Category: Artikel

  • PESAN SIMBOLIS DARI ISTANA: Jadikan Istana sebagai Rumah Persatuan Bangsa

    PESAN SIMBOLIS DARI ISTANA: Jadikan Istana sebagai Rumah Persatuan Bangsa

    Oleh : EKO SULISTYO *)

    “Politik itu kegembiraan” benar-benar terjadi di Istana saat peringatan ke 72 hari Kemerdekaan Indonesia. Tanpa mengurangi kesakralan dan kekhidmatan upacara detik-detik proklamasi, peringatan kali ini secara simbolis menjadikan Istana—tempat presiden berkantor dan menerima tamu negara—sebagai “rumah keberagaman” dan “rumah persatuan.”

    Pakem kaku, formal dan protokoler yang puluhan tahun menjadi kebiasaan berubah menjadi karnaval budaya Nusantara. Presiden, wakil presiden, pejabat negara dan undangan hadir memakai busana daerah warna-warni. Suasana makin cair ketika Presiden memberikan hadiah sepeda pada peserta dengan pakaian daerah favorit.

    Penampilan Istana dalam wajah budaya sebenarnya bukan fenomena baru. Presiden Sukarno pernah menjadikan budaya sebagai soft diplomacy. Dengan cara itu, seremonial menjadi estetis dan jauh dari kesan protokoler.  Semua orang merasa nyaman karena formalitas dan informalitas berjalan bersamaan, sekaligus menunjukkan karakter bangsa Indonesia yang bhineka.

    Membangun komunikasi

    Kegiatan upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan di Istana yang baru lalu bisa dianggap soft diplomacy untuk membangun komunikasi pemerintah dengan rakyat, pemerintah pusat dengan daerah, serta antara pemerintah dengan tokoh-tokoh politik nasional.  Dalam balutan budaya, upacara menjadi luwes dan sukses mempertemukan banyak aktor dan kepentingan.

    Secara simbolis upacara peringatan proklamasi tahun ini dapat dianggap sebagai peristiwa budaya yang mengedepankan dialog kebangsaan. Ini sesuai dengan visi Presiden Jokowi tentang “Indonesia-sentris” bahwa pemerintah adalah “pelayan bagi rakyat Indonesia”, bukan kekuasaan.

    Selama ini Indonesia-sentris lebih mengemuka sebagai visi pembangunan untuk memajukan Indonesia diluar pulau Jawa serta daerah-daerah terluar dan terdepan dari Indonesia. Namun Indonesia-sentris juga merupakan konsepsi budaya. Sejarah bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dalam kebhinekaan karena terus berdialog dengan berbagai suku bangsa di dalamnya. Bangsa Indonesia adalah sebuah “kebangsaan kolektif”, semua anak bangsa turut andil, berperan dan bersepakat membentuk Indonesia.

    Upacara peringatan 72 tahun Indonesia merdeka kemarin juga dapat dianggap sebagai penyegaran kembali komitmen keberagaman dan persatuan kebangsaan, seperti yang pernah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.  Bahwa kebhinekaan adalah jati diri bangsa dan oleh karena itu menjadi harga mati.

    Keberagaman memang terus digoyang dalam setahun terakhir di Indonesia. Berbagai kelompok mengeluarkan wacana rasis dan intoleran, bahkan melakukan persekusi atas kebhinekaan dengan mengatasnamakan agama dan suku.

    Keberagaman pakaian adat yang dikenakan Presiden, Wakil Presiden, para pejabat dan undangan yang hadir, menyimbolkan bahwa kami mengabdi bagi Indonesia yang terdiri dari beragam daerah dan suku bangsa, bukan mengabdi pada pemerintah dan kekuasaan. Tugas pemerintah adalah melayani keberagaman suku bangsa di Indonesia demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Dengan kegiatan budaya yang ceria, Presiden Jokowi secara simbolis ingin menyatakan bahwa Istana Kepresidenan adalah “Rumah Keberagaman bangsa”, bukan milik penguasa, agama dan suku tertentu. Sebagai “Rumah Keberagaman” maka pintu Istana selalu  terbuka untuk merawat, memperkuat dan melindungi keberagaman bangsa.

    Rumah Persatuan Bangsa

    Dalam negara yang bhineka seperti Indonesia maka salah satu peran pimpinan nasional yang wajib dijalankan adalah fungsinya sebagai “solidarity maker”. Presiden Sukarno pernah memainkan peran ini dengan baik guna menjaga persatuan bangsa yang baru merdeka di bawah tekanan Perang Dingin dan kompetisi politik yang keras di dalam negeri.

    Di era milineal sekarang ini, peran sebagai “solidarity maker” bisa dimainkan dengan posisi sebagai “fasilitator kebangsaan”. Sebagai  fasilitator, tugas pentingnya adalah menjadikan dialog kebangsaan berlangsung konstruktif dan memberikan solusi untuk bangsa.

