Category: Artikel

  • PENGERTIAN TENTANG ALLAH

    PENGERTIAN TENTANG ALLAH

    Penulis:
    Tommy Lantang, M.Th., M.Pd.K
    Dosen Tetap STT PAIS JAKARTA
    Dosen Tidak Tetap Universitas Bhayangkara Jakarta
    Dosen Tidak Tetap Universitas Trilogi Jakarta
    Dosen Tidak Tetap STT Makedonia Jakarta
    Dosen Tidak Tetap STT Hasta Efata Indonesia Tarakan

     

    Kata Ibrani “elohim”; Yunani, “theos”; Inggris, “god” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata Allah, diambil dari kata Semit “el” yang bersumber dari kata “il”, yang artinya dewa, dan dalam bahasa Arab disebut “ilah”. Kata “il” bukan saja berkaitan dengan sesuatu yang ilahi tetapi berhubungan juga dengan nama utama ilah. Bahkan dewa orang Kanaan namanya ialah “il”.

    Istilah Allah sendiri berasal dari bahasa Arab, “al-ilah”. Kata “al” merupakan kata sandang yang definitif (Inggris: “the”; Indonesia: “sang”). Kata “ilah” sama artinya dengan “el”. Jadi kata “al-ilah” artinya sang Mahakuasa atau yang Mahakuasa. Kata “al-ilah” menurut peraturan baca bahasa Arab harus dibaca “al-lah”, karena huruf “i” di antara “al” dan “ilah”, tidak dibaca.

    Islam bersama dengan bahasa Arab yang masuk ke Indonesia abad ke 13, memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu. Dan kata Allah yang merupakan istilah Arab yang artinya sang Mahakuasa, yang Mahakuasa, dipakai oleh Melchior Leijdekker untuk menterjemahkan kata el atau elohim, dalam terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1733. Kata ini juga dipakai oleh Lembaga Alkitab Indonesia untuk menterjemahkan kata el atau elohim, sebagai Allah yang Mahakuasa, Mahaagung, Mahakasih, dan lain-lain.

    Kata Allah dipakai oleh 20 juta orang Kristen sampai hari ini di negara Arab, dan tidak pernah ada masalah, karena bagi mereka Allah sama dengan el atau elohim. Bahkan orang Yahudi di Arab menterjemahkan kata elohim dalam Perjanjian Lama dengan Allah. Di zaman jahiliah memang makna dan nilai sebutan Allah merosot. Istilah Allah pada waktu itu mereka samakan dengan dewa, patung-patung, berhala-berhala, namun maknanya kembali diperbaharui oleh Islam yang berkembang pada abad ke 7.

    Alkitab menyaksikan tentang fakta-fakta yang tidak dapat disangkal bahwa Allah kita dapatlah dijelaskan sebagai berikut:

    1)   Bahwa Allah kita tidak dapat dipahami oleh akal pikiran. Pikiran kita tidak mampu menguasai pengetahuan tentang Dia sebagai Allah yang Mahakuasa (transendensi). Dia tidak dapat disamakan dengan allah bangsa-bangsa lain, seperti ditulis Ayub, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” (Ay. 11:7). Yesaya juga menulis, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes. 40:18).

    2)   Walaupun Allah kita tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran kita, namun Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita dan dapat kita kenal di dalam diri Tuhan Yesus Kristus (imanen). Yohanes menulis, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7). “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”  (1 Yoh. 5:20).

    Pengetahuan tentang Allah dapat digolongkan dalam hubungan dengan sumbernya, isinya, keprogresifannya dan maksudnya. Allah sendiri adalah sumber pengetahuan kita tentang Dia. Tentu saja semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Hanya kebenaran sejati berasal dari Dia, karena sejak dosa masuk ke dalam dunia, manusia melakukan apa yang disebutnya kebenaran, tetapi yang sebenarnya tidak. Manusia telah menodai, menumpulkan, menipiskan dan merusakkan kebenaran yang datangnya dari Allah itu.

    Bagi kita sekarang, satu-satunya ukuran yang tak dapat salah untuk menentukan kebenaran yang sejati adalah firman Allah. Alam semesta walaupun menyatakan sesuatu tentang Allah, namun terbatas dan dapat saja kita salah membacanya. Pikiran kita walaupun banyak kali cemerlang di dalam prestasi, tetapi sebenarnya terbatas. Pengalaman-pengalaman kita sekalipun agamawi, tidak dapat dipercayai sebagai sumber pengetahuan akan Allah yang benar.

    Sudah tentu pengetahuan dari agama yang sejati harus berasal dari Allah. Di masa yang silam Yudaisme dinyatakan sebagai agama yang sejati dari Allah, namun sekarang digenapi dalam kekristenan. Dan pengetahuan yang sejati tentang kekristenan telah dinyatakan oleh Yesus dan para rasul-Nya. Dan salah satu maksud dari inkarnasi, adalah bahwa Ia menyatakan diri-Nya. Yohanes menulis, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya” (Yoh. 1:18). “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7).

    Janji akan datangnya Roh Kudus sesudah kenaikan Yesus Kristus ke sorga termasuk pernyataan selanjutnya mengenai Dia dan Bapa. Yohanes menulis, “Tetapi apabila Ia datang; yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:13). Roh Kudus membukakan mata rohani kita sehingga kita dapat mengerti akan isi Alkitab dan tentunya kita dapat mengenal Allah.

    Suatu pengetahuan yang lengkap tentang Allah ialah pengetahuan yang berdasarkan fakta-fakta dan juga bersifat pribadi. Mengetahui fakta tentang seseorang tanpa mengenalnya secara pribadi terbatas adanya; sebaliknya mengenal seseorang secara pribadi tanpa mengetahui faktanya adalah dangkal. Dan Allah sendiri telah menyatakan banyak fakta mengenai diri-Nya, yang kesemuanya penting agar hubungan kita dengan Dia boleh terjalin dengan intim.

    Seandainya Allah hanya menyatakan fakta tentang Dia tanpa kita mengenal Dia secara pribadi, maka pengetahuan itu sedikit sekali manfaatnya dan tidak memiliki manfaat dalam kekekalan. Hubungan antara kita dengan Allah yang bersifat pribadi itu akan membangkitkan kerinduan kita untuk mengetahui lebih banyak fakta tentang Dia yang kemudian memperdalam hubungan itu, yang pada gilirannya menambah kerinduan kita untuk lebih mengenal-Nya lagi.

    Pengetahuan akan Allah dan karya-Nya dinyatakan secara bertahap sepanjang sejarah. Bukti paling jelas ialah membandingkan teologi Yahudi yang belum lengkap itu dengan pernyataan yang lebih lengkap dari teologi Kristen dalam banyak hal, misalnya pada ajaran-ajaran seperti Allah Tritunggal, Kristologi, Roh Kudus, gereja Tuhan, akhir zaman, keselamatan, dan lain-lain.

    Pengetahuan tentang Allah penting kita pelajari dengan tujuan, sebagai berikut:

    1)   Dapat menuntun kita untuk memperoleh hidup yang kekal, sebagaimana ditulis Yohanes, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Paulus menulis juga, “Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4).

    2)   Untuk membantu pertumbuhan kerohanian kita, seperti ditulis Petrus, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya” (2 Ptr. 3:18). Dan pertumbuhan dimaksud dapat terjadi melalui pengetahuan yang bersifat pengajaran. Yohanes menulis, “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri” (Yoh. 7:17). Paulus menulis, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Ef. 1:18). Pertumbuhan dimaksud dapat juga terjadi melalui cara hidup yang mampu untuk memilih yang benar. Paulus menulis, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Flp. 1:9-10).

    3)   Mengingatkan kepada kita tentang penghukuman yang kekal, sebagaimana ditulis dalam kitab Ibrani, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka” (Ibr. 10:26-27). Hosea juga menulis, ”Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hos. 4:6).

    4)   Menyebabkan kita suka untuk menyembah Allah, sebagaimana ditulis Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rm. 11:36).

    Pengetahuan tentang Allah berbeda dengan pengetahuan yang lain. Di dalam pengetahuan akan Dia, kita hanya dapat memperolehnya sejauh Dia menyatakannya kepada kita. Jika Dia tidak mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya, mustahil kita dapat mengenal-Nya. Dalam ilmu pengetahuan lainnya, kita sering menempatkan diri di atas obyek penyelidikan, tetapi tidaklah demikian dalam mempelajari tentang Allah. Kita harus menempatkan diri di bawah Dia yang adalah obyek pengetahuan itu.

    Suatu bagian penting dari penyataan Allah ialah menyediakan cara untuk menyampaikan penyataan itu. Juga penyataan pribadi Allah di dalam Kristus itu memberikan beberapa cara dalam menyampaikan penyataan itu. Untuk maksud inilah Allah memberikan bahasa. Ia memberikan bahasa kepada Adam dan Hawa bahkan kepada kita semua, agar supaya Dia dapat menyampaikan perintah-perintah-Nya kepada mereka. Musa menulis, “Alah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej. 1:28). Juga dimaksudkan supaya Allah dapat berkomunikasi dengan mereka. Musa menulis, “Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: Apakah yang telah kau perbuat ini? Jawab perempuan itu: Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (Kej. 3:13).

    Sekalipun bahasa manusia telah terpecah-pecah menjadi banyak bahasa di Babel pada zaman Nimrod, bahasa tetap merupakan sarana komunikasi pada segala tingkatan. Kita percaya bahwa Allah telah menyediakan bahasa untuk menyampaikan pernyataan mengenai diri-Nya kepada kita.

    Tatkala Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, Ia menciptakan manusia sebagai makhluk rasional yang cerdas dan mampu untuk berpikir, walaupun memang intelegensia kita tidak sama dengan intelegensia-Nya. Karena itu kita mempunyai kemampuan untuk mengerti kata-kata, kalimat serta paragraf. Namun dosalah yang membuat pengertian kita tidak dapat diandalkan, tetapi dosa tidak melenyapkan kemampuan dan pengertian kita.

    Allah telah memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita guna menyatakan perkara-perkara dari Dia, sebagaimana  Paulus menulis, “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Kor. 2:10). Hal ini tidak menjadikan kita tidak dapat keliru, tetapi memberikan kepada kita kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Yohanes menulis, “Sebab di dalam diri kamu telah ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (1 Yoh. 2:27).

    Semua karya Allah memungkinkan kita mengetahui dan mentaati perintah-perintah-Nya yang tertulis dalam Alkitab guna mengenal-Nya. Yakobus menulis, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

     

    1. PENYATAAN ALLAH

    Kata penyataan diterjemahkan dari kata Ibrani, “gala”; Yunani, “apokalupto”; Latin, “revelo”, artinya membuka selubung yang tersembunyi. Karena itu bila Alkitab berbicara tentang penyataan, maka pemikiran yang dimaksudkannya ialah Allah aktif membuka bagi manusia kuasa dan kemuliaan-Nya, hakikat dan sifat-Nya, kehendak, jalan dan rencana-Nya. Pendek kata Ia menyingkapkan tentang diri-Nya sendiri, supaya manusia dapat mengenal-Nya.

    Perbendaharaan kata mengenai penyataan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru cukup luas, meliputi gagasan-gagasan tentang: membuat hal-hal yang samar-samar menjadi jelas, membuat hal-hal yang tersembunyi menjadi terang, memperlihatkan tanda-tanda, mengucapkan kata-kata, dan membuat orang-orang yang menjadi obyek penyataan, melihat, mendengar, merasa, mengerti dan mengetahui.

    Dari sudut isinya, penyataan Allah adalah menerangkan dan juga menyuruh, dan dalam setiap hal adalah normatif. Penyingkapan-penyingkapan oleh Allah selalu dilakukan dalam konteks tuntutan untuk percaya kepada, dan taat terhadap apa yang dinyatakan – suatu tanggapan, yaitu yang seluruhnya ditentukan dan dibatasi oleh penyataan itu sendiri. Dengan kata lain, penyataan Allah datang kepada kita bukan sebagai penerangan tanpa kewajiban, melainkan sebagai peraturan yang bersifat perintah berkaitan dengan iman dan tingkah laku. Hidup kita harus ditata, bukan oleh gagasan dan angan-angan sendiri, bukan pula oleh dugaan-dugaan mengenai hal-hal yang ilahi yang tidak dinyatakan, melainkan oleh kepercayaan yang khidmat mengenai semua apa yang dikatakan oleh Allah kepada kita, yang membimbing kita kepada kepatuhan yang sungguh-sungguh mengenai segala perintah yang terkandung dalam penyataan. Musa menulis, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita  dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul. 29:29).

    Alkitab seluruhnya menganggap bahwa Allah haruslah lebih dulu menyingkapkan diri-Nya sebelum kita dapat mengenal Dia. Gagasan Aristoteles (384-322 sM) tentang Allah yang tidak aktif yang dapat ditemukan dengan melakukan suatu penalaran, adalah tidak beralasan sama sekali. Diperlukan lebih dulu suatu prakarsa penyataan, sebab Allah adalah transenden. Dia di dalam cara berada-Nya adalah begitu jauh dari kita sehingga kita tidak dapat melihat Dia, sebagaimana ditulis Yohanes, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18).

    Manusia tidak dapat menemukan Dia dengan mencari-Nya, ataupun membaca pikiran-pikiran-Nya dengan terkaan yang cerdik. Bahkan seandainya kita tidak jatuh dalam dosa, kita tidak dapat mengenal-Nya tanpa penyataan-Nya. Dalam kitab Kejadian, dinyatakan bahwa Ia berbicara kepada Adam yang belum jatuh ke dalam dosa, sebagaimana ditulis Musa, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas” (Kej. 2:16).

    Ada dua cara Allah dalam mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, antara lain:

    1. Penyataan Allah secara umum, yang mencakup segala sesuatu yang dinyatakan Allah di dalam dunia di sekitar kita, termasuk manusia. Penyataan umum sering disebut sebagai teologi naturalis (prelapsarian).
    2. Penyataan Allah secara khusus; mencakup berbagai cara yang dipakai Allah untuk menyampaikan ilham-Nya yang ditulis di dalam Alkitab. Penyataan khusus disebut teologi yang diilhamkan (postlapsarian) atau yang bersifat penyelamatan. Namun demikian, baik penyataan umum maupun penyataan khusus semuanya adalah “dari Allah dan tentang Allah sendiri”.

     

    1. Penyataan Allah Secara Umum

    Penyataan Allah yang umum dapat dilihat melalui alam semesta, sejarah dan hati nurani manusia. Penyataan umum ini disampaikan lewat fenomena yang terjadi dalam alam atau dalam alur sejarah. Penyataan itu ditujukan kepada semua makhluk yang berakal sehingga mereka dapat memahaminya. Penyataan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan alamiah kita serta meyakinkan kita, agar kita mencari Allah yang benar.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui alam semesta

    Para sarjana ilmu alam  yang menolak gagasan tentang adanya Allah dan beranggapan bahwa alam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak mampu melihat penyataan Allah melalui alam. Kaum panteisme yakni ajaran yang menyamakan Allah dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam, yang mengidentikkan Allah dengan “segala sesuatu”, “universum”, juga tidak mampu melihat penyataan-Nya yang adikodrati melalui alam semesta. Mata rohani mereka tertutup dan tidak mampu untuk melihat hal-hal yang sifatnya rohani.

    Para sarjana teologi kritis juga tidak mampu melihat penyataan Allah melalui alam. Bahkan para filsuf yang bersifat skeptis dan kritis menyatakan bahwa apa yang kita anggap sebagai penyataan Allah melalui alam itu tidaklah lebih daripada sekadar kebenaran yang samar-samar yang diperoleh khususnya melalui pengajaran dalam kekristenan.

    Namun secara jujur kita harus berkata bahwa kita telah melihat penyataan Allah melalui alam semesta. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan, namun ada suatu Pribadi yang telah menjadikannya. Pemazmur menulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Maz. 19:2). Penyataan Allah yang terlihat melalui alam semesta menunjukkan bahwa Dia ada dan bahwa Dia memiliki sifat-sifat sebagai: Mahakuasa, Mahamulia, Mahabaik, Allah di atas segala allah.

    Selama berabad-abad manusia mengagumi rahasia antariksa sambil bertanya-tanya rahasia-rahasia apakah yang terpendam di angkasa luar? Selama abad pertengahan, gereja berusaha mencegah manusia untuk memandang alam semesta melalui teleskop. Para pemimpin gereja merasa takut jika manusia menyelidiki antariksa itu dengan begitu mendalam, dan kemudian mereka mungkin menemukan hal-hal yang menggoncang iman mereka. Namun ketika manusia menemukan sarana-sarana yang lebih besar dan lebih baik untuk menyelidiki antariksa, imannya kepada Allah semakin besar, sebagaimana ditulis oleh pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia” (Maz. 19:2-4). Tidak ada rintangan bahasa terhadap berita yang dipancarkan melintasi langit yang menceritakan tentang Allah. “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia” (Maz. 19:4,5a).

    Sebelum teleskop ditemukan, manusia menghitung bintang yang dapat mereka lihat dan teliti dan menyimpulkan bahwa di angkasa hanya ada 5.119 bintang, namun sudah berabad-abad Alkitab mengatakan, “Seperti tentara langit tidak terbilang” (Yer. 33:22). Sekarang apabila kita mengarahkan teleskop ke antariksa, akan didapati bahwa banyak titik-titik cahaya yang kecil sekali berkelap-kelip di langit bukan hanya bintang, tetapi merupakan bima sakti-bima sakti yang terdiri dari berjuta-juta matahari yang bersinar seperti matahari kita. Dan di sekeliling matahari-matahari yang tak terhitung jumlahnya ini terdapat planet-planet yang juga tidak terhitung banyaknya, yang bergerak bersama-sama mengelilingi ruang angkasa. Jika alam semesta ini dibagi rata, maka kita akan sampai pada angka 100 milyar bima sakti masing-masing terdiri atas 200 sampai 500 milyar bintang, dan setiap bintang satu juta kali lebih besar dari bumi kita.

    Tampaknya tidak masuk akal! Namun Allah menggunakan dua ilustrasi yang dapat menolong kita  agar mengerti sedikit lebih baik mengenai kehebatan semua hal itu. Allah membawa Abraham keluar dari rumah dan menyuruhnya menghitung bintang-bintang, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang – jika engkau dapat menghitungnya”. Kemudian Ia menambahkan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej. 15:5). Kemudian Allah membawa Abraham ke tepi laut Mati pada saat yang lain dan berkata kepadanya, “Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut” (Kej. 22:17).

    Seorang ahli perbintangan mengatakan bahwa jikalau kita dapat menghitung semua biji pasir di semua tepi pantai di dunia, maka kita akan tahu jumlah biji pasir itu sudah mendekati jumlah bintang-bintang di langit. Bila nantinya kita berada di tepi pantau bolehlah kita coba-coba menghitung berapa jumlahnya biji pasir yang berada dalam satu ember penuh. Bukankah menakjubkan sehingga Daud berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (Maz. 8:4-5a).

    Terkesan karena matahari dan bima sakti yang mungkin tak terhitung jumlahnya itu, maka ukuran semesta alam di mana kita hidup bahkan lebih dahsyat. Manusia sudah menempuh perjalanan hampir 250 ribu mil menjelajah angkasa luar dengan Apollo 11, Neil Amstrong dan Edwin Aldrin berjalan-jalan di bulan, tetapi itu sesungguhnya bukanlah suatu perjalanan yang jauh. Bulan adalah tetangga kita yang paling dekat. Bintang tedekat dengan bumi adalah matahari adalah lebih dari pada sejuta kali besarnya bumi kita dan jauhnya 93 juta mil dari bumi kita. Di samping matahari, bintang terdekat dengan bumi adalah Proxima Centauri, lebih dari pada empat tahun cahaya jauhnya, atau sekitar 24 triliun mil dari bumi.

    Sulit bagi pikiran kita untuk mengerti dunia-dunia yang tak terhitung jumlahnya, angkasa raya yang tidak terukur, dan rancangan rumit semesta alam ini. Namun semesta alam yang luar biasa rumitnya ini berjalan dengan lancar seperti sebuah jam berkualitas baik yang disetel dengan baik. Bermilyar-milyar bima sakti, masing-masing menempuh perjalanan dengan kecepatan ajaib ke arah yang sudah ditentukan melintasi langit, kadang-kadang berpapasan satu dengan yang lainnya, sama seperti pemain ski air dalam tarian ballet.

