Category: Ragam

  • Presiden Ingin Kebudayaan Menjadi Napas Kehidupan Bangsa

    Presiden Ingin Kebudayaan Menjadi Napas Kehidupan Bangsa

    Presiden Joko Widodo mengapresiasi banyak pelajar Indonesia yang berprestasi di berbagai ajang kompetisi nasional dan internasional. Bahkan mereka bukan berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Selasa 6 Februari 2018.

    Presiden menyebut  Made Radikia Prasanta dan Bagus Putu Satria Suarima, siswa SMA Negeri di Provinsi Bali. “Dari keluarga sederhana yang meraih penghargaan khusus dari American Meteorological Society tentang alat prediksi cuaca. Kemudian M. Naufal Giffary, siswa SMAN 1 Mataram, NTB, peraih emas dalam International Foundation for Art and Culture di Jepang 2017,” kata Presiden.

    Selain itu, Ahnaf Fauzy Zulkarnain siswa SDN Karangrejek 2 Kabupaten Gunung Kidul yang menemukan teknologi sederhana perontok jagung menjadi Peneliti Cilik Terunggul dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award 2016.

    “Prestasi-prestasi seperti ini memang harus dimunculkan dan diangkat agar anak-anak kita juga terpacu termotivasi untuk mengikuti teman-temannya yang memiliki prestasi-prestasi yang tadi saya sampaikan,” tutur Kepala Negara.

    Tapi, lanjut Presiden, dirinya juga masih menemukan hal-hal yang menyedihkan terkait dengan infrastruktur pendidikan karena masih banyak yang perlu dibenahi. Selain itu, anak-anak yang putus sekolah masih ada di beberapa daerah dan akses ke fasilitas-fasilitas pendidikan di daerah-daerah pedalaman masih buruk.

    Dari peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam proses pendidikan di Tanah Air.

    “Meninggalnya Guru SMA di Kabupaten Sampang Ahmad Budi Cahyono menjadi catatan besar kita ada apa ini? Kenapa ini terjadi?” ucap Presiden.

    Selain itu masih adanya aksi bullying antar-pelajar di beberapa daerah termasuk di Jakarta, tawuran antar geng sekolah di beberapa kota. “Ini harus menjadi perhatian kita semuanya,” tutur Presiden.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa anak-anak Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Teknologi harus digunakan untuk memperkaya kebudayaan  dan memperkuat kearifan lokal. “Jangan sampai kita kehilangan akar budaya kita dan justru anak-anak kita belajar lewat media sosial tentang hal-hal yang bukan budaya negara kita, Indonesia,” ujar Presiden.

    Oleh sebab itu, Presiden ingin agar kebudayaan menjadi napas dari kelangsungan hidup bangsa. “Menjadi darah kepribadian, menjadi mentalitas dan nilai-nilai kebangsaan anak didik kita,” katanya.

    Selain itu sistem pendidikan di sekolah, sistem pendidikan di masyarakat harus menjadi jantung dari kebudayaan kita. “Ekspresi seni dan budaya Indonesia jangan sampai tergeser dengan budaya-budaya asing yang belum tentu cocok dengan jati diri kita,” ujar Presiden.

    Kita harus bisa memastikan agar kebudayaan Indonesia menjadi sumber kekuatan, sumber persatuan, sumber energi bangsa Indonesia dalam memenangkan persaingan global. “Ini yang harus jadi jalan kebudayaan kita,” tutur Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

  • SDM Kunci Kemajuan Bangsa

    SDM Kunci Kemajuan Bangsa

    Kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah stabilitas sosial dan politik, manajemen pemerintahan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kreativitas dan inovasi dari SDM-nya. Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Selasa 6 Februari 2018.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan SDM di Indonesia. “Ini berada pada tanggung jawab yang besar sekali di pundak bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian yang hadir di sini,” ucap Presiden.

