Author: admin

  • Media Harus Menyuarakan Kabar Baik, Jadi Pesan Penting Ketum Sinode GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun Kepada Jurnalis PEWARNA INDONESIA

    Media Harus Menyuarakan Kabar Baik, Jadi Pesan Penting Ketum Sinode GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun Kepada Jurnalis PEWARNA INDONESIA

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Media harus menyuarakan kabar baik, menjadi pesan penting Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) kepada para jurnalis yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia) di Lounge Kantor Sinode GBI, Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1).

    img-20190112-wa0018

    Foto bersama Pdt. Dr. Japarlin Marbun bersama wartawan Pewarna Indonesia

    “Seperti apa yang menjadi tema Natal GBI dari Lukas 2:10, yaitu; kabar baik untuk semua, maka harapan saya, rekan-rekan pewarta, para jurnalis Kristen, tetap pada misi untuk membawa kabar baik,” pesan Japarlin.

    Dalam pertemuan yang berlangsung santai penuh kekeluargaan ini, Pdt. Dr. Japarlin Marbun mengungkapkan soal tiga hal penting yang mampu menjadi filter sebuah berita, sehingga tidak menjadi kabar buruk atau hoax.

    “Media harus menyuarakan kabar baik, bukan kabar buruk atau hoax. Sebelum kita mewartakan satu berita, pewarta harus memperhatikan tiga hal penting; Pertama, benarkah berita itu? Kedua, tepatkah berita itu? dan Ketiga, bergunakah berita yang disampaikan atau berita yang akan diwartakan itu?,” ungkapnya.

    “Kalau sudah lolos dari tiga hal ini, maka berita itu bisa diwartakan. Jadi tiga hal ini harus dipegang oleh para jurnalis Kristen,” ungkapnya lagi.

    Terkait pertemuan yang sedang berlangsung, Japarlin setuju perlunya sinergitas antara gereja dan media, sehingga masyarakat bahkan pemerintah mengetahui kegiatan-kegiatan gereja.

    “Organisasi gereja harus menjalin kerja sama yang baik dengan wartawan. Pertemuan seperti ini penting sehingga tidak ada mis komunikasi dan terjalin sinergitas. Kegiatan saling mendukung perlu dilakukan antara gereja dan media sehingga publik termasuk pemerintah bisa mengetahui apa yang telah dikerjakan gereja selama ini,” terangnya.

    Sementara itu, pada bagian akhir bincang santai refleksi awal tahun menyambut 2019, Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesediaan Ketua Umum Sinode GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun menerima awak media Pewarna. (*)

  • GPIB Jemaat Nazareth Rawamangun Jadi Tuan Rumah Perayaan Natal dan Syukur Awal Tahun PGIW DKI Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Pujian yang diambil dari KJ. 123:1 dan 3, berjudul, s’lamat-s’lamat datang, menjadi nyanyian pembuka Ibadah Perayaan Natal 2018 dan Syukur Awal Tahun 2019 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta yang diselenggarakan hari ini, Sabtu (12/01/2019), di GPIB Jemaat Nazareth, Rawamangun, Jakarta Timur.

    img_20190113_004016

    Pujian natal yang dilantunkan silih berganti, seperti: Hai mari berhimpun, anak Maria dalam palungan, putri Sion nyanyilah, gita Sorga bergema, hai siarkan digunung, malam kudus, sampai Mary’s Boy Child, yang menjadi lagu terakhir, menambah sukacita jemaat di Natal yang mengambil tema; Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita. Tak ketinggalan, Sembilan paduan suara dari berbagai gereja, memberi warna tersendiri pada ibadah Natal dan syukur awal tahun PGIW DKI Jakarta ini.

    Sementara itu, Pdt. Timotius Adhi Dharma M.Si., dalam khotbahnya mengajak jemaat yang hadir untuk meletakkan titik perspektif pada Yesus Kristus. Karena menurutnya, bila warga gereja mampu meletakkan perspektif yang sama pada Yesus Kristus, sebagai hikmat bagi gereja, maka gereja pasti mampu bersikap waspada dan selalu meletakkan pengharapan pada Yesus Kristus.

