Category: Ragam

  • Sambut Sumpah Pemuda, Pewarna Id Gelar Talk Show, Warna Muda Indonesia

    Sambut Sumpah Pemuda, Pewarna Id Gelar Talk Show, Warna Muda Indonesia

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM — Peringatan Sumpah Pemuda adalah momentum bangkitnya kembali semangat pemuda dalam membangun bangsa dan tanah air, berlandaskan Kebhinekaan dalam Persatuan dan Kesatuan.

    Fenomena gerakan anti kemajemukan, fanatisme kelompok dan tindakan pengecut para teroris atau anarkisme tersebut menunjukkan bahwa cita-cita membangun budaya bangsa yang merdeka, berdaulat adil dan makmur, beradab dan berbudi luhur serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih menjadi mimpi kita bersama. Belum lagi generasi muda Indonesia makin banyak yang terpuruk. Sebagai contoh, makin banyak generasi muda Indonesia mengonsumsi Narkoba, mulai dari anak-anak hingga pemuda dewasa.

    Menyikapi hal ini, menggugah para pewarta yang tergabung dalam Organisasi Masyarakat bernama Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) menyelenggarakan talk show (Bincang-bincang) bertema: Warna Muda Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan pada Kamis (26/10/2017) di Yayasan Komunikasi Indonesia, Jl. Matraman, Jakarta Pusat.

    Ketua Panitia Acara, Grollus Sitanggang (Majalah INSPIRASI, BPK Gunung Mulia), mengatakan bahwa acara tersebut mengetengahkan peranan pemuda dalam membangun bangsa, dari tinjauan para profesional muda, aktivis muda, dan akademisi. Profesional muda diwakili Soleman Matipanna, seorang pengussaha muda, sebagai pemantik diskusi, aktivis muda diwakili Jefri Tambayong (Garda Mencegah Daripada Mengobati – GMDM), dan seorang perempuan akademisi muda dan sekaligus anggota DPRD DKI Jakarta, Sereida Tambunan.

    Jefri Tambayong lebih banyak menyampaikan tentang makin terpuruknya generasi muda Indonesia terdampak Narkoba, seks bebas, dan juga HIV-AIDS. “Indonesia sudah masuk situasi Gawat Darurat Narkoba,” tegas Tambayong yang juga memperkenalkan 4 pemuda binaannya di GMDM. Meskipun Presiden Jokowi menyatakan Indonesia Darurat Narkoba tahun lalu, tetapi menurut Tambayong seharusnya sudah Gawat Darurat. Makin gilla Narkoba di Indonesia.

    Soleman Matipanna, pemantik kedua, lebih menekankan bahwa generasi muda Indonesia harus memiliki jiwa wirausaha (enterpreunership). Setiap tahun sekitar 1 jutaan di Indonesia mencetak Sarjana (S1), tetapi lapangan kerja sangat minim. Kaum muda harus mengubah pola pikir dari pencari kerja di kantoran atau perusahaan menjadi pengusaha muda yang mandiri, inovatif, dan kreatif. Inilah yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.

    Sereida Tambunan lebih banyak membahas isu-isu radikalisme dan nasionalisme. Menurut darah Batak ini, kaum muda Indonesia perlu mengembangkan budaya lokal sebagai basis meredam radikalisme negatif dan membangkitkan jiwa nasionalisme.

    Acara Bincang-bincang yang dikemas dengan gaya anak muda ini berlangsung seru dan hangat. Para peserta diskusi pun banyak yang melontarkan pertanyaan dan tanggapan. Mereka kebanyakan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Ikat, STT Taman Firdaus Jakarta, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), dan Dalihan Na Tolu Center.

    Acara yang dimoderasi Daniel Tanamal (dari Radio Pelita Kasih 96,3 FM) ini diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, yang dipandu Ronald Patrick, sebagai penghormatan kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Sesi pertama masuk pada pemaparan para pemantik diskusi dan dilanjutkan tanggapan dari wakil GAMKI, Dickson Siringo-ringo. Sebelum masuk sesi kedua, tanya-jawab,

    Pangeran Siagian (pemuda berbakat di bidang tarik suara) menyanyikan satu karya ciptaannya.