    Oleh karenanya Presiden mengingatkan pentingnya posisi pendidikan yang membangun watak Pancasila. Melalui pendidikan pula, kejujuran, kebersamaan, kesantunan, nilai dan budi pekerti pada anak-anak diajarkan.

    “Di sinilah posisi pentingnya pendidikan. Pendidikan yang mengajarkan daya juang, pendidikan yang membangun watak pembelajar, yang selalu belajar tanpa menunggu digurui, yang selalu berinovasi tanpa menunggu diajari,” tutur Kepala Negara.

    Itulah modal kita sebagai bangsa besar yang mampu memecahkan masalah-masalah di manapun. “Dan sekaligus mampu memenangkan kompetisi global,” ujarnya.

    Presiden mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak bisa menjamin kesejahteraan dan kesuksesan sebuah bangsa. Banyak negara maju justru tidak memiliki sumber daya alam (SDA), tapi sebaliknya banyak negara yang memiliki SDA melimpah didera kemiskinan, bahkan konflik dan perang saudara.

    “Sumber daya alam yang seringkali justru memanjakan dan membuat kita malas, mengalahkan daya juang, membuat kita lengah dan tidak mendorong kita semuanya untuk berinovasi dan berkreativitas,” ucap Presiden.

    Dalam kesempatan itu, Presiden mengingatkan bahwa pemerintah telah berusaha keras sekuat tenaga untuk meningkatkan pelayanan pendidikan, baik di pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) “Kita ingin berusaha menjamin akses pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu,” kata Presiden.

    Untuk itu dukungan anggaran dari Pusat ke Daerah juga terus ditingkatkan dan upaya untuk meningkatkan kualitas guru serta infrastruktur pendidikan terus dijalankan.

    Oleh karenanya, Presiden mengajak kepada semua peserta Rembuknas untuk tidak terjebak pada rutinitas karena sudah bertahun-tahun berjalan rutin tanpa ada sebuah pembaharuan, tanpa ada sebuah inovasi besar di dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.

    “Keberanian kita untuk membuat terobosan karena perubahan dunia sekarang ini berjalan begitu sangat cepat,” ucap Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

  • Kepala Staf Kepresidenan Sapa Milenial: “Jangan Lelah Produksi Konten Positif”

    Kepala Staf Kepresidenan Sapa Milenial: “Jangan Lelah Produksi Konten Positif”

    Jakarta, 6 Febrauari 2018, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengapresiasi anak-anak milenial yang sangat aktif memproduksi konten-konten positif melalui media sosial maupun dalam kehidupan yang nyata. Hal itu disampaikannya saat bertemu dengan puluhan anak-anak muda yang selama ini sudah berkiprah dan memanfaatkan media sosial untuk mengekspresikan ide-ide dan gagasannya, di Gedung Bina Graha, Jakarta.

    Beberapa aktivis media sosial hadir dalam acara ini antara lain Eka Gustiwana, Jesica Milla, Ayla Dimitri, Danny Syah Aryaputra, Vanesha Prescilla, Anggika Bolsterli, Melody Nurramdhani Laksani, Vikra Ijas, serta kakak beradik Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez, dan beberapa nama lain yang sangat populer sebagai influencer, endorser, maupun aktivis media sosial.

    Moeldoko memberikan gambaran bagaimana tantangan ke depan dalam dunia yang berubah sangat cepat. “Berbagai jenis pekerjaan akan menghilang, mulai dari perbankan sampai dengan manufaktur,”ujarnya. Teknologi informasi dan komunikasi yang dihadirkan oleh Revolusi Industri 4.0, lanjut Moeldoko, akan mengubah cara manusia berproduksi dan menghasilkan sesuatu. “Generasi seperti kalian-kalian ini, akan merasakan bagaimana teknologi akan menghimpit seluruh kehidupan manusia,” ujar Moeldoko mengingatkan.