    Untuk itu, fasilitator kebangsaan harus berdiri diatas semua kepentingan dan golongan. Pegangannya adalah konstitusi sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

    Dalam sejarah Indonesia potensi gangguan bagi persatuan nasional  pernah terjadi karena dua sumber utama. Pertama, daerah-daerah menganggap pemerintah pusat bersikap tidak adil dalam pembangunan dan distribusi kesejahteraan. Sejarah kita tahun 1950-an, ketidakpuasan daerah meledak menjadi ancaman bagi persatuan nasional. Kedua, kompetisi politik dan ideologis untuk merebut kekuasaan diantara elit politik dan pendukunngya.

    Indonesia-sentris

    Presiden Jokowi menyadari kedua potensi perpecahan itu, tersebut. Karena itu, visi Indonesia-sentris menjadi strategi pembangunan agar kesejahteraan dan keadilan sosial  tidak hanya dirasakan di Jawa dan Sumatera.

    Rivalitas politik bisa menjadi penyebab terkotak-kotaknya masyarakat berbasis figur dan parpol. Maka, dalam budaya politik primodial saat ini, figur politik menjadi faktor yang strategis dalam suhu politik nasional. Tokoh-tokoh nasional menjadi kunci persatuan bangsa.

    Dalam konteks ini, upacara peringatan ke 72 kemerdekaan RI dapat dianggap sebagai medium komunikasi diantara tokoh-tokoh nasional yang berdampak pada kesejukan politik nasional. Pertemuan antara Presiden Republik Indonesia sejak era BJ Habibie, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono hingga Presiden Jokowi menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak boleh mengabaikan kenyataan yang paling esensial: persatuan Indonesia.

    Upacara peringatan ke 72 kemerdekaan RI itu dapat dianggap sebagai komitmen Presiden Jokowi untuk menjadikan Istana sebagai “Rumah Persatuan Bangsa.”  Sebagai rumah persatuan bangsa, istana menjadi inklusif bagi semua kelompok dan golongan.

    ———————

    Penulis adalah Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden.

    Sumber: KOMPAS, 4/9/2017.

  • PDT. JOEL MANALU, M.TH  PIMPIN DPA PUSAT GBI, PERIODE 2017-2021

    PDT. JOEL MANALU, M.TH PIMPIN DPA PUSAT GBI, PERIODE 2017-2021

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Kongres Nasional merupakan pertemuan raya pemimpin/pengurus pelayanan anak, remaja, pemuda dan dewasa muda di lingkungan Gereja Bethel Indonesia di seluruh Indonesia dan Internasioanl. Acara akbar DPA GBI yang diadakan setiap empat tahun sekali ini, selain menjadi momentum yang penting untuk saling berbagi visi, misi dan pengalaman demi memenangkan generasi ini, juga memiliki agenda utama pemilihan Ketua Pengurus Pusat (KPP) DPA GBI periode 2017-2021.

    Dihadiri lebih dari 1700 pemuda GBI yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia dan Timor Leste, Kongres Nasional DPA GBI yang dibuka oleh Ketum BPH GBI, Pdt. Japalin Marbun, akhirnya memilih Pdt. Joel Manalu, M.Th, sebagai Ketua Pengurus Pusat DPA  periode 2017-2021. Joel Manalu sebagai KPP DPA GBI baru, akan menggantikan Pdt. Timotius Tan yang sudah dua periode menahkodai generasi muda gereja Kharismatik di Indonesia ini.

    Berdasarkan informasi dari peserta sidang, selain Joel Manalu, dalam pemilihan ketua DPA sesuai yang diatur AD/ART GBI ada dua kandidat lain yang bertarung untuk menjadi KPP DPA dalam Kongres Nasional  XV yang diselenggarakan selama 3 hari (29-31 Agustus 2017) di Wisma Kinasih Resort, Caringin, Bogor, Jawa Barat ini. Dua kandidat yang belum mendapatkan mandat memimpin DPA GBI empat tahun kedepan tersebut adalah Yohanes Nahuway dan Yohanes Sirait.

    Dalam pemungutan suara oleh peserta Kongres, Joel Manalu meraih 514 suara (53,5%), disusul Yohanes Nahuway dengan 406 suara (42,2%) dan 35 suara untuk Yohanes Sirait (0,04%). Sementara itu suara tidak sah ada 6 suara (0,006%). Total suara berjumlah 961 suara.

    Selain harapan  DPA GBI kedepan menjadi lebih baik di bawa komando Joel Manalu, rasa terima kasih juga disampaikan peserta Kongres kepada Pdt. Timotius Tan, MA., atas pelayanan dan pengabdian penuh yang sudah dilakukan untuk DPA GBI selama dua periode (2009-2017).

    Sementara itu, menanggapi soal isu tak perlu lagi kongres semacam ini, Ketua BPH GBI, Pdt. Japarlin Marbun, justru berbeda, menurutnya kongres harus tetap dilaksanakan karena disitulah anak-anak muda sebagai generasi pemimpin GBI ke depan berlatih bagaimana cara berdemokrasi dan berorganisasi. Memang mungkin perlu ditinjau ulang sistem nya saja. Karena GBI memakai sistem perwakilan makanya ke depan yang diutus hanya perwakilan saja sehingga tidak mendatangkan masa yang akan muncul dinamika yang negatif. Baru kemudian diadakan slebrasi yang melibatkan semua pemuda sebagai ajang untuk kebersamaan.