    Yesaya mengungkap kuasa di belakang tangan yang menentukan perputaran yang hebat itu, yang membuat jam antariksa bergerak terus, seperti ditulisnya, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tidak hadir, oleh sebab Ia Mahakuasa dan Mahakuat” (Yes. 40:25-26).

    Apakah kita mempelajari atom-atom yang kecil sekali atau bima sakti-bima sakti raksasa. Kita menemukan rancangan dan susunan luar biasa seorang ahli pikir dan ahli perancang. Semua ciptaan menjadi saksi bagi pencipta. Kalimat pertama dalam Alkitab dengan jelas menyebutkan pencipta tersebut, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Bagi kita, iman dimulai dengan suatu kesadaran bahwa suatu hikmat yang melebihi segala sesuatu membuat semesta alam menjadi ada dan membuat manusia jadi tercipta. Tidaklah sulit bagi kita untuk memiliki iman ini karena memang tidak dapat disangkal bahwa dimana ada suatu rencana, maka di sana pasti ada hikmat. Semesta alam yang berjalan teratur menyaksikan kebenaran pernyataan yang paling agung, “Pada mulanya Allah”.

    Oleh firman Allah langit telah dijadikan, sebagaimana ditulis pemazmur, “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Maz. 33:6,9). Allah menggunakan kuasa-Nya yang tidak terbatas itu dan membentuknya menjadi sesuatu. Yeremia menulis, “Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya” (Yer. 10:12).

    Kemudian ada juga kuasa besar Allah di cakrawala. Jikalau matahari sedikit lebih besar atau sedikit lebih dekat dengan bumi, maka lautan kita akan mendidih, Jikalau matahari sedikit lebih kecil atau sedikit lebih jauh dari bumi, maka atmosfir kita akan menjadi beku. Dengan demikian tidak ada kehidupan di bumi. Tetapi Allah bukan hanya menciptakan saja, melainkan Ia pun memelihara semua ciptaan itu.

    Bilamana kita memandang semua keajaiban di alam, sekali lagi kita melihat bukti bahwa Allah semesta alam  memang memelihara kita dan mau menolong kita. Ia mengetahui semua keperluan kita dan Ia memiliki kuasa untuk menyediakan keperluan-keperluan tersebut. Yeremia menulis, “Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu” (Yer. 32:17).

    Harus kita akui bahwa memang penyataan Allah melalui alam semesta terbatas sifatnya karena sekalipun penyataan itu membuat kita mengakui keberadaan-Nya, namun hal itu tidak dapat menuntun semua orang untuk menemukan keselamatan. Penyataan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk mendorong kita dalam mencari penyataan yang lebih lengkap tentang Dia serta rencana keselamatan-Nya. Juga penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Dia kepada kita agar datang kepada-Nya. Kita perlu mencari dan menemukan penyataan khusus dari Allah yang akan membawa kita kepada pengenalan akan Dia sebagai Pribadi yang hidup yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus. Dialah wujud penyataan Allah yang sanggup memberikan keselamatan kepada kita.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui sejarah

    Pemazmur membuat suatu pernyataan yang tegas sekali bahwa nasib kita berada di tangan Tuhan, ketika ia menulis, “Sebab bukan dari timur atau dari barat, dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Maz. 75:7-8). Lukas juga menulis, “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia” (KPR. 17:26-27).

    Berdasarkan pernyataan tersebut, kita dapat menemukan dalam sejarah, penyataan tentang kuasa dan pemeliharaan Allah yang luar biasa. Kitab Keluaran menyaksikan bahwa sungguh Allah dengan kuasa-Nya yang tak terbatas telah menuntun bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir untuk menuju tanah yang telah dijanjikan kepada para leluhur mereka. Sebagai umat pilihan-Nya, secara ajaib mereka boleh keluar dari Mesir, melewati laut Kolsum, dan mengalami pemeliharaan-Nya selama empat puluh tahun di padang gurun, dan semua kebutuhan  mereka dipenuhi oleh-Nya.

    Ketika seluruh dunia terjerumus ke dalam politeisme, Abraham, Ishak, Yakub serta keturunan mereka dapat mengenal Allah, sebagai Allah yang benar, tak terbatas, kudus, pencipta, pemelihara dan penguasa alam semesta ini. Namun peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mereka dalam menjalankan agamanya, melainkan karena Allah menyatakan diri-Nya kepada mereka melalui sejarah. Dia sendiri menampakkan diri kepada para leluhur, memperkenalkan diri-Nya dan menyatakan kehendak-Nya melalui mimpi, penglihatan. Dia menyampaikan amanat-Nya langsung kepada mereka, dan mengungkapkan sifat-Nya yang kudus dalam hukum-hukum Taurat, sistem persembahan korban, dan kebaktian dalam kemah perhimpunan dan Bait Suci.

    Sekalipun Israel itu hanya merupakan bangsa yang kecil yang hidup di daerah yang terpencil, dan hampir tidak memiliki hubungan dagang dengan dunia di sekitarnya, mereka tetap merupakan bangsa yang diperhatikan oleh Allah, sehingga Musa menulis, “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ul. 28:2). Ketika Allah mengancam akan membinasakan mereka di padang gurun akibat dosa pemberontakan, ketidakpercayaan, penyembahan berhala yang telah mereka perbuat, Musa memohon dengan sangat kepada-Nya untuk mengasihani mereka itu demi kehormatan-Nya. Dia menulis, “Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu” (Kel. 32:11-12).

    Pada waktu Israel taat kepada Allah, mereka mengalahkan bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari mereka. Musa menulis, “Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Hebus, tujuh bangsa yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu” (Ul. 7:1). Tetapi ketika mereka mengikuti jalan mereka sendiri, Allah menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa lain untuk menindas dan kemudian mereka dibuang ke Babilonia. Namun ketika mereka bertobat dan berseru kepada Allah, maka Dia mengutus seorang pembebas dan memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka.

    Setiap kali bangsa Israel menjauh dari Allah, mereka mengalami musim kering berkepanjangan, bencana belalang, dan kekalahan dalam perang. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa dalam semua pengalaman Israel, Allah menyatakan diri-Nya bukan saja kepada mereka, tetapi juga melalui mereka kepada seluruh dunia. Setiap bangsa boleh mengenal sesungguhnya yang menjadi Allah Israel ialah TUHAN yang menciptakan langit dan bumi, yang berdasarkan hak prerogatif-Nya telah memilih mereka, memberkati mereka dan menjadikan mereka berkat bagi semua bangsa. Setiap bangsa boleh mengakui bahwa Allah Israel adalah Allah yang perkasa, dahsyat, yang tidak dapat dipahami oleh akal pikiran manusia namun yang menyertai dan yang berperang bagi mereka.

    Sebagai umat Tuhan, kita pun dapat berkata bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang baik, yang senantiasa membimbing, menuntun, memelihara kehidupan kita. Semua kebutuhan kita dipenuhi-Nya, semua masalah hidup kita diberikan jalan keluar yang terbaik. Ia tidak pernah terlambat untuk menolong kita dan tidak pernah lalai dalam menepati janji-Nya. Apa yang dinyatakan dalam Alkitab semuanya digenapi-Nya. Jadi tidaklah kebetulan ketika kita ada di tengah-tengah dunia ini, semuanya karena Tuhan, oleh Tuhan dan untuk hormat bagi nama Tuhan.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui hati nurani manusia

    Secara etimologi hati nurani diterjemahkan dari kata Yunani, “syneidesis” yaitu alat yang dengannya orang memahami tuntutan moral Allah, dan yang menyebabkan derita baginya jika ia tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Karena itu perlu sekali hati nurani kita dibina secara wajar dan sungguh-sungguh diberi penerangan oleh Roh Kudus. Hati nurani bukanlah sesuatu yang berdaya cipta, melainkan sesuatu yang mampu membedakan dan mendorong. Hati nurani menentukan apakah suatu kelakuan atau sikap kita selaras dengan standar moral atau tidak. Hati nurani mendorong kita untuk melakukan apa yang selaras dengan standar tersebut serta menjaga agar kita tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengannya. Kesadaran tentang benar dan salah yang ada pada kita itulah yang  membedakan antara benar dan salah serta mendorong kita melakukan apa yang benar. Itulah yang merupakan penyataan dari Allah. Hati nurani merupakan pencerminan Allah dalam jiwa kita.

    Sebagaimana cermin dan permukaan air danau yang tenang mencerminkan matahari serta menyingkapkan bukan saja keberadaan matahari itu tetapi juga sifatnya, demikian pula hati nurani menyingkapkan bahwa Allah itu ada dan Dia juga menyingkapkan sifat-Nya. Hati nurani kita menyingkapkan bukan saja bahwa Dia ada, tetapi bahwa Dia membedakan antara yang benar dan yang salah. Paulus menulis, “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus” (Rm. 2:14-16). Bahwa karena Dia melakukan yang benar karna sifat-Nya yang benar itu, maka Ia menuntut pertanggungjawaban kita untuk selalu melakukan yang benar dan menjauhi yang salah.

    Hati nurani juga menyiratkan bahwa setiap pelanggaran kita akan dihukum. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa hati nurani kita merupakan penyataan dari Allah. Hati nurani menunjukkan bahwa ada hukum benar dan salah yang nyata di alam semesta ini, dan bahwa ada pembuat hukum tertinggi yang mewujudkan hukum tersebut, yakni Allah.

     

    1. Penyataan Allah Secara Khusus

    Yang dimaksud dengan penyataan khusus ialah tindakan-tindakan Allah yang dengannya Dia memperkenalkan diri-Nya serta kebenaran-Nya secara khusus pada saat-saat tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Namun sekalipun penyataan khusus ini diberikan kepada orang-orang tertentu dan pada saat-saat tertentu, penyataan ini tidak selalu diperuntukkan kepada seseorang saja, tetapi diperuntukkan kepada semua orang.

    Penyataan khusus ini adalah bagian harta kekayaan yang harus disampaikan kepada seluruh manusia. Lukas menulis, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (KPR. 1:8). Penyataan khusus itu diungkapkan kepada kita melalui berbagai cara, antara lain dalam bentuk mujizat, nubuat, dalam diri dan karya Yesus Kristus, dalam Alkitab dan dalam pengalaman pribadi.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui mujizat

    Alkitab menggunakan kata Ibrani, “gevura”; Aram, “temah”; Yunani, “teras”, untuk mengartikan pekerjaan Allah. Semuanya diterjemahkan dengan tanda atau mujizat. Hal yang paling membingungkan mengenai mujizat timbul karena manusia gagal melihat bahwa Alkitab tidak membedakan pemeliharaan Allah yang tetap dan berdaulat dari tindakan-tindakan-Nya yang khas dan istimewa. Kepercayaan kepada mujizat dikaitkan dengan pandangan dunia yang memandang seluruh ciptaan tergantung pada Allah yang terus menerus bekerja dan menopang ciptaan-Nya, dan tunduk kepada kehendak-Nya yang berdaulat.

    Kendati keberatan-keberatan apriori terhadap cerita-cerita mujizat tidak berlaku, namun tetap tinggal pertanyaan, apa sebenarnya peranan peristiwa-peristiwa luar biasa itu dalam seluruh penyataan diri Allah dalam sejarah. Para teolog ortodoks (Yunani: ”orthos” artinya lurus, benar; ”doxa” artinya pendapat, pandangan), menganggap mujizat sebagai tanda otentik dari nabi-nabi Allah, rasul-rasul-Nya dan terutama Yesus Kristus. Mujizat adalah sarana untuk melihat apa yang selalu dilakukan Allah dan untuk melihat siapa sebenarnya Dia. Mujizat adalah jendela-jendela ke arah kenyataan kebenaran Allah.

    Akhir-akhir ini para kritikus liberal mempersoalkan bahwa cerita-cerita mujizat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki ciri yang sama dengan cerita mujizat  dari para allah kafir  dan nabi-nabi mereka. Pandangan mereka menyiratkan bahwa mereka tidak mengakui hubungan yang erat antara cerita-cerita mujizat  dengan seluruh penyataan diri Allah.

    Mujizat sejati sifatnya supra-alami, yang merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa, yang bermanfaat untuk menyingkapkan kehadiran dan kuasa Allah, sedangkan mujizat palsu adalah suatu bentuk tipuan yang dilakukan oleh Iblis. Dalam hal ini Matius menulis, “Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:24).

    Saat terjadinya suatu mujizat, sifatnya sungguh ajaib dan bertentangan dengan hukum alam seperti terlihat dalam peristiwa terbelahnya laut Kolsum. Mujizat dimaksud merupakan penyataan yang khusus tentang kehadiran dan kuasa Allah. Mujizat itu membuktikan keberadaan, kehadiran, kepedulian-Nya. Pada saat sebuah mujizat terjadi, Allah sedang membuktikan kepada kita bahwa Dia adalah Allah yang hidup, menguasai alam semesta, dan mampu juga untuk mengatasi semua masalah yang kita hadapi. Mujizat pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada pesta perkawinan di Kana, membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kualitas hidup kita (Yoh. 2:1-11); Lazarus yang sudah empat hari mati dan dibangkitkan oleh Yesus, membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kematian (Yoh. 11:1-44). Ketika Yesus berjalan di atas air, hal itu membuktikan bahwa Dia berkuasa atas alam semesta (Yoh. 6:16-21). Ketika Dia sanggup memberi makan lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan, hal ini membuktikan bahwa kuasa pemeliharaan-Nya berlaku atas umat-Nya dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.

    Golongan panteisme atau mereka yang menyamakan Allah dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam, secara apriori menolak adanya mujizat. Bagi mereka alam semesta merupakan sebuah mesin yang dapat memelihara diri dengan usahanya sendiri. Mujizat bagi mereka mustahil karena dianggap melanggar hukum-hukum alam, juga tidak masuk akal karena bertolak belakang dengan pengalaman manusia. Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum alam dapat berdiri sendiri dan tanpa pengaruh, pengarahan dan pemeliharaan dari luar.

    Kita mengakui bahwa hukum-hukum alam itu tidak sepenuhnya dapat berdiri sendiri karena kuasa saja tidak dapat memelihara dirinya dan tidak dapat bekerja menurut maksud tertentu. Untuk itu diperlukan suatu kuasa yang tak terbatas, dan kuasa itu searah dalam segenap kegiatannya, baik yang berkaitan dengan benda maupun yang berkaitan dengan akal, tanpa merusak semuanya itu. Dialah Allah yang memiliki kuasa itu. Dan kalau Allah melakukan hal itu mengapa kita menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hukum alam, bila Dia berkenan meningkatkan atau menambahkan kekuatan hukum-hukum alam, bertindak tidak searah dengan hukum-hukum itu atau bertindak terlepas dari hukum-hukum tersebut.

    Kebangkitan Tuhan Yesus adalah merupakan salah satu fakta dalam sejarah. Kitab-kitab Injil semuanya meyakinkan kita bahwa Dia benar-benar mati dan telah bangkit dari kematian-Nya. Banyak para pengikut-Nya yang melihat bahwa Dia ada dalam keadaan hidup beberapa hari setelah penyaliban-Nya. Mereka begitu yakin akan kebangkitan-Nya, sehingga dengan berani mereka menyaksikan peristiwa tersebut di depan umum di kota Yerusalem. Para murid Yesus telah mengorbankan status sosial, harta benda dan nyawa mereka untuk menyaksikan kebangkitan-Nya itu. Paulus memakainya sebagai bukti bahwa semua  orang percaya  suatu hari akan dibangkitkan juga, sehingga ia menulis, “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1 Kor. 15:13).

    Monsignor Giulio Ricci meneliti kain kafan (Yunani: sindon) yang disimpan di kota Turin-Italia Utara selama lebih dari 27 tahun dengan dibantu oleh ilmu-ilmu pengetahuan modern. Dari penyelidikan dimaksud banyak hal ditemukan dan diungkap tentang Yesus sebagai manusia yang menderita; tentang penderaan-Nya, pemahkotaan duri di kepala-Nya, pemanggulan salib, perjalanan salib dan penyaliban serta kematian-Nya. Tentang lambung-Nya yang ditusuk tombak dan pemakaman-Nya. Jadi kain kafan Turin diyakini sebagai kain kafan yang dipakai oleh para murid Yesus untuk membungkus jenazah-Nya waktu Ia dimakamkan. Yohanes menulis, “Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat” (Yoh. 19:40). Pada waktu Yesus bangkit dari antara orang mati, kain kafan ditinggalkan di dalam kubur. Dan dapat dipastikan bahwa para rasul membawa kain kafan itu ke Yerusalem dan menyimpannya di sana.

    Pada tahun 1005 ketika Yerusalem diserbu dan diduduki oleh orang-orang Turki, orang-orang Kristen melarikan diri dari Yerusalem ke Konstantinopel (sekarang Istambul). Harta gereja dan barang-barang suci yang sangat berharga mereka bawa serta, termasuk kain kafan. Namun Konstantinopel pun tidak luput dari serbuan orang-orang Turki, dan banyak relikui-relikui suci yang hilang, namun kain kafan masih tetap aman dan utuh. Tetapi kota Konstantinopel terus menerus menjadi bulan-bulanan serangan orang-orang Turki. Maka selama perang-perang salib berikutnya, diamankanlah barang-barang suci dari sana. Pada tahun 1353 kain kafan diketahui berada di tangan keluarga Geoffrey de Charny dari Perancis. Pada tahun 1452 kain kafan itu dipertukarkan dengan sebuah tanah dan puri yang ada di atasnya oleh Pangeran Louis Savoie. Dan ia menyimpannya di sebuah kapel yang indah di Chambery. Pada tahun 1532 ketika terjadi kebakaran di kapel tersebut, lipatan-lipatan kain kafan itu hangus, namun telah diperbaiki pada tahun 1534, oleh para suster di Chambery. Pada tahun 1578 Emmanuele Filibert II, raja Savoie, memindahkan kain kafan dimaksud ke Turin, untuk memperpendek perjalanan Karolus Borromeus, uskup agung Milan, yang ingin menghormati kain kafan.  Dan sampai saat ini kain kafan tersebut tetap menjadi milik dari keluarga Louis Savoie, dan ditempatkan di sebuah kapel yang dirancang dan dibangun secara khusus di kota Turin. Jadi kain kafan ini merupakan bukti sejarah bahwa sesungguhnya Yesus benar-benar telah mati namun pada hari yang ketiga Ia telah bangkit dari antara orang mati. Dia hidup!   Sungguh suatu mujizat yang luar biasa.

    Bila kita percaya bahwa kebangkitan Yesus Kristus merupakan fakta sejarah maka kita juga pasti percaya akan mujizat-mujizat, dan akhirnya kita percaya bahwa mujizat masih saja terjadi. Mujizat bahkan juga tidak bertolak belakang dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kita semua memiliki kesaksian bahwa Allah menjawab doa-doa yang kita panjatkan. Kita yakin bahwa Ia telah mengadakan mujizat demi kepentingan kita atau demi kepentingan orang yang kita doakan. Kita yakin bahwa hukum-hukum alam tidak dapat menjelaskan hal-hal yang telah kita saksikan dan alami dalam kehidupan kita. Secara lebih khusus lagi kita berkali-kali dapat melihat mujizat pembaharuan hati  yang sampai kini pun masih tetap berlangsung. Kita tidak dapat mengubah muka, warna kulit kita, namun secara ajaib Allah dapat dan telah mengubah hati kita yang percaya kepada-Nya.

    Mujizat bukanlah melulu penyuguhan lahiriah dari penyataan tapi merupakan bagian intinya, dan tujuannya yang sebenarnya  adalah memupuk iman kepada kuasa campur tangan Allah untuk menyelamatkan kita. Mujizat dimaksudkan untuk memperdalam pengertian kita tentang Allah. Mujizat adalah media-Nya untuk berbicara secara dramatis kepada orang-orang yang memiliki telinga untuk mendengar. Mujizat berkaitan langsung dengan iman para pengamat atau orang-orang yang terlibat langsung, dan dengan iman orang-orang yang akan mendengar atau membaca Alkitab. Yohanes menulis, “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mara murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:30-31). Yesus mencari iman sebagai tanggapan atas kehadiran-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menyelamatkan. Imanlah yang membuat utuh dan membuat perbedaan antara pengungkapan yang murni ciptaan dan komunikasi yang menyelamatkan dari penyataan-Nya.

