanyalah kuasa Allah; Firman itu bukan suatu pribadi, bukan Tuhan Yesus, melainkan hanya suatu kuasa dari Tuhan.

    Diakui oleh banyak orang bahwa tugas sebagai pengantara itu adalah tugas Mesias yang sudah dinubuatkan, tapi ada kecenderungan yang menganggap bahwa Mesias itu juga transenden. Kendati demikian orang berharap bahwa bila Mesias hadir di bumi maka Roh Kudus juga akan hadir serta, karena menurut mereka bahwa Roh Kudus sudah mengundurkan diri dari gelanggang kenabian sesudah nabi Maleakhi. Jadi walaupun sudah disiratkan tentang adanya tiga oknum Allah, tapi hubungan mereka hampir tidak disinggung dan dibiarkan tersembunyi.

    1. Perjanjian Baru

    Sebelum Yesus Kristus datang, Roh Kudus datang memasuki hati orang-orang yang takut akan Allah, dengan cara yang belum pernah dikenal sejak akhir pelayanan nabi Maleakhi. Yohanes Pembaptis secara khusus dan khas menyadari kehadiran dan panggilan Roh Kudus. Pemberitaannya menggambarkan ke-Tritunggalan Allah, yang tersirat dalam hal ia memanggil orang supaya bertobat dari dosa, percaya kepada Yesus Kristus, dan tentang baptisan oleh Roh Kudus. Dengan demikian bahwa baptisan air yang dilakukannya hanyalah sebagai lambang pertobatan.

    Kepada Maria dinyatakan melalui malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan mengambil bagian dalam inkarnasi Yesus, bersama pemberitahuan bahwa Anak yang akan dilahirkan itu akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, pewaris takhta Daud. Lukas menulis, ”Jawab malaikat itu kepadanya: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut Kristus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Dengan demikian diungkapkan bahwa Allah Bapa dan Roh Kudus bekerja dalam penjelmaan Anak Allah. Dan pada baptisan-Nya di sungai Yordan, ketiga oknum ini dapat dibedakan yakni: Anak sedang dibaptis, Bapa sedang berbicara dari sorga dan Roh Kudus sedang turun dalam wujud nyata, yaitu seekor burung merpati. Matius menulis, ”Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17). Jadi dengan demikian Yesus Kristus menerima kekuasaan untuk membaptis dengan Roh Kudus. Nampaknya Yohanes Pembaptis sudah menyadari bahwa Roh Kudus bukan hanya bersama-sama dengan Yesus tapi juga akan datang dari Yesus. Maka oknum ketiga yakni Roh Allah, juga adalah Roh Yesus.

    Dalam pelayanan Yesus Kristus di muka umum, maupun pada saat Ia mengajar para murid-Nya secara tersendiri, Ia selalu mengarahkan perhatian mereka kepada Allah Bapa sebagai yang mengutus Dia dan dari siapa Dia memperoleh kekuasaan-Nya. Yohanes menulis, ”Maka Yesus menjawab mereka kata-Nya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19). Dalam perdebatan-Nya dengan orang-orang Yahudi, Yesus menyatakan bahwa kedudukan-Nya sebagai Anak tidaklah melulu berasal dari Daud, dan keadaan-Nya memang demikian saat Daud mengungkapkan kata-kata itu, seperti ditulis Matius, ”Kata-Nya kepada mereka: Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu” (Mat. 22:43-44). Jadi hal ini menyatakan keallahan Yesus dan bahwa Dia ada sebelum segala sesuatu ada.

    Yesus Kristus memberi kesaksian tentang oknum dan tugas Roh Kudus yang mengacu pada pemberitahuan bahwa pelayanan-Nya sudah mendekati akhirnya, dengan berkata, ”Jikalau Penghibur yag akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh. 15:26). Ia menyebut Roh Kudus sebagai Roh yang datang dari Allah Bapa yang juga datang dari Dia sendiri. Inilah dasar ajaran bahwa Roh Kudus keluar dari dua oknum, yaitu dari Bapa dan Anak. Persekutuan Bapa dengan Roh Kudus tampil dalam karya penyelamatan yang dilaksanakan oleh Yesus. Allah Bapa mengutus Allah Anak, untuk melaksanakan pekerjaan penyelamatan, dan Allah Bapa bersama Allah Anak, mengutus Roh Kudus untuk menerapkan keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus. Dengan demikian jelas mengapa Allah Perjanjian dinyatakan sebagai Tritunggal, karena keselamatan berasal pada tiap oknum dalam keallahan itu.

    Ajaran Yesus tentang Tritunggal terungkap paling jelas dan ringkas dalam rumusan baptisan, yaitu membaptis ke dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, sebagaimana ditulis Matius, ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Membaptis  ”ke dalam nama” lebih merupakan bentuk ungkapan Ibrani daripada ungkapan Yunani, dan bermakna pemisahan dari Yudaisme, karena mencakup nama yang tunggal, tidak hanya nama Allah Bapa saja, tapi nama Anak dan nama Roh Kudus juga.

    Pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta lebih menonjolkan lagi kedirian Roh Kudus, dan serentak dengan itu Roh Kudus memberikan terang baru perihal Anak Allah. Pengertian para rasul tentang Roh Kudus dan hubungannya dengan Allah Bapa dan Allah Anak disajikan jelas dalam Kisah Para Rasul.

    Petrus dalam menerangkan peristiwa Pentakosta, menggambarkannya sebagai pekerjaan Allah Tritunggal. Lukas menulis, ”Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengan di sini” (KPR. 2:32-33). Tepat jika dikatakan bahwa gereja zaman rasul dibangun beralaskan kepercayaan kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Semua surat rasuli sepakat mengaitkan penebusan kepada Tritunggal, dan tiap oknum tampil sebagai tujuan penyembahan dan pemujaan.

    Salam yang disaksikan oleh Paulus dalam 2 Korintus 13:13: ”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”, tidak hanya menyimpulkan seluruh ajaran para rasul, tapi juga menerangkan makna yang lebih dalam dan hakiki dari Allah Tritunggal dalam pengalaman hidup orang Kristen, yakni kasih karunia yang menyelamatkan dan Anak sebagai yang membuka pendekatan pada kasih sayang Allah Bapa dan persekutuan Roh Kudus.

     

    1. Perumusan Doktrin Tritunggal

    Alkitab tidak memberikan rumusan yang lengkap tentang Allah Tritunggal tapi dalamnya disajikan semua unsur yang diperlukan teologi untuk menyusun ajaran itu. Ajaran Yesus mengandung kesaksian tentang kepribadian yang sebenarnya dari setiap oknum yang berbeda dalam keallahan dan mengurai hubungan antara ketiga oknum itu. Jadi para teolog diberi kepercayaan untuk merumuskan Tritunggal berdasarkan data-data acuan yang tersedia. Perlunya merumuskan doktrin Tritunggal adalah akibat timbulnya reaksi musuh-musuh orang Kristen. Yang paling utama dituntut dalam perumusan itu ialah kejelasan tentang keillahian Kristus, sebagai kepercayaan gereja.

    Irenaeus (hidup antara abad ke 2 dan 3) lahir di Asia Kecil dari keluarga Kristen; Origenes (185-254) lahir di Alexandria dari keluarga Kristen; Tertullianus (155-220) seorang ahli hukum dari propinsi Afrika yang sekitar tahun 190 masuk Kristen, memulai upaya mereka untuk merumuskan doktrin Tritunggal, dan hasilnya diterima oleh gereja yang am. Di bawah pimpinan Athanasius (lahir abad ke 3 dan meninggal tahun 373), ajaran Tritunggal diumumkan di Konsili Nicea (325). Konsili ini mengakui  bahwa Allah adalah satu zat, hakekat (Latin: substantia), yaitu Allah; dan tiga oknum atau pribadi (Latin: persona), yaitu Bapa, Anak dan Roh. Istilah ”persona” sulit untuk diterjemahkan. Istilah ini berarti topeng; dalam bahasa Yunani juga dipakai istilah ”prosopon” yang berarti wajah. Dengan demikian doktrin Tritunggal dirumuskan.

    Konsili Nicea tidak mau merumuskan hakikat Allah menurut filsafat, tetapi ingin mengakui bahwa dalam Yesus Kristus dan dalam Roh Kudus, manusia sungguh-sungguh bertemu dengan Allah yang Esa. Rumusan doktrin Tritunggal nyata dalam ”Pengakuan Iman Nicea” yang berbunyi sebagai berikut:

    “Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, pencipta segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah, yang diperanakkan dari Bapa, yang dari hakekat Bapa. Allah dari allah, terang dari terang, Allah sejati dari Allah sejati, yang diperanakkan, bukan dijadikan, sehakekat (Yunani: homoousios) dengan Bapa, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu apa yang di sorga dan yang di bumi. Yang demi kita manusia dan demi keselamatan kita, turun dan menjadi daging, menjelma menjadi manusia, menderita sengsara dan bangkit pula pada hari yang ketiga, naik ke sorga dan akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Dan kepada Roh Kudus. Gereja am mengutuki mereka yang mengatakan bahwa: pernah ada waktu, dimana Ia belum ada; sebelum Ia diperanakkan, Ia belum ada; dan: Ia diperanakkan dari yang tidak ada; atau yang mengira bahwa Anak Allah adalah atau mempunyai hakekat lain (daripada Bapa), atau adalah diciptakan, atau dapat berubah atau menjadi lain”.

