Author: admin

  • Terkait Gugatan Seorang Pendeata Besar, Frans Ansanay Yakin Proses Praperadilan Yang Tengah Bergulir Akan Digugurkan

    Terkait Gugatan Seorang Pendeata Besar, Frans Ansanay Yakin Proses Praperadilan Yang Tengah Bergulir Akan Digugurkan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Penyidik Kepolisian Resort Metro Jakarta Pusat (Polres Jakpus) akhirnya menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikian (SP3) atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang melibatkan nama Ketua Majelis Tinggi Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), Willem Frans Ansanay SH.

    Penerbitan SP3 dilakukan lantaran pihak penyidik menilai Pelapor, tidak mampu melampirkan alat bukti, ataupun bukti asli yang berkaitan dengan perkara tersebut.

    Merespon penerbitan SP3, pihak pelapor melayangkan gugatan praperadilan yang ditujukan kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia Cq Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya R.I Cq. Kepala Kepolisian Resort Metro Jakarta Pusat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).

    Berdasarkan laporan sketsindonews.com yang mengutip Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) milik PN Jakpus, pada Jumat (22/11/19), gugatan praperadilan dengan Nomor Perkara 16/Pid.Pra/2019/PN Jkt.Pst tersebut dilayangkan sebagai respon dari terbitnya SP3.

    Dijelaskan pula, petitum dari pelapor sebagai pemohon adalah mengabulkan permohonan praperadilan pemohon untuk seluruhnya.

    “Menyatakan Surat Ketetapan Kapolres Metropolitan Jakarta Pusat Nomor : S.Tap /181 /S.7 /X /2019 /Restro.Jakpus, tanggal 16 Oktober 2019 adalah tidak sah,” seperti dikutip dari SIPP, sebagaimana dilaporkan sketsindonews.com.

    Dalam Petitumnya pula, pihak pelapor meminta agar PN Jakpus memerintahkan kepada Termohon untuk membuka kembali penyidikan atas dugaan tindak pidana, berdasarkan Laporan Polisi bernomor LP /6035 /XII /2016 /PMJ /Dit. Reskrimsus, tertanggal 9 Desember 2016.

    Sementara itu Frans Ansanay ketika ditemui majalahgaharu.com pada Selasa pagi (26/11/2019), mengungkapkan bahwa pihaknya meyakini proses praperadilan yang tengah bergulir akan digugurkan. Dirinya menilai dalam proses penyidikan kasus yang menimpanya tidak terdapat cukup bukti sehingga sangatlah beralasan bila pihak penyidik menerbitkan SP3.

    “Saya meyakini bahwa praperadilannya  akan digugurkan, akan ditolak, karena ya tidak cukup bukti. Masa harus dipaksakan saya sebagai tersangka menurut dia, saya harus ditahan? Hukum kan harus punya bukti, minimal dua alat bukti,” tegasnya.

    Berkaca dari perkara praperadilan yang tengah bergulir, Frans menganggap tindakan yang dilakukan oleh Pendeta besar ini hanyalah sebuah bentuk ketidakpuasan semata. Saat ini, lanjutnya, domain hukum telah terletak antara pihak Pendeta pelapor dengan pihak Kepolisian.

    “Nah saudara pendeta pelapor ini merasa tidak puas kemudian dilakukanlah praperadilan pada Polisi, sehingga domain hukumnya sekarang antara Pendeta pelapor ini dengan Polisi,” jelasnya.

    Tidak Ada Upaya Kriminalisasi

    Saat ini Pendeta pelapor ini sendiri, tengah menjalani hukuman tujuh tahun penjara karena terbukti menerbitkan ijazah palsu program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) melalui Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (STT SETIA). Akibat praktik penerbitan ijazah palsu tersebut, sebanyak ratusan guru alumni PGSD SETIA yang telah bekerja bertahun-tahun di sejumlah wilayah di Indonesia tidak bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, ataupun diangkat sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara).

    Menanggapi hal itu Frans berkata bahwa sudah saatnya para hamba Tuhan untuk membuka mata. Hamba Tuhan, tambahnya, hanyalah manusia biasa yang memiliki kesalahan maupun kekurangan.

    “Saya ingin mengatakan bahwa hamba-hamba Tuhan yang cenderung berpikir idealis dalam konsep kebenaran, seolah yang benar itu versi dia, harus membuka mata. Bahwa semua hamba Tuhan juga manusia, punya kesalahan, punya kekurangan, banyak masalah,” kata Frans.

    Frans juga menampik tuduhan dari banyak pihak yang mengatakan bahwa dirinya melakukan kriminalisasi terhadap Pendeta besar ini. Nyatanya, tambah Frans, Pendeta inilah yang pertama kali melaporkan dirinya kepada pihak berwajib.