    Pada sesi kedua, para pemantik dan penanggap lebih menggali tentang langkah-langkah konkret, bersama para peserta diskusi. Di akhir acara tersebut, Acara Warna Muda Indonesia ditutup dengan pembacaan kembali Ikrar Sumpah Pemuda yang pernah dibacakan pada 28 Oktober 1928. (*)

  • Makam tak tersentuh Santa Claus mungkin berada di bawah permukaan gereja di Turki, kata arkeolog

    Makam tak tersentuh Santa Claus mungkin berada di bawah permukaan gereja di Turki, kata arkeolog

    WARTANASRANI.COM – Makam St. Nicholas yang tak tersentuh — yang lebih dikenal dengan Santa Claus — mungkin terletak persis di bawah permukaan sebuah gereja di distrik Demre di provinsi Antalya selatan Turki, menurut seorang arkeolog.

    Hurriyet Daily melaporkan bahwa sebuah bagian khusus dengan sebuah situs kuburan telah ditemukan di Gereja St. Nicholas di distrik Demre, yang dikenal sebagai tempat kelahiran orang suci tersebut. Otoritas Monumen Otoritas Antalya Cemil Karabayram mengatakan bahwa mereka menemukan makam yang tidak tersentuh saat menjalankan survei digital tepat di bawah permukaan gereja, Harian Sabah menyampaikannya.

    “Kami yakin kuil ini belum rusak sama sekali, tapi cukup sulit untuk sampai ke sana karena ada mosaik di lantai,” kata Karabayram kepada Hurriyet.

    St Nicholas ‘sebelumnya diperkirakan telah diselundupkan ke Bari, Italia, oleh pedagang Italia pada tahun 1087. Namun, Karabayram mengatakan bahwa tulang yang mereka ambil sebenarnya milik seorang pendeta.

    Karabayram mengatakan bahwa mereka mungkin bisa sampai ke lokasi pemakaman St. Nicholas yang tak tersentuh, namun mereka masih mencari periset yang akan menyelesaikan pekerjaannya. Meski begitu, arkeolog sudah mulai bekerja dan sekarang bersiap untuk melanjutkan penggalian di bawah permukaan.

    Pada tahun 2015, Anadolu Agency melaporkan bahwa penggalian di Museum Santa Claus di Demre telah menghasilkan penemuan keramik era Ottoman dan artefak era Bizantium. Pada waktu itu, kepala penggalian museum membicarakan tulang Santa Claus.

    Fakultas Ilmu Pengetahuan Sejarah Universitas Hacettepe Sema Dogan menyebutkan beberapa tahun yang lalu bahwa para ahli Turki telah mencoba membuat tulang-belulang Santa Claus yang dicuri tersebut kembali. Namun, pada saat itu, mereka tidak tahu lokasi tepatnya lokasi pemakaman St. Nicholas dan jika tulang-tulang yang dibawa ke Italia benar-benar miliknya.

    Dogan juga menjelaskan bahwa St Nicholas adalah tokoh penting dalam Kekristenan Ortodoks Yunani dan Rusia, karena ia adalah seorang patriark selama abad ke-4. Dipercaya bahwa ia membantu anak-anak, pelaut, orang miskin, dan wanita yang tidak memiliki anak.

    (www.christiandaily.com)

  • Gereja GSPdI Rata Tanah, Akibat Kebakaran

    Gereja GSPdI Rata Tanah, Akibat Kebakaran

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Kembali si “jago merah” melalap rumah, restoran dan gereja di kawasan Rawasari Jakarta kemarin sore (07/10/2017) sekitar pukul 18.00 Wib, rata dengan tanah.

    Api diduga berasal dari salah satu rumah, dan juga diduga sumbernya dari kompor masak yang meledak. Terkait hal ini masih dalam penyelidikan.

    Dalam sekejap api langsung menjalar sampai ke Restoran Nyiur Melambai dan sebuah Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia yang di gembalakan oleh Pdt Heny Timporok Kontu.

    Berdasarkan sumber informasi, 24 unit mobil pemadam kebakaran langsung diturunkan untuk memadamkan “si jago merah”. Api baru dapat dipadamkan kira-kira pukul 23.00 Wib.

    Beruntung dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Namun total kerugian di perkirakan mencapai milyaran rupiah.

    “Dengan adanya kejadian ini, keluarga korban menjadi trauma. Mereka hanya bisa bersyukur berdasarkan iman kepada Yesus Kristus bahwa apa yang Dia ijinkan terjadi semua ada dalam rencanaNya,” pungkas Pdt. Andi Palar yang juga sebagai Gembala Sidang di Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Kopeng Jawa Tengah, saat dihubungi via Messenger pukul 23.40 Wib.