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui nubuat

    Nubuat dalam pemakaian umum Perjanjian Lama diterjemahkan dari kata kerja Ibrani: “khaza” dapat disejajarkan dengan kata kerja “ra’a”, dimana keduanya dipakai sehubungan dengan ramalan, pengamatan akan arti kejadian-kejadian dan akan penafsiran watak. Keduanya dipakai bagi penglihatan dan bagi keaktifan kenabian. Nubuat yang dimaksudkan di sini adalah penyampaian tentang terjadinya suatu peristiwa sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Hal ini bukan melalui kemampuan tembus pandang, melainkan melalui penyampaian langsung dari Allah. Jadi secara sederhana nubuat adalah menyampaikan pikiran serta isi hati Allah seperti yang diungkapkan oleh Roh Kudus. Nubuat adalah curahan hati dan sifat alamiah-Nya.

    Fungsi nabi yang pertama ialah sebagai pelayan firman. Tetapi jelas mereka berbicara pada situasi mereka, terutama berupa peringatan-peringatan dan bimbingan-bimbingan mengenai masa depan. Hampir tiap nabi pertama-tama tampil sebagai peramal. Amos menulis, “Berkatalah ia: TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel” (Am. 1:2). Bagaimana nabi menerima amanat untuk menyampaikannya kepada sesamanya di mana dia diutus? Jawaban lazim yang diberikan adalah: “Firman Tuhan datang”. Allah sendiri yang mengucapkan firman-Nya itu, yang disampaikan-Nya kepada nabi dan melalui nabi kepada umat-Nya. Pengalaman yang sama seperti itulah  yang dialami oleh Yeremia ketika tangan Allah menjamah mulutnya. Yeremia menulis, “Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (Yer. 1:9).

    Akan tetapi nilai nubuat bergantung kepada orang yang menyampaikannya. Ia harus memiliki persekutuan yang nyata dan intim dengan Allah. Dalam Perjanjian Lama, para nabi palsu digambarkan sebagai pusing karena arak dan pening karena anggur. Yesaya menulis, “Tetapi orang-orang di sini pun pening karena anggur dan pusing karena arak” (Yes. 28:7). Di antara mereka ada pezinah, seperti ditulis oleh Yeremia, “Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorang pun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka telah menjadi seperti Sodom bagi-Ku” (Yer. 23:14). Di antara mereka ada pengkhianat, seperti ditulis oleh Zefanya, “Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat” (Zef. 3:4). Di antara mereka ada pendusta, seperti ditulis Mikha, “Seandainya seseorang datang mereka-reka yang hampa dan dusta: Aku bernubuat kepadamu tentang anggur dan arak, maka dialah yang patut menjadi orang yang bernubuat terhadap bangsa ini” (Mi. 2:11). Ada juga nabi yang oportunitis, sehingga Mikha menulis, “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mi. 3:11).

    Telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya bahwa Yesus Kristus akan dilahirkan oleh seorang perawan, dengan menulis, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Ia merupakan keturunan Abraham dari suku Yehuda, seperti ditulis Musa, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa” (Kej. 49:10). Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai, seperti ditulis Zakharia, “Bersorak-soraklah dengan nyaring hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Za. 9:9). Ia dikhianati oleh teman-Nya sendiri, seperti ditulis pemazmur, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Maz. 41:10). Dan masih banyak lagi nubuat tentang diri-Nya yang semuanya telah digenapi, sementara digenapi dan akan digenapi. Tidak perlu kita membuktikan penggenapan semua nubuat yang terdapat dalam Alkitab satu persatu, karena semuanya pasti digenapi.

    Karena Allah merupakan pencipta dan pemelihara kita, maka tidak ada yang terlepas dari Dia. Dia bekerja sama dengan pikiran kita sebagaimana Dia bekerja sama dengan hukum alam. Dan bila Allah bertindak dalam proses-proses pikiran yang umum, tidaklah aneh bila Dia melampaui proses pikiran itu dan bertindak terlepas darinya.

    Banyak orang Kristen di Amerika Serikat yang menjadi anggota dari gereja yang tidak percaya “dengan pemikiran bahwa Allah berbicara pada kita zaman ini”. Mereka diajarkan tentang cessationisme, yang artinya bahwa karunia Roh seperti kesembuhan, berbahasa roh, penafsiran bahasa roh, mujizat dan sejenisnya sudah berakhir di abad pertama. Padahal tidaklah demikian. Karunia-karunia Roh diberikan kepada umat Allah supaya kehidupan kerohanian mereka dapat dibangun, dan mereka bertumbuh ke arah Dia yang adalah Kepala atas gereja. Langit dan bumi akan berlalu tetapi firman-Nya akan tetap untuk selama-lamanya.

    1. Allah menyatakan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus

    Israel memang percaya akan adanya Allah yang benar dan hidup, tetapi pengertian mereka tentang Dia tidak sempurna dan cenderung kurang benar. Mereka terutama memandang Allah sebagai pemberi hukum dan hakim yang sangat menekankan ketaatan yang terinci dan teliti terhadap hukum Taurat, tetapi tidak memperhatikan keadaan hati manusia dan dalam melakukan keadilan. Mereka menganggap bahwa murka Allah dapat diredakan dengan korban dan Ia dapat dibujuk untuk memberkati mereka melalui korban bakaran. Mereka menganggap bahwa Ia telah menjadikan keturunan lahiriah Abraham sebagai satu-satunya syarat untuk memperoleh kemurahan dan berkat-Nya, serta memandang orang-orang non Yahudi lebih rendah dari mereka.

    Perjanjian Lama penuh dengan berita kasih, kemurahan, kesetiaan Allah, tetapi Israel dengan cepat berbalik ke legalisme, yakni ajaran keselamatan melalui perbuatan baik. Karena itu mereka memerlukan penyataan yang lebih lengkap tentang Dia. Penyataan tersebut didapatkan di dalam diri dan pelayanan Yesus Kristus. Ia merupakan pusat penyataan Allah dan sejarah umat manusia. Penulis surat Ibrani menulis, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1-2). Penulis Ibrani kemudian memperkenalkan Kristus sebagai “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:3).

    Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Hal itu disampaikannya dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol. 1:15). “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Dalam hal ini Yohanes menulis, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Yesus sendiri mengatakan, “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27). Yohanes menulis juga, “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Oleh karena itu gereja sejak dahulu telah melihat di dalam Kristus penyataan yang sempurna dari Allah Bapa. Apa yang Ia lakukan ialah membuka sebuah jendela yang nyata di dalam waktu sehingga kita boleh memandang kasih-Nya yang abadi dan tidak berubah itu.

    Di dalam Yesus Kristus kita memiliki penyataan Allah tentang keberadaan, sifat dan kehendak-Nya. Ia merupakan bukti tentang keberadaan-Nya, karena Ia menjalani kehidupan Allah di antara manusia. Ia sangat sadar akan kehadiran Allah Bapa dalam kehidupan-Nya dan senantiasa berhubungan dengan Dia, sehingga Ia berkata, “Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku” (Yoh. 8:18). Dia juga menunjukkan melalui penyataan-Nya tentang siapa diri-Nya dengan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58).

    Yesus Kristus mengatakan tentang kehidupan-Nya yang tidak bercacat cela dengan berkata, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku” (Yoh. 8:46). Berbagai jabatan dan hak istimewa diberikan Allah kepada Yesus sehingga rasul Matius menulis, “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Mat. 9:2).

    Yesus Kristus menyingkapkan kekudusan Allah dengan berkata, “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11). Ia menyingkapkan kasih-Nya dengan berkata, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikianlah juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-16).

    Yesus Kristus juga menyatakan bahwa Dia adalah Bapa dari setiap orang percaya, dengan berkata, “Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah” (Yoh. 16:27). Ia juga mengungkapkan kehendak Allah agar semua orang bertobat, percaya kepada-Nya dengan berkata, “Jawab Yesus kepada mereka: Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh. 6:29). Dan pada akhirnya Tuhan Yesus menghendaki agar supaya setiap kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia, dengan berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20).

    1. Allah menyatakan diri-Nya melalui Alkitab

    Alkitab adalah nama kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai kanonik, dan diakui pula sebagai firman Allah oleh gereja. Nama ini berdasarkan pemakaian kata Yunani, “biblia” (buku-buku) bagi keseluruhan kumpulan kitab-kitab itu seolah-olah satu kitab saja. Alkitab terdiri dari 66 kitab saja, yang terbagi atas Perjanjian Lama sebanyak 39 kitab, dan Perjanjian Baru sebanyak 27 kitab.

    Di dalam Alkitab kita memiliki penyataan dari Allah yang paling nyata dan yang tidak mungkin salah. Alkitab tidak dapat dipandang sebagai suatu penyataan yang sederajat dengan penyataan-penyataan lainnya, namun lebih tepat sebagai perwujudan dari semua penyataan tersebut. Misalnya Alkitab mencatat pengetahuan akan Allah serta tindakan-tindakan-Nya terhadap manusia, sejarah, mujizat, nubuat, Tuhan Yesus Kristus, dan pengalaman batin serta pengarahan ilahi. Karena itu kita harus percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah dan satu-satunya sumber tertinggi yang tidak mungkin salah, seperti ditulis Paulus, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16).

    Kata firman Allah diterjemahkan dari kata Ibrani, “davar”, yang secara harafiah artinya “hal yang ada di belakang”. Hal ini menunjuk kepada “kamar di belakang rumah”, yaitu tempat yang Mahakudus di Bait Suci. Dalam psikologi Ibrani, ucapan seseorang dianggap sebagai sebagian dari diri si pembicara yang memiliki keberadaan  sendiri yang nyata. Jadi “davar” berarti ucapan atau firman Allah dalam Alkitab, yakni penyataan atau penyingkapan diri Allah sendiri. Kata ini dipakai bertalian dengan komunikasi dari Dia kepada manusia.

    “Davar” mengandung kuasa yang serupa dengan kuasa Allah yang mengucapkannya, seperti ditulis Yesaya, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:11); melaksanakan kehendak-Nya tanpa alangan, sehingga harus diperhatikan oleh para malaikat dan manusia, seperti ditulis oleh pemazmur, “Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Maz. 103:20); tetap untuk selama-lamanya firman-Nya, seperti ditulis Yesaya, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yes. 40:8). Dalam Mazmur 119, kata “davar” lebih menunjuk kepada firman Allah yang tertulis.

    Kata Yunani untuk firman Allah ialah “logos”, dipakai dalam terjemahan Septuaginta (LXX) untuk menterjemahkan “davar”. Dalam bahasa Yunani pada dasarnya “logos” berarti “kata”, tapi kemudian berkembang dengan berbagai arti, antara lain:

    1. Dalam tata bahasa Yunani, istilah “logos” mengartikan kalimat yang lengkap.
    2. Dalam logika, istilah “logos” mengartikan suatu pernyataan yang berdasarkan kenyataan.
    3. Dalam retorika, istilah logos mengartikan pidato yang tersusun secara tepat.
    4. Dalam filsafat, istilah “logos” dipakai oleh aliran filsafat Stoa, untuk mengartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta (Yunani: logos spermatikos). Manusia dijadikan selaras dengan dasar yang sama, dan manusia itu sendiri dikatakan memiliki “logos”, baik sebagai budi atau rasio (Yunani: logos endiathetos), maupun sebagai kemampuan berbicara (Yunani: logos proforikos). Aliran filsafat Stoa, yang berasal dari kata “Stoa Poikile”, yaitu nama suatu gang di Atena yang bertiang-tiang tinggi besar. Di situlah Zeno (335-263 sM) untuk pertama kalinya mengajarkan ajarannya yang khas itu.

    Istilah “logos” banyak sekali dipakai oleh ahli filsafat Philo (20 sM-45 M), seorang sarjana Yahudi, yang terkungkung oleh pandangan yang mempertentangkan Allah dengan dunia ini secara mutlak dan metafisik. Ia beranggapan bahwa pikiran Yunani sudah digambarkan dalam Perjanjian Lama, dan ia memakai ayat-ayat seperti Mazmur 33:6: “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya”, untuk menerangkan bagaimana Allah yang transenden  mencipta alam semesta dan menyatakan diri-Nya kepada Musa dan para leluhur Israel. Ia menyamakan “logos” dengan pikiran Plato (428-348 sM) tentang dunia ide-ide, sehingga kata ini mengartikan “rencana Allah” dan “kuasa-Nya untuk mencipta”.

    BERSAMBUNG https://wartanasrani.com/&

  • AMANAT AGUNG

    AMANAT AGUNG

    WARTANASRANI.COM – Bagian Alkitab yang terkenal paling berhubungan dengan tugas misi adalah Amanat Agung, yang merupakan kerinduan dan isi hati Allah terhadap dunia ini.Dalam Perjanjian Baru diuraikan tentang kepribadian Allah yang ingin berkomunikasi dengan manusia. Melalui Roh Kudus, Allah menggerakkan murid-murid untuk mengkomunikasikan Injil.  Pada umumnya,orang Kristen hanya mengenal satu atau dua nas Alkitab yang memuat Amanat Agung, tetapi Alkitab sendiri sebenarnya menceritakan empat bentuk ucapan Amanat Agung: Allah memunyai otoritas dalam misi sampai akhir zaman (Matius 28:18-20); Metode dan akibat misi sedunia (Markus 16:15-18); Kristus adalah dasar misi (Lukas 24:46-49; Kisah Para Rasul 1:7-8); Misi bersifat rohani (Yohanes 20:11-23).

    Amanat Agung berfokus kepada dua hal: pemberitaan Injil dan pemuridan.Misi sedunia adalah kehendak Allah, oleh karena itu setiap orang Kristen harus terlibat dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang  mulia ini. Roh Kudus yang akan memampukan gereja-Nya untuk menaati  Amanat Agung.

    Amanat Agung Menurut Matius

    Menurut Matius, Amanat Agung dimulai pada saat Allah mengutus murid-murid untuk memberitakan Injil. Dialah Tuhan atas tuaian, Ia dapat membuka dan menutup pintu bagi pekerjaan misi. Oleh karena itu, murid-murid tidak perlu takut pada kesulitan yang akan dihadapi, sebab mereka memunyai Allah yang Mahakuasa.Tugas pengikut-pengikut Tuhan Yesus: a. menjadikan semua bangsa murid-Nya, b. membaptiskan mereka, dan c. mengajar mereka. Tujuan Amanat Agung dan penginjilan adalah pemuridan supaya manusia menjadi serupa dengan Allah (2 Korintus 3:18) sehingga kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar(1 Yohanes 3:2). Menjadi murid Kristus berarti mengidentifikasikan diri sendiri secara total dengan Kristus dan memikul salib-Nya.

    Amanat Agung Menurut Markus

    Ditujukan kepada seluruh makhluk oleh karena Allah adalah Pencipta, Kristus meminta jemaat-Nya membawa keselamatan kepadaseluruh makhluk di dunia tanpa terkecuali.; Pemberitaan Injil dibuktikan dengan tanda-tanda.

    Amanat Agung Menurut Lukas

    Karena murid-murid-Nya sangat kecewa karena rencana untuk mendirikan kerajaan secara politis tidak terlaksana, maka Yesus menghibur mereka dengan sambutan: “damai sejahtera bagi kamu”. Sesudah itu Tuhan menjelaskan rencana misi kepada mereka: a. Misi berdasarkan kitab-kitab suci: Taurat Musa, nabi-nabi, dan Mazmur (Lukas 24:44). b.  Inti Injil: kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Lukas 24:22). c. Tujuan: pertobatan dan pengampunan. d.  Pemberitaan Injil bagi segala bangsa (Lukas 24:47). e. Alat yang dipakai bagi misi sedunia adalah murid-murid-Nya. f. Kuasa dan kekuatan untuk melaksanakan Amanat Agung berasal dari Roh Kudus yang sudah dijanjikan Allah Bapa (Lukas 24:49).

    Amanat Agung Menurut Yohanes

    Injil Yohanes mengingatkan kita bahwa murid-murid diutus sama seperti Bapa mengutus anak-Nya yang tunggal, yaitu Tuhan Yesus (Yohanes 20:21-23). Murid-murid harus mengidentifikasikan diri dengan Kristus, karena mereka telah diperlengkapi oleh Roh Kudus, “terimalah Roh Kudus”(Yohanes 21:22). Sering kali, hal ini menjadi  perdebatan: Kapan mereka diperlengkapi dengan Roh Kudus? Sebelum Pentakosta (Yohanes 21) atau pada hari Pentakosta ketika Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus? Dia memberikan Roh Kudus kepada  mereka secara terbatas sesuai dengan cara Perjanjian Lama, supaya mereka bisa bertahan dalam pergumulan di Yerusalem sampai hari  Pentakosta, tetapi pada hari Pentakosta mereka dipenuhi dengan Roh sah Para Rasul 2). Amanat Agung adalah pokok dalam kekristenan yang sangat penting. Hal ini terbukti dengan semua kitab Injil yang menceritakan pokok ini. Fokus Amanat Agung terletak dalam penginjilan dan pemuridan, sasarannya supaya seluruh dunia dapat mengecap keselamatan yang ada di dalam Tuhan Yesus Kristus.

    TUJUAN MISI

    Mat 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Sebelum Yesus meninggalkan dunia ini, Dia memberikan sebuah perintah terakhir yang biasa kita sebut dengan amanat agung yaitu untuk menjadikan semua bangsa muridNya.

    Yesus tidak memberikan perintah kepada kita untuk menyelamatkan manusia sebab keselamatan merupakan karya anugerah Allah bukan bagian kita. Bagian kita adalah untuk mengubah hidup orang lain atau memuridkan mereka sampai mereka sepenuhnya menyerah kepada Allah. Dan Tuhan berjanji bila kita melakukan amanatNya ini maka Dia akan menyertai kita senantiasa sampai ke akhir zaman.

    Oswald Chambers berkata “Satu kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada Allah lebih berharga daripada seratus kehidupan yang hanya dibangkitkan oleh RohNya”.John Wesley pernah berkata “Berikan kepadaku sepuluh orang yang sepenuhnya menyerahkan hidupnya kepada Tuhan maka aku akan dapat mengubah dunia”.Yang sangat menyedihkan kebanyakan gereja saat ini lebih mementingkan pertumbuhan jemaatnya secara kuantitas dibanding kualitas. Bahkan tidak sedikit yang sangat bangga bila jumlah jemaat gerejanya bertumbuh lebih cepat dibanding gereja yang lain. Bukan berarti pertumbuhan secara kuantitas tidak penting tetapi itu harus diimbangi oleh pertumbuhan secara kualitas.

    Terjunnya para rohaniawan ke dalam kancah politik sebenarnya secara tidak langsung menunjukkan kegagalan gereja dalam memuridkan jemaatnya untuk menjadi serupa dengan Kristus. Jika saja gereja menjalankan fungsinya dengan benar untuk memuridkan jemaatnya menjadi serupa dengan Kristus maka orang-orang Kristen yang memiliki panggilan untuk menjadi berkat dalam dunia politik akan dibangkitkan.

    Fungsi seorang bapa adalah untuk menggembalakan anak-anaknya dan memuridkan mereka agar mereka mengenali panggilan hidupnya, bukannya mengambil fungsi dari anak-anak mereka yang memiliki panggilan dalam dunia politik. Oleh karena itu, jangan heran kita tidak melihat para rohaniawan yang sekarang terpilih menjadi wakil rakyat dapat efektif untuk menjadi terang di sana sebab itu memang bukan panggilan hidup mereka. Lagipula bagaimana mereka bisa efektif jika mereka tidak pernah dilatih dan dididik dalam dunia itu ? Tuhan telah menaruh kerinduan di hati saya untuk melihat satu hari Indonesia akan mengalami sebuah transformasi dalam segala bidang sehingga menjadi sebuah bangsa besar yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tetapi saya percaya hal itu tidak akan pernah terjadi bila gereja tidak menjalankan perintah Kristus untuk menjadikan semua bangsa muridNya. Hanya orang orang Kristen yang memiliki kualitas seorang murid yang dapat menjadi berkat dan membawa perubahan bagi bangsa ini.