    “Artinya saya ingin katakan begini, bahwa selama ini saya dituduh melaporkan seorang pendeta, baik di kaca mata PGI, aras gereja yang lain. Sehingga saya di mata semua pihak adalah orang yang paling jahat ya. Kok bisa-bisanya melaporkan pendeta. Padahal mereka tidak melihat persoalan yang sebenarnya terjadi, termasuk tidak melihat bahwa ada pendeta yang tersebut ini pun melaporkan yang lain, menempuh cara-cara hukum di luar iman Kristen. Duluan dia yang melaporkan,” tegasnya.

    Menurutnya publik juga perlu mengetahui bahwa selama ini dirinya selaku salah satu pendiri GKSI telah berulangkali mengupayakan rekonsiliasi dengan Pendeta ini. Hanya saja ajakan tersebut selalu ditolak.

    “Sampai hari ini saya tetap menjaga konsep-konsep iman Kristen dalam rangka memberikan pengampunan dan mengajak untuk berdamai, tetapi beliau yang tidak mau,” tutupnya. (*)

  • Wisuda & Dies Natalis XX STT LETS Lighthouse Equipping Theological School

    Wisuda & Dies Natalis XX STT LETS Lighthouse Equipping Theological School

    BEKASI, WARTANASARANI.COM – Bertempat di Kampus STT LETS, Gedung Rhema Lantai 5, Jl. KH Noer Ali, Bekasi, Jawa Barat, STT LETS menggelar Wisuda dan Dies Natalis XX, Hari Jumat (08/11/2019). STT LETS melakukan yudisium dan wisuda kepada 68 mahasiswa yang lulus, di jenjang S2 Magister Teologi sebanyak 23 orang, jenjang S1 Sarjana Teologi dan Sarjana Pendidikan Agama Kristen 29 orang serta Jenjang Diploma 3 Pendidikan Vokasi sebanyak 16 orang.

    Dalam kesempatan ini Ketua STT LETS Pdt. Dr. Ir. Rachmat Manullang M.SI membuka sidang senat terbuka didampingi oleh Dr. Antonius Natan, M.Th selaku Waket I Bidang Akademik, Dr. Jakoep Ezra, MBA., Ph.D. selaku Waket II Bidang Administrasi dan Keuangan, Dr Elly Hutagalung, M.Th Selaku Waket III Bidang Kemahasiswaan beserta Direktur Pascasarjana Pdt. Dr. Ir. Eduard Monijong, M.Th. dan para Kaprodi serta dosen-dosen.

    Wisuda kali ini adalah wisuda yang sangat penting bagi kemajuan Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen karena mengingatkan kita terhadap pidato Presiden RI Joko Widodo diperiode kedua yang menyatakan perlunya peningkatan sumber daya manusia dan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran di sekolah dan kampus.

    “Sesuai dengan Tema wisuda adalah “Kepempinan Berteologi di Era Milenial” melalui tema ini menyadarkan kita semua, bahwa kita ada di generasi yang berubah begitu Cepat, teknologi telah sedemikian canggihnya, pekerjaan manusia akan terus digantikan dengan robot. Dan seakan dunia telah berada digenggamam tangan,” ungkap Prof. Dr. Hoga Saragih, M.Si., dalam orasi ilmiahnya.

    Dalam sambutan Pdt. Dr. Ir. Patisari Ginting, M.Th. mewakili Senat, ia mengungkapkan tentang peran pendidikan dalam menyelesaikan pertandingan si estafet terakhir menyambut kedatangan Tuhan yang kedua.

    “Satu hal yang perlu diingatkan kembali bahwa kedatangan Tuhan yang kedua telah dekat dan tentunya dunia pendidikan turut bertangggung jawab sebagai GerejaNya yang mengambil bagian menyelesaikan pertandingan di estafet yang terakhir. Moment Wisuda STT LET adalah penggalan pertandingan pembelajaran yang sudah diselesaikan oleh para mahasiswa, untuk selanjutnya siap memasuki penggalan pertandingan yang berikut yaitu memasuki pelayanan dan masuk dalam tingkatan yang lebih tinggi atau mendalam di masyarakat yang dituntaskan,” terangnya.

    Sementara dalam sambutannya Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI Prof. Dr. Thomas Pentury, MSI mengharapkan lulusan STT LETS mampu mengaplikasikan dan melipatgandakan benih Firman Tuhan yang didapat selama pembelajaran di Kampus atau melalui e-learning atau dalam pembelajaran mandiri sehingga kemanapun para lulusan diutus dan apapun yang dikerjakan, semakin besar masyarakat bisa merasakan buah Roh Kudus dan Keharuman Kristus sebagai terang dan garam dunia.