    Mereka yang Bertahan

    Akan tetapi, Kepala Staf Kepresidenan juga memberikan panduan, bagaimana menghadapi perubahan tersebut. “Mereka yang bertahan adalah mereka yang berhasil membangun dirinya. Tidak cukup hanya itu, mereka yang berhasil adalah mereka yang berhasil membangun dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan melakukan hal-hal yang produktif,” ujar pria asal Kediri tersebut.

    Untuk itu, inovasi adalah salah satu jawabannya. “Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa UGM yang menemukan teknologi micro bubble untuk sistem perikanan. Setelah berdiskusi dan dimatangkan, teknologi tersebut kini sudah bisa masuk ke skala industri, dan dapat mempercepat pertumbuhan ikan-ikan menjadi lebih cepat,” ujarnya. Dengan teknologi tersebut, produksi ikan budidaya dapat ditingkatkan.

    Oleh karena itu, Moeldoko yang didampingi oleh Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menegaskan, “Tantangan nasionalisme bagi anak-anak muda ke depan bukan lagi mengangkat senjata, melainkan bagaimana ikut menyejahterakan masyarakat luas melalui inovasi dan produksi-produksi hal positif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.” Ia melanjutkan penegasannya dengan mengatakan bahwa kuncinya adalah bagaimana mendistribusikan apa yang kita punyai, apa yang kita mampu, untuk mewujudkan keadilan sosial di tengah-tengah masyarakat.

    Sementara itu Jaleswari menambahkan, Kantor Staf Presiden akan terus berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk menebarkan kebaikan dan hal-hal positif. Ia bercerita bahwa diskusi dan pertemuan semacam ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. “Ini sudah pertemuan ketiga, dan mudah-mudahan dengan kami memfasilitasi pertemuan semacam ini, lebih banyak anak-anak muda yang dapat terlibat dalam gerakan membangun hal-hal produktif.

    Sementara itu, ditanyakan perihal kekhawatiran dan keengganan anak-anak muda untuk terlibat dalam bidang politik, Moeldoko menjawab, “Dalam politik, kita seringkali hanya berfokus pada risiko. Padahal, dalam politik juga terdapat peluang-peluang. Oleh karena itu, yang paling penting adalah tetap berpikiran positif dan berbuat sesuatu, sekecil apapun, untuk membuat keadaan lebih baik.”

    Respons Milenial

    Ayla Dimitri, salah satu peserta diskusi dan juga tengah meneliti generasi milenial mengajak, “”Kita harus berkolaborasi untuk mengomunikasikan dan memberi motivasi kepada anak-anak muda, tentang kesiapan mereka untuk menghadapi kompetisi, kesiapan mental, supaya tidak gampang depresi. Karena banyak org tua kurang menyadari akan masalah itu.”

    Sementara itu, Vanesha Prescilla, pemeran Milea dalam film Dilan 1990 yang sedang populer menceritakan bagaimana film yang ikut dibintanginya dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak anak-anak muda lebih kritis dan terbuka. “Sosok Dilan dalam film sekarang menjadi tokoh publik yang diidam-idamkan generasi milenial. Dilan tidak hanya ditampilkan dengan menonjolkan karakter dan sifat yang terkesan negatif dengan kenakalan-kenakalannya.” Semangat bela negara, kepercayaan diri yang tinggi, yang muncul dalam sosok Dilan, menurut Vanesha dapat ditampilkan dengan cara kekinian yang disukai anak muda.

    Sementara Dany Syah Aryaputra yang kini mengelola web kolaboratif www.kitabisa.com mengutarakan, “Dari komunitas yang pertemuannya difasilitasi oleh Kantor Staf Presiden ini, kita jadi sering ketemu. Lalu muncul ide-ide dan kita sekarang sering berkolaborasi. Surya kolaborasi dengan Archi. Dan seterusnya. Banyak kegiatan yang terjadi. Kita sibuk bikin karya, itu akan sangat positif. Anak muda indonesia kehilangan sosok atau fitur yang layak ditiru. Jika anak-anak muda punya kesibukan, mereka nggak akan macam-macam.”