  • MARS PEWARNA WARNAI RAKERNAS III 2017 DI BOGOR

    MARS PEWARNA WARNAI RAKERNAS III 2017 DI BOGOR

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Rapat Kerja Nasional III para pewarta yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) selama tiga hari, 25 – 27 Agustus 2017, telah berakhir. Mulai dari poin-poin rekomendasi program kerja dari Pewarna Daerah kepada Pewarna Pusat sampai penentuan pelaksana Rakernas tahun esok, menjadi capaian sukses Rakernas Pewarna tahun ini. Selain itu, ada hal menarik dan menjadi sejarah bagi Pewarna Id dalam Rakernas kali ini, yaitu dinyanyikannya Mars Pewarna untuk pertama kali.

    Bertempat di ruang pertemuan Lt. 3 Lodge Safari Hotel, Taman Safari Indonesia, Bogor, Jawa Barat, tepatnya pukul 23.30 WIB, sabtu (26/8/2017), selesai pleno yang membahas program kerja DPP Pewarna dan rekomendasi Pewarna Daerah, oleh usulan peserta Rakernas, Mars Pewarna yang sempat disinggung oleh Sekjen DPP Pewarna, Argo Pandoyo, saat menyampaikan capaian program DPP, akhirnya dinyanyikan dengan penuh semangat.

    Berikut lirik lengkap mars Pewarna yang diciptakan oleh salah satu pengurus DPP yang membidangi Kerohanian.

    Penuhi panggilan mulia, Pewarna Indonesia

    Hadir di negeri tercinta, Pewarna Indonesia

    Dengan semangat Pancasila, Berkarya nyata

    Satukan s’gala perbedaan, Wartakan kebenaran

    Bersama kita berkarya, Semaikan kedamaian

    Bersama tetap berkarya, Kasih Kristus pedomanmu

    Bersama terus berkarya nyata, Pewarna Indonesia

    Pewarta Pewarna Indonesia

    Penggubah mars Pewarna mengakui lirik di atas yang berisi semangat, komitmen dan harapan, dimaksudkan untuk memotivasi pewarta Pewarna dalam bekerja dan menghasilkan karya terbaik dibidang jurnalistik sebagai bentuk pelayanannya yang mulia. Selain itu, Ia mengatakan untuk menjadikan Pewarna lebih jaya, selain kerja keras, karsa dan karya, juga dibutuhkan kejujuran dan integritas berdasarkan Kasih Kristus sebagai pedoman iman Nasrani.

    “Mars Pewarna ini sebenarnya sudah lama dikerjakan namun mengalami beberapa kali perubahan dalam liriknya. Dengan dinyanyikan dalam Rakernas, juga melihat sambutan positif peserta, harapan saya, mars pewarna ini dapat disahkan oleh DPP Pewarna, sehingga menjadi lagu wajib dalam kegiatan-kegiatan Pewarna kedepan,” pungkas si-pencipta mars Pewarna penuh harap.

  • 2 Pengacara Senior Beri Literasi Hukum di Rakernas Pewarna ID Soal Tantangan Pers

    2 Pengacara Senior Beri Literasi Hukum di Rakernas Pewarna ID Soal Tantangan Pers

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Bertempat di Safari Lodge Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna ID), menghadirkan 2 pengacara senior untuk memberi literasi hukum soal tantangan dunia Pers ke depan di era teknologi digital dan pemberitaan, sabtu (26/08/2017).

    Dalam pembekalan literasi hukum sebelum dimulainya rapat kerja, pengacara kondang Jhon S.E Panggabean, S.H, M.H., berbagi cerita tentang pengalamannya dalam menangani berbagai kasus di Pengadilan dimana pers atau wartawan kerap menjadi mitra kerjanya dalam hal sebagai media untuk mengungkapkan kebenaran.

    “Saya akrab, kenal banyak dengan beberapa wartawan. Bahkan saya sudah lama dan hingga kini terlibat dalam industri pers, dari sebagai penasehat hukum hingga beberapa kali mempunyai media pers sendiri,” ungkap Jhon yang juga sebagai Dewan Penasehat DPP Pewarna ID ini.

    Dikatakan ayah dari artis penyanyi rohani Clara Panggabean ini, profesi advokat memiliki kesamaan dengan wartawan, yakni, seringnya menerima teror dan ancaman juga godaan.

    “Asal ada data yang benar dan valid, misalnya berupa rekaman, kita tidak perlu takut. Jangan takut menyatakan kebenaran dan jangan gampang tergoda oleh materi dari oknum yang ingin membeli berita kita,” imbaunya.

    Dalam kesempatannya Jhon juga mengingtakan para wartawan selalu memberitakan pemberitaan yang berimbang dan yang mencerahkan. “Jika berita yang akan ditulis itu berupa kasus yang membutuhkan klarifikasi harus dilakukan karena jika tidak bisa diperkarakan hukum. Yang terpenting, buatlah karya berita yang bisa memberi pencerahan, edukasi kepada masyarakat,” tuturnya mengingatkan.

