Category: Artikel

  • Keterangan BPD GBI Jawa Barat Merespon Pemberitaan Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat

    Keterangan BPD GBI Jawa Barat Merespon Pemberitaan Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat

    BANDUNG, WARTANASRANI.COM – Berkenaan dengan pemberitaan pandemi Covid-19 di Jawa Barat, yang dirilis dari berbagai media yang memberitakan tentang telekomfrensi antara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan wakil Presiden KH. Mahruf Amin, yang dalam telekomfren tersebut, Ridwan dalam salah satu laporannya mengatakan tentang penularan virus corona atau covid 19, salah satu penyebabnya tentang adanya pasca kegiatan GBI Sukawarna di Lembang Bandung.

    Menanggapi tentang pemberitaan tersebut pihak Badan Pengurus Daerah (BPD) Jawa Barat, Pdt. Satrya Ketua BPD Jawa Barat mengirimkan rilisnya ke berbagai media, Sabtu 5/04/20, yang dikirmkan langsung Ketua Umum BPH GBI Pdt. Rubin Adi Abraham.

    Dengan rilis yang disampaikan bermaksud memberikan penjelasan terkait pemberitaan tentang GBI di Bandung, agar jemaat GBI maupun masyarakat luas beroleh pemahaman yang lebih tepat.

    Pdt. Satrya menegaskan bahwa, Pertama, di mana dalam pertemuan Pastors’ Meeting tanggal 3-5 Maret 2020 adalah program internal GBI Sukawarna yang sudah dijadwalkan. Pihak GBI Sukawarna telah mengkonfirmasikan bahwa yang mengikuti acara ini sebanyak 170 peserta, yaitu mereka yang mengikuti acara dengan penuh adalah 150 orang dan sekitar 20 orang lainnya bolak-balik ke kota Bandung dikarenakan pekerjaan dll.

    Kedua, acara ini dilaksanakan sebelum adanya himbauan Social Distancing, karena baru tanggal 2 Maret 2020 Presiden RI mengumumkan adanya 2 orang yang terinfeksi Covid-19 di Depok (1 hari sebelum pelaksanaan acara di Lembang).

    Lalu ketiga,tidak terpikirkan adanya resiko paparan virus tersebut berkenaan dengan pertemuan yang melibatkan orang banyak.

    Keempat, baru sekitar tanggal 5 Maret 2020 diumumkan agar melakukan Social Distancing. Selanjutnya dari kebijakan mencegah pandemic corona ini kemudian disusul dengan, Himbauan Presiden pada hari Minggu siang, tanggal 15 Maret 2020, untuk bekerja dari rumah, belajar di rumah dan ibadah di rumah.

    Berangkat dari himbauan yang disampaikan presiden maka, BPH GBI pada hari Rabu, tanggal 18 Maret 2020, menghimbau kepada seluruh gembala/gereja lokal untuk menaati himbauan pemerintah dan mengalihkan ibadah di rumah/keluarga.

    Sedangkan di wilayah Bandung sendiri kesepakatan Bersama Gereja-gereja di Bandung pada tanggal 19 Maret 2020 untuk beribadah di rumah mulai tanggal 21/22 Maret 2020. Bersamaan dengan maklumat Kapolri tanggal 19 Maret 2020 tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan virus Corona (Covid-19).

    Sementara dalam pemantauan pihak pengurus BPD GBI Jawa Barat, hingga sampai tanggal 15 Maret 2020, GBI dan seluruh umat beragama lainnya masih melaksanakan ibadah sebagaimana biasanya.

    Maka dengan ini pihak GBI memastikan tidak ada maksud membangkang seruan pemerintah, terbukti sejak tanggal 22 Maret 2020 sampai saat ini seluruh ibadah Minggu dilaksanakan di rumah, demikian juga halnya dengan kegiatan pertemuan lainnya untuk sementara dilakukan secara online/daring. Dan hal ini bukan hanya dilakukan di kota Bandung dan Jawa Barat saja namun di seluruh Indonesia bahkan GBI di luar negeri.

    Tentang pandemic Covid 19 ini, pengurus GBI memandang bahwa semua ini adalah wabah yang tidak terduga dan dapat menimpa siapa pun tanpa memandang dari suku, agama, kelompok, golongan mana pun; bahkan WHO sudah menyatakan wabah ini sebagai pandemi global yang menjangkiti sekitar 200 negara.

    Bahkan dengan tegas BPH GBI melalui BPD Jabar GBI, melalui surat resmi dan berbagai media sudah memberikan arahan agar setiap gembala, pejabat dan pengerja,- khususnya peserta Pastors’ Meeting di Lembang dan peserta kebaktian yang diadakan di GBI Aruna, GBI Baranangsiang dan seluruh cabangnya, untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Kesehatan setempat dengan melaporkan/memeriksakan diri bila mengalami gejala terinfeksi Covid-19, dan melakukan isolasi mandiri bagi yang tidak mendapati gejala sekalipun.

    Doa dan harapan kami:

    Melalui peristiawa pandemic covid 19 ini, pihak GBI berharap Kita dapat memandang wabah ini sebagai pandemi yang harus dihadapi dan diperangi oleh seluruh rakyat Indonesia bahkan seluruh dunia. Sehingga tidak perlu adanya lagi sebutan terhadap kelompok tertentu agar kesatuan tetap terpelihara dan tidak menimbulkan stigma yang tidak diinginkan.

    Selanjutnya GBI baik di tingkat pusat, daerah maupun gereja lokal dapat bersehati bergandengan tangan menanggulangi wabah ini. Dengan aktif memberikan arahan agar jemaat tetap melakukan physical distancing agar tidak tertular virus Corona maupun menularkan (sebagai carrier).

    Sebagai orang percaya GBI mengajak kita berdoa, kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan ketabahan bagi orang-orang yang anggota keluarganya menjadi korban pandemi Covid-19 ini. Pesannya bijaksanalah dalam menerima dan mengelola berita. Jangan menyebarkan berita yang tidak membangun, terlebih yang berpotensi menimbulkan polemik/perdebatan, kepanikan bahkan bertentangan dengan hukum.

    Mari kita berdoa bagi para dokter, perawat, karyawan rumah sakit, dan semua orang yang sedang berjuang membantu para pasien Covid-19, kiranya Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan kepada mereka. Berdoalah bagi Presiden dan aparat pemerintah agar diberikan kesehatan, hikmat dan kesehatian dalam menangani pandemi di negeri ini.

    Bagi gereja sendiri BPH GBI mengajak Gereja Tuhan, bersama-sama kita menjadi terang sesuai dengan Yesaya 58. Berperan aktif dalam masyarakat untuk bertolong-tolongan menanggung beban, maka Tuhan akan memulihkan Indonesia.