    Dany menambahkan, “Jika anak-anak muda dari berbagai kelompok dan komunitas sudah saling kenal, ketika tonggak kepemimpinan sudah beralih ke tangan anak-anak muda, kita sudah seperti kawan seperjuangan. Sudah saling kenal. Sudah nggak melihat seperti musuh.”

    Sementara itu Siwi, seorang remaja berlatar belakang keluarga Nahdlatul Ulama melihat, tantangan anak-anak muda hari ini justru lebih berat, karena dihadapkan dengan berbagai macam perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar. “Saya belum bisa membayangkan bagaimana nantinya saya sebagai ibu harus membesarkan dan memberikan pengertian kepada anak-anak saya,” ujarnya. Oleh karena itu, ia memilih untuk berkiprah dan berperan lebih aktif dalam berbagai literasi tentang bahaya radikalisme, ekstremisme, dan semacamnya.

    Dovi dan Jo da Lopez, kakak beradik yang juga Youtubers mengingatkan, berdasarkan temuan mereka, konten negatif itu menyebar empat kali lebih banyak dibandingkan konten positif. Oleh karena itu, mereka berdua mengingatkan untuk tak lelah-lelah membuat konten positif, persis seperti harapan Moeldoko kepada anak-anak muda tersebut.

  • Presiden Jokowi: Jangan Pernah Lelah Bekerja

    Presiden Jokowi: Jangan Pernah Lelah Bekerja

    KOTA PONTIANAK, WARTANASRANI.COM – Dalam Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh umat Kristiani di Indonesia agar jangan pernah lelah bekerja.

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri ESDM Ignasius Jonan yang juga Ketua Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

    “Jangan pernah lelah bekerja di ladangnya Tuhan. Jangan pernah lelah bekerja di ladang pengabdian kita masing-masing, apapun profesinya, apapun pekerjaannya, apapun status yang kita miliki, baik sebagai pedagang, supir, petani, buruh, PNS, TNI, POLRI. Jangan pernah lelah bekerja untuk kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara,” kata Presiden ketika memberi sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Kamis 28 Desember 2017.

    Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa Tuhan sudah memberi anugerah kepada kita untuk hidup di tanah air kita tercinta, Indonesia yang kekayaan alamnya begitu berlimpah dan memberi kita kecukupan.

    “Tapi Tuhan tentu tidak ingin kita jadi berdiam diri. Kita harus terus berusaha, bekerja keras dan berdoa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju bangsa pemenang. Untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya,” ujar Kepala Negara.

    Dalam kesempatan itu, Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo menjelaskan bahwa saat ini kita sedang mengarungi perjalanan menuju negara maju dengan membangun di seluruh pelosok tanah air Indonesia membangun dari desa dari pulau-pulau terdepan, membangun kawasan perbatasan sebagai beranda-beranda terdepan Republik.

    “Kita sedang berlayar menuju negara maju dengan membangun manusia Indonesia. Sekali lagi, membangun manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang unggul, manusia Indonesia yang tangguh, manusia Indonesia yang bermartabat,” tuturnya.

    Perjalanan menuju kemajuan bangsa ini membutuhkan peran semua elemen bangsa  termasuk umat Kristiani untuk menjadi manusia-manusia terbaik dalam bidangnya masing-masing.

    “Untuk menjadi pribadi yang optimis, yang tangguh, yang selalu hidup dengan kasih di hati yang selalu membantu sesama manusia, yang selalu mau bergotong royong,” ucapnya.

    Tampak hadir pada perayaan Natal bersama ini antara lain, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM Ignasius Jonan yang juga Ketua Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis.