    Baca Juga : KETUA MP GPDI, PDT. JOHN WEOL TAMPIL SEBAGAI PEMBICARA KKR GPDI PAKU URE

    “Semuanya sudah terjadi dan hikmah dari semuanya kita kembalikan semuanya kepada Tuhan, semuanya Tuhan punya dan Tuhan pasti akan menyediakan berkat nya bagi kami dan keluarga, Tuhan pasti akan membangun kembali Gereja nya untuk kemuliaan Tuhan,” tambah Andi sebagai salah satu anggota keluarga korban kebakaran dalam Messenger pukul 23.48. (AW)

  • Mozilla Firefox, Merilis Fitur Terbarunya

    Mozilla Firefox, Merilis Fitur Terbarunya

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Dengan berkembangnya Teknologi Informasi, khususnya Internet, para penyedia aplikasi browser berlomba-lomba memberikan fitur terbaik untuk para pelanggannya. Hal ini terlihat jelas di salah satu browser yang popular, yaitu Mozilla Firefox. Pihak Firefox sangat menghargai privacy para penggunanya. Seperti yang dirilis dari website resminya, “Firefox Privacy Notice Effective September 28, 2017 At Mozilla, we believe that privacy is fundamental to a healthy internet.” (https://www.mozilla.org/en-US/ )

    Firefox memperkenalkan Fitur baru yang akan memproteksi penggunanya dari semua situs/website yang dikunjungi. Mengingat begitu banyak situs yang menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk mengambil informasi dari pengguna, mengkoleksi data untuk tujuan tertentu. Karena saat pengguna internet mengunjungi suatu situs, maka secara otomatis perilaku penjelajahannya diketahui oleh pelacak.

    Dengan adanya fitur Tracking Protection Firefox, maka Halaman, Cookies, Pencarian, File Sementara tidak akan disimpan. Yang disimpan hanya Halaman yang di Bookmarks dan hasil Download pengguna. Namun demikian pengguna masih tetap bisa menyimpan data-data penjelajahannya. Private Browsing hanya bersifat pilihan, berfungsi ketika pengguna tidak ingin memberikan akses ke komputernya, “As you browse the web, Firefox remembers lots of information for you – like the sites you’ve visited. There may be times, however, when you don’t want people with access to your computer to see this information, such as when shopping for a present. Private Browsing allows you to browse the Internet without saving any information about which sites and pages you’ve visited.” (https://support.mozilla.org/en-US/kb/private-browsing-use-firefox-without-history?redirectlocale=en-US&as=u&redirectslug=Private+Browsing&utm_source=inproduct)

    Private Browsing atau Penjelajahan Pribadi tidak akan membuat pengguna anonim di internet, pihak penyedia layanan internet mengetahui situs yang dikunjungi. Terkait hal ini bukan berarti pengguna diberikan “kebebasan” untuk menjelajahi situs-situs yang negatif, karena semua perilaku pengguna tetap diketahui. (AW)

  • TUTUP PELATIHAN AKBAR GURU PAUD, PRESIDEN TEGASKAN PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER

    TUTUP PELATIHAN AKBAR GURU PAUD, PRESIDEN TEGASKAN PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Pendidikan anak usia dini merupakan hal yang sangat krusial bagi tumbuh kembangnya anak-anak Indonesia. Oleh karena itu, Presiden mengakui peranan penting guru-guru PAUD yang ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

    “Kunci pembangunan kecerdasan dan karakter itu berada pada usia emas 1 tahun sampai 12 tahun. Ibu-ibu dan bapak-bapak semuanya berada pada posisi yang sangat penting menentukan masa depan negara karena di sinilah anak-anak kita dididik,” ujar Presiden di awal sambutan, saat menutup pelatihan akbar guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Provinsi DKI di Islamic Center Jakarta, Koja, Jakarta Utara, Rabu, 20 September 2017.

    Presiden juga mengingatkan bahwa dalam mendidik anak-anak kita, tak cukup hanya fokus pada kecerdasan semata. Kecerdasan itu memang diperlukan, tapi tentunya harus diimbangi dengan budi pekerti dan nilai-nilai karakter yang baik.

    “Inilah proses-proses membangun mentalitas dan menguatkan pendidikan karakter yang akan terus kita lakukan,” kata Presiden.