    “Ini Natal yang baik di tahun 2019. Letakkan titik perspektif kita pada Yesus Kristus yang adalah hikmat bagi kita. Letakkan pengharapan kita pada Yesus Kristus sebagai hikmat bagi kita. Walaupun berbeda suku, budaya, denominasi, kita harus menuju pada titik yang sama yaitu Yesus Kristus, sehingga kita semakin waspada dalam menyikapi situasi yang ada,” ungkapnya.

    Pada bagian sambutan, Pdt. Maxsales Kapoh, Ketua I BP Mupel Jakarta Timur, memberi apresiasi ucapan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mengambil bagian dalam pelaksanaan Natal PGIW khususnya pimpinan majelis jemaat GPIB Nazareth Rawamangun yg sudah menjadi tuan rumah mewakili GPIB.

    Adapun Ketua PGIW Provinsi DKI Jakarta, Pdt. Manuel E. Rantung menyampaikan mengingatkan pentingnya tanggung jawab jemaat untuk memilih dan memberikan hak suaranya di Pesta Demokrasi 19 April mendatang. Dia juga menyinggung media sosial yang telah terkoptasi dengan Kecebong versus Kampret. Karena itu perlu hikmat sehingga tidak menyebarkan hoax.

    “Kita tidak perlu terjebak dalam aksi dukung mendukung dan pilihan apakah no 1 atau no 2, yang terpenting pilih sesuai dengan hati nurani yang bisa memimpin bangsa ini ke depan. Gereja harus siap menyambut pesta demokrasi, warga gereja harus terdaftar dan ikut serta dlm pesta demokrasi secara langsung. Karena ada warga gereja yang mencalonkan diri sebagai caleg,” ungkap Raintung sambil memperkenalkan para caleg baik tingkat DPRD maupun DPR RI yang hadir.

    Sebelumnya, Pembimas Provinsi DKI Jakarta Lisa Mulyati, MSi dalam sambutannya, juga menyinggung hal yang sama.

    “Saya berharap semua yang hadir disini akan memberikan suaranya 19 April mendatang secara bertanggung jawab, sebab ini menyangkut masa lima tahun ke depan. Gereja dan jemaat tidak boleh golput, karena dalam pesta demokrasi ini harus turut berpartisipasi sebagai warga negara yang baik,” tandasnya.

    “Terimakasih untuk itu, saya bersahabat dengan Pdt Manuel Raintung, Pdt Ferry Simanjuntak dan pengurus PGIW lainnya, semoga ke depan tetapi bekerja sama baik dalam melayani umat Kristen di DKI Jakarta,” tandasnya lagi.

    Pada bagian akhir, Lisa mengajak warga gereja untuk tetap menjaga kedamaian dan kerukunan yang sudah terjalin selama ini. “Marilah kita secara dewasa terus menjaga kedamaian dan kerukunan yang ada di indonesia khususnya di Provinsi DKI Jakarta” tandasnya lagi. (*)

  • PEWARNA, Aras Gereja dan Ormas Kristen Gelar Natal Nusantara

    img_20190110_091423

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Desember memang telah berlalu, namun sukacita kelahiran sang Juruselamat umat manusia masih begitu terasa. Dengan semangat sukacita itu Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) bersama dengan sejumlah organisasi massa Kristen yang terdiri dari Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Forum Musyawarah Antar Gereja (FORMAG), Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAGNAS), Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Garda Mencegah Dan Mengobati (GMDM) dan lembaga aras menyelenggarakan perayaan natal bernuansa nusantara.