  • Presiden Jokowi: Natal Harus Jadi Momentum Pembawa Semangat Perubahan

    Presiden Jokowi: Natal Harus Jadi Momentum Pembawa Semangat Perubahan

    KOTA PONTIANAK, WARTANASRANI.COM – Natal harus membawa perubahan sikap mendasar dalam kehidupan bersama sebagai bangsa karena dunia telah berubah dengan cepat dan perubahan tidak bisa dibendung lagi. Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Jawa Barat, Kamis 28 Desember 2017.

    “Jika tidak mau tertinggal dengan perubahan, maka kita  harus menyiapkan diri beradaptasi dan mengantisipasi dengan cepat setiap gelombang perubahan yang terjadi,” ucap Presiden.

    Untuk itu Natal bukan semata-mata perayaan seremonial belaka. Tapi harus bisa menjadi momentum untuk membawa semangat perubahan, semangat mengejar ketertinggalan, semangat kemajuan dan semangat bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini.

    “Natal juga harus membawa semangat kesahajaan, semangat untuk berani mengatakan cukup, semangat rela berbagi serta semangat untuk memperkecil jurang ketimpangan antara si kaya dan si miskin. Itulah yang perlu kita selalu ingat dalam setiap momentum perayaan Natal untuk membawa semangat baru membawa semangat perubahan,” kata Kepala Negara.

    Semangat Cinta Kasih

    Di awal sambutannya, Presiden mengatakan bahwa di dalam kebaktian-kebaktian Natal akan ditemukan sebuah pemandangan indah ketika cahaya lilin-lilin kecil dinyalakan oleh jemaat oleh umat Kristiani di seluruh tanah air.

    Cahaya lilin yang menjadi lambang terang di dalam kehidupan, yang menjadi simbol pemandu dalam kegelapan. Cahaya yang mengingatkan nilai-nilai Ketuhanan, nilai-nilai Keutamaan bahwa manusia haruslah saling mengasihi, saling menjaga dan saling mencintai.

    “Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan negara kita, Indonesia hari ini maupun di masa-masa yang akan datang terlebih dalam menjalani kodrat kita untuk hidup dalam keragaman, dalam kebhinnekaan,” ujar Presiden.

    Keragaman yang perlu dirawat dengan cinta kasih, untuk terus menjaga persaudaraan, menjaga kebersamaan, menjaga kerukunan dalam jalinan Bhinneka Tunggal Ika.

    “Dengan balutan cinta kasih kita akan saling menghormati, kita akan saling menghargai, kita akan saling menjaga, kita akan saling melindungi sesama anak bangsa,” tuturnya.

    Presiden meyakini bahwa semangat cinta kasih akan menghadirkan kedamaian di hati akan menebarkan kedamaian di seluruh penjuru tanah air dan menyebarkan perdamaian abadi di seluruh muka bumi.

    “Semangat cinta kasih akan menjadikan kita semua bisa bersatu untuk menghadapi semua tantangan-tantangan  sebagai bangsa serta secara bersama-sama berjuang  menghadirkan kesejahteraan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

    Tampak hadir pada perayaan Natal bersama ini antara lain, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM Ignasius Jonan yang juga Ketua Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis.

  • Jelang Natal dan Tahun Baru, Presiden Minta Jajarannya Antisipasi Distribusi Logistik

    Jelang Natal dan Tahun Baru, Presiden Minta Jajarannya Antisipasi Distribusi Logistik

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menjelang perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, sejumlah persiapan dan langkah antisipasi dilakukan pemerintah. Meskipun rutin terjadi setiap tahunnya, namun pemerintah tetap memberikan perhatian pada kedua hari besar tersebut.

    Dalam rapat terbatas yang digelar Presiden Joko Widodo pada Senin, 18 Desember 2017, di Istana Merdeka, Kepala Negara menekankan kepada jajarannya untuk menjaga ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga pangan serta kelancaran distribusi logistik, yang meliputi pangan, bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di Tanah Air.