    Melalui rilis ini pihak BPH GBI dan BPD GBI Jabar dapat membuat kita semakin memiliki pemahaman yang positif dan dapat semakin SEHATI. Rillis yang dikeluarkan dari BPD GBI Jabar ini menjawab, di mana sudah beredar tentang pemberitaan penularan Covid 19 disebutkan nama GBI salah satu yang menularkannya, seperti yang telah disampaikan di berbagai media yang dikutip sebagai berikut. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil merilis angka terbaru warga Bandung positif terjangkit virus Corona atau Covid-19, pascamengikuti acara keagamaan di Gereja Bethel Indonesia (GBI), Lembang. Menurutnya, dari 637 jemaah yang dites rapid, 35 persennya dinyatakan positif. “Ini yang kami namakan klaster Bandung, 637 jemaah gereja dites, 226 dinyatakan positif, atau 35 persen,” kata Ridwan Kamil kepada Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam rapat telekonferensi, Jumat (3/4/2020).

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelaskan, ada hasil rapid test yang baginya mengagetkan. Hal itu terkait Jemaat dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Bandung. Menurutnya, dari 637 orang yang dites, terdapat 35 persen orang yang positif COVID-19.

    “Dites 637 jemaat Gereja Bethel yang dites, 226-nya positif atau 35 persen,” kata Ridwan Kamil, dalam percakapan via Telekonferensi dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Jumat (4/4/2020).

    Ini merupakan salah satu dari empat klaster penyebaran COVID-19 di Jawa Barat. Klaster ini disebut Ridwan Kamil sebagai: klaster seminar keagamaan di Lembang.

    “Mereka berkumpul, pendetanya melakukan sentuhan fisik. Pendetanya sudah meninggal dunia karena COVID-19,” tuturnya.

    Pendeta yang dimaksud Ridwan Kamil ialah, AN. Usianya 70 tahun. Dia mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/3/2020) lalu, dengan keluhan sesak napas.

    Pendeta tersebut tak terselamatkan. Dia tutup usia pada, Sabtu 21 Maret 2020, pukul 9.40 pagi. Istri pendeta tersebut, mengalami gejala sama juga sempat dirawat RSHS, dan ia pun tak terselamatkan. Perempuan 62 tahun itu meninggal dunia pada, Jumat 27 Maret pukul 14.15.

    Dengan apa yang sudah disampikan ini Pdt. Satrya mengharapkan tidak ada lagi polemic yang berkepanjangan, kiranya Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita semua, pungkasnya. (YM)

  • PESAN PASTORAL PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA PGLII

    PESAN PASTORAL PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA PGLII

    WARTANASRANI.COM – Mahami Tema PGLII 2020-2024, yakni *Menghadirkan Kabar Baik dan Membangun Bangsa Melalui Iman yang Dalam dan Kokoh” (Markus 16:15; Yesaya 25:3) kita diajak untuk kembali merenungkan bangunan kehidupan iman Kristen kita, panggilan kita dan tanggung jawab kita masing-masing.

    Anggota dan Pengurus PGLII

    Pertama, Tidak ada seorang pun di Indonesia yang sebelumnya telah menduga akan terjadi sebaran Covid19 yang merebak dari Wuhan-China ke seluruh dunia, lebih dari 200 negara, bahkan termasuk di Indonesia. Pengaruh Covid19 telah *merubah* banyak tatanan kehidupan keagamaan, sosial-ekonomi, politik, dunia tenaga kerja, termasuk kehidupan masing-masing keluarga. Banyak ahli bependapat untuk merestorasi akibat Covid19, dalam ukuran suatu negara besar dan maju saja dibutuhkan waktu diatas dua tahun. Dari sisi, tatanan ekonomi tidak ada satupun negara yang mencapai target, mata uang banyak negara anjlok, pengangguran di seluruh dunia meningkat, sementara kebutuhan pokok mulai dari bayi hingga lanjut usia menjadi sangat sulit diperoleh dan mahal. Hal ini, belum termasuk kebutuhan energi, kesehatan, pendidikan dan keuangan yang menjadi sangat tidak stabil. Covid19 benar-benar telah membuat banyak kepala negara menjadi sangat repot karena vaksin Covid19 belum juga ditemukan, dan masih belum tahu berapa lama harus me-lockdown atau mengkarantina negaranya, wilayahnya atau kotanya? Korban yang berjatuhan akibat Covid19 tidak mengenal batas dan status sosial manusia. Ada Pangeran, Ratu, Menteri, Artis, Olahragawan, Pengusaha, Tenaga medis, Pendeta, Kiayi, rakyat biasa dan siapa saja. Dan hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya Covid19 akan segera berhenti?

    Kedua, Kita adalah orang yang percaya dan beriman kepada Allah Bapa, Yesus Kristus Juruselamat dan Kepala Gereja kita, dan Roh Kudus Penolong dan Penghibur kita sekalian. Kita hidup dalam suatu hubungan yang terjaga dengan Allah kita, kasih kita dan keyakinan iman kepada Tuhan Yesus melampaui apapun yang ada di dunia ini. Kita adalah anak-anak-Nya (Yohanes 1:12), kita memiliki Roh Kristus (Roma 8:9,10); kita memiliki roh yang lebih besar dari roh yang ada dalam dunia ini (1 Yohanes 4:4), karena Roh Kudus dicurahkan di dalam kehidupan kita, kita memiliki kuasa dan menjadi saksi-Nya (Kisah Para Rasul 1:8), kita diberi kuasa di dalam namaNya untuk mengusir setan (Markus 16:17); dan kita juga diberi kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, dan kuasa untuk menahan segala kekuatan musuh (Lukas 10:19); dan tidak ada hal apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Roma 8:35). Namun demikian, tidak dibenarkan jika kita menjadi lalai atau ceroboh dalam menghadapi sebaran Covid19. Hal-hal yang telah telah dihimbau dan diatur oleh World Health Organization (WHO) dan Pemerintah RI, untuk menghentikan sesaat seluruh kegiatan peribadahan yang mengumpulkan banyak orang, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah di rumah; Menjaga jarak – Social Distancing, Phisical Distancing, tetap menjaga hidup sehat dan tetap tinggal di rumah, sangat perlu disambut dan diikuti dengan baik.

