Category: Artikel

  • Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

    Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Kepemimpinan millenial tidak hanya berfungsi memberi nasehat, perintah dan mandat pada bawahan, tetapi bagaimana memberi visi, misi, keterbukaan dan tujuan organisasi secara jelas dan komprehensif serta mampu memotivasi. Hal ini disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., dalam Kuliah Umum II STT Rahmat Emmanuel (REM), Jl.  Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapa Gading Jakarta Utara, Jakarta, jumat (2/2/2018).

    Suasana sesi tanya jawab – Kuliah Umum STT REM

    Dikatakan Ade Supandi bahwa, generasi millenial yang lahir antara tahun 1981-2000, saat ini sudah memasuki usia produktif. Mereka tidak hanya unggul dalam Iptek tapi sudah menjadi trendsetter dalam bidang sospol, bahkan generasi milenial merupakan generasi modern yang aktif bekerja, giat dalam penelitian, berpikir inovatif tentang organisasi, memiliki rasa optimisme, kemauan untuk bekerja dengan kompetitif, terbuka dan fleksibel.

    Ade juga mengingatkan bahwa millenial leadership sangat berhubungan dengan keteladanan, sehingga keteladanan menjadi faktor penentu bagi generasi muda untuk menyongsong masa depan mereka.

    “Millenial Leadership itu adalah bagaimana kita memberikan contoh kepada generasi muda. Millenial leadership itu bagaimana membangun generasi muda ini dengan inspirasi, dengan keteladanan untuk menyongsong masa depan mereka,” tegas Laksamana kelahiran Batujajar- Bandung, 26 Mei 1960 ini.

    Kuliah Umum yang mengusung tema, “Millenials Leadership” (Kepemimpinan Generasi Millenial), dengan moderator Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center), KSAL Laksamana Ade Supandi lebih banyak menekankan pada millenial leadership dari sisi militer.

    “Saya hanya akan memberikan bagaimana kita memahami konstelasi dalam leadership dalam Generasi Millenial ini dari sisi militer. Saya tidak akan bahas dari sisi ahli-ahli motivator ataupun inspirator,” ujar Kasal didampingi oleh Kadisdikal, Kadispenal dan Wadan Seskoal.

    Ditegaskannya bahwa kepemimpinan dalam militer tidak akan lepas dari tiga ranah, yaitu; ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah afektif/attitude atau sikap yang bersangkutan. Menurutnya seorang pemimpin harus memahami ketiga ranah ini.

    “Kapasitas kepemimpinan terdiri dari tiga elemen, yaitu; pengetahuan, ketrampilan dan karakter,” tegasnya.

    Lebih lanjut Ade Supandi menguraikan dengan lugas tentang asas kepemimpinan yang ada dalam TNI, yaitu; Taqwa, Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri handayani, Waspada purba Wasesa, Ambeg Pramana Arta, Prasaja, Satya, Gemi Nastiti, Belaka dan Legawa.

    “Asas ini memang kalau dianggap kuno ya kuno, tapi bagi TNI, asas kepemimpinan ini adalah bagian yang membina kita. Sederhana tapi kalimat ini menjadi filosofi,” tegas Ade Supandi.

    Tukar-menukar Cinderamata dari KSAL, Laksamana Ade Supandi kepada Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM) dan sebaliknya dari Dr. Ariasa H Supit, M.Si ( Ketua STT REM) kepada Laksamana Ade Supandi.

    Pada bagian akhir paparannya, Ade Supandi menjelaskan soal ‘Kode Etik’ perwira TNI dan Trisila TNI Angkatan Laut, yang menurutnya bersifat universal, antara lain; Budhi atau selalu berbuat luhur, Bhakti atau mengerjakan dengan tuntas, Wira atau selalu di depan dan Utama atau menjunjung tinggi kehormatan. Adapun trisila TNI adalah; Disiplin yaitu sikap mentaati segala peraturan dan tata tertib berdasarkan kesadaran pengabdian, Hierarki yaitu bisa menempatkan diri dan bertindak sesuai kepangkatan, kedudukan dan jabatan, Kehormatan yaitu wajib menjunjung tinggi nama baik angkatan dan negara dengan selalu berpikir, bersikap dan berbuat tanpa cela.

    ‘Aku Smart’, menjadi tips pria lulusan Lemhannas RI PPSA angkatan-17 (2011) dihadapan mahasiswa/mahasiswi STT REM, alumni, dosen pengajar, tokoh Kristiani serta undangan yang memenuhi ruang kuliah umum STT REM.

    Tampak hadir dalam kuliah umum ini, Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM), Dr. Ariasa H Supit, M.Si ( Ketua STT REM), Dr. Antonius Natan, M.Th ( Wakil Ketua I STT REM/Sekum PGLII DKI Jakarta), Pdt. Brigjen TNI (Purn) Drs. Harsanto Adi, M.Th (Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) beserta jajaran pengurus pusat API, dan masih banyak lagi.

    Sebelum foto bersama dan pemberian Cinderamata, sesi tanya jawab mewarnai kuliah umum yang kedua STT REM di tahun 2018 ini.

  • DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH: Mereka adalah Keluarga kita juga

    DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH: Mereka adalah Keluarga kita juga

    CIBUBUR, WARTANASRANI.COM – Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Hal ini diungkapkan Dr. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH., dalam acara Talkshow dan Diskusi Interaktif yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Indonesia Jawa Barat bekerjasama dengan Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) di Saung Soka, Taman Wiladatika Cibubur, sabtu (03/02/2018).

    Suasana Talkshow dan Diskusi Interaktif

    Talkshow yang mengangkat tema, “Memberdayakan yang Terabaikan” menghadirkan juga dua narasumber lain yaitu; Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik).

    Sebagai pembicara kedua, Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan ini mengawali dengan memberi motivasi sesuai dengan prinsip hidupnya. Dikatakannya, untuk menjadi orang yang sukses dan berprestasi maka seseorang harus memiliki “Tertius, Altius dan Fortius”.

    “Menjadi orang yang sukses dan berprestasi, pertama ia harus menjadi orang yang tertius atau tercepat artinya tampil lebih dahulu, yang pertama, tepat waktu. Kedua ia harus altius atau yang tertinggi, artinya apa yang dilakukan harus maksimal. Ketiga harus fortius atau terkuat, artinya harus sehat dan bugar,” pungkas dokter yang dipanggil ‘Panglima Kesorga’ oleh bawahannya, karena gaya kepemimpinannya yang cenderung ala militer dan ‘Kesorga’ karena bidang kerjanya kesehatan olah raga.

    Berkaitan dengan tema Talkshow, Ampera Matippanna mengupas soal tugas dan tanggung jawab gereja terhadap umat yang terabaikan. Menurutnya, peran gereja terhadap umat yang terabaikan adalah bagaimana melatih dan memotivasi supaya bisa mandiri.

    “Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh gereja adalah melatih dan beri motivasi, supaya mereka bisa mandiri. Yang terabaikan itu, bukan saja mereka yang ada di penjara, tetapi mereka yang secara fisik tidak sempurna, mereka juga adalah yang terabaikan,” ujarnya.

    “Latih dan beri motivasi supaya mereka bisa mandiri,” ujarnya lagi

    Ditegaskan Ampera Matippanna, bahwa keterlibatan gereja terhadap mereka yang terabaikan memiliki dasar firman Tuhan yang kuat. Sehingga akibatnya bila gereja tidak melakukannya berarti gereja adalah pendusta.

    “Dasar pelayanan untuk memberdayakan mereka yang terabaikan, ada dalam hukum yang pertama dan terutama, yaitu dalam Matius 22:35-38. Jadi bila kita berkata mengasihi Tuhan tapi menelantarkan sesamanya, kita adalah pendusta sesuai firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:19-21,” tegasnya.

    Bicara soal siapa yang terabaikan, dr. Ampera Matippanna menguraikan lebih spesifik. Orang yang bodoh, orang nakal, orang lemah, orang jelek, disabilitas fisik, retardasi mental, kemiskinan, broken home, patologi sosial (Napi, HIV-Aids), dan lain-lain, disebutnya sebagai bagian dari orang yang terabaikan yang membutuhkan peran gereja untuk memberdayakan mereka.

    “Mereka adalah orang-orang yang perlu diberdayakan dan ini adalah tugas kita semua, bukan hanya tugas YKMI atau Pewarna. Ini adalah tugas gereja secara individu. Ini tugas kita semua!,” ujarnya.

    “Banyak anak pejabat yg terlibat narkotika yg tidak pernah dikunjungi karena orang tuanya merasa malu. Anak-anak Tuhan harus merubah mindset bahwa mereka adalah anak- anak kita yang harus disentuh, diberdayakan,” ujarnya lagi.

    Kehadiran gereja dalam tugas mulia ini, menurut dr. Ampera untuk mencegah atau meminimalisir akibat mereka yang terabaikan, seperti; kurang percaya diri, berpikiran negatif, tidak mampu bekerja sama, tdk mempercayai orang lain, merasa terasing, melihat orang lain sebagai musuh, iri melihat keberhasilan orang lain, selalu curiga, punya potensi besar membahayakan orang lain, akhirnya mereka menjadi mencuri, membunuh, memperkosa, narkotiks, dan lain lain.

    “Melihat dari Perubahan perilaku sesuai teori Kurt Lewin Kurt Lewin (1970), yaitu suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan2 pendorong dan kekuatan penahan, disinilah peran seorang konselor untuk menguatkan. Seorang konselor harus memahami 3 faktor determinan dari perilaku seseorang yaitu; faktor pembawa, faktor pendukung dan faktor pendorong sehingga maksimal pelayanannya pada mereka yang dilayani,” jelasnya.

    Lebih jauh, dr. Ampera menegaskan bahwa pemberdayaan orang yang terabaikan  harus ada komitmen bersama dalam penanganan dan pemberdayaan bagi orang-orang yang terabaikan, melakukan pendidikan dan pelatihan keterampilan produktif, membangun dan mengembangkan kepedulian sosial melalui dukungan pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan, pengembangan karakter kepribadian dan potensi individual dalam masyarakat.