     

    Konsili di Konstantinopel yang diadakan pada tahun 381, juga memutuskan tentang doktrin Tritunggal. Dalam konsili ini 3(tiga) ajaran sesat juga dikutuk, antara lain:

    1)   Arianisme, yang menyangkal dan menentang keallahan Yesus Kristus.

    2)   Macedonianisme, yang percaya bahwa Yesus  Kristus adalah Allah, tetapi Roh Kudus dianggap makhluk.

    3)   Apollinarisme, yang menyangkal bahwa Yesus Kristus mempunyai jiwa manusia.

    Hasil konsili Konstantinopel, dijabarkan dalam “Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel”, yang berbunyi sebagai berikut:

    “Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat (hommousios) dengan Sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia; yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi Kitab-kitab, dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa, dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir. Aku percaya kepada Roh Kudus, yang jadi Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa. Yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan, yang telah berfirman dengan perantaraan nabi. Aku percaya satu gereja yang kudus dan am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan di zaman yang akan datang”.

     

    Satu abad kemudian dibawa pimpinan Agustinus (354-430) seorang teolog besar, ajaran Tritunggal mendapat perumusannya yang diabadikan dalam pengakuan yang disebut Pengakuan Iman Athanasius yang dijunjung tinggi oleh gereja-gereja yang mengakui Tritunggal sampai hari ini. Sesudah doktrin ini dijelaskan lebih lanjut oleh Yohanes Calvin, gereja-gereja reformasi juga menerimanya sebagai asas kepercayaan yang ortodoks (Yunani: ”orthos” artinya lurus, benar; ”doxa” artinya pendapat, pandangan). Pengakuan Iman Athanasius berbunyi sebagai berikut:

    ”Barangsiapa hendak menjadi selamat, pertama-tama ia harus memegang iman yang am; jikalau seseorang tidak memeliharanya dengan sebulat semurninya, niscaya ia akan binasa kekal. Adapun iman yang am ialah ini: bahwa kita menyembah satu Allah dalam ketigaan dan ketigaan dalam kesatuan; tanpa mengaduk oknum, tanpa menceraikan tabiat. Memang oknum Bapa adalah lain; oknum Anak adalah lain; oknum Roh Kudus adalah lain; akan tetapi Bapa, Anak dan Roh Kudus keallahan-Nya satu, kehormatan-Nya sama, kemuliaan-Nya seabadi. Sedemikian Bapa, demikian juga Anak, dan demikian juga Roh Kudus. Bapa adalah tak tercipta, Anak adalah tak tercipta dan Roh Kudus adalah tak tercipta. Bapa adalah tak terhingga, Anak adalah tak terhingga, dan Roh Kudus adalah tak terhingga. Bapa adalah abadi, Anak adalah abadi, dan Roh Kudus adalah abadi. Meskipun demikian tiada tiga yang abadi akan tetapi satu yang abadi. Seperti juga tiada tiga yang tak tercipta dan tak terhingga, tetapi satu yang tak tercipta dan satu yang tak terhingga. Demikian juga Bapa adalah mahakuasa, Anak adalah mahakuasa dan Roh Kudus adalah mahakuasa; Meskipun demikian tiada tiga mahakuasa tetapi satu mahakuasa. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; Meskipun demikian tiada tiga Allah tetapi satu Allah. Demikian juga Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan; Meskipun demikian tiada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan. Seperti kita diperintahkan oleh kebenaran Kristen untuk menyebut tiap oknum tersendiri Allah atau Tuhan, demikian juga dilarang oleh iman yang am untuk mengatakan ada tiga Allah atau tiga Tuhan. Bapa tidak dibuat oleh siapa pun dan tidak diciptakan dan tidak diperanakkan. Anak adalah hanya dari Bapa, tidak dibuat dan tidak diciptakan, tetapi diperanakkan. Roh Kudus adalah dari Bapa dan Anak, tidak dibuat dan tidak diciptakan, tidak diperanakkan tetapi keluar dari mereka. Dengan demikian adalah satu Bapa, bukannya tiga Bapa, satu Anak bukannya tiga Anak, satu Roh Kudus bukannya tiga Roh Kudus. Dan di dalam Tritunggal tiada yang lebih dahulu atau lebih kemudian, tiada yang lebih tinggi atau lebih rendah, akan tetapi ketiga oknum semua seabadi dan semua setaraf. Sehingga dalam segala hal, seperti di atas telah dinyatakan, di dalam ketigaan kesatuan dan di dalam kesatuan ketigaan harus disembah. Oleh karena itu barangsiapa hendak menjadi selamat harus demikian keyakinannya mengenai Tritunggal. Akan tetapi untuk memperoleh keselamatan yang kekal perlu juga bahwa orang percaya dengan sungguh, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus telah menjadi manusia. Sebab iman yang benar ialah percaya dan mengakui, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah, adalah baik Allah dan manusia. Ialah Allah dari hakikat Bapa, diperanakkan sebelum segala zaman, dan Ialah manusia dari hakikat ibunda-Nya, lahir di dalam zaman. Dialah Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna, dengan jiwa akali dan daging insani, sama dengan Bapa dalam keallahan-Nya, lebih rendah daripada Bapa dalam kemanusiaan-Nya. Meskipun Ialah Allah dan manusia, Ia bukanlah dua melainkan satu Kristus. Akan tetapi Ialah satu bukan dengan mengubah keallahan-Nya menjadi daging, melainkan dengan mengenakan kemanusiaan-Nya dalam Allah. Dialah satu, sekali-kali bukanlah karena mengaduk hakekat-hakekat melainkan karena kesatuan oknum. Oleh karena seperti jiwa akali dan daging manusia satu, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus. Dia telah menderita untuk keselamatan kita, turun ke kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Bapa. Dari sana Ia akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. Pada kedatangan-Nya segala orang akan bangkit dengan badannya dan mereka akan mempertangungjawabkan perbuatan-perbuatan. Dan yang telah berbuat baik akan pergi ke hidup kekal, sebaliknya yang telah berbuat jahat akan pergi ke api yang kekal. Inilah iman yang am. Barang siapa tidak memeliharanya dengan setia dan kuat, ia tak menjadi selamat”.

     

    Doktrin Tritunggal mengatakan bahwa Allah satu dalam harkat dan hakikat-Nya tapi dalam diri-Nya ada tiga oknum yang tidak membentuk perseorangan yang tersendiri dan berbeda. Ketiga oknum itu adalah tiga cara atau bentuk dalam mana Allah berada. Tapi oknum adalah ungkapan yang tidak sempurna untuk mengungkapkan kebenaran itu, karena ungkapan ini mengartikan kepada kita perseorangan yang tersendiri, yang berbudi dan bisa memilih. Padahal dalam harkat Allah bukan ada tiga perseorangan, tapi hanya tiga pembedaan diri dalam Allah yang satu seutuhnya.

    Kepribadian manusia mencakup kebebasan berkehendak, bertindak dan merasa, yang mencirikan tingkah laku mereka. Semua hal itu tidak dapat dihubungkan dengan Allah Tritunggal: tiap oknum memiliki kesadaran sendiri dan penguasaan diri sendiri, tapi tidak pernah bertindak sendiri-sendiri apalagi bertentangan. Mengatakan bahwa Allah esa, maksudnya ialah kendati Allah pada diri-Nya adalah pusat kehidupan trimitra dan hidup-Nya tidaklah terbelah tiga atau trilateral atau tiga pihak yang berbeda. Ia satu dalam hakikat, kepribadian dan kehendak. Mengatakan bahwa Allah Tritunggal dalam keutuhan, maksudnya ialah keutuhan dalam keanekaan, dan keanekaan itu nampak dalam tiga oknum, dalam sifat dan dalam tindakan. Lagipula substansi dan tindakan-tindakan ketiga oknum itu dicirikan oleh urutan tertentu, berupa subordinasi dalam soal hubungan, tapi tidak dalam kodrat.

    • Bapa sebagai sumber keallahan ialah asal mula dari segala sesuatu;
    • Anak yang diperanakkan kekal oleh Bapa. Dia yang menyatakan Bapa;
    • Roh Kudus; Roh Allah; Roh Anak yang kekal, yang keluar dari Bapa dan Anak, Dialah yang melaksanakannya.

    Karena ketiga oknum itu ilahi dan kekal, maka subordinansi itu tidaklah mengartikan ada yang lebih utama daripada yang lain, tapi memaksudkan urutan giliran dalam tindakan dan penyataan. Jadi dapat dikatakan bahwa penciptaan adalah dari Allah Bapa, melalui Anak Allah, oleh Roh Kudus.

    Doktrin Tritunggal disajikan oleh bapa-bapa gereja dengan menggunakan kategori-kategori filsafat Yunani yang sukar sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Masalahnya ialah istilah apa yang dapat dipakai bagi Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang tidak memberi kesan bahwa ada tiga Allah? Bahasa Yunani, ”hupostatis”; bahasa Latin, ”persona”, bahasa Inggris, ”person”; bahasa Indonesia, ”oknum”, masing-masing sudah diusulkan tapi semuanya tidak ada yang memuaskan.