    Mat 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Sebelum Yesus meninggalkan dunia ini, Dia memberikan sebuah perintah terakhir yang biasa kita sebut dengan amanat agung yaitu untuk menjadikan semua bangsa muridNya. Yesus tidak memberikan perintah kepada kita untuk menyelamatkan manusia sebab keselamatan merupakan karya anugerah Tuhan bukan bagian kita. Bagian kita adalah untuk mengubah hidup orang lain atau memuridkan mereka sampai mereka sepenuhnya menyerah kepada Tuhan. Dan Tuhan berjanji bila kita melakukan amanatNya ini maka Dia akan menyertai kita senantiasa sampai ke akhir zaman.

    Oswald Chambers berkata “Satu kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada Tuhan lebih berharga daripada seratus kehidupan yang hanya dibangkitkan oleh RohNya”. John Wesley pernah berkata “Berikan kepadaku sepuluh orang yang sepenuhnya menyerahkan hidupnya kepada Tuhan maka aku akan dapat mengubah dunia”. Yang sangat menyedihkan kebanyakan gereja saat ini lebih mementingkan pertumbuhan jemaatnya secara kuantitas dibanding kualitas. Bahkan tidak sedikit yang sangat bangga bila jumlah jemaat gerejanya bertumbuh lebih cepat dibanding gereja yang lain. Bukan berarti pertumbuhan secara kuantitas tidak penting tetapi itu harus diimbangi oleh pertumbuhan secara kualitas.

    Terjunnya para rohaniawan ke dalam kancah politik sebenarnya secara tidak langsung menunjukkan kegagalan gereja dalam memuridkan jemaatnya untuk menjadi serupa dengan Kristus. Jika saja gereja menjalankan fungsinya dengan benar untuk memuridkan jemaatnya menjadi serupa dengan Kristus maka orang-orang Kristen yang memiliki panggilan untuk menjadi berkat dalam dunia politik akan dibangkitkan.

    Fungsi seorang bapa adalah untuk menggembalakan anak-anaknya dan memuridkan mereka agar mereka mengenali panggilan hidupnya, bukannya mengambil fungsi dari anak-anak mereka yang memiliki panggilan dalam dunia politik. Oleh karena itu, jangan heran kita tidak melihat para rohaniawan yang sekarang terpilih menjadi wakil rakyat dapat efektif untuk menjadi terang di sana sebab itu memang bukan panggilan hidup mereka.

    Yesus Masih  Memberi Amanat Agung Kepada kita semua

    Yesus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu setelah mati dikayu salib untuk menebus dosa umat manusia, pada hari ketiga Ia bangkit menemui para murid-muridNya dan orang-orang yang dikasihiNya, selama 40 hari ia bersama-sama dengan mereka, sebelum Ia terangkat ke sorga meninggalkan pesan-pesan sbb: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20)

    Saat ini 2000 tahun telah lewat, Tuhan Yesus yang telah bangkit itu masih tetap menemui kita dan memberi perintahsebagai Amanat AgungNya kepada kita semua, tidak ada pengecualian dan Ia masih tetap sama dan berkata dengan kalimat yg sama Kepada kita orang-orang yang mengasihiNya : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu. “Sungguh kita sangat-sangat dihargai oleh Tuhan Yesus, kita mendapat kepercayaanNya sebagai orang percaya disuruh pergi keluar, jangan diam saja! Karena kita dianggap teman seperjuanganNya, murid-muridNya untuk menjadikan semua bangsa muridNya.

    Yesus yang telah mempercayai kita semua untuk melakukan tugas itu. Apakah kita telah menghayati perintah tersebut? atau cuwek dan masa bodoh, itukan tugas orang-orang yang terpanggil? Sayakan tidak dipanggil Tuhan untuk itu, yang penting saya sudah percaya pada Tuhan Yesus.  Dia telah menganggap kita sebagai murid dan teman seperjuangan, oleh sebab itu Dia memberi tugas pada kita semua orang percaya : “Pergilah. Jadikanlah semua bangsa muridKu, baptislah dan ajarlahmereka..”Perintah ini bukan untuk pendeta, romo, penginjil tetapi untuk kita semua orang-orang yang sudah diselamatkan. Tuhan berkata : “Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”

  • Dr. Fotinus Gulo, M.Th: MENGAKHIRI POLEMIK BOLEHKAH ORANG KRISTEN BERCERAI

    Dr. Fotinus Gulo, M.Th: MENGAKHIRI POLEMIK BOLEHKAH ORANG KRISTEN BERCERAI

    WARTANASRANI.COM – Pada masa sekarang ini banyak yang melakukan pernikahan tanpa memahami substnasi pernikahan itu. Pernikahan Kristen merupakan masalah yang sangat serius dihadapi oleh kekristenan saat ini, karena pada faktanya dalam kehidupan pernikahan seringkali terjadi perselingkuhan, KDRT, perceraian dan pelbagai masalah yang menghancurkan keluarga yang sudah disatukan di dalam Tuhan Yesus Kristus.(Nianda, 2021) Pernikahan yang terjadi berdasarkan perjodohan yang tidak sempurna sehingga terjadi perceraian, Juga akibat pergaulan bebas sehingga terjadinya kehamilan bagi perempuan sehingga dinikahkan. Faktor ekonomi dari keluarga miskin harus cari suami kaya walaupun ketidakcocokan sifat yang penting harta yang di kejar ada juga yang orang tua gila tidak mau harta nya di ambil orang lain sehingga menjodohkan anak sesama bangsawan tapi setelah menikah anak yang tidak cocok dengan pasangannya sehingga terjadilah perceraian.

    Dari sisi HAM, bahwa melakukan perceraian itu boleh dilakukan. Dari sisi yuridis, diatur tata cara perceraian sehingga membuka kesempatan bagi pasangan untuk menempuh jaluir hukum. Status pernikahan diatur dan dilindungi oleh undang-undang sehingga pihak yang melaporkan gugatan perceraian dapat diproses sesuai prosedur sampai sidang perceraian. Gerakan feminisme atau emansipasi wanita menjadi trend yang menuntuk persamaan hak  antara laki-laki  dan  perempuan  dalam  segala  bidang. Gerakan feminisme telah mempengaruhi perspektif terhadap kompetensi seorang wanita di zaman modern. Banyak wanita yang memiliki kemampuan akademis sehingga memungkinkan mereka untuk tampil. Wanita diera modernisme mampu berada dalam kesetaraan gender  secara  struktural  dan fungsional. Konpetensi wanita dalam  masyarakat  post-modernisme  telah  membawa  wanita  mendobrak budaya-budaya  konservatif yang selama   ini didominasi  pria.(Erik Ardiyanto, 2021) Salah satu untuk menghindari kegagalan dalam membina rumah tangga wanita memutuskan menjadi wanita karir sekaligus single parent. Di level  biologis, kebahagian   ditentukan   oleh   biokimia,   bukan situasi ekomoni, sosial, dan politik (Erik Ardiyanto, 2021)Post–Feminisme menjadi terminologi popular  dalam  wacana -wacana  era pascamodern  (post-modern). Sebagai  satu  varian ideologipost-modernisme,   mengusung  ide-ide yang   ada   dalam   wacana   post -modern. Gerakan post-feminis adalah perkawinan antara gerakan kesadaran gender yang dibingkai   dengan   prespektif post-modernisme.(Erik Ardiyanto, 2021) Nuansa  liberalisme  Barat  lebih  mendominasi trend  dan  pola  gerakan  emansipasi  perempuan  kontemporer. Aktifis  gerakan  feminisme  di  kalangan Muslim tetap  mempertahankan dogmatika agama Islam dan bersikap selektif terhadap gagasan – gagasan feminisme  dari  Barat. (Zainal Abidin, 2011) Sinergisitas pengadilan negara dengan gereja dalam urusan perceraian  perkawinan dibutuhkan karena berkaitan dengan hukum  negara yang menghargai   otonomi   hukum   agama namun sekaligus menghormati hak-hak warga Negara (Yohanes Servatius Lon, 2020) Dengan demikian, menyikapi problematia kontemporer maka sebaiknya orang Kristen tidak perlu bercerai. Sekalipun potensi terjadi perzinahan yang dilaukan salah satu pasangan suami istri yang sah, tidak boleh cerai. Perzinahan atau perselingkuhan, tetap dosa dan itu dilarang Allah.

    Alkitab Tidak Membenarkan Perceraian.

    Landasan teks  Alkitab yang sering diajukan yaitu Injil Matius 19:6 bahwa apa yang dipersatukan Oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Dalam narasi Perjanjian lama yang terdapat dalam Ulangan 24 : 1-5  terkait perceraian di kalangan orang Yahudi. Iman Kristen mengajarkan untuk orang yang sudah menikah tidak boleh bercerai. Bahwa “Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”. Dalam kitab Efesus jelas menguraikan tentang bagaimana hubungan suami istri dalam ikatan perkawinan untuk menjalin hubungan yang tidak terpisahkan antara hubungan manusia dengan Tuhan. Karena perkawinan dipandang sebagai persekutuan yang sakral atau suci sebagai ketetapan Allah sebagaimana firman Tuhan dalam kitab kejadian bahwa Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan untuk bersatu menjadi satu daging. Dalam pengkhotbah pasal 3 menyatakan bahwa “Tidak baik manusia itu hidup seorang diri karena kalau mereka jatuh yang seorang mengangkat temannya dalam arti kata bahwa berdua lebih baik daripada seorang diri” itulah perkawinan menurut iman Kristen. Pernikahan itu merupakan institusi yang suci, yang didirikan oleh Allah sendiri di taman Eden. Tuhan mengatakan: ”Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9). Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan harus berlangsung terus selama suami dan istri masih hidup. Namun karena terlalu banyak kasus perceraian yang terjadi dalam masyarakat, maka Taurat Musa mengizinkan perceraian dengan suatu syarat, bahwa suami yang menceraikan istrinya harus menulis surat cerai, dan menyerahkan kepada istrinya.Sang istri yang diceraikan diperbolehkan menikah lagi (Ula 24:1-4), sehingga perceraian dengan menulis surat cerai adalah suatu perlindungan bagi para istri yang menjadi korban pernikahan yang tidak bertanggung jawab. Sekali lagi Tuhan Yesus menegaskan: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak mula tidaklah demikian” (Matius 19:8). Pada awal mula pola pernikahan yang Tuhan berikan, tidak ada istilah ”perceraian”.Allah tidak merencanakan perceraian di dalam satu keluarga. Sejak Allah menciptakan manusia yaitu Adam dan hawa. Allah mengharapkan selalu bahagia dan damai sejahtera. Mengusahakan dan memelihara apa yang sudah Allah berikan kepada mereka dan juga di dalam kejadian 1 : 28 Allah berfirman kepada mereka untuk beranak cucu dan bertambah banyak. Allah selalu ada bersama dengan keluarga. Sejak berlakunya undang undang nomor 1 Tahun 1974, perkawinan yang sah yang berlaku adalah menurut undang undang ini, namun hal penting yang perlu diketahui dari berbagai pandangan sahnya perkawinan menurut pandangan, unsur agama merupakan hal yang utama dalam sahnya perkawinan.

    Gereja akan bertumbuh baik dalam hal kuantitatif, kualitatif maupun organik jika keluarga menjalankan apa yang Allah firmankan, tidak ada perceraian. Karena apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Pernikahan itu merupakan institusi yang suci, yang didirikan oleh Allah sendiri di taman Eden. Tuhan mengatakan: ”Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9). Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan harus berlangsung terus selama suami dan istri masih hidup. Dengan demikian, orang Kristen seharusnya tidak bercerai. Alkitab tidak membenarkan perceraian. Intinya Tuhan tidak pernah salah memberi tapi manusialah yang tidak tau cara menerima pemberian Tuhan. Dan biasanya perceraian terjadi karena salah satu atau kedua pihak tidak bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga terjadinya pertentangan dalam sebuah hubungan suami istri yang pada akhirnya berujung perceraian. Namun jika suatu hubungan didasari oleh firman Tuhan, tentu saja pasangan itu akan menjadi pasangan baik dan harmonis karena mereka memperlakukan pasangannya menurut ajaran firman Tuhan. Dengan demikian, orang Kristen seharusnya tidak bercerai. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ditekankan bahwa Allah sangat membenci perceraian. Perhatikan  Maleakhi  2:14-16, terutama dalam ayat 16 yang berkata, “ Sebab  Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel…”  Tuhan Yesus sendiri juga mengatakan hal yang sama, Dia melarang adanya perceraian, “Karena  itu,  apa  yang  sudah  dipersatukan  Allah, tidak boleh diceraikan manusia ” (Mat. 19:6; Mrk. 10:9). Sayangnya,  idealisme  semacam  ini  kerap  harus  berhadapan  dengan sebuah kenyataan yang berbicara lain.  Ada seribu satu alasan yang memaksa pasangan suami-istri akhirnya sampai pada  sebuah kesimpulan  tragis  bahwa perkawinan yang  mereka  perjuangkan  ternyata tidak berjalan sebagaimana diimpikan sebelumnya.  Isu  perselingkuhan  kerap  dijadikan  alasan  yang cukup kuat bagi pasangan Kristen untuk mengakhiri hubungan perkawinan mereka. Salah memberikan  interpretasi  terhadap ayat firman  Tuhan  juga  menjadi  alasan  untuk melegalkan   perceraian.   Misalnya   saja   dalam   Ulangan   24:1-5   dicatat   mengenai   hukum perceraian.  Hukum ini  dijadikan dasar bagi mereka  yang mendukung perceraian.

    Orang-orang Farisi  mengutip  hukum  ini  dengan  berkata,  “Jika   demikian,   apakah   sebabnya   Musa memerintahkan memberikansurat cerai jika orang menceraikan istrinya?” (Mat. 19:7).  Praktik poligami  yang  dilakukan  para  tokoh Perjanjian  Lamajuga  menjadi acuan  bagi  mereka  yang mendukung perceraian.pernyataan  Tuhan  Yesus  dalam  Matius  19:9, “…Barangsiapa  menceraikan istri nya, kecuali  karena  zinah,  lalu  kawin  dengan  perempuan  lain,  ia  berbuat  zinah .”  Pernyataan ini sering  disalahtafsirkan,  menurut  mereka yang  mendukung  perceraian bahwa  Yesus  memberi pengecualian  terhadap  perceraian,  yaitu  jika  ada  perzinahan  dari  salah  satu  pasangannya.    Ayat ini seperti memberi celah adanya perceraian dalam perkawinan Kristen. Bagian  ayat  lain  yang  sering  menjadi  acuan  bagi  mereka  yang  mendukung  kasus perceraian  adalah  1  Korintus  7 :11,15.  Perhatikan ayat 11, “Dan  jikalau  ia  bercerai,  ia  harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya…”  Lalu ayat 15, “ Tetapi kalau orang yang  tidak  beriman  itu  mau  bercerai,  biarlah  ia  bercerai…”    Perkataan  Rasul  Paulus  memberikan multi  tafsir  dan  tidak  sedikit  yang  salah  dalam  memberi  tanggapan.    Bagi  mereka yang  mendukung  perceraian,  ayat  ini digunakan  sebagai  landasan .

    Dalam  bagian  ini Rasul Paulus  mengijinkan Perceraian yaitu  apabila Perkawinan itu  terjadi  dengan  orang  yang  tidak percaya.  Secara umum kita mendapatkan jawaban tidak boleh. Tentunya jawaban itu didasari oleh landasan Alkitab yang kuat. Alasan klasik bahwa orang kristen pada dasarnya dipersatukan oleh Allah dalam ikatan pernikahan kudus merupakan hal yang sakral. Dalam pengajaran yang diterima dalam gereja. Orang kristen tidak diperkenankan bercerai selain Allah yang menceraikan kecuali dipisahkan oleh maut.

     

    Polemik Perspektif Matius 19:4-6

    Matius 19: 9 “Tetapi aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia pajak zinah.Tetapi apakah kita tahu apa tafsiran “kecuali karena zinah” di dalam Alkitab? Banyak orang keliru akan apa kata Tuhan Yesus tentang “kecuali karena zinah”. Banyak orang beranggapan bahwa yang termasuk dalam kasus karena zinah itu terjadi pada perselingkuhan, atau memadu cinta yang bukan istrinya yang sah atau suaminya yang sah. Tuhan Yesus sangat jelas sekali menekankan bahwa apa yang sudah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia (Markus 10:9). Perceraian tidak pernah menjadi keinginan Allah, dan selalu merupakan hasil dari dosa. Manusia tidak mempunyai wewenang atau hak untuk dapat menggagalkan perjanjian pernikahan antara Tuhan dan pasangan. Oleh karena itu pemahaman awal mengenai pernikahan yang sesuai dengan kehendak Allah perlu dipahami secara mendalam oleh masing-masing pasangan.Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?  Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.  Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”Dari ayat ini sangat jelas bahwa Tuhan menjadikan manusia itu berpasangan.

    Pernikahan dilandaskan oleh cinta dan kasih. Kasih itu menutupi banyak sekali kesalahan. Kasih itu sanggup mengampuni, kasih itu murni. Cinta itu melayani, cinta itu rela berkorban. Dan saat kedua pasangan mengucapkan janji dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh pendeta dan jemaat, janji itu sakral dan dicatat oleh malaikat Tuhan di sorga. Tidak ada perkara yang tidak bisa diselesaikan dengan baik. Legalitas membolehkan perceraian juga sering diajukan dengan dasar Frasa  “kecuali  karena  zina”  bukanlah  sebuah  alasan  untuk membenarkan  perceraian.  Bahkan  sekalipun  telah  terjadi  perzinaan,  perceraian  tetap  tidak  diperbolehkan. Karena prinsip ajaran Yesus adalah kasih dan pengampunan. Jadi orang  Kristen tida boleh menceraikan pasangannya(Adi Putra, 2020) Yesus mengatakan bisa bercerai namun hanya dengan satu syarat yaitu salah satunya melakukan zinah. Selain itu, jika tetap melakukan perceraian dan kemudian ia menikah lagi, maka ia akan dianggap berzinah. Jadi jelas sekali bahwa Alkitab tidak membenarkan perceraian. Karena jodoh yang telah disediakan Tuhan adalah orang yang tepat, tinggal bagaimana cara kita saling melengkapi agar terjalin hubungan yang harmonis karena saya yakin, Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Walaupun pada awalnya kita sering merasa bahwa Tuhan salah memberi jodoh karena orang ini sangat tidak cocok dengan kita namun dibalik itu, ada rencana yang indah dari Tuhan tinggal bagaimana cara kita menerima nya dan berusaha menjadikan semuanya baik dan lebih baik lagi. Intinya Tuhan tidak pernah salah memberi tapi manusialah yang tidak tahu cara menerima pemberian Tuhan.

    Dan biasanya perceraian terjadi karena salah satu atau kedua pihak tidak bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga terjadinya pertentangan dalam sebuah hubungan suami istri yang pada akhirnya berujung perceraian. Namun jika suatu hubungan didasari oleh firman Tuhan, tentu saja pasangan itu akan menjadi pasangan baik dan harmonis karena mereka memperlakukan pasangannya menurut ajaran firman Tuhan. Oleh sebab itu sebelum menuju ke jenjang pernikahan hendaklah calon suami istri saling mencintai satu sama lain tidak ada yang nama nya keterpaksaan sehingga mereka bisa memaknai pernikahan yang sesungguhnya dari Tuhan itu seperti apa dan mereka harus bersumpah dan mengikat janji satu sama lain bahan setelah mereka menikah mereka bukan lagi 2 melainkan sudah menjadi satu yang dipersatukan oleh Tuhan sendiri sehingga tidak ada setitik pun keinginan manusia untuk memisahkannya selain maut yang memisahkan mereka berdua.