    Pada bagian akhir paparannya, dr. Ampera menjelaskan 5 tanggung jawab gereja terhadap mereka yg terabaikan, seperti; tanggung jawab liturgi (liturgia) membawa mereka dekat dengan Tuhan, tanggung jawab pewartaan (Kerygma) pentingnya pemberitaan supaya banyak anak Tuhan yang mengetahui, tanggung jawab persekutuan (koinonia), tanggung jawab pelayanan (diakonia) dan terakhir tanggung jawab kesaksian (marturia).

    “Saya mengajak sebagai warga gereja untuk melibatkan diri secara aktif karena mereka adalah anak-anak Tuhan. Banyak napi yang setelah bebas, kembali dan kembali melakukan tindak pidana dan masuk penjara lagi. Menjawab hal ini, saya kembali mengajak kita semua untuk melihat betapa mahalnya, berharganya satu jiwa bagi Tuhan,” ungkapnya.

    “Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Kita butuh banyak tangan untuk hasil yang besar. Kita butuh tangan pejabat, kita butuh tangan pengusaha, kita butuh tangan pewarta dan tangan-tangan yang lain untuk hasil yang maksimal dalam memberdayakan mereka yang terabaikan,” ungkapnya lagi mengakhiri paparannya.

  • Talkshow Pewarna Indonesia dan YKMI

    Talkshow Pewarna Indonesia dan YKMI

    CIBUBUR, WARTANASRANI.COM – Pewarna Indonesia Jawa Barat bersama Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) menggelar Talkshow dan Diskusi Interaktif dengan tema, “Memberdayakan yang Terabaikan, sabtu (03/02/2018).

    Narasumber: Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia), DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH (Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik)

    Bertempat di Saung Soka, Taman Bunga Wiladatika, Cibubur, talkshow yang dipandu oleh Daniel Tanamal, menghadirkan narasumber, Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia), DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH (Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik).

    Setelah doa pembukaan oleh Pdt. Dwi Kurnia, Talkshow diawali dengan sambutan Ketua Umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia, Yusuf Mudjiono. Dalam sambutannya, pemilik majalah Gaharu ini menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) atas kesediaannya untuk bersinergi dengan Pewarna Indonesia Jawa Barat  dalam menyelenggarakan Talkshow dan Diskusi Interaktif yang diharapkan mampu memberi inspirasi kepada siapa saja untuk memberdayakan mereka yang terabaikan.

    “Terima kasih atas kesediaan YKMI untuk bersinergi dengan Pewarna Indonesia Jawa barat. Kiranya acara Talkshow dan Diskusi Interaktif hari ini bermanfaat dan dapat kita tularkan dimanapun kita berada,” ujarnya.

    Tampil sebagai pembicara pertama, Pdt. Osil Totongan dengan lugas memperkenalkan Yayasan Karmel Ministry Indonesia. Menurutnya, sejak berdiri tahun 2016, YKMI memang sangat fokus dalam soal bagaimana memberdayakan mereka yang terabaikan.

    “Berdiri sejak tahun 2016, YKMI banyak bergerak untuk memberdayakan mereka yang terabaikan. Misalnya, YKMI sedang membina seorang napi yang saat ini mengikuti pendidikan theologia di salah satu STT yang ada di Jakarta. Selain itu ada juga yang sudah membuka usaha warung kopi,” terangnya, memberi bukti peran YKMI dalam hal pemberdayaan mereka yang terabaikan.

    Dikatakan Pdt. Osil Totongan bahwa keteladanan Yesus menjadi dasar keterlibatan YKMI dalam hal pemberdayaan mereka yang terabaikan.

    “Keteladanan dari Yesus terhadap orang-orang yang terabaikan, membawa YKMI mengerjakan pelayanan seperti ini,” ujarnya.

    “Pelayanan ini akan dikerjakan sampai Tuhan Yesus datang! YKMI akan melakukan pendampingan khususnya untuk napi, dimulai saat masa kritis pertama, yaitu saat vonis sampai masa kritis kedua, yaitu ketika mereka bebas dan dikucilkan oleh masyarakat bahkan keluarga,” tambah Pdt. Osil Totongan, menjawab pertanyaan, sampai kapan YKMI menjalankan misinya untuk memberdayakan mereka yang terabaikan.

    Pada sessi ke dua, DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH., dengan apik mengupas soal tugas dan tanggung jawab gereja terhadap umat yang terabaikan. Dilandasi dari hukum yang pertama dan terutama dalam Matius 22:35-38, Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan ini menekankan soal dasar pelayanan untuk memberdayakan mereka yang terabaikan.

    “Banyak yang berkata mengasihi Tuhan, tapi menelantarkan sesamanya. Itu adalah pendusta sesuai firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:19-21,” tegas dokter yang dipanggil Panglima Kesorga ini.

    Selama kurang lebih 30 menit, dengan gayanya yang khas dan penuh semangat, dr. Ampera Matippanna menguraikan soal siapa yang terabaikan, apa akibat mereka yang terabaikan, bagaimana memberdayakan orang yang terabaikan, sampai pada 5 tanggung jawab gereja terhadap mereka yang terabaikan.

    Pada akhirnya, dr. Ampera Matippanna mengajak semua umat Tuhan untuk ambil bagian dalam pelayanan mulia ini.