    STT LETS adalah Sekolah Bagi Para Pembaharu membuka kesempatan bagai Para Hamba Tuhan dan Profesional untuk bergabung dalam kelas On Campus maupun Off Campus. Pro ecclesia et Patria. (Red)

  • Yohanes Handojo Budhisedjati: Fox Point Bertekad Mengawal Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin

    Yohanes Handojo Budhisedjati: Fox Point Bertekad Mengawal Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menyikapi perkembangan politik yang sangat cepat terjadi di Indonesia, Vox Point Indonesia sebagai wadah perhimpunan umat Katolik di Indonesia menyatakan tekadnya untuk mengawal pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Hal ditegaskan langsung Yohanes Handojo Budhisedjati, Ketua Umum terpilih periode 2019-2023 kepada awak media setelah Misa Penutupan Kongres I Vox Point Indonesia di Wisma Samadi, Jl. Dermaga Raya No. 637, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

    “Suatu disruption sebagai sebuah gangguan terhadap tata sosial berdampak positif dan negatif. Kesenjangan ekonomi yang semakin tinggi, jarak antara kaya dan miskin dapat menimbulkan gesekan politik, pengangguran, dan lain sebagainya, yang dapat mengganggu stabilitas Negara,” terang Budi Handojo.

    “Untuk itu Fox Point bertekad mengawal pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan berbagai cara, antara lain menolak kampanye hitam dengan menggunakan isu SARA, hoax, dan persekusi,” terangnya lagi.

    Yohanes Handojo Budhisedjati, Ketua Umum terpilih periode 2019-2023

    Suasana serah-terima mandat DPP Vox Point Indonesia

    Sementara itu, Kongres yang di buka oleh Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dan ditutup oleh 5 Keuskupan Agung di Indonesia, menghasilkan sembilan rekomendasi yang menjadi spirit iman Katolik yang berakar pada Kristus menuju Indonesia maju.

    Berikut sembilan poin rekomendasi yang menjadi sikap politik Vox Point Indonesia dalam mengawal pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

    Pertama, Vox Point Indonesia siap mendedikasikan hidup dan perjuangan demi mewujudkan politik nasional bermartabat berdasarkan 4 konsensus dasar bangsa : Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Kedua, Vox Point Indonesia akan menjalin kerja sama sinergis dengan Hirarki Gereja (KWI), Keuskupan, dan organisasi Katolik lain, serta lembaga lintas agama dan kepercayaan lainnya.

    Ketiga, Vox Point Indonesia dengan tegas menolak kampanye hitam yang salah satunya menggunakan isu SARA, hoax, dan persekusi. Keempat, Vox Point Indonesia melakukan komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat serta melawan upaya memecah belah NKRI menggunakan politik berbasis identitas (SARA).

    Kelima, yaitu; mendukung berbagai institusi negara seperti TNI dan Polri, pemerintah tingkat nasional, Pemda, dan stakeholder terkait untuk melakukan penegakan hukum dengan tegas terhadap pihak-pihak yang ingin mengaburkan ideology Pancasila, kasus korupsi, dan narkoba. Keenam, Vox Point Indonesia akan mengedepankan rekrutmen politik dan kaum muda Katolik untuk menjadi negarawan yang memiliki integritas, kompetensi, dan berpegang teguh pada Pancasila untuk memimpin dalam keberagaman dan melawan kejahatan korupsi.

    Ketujuh, Vox Point Indonesia akan merealisasikan enam landasan kepribadian umat Katolik yakni: siap memanggul salib, hidup asketik (sederhana, jujur, rela berkorban), menjadi garam dan terang dunia, pemberani dalam kebenaran, mengenal potensi diri, serta berkarakter. Kedelapan, Vox Point Indonesia akan mendorong masyarakat agar tidak terpolarisasi oleh kemajuan perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan berupaya memanfaatkan perkembangan teknologi untuk kemajuan bangsa. Memperkuat dan mendorong Sumber Daya Manusia generasi muda untuk mendukung atau menjemput perkembangan revolusi industry 4.0.

    Terakhir, kesembilan, Vox Point Indonesia nyatakan untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan Pancasila maka perlu mengarusutamakan pendidikan bela Negara dan cinta Tanah Air untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi ancaman radikalisme, intoleran, dan disintegrasi bangsa. (*)

  • Pdt. Gomar Gultom Terpilih Pimpin PGI 5  Tahun Kedepan

    Pdt. Gomar Gultom Terpilih Pimpin PGI 5 Tahun Kedepan

    WAINGAPU, WARTANASRANI.COM – Panitia Nominasi SR PGI XVI yang bersidang di GKS Payeti Cabang Praiwora baru saja pukul 13.15 WITA, sukses memilih Pdt. Gomar Gultom, MTh menjadi Ketua Umum PGI 2019-2024 dengan meraih 79 suara, sementara dua pesaingnya Pdt. Albertus Patty meraih 32 suara dan Pdt. Tuhoni Telambanua meraih 12 Suara dari hasil info yang diterima redaksi.