    Opini Boleh Dalam Konteks Ulangan 24

    Jika terjadi perzinahan, sehingga pernikahan mereka tidak dapat diteruskan lagi, maka perceraian diperbolehkan setelah mereka berusaha untuk memperbaiki pernikahan tetapi gagal. Tetapi setelah perceraian terjadi tidak seharusnya menikah lagi, kecuali pihak yang lain sudah menikah terlebih dahulu. Dan tentunya ia harus menikah dengan orang yang beriman dalam Tuhan Yesus, supaya tragedi rumah tangga tidak terulang lagi. Ayat yang dijadikan landasan boleh terdapat dalam Ulangan 24:1-4) menjelaskan bahwa diizinkan untuk melakukan perceraian ketika ada sesuatu yang terjadi perbuatan yang tidak senonoh, Tetapi harus membuat surat perceraian dan setelah istrinya pergi ataupun bercerai lelaki tersebut tidak boleh untuk mengambilnya yang telah diceraikan kembali ketika istri nya telah menjadi milik laki-laki lain. (mat 19:9) karena perzinahan orang dapat menceraikan istrinya atau pun sebalik nya jika ada salah satu yang telah melakukan dosa dengan sebutan zinah.

    Landasan memperbolehan orang kristen dapat melakukan perceraian jika ada suatu perbuatan yang tidak senonoh terjadi di keluarga orang kristen. (Mal 2:11-16) dikatakan bahwa Tuhan membenci sebuah perceraian atau penghianatan seorang kepada orang yang di nikahinya. Asumsi bahwa orang kristen diizinkan melakukan perceraian berdasarkan teks Ulangan 24 tidak secara otomatis berlaku dalam konteks perjanjian baru, Pada intinya bahwa Tuhan mengizinkan perceraian tetapi sesungguhnya Tuhan sangat membenci perceraian.

    Tuhan Tidak Merancang Perceraian.

    Definisi perceraian atau divorce merupakan suatu peristiwa perpisahan secara resmi antara pasangan suami-istri dan mereka berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri. Mereka tidak lagi hidup dan tinggal serumah bersama, karena tidak ada ikatan yang resmi.(Agoes Dariyo, 2004) Apapun pandangan mengenai perceraian, adalah penting untuk mengingat kata-kata Alkitab dalam Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” Menurut Alkitab, kehendak Allah adalah pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).  Yesus mengatakan bahwa Allah “mengijinkan” perceraian tetapi tidak pernah memerintahkan perceraian, dan  menurut Kristus perceraian itu “diijinkan” bukan diperintahkan, hal ini terjadi karena  “ketegaran hati” manusia (Matius 19:8). Kata Yunani “ketegaran hati”  adalah “sklerokardia” yang lebih tepat diterjemahkan dengan “kekerasan hati” (Matius 19:8; Markus 10:5). Jika   pada   akhirnya   pasangan   suami-istri   memutuskan   untuk   bercerai. Berdasarkan   uraian   dalam   1   Korintus   7:8 -9   dan   27-28,   perkawinan   kembali   diberikan kelonggaran, namun sesungguhnya bukanlah sesuatu yang diperbolehkan.(Iksantoro, 2020)

    Dosa telah membuat hati manusia menjadi keras. Kekerasan hati manusia mengakibatkan manusia sulit mengampuni, menganggap diri benar, meremehkan firman Tuhan, menutup diri terhadap koreksi, menolak untuk berubah,  menyebabkan hubungan suami isteri rusak, dan keluarga berantakan, bahkan perceraian. Jadi perceraian adalah konsensi ilahi bukan konstitusi ilahi; merupakan kelonggaran bukan norma atau standar Allah. Dengan kata lain, perceraian bukanlah yang ideal atau yang terbaik bagi pernikahan (Powers, 2011)

    Dampak Dari Perceraian

    Salah satu akibat perceraian yaitu perilaku perilaku menyimpang siswa.  Keadaan orang  tua  yang  bercerai  menyebabkan kurangnya,  kasih  sayang  dan  perhatian orang tua terhadap anknya (Frieska Putrima Tadung, 2021) Fenomena perceraian tidak disebabkan oleh faktor tunggal, tetapi adanya faktor lain yang dominan antara lain 1. Perzinahan yang terjadi antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak terikat hukum perkawinan. 2. Masalah Anak Anak penting dalam sebuah perkawinan karena sebagai penerus keturunan dan nama keluarga. Upaya gigih untuk mendapatkan anak ini terus dilakukan adalah karena laki-laki yang tidak mempunyai keturunan dipandang mendapatkan sial. 3. Masalah Ekonomi Masalah ekonomi sebagai salah satu faktor yang dapat memicu keributan dalam keluarga dan yang bisa menyebabkan perceraian. 4. Keributan berkepanjangan Keributan juga bisa terjadi karena campur tangan keluarga dalam rumah tangga baru, si isteri menjadi kurang berperan atau perannya kabur karena diambil alih atau diintervensi oleh mertua dan para ipar. Hal tersebut dapat dijadikan alasan bagi isteri untuk meminta cerai.(Nope et al., 2020) Masalah ekonomi berpengaruh dalam keluarga banyak terjadi perceraian karena diakibatkan dari kelemahan seorang laki-laki yang tidak bisa menghidupi keluarganya.

    Selanjutnya masalah etis suami berganti-ganti pasangan  dengan wanita lain dan tidak bisa menyekolakan anak-anaknya.dan juga seorang wanita yang tidak bisa menggatur ekonomi dalam keluarga  dengan baik sehingga sering muncul pemikiran untuk bercerai.   Masalah komunikasi antara suami dan isteri juga menimbulkan masalah yang merujuk pada perceraian. Sesuatu hal yang sampai saat ini diyakini sebagai penyebab utama konflik atau masalah adalah komunikasi yang buruk. Hal ini tampak berupa verbalisasi yang tidak jelas, cara bicara yang menyakitkan, penggunaan kata-kata yang kurang baik, ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, nada suara yang merendahkan atau melecehkan pihak lain, dan sebagainya.(Bachtiar, 2004) Kehilangan konsekuensi menikah berakibat “pengkhianatan” dalam rumah tangga. Sedangan Intimidasi dan tindak kekerasan dapat mematikan keharmonisan dalam rumah tangga. Perceraian akan sangat menyakitkan yang menimbulkan luka batin yang sulit untuk dimaafkan  dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakannya dan bagi orang yang melakukan perceraian itupun akan mengalami rasa bersalah dan tertuduh sehingga tidak akan  tenang dalam hidupnya.

    Sikap Ambigu Gereja

    Disisi tertentu, perkawinan berpotensi mengalami kegagalan sehingga dapat terjadi perceraian. Dari waktu ke waktu gereja kristen masih menganggap perceraian sebagai suatu kegagalan memahami terkait pernikahan yang sacral. setiap gembala  sidang di gereja  lokal  hendaknya melaksanakan konseling    pranikah sebelum  anggota gerejanya melaksanakan pernikahan. Terapat data bahwa  54,5%   gembala-gembala  melaksanakan konseling pranikah, dan 63  ,6%  mengatakan  bahwa  tidak  ada kasus perceraian   di gereja   yang  mereka pimpin(Yuliono Evendi, 2021) Tetapi harus diakui bahwa asumsi yang bervariasi mendorong pasangann untuk melakuan perceraian sekalipun secara teologis dan dogmatis tidak diizinkan. Hadi berpendapat bahwa Jika kenyataan perceraian telah kita hadapi, maka gereja pun harus siap untuk menghadapi kawin kedua. Tetapi gereja harus bersikap ekstra hati-hati dalam menghadapi kasus-kasus semacam ini. Jangan main tolak atau asal diterima dan diberkati. Itulah sebabnya maka jika perceraian dan perkawinan kedua terjadi, pelayanan berkelanjutan dari gereja untuk membina iman dan kerohanian orang-orang dengan status baru tersebut harus terus diberikan(Hadi P. Sahardjo, 2011) Ricu berpendapat bahwa gereja  terpanggil  untuk membawa  suara  kebenaran.  Kebenaran  yang  didapat  dari  Firman  Tuhan/Injil/Alkitab.

    Gereja tidak boleh kompromi dengan perceraian. Gereja harus mendewasakan warganya agar memiliki  pandangan  yang  benar  terhadap  sebuah  ikatan  pernikahan/perkawinan.  Sebab perkawinan/pernikahan  bukan  hanya  sekedar  ikatan  antara  pria  dan  wanita,  tetapi  juga melambangkan  hubungan  Kristus  dan  jemaatNya. Gereja  harus  memiliki  pola  pembinaan pranikah  dan  juga  penanganan-penanganan  terhadap  masalah-masalah  yang  timbul  dalam pernikahan/perkawinan.(Ricu Sele, 2021) Di zaman modern ini kita semakin sering mendengar perceraian dalam rumah tangga yang diakibatkan salah satunya adalah ketidakcocokan suami istri,dimana tragisnya,yang menderita justru anak anak hasil pernikahan tersebut. Pernikahan itu merupakan institusi yang suci. pernikahan harus berlangsung terus selama suami dan istri masih hidup. Perkawinan kristiani bukan hanya merupakan tanda hubungan antara Kristus dan Gereja- Nya, melainkan kehidupan bersama dalam perkawinan ikut ambil bagian dalam misteri agung dari kasih Kristus yang tak terputuskan dengan Gereja-Nya. Relasi cinta kasih antara Kristus dengan Gereja-Nya kini hadir dan terpantul dalam cinta kasih suami-isteri dalam perkawinan. Pernikahan itu adalah Anugerah Allah yang tidak ternilai harganya. Tuhanlahyang menetapkan lembaga keluarga. Oleh sebab itu, peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan merupakan persekutuan hidup yang tidak bisa dibatalkan oleh manusia dan dilakukan bukan sebagai proses uji coba.

    Relasi Pernikahan Harus Dikuatkan

    Perkawinan adalah persekutuan hidup badani dan Rohani Antara seorang laki-laki dan perempuan,sebagai suami istri yang diikat oleh kasih Allah yang telah menjadikan manusia itu laki-laki dan perempuan serta menjodohkan dan memberkati mereka untuk membentuk keluarga yang bertanggung Jawab kepada Tuhan, sehingga mereka bukan lagi dua orang tetapi menjadi sedaging adanya. Berdasarkan hal ini, maka apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Hanya kematian yang dapat menceraikan kedua suami istri. Pernikahan dapat dikatakan sebagai ikatan suami istri untuk membentuk keluarga yang sejahtera, harmonis, mulia dan sebagainya, namun dalam kenyataannya tidak semua pasangan dapat merasakan harapan ini. Di tengah-tengah peningkatan angka perceraian suami dan istri di Indonesia.  Anak menjadi potensi terbesar untuk mendapatkan dampak negative dalam kasus perceraian, jika tidak ditangani sesuai konteks(Valentino Reykliv Mokalu, 2021)

    Pernikahan di satukan dalam ikatan pernikahan Kudus buka hanya bermain-main. Kita disatukan dalam pernikahan Kudus bukan hanya bersumpah di depan pendeta atau sanak saudara untuk hidup saling mengasihi pasangan kita, namun kita bersumpah dan mengucapkan janji Kepada Tuhan Yesus. Perceraian tentu bukan rencana akhir dari suatu pernikahan. Setiap pasangan yang menikah menginginkan pernikahan yang bisa berlangsung langgeng tanpa memikirkan adanya kegagalan dalam pernikahan yang beruujung pada perceraian(Maria Hutauruk, 2020) Perceraian  dapat  terjadi  apabila  keluarga  Kristen  tidak memahami  dan menghidupi spritualitas dalam pernikahannya (Alon Mandimpu Nainggolan;Tirai Niscaya Harefa, 2020) Karena dalam firman kita diajarkan untuk hidup bersama dan beranak cucu dan tidak boleh diceraikan oleh manusia melainkan dipisahkan oleh maut. Tuhan selalu mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama manusia,tetapi ketika dalam konteks perceraian dalam hubungan suami istri bagi saya sah-sah saja  kalau memang dalam hubungan suami istri itu ada masalah yang besar dan menyangkut tentang keyakinan kita kepada Tuhan,

    KESIMPULAN

    Pernikahan itu merupakan penyerahan diri, tubuh dan jiwa kepada Tuhan dan kepada pasangannya. Pernikahan mempunyai dasar yang teguh yang didasarkan dari ungkapan Yesus Kristus “Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”  Pernikahan Kristen diikat atas suatu perjanjian yang murni dihadapan Allah, bukan di ikat oleh perasaan manusia. Dalam konteks telogi kristen perceraian tidak diizinkan. Namun jika perceraian dilakukan maka hal itu bukan didasarkan pada landasan teologi kristen melainkan faktor humanity, HAM. Dengan demikian bahwa perceraian tidak dilegalkan dalam pernikahan kristen. Orang kristen tidak boleh melakuan perceraian dan harus mempertahanan status perkawinan sampai maksimal. Kondisi terjelek dalam perkawinan harus ditanggung sebagai konsekwensi monogami. Orang Kristen tidak boleh berinisiatif untuk menceraikan pasanganya.

    Penulis : Dr. Fotinus Gulo, M.Th (Dosen STT Bethesda Bekasi)

  • SEKUM PGI: SABAM SIRAIT SEORANG POLITISI SENIOR YANG KONSISTEN MEMPERJUANGKAN DEMOKRASI

    SEKUM PGI: SABAM SIRAIT SEORANG POLITISI SENIOR YANG KONSISTEN MEMPERJUANGKAN DEMOKRASI

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Tampil sebagai pembicara terakhir, Sekretaris Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty menegaskan Sabam Sirait sebagai tokoh yang fenomenal. Tak ragu, Sekum PGI menyatakan bahwa percakapan tentang Pak Sabam tidak akan habis-habisnya.

    “Kami di PGI sudah membicarakan tokoh ini. Menarik, ia seolah sumur yang ditimba yang tidak habis-habis,” terangnya dalam Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Kamis (28/42022).

    Secara gamblang, Jacky memaparkan tiga poin terkait ketokohan Sabam Sirait. Menurutnya, pertama, Sabam memberi arah dalam pergulatan nasionalisme dan memiliki jelajah pemikiran luar baisa.

    “Pertama, Sabam Sirait memberi arah dalam pergulatan nasionalisme. Jelajah pemikirannya sangat luar biasa. Belajar dari TB Simatupang, Amir Syarufuddin, JJ Russo. Dia sosok ideologis, melintasi banyak batas selama 60 tahun berkiprah. Seorang politisi senior yang konsisten memperjuangkan demokrasi,” ujarnya.

    Selanjutnya, Sabam merupakan sosok yang memiliki hubungan lintas batas dan komunikasi yang luar biasa yang tidak tersekat oleh batas agama dan etnis.

    “Kedua, sosoknya berhubungan secara lintas batas. Kemampuan komunikasi yang luar biasa. Tidak terbatas oleh sekat agama dan etnis. Pak Sabam menembusi sekat-sekat perbedaan dan ini menjadi catatan mahal karena sekarang ada politisasi agama dan politik identitas, kadang mendorong kekristenan membangun pertahanan sendiri,” ungkapnya.

    “Tanpa disadari itu justru menutup ruang. Titik temu sebagai seorang nasionalis, Sabam Sirait meletakkan dasar itu. Persahabatan lintas batas kelompok,” ungkapnya lagi singkat.

    Pada bagian ketiga, Jacky menyatakan tentang sosok Sabam Sirait sebagai tokoh yang memberikan arah kosmopolitan serta tokoh yang menjadi level mancanegara.

    “Berikutnya, ketiga, Ia tokoh yang memberikan arah kosmopolitan. Dia tokoh menjadi level mancanegara. Sangat mendukung Palestina, menolak berkunjung ke Israel. Juga, terang-terangan membela perjuangan Irak atas invansi Amerika,” terangnya.

    “Sabam Sirait berpolitik dengan bersahaja, mengusahakan untuk kemaslahatan semua orang. Kami (PGI) sangat layak memperjuangkannya, kita membutuhkan kepahlawanan wajib diperjuangkan,” pungkasnya.

    Selain Sekretaris Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, Diskusi Publik yang mengambil tema: Sabam Sirait Politisi Negarawan di Mata Tokoh Lintas Agama, menghadirkan pemateri Lintas Tokoh Agama, antara lain: Dr. R.E. Nainggolan (Ketua Pengusul Sabam Sirait Pahlawan Nasional), Romo Benny Susetyo (Tokoh Katolik), Mayjen Purn. TNI (Purn) Wisnu  Bawa Tenaya (Ketua Umum Pengurus PHDI), Pdt. Jacklevyn F. Manuputty (Sekretaris Umum PGI),  Banthe Dammasubho Mahatera (Tokoh Budha) dan Ishag Zubaedi Raqib (Ketua LKN Infokom dan Publikasi PB NU).

    Sementara itu, tampil sebagai pengantar diskusi, Ketua Panitia Pengusul Sabam Sirait Pahlawan Nasional, Dr. R. E. Nainggolan memaparkan bahwa sejak awal pihaknya lebih dulu mempelajari segala aturan perundangan-undangan terkait syarat pahlawan nasional.

    “Setelah mempelajari aturan, maka kami yakin segala kiprah dan pengabdian Sabam Sirait layak menjadi Pahlawan Nasional. Sesuai ketentuan Menteri Sosial maka sudah diselenggarakan Seminar Nasional di Medan dan seminar lokal lainnya di Sumut. Kemudian juga diselenggarakan di Jakarta,” jelas mantan Bupati Tapanuli Utara.

  • UJIAN KESETIAAN

    UJIAN KESETIAAN

    WARTANASRANI.COM – Kita pasti sepakat, ketidaksetiaan adalah jawaban dari berbagai kasus perselisihan dan perpecahan yang terjadi dalam keluarga dan gereja. Itulah sebabnya, kesetiaan menjadi sifat yang paling esensi dalam kehidupan kekristenan. Alkitab menyatakan bahwa sifat yang paling diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya (Amsal 19:22).

    Tak hanya itu, Tuhan pun menginginkan umat-Nya untuk selalu setia, tidak hanya dalam hubungan dengan sesama tetapi juga dengan Tuhan. “Hendaklah engkau setia sampai mati” (Wahyu 2:10b), “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu. Maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia” (Amsal 3:3-4).

    Kesetiaan juga menjadi penentu bagi seseorang untuk menikmati kehidupan yang penuh berkat. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab yang besar..” (Matius 25:23). Betapa bahagianya bila Tuhan mendapati kita sebagai umat-Nya yang setia.

    Tidak dapat disangkal dan harus kita akui bahwa menemukan orang yang setia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sulitnya menemukan orang yang setia ditegaskan Salomo dalam kitab Amsal. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).

    Mengapa sulit menemukan orang yang setia? Bila merenungkan Firman Tuhan dalam  Matius 25:14-30, maka kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan diatas. Kesetiaan menjadi barang langka karena kegagalan umat Tuhan dalam ujian kesetiaan.

    Ada tiga ujian kesetiaan. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, sebagai umat-Nya kesetiaan kita akan di uji oleh;

    Pertama: Tugas dan tanggung jawab (Matius 25:15). Ayat ini menunjukkan bahwa setiap umat Tuhan diserahi tugas dan tanggung jawab sesuai kesanggupannya. Ada empat hal yang membuat umat Tuhan seing gagal dalam ujian yang pertama ini, yaitu; menyalahgunakan tugas dan tanggung jawab, tidak maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, tidak menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan, serta tidak mengerjakan apa-apa.

    Menang dari ujian pertama ini berarti kita harus menjalankan tugas dengan penuh integritas, maksimal dan sampai selesai seperti kata Rasul Paulus pada Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik…” (2 TImotius 4:7).

    Kedua: Masalah/Tantangan (Matius 25: 6-18). Masalah atau tantangan tidak dapat dihindari dalam perjalanan kehidupan sebagai umat Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa kita dipanggil bukan saja untuk percaya, tetapi juga untuk menderita. Hamba yang memiliki satu talenta gagal dalam ujian ini karena takut gagal. Ia takut menghadapi masalah saat menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ia menimbun talent aitu dalam tanah. Sementara yang lain berani menghadapi masalah sehingga menghasilkan laba 100%.

    Masalah bisa datang dari dalam diri kita sendiri, orang terdekat, orang lain bahkan dari Iblis. Harus kita ingat! Masalah adalah ujian kedua dari kesetiaan. Memang butuh keberanian dan Tuhan sudah mengaruniakan kepada kita umat-Nya. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekutatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7). Kita tidak bisa lari, menghadapi dengan kekuatan Tuhan Yesus yang Bersama umat-Nya akan membawa kita tampil sebagai pemenang dalam ujian kedua ini.