    Ketiga, Karena itu betapa kita patut bersyukur dan menjadi sangat penting karena kita sekalian hidup “di dalam Kristus”, memiliki kesempatan menghadirkan Injil Kabar Baik, sekaligus tetap terlibat dalam pembangunan bangsa melalui iman yang dalam dan kokoh (Markus 16:15; Yesaya 25:3). Memiliki iman yang semakin dalam dan semakin kokoh *Deeper and Stronger Faith* (Yohanes 15:7, Kolose 2:6,7); memiliki Pikiran Kristus (1 Korintus 2:16); dimana kita hidup dengan percaya dan bukan dengan melihat (2 Korintus 5:7). Ya, hanya dengan “Iman yang makin dalam dan makin kuat” kita dimampukan menghadapi semua ujian dan tantangan yang tengah terjadi, namun tetap berada pada barisan perarak-arakan pembangunan bangsa yakni melalui ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika melawan musuh bangsa ini termasuk Covid19. Dari adanya sebaran Covid19 ini, kita patut belajar memahami maksud dan rencana Tuhan, sekaligus memeriksa dan merenungkan kembali bangunan seluruh hidup keimanan kita, keluarga kita, ibadah kita dan pelayanan kita. Betapa kita patut menyadari, bahwa “Kekristenan yang dangkal” hanya berakibat pada kehidupan iman kita jauh dari kemampuan untuk berdiri kuat, yang memampukan kita bertahan menghadapi gelombang ujian yang sangat besar ini. Saat seperti ini, bukan lagi suatu pilihan tetapi keharusan, bahwa Kekristenan kita haruslah “Kekristenan yang dalam dan kuat” karena dengan demikian, sehebat apapun tantangan dan ujian yang datang, setiap orang Kristen tidak dibenarkan jatuh sampai tergeletak (Mazmur 37:24). Di dalam Kristus, kita diajarkan untuk merayakan kehidupan ini, yang karenanya kita diajarkan untuk mengutamakan dan memperjuangkan juga kehidupan ini, yang kelak memampukan kita mengkomunikasikan kehidupan Kristiani kita yakni sebagai garam dan terang dunia (Matius 5: 13-16), sebagai suatu kesaksian Allah kita di dalam Kristus, bahwa Ia hidup, berkuasa dan peduli atas kehidupan kita, keluarga kita, pelayanan kita dan jemaat serta masyarakat yang majemuk.

    Keempat, Berdiam di rumah adalah kesempatan yang harus digunakan untuk membangun kembali relasi di antara sesama anggota keluarga, sekaligus membangun ibadah keluarga yang kemungkinan selama ini tidak pernah atau jarang dilakukan, termasuk oleh keluarga Anggota dan Pengurus PGLII. Demikian pula bagi gereja-gereja dan lembaga-lembaga keagamaan, situasi yang berkembang akibat Covid19 yang telah membawa banyak perubahan dan akibat, seperti kehidupan ini menjadi sulit, perlu segera secara bersama-sama untuk saling membantu dan memberi bantuan baik dalam bentuk doa, tenaga sukarela, barang maupun uang, yang diperlukan baik untuk warga gereja, hamba-hamba Tuhan atau masyarakat luas. Dan tentu saja dalam situasi seperti ini, bukan saja ibadah on line menjadi “salah satu” pilihan yang baik untuk tetap menggembalakan kawanan domba Allah, tetapi juga kesempatan untuk membangkitkan iman serta melaksanakan Amanat Agung yang sedang terbuka luas. Inilah waktu penuaian yang besar bagi siapa saja yang meleyani Tuhan dan tetap setia terhadap Amanat Agung, karena hari ini sedang banyak orang yang hidup dalam rasa takut, ketidakpastian dan kecemasan, yang membutuhlan keselamatan sejati dari Tuhan Yesus Kristus. Inilah waktunya menyebarkan Injil Kabar Baik itu.

    Akhirnya…

    Seluruh Anggota dan Pengurus PGLII yang dilindungi dan diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja kita, marilah kita semua tetap menjalankan kehidupan iman yang terus bersandar kepada Tuhan Yesus Kristus, membangun iman yang semakin dalam dan kuat, membangun kehidupan dalam kesederhaaan, dan membangun persekutuan vertikal dan horizontal sesuai Injil Matius 22: 37-40. Kita juga tetap diajak untuk tetap tekun berdoa, membaca Alkitab, tenang dan percaya bahwa masa-masa kesulitan akibat Covid19 akan segera berakhir. Bersama Yesus kita tetap berkemenangan, amin!

    Salam Injili

    Ketua Umum PP PGLII

    Ronny Mandang.

  • DR. S. TANDIASA: ANTARA VIRUS CORONA DAN IBADAH

    DR. S. TANDIASA: ANTARA VIRUS CORONA DAN IBADAH

    WARTANASRANI.COM – Wabah penyakit – istilah alkitab penyakit sampar – apapun jenis atau penyebabnya, sudah diungkapkan dalam alkitab sebagai bagian dari masalah-masalah sosial yang sudahh sering terjadi. Secara historis, peristiwa-peristiwa yang disebut wabah penyakit, bukanlah sesuatu yang baru. Bencana sosial berupa wabah penyakit sudah terjadi di sepanjang sejarah hidup manusia, hanya mungkin jenis dan namanya yang berbeda-beda.

    Sumber Foto: kemenkes.go.id

    Virus corona yang sekarang sedang menggoncang dunia dan mencekam bangsa Indonesia, adalah bagian dari sejarah masalah-masalah sosial yang sudah terjadi di masa lampau dan tentunya masih akan terjadi di masa yang akan datang. Tetapi yang perlu dicatat untuk diingat, khususnya bagi orang-orang Kristen adalah bahwa kejadian-kejadian semacam itu tidak selalu ada hubungannya atau tidak harus dihubung-hubungkan dengan masalah-masalah eskatologi, masalah kiamat, tidak harus dilihat sebagai fenomena akhir zaman, atau tanda-tanda kedatangan Yesus.

    MENANTANG BAHAYA DEMI IMAN

    Bahwa ada gereja-gereja yg kemudian harus meliburkan kegiatan-kegiatan ibadahnya, itu tidak bisa serta merta dimaknai sebagai bentuk kemunduran gereja, atau tanda kemerosotan iman, atau gejala tidak percaya lagi akan kekuasaan Tuhan. Libur atau meniadakan ibadah komunal ini hanyalah bentuk sikap berjaga-jaga, karena di depan mata kita tampak dengan jelas adanya bahaya.

    Alkitab memberi nasehat supaya kita jangan mencobai Tuhan. Jika anda sudah tahu dan apalagi sudah melihat di depan ada jurang, atau ada bahaya,janganlah kita menganggapnya seakan-akan tidak ada, lalu anda berjalan terus ke depan dengan alasan iman, atau karena mengandalkan kekuasaan Allah. Ini adalah bentuk iman yang buta. Salah satu jebakan yang paling sering digunakan oleh iblis untuk menghancurkan orang beriman adalah dorongan untuk menantang bahaya atau masalah atas dasar iman. Tidak jarang orang Kristen mengeksploitasi iman untuk membenarkan segala tindakannya.