    Lewat sambungan telepon, Pdt. Gomar Gultom yang telah menjabat dua kali sekum PGI ini menyatakan bahwa apa yang diputuskan oleh panitia nominasi adalah sebuah amanat dan sangat disyukurinya.

    “Saya kira yang pertama, saya ucapkan puji Tuhan dan terimakasih kepada pemilih yang telah memilih dan mempercaya saya untuk dapat memimpin PGI ke depan. Yang kedua, bahwa ini adalah amanat besar XVII di peserta SR PGI yang musti diemban dengan baik. Karena itu, saya berjanji akan menjaga kepercayaan itu,” ujarnya sesaat setelah terpilih.

    Pada kesempatan itu, Pdt. Gomar Gultom juga menyampaikan akan menjaga hubungan baik dan menjalin kerjasama dengan dua kandidat Pdt. Albertus Patty dan Pdt. Tuhoni Talembanua dalam memajukan PGI ke depan.

    Seperti diketahui, Pdt. Gomar Gultom adalah satu-satunya calon yang mendapat rekomendasi dari sinode HKBP untuk maju sebagai Ketum PGI periode 2019-2024.

    Sampai berita ini diturunkan, proses pemilihan Sekretris Umum PGI yang sementara unggul adalah Pdt. Jacky Maniputy dan dilanjutkan pemilihan Ketua, Bendung, Wasekum dan MP. (Red)

  • HKBP Tegaskan, Hanya Rekomendasikan Pdt. Gomar Gultom Sebagai Ketua Umum PGI 2019-2024

    HKBP Tegaskan, Hanya Rekomendasikan Pdt. Gomar Gultom Sebagai Ketua Umum PGI 2019-2024

    WAINGAPU NTT, WARTANASRANI.COM – Sejak awal HKBP lewat Ephorus ingin membuat PGI lebih besar, sehingga pimpinan HKBP sungguh-sungguh mencalonkan Pdt. Gomar Gultom untuk maju calon Ketua Umum. Pertimbangannya adalah pengalaman sebagai sekum dua periode. Kita yakin dia sudah memahami titik lemah dan kuat dari PGI sendiri.

    Hal ini diungkapkan Pdt. Dr. Martonggo Sitinjak selaku Ketua Departemen Koinonia HKBP yang juga ketua delagasi HKBP disela-sela persidangan Sabtu malam (9/11), untuk menepis isu yang berkembang liar di perhelatan Sidang Raya PGI XVII bahwa HKBP mengeluarkan dua nama yakni, satu untuk Ketum dan satu Sekum.

    “Sebagai sekum selama ini dia membuat tindakan melebihi pemimpin (ketua). Gomar tunduk langgam atau aturan. Selama ini dia bisa belajar dan menemukan hal yang baru. Ya dengan alasan tadi, maka kita (HKBP) sepenuhnya mendukung sekum PGI sekarang menjadi ketua umum PGI 2019-2024,” tegasnya.

    Lebih dijauh Pdt. Martonggo Sitinjak menegaskan bahwa rekomendasi kepada Pdt. Gomar Gultom sebagai satu-satunya calon dari HKBP sudah jauh-jauh hari dikeluarkan dan tidak pernah berubah.

    “HKBP itu hanya mencalonkan satu orang. Kalau ada yang bilang sekjen HKBP kasih rekomendasi, saya tegaskan tidak mungkin. Hanya Ephorus yang berhak kasih. Kalau ada itu pasti penyimpangan,” tegasnya.

    “Jauh-jauh hari HKBP sudah mengeluarkan rekomendasi satu nama dan tidak pernah berubah. Dan memang etikanya dari dulu, satu sinode mengusulkan satu nama. Ada 90 gereja kalau mencalonkan dua orang atau lebih itu berarti tidak fair dan tidak oikumenis, karena kita harus saling menghargai dan menghormati,” tegasnya lagi.

    Terkait posisi Sekum yang akan didukung, Ketua Departemen Koinonia HKBP yang juga ketua delagasi ini menyerahkan kepada Pdt. Gomar Gultom.

    “Terkait sekum, nanti kita beri ruang dan tinggal konsultasi Pdt. Gomar, siap yang bisa bekerja sama dan saling mengisi memimpin PGI ke depan. Kita sudah tahu nama yang beredar tapi balik lagi, mana yang lebih tepat dia harus memperjuangkan kepentingan PGI,” terangnya.

    Menjawab pertanyaan soal kehadiran Ephorus HKBP di Sidang Raya PGI, Pdt. Martonggo Sitinjak mengungkapkan bahwa kemungkinan Ephorus hadir pada hari Senin.