    Ketiga: Waktu (Matius 25:15). Penyeban kegagalan melewati ujian ketiga ini adalah “Ketidaksabaran”. Alkitab menyatakan bahwa Saul ditolak menjadi raja Israel hanya karena ketidaksasbarannya menunggu Samuel datang untuk mempersembahkan korban bakaran. Saul melaksanakan tugas imam yang bukan tugasnya.

    Kecenderungan manusia untuk cepat menyelesaikan sesuatu, cepat jadi, cepat sampai, cepat mendapatkan sesuatu atau instan, membuat kita tidak sabar menunggu waktunya Tuhan. Dan akhirnya mengambiil jalan pintas dengan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ketidaksabaran membuat gagal dari ujian ketiga ini. Padahal dalam kesabaran terdapat tiga unsur yang sangat menentukan kehidupan rohani, yaitu: orang yang sabar pasti memiliki pengendalian diri, pengampunan dan pengharapan.

    Akhirnya, jadilah umat yang setia sesuai kerinduan Tuhan kita Yesus Kristus. Kerjakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, tetap siap sedia dan berani menghadapi tantangan Bersama pimpinan Tuhan, dan Tetap sabar menanti waktu Tuhan yang indah bagi kita. Bersama Yesus Kristus Tuhan, kita pasti menang.

    Judul: Ujian Kesetiaan

    Penulis: Ronald Stevly Onibala, S.Th., M.Pd.K

  • KETIKA TUHAN SEAKAN TERTIDUR, Kontemplasi di tengah terpaan Badai Covid

    KETIKA TUHAN SEAKAN TERTIDUR, Kontemplasi di tengah terpaan Badai Covid

    WARTANASRANI.COM – Anda tentu membayangkan kalau berjalan bersama Yesus, semuanya pasti akan terasa indah, nyaman, aman, dan bahagia. Anda juga pasti meyakini bahwa hidup bersama Yesus semua proses kehidupan akan berjalan  mulus, tak ada masalah yang perlu dikuatirkan, dan sudah barang tentu hidup akan diberkati.
    Murid-murid Yesus juga membayangkan seperti itu. Mereka berpikir perjalanan bersama Yesus melintasi laut Galilea akan diwarnai dengan sukacita, kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka yakin akan tiba di  seberang danau lebih cepat datipada biasanya. Dan yang pasti, mereka sangat meyakini perjalanan melintasi laut Galilea kali ini akan menjadi sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan, sebuah perjalanan yang akan memberi  pengalaman spiritual yang terindah, tidak hanya karena Yesus ada bersama mereka di dalam berahu, tetapi karena Yesuslah yang mengajak mereka untuk naik perahu dan berlayar ke seberang (Mark. 4:35-41).
    ANTARA BAYANGAN DAN KENYATAAN
    Tetapi apa yang diyakini murid-murid berbeda dari kenyataan yang mereka hadapi. Sinar mentari yang cerah tidak kunjung muncul. Suasana perjalanan  indah nan bahagia yang mereka bayangkan mungkin hanyalah hasil kreatitifas imaginasi manusiawi belaka. Bayangan Laut Galilea yang teduh nan damai ternyata bergelora karena badai mengamuk.
    Ternyata perjalanan bersama Yesus hari itu justru penuh dengan kecemasan, ketegangan, dicekam ketakutan, bahkan diwarnai teriakan-teriakan keputusasaan dari rasul-rasul. Secara tidak terduga keadaan di laut Galilea berubah menjadi mendung dan gelap, disusul dengan bunyi deru badai yang dahsyat, membuat laut Galilea bergelorah seakan sedang mengamuk, menghantam perahu Yesus, dan membuat perahu itu nyaris karam. Tetapi anehnya, disebutkan bahwa ketika situasi gawat dan genting itu sedang berlangasung, YESUS justru TERTIDUR  di buritan, sehingga para rasul-Nya harus membangunkan Dia sambil berteriak-teriak: “Guru, Yesus, Engkau tidak peduli kalau kita binasa”.
    Perhatikan cerita Markus berikut ini: “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali”. (Mark. 4:37-39)
    Timbul pertanyaan-pertanyaan:  mengapa perjalanan bersama Yesus justru dihadang oleh badai dan ombak yang sangat dahsyat sehingga nyaris menenggelamkan kapal mereka? Mengapa pula murid-murid merasa sangat ketakutan sementara mereka tahu persis bahwa Yesus ada bersama-sama dengan mereka? Dan mengapa pula Yesus TERTIDUR sementara situasi alam sedang mengancam nyawa orang-orang pilihan-Nya? Apakah Yesus tidak  menyadari dan merasakan situasi alam yang mencekam serta ketakutan murid-murid-Nya?
    Yesus sesungguhnya mengetahui, melihat, dan juga merasakan situasi ganasnya laut Galilea ketika itu. Hanya saja ‘Yesus bersikap seakan tertidur. Sikap Yesus yang ‘seakan’ tertidur’ itu membuat murid-murid terbangun dari buaian kesibukan masing-masing, dan tersadar dari kelalaian mereka akan kehadiran Yesus.
    MUNGKIN TUHAN SENGAJA SEAKAN SEDANG TERTIDUR…
    Bila dibandingkan dengan situasi badai dan ombak dahsyat yang nyaris mengaramkan kapal para rasul bersama Yesus di laut Galilea, situasi dunia kita yang sedang diterpa badai dan gelombang dahsyat pandemi covid saat ini, jauh lebih buruk dan menakutkan, bahkan jauh lebih mengerikan. Sudah lebih dari setahun bangsa kita dan seluruh penduduk dunia diterpa badai dan gelombang maut yang bernama Covid-19. Sementara badai dan gelombamg Covid-19 belum reda, muncul lagi secara beruntun badai dan gelombang virus maut yang jauh lebih berbahaya dan mematikan, namanya Virus Delta, Alfa, Betha, dan Gamma.
    Jutaan sudah, nyawa manusia yang telah ditelan badai dan gelombang Pandemi Covid. Tidak terhitung sudah, harta benda yang ludes akibat bencana ini, sementara perusahaan-perusahaan raksasa satu persatu mulai karam, dan belum ada tanda-tanda badai ini akan berhenti. Malahan sebaliknya, tampak dengan jelas badai Virus Covid semakin dahsyat. Saat renungan ini ditulis, data korban badai Virus Covid menunjukkan angka yang sangat mengejutkan sekaligus menakutkan.
    Kompas.com 19 Juli, 2021, memberi data yang sangat mengejutkan mengenai jumlah kematian setiap hari akibat Virus Covid, dan Indenesia berada pada posisi tertinggi: Berikut 5 negara dengan angka kematian harian tertinggi: 1)Indonesia: 1093 orang, 2)Brazil: 939 orang,  3)Rusia: 764 orang, 4)India: 501 orang,  5)Kolombia: 476 orang.  Perhatikan! Di Indonesia, setiap hari ada 1093 nyawa ditelan badai dan gelombang pandemi Covid. Jika ditotal, satu bulan berapa? Dan satu tahun berapa? Ini jumlah kematian yang sungguh-sungguh mengerikan.
    Melihat kenyataan situasi dunia kita saat ini yaitu badai Virus Corona yang  tanpa mengenal waktu terus-menerus merenggut nyawa manusia tanpa pandang bulu, timbul pertanyaannya: “Mengapa Tuhan seakan TERTIDUR sementara umat-Nya menjerit, meratap, dan berteriak hampir putusasa dari tengah-tengah pusaran badai dan gelombang dahsyat virus-virus jahat ini?
    Mengapa Tuhan seakan BERDIAM diri sementara suara dan seruan doa-doa umat-Nya yang disertai dengan air mata siang malam naik ke hadapan-Nya? Raja Daud pernah mengeluhkan sikap Tuhan yang seakan tertidur, seakan berdiam diri, dan seakan tak peduli ketika Daud berada dalam situasi yang sulit. Daud bahkan mempertanyakan sikap Tuhan:  “Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus”! (Maz. 44:24). Bukan hanya Daud yang mempertanyakan sikap Tuhan yang seakan TERTIDUR dan BERDIAM diri itu. Musuh-musuh Daudpun bertanya-tanya apakah Tuhan yang disembah Daud itu sungguh ada atau tidak. Pertanyaan musuh-musuh itu membuat hati Daud semakin hancur: “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” (Maz. 42:4).
    Realita kehidupan yang sulit, tekanan hidup yang berat, dan keadaan terancam oleh musuh-musuh membuat Daud berpikir Tuhan mungkin tertidur.
    TIDAK MUNGKIN TUHAN TERTIDUR
    Kita semua sangat yakin bahwa Yesus sesungguhnya tidak tertidur ketika itu dalam pengertian yang sesungguhnya, sehingga Ia tidak tahu dan tidak merasakan situasi yang cukup genting bagi murid-murid. Demikian pula  kita meyakini bahwa saat ini Tuhan tidak mungkin tertidur sehingga Ia tidak tahu dan tidak melihat apa yang sedang terjadi di bumi ini. Tuhan tidak mungkin tertidur sehingga Ia tidak memahami kekuatiran dan ketakutan yang sedang mencengkram umat-Nya saat ini. Ada juga pengakuan Pemazmur bahwa Tuhan sang Penjaga Israel itu sesungguhnya tidak pernah tertidur atau terlelap. “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu” (Maz. 121:4-7).
    Tuhan bukan tidak melihat, bukan tidak merasakan atau tidak tahu akan situasi dan kondisi dunia kita saat ini. Tuhan bukan tidak mendengar jerit dan ratap tangis umat-Nya yang kehilangan anak, suami, istri, orang tua, sanak saudara, dan orang-orang yang disayangi. Dan Tuhan bukan tidak turut merasakan kepedihan hati, dukacita, kekecewaan, dan bahkan keputusasaan yang menggoreskan luka-luka batin dalam diri umat manusia. Tetapi mengapa mengapa seakan ertidur? Mengapa Tuhan seakan berdiam diri? Mengapa Tuhan seakan tidak peduli?
    JIKA TUHAN SENGAJA SEAKAN SEDANG TERTIDUR..
    – Ketika itu raja Daud pernah mengalami situasi yang membahayakan nyawanya, terdesak, dan tak berdaya menghadapi tekanan-tekanan musuh. Di tengah-tengah situasi yang sulit itu Daud berseru-seru memohon pertolongan Tuhan, tetapi Tuhan tidak segera turun tangan. Daud berpikir bahwa Tuhan sedang tertidur. “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus”! (Maz. 44:23-24). Daud tidak hanya berpikir bahwa Tuhan sedang tertidur, tetapi ia bahkan menganggap Tuhan seakan sedang bermasa bodoh ketika bangsa Israel – umat Allah sendiri, sedang terancam dipunahkan dari muka bumi oleh musuh-musuh mereka. Daud mengungkapkan keluhan terhadap sikap Tuhan yang seakan bermasa bodoh: “Ya Allah, janganlah Engkau bungkam,  janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah! Sebab sesungguhnya musuh-musuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau meninggikan kepala. Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi. Kata mereka: “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi!” (Maz. 82:2-5).
    Jika Yesus sengaja seakan tertidur sementara badai dan gelombang mengamuk nyaris membinasakan perahu mereka di laut Galilea, dan jika saat ini Tuhan sengaja bersikap seakan tertidur sehingga Corona mengamuk lebih ganas daripada badai dan gelombang di laut Galilea, bahkqn telah menelan korban jitaan nyawa manusia, apakah ada makna, hikmah, atau pesan yang kita bisa tangkap dari sikap Tuhan itu? Kita bisa memgandai-andai bahwa jika Tuhan sengaja bersikap seakan Ia  tertidur sementara umat-Nya sedang bergumul hampir tak berdaya menghadapi maut, paling tidak ada dua pesan yang Tuhan ingin sampaikan kepqda kita:
    Pertama: JIKA TUHAN SENGAJA BERSIKAP SEAKAN TERTIDUR, KITALAH TERBANGUN.
    Sikap Yesus yang seakan tertidur nyenyak sementara badai dan ombak mengamuk itu, justru membangunkan murid-murid. Mereka bangun dari keadaan dininabobokan oleh rasa nyaman, rasa aman, dan mapan.
    Memasuki era milenial, era yang di dalamnya hampir seluruh bangsa di dunia menikmati hasil-hasil kamajuan sains dan teknologi, masyarakat dunia, termasuk di dalamnya gereja, mulai dininabobokkan oleh keadaan nyaman, aman, dan mapan. Teknologi digital misalnya yang demikian maju dan canggih, telah memanjakan hidup masyarakat. Dengan teknologi digital semua proses kehidupan manusia menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien, termasuk dalam hal mencari uang menjadi lebih mudah dan cepat. Dalam kondisi ini masyarakat – tidak terkecuali kaum religius, mulai menikmati rasa nyaman, rasa aman, dan mapan. Lalu tanpa disadari, kaum religius dan rohaniawan pun telah tenggelam ke dalam budaya hedonisme. Saat ini hampir semua aktifitas manusia dimotivasi oleh materi, karena dengan materi, seseorang bisa bebas mengejar kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan diri. Dan pada saat yang sama, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai solidaritas, dan nipai-nilai spiritualitas merosot tajam tanpa disadari.
    Tepat pada saat-saat masyarakat dunia, termasuk kita, sedang dininabobokkan dan terbuai dalam rasa nyaman, aman, dan mapan, badai Covid mengamuk dari WUHAN Tiongkok, menyerbu dengan bebas seluruh negara dan bangsa sampai ke ujung bumi tanpa pandang buluh, dan tak ada satupun bangsa di dunia yang mampu menghambat atau meloloskan diri dari terkaman Corona.
    Jika Tuhan bersikap seakan tertidur saat ini sehingga badai dan gelombang Corona masih terus mengamuk, kitalah yang harus bangun dari buaian  kemapanam hidup. Kitalah yang harus bangun dari keadaan dininabobokkan oleh rasa nyaman dan aman. Kitalah yang harus bangun dari pangkuan hedonisme dan materialisme. Jika Tuhan bersikap ‘seakan tertidur’ kitalah yang harus bangun untuk menyapa Dia.  Jika Tuhan bersikap ‘seakan diam’ maka kitalah yang harus bangun untuk berseru kepada-Nya. Jika Tuhan bersikap ‘seakan tertidur, seakan berdiam diri, sementara dunia kita diobrak-abrik oleh Covid, kitalah yang harus bangun dari buaian hedonisme dan materialisme.
    Kiranya teks ini relevan dengan situasi dan kondisi moralitas manusia masa kini: “Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia”. (Mat. 24:38-39)
    Kedua:  JIKA TUHAN SENGAJA BERSIKAP SEAKAN TERTIDUR, KITALAH YANG HARUS TERSADAR
    Ketika seseorang sudah behasil, level hidup sosial ekonominya telah naik, sudah masuk kategori atau kelas orang berada dan sudah merasa nyaman dan mapan selalu diikuti dengan perubahan karakter, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan perubahan hubungan dengan sesama. Khususnya hubungan sosial dengan sesamanya, biasanya berubah secara drastis. Yang tadinya biasa bergaul dengan siapa saja,  sekarang ia bergaul hanya dengan orang-orang yang dianggap selevel dengan dirinya. Tadinya rumahnya selalu terbuka pada semua tetangga, sekarang pintu pagarnya selalu terkunci rapat dan hanya terbuka bagi orang-orang yang sekelas dengan dirinya. Pada saat yang sama sensitifitas sosialnya makin hari makin pudar dan memuncak pada sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan dan sesama. Materi telah mengubah watak manusia manjadi egois dan angkuh serta tidak peduli pada sesama. Ini adalah dosa dan kejahatan yang kebanyakan tidak disadari.
    Jika Allah seakan tertidur sementara alam kita dihacengkram oleh maut Covid,  kitalah yang harus “TERSADAR” akan dosa-dosa dan kejahatan sosial yang semakin hari semakin menguasai dunia kita.
    -Kejahatan dan dosa kemanusiaan yang sering dilakukan tanpa disadari adalah ‘meraup keuntungan’ di tengah penderitaan manusia. Setiap kali terjadi kesulitan atau kelangkaan kebutuhan-kebutuhan urgen di masyarakat, selalu ada kelompok-kelompok orang yang berusaha meraup keuntungan. Di masa pandemi Covid ini beberapa kali terjadi kelangkaan kebutuhan yang paling urgen yaitu obat dan oksigen. Kelangkaan itu mengakibatkan kematian ratusan penderita Covid. Di RS Dr. Sarjito Yogyakarta terjadi kematian 63 orang pasien Covid dalam sehari karena tidak mendapatkan oksigen.
    Dan kejamnya adalah, bahwa yang menimbun obat dan oksigen itu justru orang-orang kaya. Dalam berita online Megapolitan, disebutkan: direktur dan komisaris PT ASA melakukan penimbunan obat atas motif ekonomi.    Bayangkanlah, berapa ratus atau berapa ribu nyawa manusia yang melayang akibat kekurangan oksigen dan obat? Di satu RS. Dr. Sarjito Jogja saja sudah ada 63 nyawa manusia melayang dalam sehari karena tidak mendapat oksigen. Bayangkan jika di rumah sakit-rumah sakit lainnya mangalami nasib yang sama, berapa ribu nyawa manusia yang melayang dalam sehari akibat keserakahan oknum-oknum yang mengejar keuntungan. Bayangkanlah di rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia, sedang tergeletak ribuan manusia yang sedang berjuang untuk bertahan hidup, tetapi akhirnya harus merengang nyawa karena kekurangan oksigen dan obat-obatan, sementara di tempat lain ada kelompok-kelompok manusia yang sedang duduk-duduk di ruang VIP menghisap rokok dalam-dalam sambil menghitung keuntungan dari oksigen dan obat-obatan yang tertimbun di gudang-gudang mereka.
    Jika saat ini Allah seakan tertidur, sementara hidup mamusia dicekam oleh rasa takut karena ancaman virus Covid, kitalah yang harus TERSADAR akan dosa keserakahan yang telah mengorbankan nyawa orang-orang tak bersalah.
    Yang lebih buruk lagi adalah kejahatan terhadap sesama atas nama Allah atau agama. Di Indonesia, sudah dianggap hal biasa kalau ada kelompok-kelompok orang tertentu yang mengatasnamakan Allah atau agamanya, dengan leluasa mengobrak abrik dan membubarkan umat yang sedang beribadah, bahkan dalam beberapa kejadian mereka tidak segan-segan menganiaya umat yang sedang beribadah, sementara di situ ada oknum-oknum penegak hukum hanya menonton. Di negara RI yang katanya religius ini, tindakan brutal dan sewenang-wenang merusak, membongkar, dan bahkan membakar rumah ibadah agama lain atas nama Allah atau agama oleh kelompok-kelompok tertentu, dianggap kejadian yang biasa. Aksi-aksi merazia dan mengobrak-abrik bahkan menjarah restoran-restoran atau warung-warung yang dicap haram, itu juga sudah biasa dilakukan tanpa merasa bersalah.
    Dalam skala yang lebih luas, di belahan-belahan lain bumi kita ini terus terjadi  penculikan, penganiayaan yang tak mamusiawi, pembantaian sebangsa,  sesuku, dan bahkan saudara sekandung Allah dan agama. Tengoklah ke Timur Tengah, belahan bumi yang katanya sangat religius, terpatnya di Surya dengam ISIS. Berapa juta kepala manusia tak berdosa yang dipenggal atas nama Allah? Lihatlah ke beberapa negara di Afrika, penculikan dan pemerkosaan massal anak-anak sekolah, penganiayaan, pembantai, dan pemusnahan etnis atas nama Allah/agama. Sementara itu di berbagai negara termasuk Indonesia, gerakan terorisme tidak pernah surut. Tanpa rasa kemanusiaan, para teroris mengindoktrinasi rakyat yang polos-polos untu melakukan bom bunuh diri untuk membom rumah-rumah ibadah, dan menteror masyarakat atas nama Allah atau agama.
    Jika saat ini Allah seakan tertidur sementara Virus Covid merenggut ribuan nyawa saudara dan sebangsa kita, Allah menunggu kita TERSADAR akan dosa dan kejahatan kita terhadap Nama-Nya yang kudus dan mulia, yang selama ini telah ternoda oleh ulah dan kebodohan kita manusia, yaitu melakukam tindakan sewenang-wewnang,  merusak, menindas, menganiaya, kekerasan, bahkan membunuh sesama atas Nama Allah.
    AKHIRNYA….
    Tuhan bukan tidak melihat akan pergumulan hidup yang dihadapi bangsa dan dunia kita saat ini. Tuhan bukan tidak mengerti apa yang sedang menerpa seluruh kehidupan manusia dunia tanpa memandang bangsa dan agama. Tuhan bukan tidak mendengar seruan-seruan doa umat manusia dari semua agama yang disertai dengan linangan air mata.Tuhan bukan tidak merasakan beratnya beban-beban hidup dan kepedihan-kepedihan hati bangsa ini akibat pandemi Covid. Tetapi mengapa Allah bersikap ‘seakan tertidur? Mengapa Tuhan seakan berdiam diri dan tidak peduli?
    Sekali lagi, jika Tuhan bersikap seakan tertidur atau seakan diam, itu sebuah pertanda Tuhan ingin kita bangun dari keadaan dininabobokan dalam rasa nyaman dan aman oleh kemapanan. Kitalah yang harus tersadar akan banyaknya dosa sosial dan kejahatan terhadap kemusiaan yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap sesamanya di negara ini dengan mengatasnamakan Allah, iman, HAM dan katanya demi hukum…. Amin…..
    KETIKA TUHAN SEAKAN TERTIDUR
    (Kontemplasi di tengah terpaan Badai Covid)
    Oleh: Dr. S. Tandiassa
  • SEKOLAH GALATIA BEKASI BUKA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TP. 2020-2021

    SEKOLAH GALATIA BEKASI BUKA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TP. 2020-2021

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Yayasan Pendidikan Galatia Bekasi telah membuka penerimaan dan pendaftaran peserta didik baru tahun pelajaran 2020 – 2021 untuk siswa-siswi tingkat  PG/TK, SD, SMP dan SMA.  Bagi orang tua maupun masyarakat yang ingin mendaftar atau mendapatkan informasi seputar penerimaan siswa baru dapat datang langsung ke tata usaha bagian pendaftaran dengan alamat Jalan Bulevar Hijau Raya, Blok A/1 Bulevar Hijau, Kota Harapan Indah, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi 17131.