    Ia mencontohkan fenomena yang terjadi di negara kita. Para pelaku korupsi misalnya, mereka juga mengenyam pendidikan yang tinggi. Namun, hal itu tak mencegah mereka untuk melakukan tindak pidana yang sangat merugikan negara. Ia menduga bahwa hal itu terjadi karena memang penguatan pendidikan karakter belum menjadi perhatian pemerintah selama ini.

    “Di mana sebetulnya titik lemah kita ini? Karena kita tahu yang korupsi itu juga pendidikannya dari TK, SD, SMP, SMA, sampai universitas. Tapi kenapa melakukan itu? Karena urusan penguatan pendidikan karakter itu belum menjadi perhatian pemerintah,” ucapnya.

    Oleh karenanya, sekitar dua minggu lalu, Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Dalam kaitannya dengan aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru-guru PAUD, Perpres tersebut nantinya juga diharapkan dapat menjadi payung hukum untuk mengalokasikan dana bantuan bagi guru PAUD.

    “Kalau tidak ada, mana berani gubernur, bupati, dan wali kota memberikan. Tapi ini baru dua minggu yang lalu, nanti akan saya perintahkan setelah bertemu dengan gubernur, bupati, dan wali kota,” ia menambahkan.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden sekaligus mengapresiasi pelatihan yang diberikan bagi para guru PAUD. Ia berharap agar pelatihan-pelatihan serupa ini untuk dapat diperbanyak karena pelatihan baru dilakukan di 19 kota, sementara di seluruh tanah air terdapat 514 kota dan kabupaten.

    “Jadi masih sangat kurang. Tadi saya bisik-bisik, yang kurang apa? Biar saya bantu agar pelatihan-pelatihan seperti ini semakin masif seluruh guru-guru PAUD diberikan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan,” tuturnya.

    Kepada para pendidik PAUD yang hadir dalam acara tersebut, Presiden Joko Widodo mempercayakan pendidikan anak-anak Indonesia di tangan mereka. Ia sekaligus berpesan agar para pendidik dapat mempersiapkan anak-anak Indonesia untuk dapat berkompetisi di masa mendatang.

    “Dalam kompetisi global, persaingan antarsumber daya manusia negara satu dengan lainnya salin bersaing. Untuk memenangkan kompetisi itu tidak hanya masalah kecerdasan, dibutuhkan karakter-karakter unggul yang tahan banting dan pantang menyerah. Itulah kenapa pelatihan ini dilakukan,” ujarnya.

    Menurut Presiden, anak-anak Indonesia juga harus ditanamkan rasa cinta kepada Sang Pencipta dan segala ciptaan-Nya. Semua itu perlu diberikan pemahaman dan pelatihan sejak dini. Tak terkecuali yang berkaitan dengan kemandirian, disiplin. dan tanggung jawab.

    “Kita harus menyiapkan anak-anak kita bagaimana mempunyai rasa percaya diri yang baik. Kita ini biasanya kalau sudah dengan bule ini langsung menjadi inferior, grogi, tidak boleh! Kita harus percaya diri. Anak-anak kita harus kita siapkan untuk menjadi karakter-karakter yang kreatif, tahan banting, dan pantang menyerah,” tegasnya.

    Tak kalah pentingnya, anak-anak Indonesia juga harus diarahkan untuk dapat menjadi pemimpin besar di masa mendatang. Inilah tugas utama yang diharapkan dapat diemban oleh para pendidik-pendidik kita.

    “Anak-anak kita juga harus kita siapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang baik dan bijak. Mau jadi ketua RT, jadilah ketua RT yang baik dan bijak. Jadilah lurah yang baik dan bijak. Mau jadi bupati, wali kota, dan gubernur, jadilah yang baik dan bijak. Itu disiapkan sejak dini. Ingin jadi menteri atau presiden? Siapkan mereka menjadi pemimpin yang baik dan bijak. Itu menjadi tugas Bapak/Ibu dan saudara-saudara,” tuturnya.

    Turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan sejumlah istri anggota Kabinet Kerja yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK).

    Sumber: Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden / Foto: Laily Rachev – Biro Pers Setpres

  • SIARAN PERS SEKUM PGI TERKAIT PEMBUBARAN DAN PENYERANGAN KANTOR YLBHI JAKARTA

    SIARAN PERS SEKUM PGI TERKAIT PEMBUBARAN DAN PENYERANGAN KANTOR YLBHI JAKARTA

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Aksi pengepungan kantor LBH Jakarta di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, hari Minggu, 17 September 2017, sekitar pukul 21.00 WIB hingga Senin dinihari, menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai pihak tak terkecuali Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Melalui Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom, hari ini (18/9/2017), PGI mengeluarkan beberapa poin pernyataan sikap terkait Pembubaran dan Penyerangan Kantor YLBHI Jakarta.