    “Saya mengajak sebagai warga gereja untuk melibatkan diri secara aktif karena mereka adalah anak-anak Tuhan. Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Kita butuh banyak tangan untuk hasil yang besar. Kita butuh tangan pejabat, kita butuh tangan pengusaha, kita butuh tangan hamba-hamba Tuhan, kita butuh tangan wartawan, untuk hasil yang maksimal dalam pelayanan ini,” ujarnya penuh semangat.

    Suasana saat sessi tanya jawab

    Gayung bersambut, pemateri terakhir, Ir. Soleman Matippana yang mengupas lebih pada sisi orang yang terabaikan, kembali menyinggung soal kondisi kaum yang terabaikan.

    Menurut direktur PT. Rande Buana Teknik ini, kondisi tidak punya uang, tidak punya keluarga (terpisah), tidak percaya diri, pasrah pada nasib atau keadaan membawa mereka yang terabaikan rentan berbuat kriminal. Oleh karena itu dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan mereka.

    “Mereka perlu dukungan keluarga, sahabat, gereja dan lingkungan sekitar. Dukungan kita bisa mencegah mereka untuk kembali berbuat kriminal. Saatnya kita hadir untuk mereka,” seru Pembina YKMI ini.

    Kiat-kiat untuk berwiraswasta, kesiapan menghadapi tantangan sampai menemukan mentor atau teman diskusi, menjadi tema menarik bahasan pengusaha muda yang sukses ini selama 20 menit. Sebelum menutup pemaparannya, Soleman Matippanna menyampaikan kisah sukses seorang narapidana.

    “Mari kita tularkan semangat berwiraswasta atau enterpreneur untuk meraih sukses,” pesan Soleman Matippana singkat.

    Pada bagian akhir acara Talkshow, Bapak Temazisochi Zebua, seorang mantan narapidana memberikan testimony sekaligus mengiyakan tentang pentingnya pemberdayaan bagi mereka yang terabaikan, khususnya para mantan narapidana.

    “Talkshow hari ini sangat bermanfaat buat saya. Memang apa yang dijelaskan sesuai dgn apa yang saya dalam lapas. Secara pribadi kami membutuhkan kesinambungan pembinaan. Terima kasih kepada YKMI yang selalu membimbing saya sampai saat ini. Terima kasih atas acara ini karena memberikan kekuatan bagi kami,” ungkapnya penuh syukur.

    Sebelum ditutup dengan doa oleh Pdt. Ronald S. Onibala, koordinator acara Talkshow dan Diskusi Interaktif, setiap narasumber diberi kesempatan untuk memberikan kesimpulan.

  • Pernyataan Sikap FUKRI Merespon Situasi Bangsa Jelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019

    Pernyataan Sikap FUKRI Merespon Situasi Bangsa Jelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Merespon situasi bangsa menjelang, pada saat dan setelah Pilkada serentak di 171 Provinsi/Kabupaten/Kotamadya, juga dalam rangka persiapan Momentum Doa Se-Dunia 2019, hari ini Kamis, 18 Januari 2018, bertempat di Bala Keselamatan, Jl. Kramat Raya 55 Jakarta Pusat, Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI) yang terdiri dari delapan pimpinan aras gereja nasional mengeluarkan pernyataan sikap lewat siaran pers bersama.

    Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI) yang terdiri dari delapan Pimpinan Aras Gereja Nasional 

    Kedelapan aras gereja yang hadir adalah; Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Bala Keselamatan Indonesia, Persekutuan Baptis Indonesia, Gereja Ortodoks, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

    Secara garis besar ada empat poin penting pernyataan sikap FUKRI yang dibacakan oleh Romo Guido Suprapto dari KWI. Berikut isi pernyataan sikap FUKRI secara lengkap.

     

    UMAT KRISTIANI INDONESIA

    MENDUKUNG PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019:

    Sebagai Upaya Mewujudkan Demokrasi dan Menjaga

    Eksistensi Bangsa Indonesia

     

    1. Arti Penting Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

    Pemilu merupakan sarana yang sah menurut Undang-Undang untuk memilih calon pemimpin bangsa dan pejabat publik. Maka semua warga masyarakat harus ikut berperan dan bertanggungjawab. Proses pemilu harus berjalan dengan baik, yakni: pertama, terbukanya peluang bagi setiap warga negara untuk menyatakan hak memilih dan dipilih dalam kontestasi jabatan publik ini; Kedua, tersedianya fasilitas yang memadai dan sama bagi berlangsungnya hubungan pengenalan secara timbal balik antara kontestan dan pemilih; ketiga, terjaminnya proses penentuan pilihan oleh pemilih terhadap konstestan secara langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil.

    Tahun 2018 akan diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah dan Tahun 2019 akan berlangsung Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Sangat penting bagi semua warga masyarakat Indonesia untuk berupaya agar Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019 berjalan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, damai dan berkualitas. Tidak boleh terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung, karena bila kekerasan terjadi, damai dan rasa aman tidak akan mudah dipulihkan.

    Kita harus selalu waspada dan berupaya agar usaha-usaha siapapun yang ingin memecah belah atau adu domba demi tercapainya suatu target politik tidak terjadi.