    Sekolah Galatia Kota Bekasi (PG/TK/SD/SMP/SMA)

    Dengan lokasi yang sangat strategis dan mudah dijangkau, parkir yang luas, aman dan nyaman, serta didukung dengan fasilitas yang mumpuni, kegiatan pendidikan di Sekolah Galatia Bekasi dapat menunjang prestasi setiap siswa untuk berprestasi di bidang akademik dan non akademik.

    Sekolah Galatia Bekasi dibawah naungan Yayasan Pendidikan Galatia, selalu berkomitmen untuk menjadi pusat pendidikan yang berkualitas dan menciptakan generasi unggul, beriman, berilmu dan berprestasi serta mampu bersaing di era globalisasi.

    Tim Paskibra SMA Galatia saat Upacara Pengibaran Bendera memperingati HUT Proklamasi RI

    Sekolah Galatia Kota Bekasi menawarkan berbagai keunggulan antara lain:

    Pertama; Lulusan Dari SMA GALATIA akan mudah untuk mendapatkan beasiswa diperguruan tinggi karna SMA Galatia telah bekerjasama dengan berbagai kampus terkemuka

    Kedua; Dari SMA akan mudah untuk Mengikuti seleksi ujian Perguruan tinggi negeri,seleksi univ kedinasan

    Ketiga; Bisa langsung kerja di SMA Galatia dibekali pembelajaran Bahasa Inggris melalui Native Speaker,Desain grafis dan kewirausahaan oleh Ahli IT yang disewa langsung dari BSW administratif dan pembukuan serta tata cara membuat surat lamaran kerja dan interview kerja.Sehingga mampu berdaya saing di era Indusri 4.0.

    Keempat; Beasiswa bagi siswa berprestasi

    Kelima; Guru guru Sarjana S1 dan S2 sesuai bidangnya

    Keenam; Ruangan AC dan Fasilitas memadai

    Ketujuh; Kantin nyaman bersih,murah dan banyak pilihan

    KedelapanTanpa uang gedung bagi yg mendaftar dari tingkat PG/TK Galatia lanjut ke SD Galatia atau dari SD Galatia lanjut ke SMP Galatia, dan dari SMP Galatia lanjut ke SMA Galatia.

    Kesepuluh; Pelajaran tambahan Bahasa Mandarin dan Native Speaker yang membuat kamu siap di dunia perkuliahan maupun dunia kerja.

    Dapatkan potongan uang pendaftaran bagi 20 pendaftar pertama. Lebih jelasnya, untuk informasi pendaftaran dapat menghubungi nomor telpon 021-88872723, wa : 081381880430 (Ibu Irma).

    Beberapa siswa yang meraih beasiswa dari Yayasan Pendidikan Galatia atas Prestasi Akademiknya tahun pelajaran 2019/2020 untuk siswa siswi SMA Galatia Yaitu : Clarissa Aniella kelas XI MIPA, Vania angelica kelas XI IPS, Andrew Setiadi kelas XII MIPA, dan Frieciliali Sugianto kelas XII IPS. (*)

    Foto Dokumentasi Saat Retret SMA Galatia Kota Bekasi

  • COVID-19: ANTI KRISTUS atau ALAT KRISTUS, Antara Keyakinan dan Fakta

    COVID-19: ANTI KRISTUS atau ALAT KRISTUS, Antara Keyakinan dan Fakta

    WARTANASRANI.COM – Topik tentang COVID-19 terus menjadi perbincangan yang hangat setiap hari di semua lapisan masyarakat di seluruh dunia. Bukan hanya karena virus Corona yang lahir di akhir 2019 ini membawa maut, tetapi juga karena adanya berbagai macam cara pandang dan keyakinan religius terhadap wabah Virus Corona. Melalui tulisan yang singkat ini, penulis mencoba menelusuri dan menghimpun informasi tentang wabah COVID-19 ini bagian dari antikris atau bukan.

    1. COVID-19 – ANTI KRISTUS ?

    Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di dalam aliran kharismatik yang diutamakan adalah pengalaman-pengalaman spiritual. Secara doktrinal, kaum kharismatik menenkankan penggenapan nubuatan-nubuatan, yaitu nubuatan-nubuatan para nabi, terutama yang bersifat futuristik, dan yang berkaitan dengan akhir zaman. Setiap peristiwa yang terjadi, entah di bidang politik, ekonomi, sosial, atau fenomena-fenomena alam, selalu dilihat dan dimaknai sebagai penggenapan dari nubuatan-nubuatan Alkitab dan merupakan tanda-tanda akhir zaman. Mereka membaca semua peristiwa historis atau fenomena  dengan menggunakan kacamata rohani, maksudnya diberi makna rohani.

    COVID-19, atau Corona Virus Disease 2019, yang mematikan itu, kemunculannya di Wuhan dan penyebarannya ke seluruh dunia, tak pelak lagi,  dilihat oleh kaum kharismatik sebagai pertanda kemunculan sang antrikris. Maka dunia Medsos pun langsung dibanjiri oleh berbagai pernyataan dan interpretasi khas kharismatik. Mereka dengan mudah mengutip teks-teks Alkitab di sana sini tanpa menghiraukan konteks dari teks-teks tersebut dan tanpa peduli ada atau tidak relasi antar teks-reks yang dikutip.

    Beberapa pernyataan atau penjelasan interpretatif yang meramaikan dunia Medsos kaum karismatik dapat dikutip kembali di sini.

    Virus Corona Dikaitkan dengan Angka Setan 666

    Media Online, INDOZONE, mengulas tentang asumsi yang mengaitkan Virus Corona dengan angka 666. “Anda mungkin sering mendengar angka 666 yang penuh konspirasi. Banyak orang yang menyebutnya angka setan. Bilangan ini juga dikenal sebagai “jumlah binatang” atau beast dalam Perjanjian Baru atau segala sesuatu yang berbau satanisme dan Antikristus. Baru-baru ini banyak di grup Whatsapp beredar informasi teori konspirasi yang mengaitkan pandemi Virus Corona atau COVID-19 dengan angka setan 666. Jika dipecah, CORONA  terdiri dari 6 huruf. Jika masing-masing alfabetnya diubah ke dalam angka, maka akan membentuk: C=3, O=15, R=18, O=15, N=14, A=1. Jika angka-angka ini dijumlahkan, maka hasilnya adalah 66. Jika digabungkan dengan kata “corona” yang memiliki 6 huruf, maka hasilnya adalah 666”.

    Selanjutnya, masih di INDOZONE, dijelaskan bahwa gara-gara angka 666 ini dikaitkan dengan antikris, beberapa perusahaan besar pernah dituding sebagai kaki tangan setan. Pada Tahun 1999, ketika Intel memperkenalkan Pentium III 666 Mhz, banyak orang menuding Intel sebagai kaki tangan setan. Oleh sebab itu, Intel terpaksa mengumumkan produknya sebagai Pentium III 667 sebagai pembulatan dari 666,666 MHz. Bukan hanya Intel, dalam dunia industri komputer, nama Bill Gates pun terkena imbasnya. Nama Bill Gates III, jika dikonversi ke dalam kode ASCII (American Standars Code for Information Interchange) akan berjumlah 666. Demikian juga dengan MS-DOS 6.21 dan Windows 95”.

    Virus Corona dan Murka Allah

    Media WE Online menceritakan, seorang evangelis Amerika Serikat mengklaim bahwa virus corona jenis baru, 2019-nCoV, yang sudah membunuh ribuan orang di China dan menyebar di berbagai negara, merupakan azab Tuhan. Malaikat maut sudah dikirim untuk membersihkan planet Bumi dari para pendosa. Virus itu dimulai di China karena “pemerintah Komunis yang tidak ber-Tuhan menganiaya orang-orang Kristen dan melakukan aborsi paksa. Tuhan akan membersihkan banyak dosa dari planet ini. Ada orang-orang yang keji dan menjijikkan di negara ini sekarang, melampaui anak-anak kecil, menyesatkan mereka.

    Kaum kharismatik dan sebagian hamba-hamba Tuhan Pentakosta di Indonesia juga meyakini bahwa virus Corona adalah sebuah bencana yang dirancang oleh sang antikris. Pernyataan sepotong-sepotong dari kelompok penganut Corona sebagai antikris, hampir setiap hari menghiasi Medsos, entah itu di FB, di YouTube, atau di grup-grup WA, bahkan sampai di khotbah-khotbah dalam gereja.

    Melalui YouTube, seorang hamba Tuhan berceramah tentang akhir zaman mengatakan bahwa ‘Virus Corona adalah langkah awal dari Antikris’. Dalam sebuah Website luar negeri bernama ‘After the Warning’, yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, seorang wanita Katolik bernama Julie Wedbee, mengaku mendapat pesan dari surga tentang Virus Corona dan Antikris. Di Indonesia banyak hamba Kharismatik menganggap bahwa bukti Corona sebagai antikris adalah ditiadakannya ibadah-ibadah di gereja. Ada pula hamba Tuhan yang terus sibuk mencocok-cocokkan atau mencari-cari salah satu di antara tujuh meterai murka yang bisa ditempeli nama Corona, atau yang bisa dianggap sebagai Corona.

    Sebuah media online yang bernama ‘Jalan Iman.com’ mengulas pendapat kaum kharismatik yang menghinakan Corona dengan akhir Zaman: Virus Corona Peringatan Tanda Zaman. Peringatan Yesus bahwa menjelang hari kiamat akan muncul penyakit sampar tidak perlu mengejutkan kita. Yesus mengatakan, “Dan apabila kamu mendengar… janganlah kamu terkejut..” Lukas 21:9. Penyakit sampar hanyalah salah satu dari sekian banyak peristiwa yang menjadi tanda-tanda kesudahan zaman. Saat ini tanda zaman yang muncul adalah penyakit sampar Virus Corona. Lihatlah bagaimana virus ini mewabah lintas Negara dan membuat dunia terkejut, dan pemerintah Negara-negara dengan sigap mengantisipasi penyebarannya”.

    2. APA ITU ANTIKRIS?

    Untuk membuktikan bahwa COVID-19 benar-benar adalah alat antikris, lebih dahulu perlu dipahami siapa, seperti apa, dan bagaimana si antikris  atau antikristus itu.  Kata antikris atau anti Kristus dapat mempunyai dua arti, yaitu 1)”menentang Kristus”, dalam artian seseorang atau suatu kekuasaan yang menentang Kristus dan karya Kristus, 2) “pengganti Kristus”, artinya, seseorang atau suatu kekuasaan, atau suatu institusi” yang “mengambil tempat Kristus”, atau seorang “Kristus palsu”.

    Yohanes mengatakan bahwa antikristus adalah siapa pun yang sengaja menyebarluaskan kebohongan tentang Yesus Kristus dan ajaran-Nya. Rasul

    Yohanes menyebutkan ”ada banyak anti-kristus”. Jadi menurut Yohanes,  antikristus itu bukan hanya satu orang saja. Si Antikris bisa komunitas orang, bisa organisasi, bisa lembaga politik atau kekuasaan, bisa berupa ajaran, yang    menyebarluaskan kebohongan tentang Yesus. Antikris tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Mesias, dan membuat orang bingung tentang hubungan antara Allah dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Antikris bisa juga mengaku sebagai kristus atau wakil-wakil Kristus – 1 Yoh. 2:18-22

    3. COVID-19 – ALAT KRISTUS?

    Terlepas dari adanya berbagai keyakinan yang didasarkan atas tafsiran-tafsiran atau asumsi-asumsi terhadap teks-teks kitab suci, COVID-19 memunculkan FAKTA YANG BERBEDA dari keyakinan-keyakinan yang disebutkan di atas. Paling sedikit ada tiga (3) fakta yang menunjukkan bahwa Virus Corona berbeda dari karakter antkris atau tidak sesuai dengan atribut-atribut yang melekat pada sosok si antikris.

    Fakta 1:

    Sejak munculnya di Wuhan Tiongkok, COVID-19 dengan semua aspek atau semua pihak yang berkaitan dengan masalah Corona, belum pernah ada, dan belum pernah muncul sebuah pernyataan dari siapapun, belum pernah ada gerakan apapun, dan belum pernah ada propaganda atau provokasi yang menentang keyakinan kepada Yesus Kristus, atau yang mendiskreditkan ketuhanan Yesus Kristus, atau yang menganiaya orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dengan kata lain, bila Corona dicap atau diyakini sebagai alat antikris, keyakinan itu tidak sesuai dengan fakta, karena tidak ada sedikit pun yang berkaitan dengan Corona, yang anti pada Kristus.

    Bahwa ada banyak orang yang jadi korban COVID-19, itu tidak bisa dijadikan acuan, karena yang meninggal akibat COVID-19, bukan hanya orang-orang yang mengikut Kristus, malahan mungkin lebih banyak yang tidak percaya Kristus. Lagi pula, ada banyak peritiwa (bencana) lainnya yang juga menelan banyak korban jiwa, tetapi tidak serta merta disebut sebagai antikris, misalnya bencana Tsunami, bencana gempa bumi, bencana banjir, bencana longsor, bencana kelaparan, dan bencana-bencana wabah lainnya.

    Fakta 2

    Kemunculan COVID-19 telah membangkitkan kesadaran, kehausan, kelaparan  dan kebutuhan di dalam diri manusia akan Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang bisa menyangkali fakta ini. Perhatikanlah, setiap kali kita membuka Medsos, kita disuguhi dengan berita-berita, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk YouTube, tentang gerakan doa masal, atau gerakan masal mencari Tuhan, atau gerakan pertobatan masal. Gerakan masal ini terjadi hampir seluruh belahan bumi yang dilanda wabah Corona. Di berbagai negara atau daerah yang tidak mayoritas muslim, gerakan doa masal ini dilakukan di jalan-jalan raya, di trotoar-trotoar, di mall-mall, di kantor-kantor, di markas-markas tentara dan polisi di supermarket-supermarket, bahkan Rumah sakit-rumah sakit.

    Beberapa kutipan berikut ini adalah pernyataan atau ungkapan-ungkapan kekaguman melihat apa yang sedang terjadi, tepatnya apa yang sedang lakukan Allah, di tengah-tengah cengkraman virus Corona. Gerakan doa dan pertobatan masal sedang terjadi di berbagai negara, sesuatu yang sedang terjadi dalam sejarah kekristenan.

    Di AS, seseorang menulis di FB: “How Amazing it is to see these Men praying together with police officers in the street. The World is turning to Jesus through Corona Virus. Praise God”. Di FB lainnya seseorang menulis: ‘These employees know that their help comes from Jesus’

    Di FB yang satu lagi, sesorang menulis: This hospital comes together to pray and worship JESUS through this virus. Medical Tim all over The World are turning to Jesus through this Virus. Even the Children are turning back to our God.. They are worshipping Jesus.. Praise God somebody. People all around the world are turning to Jesus for healing in their land.

    Di Spanyol: Nyanyian ‘BECAUSE HE LIVES’ – bergema setiap saat ketika mereka berlutut berdoa dan menangis di jalan-jalan raya dan di trotoar-trotoar, bahkan sampai di gang-gang.

    Di Brazil, seseorang menulis di FB: Through covid-19, the people of Brazil are turning to Jesus to heal their land.

    Di Honduras seseorang menulis: People of Honduras turn to Jesus and Rise up to Worship and pray for the nation.

    Di Guatemala ada yang menulis: ‘They are turning and Call on the Name of Jesus in Guatemala’

    Bagaimana di indonesia? Salah satu anjuran yang selalu disampaikan oleh pemerintah dan pihak-pihak yang berwewenang sejak virus Corona merajalela adalah beribadah di rumah. Sejauh ini belum pernah ada anjuran, pernyataan, atau gerakan yang mendompleng peritiwa Corona untuk menentang, atau melawan, atau mendiskreditkan nama Yesus Kristus, atau menganiaya para pengikut Yesus Kristus. Malahan sebaliknya, sejak adanya himbauan social distancing dan physical distancing, gerarakan penginjilan di indonesia terjadi secara besar-besaran dan masif. Anda ingin bukti? Bukalah FB Anda. Begitu Anda online, yang muncul pertamakali adalah pengkhotbah. Dan jika  Anda mempunyai 1000 friends pendeta, maka Anda akan melihat dan mendengar 1000 pendeta memberitakan Injil dengan bebas melalui Medsos. Gerakan penginjilan dan kebebasan menginjil yang terjadi saat ini, juga belum pernah terjadi dalam sejarah kekristenan di Indonesia. Ini semua adalah dampak dari COVID-19.

    Fakta 3

    Sesuai dengan namanya,  ANTIKRIS atau ANTIKRISTUS adalah sosok atau gerakan, atau  kekuasaan yang melawan atau yang anti terhadap Kristus atau melawan Allah.  Oleh karena anti atau memusuhi Allah, antikris akan menghujat Allah, menghujat nama Allah, dan menghujat semua yang ada di surga. Si antikris akan melakukan penindasan dan penganiayaan secara besar-besaran terhadap para pengikut Kristus.

    Kenyataan yang sedang terjadi di depan mata kita saat ini di tengah-tengah wabah virus Corona justru KONTRADIKTIF dengan apa yang seharusnya terjadi bila si antikris muncul. Di tengah-tengah situasi bayang-bayang maut akibat Cengkraman virus Corona, yang terjadi justru bangsa-bangsa bangkit memuja dan menyembah Tuhan. Tanpa ada yang memprakarsai, atau yang mengomando, atau yang menganjurkan, hampir seluruh penduduk dunia  sujud dan bertekuk lutut merendahkan diri di hadapan Allah. Jika Anda melihat secara kritis situasi global saat ini, Anda akan terkejut melihat fakta bahwa saat ini gerakan penginjilan dan kebangunan rohani, yang diikuti oleh gerakan pertobatan sedang terjadi secara dahsyat di seluruh dunia. Gerakan penginjilan dan pertobatan masal yang sedang terjadi di seluruh dunia saat ini tidak lagi membutuhkan penginjil yang hebat, atau pengkhotbah yang luar biasa, atau hamba Tuhan yang naik turun surga dan masuk keluar naraka. Saat ini Allah sendiri yang sedang beraksi dengan kekuatan kuasa-Nya di alam semesta. Allah sedang bergerak dan beraksi ketika seluruh bangsa sedang menghadapi ancaman virus Corona..