    “Kejarlah Damai Sejahtera dan Hidup Saling Membangun” diangkat sebagai tema perayaan yang diadakan di Function Hall Graha Rehobot Ministry, Mall Artha Gading, Jakarta Utara, pada Rabu petang (09/01/2019), itu.

    img_20190110_091514

    Perayaan natal nusantara diawali dengan ibadah dan pujian yang dipimpin oleh muda-mudi lintas gereja. Persembahan pujian silih berganti dibawakan oleh STT Sunsugos dan STT Pokok Anggur. Mantan penyanyi cilik Indonesia era 2000-an, Tina Toon, ikut menyumbang suara emasnya di ibadah. Sebelum melayani, Tina sempat berkesaksian dan menuturkan harapannya di hadapan 400-an hadirin yang datang dengan mengenakan pakaian adat, bahwa tahun yang baru mesti diisi dengan sebuah kesungguhan dalam melayani Tuhan.

    “Mudah-mudahan di tahun ini kita bisa setia melayani lebih lagi untuk Tuhan dan sesama,” ujar Tina sesaat sebelum membawakan pujian berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan”.

    Tina juga berkisah bahwa pertolongan Tuhan begitu dirasakan sepanjang hidupnya. Untuk itulah ia mengajak hadirin untuk senantiasa berserah kepada penyertaan Tuhan di tahun yang baru ini.

    “Baru memasuki tahun 2019 kita tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saya percaya kalau kita telah ditolong oleh Tuhan pada tahun-tahun sebelumnya, maka Tuhan yang sama akan menolong kita di tahun yang baru ini,” ucapnya kembali sebelum melantunkan pujian “Bersama-Mu”, yang diamini oleh para hadirin.

    Di sela-sela ibadah, sejumlah pimpinan aras, ormas Kristen, perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia maupun gereja turut serta dalam prosesi terang lilin dengan iringan lagu “Malam Kudus” yang dibawakan oleh Clara Panggabean. Di antaranya adalah perwakilan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Haposan Sianturi dan Pdt. Dantje Wulur yang mewakili Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI). Untuk PGLII diwakilkan oleh Pdt. R.B. Rory. Sedangkan dari MUKI, diwakili langsung oleh Ketua Umum Djasarmen Purba. Ikut dalam prosesi itu pula Pdt. Brigjen (Purn) Harsanto Adi yang mewakili API serta Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono. Sementara itu untuk gereja, diwakili oleh Ketua Sinode Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Pdt. Erastus Sabdono. Dari GMDM, diwakili oleh Pdt. Jeffry Tambayong.

    Sebuah refleksi natal kemudian dibawakan oleh Pendeta Erastus Sabdono. Pdt. Erastus memberi penekanan kepada tema yang diangkat oleh PEWARNA Indonesia dengan ormas Kristen dalam perayaan natal bersama kali ini, yang membahas seputar hidup dalam damai sejahtera dan membangun di dalam Tuhan.

    “Saya kira tema-tema seperti ini merupakan tema yang tidak asing. Jujur memang mudah kita menyusun redaksional kalimat tema dan subtema. Seringkali tema datang tidak menambah dan pulang tidak mengurangi. Tidak ada pertanggung jawaban terhadap tema-tema yang diusung, yang disusun seindah-indahnya. Terdengarlah serohani-rohaninya. Apakah kita sungguh-sungguh berkomitmen untuk mengejar damai sejahtera dan hidup untuk membangun?” tanyanya.

    Secara mendalam Pdt. Erastus juga mengurai tentang hidup yang berkenan di dalam Tuhan. Dengan tegas ia menggaris bawahi, bahwa mustahil untuk mencapai sebuah kedamaian tanpa melalui cara-cara yang dikehendaki Tuhan, yakni sebuah kerinduan untuk hidup dengan berkaca pada karakter-Nya.

    “Tidak mungkin kita memiliki damai Tuhan kalau kita tidak memiliki karakter-Nya,” tegasnya. Pendeta Erastus kemudian ikut mengingatkan agar pewarta Kristen, khususnya PEWARNA Indonesia menyadari salah satu tugas perannya dalam membangun umat melalui pewartaan. Meski pun, lanjutnya, pewarta sendiri kerap diperhadapkan dengan kondisi yang penuh keterbatasan. Dalam konteks natal, Pdt. Erastus berkata, bahwa tempatnya selalu terbuka untuk digunakan oleh umat yang memiliki kerinduan memuji nama Tuhan.