    Hal penting yang harus menjadi perhatian bersama adalah menghindari penggunaan isyu/sentimen agama sebagai cara dan sarana memperoleh suara atau dukungan. Oleh karena itu, menghimbau kepada semua pihak baik sebagai pribadi maupun parpol dan para pendukungnya agar tidak menggunakan isu/sentimen agama dalam kontestasi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 karena selain menciderai semangat demokrasi, juga bisa menimbulkan disharmoni dalam kebersamaan sebagai warga bangsa.

     

    1. Ikut Menjaga Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

    Pemilu sebagai upaya memajukan dan mewujudkan demokrasi tetapi potensi-potensi persoalan yang menyertainya selalu ada. Karena itu, Gereja bersama semua warga negara terpanggil untuk terselenggaranya Pemilu dengan baik dan bermartabat. Sebagaimana bunyi Firman Allah, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer.29:7). Berikut adalah hal-hal yang bisa dan perlu diperankan oleh Umat Kristiani:

    • Peran Pimpinan Lembaga GerejaPimpinan Lembaga Gereja atau pemuka jemaat hendaknya mendorong jemaatnya untuk menggunakan haknya dengan berpartisipasi dalam pilkada dan mengingatkan serta memberi contoh agar keterlibatannya cerdas, bertanggung dan berdasarkan suara hati. Pemimpin Lembaga Gereja harus memastikan untuk tidak membawa lembaga Gereja ke dalam politik praktis. Para pemimpin jemaat diharapkan hadir untuk membimbing jemaatnya agar tidak mudah terpecah-pecah oleh pilihan politik yang berbeda, tahan terhadap berbagai kampanye yang berbau SARA, dan mendorong jemaatnya yang ikut kontestasi politik untuk memegang teguh moralitas dan integritas sebagai orang beriman.
    • Umat KristianiUmat Kristiani yang telah memenuhi syarat harus ikut terlibat menentukan dan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin di daerahnya melalui mekanisme yang telah ditentukan oleh peraturan dan undang-undang yang berlaku. Ikut memilih dalam Pilkada 2018 dan pemilu 2019, selain merupakan hak, juga merupakan panggilan Umat Kristiani sebagai bagian dari warga negara. Dengan ikut memilih berarti Anda ambil bagian dalam menentukan arah perjalanan dan kelangsungan kehidupan daerahnya. Oleh karena itu, penting disadari bagi pemilih untuk tidak saja datang dan memberikan suara, melainkan menentukan pilihannya dengan cerdas, bertanggungjawab dan sesuai dengan suara hati sehingga partisipasi kita bermartabat.

     

    1. Kriteria Pilihan.

    Para calon pimpinan daerah yang akan Anda pilih, harus dipastikan bahwa yang bersangkutan adalah orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan anti kekerasan. Calon pimpinan daerah yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan tidak layak dipilih. Hati-hatilah dengan sikap ramah-tamah dan kebaikan yang ditampilkan sang calon hanya ketika berkampanye, seperti membantu secara material atau memberi uang. Pastikan Anda tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan sang calon mendapatkan dukungan suara. Ikut dalam politik uang dilarang oleh ajaran Kristiani. Sebab uang/suap dapat memutarbalikkan kebenaran. Seperti yang tertulis dalam Alkitab â€œSuap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Kel. 23:8). Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah Anda memperhitungkan calon pimpinan yang berjuang menjaga dan menegakan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia!

     

    1. Berdoa Untuk Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

    Sebagai umat Kristiani, marilah kita mengiringi proses pilkada dan pemilu dengan doa memohon berkat dari Tuhan, agar berlangsung dengan damai, berkualitas dan bermartabat sehingga menghasilkan para pemimpin yang benar-benar memperhatikan rakyat dan setia berjuang demi terwujudnya cita-cita bangsa dan Negara kita tercinta!

     

    Jakarta, 18 Januari 2018,

    Atas Nama Forum Umat Kristiani Indonesia.

    1. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
    2. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
    3. Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII)
    4. Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI)
    5. Persekutuan Baptis Indonesia (PBI)
    6. Bala Keselamatan
    7. Gereja Ortodoks Indonesia
    8. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK)
  • Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si : Penguatan Institusi Pendidikan dan SDM jadi Prioritas Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI

    Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si : Penguatan Institusi Pendidikan dan SDM jadi Prioritas Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Membangun lembaga pendidikan yang akuntabel, berkualitas, baik dalam pengelolaan sumber daya, dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain, menjadi prioritas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia mulai tahun 2018.

    Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si saat menandatangani MOU antara Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI dengan DPP Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia

    Hal ini disampaikan Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si., disela-sela penandatanganan MOU, Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI dengan DPP Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Id) di ruang kerjanya, Lantai 10 Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, Jalan M. H. Thamrin Nomor 6, Jakarta, Selasa (2/01/2018).

    “Dari kesemuanya, dalam rangka implementasi program besar dari Dirjen Bimas Kristen yang bertujuan untuk edukasi masyarakat Kristen di Indonesia, Dirjen Bimas Kristen pada tahun 2018 ini tetap terkonsentrasi pada bidang pendidikan. Mulai tahun ini kita sudah harus melihat prioritas pendidikan sebagai bagian penting,” begitu ungkap Rektor universitas Pattimura periode tahun 2012 – 2016.