    ”Kalau tidak ada aral melintang Senin ini beliau sudah hadir di sini. Kami ini sekarang yang mengawal sidang,” ungkapnya. (Red)

  • Bupati Kabupaten Bandung, H. Dadang M. Naser: Keanekaragaman Merupakan Modal Pembangunan Bangsa Yang Tak Ternilai

    Bupati Kabupaten Bandung, H. Dadang M. Naser: Keanekaragaman Merupakan Modal Pembangunan Bangsa Yang Tak Ternilai

    SOREANG KAB. BANDUNG, WARTANASRANI.COM – Khazanah keanekaragaman adalah modal pembangunan bangsa yang tidak ternilai. Hal ini disampaikan H. Dadang M. Naser SH, S.IP, M.IP., Bupati Kabupaten Bandung dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Bapak Sudiro, S.Sos, M.Msi., Kabid ideologi Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Bangsa Badan Kesbangpol Kab. Bandung di acara diskusi kebangsaan tentang toleransi beragama yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/11/2019) di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung.

    Bapak Sudiro, S.Sos, M.Msi., Kabid ideologi Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Bangsa Badan Kesbangpol Kab. Bandung (tengah), Ketua FKUB Kabupaten Bandung Bapak Drs. H. Eri Ridwan Latief, M.Ag. (kanan),  Ketua Pewarna Jawa Barat Ronald S. Onibala (kiri)

    “Bahwa Khazanah Keanekaragaman merupakan modal Pembangunan Bangsa yang tidak ternilai harganya, manakala dilandasi oleh kesadaran yang tinggi akan pentingnya kebersamaan , persatuan, dan kesatuan sebagai saudara sebangsa,” ungkap Bupati Kab. Bandung.

    Lebih lanjut, H. Dadang M. Naser mengungkapkan bahwa persoalan agama sebagai hal yang mendasar dalam hidup manusia dapat menimbulkan sensitifitas yang berujung pada intoleransi. Sehingga menurutnya Agama harus diyakini sebagai alat pemersatu bangsa.

    “Persoalan Agama merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, karena didalamnya terkandung unsur keyakinan dalam diri manusia terhadap hal yang gaib yang diyakininya sebagai sesuatu kebenaran yang mutlak. Tapi alangkah berbahayanya jika ada Statement umat manusia terhadap satu  Klaim, yang dianut sehingga menjadi standart ganda yang selalu digoreng terhadap agama atau keyakinanan lainnya. Sehingga menimbulkan sensitifitas yang menganggu harga diri dan bertolak belakang dari agama atau keyakinan yang dianut maka terjadilah Intoleransi terhadap  para penganutnya,” terang Bupati Kabupaten Bandung.

    “Maka Agama harus diyakini sebagai alat pemersatu bukan pemecah belah agama itu sendiri, Negara dan Masyarkat,” terang Bupati lagi.

    Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Bandung Bapak Drs. H. Eri Ridwan Latief, M.Ag., memberi apresiasi kepada Pewarna Jawa Barat atas pelaksanaan diskusi kebangsaan yang mengambil tema toleransi antar umat beragama sebagai pemersatu bangsa.

    “Terima kasih kepada Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Jawa Barat yang sudah melaksanakan acara seminar kebangsaan ini di Kabupaten Bandung,” terang H. Eri seraya mengajak peserta untuk terus menjaga soliditas dan mempererat silahturahmi.

    Tak ketinggalan, Ketua Pewarna Jawa barat, Ronald S. Onibala menyampaikan terima kasih atas kerja perdana Pengurus Pewarna Kabupaten Bandung.

    “Kegiatan ini adalah kegiatan yang baik dan perlu terus dilakukan. Lewat acara seperti diskusi kebangsaan inilah, Pewarna dapat memberi warna dengan memberi kontribusi pemikiran positif dalam pemecahan masalah intoleransi yang terjadi di bangsa ini. Terima kasih kepada rekan-rekan Pewarna Kabupaten bandung yang sudah mengusahakan terlaksananya acara  yang baik ini,” ujar Ronald. (*)

  • Buka Sidang Raya XVII PGI, Yasonna Laoly Singgung Era 4.0

    Buka Sidang Raya XVII PGI, Yasonna Laoly Singgung Era 4.0

    WAINGAPU NTT, WARTANASRANI.COM – Era 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi, telah merambah ke berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Hal ini tentunya menambah semakin kerasnya persaingan. Persaingan bukan lagi siapa yang terbesar atau terkecil, tetapi siapa yang tercepat. Oleh sebab itu, gereja juga diminta ikut mempersiapkan diri, dengan menyiapkan generasi muda yang dapat memanfaatkan berbagai peluang di tengah persaingan tersebut.