     

    C.      Ilustrasi Tentang Doktrin Tritunggal

    Tidak ada ilustrasi yang dapat menerangkan dengan tepat tentang doktrin ketritunggalan Allah.  Ilustrasi yang diberikan kebanyakan hanya sejajar dengan gagasan ”tiga di dalam satu”. Namun demikian perlu bagi kita untuk melihat ilustrasi di bawah ini, sebagai berikut:

    1).  Air mungkin cocok sebagai ilustrasi ”tiga di dalam satu”, karena unsur kimianya tetap walaupun dalam keadaan padat, gas atau cair. Juga ada keadaan yang disebut titik tripel di mana es batu, uap, cairan air, dapat berada bersama-sama secara seimbang. Semuanya memang air, tetapi masing-masing berlainan.

    2).  Matahari sinarnya dan kekuatannya mungkin menolong menggambarkan Tritunggal. Sebetulnya kita tidak pernah melihat matahari seperti kita pun tidak pernah melihat Allah Bapa. Kita belajar banyak mengenai matahari dengan mempelajari sinarnya, seperti kita belajar mengenai Allah Bapa melalui Yesus Kristus yang adalah cahaya kemuliaan-Nya, sebagaimana ditulis dalam surat Ibrani, ”Ia adalah cahaya kemulian Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3). Demikian juga kita melihat energi matahari di dalam pertumbuhan benih serta tanaman. Bila ditanya apa yang membuat semua itu tumbuh, kita pasti akan mengatakan bahwa mataharilah yang membuat semuanya itu. Jadi Roh Kudus adalah seperti energi matahari yang memberikan kehidupan kepada kita.

     

    1. Implikasi-Implikasi Dari Doktrin Tritunggal

    Implikasi-implikasi doktrin Tritunggal sangat vital bagi teologi dan juga bagi pengalaman dan hidup umat Allah. Berkaitan dengan keallahan, doktrin ini menyatakan bahwa Allah benar-benar hidup. Dan bahwa Ia jauh sama sekali dari apapun yang disebut berhenti atau pasif. Allah Tritunggal adalah keutuhan dan kepenuhan hidup, berada dalam hubungan yang kekal, dan dalam persekutuan yang tidak pernah putus atau berhenti. Hal ini membuat penyataan dan pengungkapan diri-Nya dapat dimengerti.

    Allah dalam arti mutlak, dapat mengungkapkan diri-Nya sendiri melalui tindakan penyataan diri sendiri antara ketiga oknum itu. Dia dapat juga dalam arti terbatas, mengungkapkan diri-Nya keluar melalui penyataan diri sendiri berkomunikasi dengan ciptaan-Nya.

    Mengenai alam semesta doktrin Tritunggal mengupayakan kesatuan dan keanekaan, membuat alam semesta menjadi suatu kosmos dalam keteraturan. Karena semua hal tergantung pada kehendak baik Allah, maka tidak mungkin ada dualisme di pusat alam semesta. Tidak ada tempat bagi keanekaan yang tidak terhingga.

    Kita dapat berkata bahwa keanekaan hidup dalam Allah dipantulkan dalam alam semesta berupa bentuk-bentuk hidup yang berbeda-beda secara luas. Hidup Allah bisa mendapati bermacam-macam manifestasi, dan hal ini memberi kejamakan unsur dan kejamakan sisi kepada alam semesta yang Dia rencanakan itu. Lagi pula persekutuan yang mengikat Allah Tritunggal, menjadi dasar bagi persekutuan kita; persekutuan dalam keluarga, persekutuan dalam masyarakat, dan secara istimewa persekutuan dalam gereja, karena di situ Roh Kudus menjadi petugas dan pengantara persekutuan itu.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1996).

    Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Yohanes Pasal 1-7 (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 2006).

    Boehlke, Robert, R, Sejarah Perkembangan Pemikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 2006).

    Brill, J, Wesley, Tafsiran Surat Timotius & Titus (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996).

    Dyrness, William, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1993).

    Elleas, Indrawan, Isi Masa Kini Tentang Nama Allah (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2008).

    Hadiwijono, Harun, Iman Kristen (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1999).

    Jacobs, Tom, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya (Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius, 1983).

    Jones, A, A, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 1 & 2 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1999).

    Lane, Tony, Runtut Pijar (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1996).

    Marjorie & Don Gray, Menyingkap Tabir (Bandung: Indonesia Publishing House Cimindi, 1991).

    Ryrie, C, Charles, Teologi Dasar 1 & 2 (Yogyakarta: Yayasan Andi,  2004).

    Soedarmo, R, Ikhtisar Dogmatika (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1996).

    Tafsir Alkitab Masa Kini 1 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000).

    Thiessen, C, Henry, Teologi Sistematika (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2003).

  • SIFAT-SIFAT ALLAH

    SIFAT-SIFAT ALLAH

    Ia menjabarkan “logos” menjadi malaikat Yahweh dan juga nama Yahweh dalam Perjanjian Lama, dan menyebutkan suatu Allah yang kedua serta manusia Idaman, pola bagi manusia yang diciptakan-Nya.

    Dalam Perjanjian Baru, “logos” dipakai baik dalam arti kata biasa, maupun dengan pengertian pesan Injil, seperti ditulis Markus, “Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka” (Mark. 2:2); Lukas menulis, “Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja” (KPR. 6:2); Paulus menulis, “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal. 6:6).

    Dalam surat-surat kiriman kita dapat membaca tentang firman kehidupan, seperti ditulis Paulus, “Sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah” (Flp. 2:16); firman kebenaran, juga ditulis Paulus, “Di dalam Dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Ef. 1:13); kabar keselamatan, seperti ditulis Lukas, “Hai saudara-saudaraku baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita” (KPR. 13:26); berita pendamaian, seperti ditulis, Paulus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2 Kor. 5:19); pemberitaan tentang salib, juga ditulisnya, “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Kor. 1:18). Dalam bahasa Yunani semuanya disebut “logos”, yang artinya amanat Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, yang wajb diberitakan dan ditaati.

    Philo, dalam pengajarannya tentang “logos” menyajikan kerangka teologis yang jelas, dimana firman memiliki suatu kesatuan yang mirip dengan Allah dan sekaligus memiliki perbedaan dengan-Nya, mengandung kegiatan mencipta dan memelihara semesta alam, dan juga memiliki kegiatan yang bersifat menyatakan diri kepada manusia.

    Lebih lanjut konsep khas mengenai inkarnasi, setidak-tidaknya merupakan pengembangan yang tepat dari penyamaan logos menurut Philo dengan Manusia sejati. Jadi mungkin sekali di balik ini semua dijumpai penggunaan langsung dari konsep Philo atau pemikiran dari kelompok cendekiawan Yahudi yang menganut Helenisme.

    Kita dapat mencatat 5(lima) pokok mengenai logos dalam pemikiran Philo, antara lain:

    1. Logos itu tidak memiliki kepribadian khusus. Logos digambarkan sebagai gambar Allah dan melalui gambaran itu seluruh alam semesta dibentuk. Tetapi karena logos juga digambarkan sebagai kemudi yang memimpin segala sesuatu dalam jalurnya, atau sebagai alat Allah untuk menata dunia, maka nampaknya jelas bahwa Philo tidak memikirkan bahwa logos itu berpribadi.
    2. Philo berbicara tentang logos sebagai anak sulung (Yunani: prologonos huios) Allah yang secara tidak langsung menyatakan keberadaan-Nya sebelum segala sesuatu ada. Tentu saja logos dianggap kekal, juga digambarkan sebagai duta (Yunani: presbeutes) Allah, sebagai pembela (Yunani: parakletos) manusia dan sebagai imam besar (Yunani: arkhiereus). Gambaran ini walaupun memberikan kesejajaran yang menarik dengan Yesus Kristus, namun tidak menyinggung soal keberadaan sebelum segala sesuatu ada.
    3. Gagasan logos tidak dihubungkan dengan terang dan hidup oleh Philo seperti halnya dalam Injil Yohanes, dan gabungan itu tidak dapat diambil dari pemikirannya, walaupun pasti akan menyenangkannya seandainya ia dapat mengetahuinya.
    4. Philo tidak menduga bahwa logos dapat menjadi manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang asing bagi pemikiran orang Yunani, karena mereka percaya bahwa meteri memiliki sifat
    5. Dengan pasti Philo menganggap logos memiliki fungsi pengantara untuk menjembatani jurang pemisah antara Allah yang transenden dengan dunia. Logos itu baik, dia dapat dianggap sebagai personifikasi dari pengantara yang efektif, walaupun tidak pernah dinyatakan secara pribadi.

    Kata “logos “ dalam bentuk jamaknya, yakni “ta logia”, berarti seluruh Perjanjian Lama atau suatu bagiannya yang khas. Dalam Kisah Para Rasul, “firman-firman yang hidup” menunjuk kepada dasa titah atau kepada seluruh isi Taurat Musa, seperti ditulis Lukas, “Musa inilah yang menjadi pengantara dalam sidang jemaah di padang gurun di antara malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang menerima firman-firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kamu” (KPR. 7:38).