    Lebih jauh Lelaki kelahiran Ambon ini mengungkapkan bahwa, dalam pimpinannya, Ditjen Bimas Kristen akan melakukan penguatan institusi pendidikan mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Penguatan kapasitas institusi itu akan dibarengi dengan penguatan sumber daya manusianya, Baik guru maupun dosen. Sumber daya manusia dalam hal ini dosen, juga akan masuk sebagai skala prioritas.

    Bahkan menurut Prof. Pentury, dosen akan mendapat kesempatan untuk disekolahkan melalui program beasiswa. Selama ini Ditjen Bimas Kristen baru memberikan bantuan studi saja, yang sifatnya hanya bantuan tahunan saja. Sedangkan program beasiswa yang akan digulirkan ini adalah pembiayaan pendidikan dari mulai hingga selesai pendidikannya.

    “Program beasiswa tersebut bukan dirancang hanya untuk menjalankan pendidikan di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Dan untuk memulainya, dosen yang masuk dalam kategori prioritas untuk merasakan program beasiswa ini adalah dosen-dosen yang memiliki NIP Kementerian Agama RI. Namun demikian tidak menutup kemungkinan pada dosen-dosen lainnya. Pendidikan luar negeri yang akan disasar adalah pendidikan di Korea dan Eropa. Mungkin nggak banyak tahun ini! lima sampai sepuluh bisa kita sekolahkan, ‘kan lumayan,” ungkap Profesor yang berulang tahun setiap tanggal 17 Mei ini.

    “Dengan menyekolahkan sebanyak  lima sampai sepuluh orang pada tahun ini, maka pada tahun ke tiga atau ke-empat masyarakat Kristen di Indonesia akan memiliki sumber daya manusia yang mengalami peningkatan mutunya,” tegas Prof. Pentury.

  • Presiden Jokowi akan Hadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017

    Presiden Jokowi akan Hadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo akan menghadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 yang dihelat di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, sore nanti, Kamis 28 Desember 2017.

    Namun sebelum ke Kota Pontianak, Presiden akan singgah terlebih dahulu di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat untuk menghadiri Puncak Perayaan Hari Ulang Tahun Angkatan Muda Siliwangi (AMS) ke-51 yang digelar di Gedung Merdeka, Bandung.

    Presiden dan Ibu Iriana akan bertolak ke Bandung dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 melalui Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma pada pukul 08.15 WIB.

    Setelah menghadiri acara di Bandung, Presiden dan Ibu Iriana kemudian akan melanjutkan perjalanan menuju Provinsi Kalimantan Barat.

    Setibanya di Provinsi Kalimantan Barat, Presiden dijadwalkan akan meresmikan terminal baru Bandar Udara Supadio. Presiden juga akan menyerahkan sertifikat tanah untuk rakyat di Halaman Masjid Mujahidin, Kota Pontianak, sebelum menghadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017.

    Turut menyertai Presiden dan Ibu Iriana dalam kunjungan kerja ke dua provinsi ini, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana, Sekretaris Militer Presiden Marsda TNI Trisno Hendradi dan Komandan Paspampres Mayjen TNI (Mar) Suhartono.

  • GPdI Rehobot Tonjong Bogor Gelar Perayaan Natal 2017

    GPdI Rehobot Tonjong Bogor Gelar Perayaan Natal 2017

    BOGOR,  WARTANASRANI.COM – Gereja Pantekosta di Indonesia jemaat Rehobot Tonjong, Bogor Jawa Barat, menggelar Ibadah Perayaan Natal pada hari Minggu, 24 Desember 2017 bertempat di Gedung Gereja GPdI Rehobot Tonjong. Ibadah perayaan Natal ini dihadiri dan oleh seluruh jemaat dan beberapa hamba-hamba Tuhan dari sekitar Bogor dan Bekasi.

    Mengambil tema “Percaya Yang Memberi Sukses”, nats pokok Injil Yohanes 20:29. Ibadah diawali dengan pujian dan penyembahan yang penuh khidmat sehingga jemaat yang hadir merasakan hadirat Tuhan memenuhi tempat tersebut.

    Khotbah di layani oleh Gembala Sidang setempat Pdt. Andereas Tairas. Dalam khotbahnya ia mengajak seluruh sidang jemaat Tuhan diakhir tahun ini dan untuk mengawali tahun yang baru 2018, agar meningkatkan nilai percayanya kepada Tuhan Yesus Kristus.

    “Artinya berkat kesuksesan dan keberhasilan bagi orang percaya dapat dimiliki, dirasakan sungguh-sungguh”, tegasnya.

    Petrus sebagai Nelayan yang hebat dan jarang gagal. Tapi suatu hari sepanjang malam ia tidak mendapatkan apa-apa, hingga menepikan kapal dan membereskan jala. Yesus kemudian menyuruhnya untuk menebarkan jala dan ia menurutinya, lanjutnya. Petrus mendapatkan ikan yang banyak, nah inilah buah dari percaya Petrus kepada Yesus Kristus, ia menaruh percaya kepada Tuhan dan nyata benar dia berhasil, artinya itu buah dari percaya, jadi tema ini nyata bahwa dengan percaya kesuksesan itu nyata, tambah suami dari Pdm. Neni Tairas.