    Terkait UU ITE KUHP yang kerap menjerat wartawan, Jhon meminta agar media, khususnya media online, selain berhati-hati membuat berita juga mempunyai ijin resmi secara hukum sebagai media pemberitaan. “Saya siap memberi pembelaan bagi teman-teman yang mengalami masalah hukum,” ujar dia.

    Menurut Jhon, dari pengalamannya, profesi sebagai wartawan cukup ditakuti oleh aparat hukum. Namun demikian dia kembali mengimbau agar wartawan memaknai stigma tersebut untuk mencari keuntungan pribadi atau bersikap seenaknya. “Saya mengalami dimana ada hakim jadi berani mengambil keputusan karena ada dukungan wartawan. Begitu juga dengan kebijakan pemerintah bisa berubah karena kencangnya suara dari media,” ungkapnya.

    Terkait organisasi Pewarna ID, Jhon mengimbau agar selalu kompak dan jangan ada yang memiliki ambisi saat organisasi besar. “Jangan sampai Pewarna terpecah-pecah dengan timbul organisasi baru yang sejenis bahkan sama. Jangan seperti  organisasi advokat Peradi saat ini yang terpecah 3 dengan nama yang sama dan saling klaim sebagai Peradi yang sah yang pada akhirnya gaung organisasi tersebut tenggelam,” ungkap Jhon yang mengaku sudah aktif di organisasi advokat sejak usia muda.

    Sementara itu, advokat senior Jamada Girsang dalam kesempatannya memaparkan soal kelengkapan legalitas hukum yang harus dipenuhi insan pers serta persoalan-persoalan hukum yang kerap menimpa pelaku pers. Sama seperti Jhon, Jamada juga bersedia membantu pendampingan kepada wartawan yang tergabung di Pewarna ID yang terkena masalah hukum.

    “Silahkan juga berkonsultasi hukum dengan saya terkaitpersoalan hukum lainnya,” kata Jamada yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pewarna ID.

    Dalam paparannya Jamada juga memberikan tentang pengertian dan prinsip-prinsip dalam hukum. Kembali soal pendampingan hukum kepada rekan-rekan wartawan yang tergabung dalam Pewarna di daerah, dia siap membantu meski tidak mempunyai kantor perwakilan advokasi di daerah tersebut.

    “Konsultasi khan bisa lewat telepon, WA atau email. Kami (LBH Pewarna) siap membantu,” katanya sambil menulis nomor Handphone di papan tulis. (ARP)

  • MURFATI LIDIANTO LIE, TERIMA PENGHARGAAN SAHABAT PEWARNA 2017

    MURFATI LIDIANTO LIE, TERIMA PENGHARGAAN SAHABAT PEWARNA 2017

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna ID) menganugerahi Murfati Lidianto Lie, SE., sebagai Sahabat Pewarna. Menurut Ketua Panitia Rakernas III Pewarna Indonesia, Hotman J. Lumban Gaol, ada beberapa penilaian mengapa lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya ini terpilih menjadi salah satu penerima penghargaan kategori “Sahabat Pewarna” dalam pembukaan Rakernas

     “Kontribusi positif dalam berbagai kegiatan gerejani oleh Ibu Murfati, bertemu sapa dengan pemimpin gereja maupun warga gereja yang  tidak pernah hilang sejak pencalegan tahun 2014, dan keaktifan dalam kegiatan sosial dengan LSM maupun lembaga Gereja, menjadi penilaian tersendiri dan membuat Panitia Rakernas, DPD Pewarna Jawa Barat dan DPP Pewarna menetapkan Ibu Murfati Lidianto Lie, SE sebagai penerima penghargaan “SAHABAT PEWARNA”, pungkas Hotman meyakinkan.

    “Yang memilih bukan kita tetapi para juri yang terdiri dari dua unsur aras gereja, ormas kristen dan penasehat Pewarna”, kata Yusuf Mudjiono dalam sambutannya sebelum penyerahan plakat penghargaan kepada figur-figur yang terpilih di MDC Hall, Wisma 76, Slipi, Jakarta, Jumat (25/08/2017).

    Penyerahan penghargaan dalam bentuk plakat tersebut diserahkan langsung oleh ketua Pewarna Indonesia kepada Anggota Dewan Kota Bekasi ini. “Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk menjalankan tugas lebih baik lagi, lebih maksimal, sebagai anggota dewan Kota Bekasi”, ungkap aktifis Gereja Katolik Santo Albertus Harapan Indah ini singkat.

    Lebih jauh lagi, Murfati memberi apresiasi atas penyelenggaraan Rakernas III Pewarna khususnya penghargaan Apresiasi Warna Indonesia 2017. “Saya bangga dengan penyelenggaraan penghargaan Apresiasi Warna Indonesia (AWI) 2017 ini. Walaupun baru pertama kali dilaksanakan namun dapat dikatakan sukses”, terang Murfati.