    Dalam surat Paulus kepada jemaat Roma, “ta logia” artinya ialah Perjanjian Lama, khususnya janji-janji Allah kepada Israel, seperti yang ditulis Paulus, “Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah” (Rm. 3:2). Dalam surat Petrus, pemberitaan firman berarti pengkotbah wajib menjaga beritanya sedemikian rupa sehingga ia seolah-olah mengucapkan kitab Suci yang diilhamkan. Dia menulis, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin” (1 Ptr. 4:11).

    “Ta logia” muncul pula dalam Ibrani 5:12 yang berkata: “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras”. Kata dimaksud diterjemahkan dengan “penyataan Allah, yang berhubungan dengan dasar-dasar pada Perjanjian Lama maupun penyataan Allah melalui Anak-Nya, sebagaimana disaksikan oleh penulis Ibrani, “Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:2). Akhirnya makna teologis dari “ta logia” ialah pengumuman-pengumuman Allah yang mempunyai kekuasaan, dan di hadapan-Nya manusia berdiri dengan hormat dan menyembah dengan merendahkan diri.

    Kata Yunani: “rhema”, yang artinya kata yang diucapkan, lalu menjadi inti ucapan, dan kenyataan. Juga memperoleh pengertian “firman Allah”, seperti “logos”, dan dengan demikian berarti “Injil Kristen”. Matius menulis, “Tetapi Yesus menjawab: Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4); Lukas menulis, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu” (Luk. 2:29); Yohanes menulis, “Kata Yesus kepada mereka: Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 3:34); Petrus menulis, “Tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu” (1 Ptr. 1:25).

    Dalam perkembangannya timbul juga arti lain dari kata “rhema”, yaitu pengakuan umat Tuhan yang membawa mereka kepada keselamatan yang diperoleh di dalam Kristus Yesus, seperti ditulis Paulus, “Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman” (Ef. 5:26).

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui pengalaman pribadi

    Banyak tokoh-tokoh iman yang mengakui bahwa mereka memiliki persekutuan pribadi dengan Allah. Mereka menyatakan bahwa mereka mengenal Dia, bukan hanya melalui alam, sejarah, hati nurani, juga bukan hanya melalui mujizat dan nubuat, tetapi juga melalui pengalaman pribadi mereka. Kitab Kejadian menyaksikan bahwa Henokh hidup bergaul akrab dengan Allah. Ia membangun hubungan yang intim dengan Allah setiap saat, seperti ditulis Musa, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah” (Kej. 5: 24). Ia juga menyaksikan bahwa Allah berbicara kepada Nuh, dengan menulis, “Berfirmanlah Allah kepada Nuh: Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kej. 6:13). Nuh sungguh-sungguh taat kepada perintah Allah. Ketika Allah menyuruhnya untuk membangun bahtera, ia menuruti perintah itu sehingga ia dan keluarganya selamat dari hukuman air bah.

    Musa juga menyaksikan bahwa Allah berbicara kepada Abraham, dan ia mengikuti apa yang difirmankan Allah dan bergaul akrab dengan-Nya, sehingga dia menjadi bapa banyak bangsa dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Musa menulis, “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kej. 12:1). Juga Allah berbicara kepada Musa sendiri, seperti ditulisnya, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: Musa, Musa, dan ia menjawab: Ya, Allah” (Kel. 3:4). Musa pada akhirnya menjadi pemimpin bangsa Israel yang penuh kuasa yang membawa mereka keluar dari tanah perbudakan di Mesir.

    Demikian pula dalam Perjanjian Baru, Allah berbicara dengan Yesus Kristus, seperti ditulis Matius, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17). Dia berbicara kepada Paulus, seperti ditulis Lukas, “Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawab Saulus: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus yang kau aniaya itu” (KPR. 9:4-6). Pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus, menjadikan Paulus sebagai seorang rasul yang luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk menyampaikan Injil kepada orang-orang non Yahudi. Dan melalui pelayanannya banyak gereja di masa Perjanjian Baru berdiri.

    John Newton adalah seorang pedagang budak dari Inggris, yang mengangkut para budak dengan kapal laut dari benua Afrika kemudian dijual ke Eropa. Ia adalah seorang yang suka mengumpat dan tidak mengakui ajaran firman Tuhan. Menjadi salah satu kebiasaan dari John Newton bahwa jika ada budak wanita dewasa, pastilah akan diperkosanya. Di Tahun 1748 dalam perjalanannya mengangkut para budak, kapal Greyhound yang ditumpanginya bocor dan dihantam ganasnya badai samudera Atlantik. Sebuah ayat Alkitab yang pernah diajarkan oleh ayahnya pada waktu dia masih anak-anak timbul dalam pikirannya, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang memintanya kepada-Nya” (Luk. 11:13). Ayat dimaksud mempengaruhinya sehingga dia mau berdoa, “Ya Allah, jika Engkau benar, Engkau pasti menepati janji-Mu. Sucikanlah hatiku yang kotor ini”. Sesampainya di sebuah pelabuhan di Irlandia, dia pergi ke gereja dan di sana ia mengakui serta menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Orang yang tidak mau menerima ajaran firman Allah dan yang selalu mengumpat itu akhirnya menjadi seorang pengkhotbah untuk para pelaut. Kesaksian tentang kebaikan Allah diungkapkannya dalam sebuah lagu pujian yang sampai saat ini masih dinyanyikan oleh banyak jemaat Tuhan, “Sangat besar anugerah-Mu yang b’ri aku s’lamat. Ku t’lah hilang Tuhan dapat, buta s’karang lihat” (Amazing Grace).

    Pengalaman hidup dengan Allah memiliki dampak yang mengubah kehidupan orang-orang yang mengalaminya, sehingga pemazmur menulis, “Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri dan tidak akan malu tersipu-sipu” (Maz. 34:6). Mereka juga makin menyerupai Allah, seperti ditulis Lukas, “Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (KPR. 6:15).

    Persekutuan dengan Allah juga disertai penyataan kebenaran yang lebih dalam lagi tentang Dia. Penyataan-Nya dalam pengalaman pribadi juga merupakan sumber utama yang digunakan Roh Kudus ketika mengilhami para penulis Alkitab. Dengan demikian, dalam penyataan-penyataan-Nya, yang disaksikan dalam Alkitab, kita memperoleh materi untuk teologi dan memungkinkan tersusunnya teologi.

     

     

    3. SIFAT-SIFAT ALLAH

    Sifat Allah adalah dasar watak, tabiat, perangai, kelakuan, tingkah laku-Nya. Dan ada berbagai sifat-Nya yang dapat disebut juga sebagai kesempurnaan-Nya.  Walaupun pada suatu waktu tertentu Dia menunjukkan salah satu sifat-Nya, namun tidak ada sifat-Nya yang berdiri sendiri atau yang lebih unggul dari pada sifat-sifat yang lain. Apabila Dia menunjukkan murka-Nya misalnya, maka Ia tetaplah Allah yang pengasih. Ketika Ia menunjukkan kasih-Nya, maka Ia tetaplah Allah yang adil.

    Bila kita mendaftarkan semua sifat Allah, kita belum sepenuhnya mampu menggambarkan-Nya, karena Ia tidak bisa dipahami seutuhnya. Dia adalah Allah yang transenden. Bahkan jikalau kita mengatakan bahwa kita memiliki daftar lengkap dari seluruh sifat-Nya, kita tidak dapat mengukur artinya, sebab kita yang terbatas tidak mungkin dapat mengerti tentang Allah yang tidak terbatas.

    Sifat-sifat Allah dinyatakan kepada kita melalui penyataan-Nya. Kita tidak memberi sifat-sifat itu kepada-Nya, tetapi Dia menyatakannya kepada kita. Ia memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

    1. Kekal

    Allah selalu ada dan tak pernah berakhir. Keberadaan-Nya tak berujung pangkal baik ke masa silam maupun ke masa depan, tidak terbatas, yang disebabkan oleh rangkaian peristiwa. Kekekalan Allah sebagai kesempurnaan-Nya di mana Ia ditinggikan di atas segala batas-batas yang sifatnya sementara dan segala rangkaian waktu.

    Bertalian dengan kekekalan Allah, beberapa teolog memakai kata Ibrani, “aseity” untuk menunjukkan keberadaan-Nya, dimana Ia bergantung pada diri-Nya sendiri. Jika Allah ada tanpa permulaan dan tanpa akhir, maka Ia tidak  pernah menjadi ada  dan juga tidak pernah disebabkan untuk menjadi ada. Ia tidak berujung pangkal, tidak berawal dan tidak berakhir. Ia adalah Allah yang kekal (Ibrani: “El Olam”), sebagaimana ditulis oleh pemazmur, “Dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Maz. 90:2b).

    Sebagai suatu Pribadi yang kekal, Allah memandang masa lalu dan masa depan kita sejelas masa kini. Ia tidak akan pernah berhenti ada, kuasa-Nya yang terus menerus mengatur segala sesuatu dan segala peristiwa adalah terjamin.