    “Apapun harus kita antisipasi mengingat telah terjadi cuaca ekstrim serta bencana di beberapa daerah, sehingga ketersediaan dan stabilitas harga pangan perlu mendapatkan perhatian yang serius,” ujar Presiden.

    Selain itu, Presiden juga meminta jajarannya untuk meningkatkan kebutuhan dan pelayanan transportasi agar semakin nyaman serta mudah diakses oleh masyarakat.

    “Apalagi akhir tahun ini bertepatan dengan momen liburan sekolah, sehingga kebutuhan pada layanan transportasi semakin meningkat,” ungkapnya.

    Keselamatan warga dalam menggunakan setiap sarana transportasi, baik transportasi darat, laut, maupun udara juga menjadi fokus utama pemerintah.

    Terakhir, Presiden meminta jajaran POLRI, TNI, dan BIN untuk bersama-sama dengan pemerintah dan masyarakat mengantisipasi terjadinya gangguan-gangguan keamanan dan ketertiban di tempat umum maupun lingkungan sekitar.

    “Hadirkan rasa aman pada masyarakat dengan meningkatkan pengawasan, pengamanan terhadap tempat-tempat publik, tempat ibadah, bandar udara, pelabuhan, stasiun, dan terminal bus,” ucap Presiden.

  • Presiden Minta FKUB Turut Tanamkan Nilai Kebangsaan Pada Umat

    Presiden Minta FKUB Turut Tanamkan Nilai Kebangsaan Pada Umat

     

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasinya kepada para tokoh agama yang telah membantu pemerintah memelihara persatuan antarumat beragama di Tanah Air.

    Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Negara saat bersilaturahmi dengan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pada Selasa, 28 November 2017, di Istana Negara Jakarta.

    “Saya ingin berterima kasih kepada para tokoh agama, FKUB, yang turut merawat persaudaraan dan sering memfasilitasi dialog antarumat beragama,” ujar Presiden.

    Meski demikian, Presiden menyatakan masih banyak tugas dan tanggung jawab para tokoh agama untuk memelihara perdamaian di Indonesia. Salah satunya dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan rasa cinta Tanah Air agar tidak terjadi konflik di masyarakat.

    “Ini tugas FKUB yang riil dan konkret untuk mengingatkan semuanya kepada rakyat agar jangan main-main dengan hal yang sudah final dengan kebangsaan kita,” ungkapnya.

    Apalagi menjelang tahun politik 2018 mendatang, di mana masyarakat memiliki perbedaan pendapat, pilihan, dan pandangan politik yang berpotensi menimbulkan kegaduhan dan konflik di masyarakat.

    Oleh karena itu, Presiden mengajak para tokoh agama yang tergabung dalam FKUB untuk bersama-sama dengan pemerintah menjaga kerukunan, persaudaraan, dan persatuan bangsa Indonesia.

    “Ingatkan umat yang namanya Pilkada hanya sebatas pilihan politik. Di situ perbedaan pendapat pasti ada. Demokrasi memang begitu namanya. Ingatkan setelah memilih ya rukun kembali,” ucap Presiden.

    Presiden Jelaskan Peran RI di Krisis Kemanusiaan Rakhine State Kepada FKUB

    Di awal sambutannya, Presiden menyampaikan kekaguman sejumlah Kepala Negara terhadap kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama yang ada di Indonesia.

    Mulai dari Raja Arab Saudi Raja Salman, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, hingga Perdana Menteri Denmark Lars Løkke Rasmussen yang siang ini (28/7) baru saja mengunjungi Indonesia.

    “Tadi dengan Perdana Menteri Denmark beliau sampaikan kekaguman moderasi di Indonesia. Mereka kagum, kita yang dikagumi tidak tahu,” ujar Presiden.

    Presiden juga menyampaikan peran Indonesia dalam membantu menyelesaikan krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Sikap Indonesia yang netral membuat kedua negara baik Myanmar maupun Bangladesh menerima bantuan yang diberikan.