    Menurut Gomar Gultom, mobilisasi massa untuk menggeruduk Kantor YLBHI di Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin, 17 September 2017, malam, merupakan langkah mundur dalam proses demokratisasi yang sedang diperjuangkan bersama. “Peradaban yang mengedepankan pengerahan massa, kerasnya suara dan kekuatan otot tidak akan pernah menyelesaikan masalah, selain hanya akan melahirkan masalah baru,” tegasnya, lewat siaran pers yang diterima wartanasrani.com.

    Ditegaskan Gomar Gultom, bahwa Negara tidak boleh takluk pada ancaman massa dan harus mengusut tuntas para pelaku penyerbuan tersebut, termasuk  provokator yang menyebarkan informasi menyesatkan melalui medsos.

    Gomar juga menghimbau kepada pemerintah, dalam hal ini negara, untuk menjamin kebebasan masyarakat berkumpul dan berdiskusi sepanjang tidak mengganggu ketertiban umum.

    Sementara itu, kepada masyarakat, himbauan Gomar agar lebih dewasa dan cerdas dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di masyarakat dan tidak mudah terhasut oleh informasi yang menyesatkan di medsos. “Tindakan main hakim sendiri akan mengacaukan peradaban kita dan olehnya haruslah dihindari demi pencapaian masyarakat dan bangsa bermartabat,” pungkasnya.

    Tak ketinggalan, himbauan disampaikan kepada para elit dan kelompok-kelompok kepentingan untuk tidak bermain-main dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan atau ambisinya. Menurut Gomar, cara-cara pembenturan kelompok di tengah masyarakat pada gilirannya hanya akan memecah kita sebagai bangsa.

    Pada bagian akhir, terkait dugaan pelanggaran berat HAM masa lampau, Gomar mengatakan dibutuhkan percakapan dalam suasana teduh, yang memberi kesempatan kepada semua pihak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya, tanpa ada yang merasa terancam atau tertekan. Bahkan menurutnya, upaya rekonsiliasi nasional menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Dan rekonsiliasi sejati adalah dengan pengungkapan fakta sejarah secara obyektif yang diikuti dengan pengakuan dan pemulihan.

  • SILAHTURAHMI KAMTIBMAS POLSEK MEDAN SATRIA KOTA BEKASI

    SILAHTURAHMI KAMTIBMAS POLSEK MEDAN SATRIA KOTA BEKASI

    KOTA HARAPAN INDAH BEKASI, WARTANASRANI.COM – Membangun dan memelihara keamanan merupakan tugas bersama seluruh masyarakat, bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan. Untuk itu sinergitas antara masyarakat dan aparat keamanan dalam hal ini pihak kepolisian tentunya sangat diperlukan.

    Guna memelihara serta meningkatkan sinergitas yang selama ini dibangun antara pihak Kepolisian dan semua elemen masyarakat, hari ini (15/9/2017), bertempat di Aula Polsek Medan Satria, Jl. Harapan Indah No. 8, Kota harapan indah, Bekasi, berlangsung tatap muka dan silaturahmi antara Kapolsek dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, forum rw dan rt, organisasi masyarakat, Pokdar, FKPM, Karang Taruna yang ada di Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

    Menurut Kompol I Made Suwetra, kebutuhan akan kamtibmas yang kondusif  bukan semata hanya keinginan aparat penegak hukum, dalam hal ini Polri, namun hal itu juga merupakan keinginan seluruh masyarakat, karena itulah, dibutuhkan kerja sama serta peran aktif masyarakat. “Mari kita kelola wilayah Medan Satria dengan baik demi terciptanya suasana yang kondusif,” pungkas I Made Suwetra, yang baru bertugas 1 bulan 12 hari sebagai Kapolsek Medan Satria ini.