     

    1. Bebas

    Allah tidak bergantung dari makhluk-makhluk dan ciptaan-Nya, seperti ditulis Yesaya, “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasehat? Kepada siapa TUHAN meminta nasehat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?” (Yes. 40:13-14). Ia hanya dibatasi oleh sifat-Nya sendiri yakni kesucian-Nya yang menahan-Nya untuk berbuat dosa. Dalam hubungan dengan kesempurnaan-Nya, tidak ada keterbatasan pada-Nya.

    Karena bebas, maka Allah tidak memiliki kewajiban apa pun kepada kita, namun Ia memilih untuk berkewajiban kepada kita. Ia tidak harus melakukan apa pun bagi kita, namun Ia memilih untuk melakukannya bagi kita. Karena itu kita tidak dapat menuntut Dia.

    1. Tidak berubah

    Allah tidak dapat berubah karena Ia tidak berubah. Ia tetap, tidak bertumbuh atau berkembang. Sebagai Allah yang tidak berubah, maka Ia menjamin keberadaan Israel, bahkan keberadaan kita sebagai anak-anak-Nya, seperti ditulis oleh Yakobus, ”Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yak. 1:17).

    Ketidak-berubahan-Nya memberikan penghiburan dan jaminan kepada kita bahwa janji-janji-Nya tidak pernah gagal. Dia tidak pernah lalai dalam menepati janji-janji-Nya. Apa yang telah difirmankan-Nya pasti digenapi, sebagaimana ditulis Maleakhi, ”Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap” (Mal. 3:6). Paulus juga menulis, ”Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim. 2:13). Ketidak-berubahan Allah mengingatkan kita bahwa sikap-Nya terhadap dosa juga tidak berubah, sehingga Ia tidak pernah dapat dibujuk atau berkompromi dengan dosa.

    d.       Tidak terbatas

    Allah tidak terikat atau terbatas. Ia tidak mungkin dibatasi oleh alam semesta atau oleh batas-batas ruang dan waktu. Tetapi itu tidak berarti bahwa Ia terpencar-pencar, sebagian di sini dan juga sebagian di sana.

    Dalam doanya Salomo mengakui ketidakterbatasan Allah pada saat peresmian bait Allah dengan berkata, ”Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (1 Raj. 8:27). Paulus menyaksikan tentang ketidakterbatasan Allah pada saat ia berdebat melawan kepalsuan allah orang-orang Atena, dengan menulis:

    ”Allah telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing” (KPR. 17:24-27).

     

    Sifat di atas itulah yang dinamakan dengan “keluasan” (immensity), yakni bahwa Ia tidak dibatasi oleh ruang.

    e.       Suci

    Dalam Alkitab kesucian berarti pemisahan dari hal-hal yang najis, yang diterjemahkan dari kata Ibrani, “qadosh”, yang artinya kudus. Kesucian berarti bahwa tidak ada kejahatan, dan hanya ada kebenaran yang ada pada Allah. Namun kesucian-Nya bukan hanya berarti bahwa Ia terpisah dari segala sesuatu yang najis dan jahat, tetapi juga bahwa Ia benar-benar suci, sehingga berbeda dengan allah yang lain.

    Kesucian Allah adalah kemurnian keberadaan, sifat, kehendak serta tindakan-Nya. Pada akhirnya kesucian adalah sifat yang Ia inginkan untuk dimiliki semua orang, seperti ditulis Musa, ”Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi” (Im. 11:44). Yosua juga menulis, ”Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: Tidakkah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu” (Yos. 24:19).

    Kesucian Allah yang mutlak itu berarti bahwa orang berdosa terpisah dari Dia, Mereka dapat menjadi suci hanya melalui suatu jalan yang telah disediakan-Nya di dalam karya Kristus. Dan gambaran tentang kesucian Allah seharusnya menjadikan kita peka terhadap dosa, seperti ditulis Yesaya, ”Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya. . . . . .Lalu kataku: Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:3,5).

    Kesucian Allah merupakan standar bagi kehidupan dan kelakuan kita, seperti ditulis Yohanes, ”Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yoh. 1:7). Dan walaupun seringkali kita tidak mampu memenuhinya, bukan berarti bahwa kita boleh kompromi. Sama sekali tidak! Kita dituntut untuk hidup suci di hadapan Allah.

    1. Kasih

    Yohanes menyaksikan bahwa Allah adalah kasih, dengan menulis, ”Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Ungkapan ini menunjukkan bahwa inilah sifat-Nya. Dan ungkapan ini tidak dapat dibalik, bahwa “kasih adalah Allah”, seperti dalam pemahaman Christian Science.

    Karena Allah adalah kasih (Yunani: agape), maka harus ada suatu interaksi kasih. Ia yang adalah kasih, mengizinkan diri-Nya mengasihi orang berdosa. Itu adalah anugerah, seperti ditulis Paulus, ”Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Ef. 2:4-5). Kasih-Nya telah dicurahkan ke dalam hati kita seperti yang ditulis Paulus, ”Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:5).

    Dalam menghadapi berbagai pencobaan, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, seperti yang ditulis dalam surat Ibrani, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibr. 12:6). Yang erat hubungannya dengan kasih adalah kebaikan, belas kasihan, kesabaran, dan anugerah. Kebaikan-Nya dapatlah didefinisikan sebagai perhatian-Nya terhadap makhluk ciptaan-Nya, seperti ditulis Lukas, ”Namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (KPR. 14:17).

    Belas kasihan adalah aspek dari kebaikan Allah yang menyebabkan Dia menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita, seperti ditulis Paulus, ”Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita” (Ef. 2:4). Yakobus juga menulis, ”Sesunguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun, kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan adalah maha penyayang dan penuh belas kasihan” (Yak. 5:11). Kesabaran-Nya berbicara tentang Ia yang menahan murka-Nya karena pelanggaran-pelanggaran kita sebagaimana yang ditulis oleh Petrus, ”Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya” (2 Ptr. 3:15). Anugerah adalah kebaikan Allah yang dinyatakan kepada kita di dalam karya Kristus. Konsep-konsep ini saling berhubungan dan berasal dari kasih-Nya.

    Bidat Universalisme mengajarkan bahwa karena Allah adalah kasih maka Ia pada akhirnya akan menyelamatkan semua orang. Ini pemahaman yang keliru. Sesungguhnya kasih-Nya tidak dapat dipisahkan dari sifat-Nya yang lain, termasuk kesucian dan keadilan. Kasih-Nya tidak dapat menggagahi kesucian-Nya, lalu menyelamatkan mereka yang menolak Dia. Universalisme tidak mempunyai definisi yang memadai tentang kasih karena ia hanya melihat aspek kasih dan melupakan aspek koreksi. Ajarannya sangat bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan.

    1. Mahakuasa

    Mahakuasa berarti bahwa Allah kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja, sesuai dengan sifat-Nya (Ibrani: El Shadai). Ia mengatakan diri-Nya sebagai yang Mahakuasa kepada Abraham, yang ditulis oleh Musa, “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak” (Kej. 17:1). Musa juga menulis, “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri” (Kel. 6:2). Kepada jemaat Korintus, Paulus menulis, “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2 Kor. 6:18).

    Kemahakuasaan Allah memiliki keterbatasan dalam 2 (dua) hal yakni:

    1)   Pembatasan yang wajar, yakni hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah karena bertentangan dengan sifat-Nya, yakni: (1) Ia tidak dapat berdusta, seperti ditulis Paulus, ”Dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta” (Tit. 1:2); (2) Ia tidak dapat dicobai untuk berdosa, seperti ditulis Yakobus, ”Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: Pencobaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun” (Yak. 1:13); (3) Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri, sebagaimana ditulis Paulus, ”Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim. 2:13).

    2)   Pembatasan yang dikenakan sendiri, yakni hal-hal yang tidak dipilih Allah untuk dimasukkan ke dalam rencana-Nya, yakni: Ia tidak memilih untuk tidak mengorbankan Anak-Nya; Ia tidak memilih untuk menyelamatkan semua orang; Ia tidak memilih semua bangsa pada zaman Perjanjian Lama; Ia tidak memilih Esau.

    Kuasa Allah tampak dalam penciptaan, seperti ditulis oleh pemazmur, ”Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Maz. 33:9). Dia menopang segala sesuatu, sebagaimana ditulis penulis surat Ibrani, ”Ia adalah cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3).

    Kuasa-Nya juga nampak pada waktu membebaskan bangsa Israel dari Mesir, dan kejadian yang ajaib terjadi pada saat itu  (Maz. 114). Namun pertunjukan terbesar dari kuasa-Nya adalah dengan membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, seperti ditulis Paulus, ”Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah” (2 Kor. 13:4).

    Kuasa Allah berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti Ezra menulis  ”Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkau-lah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya” (1 Taw. 29:12); berhubungan juga dengan Injil, seperti ditulis Paulus, ”Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (Rm. 1:16); berhubungan juga dengan keselamatan, seperti ditulis Petrus, ”Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada akhir zaman” (1 Ptr. 1:5); juga berhubungan dengan pengharapan akan kebangkitan tubuh, seperti ditulis Paulus, ”Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (1 Kor. 6:14).