    “Kita sudah banyak masuk ke sana banyak yang tidak tahu. Bertemu militer di Myanmar, bertemu Perdana Menteri Bangladesh karena Indonesia dianggap netral dan tidak punya kepentingan,” ucap Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

  • Presiden Ingatkan Pentingnya Jaga Keberagaman dalam Bingkai Persatuan

    Presiden Ingatkan Pentingnya Jaga Keberagaman dalam Bingkai Persatuan

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Saat menerima Pengurus Pusat dan Daerah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pagi ini, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa kerukunan di tengah keberagaman suku bangsa di Indonesia menjadi perhatian negara-negara lain.

    Presiden Joko Widodo saat menerima Pengurus Pusat dan Daerah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

    Indonesia dengan belasan ribu pulau dan ratusan sukunya berulang kali diberitahukan Presiden kepada pemimpin-pemimpin negara yang datang ke Indonesia. Salah satunya ialah kepada Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.

    “Jumlah suku yang 714 itu bukan jumlah yang sedikit. Beliau (Ashraf Ghani) berpesan, hati-hati mengelola keberagaman agama, suku, serta keberagaman adat dan budaya di negaramu. Itu tidak mudah,” ujar Kepala Negara menceritakan.

    Di Afghanistan terjadi pertikaian yang disebabkan oleh perpecahan antarsuku dan hingga kini belum selesai.

    “Saat itu saya memberanikan diri untuk mengundang kelompok-kelompok di Afghanistan untuk datang ke Indonesia agar melihat ukhuwah islamiyah dan wathoniyah di Indonesia. Insya Allah pada tanggal 20 akhir bulan ini akan datang ke Indonesia,” ucapnya.

    Kepala Negara menuturkan, banyak negara yang mencoba mencari tahu bagaimana negara kita mampu menjaga keberagaman yang ada itu menjadi satu dalam bingkai persatuan.

    Maka itu, Presiden yang dalam pertemuan itu didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, berpesan agar seluruh pihak untuk dapat menjaga kerukunan di tengah-tengah masyarakat.

    “Jangan sampai kita dilihat dan dicontoh (negara lain), tapi di dalam negeri masih gaduh,” lanjutnya.

    Salah satunya ialah soal peraturan pemerintah mengenai organisasi masyarakat yang sempat diributkan. Bagi Presiden, sudah menjadi tugasnya untuk tetap menjaga Pancasila sebagai ideologi bagi bangsa dan negara Indonesia.

    Para pendiri bangsa ini juga sudah sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

    “Kesepakatan itu sudah final. Kalau masih ada yang anti-Pancasila, masih tidak setuju dengan NKRI, ya maaf. Undang-undang kita jelas sekali menyebutkan itu,” tegas Presiden.

  • Presiden Tegaskan Perpres Penguatan Karakter untuk Hindari Tergerusnya Nilai Agama dan Budaya Bangsa

    Presiden Tegaskan Perpres Penguatan Karakter untuk Hindari Tergerusnya Nilai Agama dan Budaya Bangsa

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Presiden  Joko Widodo pada Kamis pagi, 16 November 2017, menerima Pengurus Pusat dan Daerah Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Ratusan anggota organisasi kemasyarakatan Islam yang telah berdiri sejak tahun 1914 tersebut diterima di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

     

    Presiden Joko Widodo saat menerima Pengurus Pusat dan Daerah Al-Irsyad Al-Islamiyyah

    Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Kepala Negara menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan yang telah diberikan ormas-ormas Islam atas dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penguatan karakter.

    Presiden menyebut bahwa Perpres itu dikeluarkan karena lanskap interaksi sosial antarindividu dan masyarakat sudah sangat terbuka sekali.

    “Kenapa pendidikan karakter kita nomor satukan? Kita takut nilai-nilai agama dan budaya yang ada di negara kita ini menjadi tergerus,” ucapnya.