    Hal tersebut ditegaskan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI, Yasonna Laoly, saat membuka Sidang Raya XVII PGI, di Pantai Puru Kambera, Waingapu, Sumba Timur, NTT, Jumat (8/11).

    “Sekarang segala sesuatu bisa dijangkau dengan hand phone, dan tinggal pencet. Nah, perubahan ini harus kita respon. Perlu ketrampilan yang mumpuni untuk menangkap peluang, dan semuanya itu harus dimulai dengan pendidikan. Pendidikan semakin penting. Pertanyaannya, sejauhmana gereja telah mempersiapkan jemaat, secara khusus generasi muda, yang unggul di masa depan,” katanya.

    Dalam sambutannya, juga disinggung mengenai tantangan radikalisme yang kini terjadi di bangsa Indonesia. Sebab itu, dia mengajak gereja dan tokoh adat, terus menggelorakan semangat kebersamaan dan gotongroyong. Selain itu, pentingnya menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur.

    Sementara itu, Dalam sambutannya, Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang menyambut dengan rasa syukur atas kehadiran jemaat GKS yang datang dari berbagai tempat, dan penuh semangat menghadiri acara ini. “Kehadiran kalian semua dari tempat yang jauh menandakan adanya kesatuan hati kita untuk merayakan pesta iman ini,” tandas Pdt. Ery, panggilan akrabnya.

    Lanjut Ketua Umum PGI, tema Sidang Raya XVII PGI adalah pengakuan iman dari gereja mula-mula yang tidak akan dilupakan, dan ini juga menjadi pengakuan iman gereja-gereja di abad 21 ini. “Banyak pergumulan yang melilit kita, namun harus yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita. Itu pula yang kita rayakan pada Sidang Raya ini. Kita akan membicarakan karunia yang sudah diberikan Allah, begitu juga karunia yang sudah diberikan kepada Sumba dengan keindahan alamnya,” ujarnya.

    Pembukaan SR XVII PGI berlangsung semarak. Tidak hanya peserta sidang, jemaat dari 4 kabupaten di Sumba serta masyarakat, beribadah bersama-sama, dan menyaksikan acara pembukan yang luar biasa. Sekitar 7000 orang tumpah ruah di pinggir pantai nan indah dan mempesona itu.

    Suasana Pembukaan Sidang Raya XVII PGI, di Pantai Puru Kambera, Waingapu, Sumba Timur, NTT, Jumat (8/11)

    Antusiasme jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) dan masyarakat perlu diacungi jempol. Menurut informasi yang dihimpun tim media PGI, sebelum pembukaan mereka telah berdatangan ke lokasi dengan menggunakan kendaraan roda dua, bis, mobil pribadi, hingga truk. Teriknya matahari sama sekali tak mematahkan niat mereka untuk hadir.

    Prosesi pembukaan yang diawali ibadah ini, diisi tarian, atraksi seribu kuda, dan fragmen perjuangan masyarakat Sumba mula-mula yang dikolaborasi dengan masuknya Injil ke Tana Humba. Kesemuanya itu membuat decak kagum, dan rasa haru yang luar biasa dari mereka yang hadir.

    Mewakili Presiden RI Joko Widodo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI  Yasonna H. Laoly tiba di Pantai Puru Kambera didampingi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat serta Wakil Gubernur NTT Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi. Kedatangan mereka diterima MPH-PGI dan Pimpinan Sinode GKS dengan adat budaya Sumba.

    Pembukaan Sidang Raya XVII PGI ditandai dengan pemukulan gong oleh Yasona Laoly , didampingi oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Bupati Sumba Barat, Wakil Bupati Sumba Barat, Bupati Sumba Tengah, Ketua Sinode GKS serta MPH-PGI. Usai pemukulan gong Yasonna menerima kuda putih yang diberikan oleh panitia. (Red)

  • Manuel Raintung Dijagokan GPIB Sebagai Sekum Dampingi Calon Kuat Ketum PGI, Gomar Gultom

    Manuel Raintung Dijagokan GPIB Sebagai Sekum Dampingi Calon Kuat Ketum PGI, Gomar Gultom

    WARTANASRANI.COM – Sidang Raya Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) ke-XVII yang akan mulai diselenggarakan besok Jumat 8, hingga Rabu 13 November 2019 di Sumba, Nusa Tenggara Timur, mulai mendapat cukup banyak perhatian dari umat Kristen di Indonesia untuk melihat pencapaian apa saja yang akan dihasilkan dari sidang raya yang bergulir setiap lima tahun sekali ini.