    Iblis pernah melakukan hal ini pada Yesus. Iblis meminta Yesus untuk membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah dengan cara mejatuhkan diri dari bubungan bait Allah. Iblis meyakinkan Yesus bahwa sesuai Firman Allah, Yesus sebagai Anak Allah tidak mungkin celaka, karena Allah akan mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menatang sehingga kaki Yesus tidak akan terluka.

    Semua yang dikatakan iblis itu benar karena yang dikatakannya adalah Firman Allah. Iblis mengutip teks-teks dari Firman Allah. Dengan kata lain iblis berbicara atas dasar Firman Allah. Akan tetapi Yesus tidak melakukannya. Mengapa? Karena Yesus tidak mau mengeksploitasi sifat keallahannya dan kemahakuasaan Bapanya hanya demi membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah. Yesus mau tidak menantang bahaya atas dasar iman akan firman Allah. Andaikan Yesus menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah, sudah pasti Yesus tidak akan terluka. Tetapi Yesus tidak melakukannya.

    Dengan itu Yesus menyatakan bahwa menantang sesuatu yang sudah diketahui berbahaya dengan alasan Iman atau karena ada tertulis dalam Firman Tuhan, adalah sikap MENCOBAI Tuhan. Biasanya jebakan-jebakan iblis seperti ini berhasil pada mereka yang sangat berapi-api dalam IMAN tetapi SALAH KAPRAH dalam memahami dan menerapkan Firman Allah. Orang-orang seperti inilah yang disebut memiliki iman tetapi tanpa pengetahuan yang benar. Albert Einsteinn bilang: Iman tanpa pengetahuan buta…

    TANGAN TUHAN DAN TANGAN MANUSIA

    Terlepas dari agama yang dianut, kita semua meyakini bahwa di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan. Hanya Tuhan yang sanggup melindungi kita dan bangsa ini dari virus Corona. Hanya Tuhan Allah yang sanggup memelihara bangsa sehingga bisa melewati masa-masa sulit, yaitu ancaman virus corona. Dan jika sudah ada yang terpapar Corona, hanya kuasa Tuhan pula yang mampu menyembuhkan. Akan tetapi perlu disadari bahwa cara kerja kuasa Tuhan, baik untuk mencegah, memelihara, atau pun untuk menyembuhkan dari virus corona, tidak terbatas hanya melalui doa-doa atau melalui kegiatan-kegiatan ibadah. Cara kerja kuasa Allah juga tidak hanya berupa tindakan-tindakan mujizat, atau tindakan-tindakan supranatural.

    Makna kemahakuasaan Tuhan tidak hanya berarti bahwa Allah dapat melakukan segala sesuatu hanya melalui kata-kata, tetapi juga berarti bahwa Tuhan dapat dan mebas menggunakan segala sesuatu menjadi sarana dan cara untuk menyatakan kuasa-Nya, untuk melindungi, memelihara, menyembuhkan dan menyelamatkan manusia dari bahaya-bahaya maut.

    Dalam konteks wabah virus corona yang sedang mencekam Indonesia, termasuk di dalamnya mengancam orang-orang beriman, kiranya perlu disadari secara mendalam bahwa pemerintah dengan seluruh perangkatnya, adalah juga bagian darintangan Tuhan. Tuhan menggunakan berbagai instansi pemerintah, lembaga negara, dan paramedis sebagai tangan-Nya untuk menyelamatkan bangsa ini dari wabah Corona.

    Kebijakan-kebijakan dan upaya-upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari virus corona harus dilihat sebagai kepanjangan dari tangan Tuhan yang sedang terukur untuk menolong kita. Lembaga pemerintahan juga adalah hamba Tuhan yang diutus untuk menolong, melindungi, dan memberkati masyarakat.

    Perhatikanlah Firman Tuhan yang disampaikan rasul Paulus berikut ini: ‘Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat’ (Rom. 13:1-4)

    IBADAH BERJEMAAT

    Himbauan pemerintah supaya untuk sementara waktu kita menghindari kegiatan-kegiatan yang sifatnya menghimpun massa dalam jumlah besar, termasuk berhimpun untuk beribadah, merupakan salah satu cara yang dianggap baik oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran lebih luas virus corona.

    Pemerintah bertujuan menolong, menyelamatkan, dan menghindarkan masyarakat dari penularan virus yang mematikan itu. Orang-orang beriman perlu menggunakan akal budi dalam meresponi himbauan atau kebijakan pemerintah tersebut. Karena tujuan dan maksud utama dari kebijakan tersebut BUKANLAH melarang kita untuk berkumpul beribadah, sama sekali bukan itu maksudnya.

    Tujuan utamanya adalah MENCEGAH dan MENGHINDARI penyebaran dan penularan virus corona yang dapat terjadi ketika jemaat berkumpul beribadah dalam jumlah yang besar di dalam ruangan-ruangan kebaktian.

    Bahwa kemudian ada saran atau anjuran untuk melakukan ibadah dalam bentuk ONLINE, dan mungkin ada gereja-gereja yang sudah melakukannya, hal ini harus dilihat sebagai masalah ‘Situasional’. Artinya beribadah online – tidak berkumpul bersama-sama, bukanlah fenomena lunturnyan iman, bukan pula tanda-Tand kemunduran rohani, apalagi menyebutnya ‘bukan iman sejati’.

    Terlalu gegabah dan sangat kurang bijak bila ada orang Kristen, apalagi hamba Tuhan, yang berpendapat demikian. Wabah virus corona ini adalah sebuah bencana sosial yang sifatnya temporer, yang mungkin akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, atau tidak selamanya.

    Sama halnya ketika terjadi bencana-bencana alam, seperti gunung meletus, banjir bandang, atau gempa bumi besar, penduduk atau jemaat yang ada di daerah-daerah yg terkena bencana alam, pastilah tidak dapat berkumpul untuk beribadah bersama-sama selama beberapa waktu, demikian juga kita harus melihat situasi virus corona ini.

    Dengan kata lain, himbauan untuk tidak beribadah dengan cara berjemaat – mengumpulkan masa, hanya bersifat temporer, hanya untuk beberapa saat demi kebaikan kita bersama.

    Pertanyaan-pertanyaan seperti: boleh atau tidak, salah atau benar, sesuai dengan Alkitab atau tidak, kalau kita beribadah dengan model online? Lalu kalau ibadah dilakukan dalam bentuk online, bagaimana jemaat membawa persembahan dan persepuluhan?

    Kiranya umat kristiani perlu manyadari bahwa ibadah online yang disarankan saat ini bukanlah sesuatu yang bersifat ajaran atau doktrin teologi yang kemudian harus dianut. Ibadah online adalah sesuatu yang bersifat emergensi, dilakukan dalam keadaan darurat. Jadi apa salahnya? Tentang bagaimana jemaat atau kita membawa persembahan kalau ibadahnya online?