    Lebih lanjut dijelaskannya bahwa, Polri tidak akan dapat menciptakan situasi yang aman dan tertib dalam suatu lingkungan masyarakat tanpa adanya kemauan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Keseriusan semua elemen masyarakat dalam menangani berbagai persoalan Kamtibmas di lingkungan kerja Polsek Medan Satria kembali diingatkan I Made Suwetra. “Medan Satria ini perlu ditangani dengan serius,” ajak I Made Suwetra meyakinkan. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan Bapak/ibu sekalian yang ada disini,” tambahnya pula

    Menyikapi tingkat kejahatan curanmor yang semakin tinggi, I Made Suwetra mengingatkan agar masyarakat lebih hati-hati dan waspada. Menurutnya, sekalipun setiap kejahatan tidak ada yang tanpa meninggalkan jejak, namun kewaspadaan masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk meminimalisir kesempatan bagi pelaku curanmor. “Jangan sampai kita membuka kesempatan selebar-lebarnya pada pelaku curanmor, gunakanlah kunci ganda, dan tetap waspada pada lingkungan,” ujar I Made Suwetra mengingatkan.

    Selain tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan ormas, tampak hadir dalam acara yang berlangsung penuh keakraban ini, tiga Anggota Dewan Kota Bekasi yang berasal dari Dapil Medan Satria dan Bekasi Barat, yaitu; Bpk. Sudirman (Fraksi PDIP), Bpk. Maryadi (Fraksi Golkar) dan Ibu Murfati Lidianto (Fraksi Gerindra). Terlihat hadir beberapa Pendeta Perwakilan BKSAG Kota Harapan Indah dan Sekitarnya, diantaranya: Pdt. Devy J. Sugiyono (Ketua), Pdt. Yohanes J. Sihombing, Pdt. Paul F. Gulo, Pdt. Wellem Doko, Pdt. Sadrakh Ranti, Pdt. Gunadi, dll.

    Pertanyaan seputar penanggulangan kamtibmas menjadi topik utama dalam sesi tanya jawab, namun apresiasi juga diberikan kepada Kapolsek atas terlaksananya acara silaturahmi yang melibatkan semua unsur masyarakat yang ada di Kecamatan Medan Satria, sembari berharap acara silaturahmi semacam ini tetap rutin dilaksanakan. “Kami berharap silaturahmi antara Polri dengan masyarakat semakin ditingkatkan guna terciptanya komunikasi yang baik,” ujar salah seorang peserta.

    Sementara itu, berdasarkan undangan yang diterima, acara yang bertajuk Silahturahmi Kamtibmas Kapolsek Medan Satria dengan potensi Masyarakat Menjelang Pemilukada 2018, dilaksanakan sesuai rujukan Undang-undang Kepolisian No. 2 Tahun 2002 tentang Ketentuan Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia, Peraturan Kapolri nomor 3 tahun 2015 tentang Pemolisian Masyarakat, dan Rencana Kegiatan Polsek Medan Satria 2017. (RSO)

  • TEUFELSBRÜCKE, JEMBATAN BUATAN IBLIS DI SWISS

    TEUFELSBRÜCKE, JEMBATAN BUATAN IBLIS DI SWISS

    WARTANASRANI.COM  – Banyak jembatan yang terkenal di daerah Uri, Swiss, diantaranya  jembatan Teufelsbrücke atau Devil’s Bridge yang terletak di seberang Ngarai Schollenen, dan konon jembatan tersebut dibuat dengan bantuan iblis.

    Dahulu masyarakat desa Goschenen hidup tanpa akases karena terhalang oleh bebatuan Scholennen Gorge yang mengelilingi desa. Adapun masyarakat desa telah mencoba untuk membuat jembatan penghubung untuk melewati bebatuan, namun itu juga bukan hal yang mudah.

    Menurut legenda, karena sulitnya membangun jembatan tersebut,  seorang penggembala kambing meminta bantuan setan untuk membuat jembatan di atas gunung tersebut. Ia juga setuju akan memberikan jiwa orang pertama yang melintasi jembatan itu. Untuk mengelabui setan, penduduk desa mengirim kambing di jembatan, hal yang membuat sang Setan sangat marah dan bertekad  untuk menghancurkan jembatan dengan sebuah batu besar.

    Namun saat dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang pastur yang mengenakan salib, sehingga sang setan ketakutan kemudian menjatuhkan batu yang akan digunakan untuk menghancurkan jembatan dan melarikan diri.

    Dikisahkan, jembatan Devil Bridge akhirnya selesai sekitar 1820-an setelah dibangun secara penuh oleh manusia. Meneruskan apa yang telah setan lakukan.