    Selain keputusan-keputusan seperti isu strategis yang dibicarakan, pemilihan pimpinan teras PGI tentu saja menjadi salah satu fokus utama publik terhadap salah satu aras Kristen terbesar di Indonesia ini. Informasi yang diterima oleh wartanasrani.com, dua nama tokoh yang aktif di lingkungan PGI yaitu Pendeta Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI) dan Pendeta Manuel Raintung (Ketua Umum PGIW DKI Jakarta) digadang-gadang akan menjadi kandidat kuat pemimpin PGI periode berikutnya.

    Mengenai kabar ini, Pendeta Gomar Gultom mengatakan bahwa dirinya menyerahkan sepenuhnya pada sidang nanti.

    “Biarkanlah semua itu mengalir apa adanya.. Dan sepenuhnya adalah hak pimpinan gereja. Terus terang saja, saya tidak mencalonkan diri tetapi dicalonkan. Dan saya siap memimpin PGI 5 tahun ke depan bila forum sidang raya PGI memilih,” ujarnya seperti dirilis poskupang, Kamis (7/11).

    Sementara itu Pendeta Manuel Raintung sendiri yang memiliki rekam jejak dan pengalaman yang baik dalam pelayanan gerejawi bahkan tentunya sangat aktif dalam perjuangan gerakan oikumene, menyatakan dirinya memang akan maju sebagai salah satu calon pimpinan.

    “Saya sendiri akan maju sebagai sekretaris umum atau wakil sekretaris umum. Saya sudah menghadap ketua sinode GPIB dan saya dipercayakan maju mewakili GPIB. Terima kasih atas dukungan dari Sinode GPIB yang mengutus saya. Ini adalah bentuk dukungan pengutusan yang lebih lagi di lembaga PGI untuk karya pengabdian,” kata Pdt. Manuel Raintung, di Kantor PGIW DKI Jakarta, Rawamangun, Senin (4/11).

  • Menteri Agama RI Fachrul Razi, Kontribusi Pemikiran Konstruktif  Pewarna Untuk Pemecahan Masalah Bangsa

    Menteri Agama RI Fachrul Razi, Kontribusi Pemikiran Konstruktif Pewarna Untuk Pemecahan Masalah Bangsa

    SENTUL, WARTANASRANI.COM – Menghadapi berbagai persoalan bangsa yang memerlukan perhatian bersama, Menteri Agama Republik Indonesia berharap Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif. Hal ini disampaikan Menteri Agama Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekertaris Ditjen Bimas Kristen, Bapak Dr. Yan Kristianus Kadang, SE., MM dalam pembukaan Kongres II 2019 Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia yang berlangsung di The Pelangi Hotel and Resort, Sentul, Bogor, Jawa Barat, 1-3 November 2019.

    “Kami berharap agar Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) dapat memberikan pencerahan terhadap persoalan yang sedang kita hadapi, serta memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif untuk pemecahan masalahnya, karena dengan sikap kritis yang dimiliki kita semua, khsusunya para tokoh intelektual, diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan dan mencari solusi terbaik terhadap kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia,” ujar Menteri Agama.

    Diawal sambutan tertulisnya, Fachrus Razi mengingatkan bahwa Indonesia selaku negara multi etnis dan agama, ternyata masih menghadapi persoalan intoleransi yang cukup tinggi.

    “Belakangan ini semangat toleransi dan kebinekaan dalam bingkai ideologi Pancasila terus mengalami sebuah degradasi yang cukup drastis di kalangan masyarakat bangsa Indonesia terlebih khusus pada kalangan kaum muda. Sehingga tidak heran sebagian besar masyarakat dan orang muda bangsa ini begitu cepat terpengaruh dengan masuknya ideologi-ideologi yang berasal dari luar bahkan seringkali ideologi-ideologi tersebut secara terang-terangan mangatakan anti terhadap Pancasila dan semangat kebinekaan yang sudah beratusan tahun tertanam dalam kepribadian dan kebudayaan masyarakat Indonesia,” tegas Menteri Agama.

    Untuk itu Menteri Agama menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar falsafah hidup berbangsa dan bernegara merupakan suatu kekuatan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai latar belakang suku dan budaya, ras serta agama yang berbeda-beda perlu direfleksikan dan diimplementasikan secara sungguh-sungguh oleh semua masyarakat bangsa Indonesia tanpa terkecuali.

    “Pancasila apabila dimaknai secara mendalam tentu bisa membawa Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan yang dahulu telah ditanamkan dalam setiap benak anak bangsa. Seluruh masyarakat bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab penuh dalam menjaga dan melestarikan Pancasila serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya dari pengaruh radikalisme dan sikap intoleran yang memecah belakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Semua elemen bangsa apapun itu suku, agama, etnis wajib mendukung dan berani bersuara menegakkan Pancasila,” tegas Menteri Agama.