    Maaf, menurut penulis, sangatlah tidak etis jika dalam situasi dan kondisi bencana yang telah merengut ribuan nyawa sesama manusia ini, lalu yang dipikirkan, yang dipersoalkan, dan yang dipertanyakan adalah tentanguang persembahan atau persepuluhan. Kiranya akan jauh lebih mulia dan lebih terhormat, bila dalam situasi saat ini, yang kita dipikirkan dan tanyakan adalah tentang: bagaimana kita bisa saling peduli? Apa yang bisa kita lakukan untuk saling menolong? Dan sebagai umat beriman, kiranya akan jauh lebih indah bila di tengah-tengah situasi yang mencekam ini kita saling mendoakan, saling menguatkan, saling menghibur tanpa melihat identitas gereja, agama, suku, dan status sosial.

    AKHIRNYA

    Wabah virus corona, atau istilah Alkitab, penyakit sampar, pasti berlalu. Kita hanya dituntut untuk bersikap bijaksana, waspada, dan bersabar dalam menghadapinya. Dan ingatlah, Allah tidak pernah, Allah menyertai kita. Badai ini pasti berlalu. Salam.

    Penulis: Dr. S. Tandiasa

  • STT Bethesda Bekasi Kembali Buka Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019/2020

    STT Bethesda Bekasi Kembali Buka Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019/2020

    WARTANASRANI.COM – Memasuki Semester Gasal 2019/2020, Sekolah Tinggi Teologi Bethesda Bekasi (STTB), kembali membuka penerimaan mahsiswa baru dan pindahan dengan dua pilihan program studi untuk Sarjana (S1); Stratum Satu Teologi Kependetaan (S.Th) dan Stratum Satu Pendidikan Agama Kristen (S,Pd). Sementara untuk Program Magister (S2) tersedia Program Studi Magister Teologi (M.Th).

    Sekolah Tinggi Teologi Bethesda adalah Institusi Pendidikan Tinggi Teologi yang didirikan dan diselenggarakan oleh Yayasan Pelayanan Bethesda dan bernaung di bawah Gereja Masehi Injili Sangihe dan Talaud (GMIST) dan telah terakreditasi Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN-PT) baik Program Studi maupun Institusi.

     

    Adapun Visi STTB, Menjadi Perguruan TInggi Teologi dan Agama Kristen yang berkualitas, Kontekstual dan berintegritas.

    Misi: Menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang efektif melalui penyanjian yang berbasis kompetensi; Melaksanakan pengabdian masyarakat dengan mendedikasikan Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen di era globalisasi dalam masyarakat; Melatih, meningkatkan dan memotivasi melalui penyebaran dan penerapan Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen di lingkungan gereja, sekolah dan masyarakat pada umumnya.

    Memiliki sarana dan prasarana yang mumpuni, antara lain: gedung milik sendiri, ruang kuliah ber-AC, ruang auditorium full AC, perpustakaan, lab. komputer, asrama, STT Bethesda menjadi salah satu Perguruan Tinggi Teologi dan Agama Kristen pilihan yang tepat di Kota Bekasi dan sekitarnya.

    Untuk melatih dan mempersiapkan mahasiswa/i-nya sebagai hamba Tuhan yang berjiwa pelayan, berpikir oikumenis dan kontekstual, kompetitif serta responsif terhadap panggilan pelayanan sesuai amanat agung (Matius 28:19-20), STTB menyediakan tenaga pengajar yang berkarakter Kristus dan profesional.

    Lebih jauh, berikut daftar Dosen STT Bethesda Bekasi: Dr. Orpa Luas, M.Th.; Capt. Dr. Krets Mamondole, M,Mar., M,Th.; Dr. Eghmon W. Rumpia, M.Th.; Dr. Steady O. S. Simon, M.Pd.; Kiem Rindu, M.Th., M.Pd.; Meilinda Balaati, S.Si.Teol., MI.Kom., M.Th.; Alfriend Takasowa, M.Mis., M.Th.; Dr. Alexander W. Taliak, M.Th.; Dr. Ir. Walter Ch. Harman, M.Th.; Joyman Waruwu, M.Th.; Fransisca Sudarmi, M.Pd., M.Th.; Dr. Fotinus Paul Gulo, M.Th.; Djenry Gandaria, M.Th.; Ganefosius Pangandaheng, M.Th.; Kalfin SInain, M.Th.; Sugi, M.Th.; Herlina Soni Sinaga, S,H., M.Pd.; Hangky Namangge, M.Th.; Dr. Jumalintong Sihombing; Salmineo Silitonga, M.Th.; Glend Menda, M.Th.; Ronald S. Onibala, M.Pd.; James Damping, M.Th.; Syaiful Hamzah, M.Th.

    STTB menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu namun berprestasi dan memiliki komitmen untuk melayani.

    Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut persyaratan dan ketentuan menjadi mahasiswa/i di STTB, dapat menghubungi sekretariat kampus yang beralamat di Sentra Niaga 5 Blok 8 No. 3, Harapan Indah Bekasi 17131, Jawa Barat, Indonesia, Telp. 021-8888 7175, HP/WA 0812 9638 8867, 0812 1807 5938, website: www.sttbethesda.ac.id, email: sttbethesdabekasi10@gmail.com atau datang langsung ke Kampus STT Bethesda setiap Senin-Jumat Pkl. 09.00-17.00 Wib.  (*)

  • PGI Himbau Warga Jemaat Tidak Golput, Pelajari Rekam Jejak Para Calon Dan Jauhi Hoaks

    PGI Himbau Warga Jemaat Tidak Golput, Pelajari Rekam Jejak Para Calon Dan Jauhi Hoaks

    WARTANASRANI.COM – Menyambut Pesta Demokrasi yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 yang akan datang, Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (MPH-PGI) mengeluarkan Pesan Pastoral yang berisi lima poin penting seruan PGI kepada Gereja-Gereja, Warga Jemaat, Para Kontestan – Capres/Cawapres dan Caleg, Penyelenggara Pemilu dan kepada Aparat Keamanan.

     

    Dalam isi seruan kepada Warga Jemaat, pertama PGI menyampaikan untuk tidak golput sebaliknya secara pro aktif mencek dan memastikan seisi rumahnya yang memiliki hak pilih terdaftar sebagai pemilih tetap.

     

    “Warga jemaat agar ikut hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab. Dengan demikian kita meminimalisasi kemungkinan penyalahgunaan kertas suara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Jangan golput! Kami mendorong seluruh warga jemaat untuk proaktif mencek Daftar Pemilih Tetap dan memastikan namanya tercantum di sana. Jika hendak bepergian hendaknya mengurus Formulir A5 agar dapat mencoblos di daerah yang dituju. Diharapkan seluruh warga gereja dapat memastikan seluruh anggota keluarga, teman kerja, asisten rumah tangga dan orang-orang di sekitar lingkungannya yang telah memiliki hak pilih namun tidak berada di tempat asal pada waktu pemilihan agar segera mengurus Form A5 di kantor KPU kabupaten/kota tempat yang dituju”.