    Ia melanjutkan, melihat fenomena yang ada, anak-anak kini tak lagi belajar dari para orang tua dan guru semata. Tanpa disadari, mereka juga bisa mencontoh dari apa yang ada di media sosial.

    “Berbahaya sekali kalau anak-anak tidak kita berikan pendidikan karakter. Jangan hanya pandai masalah fisika dan biologi saja, mereka juga harus memiliki karakter dan nilai agama serta budaya yang baik,” tukasnya.

    Maka itu, ia bersyukur bahwa ormas-ormas Islam yang diundang untuk berdialog seputar penguatan karakter dan pendidikan anak mendukung penuh pemberlakuan Perpres ini.

    “Ini patut kita syukuri bahwa semuanya memiliki kesadaran yang sama betapa pentingnya penguatan karakter bagi anak-anak kita,” ucap Presiden yang dalam pertemuan itu didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

    Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo pada 6 September 2017 lalu menandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

    Penguatan Pendidikan Karakter dalam Perpres itu di antaranya bertujuan untuk membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila untuk menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

  • Meriah, Perayaan Sumpah Pemuda 2017 di Istana Kepresidenan Bogor

    Meriah, Perayaan Sumpah Pemuda 2017 di Istana Kepresidenan Bogor

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2017 yang pada tahun ini digelar di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, berlangsung meriah namun tetap khidmat. Peringatan dengan mengusung tema “Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama” ini mencoba mengusung semangat untuk melakukan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia tanpa memandang segala perbedaan yang ada.

    Suasana Perayaan Sumpah Pemuda di Istana Kepresidenan Bogor

    Suasana yang berbeda pagi ini tampak di Istana Kepresidenan Bogor. Lingkungan Istana yang biasanya terkesan kaku dan penuh penjagaan itu kini disulap menjadi sebuah lokasi tempat para anak muda berkumpul. Ratusan pemuda dengan beragam profesi, mulai dari pelajar, mahasiswa, vlogger, olahragawan, entrepreneur, seniman juga hadir di Istana Kepresidenan Bogor.

    Ada banyak _food truck_, kursi dan meja untuk bersantai, serta sejumlah _stand_ produk kreatif yang berdiri di halaman Istana. Para pengunjung yang sebagian besar memang terdiri atas anak muda itu tampak bebas beraktivitas dalam keramaian.

    Tiba pukul 09.10 WIB dengan bersepeda, Presiden disambut Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

    Presiden menyempatkan bermain bulutangkis berpasangan dengan Kevin melawan Gideon dan Gregoria.

    Tak lama setelah itu, Presiden menyempatkan bermain bulutangkis berpasangan dengan Kevin melawan Gideon dan Gregoria. Sebelum memulai acara, Presiden berjalan mengelilingi halaman belakang Istana, serta mengunjungi sejumlah _stand_. Presiden juga sempat berfoto dengan atlet bola basket, yakni Dodo, Falconi, Hardianus, Avan, Kevin.

    Presiden Joko Widodo sendiri memang berharap peringatan Sumpah Pemuda ini menjadi semangat abadi para pemuda Indonesia.

    “Kita ingin Sumpah Pemuda menjadi semangat abadi para pemuda Indonesia. Yaitu semangat kerja sama beragam pemuda dengan latar belakang yang berbeda,” kata Presiden melalui rilis video bersama dengan rekan-rekan jurnalis yang dipublikasikan pada Sabtu, 28 Oktober 2017.

    Oleh karenanya, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada tahun ini memfasilitasi para pemuda Indonesia untuk dapat berinisiatif memberikan dan menyampaikan aspirasi tentang relevansi nilai Sumpah Pemuda dalam konteks terkini.

    Karena hal itu pula peringatan Sumpah Pemuda ke-89 ini memberikan ruang aspirasi yang besar bagi para pemuda Indonesia, utamanya yang bergerak di bidang ekonomi kreatif, untuk menunjukkan karyanya kepada Presiden Joko Widodo.(*)