    Terlepas dari sejarah dan rumor, daerah di sekitar jembatan setan Teufelsbrücke begitu mempesona dan indah luar biasa. Dari ngarai Schollenen yang menjadi rute akses utama dan transit terpendek ke St Gotthard Pass, kita dapat menemukan berbagai jembatan dan terowongan yang menghubungkan satu bukit batu dengan lainnya. (Diolah dari berbagai sumber/Foto: www.dewa-dewi.com)

  • MUKI Rilis Pernyataan Sikap Tragedi Rohingya

    MUKI Rilis Pernyataan Sikap Tragedi Rohingya

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menanggapi tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya yang terusir dari kediamannya di Rakhine, Myanmar, Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) merilis pernyataan sikap. Dalam pernyataan sikap yang ditanda tangani oleh ketua Umum (Djasarmen Purba, S.H.) dan Sekjen (Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th) tertanggal 4 September tersebut, MUKI menyampaikan 4 pernyataan sikap.

    Poin pertama pernyataan sikap ditujukan pada pemerintah Myanmar. Dalam bagian ini dinyatakan bahwa MUKI menuntut pemerintah Myanmar menghentikan segala bentuk tindakan kekerasan kemanusiaan yang sedang berlangsung terhadap etnis Rohingya di Rakhine.

    Sementara poin kedua dan ketiga pernyataan sikap ditujukan kepada pemerintah Republik Indonesia. Dukungan terhadap pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam penyelesaian kekerasan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan. Selain itu MUKI juga mendorong Pemerintah Republik Indonesia menjadi penggerak kemanusiaan di Myanmar dan Asia Tenggara.

    Selain terhadap Pemerintah Myanmar dan Republik Indonesia pada poin keempat MUKI mengajak semua umat, khususnya umat Kristiani untuk memanjatkan doa bagi kseslamatan dan kesejahteraan etnis Rohingya baik yang berada di Rakhine maupun yang berada di pengungsian (Cak Yos)

  • PESAN SIMBOLIS DARI ISTANA: Jadikan Istana sebagai Rumah Persatuan Bangsa

    PESAN SIMBOLIS DARI ISTANA: Jadikan Istana sebagai Rumah Persatuan Bangsa

    Oleh : EKO SULISTYO *)

    “Politik itu kegembiraan” benar-benar terjadi di Istana saat peringatan ke 72 hari Kemerdekaan Indonesia. Tanpa mengurangi kesakralan dan kekhidmatan upacara detik-detik proklamasi, peringatan kali ini secara simbolis menjadikan Istana—tempat presiden berkantor dan menerima tamu negara—sebagai “rumah keberagaman” dan “rumah persatuan.”

    Pakem kaku, formal dan protokoler yang puluhan tahun menjadi kebiasaan berubah menjadi karnaval budaya Nusantara. Presiden, wakil presiden, pejabat negara dan undangan hadir memakai busana daerah warna-warni. Suasana makin cair ketika Presiden memberikan hadiah sepeda pada peserta dengan pakaian daerah favorit.

    Penampilan Istana dalam wajah budaya sebenarnya bukan fenomena baru. Presiden Sukarno pernah menjadikan budaya sebagai soft diplomacy. Dengan cara itu, seremonial menjadi estetis dan jauh dari kesan protokoler.  Semua orang merasa nyaman karena formalitas dan informalitas berjalan bersamaan, sekaligus menunjukkan karakter bangsa Indonesia yang bhineka.

    Membangun komunikasi

    Kegiatan upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan di Istana yang baru lalu bisa dianggap soft diplomacy untuk membangun komunikasi pemerintah dengan rakyat, pemerintah pusat dengan daerah, serta antara pemerintah dengan tokoh-tokoh politik nasional.  Dalam balutan budaya, upacara menjadi luwes dan sukses mempertemukan banyak aktor dan kepentingan.

    Secara simbolis upacara peringatan proklamasi tahun ini dapat dianggap sebagai peristiwa budaya yang mengedepankan dialog kebangsaan. Ini sesuai dengan visi Presiden Jokowi tentang “Indonesia-sentris” bahwa pemerintah adalah “pelayan bagi rakyat Indonesia”, bukan kekuasaan.

    Selama ini Indonesia-sentris lebih mengemuka sebagai visi pembangunan untuk memajukan Indonesia diluar pulau Jawa serta daerah-daerah terluar dan terdepan dari Indonesia. Namun Indonesia-sentris juga merupakan konsepsi budaya. Sejarah bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dalam kebhinekaan karena terus berdialog dengan berbagai suku bangsa di dalamnya. Bangsa Indonesia adalah sebuah “kebangsaan kolektif”, semua anak bangsa turut andil, berperan dan bersepakat membentuk Indonesia.