     

    “Jika hendak berlibur pada hari pemilihan, kami sarankan untuk berangkat setelah menyelesaikan pencoblosan di TPS. Dalam menentukan pilihan, hendaknya merujuk kepada nasihat ketika hendak memilih pemimpin umat sbb.: “…carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap…(Kel.18:21), “sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutar balikkan perkara orang-orang yang benar.” (Kel.23:8)”.

     

    Pada bagian kedua, MPH-PGI berharap Warga Jemaat untuk mempelajari rekam jejak para calon, apakah sudah terbukti atau hanya sebatas janji-janji.

     

    “Pelajari track record atau rekam jejak para calon, apakah sudah terbukti dalam memikirkan dan melakukan hal-hal yang mensejahterakan seluruh rakyat atau baru sebatas janji-janji; utamakan pemimpin yang memiliki integritas, menghargai kemajemukan, menjunjung hak asasi manusia, kebebasan beragama serta kesetaraan gender; berwawasan lingkungan, jujur dan santun; tidak terindikasi korupsi dan melakukan politik uang; serta berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan mengutamakan persatuan bangsa”.

     

    Terakhir, pada bagian ketiga, PGI menegaskan agar Warga Gereja tidak mudah mempercayai  berita-berita hoaks/atau kebohongan.

     

    “Jauhi hoaks dan/atau kebohongan. Ingatlah nasihat Paulus dalam 1 Tesalonika 5:21: “ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Hargailah sesama warganegara walaupun pilihan politiknya mungkin berbeda. Warga gereja dapat berpartisipasi dalam memantau proses persiapan pemilu, waktu pelaksanaan pemilu, dan pada waktu penghitungan di TPS-TPS. Warga gereja dapat melaporkan kepada Bawaslu atau KPU terkait pelanggaran-pelanggaran dalam penyelenggaraan Pemilu tanpa takut”.

     

    Demikian seruan kepada Warga Jemaat dalam pesan  pastoral PGI tertanggal 8 Maret 2019, yang ditandatangani Pdt. Henriette Hutabarat Lebang (Ketua Umum) dan Pdt. Gomar Gultom (Sekum). (*)

  • Capres Diharapkan Bersikap Terkait Komitmen Menjaga Keberagaman Bangsa

    Capres Diharapkan Bersikap Terkait Komitmen Menjaga Keberagaman Bangsa

    WARTANASRANI.COM – Debat Capres perdana hari ini akan menjadi sorotan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam debat ini akan terlihat bagaimana sikap para calon terhadap persoalan kebangsaan saat ini, khususnya mengenai meningkatnya radikalisme dan terorisme selama beberapa tahun belakangan.

    Para calon diharapkan dapat menunjukkan sikap yang tegas terhadap tindakan radikal dan terorisme yang semakin marak terjadi, antara lain penyerangan terhadap pemuka agama, penutupan rumah ibadah, banyaknya ujaran kebencian terkait SARA, intimidasi dan persekusi kepada orang-orang yang berbeda paham, agama, ataupun etnis. Para calon juga harus menjelaskan bagaimana strategi memberantas persoalan-persoalan ini, sehingga tidak hanya sebatas retorika semata. Para calon juga harus membela hak memeluk agama dan hak beribadah setiap warga negara.

    Semakin meningkatnya radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat, dapat dilihat dari banyaknya ormas-ormas intoleran yang beraksi menutup ibadah sesama warga negara. Yang masih hangat adalah pembubaran ibadah KKR Natal di Bandung, penyegelan tiga Gereja di Jambi, dan penutupan ibadah di Medan beberapa hari lalu. Kita juga masih ingat peristiwa bom Gereja di Samarinda dimana merenggut nyawa seorang anak kecil.

    Persoalan-persoalan ini meresahkan masyarakat. Dan para calon diharapkan dapat memberikan pesan yang menyejukkan serta sikap yang jelas.

    Para calon diharapkan dapat bersikap terhadap persoalan pembubaran ibadah Gereja di Medan oleh sekelompok ormas dan massa radikal. Para calon juga diharapkan dapat membela hak memeluk agama dan beribadah yang menjadi hak dasar setiap warga negara. Serta masyarakat diharapkan dapat melihat rekam jejak para calon, agar tidak memilih calon yang didukung oleh ormas-ormas radikal, karena calon yang didukung ormas radikal pasti akan membiarkan terjadinya persoalan kebangsaan ini.

    Generasi Milenial diharapkan mendapatkan pendidikan politik yang baik dari para calon. Bahwa Pemilu ada keceriaan dan kegembiraan, buka justru memecah belah keutuhan dan mengganggu keberagaman kita. Hal ini harus ditunjukkan oleh perkataan dan perbuatan dari para calon.

    Sumber: Sahat Martin Phiilip Sinurat, ST (Tokoh Intelektual Muda Kristen)

  • Selamat Natal dari Presiden Jokowi

    Selamat Natal dari Presiden Jokowi

    img_20181225_161045

    WARTANASRANI.COM – Lewat akun media sosialnya – Twitter, Facebook dan Instagram- Jokowi mengucapkan Selamat Hari Natal bagi segenap umat yang merayakan.

    “Indonesia ini sebuah bangsa besar, serupa anyaman dari lebih 17.000 pulau yang terentang di sepanjang garis khatulistiwa, penduduknya berbicara dalam lebih 1.000 bahasa daerah, dan memeluk berbagai agama semenjak dahulu hingga hari ini.

    Perbedaan itu adalah kekayaan yang mempersatukan kita, menguatkan langkah kita menuju Indonesia yang maju.

    Kepada segenap umat Kristiani di mana pun berada, semoga perayaan Natal tahun ini membawa damai di hati kita semua …”

    Demikian untaian kata yang disampaikan Jokowi sebagai ucapan Natal di hari penuh damai ini.

    Damai di hati, damai di bumi Indonesia… (*)

  • SOSIALISASI MUKI UNTUK WARGA JEMAAT

    SOSIALISASI MUKI UNTUK WARGA JEMAAT

    img_20181224_151304

    KOTA BEKASI, WARTANASRANI.COM – Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) terus berupaya mensosialisasikan perannya di tingkat umat/jemaat. Kegiatan ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada umat dalam hal menyerap aspirasi dan memperkenalkan tugas-tugas MUKI kepada masyarakat.