    Sementara itu, dari pantauan redaksi Warta Nasrani, selain Murfati ada 23 tokoh lain yang menerima Apresiasi Warna Indonesia (AWI) 2017. Diantaranya Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. Tokoh Katolik yang juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan sebagai seorang pastur ini, mendapat penghargaan kategori “Hubungan Lintas Agama”. Ada juga Dr. H. Rahmat Effendi, Walikota Bekasi ini mendapat penghargaan sebagai Birokrat Toleran. Nama-nama lain yang menerima penghargaan AWI 2017; James Tjahaya Riady, Pdt. Dr. Bambang Widjaja, Putra Nababan, Sabam Sirait, Victor Hutabarat, Sahat Sinurat, Saor Siagian dan BPH GBI.

    Dari kategori khusus, untuk Sahabat Keberagaman diberikan kepada GP Ansor. Sedangkan untuk kategori Sahabat Pewarna diberikan kepada beberapa tokoh antara lain, Jeffry Tambayong, Rekson Sitorus, SH., Rocky Wowor, Soleman Matippana, Maria Shandi, Pdt. Suyapto Tandiyawasesa, Christovorus Deky Palinggi dan Arseto Pariadji. (RSO)

  • PEMBERIAN APRESIASI WARNA INDONESIA 2017, WARNAI RAKERNAS III PEWARNA DI JAKARTA

    PEMBERIAN APRESIASI WARNA INDONESIA 2017, WARNAI RAKERNAS III PEWARNA DI JAKARTA

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Dalam rangka memotivasi warga khususnya warga gereja untuk terus menjadi Garam dan Terang bagi dunia, juga dalam rangka untuk terus mengingatkan akan pentingnya ajaran Tuhan Yesus Kristus tentang pelayanan diantara manusia di tengah bangsa dan negara, maka Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) dalam Rakernas III kali ini, mempersembahkan Apresiasi Warna Indonesia 2017 dengan 12 kategori.

    Apresiasi Warna Indonesia (AWI 2017), diberikan kepada individu profesional Nasrani, aktifis sosial lintas iman, institusi pemerintah dan lembaga keumatan. “Kami membuat kriteria penilaian dengan aspek komitmen, konsistensi pelaksanaan nyata di lapangan dan dampak dari yang dikerjakan”, pungkas Hotman J. Lumban Gaol, Ketua Panitia Pelaksana Rakernas.

    Menurut Hotman, dari 12 kategori Apresiasi Warna Indonesia, terdapat 2 kategori khusus. “Dari 12 kategori AWI 2017, ada 2 kategori khusus dipilih oleh Pewarna Indonesia, yakni Sahabat Pewarna dan Sahabat Keberagaman.

    Lebih jauh, Hotman menambahkan bahwa dalam menentukan tokoh-tokoh yang menerima apresiasi, DPP Pewarna Indonesia bersama panitia Rakernas memiliki mekanisme penilaian tersendiri sehingga obyektif.

    “Ada beberapa mekanisme yang dibuat sehingga obyektif. Pertama, pemilihan nominator yang digodok bersama tim pewarna. Kedua, penyaringan nama dilakukan atas kerjasama Pewarna dan Lembaga-Lembaga Aras Gereja. Ketiga, penentuan penerima Apresiasi Warna Indonesia oleh tim juri yang terdiri dari unsur-unsur aras gereja dan dewan penasehat Pewarna Indonesia. Jadi soal penilaian, kami mencoba obyektif”, jelas Hotman.

    Rasa syukur dan ucapan terima kasih terucap dari Hotman J. Lumban Gaol saat memberi sambutan. “Terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak sehingga pelaksanaan pembukaan Rakernas khususnya pemberian Apresiasi Warna Indonesia 2017 yang baru pertama kali diselenggarakan DPP Pewarna dapat terlaksana dengan baik”, ungkap pemimpin redaksi Tabloid Agape ini penuh syukur.

    Sementara itu, dari pantauan redaksi Warta Nasrani, ada 24 tokoh yang menerima Apresiasi Warna Indonesia (AWI) 2017. Diantaranya Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. Tokoh Katolik yang juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan sebagai seorang pastur ini, mendapat penghargaan kategori “Hubungan Lintas Agama”. Ada juga Dr. H. Rahmat Effendi, Walikota Bekasi ini mendapat penghargaan sebagai Birokrat Toleran. Nama-nama lain yang menerima penghargaan AWI 2017; James Tjahaya Riady, Pdt. Dr. Bambang Widjaja, Putra Nababan, Sabam Sirait, Victor Hutabarat, Sahat Sinurat, Saor Siagian dan BPH GBI.

    Dari kategori khusus, untuk Sahabat Keberagaman diberikan kepada GP Ansor. Sedangkan untuk kategori Sahabat Pewarna diberikan kepada beberapa tokoh antara lain Anggota Dewan Kota Bekasi Murfati Lidianto Lie, SE., Jeffry Tambayong, Rekson Sitorus, SH., Rocky Wowor, Soleman Matippana, Maria Shandi, Pdt. Suyapto Tandiyawasesa, Christovorus Deky Palinggi dan Arseto Pariadji. (RSO)

  • CATATAN KECIL DARI BAKSOS PEWARNA DI GKP TAMIYANG INDRAMAYU

    CATATAN KECIL DARI BAKSOS PEWARNA DI GKP TAMIYANG INDRAMAYU

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Sebuah acara yang sukses tentu tak lepas dari kekompakkan dan kerja keras panitia, baik dalam segi perencanaan maupun pelaksanaan. Hal inilah yang terlihat pada pewarta pewarna yang melaksanakan Bakti Sosial Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna) ke GKP Jemaat Tamiyang, Indramayu, kamis (17/08/2017).