    Upacara peringatan 72 tahun Indonesia merdeka kemarin juga dapat dianggap sebagai penyegaran kembali komitmen keberagaman dan persatuan kebangsaan, seperti yang pernah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.  Bahwa kebhinekaan adalah jati diri bangsa dan oleh karena itu menjadi harga mati.

    Keberagaman memang terus digoyang dalam setahun terakhir di Indonesia. Berbagai kelompok mengeluarkan wacana rasis dan intoleran, bahkan melakukan persekusi atas kebhinekaan dengan mengatasnamakan agama dan suku.

    Keberagaman pakaian adat yang dikenakan Presiden, Wakil Presiden, para pejabat dan undangan yang hadir, menyimbolkan bahwa kami mengabdi bagi Indonesia yang terdiri dari beragam daerah dan suku bangsa, bukan mengabdi pada pemerintah dan kekuasaan. Tugas pemerintah adalah melayani keberagaman suku bangsa di Indonesia demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Dengan kegiatan budaya yang ceria, Presiden Jokowi secara simbolis ingin menyatakan bahwa Istana Kepresidenan adalah “Rumah Keberagaman bangsa”, bukan milik penguasa, agama dan suku tertentu. Sebagai “Rumah Keberagaman” maka pintu Istana selalu  terbuka untuk merawat, memperkuat dan melindungi keberagaman bangsa.

    Rumah Persatuan Bangsa

    Dalam negara yang bhineka seperti Indonesia maka salah satu peran pimpinan nasional yang wajib dijalankan adalah fungsinya sebagai “solidarity maker”. Presiden Sukarno pernah memainkan peran ini dengan baik guna menjaga persatuan bangsa yang baru merdeka di bawah tekanan Perang Dingin dan kompetisi politik yang keras di dalam negeri.

    Di era milineal sekarang ini, peran sebagai “solidarity maker” bisa dimainkan dengan posisi sebagai “fasilitator kebangsaan”. Sebagai  fasilitator, tugas pentingnya adalah menjadikan dialog kebangsaan berlangsung konstruktif dan memberikan solusi untuk bangsa.

    Untuk itu, fasilitator kebangsaan harus berdiri diatas semua kepentingan dan golongan. Pegangannya adalah konstitusi sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

    Dalam sejarah Indonesia potensi gangguan bagi persatuan nasional  pernah terjadi karena dua sumber utama. Pertama, daerah-daerah menganggap pemerintah pusat bersikap tidak adil dalam pembangunan dan distribusi kesejahteraan. Sejarah kita tahun 1950-an, ketidakpuasan daerah meledak menjadi ancaman bagi persatuan nasional. Kedua, kompetisi politik dan ideologis untuk merebut kekuasaan diantara elit politik dan pendukunngya.

    Indonesia-sentris

    Presiden Jokowi menyadari kedua potensi perpecahan itu, tersebut. Karena itu, visi Indonesia-sentris menjadi strategi pembangunan agar kesejahteraan dan keadilan sosial  tidak hanya dirasakan di Jawa dan Sumatera.

    Rivalitas politik bisa menjadi penyebab terkotak-kotaknya masyarakat berbasis figur dan parpol. Maka, dalam budaya politik primodial saat ini, figur politik menjadi faktor yang strategis dalam suhu politik nasional. Tokoh-tokoh nasional menjadi kunci persatuan bangsa.

    Dalam konteks ini, upacara peringatan ke 72 kemerdekaan RI dapat dianggap sebagai medium komunikasi diantara tokoh-tokoh nasional yang berdampak pada kesejukan politik nasional. Pertemuan antara Presiden Republik Indonesia sejak era BJ Habibie, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono hingga Presiden Jokowi menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak boleh mengabaikan kenyataan yang paling esensial: persatuan Indonesia.

    Upacara peringatan ke 72 kemerdekaan RI itu dapat dianggap sebagai komitmen Presiden Jokowi untuk menjadikan Istana sebagai “Rumah Persatuan Bangsa.”  Sebagai rumah persatuan bangsa, istana menjadi inklusif bagi semua kelompok dan golongan.

    ———————

    Penulis adalah Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden.

    Sumber: KOMPAS, 4/9/2017.