    1. Mahahadir

    Mahahadir berarti bahwa Allah hadir di mana-mana dengan seluruh keberadaan-Nya pada segala waktu, sehingga Daud bertanya: ”Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari kegelapan-Mu?” (Maz. 139:7). Dengan kata lain apakah ada tempat dimana seseorang dapat melepaskan diri dari hadirat Allah? Sesungguhnya tidak, karena kemahahadiran-Nya tidak dibatasi oleh ruang, tidak gentar oleh kecepatan, dan tidak dipengaruhi oleh gelap. Daud menulis pula, ”Jika aku mendaki ke langit Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam, maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang” (Maz. 139:8-12).

    Kemahahadiran Allah bukan berarti bahwa diri-Nya disebarkan ke seluruh alam semesta seolah-olah sebagian di sini dan sebagian di sana. Seluruh keberadaan-Nya ada di mana-mana, di setiap tempat. Dan kehadiran-Nya di dalam kita memberikan contoh tentang hal ini.

    Kemahahadiran Allah berbeda dengan pandangan panteisme yang menyamakan alam semesta dengan Allah. Mereka mengajarkan bahwa Allah adalah pikiran atau jiwa dari alam semesta. Mereka tidak mampu membedakan antara pencipta dan ciptaan. Mahahadir juga berbeda dengan pemahaman para “teolog proses” yang menjelaskan bahwa diri Allah menembus seluruh alam semesta tetapi tidak dihabiskan oleh alam semesta.

    Mahahadir sebenarnya berarti bahwa Allah berada di mana-mana, tidak disebarkan atau menembus alam semesta, tidak sedang berkembang sebagaimana yang mereka ajarkan. Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari hadirat-Nya. Ini merupakan peringatan bagi orang fasik, sekaligus penghiburan bagi kita, yang karena Ia adalah Mahahadir, dapat hadir pada setiap keadaan hidup kita.

    1. Mahatahu

    Mahatahu berarti bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Ia mengetahui dan tanpa kesulitan mengetahui semua perkara, semua pikiran dan setiap pikiran, semua roh, semua dan setiap makhluk dan ciptaan, setiap perbedaan dan semua perbedaan, semua dan setiap hukum, semua hubungan, semua sebab, semua pikiran, semua rahasia, semua teka-teki, semua perasaan, semua kerinduan, semua rahasia yang tak diucapkan, semua takhta dan penguasa, semua pribadi, semua yang tampak maupun tak tampak di sorga dan di bumi, gerakan, ruang, waktu, hidup, kematian, baik, jahat, sorga dan neraka.

    Karena Allah mengetahui segalanya dengan sempurna, Ia tidak hanya mengetahui sesuatu lebih baik daripada yang lain, tetapi semuanya Dia ketahui sama baiknya. Ia tak pernah menemukan sesuatu, tak pernah heran, tak pernah terkejut. Ia tak pernah ingin tahu tentang sesuatu atau mencari informasi tentang sesuatu.

    Allah mengetahui semua karya-Nya sejak dari permulaan, seperti yang ditulis Lukas, “Yang telah diketahui dari sejak semula” (KPR. 15:18). Ia menghitung dan menamai bintang-bintang, seperti yang ditulis oleh pemazmur, “Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya” (Maz. 147:4).

    Allah menunjukkan kemahatahuan-Nya ketika Ia menyatakan apa yang akan terjadi di Tirus dan Sidon, seperti ditulis Matius, ”Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Mat. 11:21).

    Allah mengetahui segala sesuatu tentang hidup kita sebelum kita dilahirkan, seperti ditulis Daud, ”Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya” (Maz. 139:16).

    Bertalian dengan kemahatahuan Allah, dapatlah dikatakan bahwa:

    1)   Allah kita Mahatahu, sehingga tak sesuatu pun yang datang dalam kehidupan kita yang akan mengejutkan-Nya.

    2)   Allah kita Mahatahu dan peka; setiap peringatan yang Allah berikan kepada kita datang dari satu Pribadi yang Mahatahu. Karena itu kita harus peka terhadap peringatan itu. Ia tidak memperingatkan kita atas dasar hanya menerka apa yang mungkin terjadi, tetapi sungguh-sungguh akan terjadi.

    3)   Allah kita Mahatahu dan memberikan penghiburan; bila diperhadapkan dengan keadaan yang sulit, kita selalu mendapatkan penghiburan di dalam kemahatahuan Allah. Ia tahu apa yang sedang terjadi, juga tahu apa yang mungkin akan terjadi. Ia juga selalu tahu kebaikan dan kemuliaan apa pada akhirnya akan muncul dari kejadian-kejadian yang tidak dapat kita mengerti, seperti ditulis Paulus, ”Kita tahu sekarang, bahwa Alah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28).

    4)   Allah kita Mahatahu dan memberikan ketenangan hati; dalam masalah dan tekanan yang menghimpit kita, Tuhan memanggil kita untuk datang kepada-Nya dan Ia berjanji akan memberikan ketenangan dan kelegaan. Yesus berkata, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).

    1. Adil

    Keadilan adalah merupakan sebuah sifat Allah yang berbeda dengan kesucian. Kesucian berkenaan dengan keterpisahan-Nya, sedangkan keadilan berkenaan dengan peradilan-Nya. Ia adil dalam melakukan tindakan.

    Dalam hubungan dengan diri-Nya, tidak ada hukum baik di dalam diri-Nya sendiri atau pun yang dibuat-Nya yang dilanggar oleh sesuatu sifat-Nya. Dalam hubungan dengan makhluk ciptaan-Nya, tidak ada tindakan yang diambil-Nya yang melanggar suatu  moralitas atau keadilan, seperti ditulis Daud, “Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan” (Maz. 11:7a).

    1. Sederhana

    Sifat sederhana berarti bahwa Allah bukan suatu Pribadi campuran atau terdiri dari berbagai campuran. Sifat-Nya ini mengingatkan kita bahwa bila kita merenungkan-Nya sebagai satu pribadi Tritunggal, Ia tidak dapat dibagi-bagi atau tersusun dari bagian-bagian atau berciri ganda. Di dalam inkarnasi, memang Allah kita menjadi daging, tetapi keallahan Allah-Manusia itu hanya Roh, seperti ditulis Yohanes, “Allah itu Roh” (Yoh. 4:24a).

    1. Berdaulat

    Berdaulat sama artinya dengan yang utama, kepala, yang tertinggi. Dalam kaitan dengan kedudukan Allah, bahwa Ia adalah Pribadi yang utama di alam semesta; Ia penguasa alam semesta. Seseorang yang berdaulat dapat menjadi seorang diktator, namun tidaklah demikian dengan Allah; seseorang yang berdaulat dapat melepaskan tanggung jawab penggunaan kuasanya, namun tidaklah dengan Allah.

    Manusia diciptakan oleh Allah dengan kebebasan murni, tetapi dalam kebebasannya mereka memberontak terhadap Allah, dan menjadikan mereka berdosa. Meskipun Ia adalah perancang rencana itu, Ia sama sekali tidak terlibat di dalam perbuatan jahat itu. Jadi kedaulatan tidak harus menghapuskan kehendak bebas, dan kehendak bebas tidak pernah harus menipiskan kedaulatan.

    1. Benar

    Sesungguhnya bahwa Allah kita adalah yang benar, dalam pengertian bahwa Ia konsisten dengan diri-Nya sendiri. Ia telah menyatakan diri-Nya, dan bahwa penyataan-Nya sepenuhnya dapat dipercaya.

    Kebenaran Allah berarti sesuai dengan apa yang digambarkan, dan mencakup gagasan tentang kejujuran, kesetiaan dan konsistensi-Nya. Dia adalah satu-satunya Allah yang benar, seperti ditulis Yohanes, ”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Ia tidak dapat berdusta, seperti ditulis Paulus, ”Dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta” (Tit. 1:2). Ia selalu dapat dipercaya, seperti ditulis Paulus, ”Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi” (Rm. 3:4).

    Karena Allah adalah benar, maka Ia tidak dapat melakukan sesuatu yang tdak konsisten dengan diri-Nya. Janji-janji-Nya tidak pernah dapat diingkari atau tidak digenapi-Nya, seperti ditulis Paulus, ”Jika kita tidak setia, Da tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim. 2:13). Dan Alkitab adalah perkataan-Nya yang sungguh-sungguh benar dan tanpa salah, yang penulisannya merupakan ilham yang diberikan kepada para penulis, seperti ditulis Paulus, ”Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16).

    1. Esa

    Esa berarti bahwa hanya ada satu Allah yang tak dapat dibagi-bagi. Keesaan Allah merupakan sebuah pernyataan utama di dalam Perjanjian Lama seperti yang dicontohkan dalam “pengakuan iman Israel (Ibrani: shema; Arab: syahadah), yang arti harafiahnya, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN Esa” (Ul. 6:4). Ayat ini dapat diterjemahkan sebagai berikut: (1) “Tuhan adalah Allah kita, Tuhan itu esa”, yang menekankan keesaan-Nya. (2) “Tuhan adalah Allah kita, Tuhan saja”, yang menekankan keunikan-Nya yang kontras dengan dewa-dewa kafir.