    Sesudah khotbah acara dilanjutkan dengan pemasangan lilin oleh seluruh Majelis Gereja dan Gembala, kemudian dilanjutkan dengan pemberian kado Natal untuk para Majelis Gereja, yang diserahkan oleh Bapak dan Ibu Gembala.

    Suasana Pemasangan Lilin

    Acara juga dimeriahkan oleh penampilan anak-anak sekolah minggu dan pemuda remaja dalam persembahan pujian dan tarian, yang dibagi beberapa sesi yang disuguhkan dalam berbagai bantuk yang kreatif sehingga menarik perhatian seluruh jemaat. Sukacita Natal sangat terasa ditengah-tengah perayaan natal ini.

    Suasana Persembahan Pujian

    Pada bagian akhir acara, Pdt. Andreas Tairas mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan karena acara dapat berjalan dengan baik, dan berterima kasih kepada panitia dan  jemaat yang  sudah bekerja keras untuk mensukseskan acara ini. Dan ucapan terima kasih juga di sampaikan kepada semua hamba-hamba Tuhan yang sudah hadir dan kepada aparat dan pemerintah setempat yang sudah turut membantu, sehingga perayaan Natal berjalan dengan lancar.

    Ketika ditemui oleh awak media, menanyakan apa pesan Natal dan harapannya untuk jemaat Tuhan yang dilayaninya menjelang tahun yang baru, ia berkata : “Tingkatkan percaya kita kepada Tuhan, karena hanya itulah yang menjadi sumber kesuksesan kita”. ucapnya penuh harap.

    Keluarga Gembala Sidang

     “Melihat keadaan zaman sekarang ini, nilai-nilai rohani sudah mulai berkurang, dengan kesibukannya, perhatian, pandangan mereka kepada alat-alat teknologi yang canggih, media-media sosial yang mereka tidak sadari, mereka sudah terkuras pada media tersebut, sehingga mengurangi nilai-nilai percaya mereka”, lanjutnya.

    Ada orang yang percaya, tapi peningkatan kepada percaya itu berkurang, nah tidak disadari bahwa yang namanya percaya itu akan diuji. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan, pungkas ayah dari 5 orang anak ini Frengklyn, Trivena, Feliks, Albert, dan Clara.

  • Serunya Talkshow Pewarna Indonesia dan Yakoma-PGI tentang Pro-Kontra Yerusalem

    Serunya Talkshow Pewarna Indonesia dan Yakoma-PGI tentang Pro-Kontra Yerusalem

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Pro-Kontra Yerusalem dalam berbagai perspektif menjadi tema TalkShow yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Masyarakat (YAKOMA-PGI) di Kafe Libry, Toko Buku BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang Raya No. 22-23, Jakarta Pusat, kamis (21/12/2017).

    Narasumber; Prof. Dr. Marthen Napang (Ahli Hukum Internasional Univ. Hassanudin Makasar), Pdt. Gomar Gultom (Sekum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia – PGI), Monique Rijkers (Founder Hadassah of Indonesia), Pdt. Dr. Audy Wuisang (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia – PIKI) dan Pnt. Benjamin Obadiyah (Gereja Kehilat Mesianik Indonesia).

    Dipandu Argo Pandoyo dan Daniel Tanamal dari Pewarna Id., Talkshow yang berlangsung seru dan menarik ini, menghadirkan narasumber; Prof. Dr. Marthen Napang (Ahli Hukum Internasional Univ. Hassanudin Makasar), Pdt. Gomar Gultom (Sekum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia – PGI), Monique Rijkers (Founder Hadassah of Indonesia), Pdt. Dr. Audy Wuisang (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia – PIKI) dan Pnt. Benjamin Obadiyah (Gereja Kehilat Mesianik Indonesia).

    Sesuai dengan waktu yang diberikan, masing-masing narasumber silih berganti memaparkan materi yang telah dipersiapkan selama 10-15 menit.

    Dimulai dari Monique Rijkers sebagai pemateri pertama yang berpandangan bahwa kembali ke Israel adalah maunya Tuhan yang dikenal dengan Aliyah”. Dilanjutkan Pdt. Dr. Audy Wuisang yang menekankan soal klaim iman ketika orang Kristen berbicara soal Kota Yerusalem. Sementara Pnt. Benjamin Obadiyah menyatakan bahwa Yerusalem adalah Ibukota Israel baik dari apa kata Alkitab maupun apa kata sejarah.

    Lain lagi dipaparkan oleh Pdt. Gomar Gultom yang menjelaskan soal perlunya pemahaman orang Kristen tentang temuan-temuan arkeologis yang jauh sebelum Israel sudah ada penghuni sebelumnya. Sehingga menurut Sekum PGI ini, mendorong agar berpikir jernih seupaya tidak terjebak pada kesimpulan yang salah. Sebab menurutnya sesuai Pembukaan UUD 1945, Indonesia harus ambil bagian dalam perdamaian Palestina-Israel namun tentunya untuk kesana, Indonesia harus membuka dulu hubungan diplomatik dengan Israel.

    Tak ketinggalan, Prof. Dr. Marthen Napang, sebagai Pakar Hukum Internasional dari Universitas Hassanudin Makasar, mengajak semua yang hadir untuk melihat dari konteks modern tentang kebebasan dan kemerdekaan dalam satu negara. Dikatakannya bahwa dari sejarah modern, kemerdekaan dan kedaulatan dari perspektif hukum internasional adalah semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri termasuk didalamnya Ibukotanya.