    Tiada kenal kata lelah, panitia bahu membahu memberikan kerja maksimal untuk sebuah hasil yang maksimal, yaitu, kunjungan karya kasih dengan visi mulia yang tertuang dalam spanduk acara “Bingkai Karya dengan Warna”, benar-benar tercapai.

    Tak dipungkiri, riak-riak kecil dan kerikil-kerikil tajam yang menghalangi langkah kaki para pejuang pewarna dalam aksi penuh kasih ini, tak bisa dihindari. Namun rupanya, hal ini tidak membuat panitia pelaksana patah arang dan mundur seribu langkah. Semangat mereka tak pudar. Patah satu tumbuh seribu, yah! Mungkin prinsip ini yang ada dalam hati panitia dibawah komando koordinator acara Bung Tenny M. Deen.

    Semangat, spirit, motivasi dan antusias yang ditunjukkan Hotman J. Lumban Gaol sang nakhoda dari kapal yang bernama Rakernas III Pewarna Indonesia 2017, menjadi suntikan penguat daya juang panitia, untuk tetap melangkah dan memberi kerja maksimal.

    Tak pelak, hasil maksimalpun diraih. Sambutan Pdt. Johanes Simanjuntak, S.Si, pendeta berdarah Batak, Sumatera Utara, juga harapan Pak Arya yang tampil mewakili majelis jemaat, serta tak ketinggalan, antusiasme jemaat yang hadir, memberi warna tentang suksesnya acara mulia yang menjadi rangkaian Rakernas III Pewarna Indonesia.

    Sukacita penuh terlihat diwajah para pejuang pewarna saat berpamitan untuk kembali pulang menekuni tugas dan tanggung jawab jurnalistik yang diembannya.

    Salut untuk kerja dan hasil maksimal panitia. Kata Alkitab, jerih lelahmu dalam pelayanan ini tidak akan sia-sia. Ada doa dan harapan dari hamba Tuhan dan Jemaat GKP Tamiyang, Indramayu, yang Tuhan Yesus dengar dari tempat yang maha tinggi. Aminkanlah berita baik dari Alkitab, bahwa kesetiaan dalam perkara kecil membawa kita pada perkara besar.

    Dari semua sukses kegiatan Pra Rakernas, tetaplah rendah hati dan selalu berserah pada Tuhan Yesus Kristus. Karena semua sukses ini adalah semata-mata kasih dan anugerah-NYA. Terus, jangan sampai panitia terlena dari sukses kecil Pra Rakernas, karena sukses besar, acara puncak Rakernas III pada tanggal 25-27 Agustus 2017, menanti didepan mata. “Jangan kita terlena dengan sukses kecil ini, siapkan diri kita untuk mengalami sukses besar pada acara puncak pewarna tahun 2017, yaitu Rakernas III”, pungkas Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono, memberi semangat.

    Salut! Bravo! Pewarta Pewarna Indonesia. Imanuel! (RSO)

  • BAKSOS PEWARNA INDONESIA DI GKP JEMAAT TAMIYANG INDRAMAYU BERJALAN SUKSES

    BAKSOS PEWARNA INDONESIA DI GKP JEMAAT TAMIYANG INDRAMAYU BERJALAN SUKSES

    INDRAMAYU, WARTANASRANI.COM – Bakti Sosial DPP Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) di Gereja Kristen Pasundan (GKP) jemaat Tamiyang, Kampung Rehobot, Kecamatan Jayamulya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis pagi (17/08/2017), berjalan sukses.

    Bertepatan dengan HUT Kemerdekaan ke-72 Negara Kesatuan Republik Indonesia, tak ayal Ibadah bernuansa nasionalisme mewarnai Baksos Pewarna kali ini. Selain menyumbangkan pujian dalam Ibadah Syukur Kemerdekaan, Pewarta Pewarna juga ikut ambil bagian dalam Upacara Bendera yang dilakukan dalam Gereja. Dengan suara lantang, Tenny M. Deen (Obor Pantekosta), membaca teks Pancasila diikuti jemaat yang hadir. Sementara itu, Audi Waworuntu (wartanasrani.com) membacakan teks Proklamasi dengan intonasi bak bung Karno. Tak kalah semangat, Ronald dari Reformata, tampil sebagai pembaca UUD 1945.