    Perjanjian Baru pernyataannya yang jelas mengenai Trinitas, menguatkan kesatuan Allah, seperti ditulis Paulus, ”Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef. 4:6); ”Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6). Ini berarti bahwa Pribadi-pribadi dari Trinitas Allah bukan zat-zat yang terpisah di dalam zat ilahi yang satu. Allah adalah esa dalam jumlah dan keunikan. Satu-satunya Allah yang sebenarnya yang ada ialah Dia yang dinyatakan terutama dalam Alkitab dan dinyatakan oleh sifat-sifat atau kesempurnaan keberadaan-Nya.

    4. NAMA-NAMA ALLAH

     

    Banyaknya nama Allah di dalam Alkitab menyaksikan dan menggambarkan tentang sifat-sifat-Nya. Ini bukan sekedar nama yang diberikan oleh orang, tetapi merupakan penggambaran Allah tentang diri-Nya sendiri.

    Bahkan sekalipun tidak ada nama tertentu yang dipakai, ungkapan ”Tuhan” digunakan untuk menyatakan tentang sifat-Nya. Misalnya, menyerukan nama Tuhan sama artinya dengan menyembah-Nya. Musa menulis, ”Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal” (Kej. 21:33). Menyebut nama-Nya dengan sia-sia sama artinya dengan tidak menghormati-Nya, seperti ditulis Musa, ”Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Tidak mengikuti tuntutan hukum berarti mencemarkan nama-Nya, seperti juga ditulis Musa, ”Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis” (Im. 22:2). Nama-Nya menjanjikan kesinambungan bangsa Israel, seperti ditulis dalam 1 Samuel, ”Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, sebab nama-Nya yang besar. Bukankah TUHAN telah berkenan untuk membuat kamu menjadi umat-Nya” (1 Sam. 12:22).

    Bertalian dengan nama-nama Allah, maka nama-nama-Nya dapatlah digolongkan sebagai berikut:

    1. Nama Pribadi

    Nama pribadi dari Allah kita adalah Yahweh, yang pertama-tama digunakan oleh Hawa, seperti ditulis Musa, “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, istrinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” (Kej. 4:1). Nama Yahweh digunakan oleh orang-orang di zaman Set, sesuai tulisan Musa, “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kej. 4:26). Digunakan juga oleh Nuh, seperti ditulis Musa, ”Lalu katanya: Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya” (Kej. 9:26). Digunakan juga oleh Abraham, sesuai tulisan Musa, ”Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur. Lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN” (Kej. 12:8).

    Kepada Musa arti sesungguhnya dari Yahweh dibukakan. Ia berkata bahwa walaupun Ia telah menyatakan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, Ia belum dikenal oleh mereka dengan nama Yahweh. Arti yang paling lengkap dan dalam dari nama itu belum dikenal. Musa menulis, “Lagi Ia berfirman: Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah” (Kel. 3:6). Penyataan-Nya kepada Musa melalui belukar yang menyala, yang menyebut diri-Nya sebagai “AKU ADALAH AKU”, yang artinya Aku akan senantiasa ada dan yang akan ada; “Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (Kel. 3:14).

    Nama Yahweh menekankan keberadaan Allah yang tak berubah, seperti ditulis Yohanes, “Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Ia senantiasa menyertai umat-Nya, seperti yang ditulis Musa, “Lalu firman-Nya: Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini” (Kel. 3:12).

    Nama Yahweh berkaitan dengan kuasa Allah yang bekerja bagi umat-Nya Israel untuk memelihara perjanjian-Nya dengan mereka, yang dilukiskan dan dikuatkan oleh karya-Nya dalam melepaskan mereka dari Mesir, seperti ditulis Musa, “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir” (Kel. 6:6).

    Setelah kembali dari pembuangan di Babel, yakni sekitar tahun 450 sM, nama Yahweh yang merupakan nama pribadi dari Allah, oleh orang-orang Yahudi mulai dipandang sakral sehingga tidak mereka ucapkan lafalnya. Mereka merasa tidak sepatutnya untuk menyebut nama pribadi dari Allah mereka yang Mahakudus, Mahamulia, Mahaadil, Mahasuci. Mereka menganggap tidak etis. Nama umum yakni Adonai yang artinya majikan, penguasa, mereka jadikan ganti nama dimaksud. Pada masa inilah kita kenal dengan lahirnya Yudaisme atau agama Yahudi, dimana Ezra-lah yang dianggap sebagai pelopornya.

    Pada tahun 150 sM oleh 70 orang tua-tua Yahudi, Alkitab Perjanjian Lama yang tentu saja ditulis dalam bahasa Ibrani dan Aram, mereka terjemahkan ke dalam bahasa Yunani atau yang lebih dikenal dengan terjemahan Septuaginta (LXX). Terjemahan ini sering juga disebut sebagai terjemahan misioner. Baik nama Yahweh maupun Adonai, kedua-duanya mereka terjemahkan dengan menggunakan kata Yunani, ”Kurios”; Inggris, ”Lord”, yang juga artinya pemilik, penguasa. Untuk membedakan kedua nama dimaksud, maka Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menterjemahkan nama pribadi dari Allah yakni Yahweh dengan TUHAN, sedangkan Kurios diterjemahkan Tuhan.

    Secara teologis kita tidak dianjurkan untuk mencari, memanggil, menyebut nama Yahweh sebagaimana dalam agama Israel Kuno (Yahwisme), karena justru Yahweh sudah menyatakan diri-Nya atau menyingkapkan diri-Nya atau memperkenalkan diri-Nya kepada kita dalam diri Yesus. Yesus berasal dari kata Yunani, “Iesous”, dan dari kata Ibrani, “Y’hosyua” (singkatan dari Yahweh Hosyua) yang artinya “Yahweh Keselamatan”. Yahweh telah datang ke dunia dalam rupa  manusia Yesus untuk menyelamatkan kita. Dan karenanya para penulis Alkitab Perjanjian Baru baik Paulus, Petrus, dan lain-lain, dalam tulisannya tidak pernah menyebut nama Yahweh (Indonesia: “TUHAN”), tetapi Kurios, karena mereka mengerti bahwa Yesus Kristus adalah penyataan diri Yahweh. Untuk berjumpa dengan Yahweh secara pribadi dan memperoleh keselamatan, justru kita harus datang kepada Yesus, seperti ditulis Yohanes, “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Ibarat kalau kita mau berkunjung atau tinggal di Amerika, kita tidak harus meminta visa langsung kepada presiden Amerika, tetapi melalui duta besarnya yang ada di Jakarta.

    Nama-nama gabungan yang bertalian dengan Yahweh, yang merupakan gelar-gelar dalam memperingati suatu peristiwa tertentu, antara lain:

    1)   Yahweh-Yireh yang artinya Tuhan menyediakan semua kebutuhan dan keperluan kita. Pada waktu Allah meminta kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya sebagai korban persembahan bagi-Nya, maka Abraham sungguh-sungguh menuruti perintah Allah. Tatkala ia akan menyembelih anaknya yang tunggal itu, maka Allah berfirman: ”Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (Kej. 22:12). Dan Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai korban bakaran bagi-Nya sebagai pengganti Ishak, seperti ditulia Musa, ”Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: TUHAN menyediakan, sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: Di atas gunung TUHAN, akan disediakan” (Kej. 22:13-14).

    2)   Yahweh-Nissi yang artinya Tuhan adalah panji-panjiku. Pada waktu orang Israel berperang melawan orang Amalek, maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Pasukan Israel yang dipimpin oleh Yosua mengalahkan mereka. Musa menulis, “Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: TUHANlah panji-panjiku” (Kel. 17:15).

    3)   Yahweh-Shalom artinya Tuhan itu keselamatan. Pada waktu Gideon melihat malaikat TUHAN dengan berhadapan muka, maka ia menjadi sangat takut karena ketidaklayakannya itu. Namun Tuhan menjamin bahwa ia tidak akan mati. Kitab Hakim-hakim menulis, “Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer” (Hak. 6:24).

    4)   Yahweh-Sabbaoth artinya Tuhan semesta alam, sesuai tulisan dalam 1 Samuel, “Orang itu (Elkana) dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas” (1 Sam. 1:3). Para nabi memakai gelar ini untuk menyatakan bahwa Allah adalah pemimpin dan pelindung Israel, juga sesuai tulisan 1 Samuel, “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (1 Sam. 17:45).

    5)   Yahweh-Makkaddeshkem artinya Tuhan yang menguduskan. Dia yang menjadikan status umat Israel bahkan kita anak-anak-Nya, sebagai umat pilihan-Nya. Musa menulis, “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu” (Kel. 31:13).

    6)   Yahweh-Roi artinya Tuhan adalah gembalaku. Kita akan dipelihara, dijaga, dirawat oleh Dia, seperti ditulis Daud, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Maz. 23:1).

    7)   Yahweh-Tsidkenu artinya Tuhan adalah keadilan. Nabi Yeremia menubuatkan bahwa akan lahir seorang raja, ialah Yesus Kristus yang akan memerintah dengan bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran. Yeremia menulis, “Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN – keadilan kita” (Yer. 23:6).