    4. LANTAS…

    Melihat fakta-fakta atau fenomena-fenomena religi yang muncul di tengah Cengkraman virus Corona, dan dengan menggunakan PENALARAN YANG SEHAT, sangat SULIT  untuk menerima dengan AKAL SEHAT jika COVID-19 atau Virus Corona Disease yang muncul di akhir tahun 2019 disebut, atau dianggap, atau diyakini sebagai langkah awal antikris atau sebagai bagian dari skenario antikris. Jadi, COVID-19 – Alat Anti Kristus atau Alat KRISTUS, tergantung pada KONDISI AKAL Anda.

    Amin……Gbu all.

    Judul Artikel:  COVID-19: ANTI KRISTUS atau ALAT KRISTUS (Antara Keyakinan dan Fakta)

    Penulis: Dr. S. Tandiassa

  • SURAT TERBUKA SEMINARI BETHEL JAKARTA

    SURAT TERBUKA SEMINARI BETHEL JAKARTA

    JAKARTA, WARTANAARANI.COM – Mengantisipasi pemberitaan terkait situasi dan keadaan Seminari Bethel Jakarta, pimpinan Seminari melalui Surat Terbuka, nomor 57/SEK/SBJ/IV/2020, pada hari Jumat, 17 April 2020 menyampaikan beberapa poin penting.

    Berikut isi surat terbuka yang ditandatangani oleh Pdt. Kiki Sadrach, M.Th (Ketua Seminari Bethel Jakarta) dan Pdp. Oktaria Inkiriwang, S.Th (HRD/GA) dengan tembusan; Ketum BPH, Sekum BPH, Ketum YBI, Departemen Hukum dan Advokasi BPH GBI.

    Seminari Bethel Jakarta termasuk unit-unit pendidikan: STT,SP dan SMTK serta asrama selalu mendukung program Pemerintah baik dari sisi pendidikan maupun hal lainnya termasuk dalam penanganan dan pencegahan penyebaran pandemi virus Covid-19 yang menjadi Bencana Nasional di Negara kita saat ini.

    Menyikapi perkembangan dan juga menjawab pertanyaan beberapa orang terkait dengan situasi dan keadaan Seminari khususnya di asrama, maka melalui surat ini kami menyampaikan beberapa hal mulai dari kronologi sampai pada perkembangan terkini di Seminari Bethel Jakarta dalam menghadapi dan mencegah penyebaran pandemi virus Covid-19.

    Kami berharap semua pihak dapat menjadi jelas dan memahami dengan tepat setelah mendapat informasi dari kami berikut ini:

    Pertama; Terhitung sejak tanggal 16 Maret 2020 sampai saat ini, kami telah memberlakukan program Kelas Belajar Mengajar (KBM) secara online dengan tujuan turut mencegah penyebaran virus covid-19 dengan menghindari pertemuan tatap muka dalam jumlah besar.

    Tidak ada pertemuan ataupun kegiatan belajar secara tatap muka yang dilakukan di Seminari Bethel Jakarta. Di lingkungan Seminari (termasuk di asrama) juga sudah memberlakukan protokol kesehatan sesuai anjuran Kemenkes dan dokter Puskesmas Tanah Abang dengan: selalu menggunakan masker, sering cuci tangan baik dengan sabun maupun dengan hand sanitizer, menjaga jarak satu dengan yang lain minimal 1 m, melepas jaket dan helm serta menaruhnya di luar dengan dibungkus plastik masing- masing, dan membangun imunitas kesehatan yang baik dengan tetap berolahraga, makan makanan sehat ditambah vitamin, buah-buahan, air jahe dan lainnya.

    Kedua; Pada tanggal 11 Maret, ada 1 orang mahasiswa yang mengalami gejala demam, tetapi setelah di rawat di RS Mintoharjo selama 4 hari dia sembuh dan diijinkan pulang tanpa ada berita tambahan apa-apa dari Rumah Sakit lalu dia dijemput orang tuanya dan dibawa pulang.

    Ketiga; Keesokan harinya tanggal 12 Maret, ada 1 orang mahasiswa juga demam dan dibawa ke RS Mintoharjo kembali untuk dirawat. Benar bahwa pihak Rumah Sakit sudah melaksanakan pemeriksaan Covid-19 dan mengharuskan yang bersangkutan untuk mengikuti pemeriksaan Covid-19 sesuai anjuran Pemerintah dan harus dirawat di sana sampai selesai seluruh pemeriksaan Covid-19 selesai dan yang hasilnya ternyata semua negatif dan diijinkan keluar dari Rumah Sakit pada tanggal 27 Maret.

    Keempat; Pada tanggal 16 Maret, sesuai dengan anjuran pemerintah yang diumumkan oleh Bapak Presiden RI maka Seminari memutuskan dan mengeluarkan surat keputusan untuk memulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) secara online mulai tanggal 17 Maret. Mahasiswa yang tinggal di asrama Seminari yang jumlah awalnya sekitar 250 orang, sebagian pulang ke rumahnya masing-masing sehingga hanya tinggal 140 orang.

    Kemudian, tanggal 24 Maret kepala asrama menerima pesan Whats App dari Bapak Ari Juliano, anggota Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 yang isinya meminta anak-anak di Asrama harus tinggal di asrama dan jangan ada yang pulang lagi. Atas pesan dari Gugus Tugas ini, maka diputuskan anak-anak untuk tetap tinggal di Seminari.

    Kelima; Pada tanggal 26 Maret 2020, ada beberapa orang yang tinggal di Asrama dengan gejala batuk, pilek disertai demam, setelah di bawa ke Puskesmas Tanah Abang serta dilakukan test Covid-19 pertama dan hasilnya negatif, meski demikian mereka semua diwajibkan isolasi mandiri sebagai ODP di asrama Seminari (di kamar khusus) dan harus menunggu test Covid-19 ke-2 sesuai arahan dokter Puskesmas Tanah Abang.

    Keenam; Pada tanggal 1 April 2020, kepala asrama menunjukkan gejala sesak dan dibawa ke RSUD Cengkareng sesuai rujukan dan arahan dari dokter Puskesmas dan di rawat sampai hari ini dengan kondisi sudah membaik. Keluarganya kemudian di isolasi mandiri sambil menunggu pemeriksaan dan arahan dari Puskesmas Tanah Abang.

    Ibu asrama yang juga mengalami gejala demam dan sesak nafas, akhirnya juga dirawat pada tanggal 9 April di RSUD Cengkareng sampai hari ini dengan keadaan semakin membaik. 6 (enam) orang mahasiswa yang ikut di test saat itu di Puskesmas Tanah Abang karena demam tetap dilakukan isolasi mandiri di ruang khusus selama beberapa hari sambil menunggu hasil pemeriksaan test Covid-19 ke-2 sesuai arahan dari dokter Puskesmas Tanah Abang dan prosedur yang berlaku.

    Ketujuh; Pada hari Senin, 6 April 2020, setelah di lakukan test Covid-19 ke-2 dengan rapid test di Puskesmas Tanah Abang ternyata keenam (6) orang mahasiswa tersebut hasilnya positif dan menjadi PDP dengan gejala ringan. Kemudian dengan arahan dari Gugus Tugas Covid-19, mereka yang PDP dengan gejala ringan tetap diminta isolasi mandiri di ruang khusus di asrama.

    Kedelapan; Pada hari Selasa, 7 April 2020 dilakukan swab test Covid-19 yang hasilnya diperoleh tanggal 9 April 2020, didapati bahwa ada 6 orang mahasiswa tersebut hasil swab test-nya positif dan kemudian pada hari yang sama 3 orang di antar ke RSUD Cengkareng untuk dirawat, salah satunya adalah anak dari Kepala Asrama sendiri dan 3 orang lagi sisanya di rawat di RS Wisma Atlet Kemayoran.

    Kesembilan; Terkait dengan hal ini, sesuai dengan arahan Kemenkes cq Puskesmas, maka kami meminta supaya mahasiswa maupun staf yang melakukan kontak fisik dengan ODP dan PDP di atas selama 14 hari mundur dari tanggal gejala awal ODP, dapat diperiksa oleh tim dokter Puskesmas Tanah Abang sesuai dengan surat permohonan yang kami kirimkan.

    Kesepuluh; Kemudian pada tanggal 12 April 2020, tim dokter beranggotakan 8 (delapan) orang melakukan pemeriksaan rapid test dan swab test terhadap 134 orang mahasiswa dan beberapa staf di Seminari Bethel Jakarta. Dalam hal ini, kami tetap melakukan isolasi mandiri bagi para penghuni asrama sesuai dengan protocol kesehatan Covid-19.

    Pada tanggal 16 April 2020, hasil rapid test dan swab test tersebut baru diinformasikan kepada kami. Sebanyak 36 (tiga puluh enam) orang hasil swab test-nya dinyatakan positif oleh dokter Puskesmas Tanah Abang, sehingga mereka harus di rawat (isolasi mandiri) di Wisma Atlet, dan malam itu juga diberangkatkan dengan diantar oleh tim dari Puskesmas Tanah Abang. Dan 98 orang mahasiswa dan staf di Asrama dinyatakan hasil testnya negative oleh dokter Puskesmas Tanah Abang.

    Kesebelas; Menurut informasi terakhir dari tim dokter Puskesmas, tertanggal 16 April 2020, bahwa untuk 98 mahasiswa dan staf yang ada di lingkungan Seminari Bethel Jakarta termasuk asrama, diarahkan untuk tidak diijinkan kemana-mana tetapi mereka harus mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran Pemerintah: memakai masker, jaga jarak, sering cuci tangan dengan hand sanitizer atau sabun, jaga kebersihan barang dan baju, penyemprotan desinfektan terhadap barang dan ruangan, dan jaga makanan sehat. Saat ini mereka menerima asupan makanan yang sehat dan bergizi ditambah dengan vitamin dan olah raga yang cukup.

    Kedua belas; Sabtu esok, 18 April 2020 pukul 09.00 WIB di Seminari Bethel Jakarta, tim dokter Puskesmas akan kembali melakukan rapid test kepada semua karyawan yang dalam 2 minggu terakhir berada di lingkungan seminari dan juga kepada siswa dan mahasiswa yang tinggal di kost di lingkungan sekitar Seminari Bethel Jakarta.

    Ketiga belas; Kami selalu mengingatkan, menegaskan dan meminta kembali agar semua penghuni asrama selalu setiap saat menjaga kesehatan dan melakukan protokol kesehatan dengan ketat seperti tertulis di atas sambil menunggu arahan dari tim Kemenkes cq Puskesmas Tanah Abang. Dan bila ada yang memiliki gejala batuk, pilek, demam dan sesak nafas, kami akan segera menghubungi puskesmas Tanah Abang atau RS rujukan terkait untuk pemeriksaan lebih lanjut dan menerima arahan tindakan-tindakan yang diharuskan sesuai prosedur yang ditetapkan Kemenkes.

    Keempat belas; Kami dan kita semua sudah mengetahui secara bersama sama bahwa wabah yang tidak terduga ini dapat menimpa siapa pun; bahkan WHO sudah menyatakan wabah ini sebagai pandemic global yang telah menjangkiti seluruh dunia. Dan sebagai warga Negara yang baik sekaligus sebagai pengelola, pendidik serta anak didik di Seminari Bethel Jakarta, wajib mendukung gerakan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan melakukan protokol kesehatan dan mengikuti arahan Gugus Tugas Covid-19.

    Dan bagi yang terkena atau terpapar Covid-19, kita dukung dalam doa, kekuatan dorongan rohani dan firman serta makanan yang sehat supaya jamahan Tuhan mengalir, imunitas mereka terbangun dan cepat sembuh serta berdoa bagi para dokter, perawat, karyawan rumah sakit, dan semua orang yang sedang berjuang membantu para pasien Covid-19, kiranya kasih Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan Kesehatan.

    Demikian informasi kami sampaikan sesuai kronologi dan perkembangan terkini di Seminari Bethel Jakarta dalam mendukung program pemerintah untuk pencegahan penyebaran pandemi virus Covid-19 dan penyembuhan mereka yang sakit. Tuhan Yesus Memberkati.

    Terkait surat terbuka ini, untuk Informasi dapat menghubungi : Pdt Tonny Watimena (Hp 081284266346), Pdp Oktaria Inkiriwang, (Hp 087780783475), 3mPdm. Yada Putra Gratia, (Hp 08176336441). (*)

  • BINCANG SORE BERSAMA KETUA BPD BEKASI GBI, PDT. SAHALA NAINGGOLAN: ADA LIMA GONCANGAN YANG AKAN DIHADAPI GEREJA.

    BINCANG SORE BERSAMA KETUA BPD BEKASI GBI, PDT. SAHALA NAINGGOLAN: ADA LIMA GONCANGAN YANG AKAN DIHADAPI GEREJA.

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Pandemi Covid-19 di Indonesia kian hari kian meningkat. Terhitung hari ini, tanggal 16 April 2020, Juru Bicara Pemerintah Terkait Penanganan Wabah Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang ditayangkan You Tube BNPB, Kamis (16/04/2020), sudah tercatat yang positif 5.516 kasus, sembuh 448 sembuh, dan meninggal 496 kasus. Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 ini sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dan kehidupan pelayanan gereja.

    Ditemui di kediamannya, kompleks perumahan Kota Harapan Indah Bekasi, Rabu (15/04/2020), Ketua BPD Bekasi GBI, Pdt. Sahala Nainggolan, M.Th menyampaikan pandangan dan harapannya terkait wabah Covid-19. Secara gambalang, Pdt. Nainggolan menuturkan lima goncangan yang melanda gereja di hari-hari ini.

    “Memang kita tidak bisa pungkiri, pandemi Covid 19 ini sangat berpengaruh,” tuturnya singkat membuka bincang-bincang santai sore itu.

    “Tahun 2018, 2019 dan awal tahun 2020, saya menyampaikan khotbah pada jemaat, dimana dalam khotbah tersebut, saya menjelaskan ada 5 goncangan yang akan terjadi yaitu; goncangan iman, keluarga, kesehatan, keuangan dan goncangan diri sendiri,” tuturnya lagi.

    Lebih jelas gembala GBI Kasih Karunia Harapan Indah ini meyakini bahwa apa yang telah ia khotbahkan (5 goncangan) sedang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan berjemaat.

    “Nah, hampir tiga tahun ini saya berkhotbah menyinggung hal ini dan ternyata terjadi! Goncangan iman dimana orang berpindah agama, goncangan keluarga terjadi penceraian dan jadi berantakan. Kemudian goncangan kesehatan yang sekarang terjadi, dimana kita semua mengharapkan tidak terjadi sebab berdampak pada gonjangan ekonomi dan melumpuhkan sendi-sendi kehidupan sekarang. Kemudian goncangan diri sendiri yang paling parah membuat orang tidak stabil, iman dan roh tidak stabil juga gampang putus asa,” urainya.

    Oleh karenanya, Ketua BPD Bekasi GBI periode 2018-2022 mengajak hamba-hamba Tuhan untuk terus memberitakan firman Tuhan bahwa apa yang terjadi hari-hari ini adalah penggenapan firman Tuhan.

    “Tugas kita sebagai gereja memberikan firman kepada jemaat bahwa ini adalah pengenapan firman Tuhan, seperti tertulis di kitab 2 Timotius:1, bahwa menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kali, akan muncul kesukaran yang besar, salah satunya termasuk hal ini (Pandemi Covid-19), yang terjadi sekarang,” tuturnya.

    “Jadi semua orang Kristen harus siap menghadapi, tetapi ini belum seberapa menurut saya. Oleh karena itu, pihak gereja harus terpanggil untuk mempersiapkan jemaatnya,” tuturnya lagi.

    Terkait adanya pendapat yang mengatakan bahwa “kita jangan takut menghadapi virus ini, karena ada Tuhan”, dengan bijak Pdt. Nainggolan menyampaikan pendapatnya dilihat dari tanggung jawab orang percaya dan tanggung jawab Tuhan.

    “Memang kita tahu semua ini atas seijin dari Tuhan. Tetapi kita punya bagian dalam tanggung jawab, ada tanggung jawab kita sebagai orang percaya dan ada tanggung jawab Tuhan. Dimana tanggung jawab kita dalam masalah ini, menjaga kesehatan dan mempersiapkan diri, kalau tidak pasti terkena wabah corona ini. Kemudian jangan mentang-mentang kita punya iman, lalu menggampangkan Tuhan, itu tidak boleh. Menganggap atau berfikir pasti sembuh karena ada mujizat. Jadi kita juga ada tanggung jawab pada Tuhan,” tegasnya.

    Pada kesempatan itu, Pdt. Sahala Nainggolan juga menuturkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh seorang gembala akibat wabah Covid-19 dan permasalahan Ibadah Online.

    “Memang permasalah virus ini dampaknya sangat terasa sekali dan masalah ibadah secara online ini memang tidak maksimal karena jemaat itu banyak dari berbagai latar belakang baik dari segi ekonomi maupun usia. Llalu bila kita live streaming, tidak semua orang bisa mengikuti terutama banyak orang tua yang tidak mengikuti perkembangan tehnologi sehingga tidak bisa menggunakan alat tersebut. Intinya memang tidak maksimal,” terangnya.

    “Lalu secara ekonomi memang ada dampaknya, dimana persembahan jadi menurun, dimana penggunaan anggaran persembahan, kita gunakan buat gereja dan orang yang bekerja di gereja, seperti contoh; cleaning servis , satpam dan pekerja di gereja,” terangnya lagi.

    “Memang dari segi positifnya ibadah secarai online ini bisa menjangkau segala pelosok sampai keluar negeri, tetapi yang kita utamakan internal kita, yaitu jemaat di gereja kita sendiri. Kalau dikatakan secara untuk umat memang bermanfaat tetapi tidak secara langsung. Sentuhan itu penting dari pada lewat media sosial. Sebab keakraban bisa terlihat disitu, sehingga pelayan bisa lebih ekfekti dan jauh lebih bagus daripada tayangan, tambah Pdt. Nainggolan.

    Disinggung soal sikap hamba Tuhan yang tidak terbuka bila terkena Virus Corona, Pdt. Nainggolan pun menuturkan soal pentingnya keterbukaan, jangan sungkan dan gengsi.

    “Mungkin ada rasa sungkan dan gensi. Bagi sebagian orang, yang namanya hamba Tuhan pasti dekat pada Tuhan, jadi malu mengakui. Justru harus berani mengakui agar bisa sembuh,” tegasnya.

    Pada bagian akhir pembicaraan, Ketua BPD Bekasi GBI ini menyampaikan harapannya dan mengajak semua umat Tuhan untuk terus berdoa supaya wabah Covid-19 segera selesai.

    “Pertama, saya akan terus berdoa supaya masalah wabah ini cepat selesai dan saya mengimani terhadap doa saya, agar tanggal 15 Mei itu, sudah bisa kebaktian kenaikan, sebab saya sudah programkan disini kebaktian gabungan dari anak sampai dewasa, juga umum,” harapnya.

    “Tetap kita berdoa supaya Tuhan tolong kita! Dan kita sebagai hamba Tuhan, terus mempersiapkan jemaat agar bisa kuat menghadapi krisis ini dan melewati dengan baik. Dengan cara melalui grup whatsaap dan media sosial lainya, untuk pesan himbauan agar kita kuat menghadapi krisis ini. Kesulitan pasti terjadi tapi kalau Tuhan menyertai kita, pasti Tuhan menolong kita,” harapnya lagi

    Secara khusus Pdt. Nainggolan mengajak semua umat untuk tetap mengikuti anjuran pemerintah. Ia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi pada para dokter, perawat yang bertugas di garis depan dalam menghadapi wabah virus corona.

    “Ikutilah anjuran pemerintah, kemudian tidak lupa saya mengucapkan terimakasih tak terhingga pada dokter, perawat juga relawan yang tergabung di tim medis sebab mereka garda terdepan dalam menghadapi virus Covid-19,” tutupnya mengakhiri bincang-bincang. (*)