    Keseruan Talkshaw yang berlangsung selama 3 jam ini begitu terasa, saat para peserta dengan antusias bertanya kepada para narasumber terkait materi yang disampaikan. Terlihat moderator kewalahan mengatur sesi tanya jawab karena hampir semua peserta ingin menjadi penanya sehubungan dengan tema yang memang lagi hangat-hangatnya dibicarakan seantero dunia.

    Panitia menyerahkan cinderamata kepada setiap narasumber

    Perbedaan-perbedaan pandangan yang terlihat dari talkshow yang dihadiri kurang lebih 100 peserta ini menjadi warna tersendiri walau pada akhirnya semua sepakat bahwa penyelesaian Yerusalem harus mengedepankan perdamaian.

    Dibagian akhir acara, panitia menyerahkan cinderamata kepada setiap narasumber yang masing-masing diserahkan oleh Ketum Pewarna Id, Direktur Yakoma-PGI, Ketua Pewarna Jabar, Ketua Pewarna DKI dan Humas PGI.

  • PGPI, PGI dan PGLII  menyambut dan mendukung penuh Perayaan Natal In-door yang diselenggarakan pihak Pemprov DKI Jakarta

    PGPI, PGI dan PGLII menyambut dan mendukung penuh Perayaan Natal In-door yang diselenggarakan pihak Pemprov DKI Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Rencana Perayaan Natal  Pemprov DKI yang sempat menimbulkan polemik sebagian umat Kristiani berkaitan dengan masalah tempat pelaksanaan perayaan natal yang semula akan diselengarakan di Monas akhirnya dipindahkan di tempat tertutup atau in-door.

    Dilansir dari majalahgaharu.com, kabar tentang dipindahkannya tempat perayaan Natal Pemprov DKI disampaikan oleh Pengurus Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) DKI Jakarta,  Senin 18/12/17.

    PGPI DKI Jakarta mengaku bahwa informasi tersebut  langsung diterima dari Pihak Pemprov DKI Jakarta (Staff Gubernur). Bahwa  Gubernur mengatakan perayaan Natal  yang rencananya semula akan diadakan di Monas, diubah ke in-door. Hal tersebut dengan mempertimbangkan beberapa hal diantaranya bahwa Gubernur ingin mengayomi seluruh umat Kristen di Jakarta, disamping itu juga pertimbangan info cuaca dari BMKG bahwa di bulan Januari akan turun hujan yang cukup extrim.

    Ketua PGPI DKI Jakarta, Pdt. Jason Balompapueng menyambut baik dan mengatakan  seperti semula bahwa PGPI DKI mendukung aktif acara perayaan natal DKI yang diinisiasi oleh Gubernur, dimanapun tempatnya baik in-door maupun out-door.

    Namun dengan pelaksanaan di in-door tersebut, tiga aras gereja  PGPI, PGI dan PGLII  menyambut dan mendukung penuh perayaan natal yang diselenggarakan pihak Pemprov DKI Jakarta.

  • Jelang Natal dan Tahun Baru, Presiden Minta Jajarannya Antisipasi Distribusi Logistik

    Jelang Natal dan Tahun Baru, Presiden Minta Jajarannya Antisipasi Distribusi Logistik

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menjelang perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, sejumlah persiapan dan langkah antisipasi dilakukan pemerintah. Meskipun rutin terjadi setiap tahunnya, namun pemerintah tetap memberikan perhatian pada kedua hari besar tersebut.

    Dalam rapat terbatas yang digelar Presiden Joko Widodo pada Senin, 18 Desember 2017, di Istana Merdeka, Kepala Negara menekankan kepada jajarannya untuk menjaga ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga pangan serta kelancaran distribusi logistik, yang meliputi pangan, bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di Tanah Air.

    “Apapun harus kita antisipasi mengingat telah terjadi cuaca ekstrim serta bencana di beberapa daerah, sehingga ketersediaan dan stabilitas harga pangan perlu mendapatkan perhatian yang serius,” ujar Presiden.

    Selain itu, Presiden juga meminta jajarannya untuk meningkatkan kebutuhan dan pelayanan transportasi agar semakin nyaman serta mudah diakses oleh masyarakat.

    “Apalagi akhir tahun ini bertepatan dengan momen liburan sekolah, sehingga kebutuhan pada layanan transportasi semakin meningkat,” ungkapnya.

    Keselamatan warga dalam menggunakan setiap sarana transportasi, baik transportasi darat, laut, maupun udara juga menjadi fokus utama pemerintah.

    Terakhir, Presiden meminta jajaran POLRI, TNI, dan BIN untuk bersama-sama dengan pemerintah dan masyarakat mengantisipasi terjadinya gangguan-gangguan keamanan dan ketertiban di tempat umum maupun lingkungan sekitar.

    “Hadirkan rasa aman pada masyarakat dengan meningkatkan pengawasan, pengamanan terhadap tempat-tempat publik, tempat ibadah, bandar udara, pelabuhan, stasiun, dan terminal bus,” ucap Presiden.