    8)   Yahweh-Shammah artinya Tuhan hadir di situ, sesuai yang ditulis Yehezkiel, “Jadi keliling kota itu adalah delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR DI SITU” (Yeh. 48:35).

    9)   Yahweh-Allah-Israel artinya TUHAN adalah Allah Israel. Kitab Hakim-hakim menulis, “Dengarlah, ya raja-raja! Pasanglah telingamu, ya, pemuka-pemuka! Kalau aku, aku mau bernyanyi bagi TUHAN, bermazmur bagi TUHAN, Allah Israel” (Hak. 5:3).

     

    1. Nama Umum

    Di samping ada nama pribadi, juga ada nama-nama umum dari Allah kita, yang bertalian dengan karya-Nya, pemeliharaan-Nya kepada kita. Nama-nama dimaksud dapatlah disebutkan sebagai berikut:

    1. Tuhan

    Kata Tuhan diterjemahkan dari kata Ibrani, ”Adonai”; Yunani, ”Kurios”; Inggris, ”Lord”, yang artinya adalah majikan, pemilik, penguasa. Musa menulis, “Tuan-tuan, silahkanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya. Jawab mereka: Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang” (Kej. 19:2).

    Bila dipakai untuk hubungan antara Allah dan manusia, maka kata Adonai, Kurios dan Lord mengandung arti otoritas mutlak (Yunani ”exousia” yang artinya kuasa yang adil, sungguh dan tak terhalangi bertindak atau memiliki, mengontrol, memakai atau menguasai sesuatu atau seseorang). Yosua menulis, ”Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: Kawankah engkau atau lawan? Jawabnya: Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang. Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini” (Yos. 5:13-14). Paulus menulis, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan” (Kol. 3:22).

    Sewaktu Yesus Kristus hidup di bumi sebagai manusia, Ia disebut sebagai Tuhan, yang artinya rabi atau tuan. Matius menulis, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita” (Mat. 8:6). Tomas juga menganggap Dia sebagai Allah dan Tuhan sepenuhnya, seperti yang ditulis Yohanes, “Tomas menjawab Dia: Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28).

    Kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga menempatkan Dia sebagai Tuhan atas seluruh alam semesta, seperti ditulis Lukas, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (KPR. 2:36). Bagi orang Kristen mula-mula, Yesus sama dengan Allah dalam Perjanjian Lama. Mereka mengakui bahwa Ia adalah Tuhan, yang mengenakan sifat dan hakikat Allah. Ia  sebagai Yahweh dari Perjanjian Lama.

    1. Penguasa

    Kata penguasa diterjemahkan dari kata Yunani, “Despotes” mengandung arti kepemilikan. Allah-lah yang menjadi penguasa atas langit dan bumi serta segala isinya. Dialah pemilik atas semua ciptaan, termasuk kita umat-Nya. Lukas menulis, ”Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (KPR. 4:24).

    1. Bapa

    Bapa diterjemahkan dari kata Aram, ”Abba”, nama panggilan seorang anak terhadap ayahnya. Kata ini mengandung arti rasa hormat dan keakraban, tetapi orang Yahudi tidak pernah memakainya untuk Allah. Nampaknya Yesus-lah yang pertama-tama memanggil Allah dengan Bapa, dan memberi hak kepada para murid-Nya untuk berbuat demikian.

    Dalam teologi sebutan bapa terutama mengacu kepada oknum pertama dari Tritunggal. Karena oknum pertama dianggap sebagai sumber dari Allah yang ilahi, yakni melambangkan martabat, kehormatan dan kemuliaan Tritunggal, maka sebutan bapa dipakai menunjuk kepada-Nya. Petrus menyaksikan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1 Ptr. 1:17).

    Pengertian tentang Allah sebagai Bapa menunjuk kepada hubungan dasariah antara Allah dengan kita yang telah Ia ciptakan dalam gambaran-Nya. Hubungan alamiah itu meliputi pemberian hidup. Maleakhi mengatakan, “Bukankah kita sekalian mempunyai satu Bapa, bukankah satu Allah menciptakan kita?” (Mal. 2:10). Yesaya mengatakan, “Sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkau-lah yang membentuk kami; dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” (Yes. 64:8). Sebutan Bapa juga mengungkapkan hubungan perjanjian Allah kepada umat Israel. Dalam pengertian ini hubungan tersebut adalah hubungan kolektif, bukan hubungan perorangan. Israel sebagai umat perjanjian adalah anak Allah.

    Dalam Perjanjian Baru sebutan Bapa dipakai dalam pengertian khas dan sangat pribadi. Kristus memakainya terlebih dahulu, mengenai hubungan-Nya sendiri dengan Allah. Bahwa hubungan tersebut adalah unik. Allah adalah Bapa-Nya melalui kelahiran-Nya yang kekal. Dalam konteks penyelamatan, hal dimaksud dilihat dari dua segi yakni dari kedudukan kita di dalam Kristus dan dari pekerjaan Roh Kudus yang membaharui kita.

    1. a) Kita dalam persekutuan dengan Kristus diterima masuk ke dalam keluarga Allah dan dengan demikian diberikan hak istimewa sebagai anak-Nya. Paulus menulis, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris” (Rm. 8:17).
    2. b) Kita dianggap sebagai dilahirkan ke dalam keluarga Allah melalui kelahiran kembali. Oleh kedudukan kita yang baru (pembenaran) dan hubungan (pengangkatan) kepada Allah Bapa di dalam Kristus, kita diikutsertakan dalam kodrat ilahi dan dilahirkan ke dalam keluarga Allah (2 Ptr. 1:4).

    Allah disebut sebagai Bapa, yang memberikan kepada kita status sebagai anak-Nya, anugerah dan damai sentosa. Paulus menyaksikan, “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu” (Ef. 1:2). Ia yang memberikan kepada kita pemberian yang baik, sebagaimana disaksikan Yakobus, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yak. 1:17). Dia memberikan kepada kita perintah, sebagaimana yang ditulis Yohanes, “Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang kita terima dari Bapa” (2 Yoh. 4).

    Ajaran Yesus tentang ke-Bapa-an Allah dalam “Doa Bapa Kami” (Mat. 6:9-13), membatasi hubungan itu hanya bagi kita yang percaya kepada-Nya. Tidak pernah Ia menganggap dan memaksudkan hubungan ini terjadi antara Dia dan mereka yang tidak percaya. Hal itulah yang menyebabkan Ia mengatakan dengan sangat tajam kepada orang-orang Yahudi, ”Iblislah yang menjadi bapamu” (Yoh. 8:44a). Dalam hubungan bapa inilah ditunjukkan segi-segi dari tabiat-Nya yakni: kasih-Nya, seperti yang disaksikan oleh pemazmur, “Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan” (Maz. 36:6). Juga menyatakan pemeliharaan-Nya yang sempurna, seperti yang disaksikan Ayub, “Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku” (Ay. 10:12). Dan Ia menjanjikan karunia serta kesetiaan-Nya, seperti yang disaksikan pemazmur, “Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit” (Maz. 89:3).

    1. Yang Mahakudus Allah Israel

    Yang Mahakudus Allah Israel (Ibrani: qedosy Yisra’el) merupakan nama atau gelar yang digemari oleh Yesaya baik dalam nubuat-nubuatnya yang terdahulu maupun yang kemudian, dan juga dalam Yeremia dan Mazmur. Yesaya menyaksikan, “Celakalah bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat-jahat, anak-anak yang berlaku buruk! Mereka meninggalkan TUHAN, menista yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia (Yes. 1:4).

    1. Yang lanjut usia

    Yang lanjut usia (Aram: attiq yomin”) adalah gelar terhadap Allah yang merupakan gambaran yang diberikan oleh Daniel, yang menggambarkan Allah dan takhta pengadilan-Nya, mengadili kerajaan dunia yang besar. Daniel menyaksikan, “Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usia-Nya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar” (Dan. 7:9).

    1. El’ Olam

    El’ Olam artinya Allah yang kekal. Nama dimaksud dikenal tatkala Abraham mengadakan perjanjian dengan Abimelekh, maka ia menanam sebatang pohon tamariska di tempat dimana perjanjian itu diadakan, dan memanggil nama Allah. Musa menyaksikan, Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariksa di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal” (Kej. 21:33).

    1. El’ Elohe Israel

    El’ Elohe Israel artinya Allah adalah Allah dari Israel. Nama ini dikenal tatkala Yakub memperingati pertemuan yang baru saja ia alami dengan malaikat di tempat yang ia namakan Pniel (Ibrani: peni/-el artinya muka Allah). Jadi ia menerima Israel sebagai namanya dan taat beribadah kepada-Nya. Berkenaan dengan nama itu, Musa menulis, “Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: “Allah Israel ialah Allah” (Kej. 33:20).

    1. El’ Elyon”

    El’ Elyon artinya Allah yang Mahatinggi, adalah gelar dari Allah seperti yang disembah oleh Melkisedek. Bertalian dengan nama ini, Musa menulis, “Tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap” (Bil. 24:16).

     

    BERSAMBUNG  https://wartanasrani.com/detailpost/ketritunggalan-allah