    “PEWARNA harus memiliki peran, sebab tulisanmu bisa lebih tajam dari khotbah pendeta di mimbar. PEWARNA harus cerdas dan berhikmat. Saya mengerti kondisi mereka, sebab beberapa kali saya bersama mereka dalam beberapa kesempatan. Saya mengatakan, gunakanlah tempat ini sebab tempat ini merupakan rumah Tuhan,” ujarnya menyemangati awak PEWARNA Indonesia.

    Menjelang penghujung ibadah natal nusantara, putri dari Pdt. Erastus Sabdono yakni Stephanie Erastus melengkapi rangkaian puji-pujian malam itu dengan membawakan lantunan “Hanya Satu Kerinduanku”, dan dilanjutkan dengan ajakan untuk memerangi peredaran gelap narkoba melalui lagu yang dibawakan oleh GMDM, dengan dipimpin Pastor Jeffry Tambayong.

    Rangkaian ibadah natal nusantara yang diselenggarakan PEWARNA Indonesia bekerja sama dengan lembaga aras dan ormas Kristen kemudian diakhiri dengan doa bagi persatuan bangsa. (*)

  • Perayaan Natal Nasional 2018, Presiden: Keragaman Adalah Sumber Kekuatan Bukan Perpecahan

    Perayaan Natal Nasional 2018, Presiden: Keragaman Adalah Sumber Kekuatan Bukan Perpecahan

    img_20181230_081931

    DELI SERDANG, WARTANASRANI.COM – Tuhan menganugerahi bangsa Indonesia dengan rasa persaudaraan, cinta kasih, dan persatuan yang tinggi. Oleh karena itu, keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia hendaknya tidak dipandang sebagai sumber perpecahan, tetapi sebagai sumber potensi besar dan kekuatan.

    Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat menghadiri acara Perayaan Natal Nasional Tahun 2018. Acara tersebut dihelat di Gedung Serbaguna T. Rizal Noordin, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara, pada Sabtu, 29 Desember 2018.

    img-20181230-wa0013

    “Aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaran. Dan persatuan yang bersumber dari keragaman bangsa kita, Indonesia, adalah kekuataan kita, yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun, karena persatuan kita sangat kuat,” kata Presiden di hadapan ribuan hadirin.

    Oleh sebab itu, Presiden mengajak semua pihak untuk terus menjaga, merawat, dan mensyukuri anugerah Tuhan berupa keragaman dan persatuan tersebut dengan saling menghormati, menghargai, membantu, dan mengasihi.

    “Karena di mana ada si Rungguk, di situ ada si Tata. Di mana pun kita duduk, di situ selalu ada Tuhan Yang Maha Esa,” ucap Presiden berpantun.

    Di penghujung sambutannya, Kepala Negara kembali melontarkan sebuah pantun untuk mengucapkan selamat Natal dan tahun baru.

    “Terletak di tanah batang ubi jadi tunas, terletak di tanah besi jadi karat. Selamat Natal tahun 2018 dan sekaligus saya mengucapkan selamat tahun baru 2019. Kiranya damai, sejahtera, selalu hadir di negara kita Indonesia,” kata Kepala Negara.

    Turut mendampingi Presiden dalam acara ini antara lain, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Hukum dan HAM sekaligus Ketua Umum Perayaan Natal Nasional Tahun 2018 Yasonna Laoly, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi. (*)

  • Selamat Natal dari Presiden Jokowi

    Selamat Natal dari Presiden Jokowi

    img_20181225_161045

    WARTANASRANI.COM – Lewat akun media sosialnya – Twitter, Facebook dan Instagram- Jokowi mengucapkan Selamat Hari Natal bagi segenap umat yang merayakan.