    Saat Ibadah, Ketua Majelis GKP jemaat Tamiyang, Pdt. Johanes Simanjuntak S.Si, dalam khotbahnya mengingatkan kepada semua yang hadir untuk mengisi kemerdekaan dengan sikap dan perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    “Mari kita isi kemerdekaan ini dengan sikap dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai Kristiani yang baik. Isi kemerdekaan dengan mengajar anak-anak kita dengan nilai-nilai yang baik, sehingga kita bisa menghargai perbedaan dan tidak ada lagi ujaran kebencian lewat medsos”, tegas Johanes Simanjuntak ini meyakinkan.

    Kehadiran pewarta Pewarna, mendapat perhatian khusus dari Pendeta berdarah Batak ini. ” Buatlah berita yg baik! Tampilkan berita yang baik sebagai sumbangsih kita untuk negara indonesia yg kita cintai”, ujarnya mengingatkan.

    Walaupun sederhana tapi tidak menghilangkan semangat dan nilai-nilai nasionalisme dalam acara yang baik ini. Rasa syukur yang tertuang dalam Ibadah dan sikap hormat saat menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya dan Hari Merdeka, terlihat pada jemaat GKP Tamiyang dan pewarta Pewarna yang hadir.

    Selain Ibadah dan Upacara, ngobrol santai, menjadi acara yang tak kalah menarik. Argo Pandoyo, Sekjen DPP Pewarna, dengan lugas dan penuh canda, menyampaikan tema Internet Sehat. Sedangkan Ketua Pelaksana Rakernas, Hotman J. Lumban Gaol, mencairkan suasana dengan gayanya yang khas, saat menyampaikan pentingnya budaya membaca.

    Hadiah langsung baik bagi yang bisa menjawab pertanyaan dari pembicara bahkan bagi yang bertanya pada kedua narasumber, membuat peserta begitu antusias mengikuti acara yang sudah disusun oleh Tenny M. Deen, koordinator baksos.

    Pemberian paket sembako menjadi puncak bakti sosial yang mengambil tema “Bingkai Karya dengan Warna”. Secara simbolis, Ketua DPP Pewarna, didampingi Sekjen, Waketum dan pengurus lainnya, menyerahkan paket sembako kepada 10 perwakilan GKP Jemaat Tamiyang yang tampil kedepan.

    Dalam sambutannya mewakili majelis jemaat, Bapak Arya, menyampaikan terima kasih atas perhatian Pewarna yang telah meringankan langkah untuk mengunjungi jemaat GKP Tamiyang, Sukabumi. “Kami tahu betapa lelahnya bapak-bapak wartawan Pewarna yang tiba dini hari ke tempat kami ini. Oleh karena itu, atas nama jemaat, saya mengucapkan terima kasih atas kerelaannya mengunjungi kami. Saya berharap hubungan tidak sampai disini, tapi akan terus berlanjut”, ucap Wakil Majelis Jemaat ini. “Tuliskanlah dan beritakanlah yang baik tentang GKP jemaat Tamiyang, sehingga ada kepedulian dari berbagai pihak khususnya pemerintah buat kami”, ucapnya lagi penuh harap.

    Sementara itu, selain menyampaikan latar belakang pelaksanaan Baksos yang tidak bisa dipisahkan dengan acara besar Pewarna Id. tahun 2017, yaitu Rakernas III, kepada semua yang hadir dalam ruangan gereja yang telah berdiri sejak tahun 1913 ini, Ketua Umum Pewarna menyampaikan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja maksimal , sembari mengingatkan bahwa acara puncak yaitu Rakernas masih perlu disiapkan dengan baik.

    “Terima kasih atas kerja keras panitia yang telah mempersiapkan dan melaksanakan acara ini dengan baik. Namun saya mengingatkan bahwa, acara puncak kita yang sesungguhnya, yaitu Rakernas III 2017, pada tanggal 25-27 Agustus 2017, masih ada didepan mata kita”, terang pemilik majalah Gaharu ini.

    Akhirnya, Pdt. Johanes Simanjuntak, S.Si., menutup seluruh rangkaian Bakti Sosial dengan doa, yang dilanjutkan dengan jamuan kasih bersama. (RSO)

  • RAPAT TERBATAS BAHAS KESIAPAN BAKTI SOSIAL DAN RAKERNAS PEWARNA 2017

    RAPAT TERBATAS BAHAS KESIAPAN BAKTI SOSIAL DAN RAKERNAS PEWARNA 2017

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Pengurus DPP Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) dan Panitia Rakernas berkumpul di Kantor Advokat & Pengacara Jhon SE Panggabean SH & Rekan, MTH Square, Lantai 3 Unit 5, JL Letjen MT Haryono, Jakarta Selatan, Selasa (15/08/2017).

    Rapat terbatas ini bertujuan untuk memantapkan kegiatan Pra-rakernas dan Rakernas Pewarna 2017. Tenny M. Deen, selaku koordinator Acara Baksos ke Indramayu dan Hotman J. Lumban Gaol, Ketua Panitia Rakernas Pewarna 2017, bergantian menyampaikan persiapan akhir dari kedua acara Pewarna tersebut.

    Dari progress report yang disampaikan, terlihat kesiapan panitia dilapangan hampir rampung, khususnya acara puncak Rakernas pada tanggal 25 – 27 Agustus 2017 nanti. Sementara itu untuk acara Bakti Sosial ke Indramayu pada tanggal 17 Agustus 2017, telah siap seratus persen.