    Kegiatan sosialisasi ini dipimpin langsung Sekjen MUKI (Ega Mawardin) pada kegiatan Natal Gereja Bethel Pembaruan di Keranggang Kota Bekasi, Minggu 23 Desember 2018.

    img-20181224-wa0005

    Kegiatan yang juga dihadiri Ketua MUKI KOTA Bekasi Pdt. Sinufa Marunduri dan Sekretaris MUKI KOTA Bekasi Pdt. Widada berlangsung meriah dan dalam suasana kekeluargaan.

    Dalam sambutannya Sekjen MUKI menyampaikan tugas-tugas MUKI diantaranya memberikan advokasi bagi kasus2 yang merugikan umat Kristen termasuk masalah-masalah gereja.

    Lebih lanjut Sekjen menyampaikan hanya di bulan Desember 2018 saja sudah ada tiga kasus yang viral yaitu kasus spanduk intoleran di Pangendaran, salib yang digergaji di Jogjakarta dan pernyataan warga di Sepatan Kabupaten Tangerang semuanya itu merugikan umat Kristen, seakan warga gereja tidak punya hak yang sama dinegeri NKRI ini. Kita tidak boleh diam pada kasus-kasus seperti ini, demikian Sekjen menutup sambutannya.

    Hadir juga dalam kegiatan Natal GBP di Kranggang Ketua Sinode GBP, Pdt. Charles Tobing dan dalam pernyataannya sangat mengapresiasi kerja MUKI dan GBP siap bekerja sama untuk tujuan mulia tersebut.

    Kegiatan yang dihadiri oleh Jemaat GBP dan simpatisan serta undangan di tutup dalam doa oleh Pendeta Jemaat Pdt. Sinufa Marunduri yang juga menjabat Ketua MUKI Kota Bekasi. (*)

  • SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

    SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

    pglii

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Mengakhiri tahun pelayanan 2018, PGLII mengeluarkan Surat Penggembalaan 2018. Berikut petikannya:

    logopglii

    Shalom! Pertama-tama marilah kita kaum Injili, Anggota dan Pengurus PGLII, mengucapkan puji dan syukur, yang karena kasih dan penyertaan Allah Tritunggal, telah membimbing dan menyertai seluruh perjalanan PGLII melewati tahun 2018. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

    Melewati perjalanan tahun 2018 sangatlah tidak mudah. Berbagai tantangan dan rintangan baik secara internal maupun eksternal selalu kita alami. Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII terus bergumul di dalam dirinya untuk tetap setia memenuhi tugas, panggilan dan mandat Ilahi Tuhan Yesus Kristus, yakni pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil, membaptis dan menjadikan mereka yang percaya sebagai murid Tuhan Yesus Kristus.

    Pekabaran Injil dalam konteks global dan lokal, khususnya di Indonesia, sedang terus menghadapi perubahan-perubahan teknologi, informasi, sosial dan kebudayaan yang begitu cepat. Teknologi digital dari 3G sudah memasuki 5G, dari era kertas berevolusi kepada dunia maya yang serba berubah cepat.

    Warga Gereja dan Lembaga Injili adalah masyarakat Kerajaan Allah, namun pada sisi yang bersamaan merupakan masyarakat dunia, keduanya berbeda, dapat saling berdistribusi positif tetapi juga negatif. Pada konteks ini, Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII, di satu sisi dituntut untuk tidak gagap teknologi melainkan harus cerdas mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat, tetapi pada sisi yang lain, dituntut juga untuk tidak mudah menjadi korban kemajuan teknologi yang melesat cepat.

    Intinya, Kitab Suci dan Injil harus tetap menjadi sentralitas dan panduan dalam kehidupan Gereja, Lembaga yakni kehidupan kaum Injili sehari-hari di masa kini. Di sini kita dituntut selalu mengasah dan mengandal hikmat Tuhan, agar eksistensi kaum Injili masih tetap kokoh dalam pendirian “Hendaklah kamu tidak menjadi serupa dengan dunia ini” Roma 12:2. Pengertian ini membawa kita selalu pada suatu kesadaran tinggi, kita berada di dalam dunia, namun dunia tidak boleh menguasai kita.

    PGLII memiliki motto: “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”. Motto ini terus mengajak dan menuntun kita, bahwa Tujuan PGLII adalah Membela dan Memelihara Teologi Injil yang diimplementasikan ke dalam Tujuan PGLII yang intinya melaksanakan pekabaran Injil. Prinsip ini semakin diteguhkan melalui hasil “Musyawarah Besar Pemuka Agama” yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 Februari 2018 di Jakarta, yang menghasilkan dokumen “7 Pokok Rekomendasi Pemuka Agama”, dan pada tanggal 28-31 Mei 2018 di Berastagi, digelar “Konperensi Pekabaran Injil 2018” yang diselenggarakan oleh PGLII, PGI, PGPI dan KWI.

    KPI 2018 berhasil menyepakati suatu dokumen “Rekomendasi dan Komitment Pekabaran Injil 2018” yang berisi beberapa hal, antara lain yang sangat mendasar, kesepakatan bahwa pekabaran Injii merupakan hakikat gereja, jika gereja berhenti melaksanakan pekabaran Injil, maka gereja telah selesai. Namun demikian, dalam melaksanakan pekabaran Injil, seluruh gereja dan lembaga dituntut untuk melakukan dengan sopan, tidak menyinggung pihak tertentu, dan tidak manipulatif. Selain itu, gereja-gereja diminta untuk membangun jejaring secara lintas denominasi, peduli kepada lingkungan dan berdampak bagi warga di sekitarnya.

    PGLII sebagai aras gerejawi nasional, tetap berkomitmen membangun Keesaan Gereja, tubuh Kristus dalam spirit oikumenis bersama gereja aras nasional lainnya, berkomitmen ikut hadir dalam pergumulan kaum Injili, terlibat dalam pembangunan nasional dengan menjadi mitra Pemerintah, terlibat dalam menjaga lingkungan hidup, berkomitmen ikut terlibat menjaga dan merawat “empat konsensus kebangsaan” yakni: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika yang telah dibangun dan diperjuangkan dengan jiwa dan darah oleh para founding father serta rakyat Indonesia dari berbagai golongan dan agama, dan empat konsensus kebangsaan adalah harga mati!

    Ketika bangsa Indonesia sedang tergerus oleh isu-isu intolerasi, radikalisme, terorisme yang membuat banyak pihak dan golongan terpapar, maka PGLII tetap berdiri bersama Pemerintah ikut menggaungkan bahwa empat konsensus kebangsaan dan nasionalis adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Perjuangan PGLII dalam kehidupan berbangsa dan benegara, adalah ikut berpartipasi dalam visi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) namun tetap bersuara kenabian.