    “Indonesia ini sebuah bangsa besar, serupa anyaman dari lebih 17.000 pulau yang terentang di sepanjang garis khatulistiwa, penduduknya berbicara dalam lebih 1.000 bahasa daerah, dan memeluk berbagai agama semenjak dahulu hingga hari ini.

    Perbedaan itu adalah kekayaan yang mempersatukan kita, menguatkan langkah kita menuju Indonesia yang maju.

    Kepada segenap umat Kristiani di mana pun berada, semoga perayaan Natal tahun ini membawa damai di hati kita semua …”

    Demikian untaian kata yang disampaikan Jokowi sebagai ucapan Natal di hari penuh damai ini.

    Damai di hati, damai di bumi Indonesia… (*)

  • SOSIALISASI MUKI UNTUK WARGA JEMAAT

    SOSIALISASI MUKI UNTUK WARGA JEMAAT

    img_20181224_151304

    KOTA BEKASI, WARTANASRANI.COM – Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) terus berupaya mensosialisasikan perannya di tingkat umat/jemaat. Kegiatan ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada umat dalam hal menyerap aspirasi dan memperkenalkan tugas-tugas MUKI kepada masyarakat.

    Kegiatan sosialisasi ini dipimpin langsung Sekjen MUKI (Ega Mawardin) pada kegiatan Natal Gereja Bethel Pembaruan di Keranggang Kota Bekasi, Minggu 23 Desember 2018.

    img-20181224-wa0005

    Kegiatan yang juga dihadiri Ketua MUKI KOTA Bekasi Pdt. Sinufa Marunduri dan Sekretaris MUKI KOTA Bekasi Pdt. Widada berlangsung meriah dan dalam suasana kekeluargaan.

    Dalam sambutannya Sekjen MUKI menyampaikan tugas-tugas MUKI diantaranya memberikan advokasi bagi kasus2 yang merugikan umat Kristen termasuk masalah-masalah gereja.

    Lebih lanjut Sekjen menyampaikan hanya di bulan Desember 2018 saja sudah ada tiga kasus yang viral yaitu kasus spanduk intoleran di Pangendaran, salib yang digergaji di Jogjakarta dan pernyataan warga di Sepatan Kabupaten Tangerang semuanya itu merugikan umat Kristen, seakan warga gereja tidak punya hak yang sama dinegeri NKRI ini. Kita tidak boleh diam pada kasus-kasus seperti ini, demikian Sekjen menutup sambutannya.

    Hadir juga dalam kegiatan Natal GBP di Kranggang Ketua Sinode GBP, Pdt. Charles Tobing dan dalam pernyataannya sangat mengapresiasi kerja MUKI dan GBP siap bekerja sama untuk tujuan mulia tersebut.

    Kegiatan yang dihadiri oleh Jemaat GBP dan simpatisan serta undangan di tutup dalam doa oleh Pendeta Jemaat Pdt. Sinufa Marunduri yang juga menjabat Ketua MUKI Kota Bekasi. (*)

  • SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

    SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

    pglii

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Mengakhiri tahun pelayanan 2018, PGLII mengeluarkan Surat Penggembalaan 2018. Berikut petikannya:

    logopglii

    Shalom! Pertama-tama marilah kita kaum Injili, Anggota dan Pengurus PGLII, mengucapkan puji dan syukur, yang karena kasih dan penyertaan Allah Tritunggal, telah membimbing dan menyertai seluruh perjalanan PGLII melewati tahun 2018. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

    Melewati perjalanan tahun 2018 sangatlah tidak mudah. Berbagai tantangan dan rintangan baik secara internal maupun eksternal selalu kita alami. Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII terus bergumul di dalam dirinya untuk tetap setia memenuhi tugas, panggilan dan mandat Ilahi Tuhan Yesus Kristus, yakni pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil, membaptis dan menjadikan mereka yang percaya sebagai murid Tuhan Yesus Kristus.