    Respon positif dan antusiasme Panitia Rakernas Pewarna 2017, menjadi perhatian dari Ketua Umum DPP Pewarna yang hadir dalam rapat terbatas ini. Secara khusus, Yusuf Mujiono, menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih untuk antusiasnya panitia rakernas yang hadir. Yusuf juga berharap agar kegiatan Bakti Sosial ke Indramayu yang merupakan kegiatan lanjutan Pra-Rakernas dapat berjalan dengan baik.

    “Saya berterima kasih atas kerja keras panitia dalam mempersiapkan acara Pra Rakernas dan Rakernas Pewarna. Saya juga berharap seluruh rangkaian acara yang telah disusun panitia, baik bakti sosial ke Indramayu maupun Rakernas berjalan dengan baik”, ujar Ketua Umum DPP Pewarna.

    Doa yang berisi harapan akan pertolongan dan berkat Tuhan dalam kedua acara besar, Pewarta Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia, menutup rapat terbatas ini. (RSO)

  • PEWARNA DAN YAKOM GELAR DISKUSI SHARING PENGALAMAN

    PEWARNA DAN YAKOM GELAR DISKUSI SHARING PENGALAMAN

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Politis senior Ir. Leo Nababan dan wartawan senior Putra Nababan, tampil sebagai pembicara dalam acara dikusi yang bertajuk “Sharing Pengalaman” yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Indonesia. Acara Pra-Rakernas ini dilangsungkan di Jalan Matraman 10, Jakarta, jumat (11/08/2017).

    Dalam paparannya, Leo Nababan lebih menekankan soal Integritas yang harus dimiliki oleh semua anak bangsa dalam menjalankan perannya untuk kemaslahatan bangsa. “Sekarang ini, kita membutuhkan pemimpin pelayan yang berintegritas. Integritas sesungguhnya adalah modal dasar”, tukas politisi senior ini.

    Menyinggung soal organisasi Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) yang mewadahi para pewarta Kristen dan Katolik, Leo Nababan menegaskan hal yang sama soal pentingnya Integritas dalam diri seorang pewarta Nasrani. “Saatnya wartawan-wartawan Kristiani menunjukkan jati dirinya sebagai pewarta yang memiliki Integritas dalam menyuarakan kebenaran, menyuarakan suara kenabian melalui tulisannya”, tegas pria kelahiran Sei Rampai, Deli Serdang, Sumatera Utara, ini meyakinkan. Orang yang berani menunjukkan jati diri lewat tulisannya adalah wartawan yang berintegritas, tegasnya lagi.

    Sementara itu, Putra Nababan yang berbagi cerita bagaimana perjuangannya meniti karir di bidang jurnalistik mulai dari reporter biasa sampai akhirnya menjadi pemimpin redaksi dari beberapa media televisi ternama di negeri ini, menekankan soal esensi seorang wartawan.

    “Esensi wartawan itu bukan untuk menjadi terkenal. Ketika seorang wartawan jadi terkenal, maka habislah kita. Ruang gerak jadi terbatas dan pada akhirnya kita tidak bisa lagi melakukan tugas dengan baik”, jelas wartawan senior ini.

    Menurut mantan pemred Metrotv selama empat tahun ini, pembawa berita jangan sampai menjadi berita. Ketika kita jadi berita, yah sudah habislah. Karena bagaimana pemberita menjadi berita!”, kritik Putra Nababan.

    Menjadi jurnalis sebaiknya memulai dari bawah, sehingga dari pengalaman lapangan itu menjadi modal penting tidak dibodohi oleh bawahan pada saat menjadi pimpinan nantinya. “Jadi jurnalis sebaiknya mulai dari bawah, jadi merintis karir itu penting! Jangan dilihat sekarang. Karena dengan pengalaman lapangan yang dimiliki pada akhirnya membantu kita saat menjadi pimpinan. Kita tidak mudah dibodohi oleh bawahan, karena kita tahu cara kerja di lapangan”, tutur Putra Nababan yang 23 tahun menggeluti dunia jurnalistik.

    Pada bagian akhir, Putra Nababan mengingatkan bahwa dengan kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini, membuat siapa saja bisa menjadi pemred dan pemilik media. “era media sosial saat ini membuat kita menjadi wartawan, pemimpin redaksi dan pemilik media. Saat meng-upload berita di medsos, itu berarti kita sudah menjadi wartawannya, pemrednya, dan pemilik medianya”, pungkas pendiri ID Talent ini.

    Selain pemaparan, diskusi sharing pengalaman yang dipandu oleh moderator Rifal Marbun ini, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang membuat peserta bersemangat untuk mendapatkan jawaban dari narasumber yang dihadirkan. Akhirnya, pemberian cinderamata sebagai tanda terima kasih yang diberikan oleh Jusuf Mujiono Ketum Pewarna dan Hotman J Lumban Gaol Koordinator Acara, menutup rangkaian kegiatan diskusi sharing pengalaman kali ini. (RSO)