    Pada bagian lain, Fachrul Razi menekankan soal pentingnya moderasi beragama untuk menagkal ekstrimisme dan radikalisme yang berbalut ajaran agama.

    “Moderasi beragama dipandang sangat urgen dan diperlukan untuk menangkal ekstrimisme dan radikalisme yang berbalut ajaran agama, Karena itu, Kementerian Agama RI menempun jalan-jalan yang dianggap perlu, antara lain: pertama, memberikan himbauan dan seruan kepada pengelola rumah ibadah supaya menggunakan rumah ibadah secara arif dan bijaksana; kedua, menghimbau semua penceramah, pengkhotbah, penyuluh agama agar tidak bersikap provokatif dan agitatif terhadap kelompok agama lainnya, apalagi sampai menyebar fitnah; ketiga, mengambil kebijakan-kebijakan publik di bidang agama, termasuk berusaha menyeimbangkan kutub-kutub ekstrim sikap beragama sejauh tidak mengintervensi kehidupan beragama secara internal,” jelas Menteri Agama.

    “Singkatnya, Kementerian Agama mendorong moderasi beragama sebagai langkah untuk menumbuhkan toleransi di dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga Tri Kerukunan Umat Beragama dapat terwujud: Kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah,” jelas Menteri Agama lagi.

    Pada akhirnya, Fachrul Razi mengajak Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) untuk bergandeng tangan bersama pemerintah untuk dapat berbuat sesuai tugas dan profesi.

    “Menghadapi masalah yang sangat urgen dan masih memerlukan perhatian kita bersama, kita perlu bersama-sama bergandengan tangan untuk dapat berbuat sesuai dengan tugas dan profesi masing-masing,” ajak Menteri Agama.

    “Mengakhiri sambutan ini, saya percaya Kongres ke II ini dapat memutuskan keputusan-keputusan yang strategis ke depan dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kita ke depan. Selamat bersidang,” tutup Menteri Agama. (*)

  • Indonesia Tuan Rumah General Assembly World Evangelical Alliance GA WEA 2019

    Indonesia Tuan Rumah General Assembly World Evangelical Alliance GA WEA 2019

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Mendapat kepercayaan dari World Evangelical Alliance (WEA) menjadi tuan rumah pelaksanaan Sidang Raya dari Pertemuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili sedunia atau General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) meyakini bahwa hal ini menjadi momentum dan waktunya Tuhan bagi Indonesia.

    “PGLII meyakini hal ini sebagai momentum dan waktuNya Tuhan bagi Indonesia. Bagi Indonesia ini adalah waktunya untuk membuktikan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang aman, damai dan semua agama dapat hidup berdampingan,” tegas Deddy A. Maddong, SH., MA, wakil ketua host committee Panitia GA WEA saat konferensi pers dengan awak media, Kamis (31/10/2019).

    Lebih lanjut Ketua III PP PGLII ini menyatakan rasa syukur PGLII atas terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah GA WEA.

    “Kita patut bersyukur kepada Tuhan, karena WEA GA yang berlangsung enam tahun sekali ini diadakan di Indonesia, PGLII sangat bersyukur mendapat kepercayaan tersebut. Karena sudah 48 tahun PGLII hadir di Indonesia, namun baru kali ini di percaya menjadi tuan rumah,” ungkapnya

    “Sejarah dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah dimulai dari pergumulan pimpinan WEA dan pimpinan International Committee dalam menetapkan tuan rumah. Awalnya masuk permintaan dari Korea Selatan, India, dan negara-negara di Afrika untuk menjadi tuan rumah. Proses doa dan pergumulan itu akhirnya mengerucut pada Indonesia,” ungkapnya lagi.

    Deddy Maddong juga menegaskan bahwa pelaksanaan GA WEA di Indonesia merupakan kesempatan untuk memperlihatkan kepada dunia luar bagaimana api injil yang terus menyala di Indonesia.

    “Ketika belahan dunia lain terjadi kelesuan rohani, maka tidak demikian dengan asia termasuk Indonesia, ada api Injil yang terus menyala. Inilah waktunya Indonesia untuk menjadi berkat bagi dunia, dengan membagikan pengalaman dan kesaksian dalam pemberitaan Injil ditengah-tengah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan dalam berbagai tantangan namun Injil dapat terus diberitakan,” urainya.

    Sementara itu General Asemmbly World Evangelical Alliance (GA WEA) 2019 yang akan berlangsung selama tujuh hari, 7-13 November 2019, di SICC (Sentul International Convention Center) Sentul Bogor, Jawa Barat, mengambil tema “Your Kingdom Come” (Kerajaan-Mu Datang), dan akan dihadiri 131 negara anggota WEA, dengan jumlah peserta mencapai kurang lebih seribu orang. (*)