    Pada tanggal 8 Agustus 2018 PGLII  lalu,  PGLII  mengemas suatu rangkaian kegiatan guna menjawab pergumulan mendesak dalam rangka HUT PGLII KE 47, yakni dengan menyelenggarakan  simposium dan RAPIMNAS dan telah berhasil merumuskan  MANIFESTO INJILI,  yakni apakah yg dimaksud dengan injili, menginjil dan siapakah kaum Injili itu ?  serta  suatu pernyataan sikap dan pandangan PGLII tentang politik,  demokrasi,  kebangsaan PEMILU,  PILEG DAN PILPRES 2019.

    PGLII juga telah menerjunkan Tim Peduli Gempa Lombok dan Gempa Palu, bahkan hingga saat ini Tim Peduli paska gempa PGLII di Palu masih bekerja dilapangan melayani konseling dan pemulihan bagi para korban yg mengalami trauma akibat gempa. pada tanggal 14 Desember tahun 2018, PGLII telah mengadakan Perayaan dan Ibadah Natal PGLII dengan Tema : KAMI DATANG UNTUK MENYEMBAH DIA (Matius 2:2), Ketua Panitia, Ibu Dr Inge Handoko, dengan Pelayan Firman Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th, Ketua umum PP PGLII. Acara berlangsung sukses, dan dihadiri pimpi nan aras nasional FUKRI, sinode gereja-gereja dan lembaga-lembaga anggota PGLII, ormas dan lembaga Kristen , GMKI, JDN, UKIP dan Pejabat pemerintah DKI Jakarta Raya.

    Ketua Umum PGLII Bapak Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th telah menggagas dilaksanakannya Paskah Bersama Gereja-Gereja Se-Indonesia pada bulan April tahun 2019 bersama-sama FUKRI Sedangkan di dalam hubungan internasional saat ini, PGLII telah dipercaya untuk menjadi Panitia Pelaksana (OC) dari kegiatan dunia World Evangelical Alliance (WEA) yang pada tanggal 7-12 November 2019, di Bali atau Jakarta, akan melaksanakan “General Assembly – World Evangelical Alliance”.

    Dipilih dan ditetapkannya PGLII menjadi Panitia Pelaksana adalah kehormatan besar sekaligus penghargaan bahwa eksistensi dan perang PGLII kini semakin diakui di tingkat global. Kurang lebih akan hadir 120 negara dari seluruh dunia, anggota WEA yang hadir, mari kita doakan! Karena itu, rencana Musyawarah Nasional PGLII ke-XII yang rencanakan pada bulan Oktober 2019 diundur menjadi bulan Maret 2020.

    Akhirnya, kami Pengurus Pusat PGLII ingin terus mengajak dan mendorong, agar di tahun-tahun ke depan, PGLII semakin berkiprah di bangsa ini. Sampai Tuhan Yesus Kristus Raja di atas segala raja, akan datang kembali, kuta tetap setia membangun persekutuan dan pergi memberitakan Injil. “Segala jerih juang di dalam Tuhan tidak akan sia-sia”.

    Selamat hari Natal 25 Desember 2018, dan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2019.

    Salam Injili, Teriring hormat; Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th (Ketum PP) dan Pdt. Dr. Freddy Soenyoto, M.Th (Sekum PP). (*)

  • PESAN NATAL BPH GBI 2018: KABAR BAIK UNTUK SEMUA, LUKAS 2:10

    PESAN NATAL BPH GBI 2018: KABAR BAIK UNTUK SEMUA, LUKAS 2:10

    WARTANASRANI.COM – Shalom, salam sejahtera untuk kita sekalian… Tema Natal GBI tahun 2018 adalah “Kabar baik untuk semua” (Luk. 2:10). Tema ini diangkat mengingat kelahiran Kristus adalah kabar baik yang diterima oleh para gembala di padang Efrata.

    Kita ingat bahwa lebih 400 tahun Tuhan sebelumnya tidak berbicara kepada bangsa Israel, tidak ada nabi yang diutus Tuhan untuk memberitakan firman-Nya, tetapi tiba-tiba malaikat Tuhan datang menjumpai dan berbicara kepada para gembala membawa kabar baik bahwa juruselamat telah lahir. Kelahiran Juruselamat, Mesias atau Pembebas, menjadi kabar atau berita yang menggembirakan di tengah-tengah keadaan dunia yang berdosa dan tiada harapan.

    Para gembala adalah masyarakat biasa dan sederhana. Saat itu bangsa Israel juga sedang dijajah bangsa Roma. Tidak ada kepastian dan jaminan masa depan bagi masyarakat bawah, seringkali mereka mendengar kabar buruk daripada kabar baik. Tetapi malam itu, malaikat Tuhan memberitakan kabar baik yang juga kesukaan besar. Kabar baik itu membawa sukacita dan pengharapan besar bagi para gembala serta memberi kekuatan baru.

    Alkitab mencatat bahwa setelah malaikat itu pergi, malam itu juga mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem untuk melihat Kristus (Luk. 10:16). Mereka lupa akan lelahnya mengembalakan domba seharian dan pergi dengan sukacita ke Betlehem.Kehadiran Kristus di dunia ini menjadi kabar baik untuk semua.

    Demikian juga bagi kehidupan setiap kita anak-anak Tuhan, kelahiran-Nya juga harus menjadi kabar baik untuk semua. Kehidupan kita harus memberitakan anugerah karya keselamatan dan kebaikan yang Kristus kerjakan. Perkataan dan perbuatan kita harus membawa sukacita dan damai sejahtera serta memuliakan nama Tuhan. Karena itu kita semua harus memberitakan kabar baik, misalnya melalui pemberitaan Injil, berkata jujur dan benar, serta berkata-kata yang memberkati dan menguatkan sesama.

    Di era komunikasi dan  internet ini, media sosial merupakan media dimana setiap orang bebas mengemukakan pendapatnya. Setiap orang dapat bersosialisasi tanpa bertatap muka atau terungkap identitasnya. Media sosial seringkali digunakan untuk menyebarkan berita hoax dan tidak benar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya adalah mudah terjadi perpecahan, saling menyalahkan dan tidak ada rasa percaya seorang akan yang lain. Terjadi perpecahan di masyarakat, kecurigaan di lingkungan kerja dan hilangnya komunikasi di keluarga.

    Mari berhenti untuk memberitakan kabar hoax maupun kabar tidak benar, dan mulailah memberitakan kabar baik di manapun kita berada. Seperti kabar yang diberitakan malaikat kepada para gembala yang menjadi kesukaan besar, demikian juga kabar yang diberitakan melalui kehidupan kita harus menjadi kesukaan besar bagi semua.

    Sebagai pelayan Tuhan, kita harus memberitakan kebenaran dan menghidupi kebenaran yang kita beritakan, agar nama Tuhan yang dipermuliakan. Selamat hari Natal 2018 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2019. Tuhan Yesus Memberkati.

    Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia, Pdt.Dr. Japarlin Marbun Ketua Umum