    Pekabaran Injil dalam konteks global dan lokal, khususnya di Indonesia, sedang terus menghadapi perubahan-perubahan teknologi, informasi, sosial dan kebudayaan yang begitu cepat. Teknologi digital dari 3G sudah memasuki 5G, dari era kertas berevolusi kepada dunia maya yang serba berubah cepat.

    Warga Gereja dan Lembaga Injili adalah masyarakat Kerajaan Allah, namun pada sisi yang bersamaan merupakan masyarakat dunia, keduanya berbeda, dapat saling berdistribusi positif tetapi juga negatif. Pada konteks ini, Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII, di satu sisi dituntut untuk tidak gagap teknologi melainkan harus cerdas mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat, tetapi pada sisi yang lain, dituntut juga untuk tidak mudah menjadi korban kemajuan teknologi yang melesat cepat.

    Intinya, Kitab Suci dan Injil harus tetap menjadi sentralitas dan panduan dalam kehidupan Gereja, Lembaga yakni kehidupan kaum Injili sehari-hari di masa kini. Di sini kita dituntut selalu mengasah dan mengandal hikmat Tuhan, agar eksistensi kaum Injili masih tetap kokoh dalam pendirian “Hendaklah kamu tidak menjadi serupa dengan dunia ini” Roma 12:2. Pengertian ini membawa kita selalu pada suatu kesadaran tinggi, kita berada di dalam dunia, namun dunia tidak boleh menguasai kita.

    PGLII memiliki motto: “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”. Motto ini terus mengajak dan menuntun kita, bahwa Tujuan PGLII adalah Membela dan Memelihara Teologi Injil yang diimplementasikan ke dalam Tujuan PGLII yang intinya melaksanakan pekabaran Injil. Prinsip ini semakin diteguhkan melalui hasil “Musyawarah Besar Pemuka Agama” yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 Februari 2018 di Jakarta, yang menghasilkan dokumen “7 Pokok Rekomendasi Pemuka Agama”, dan pada tanggal 28-31 Mei 2018 di Berastagi, digelar “Konperensi Pekabaran Injil 2018” yang diselenggarakan oleh PGLII, PGI, PGPI dan KWI.

    KPI 2018 berhasil menyepakati suatu dokumen “Rekomendasi dan Komitment Pekabaran Injil 2018” yang berisi beberapa hal, antara lain yang sangat mendasar, kesepakatan bahwa pekabaran Injii merupakan hakikat gereja, jika gereja berhenti melaksanakan pekabaran Injil, maka gereja telah selesai. Namun demikian, dalam melaksanakan pekabaran Injil, seluruh gereja dan lembaga dituntut untuk melakukan dengan sopan, tidak menyinggung pihak tertentu, dan tidak manipulatif. Selain itu, gereja-gereja diminta untuk membangun jejaring secara lintas denominasi, peduli kepada lingkungan dan berdampak bagi warga di sekitarnya.

    PGLII sebagai aras gerejawi nasional, tetap berkomitmen membangun Keesaan Gereja, tubuh Kristus dalam spirit oikumenis bersama gereja aras nasional lainnya, berkomitmen ikut hadir dalam pergumulan kaum Injili, terlibat dalam pembangunan nasional dengan menjadi mitra Pemerintah, terlibat dalam menjaga lingkungan hidup, berkomitmen ikut terlibat menjaga dan merawat “empat konsensus kebangsaan” yakni: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika yang telah dibangun dan diperjuangkan dengan jiwa dan darah oleh para founding father serta rakyat Indonesia dari berbagai golongan dan agama, dan empat konsensus kebangsaan adalah harga mati!

    Ketika bangsa Indonesia sedang tergerus oleh isu-isu intolerasi, radikalisme, terorisme yang membuat banyak pihak dan golongan terpapar, maka PGLII tetap berdiri bersama Pemerintah ikut menggaungkan bahwa empat konsensus kebangsaan dan nasionalis adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Perjuangan PGLII dalam kehidupan berbangsa dan benegara, adalah ikut berpartipasi dalam visi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) namun tetap bersuara kenabian.

    Pada tanggal 8 Agustus 2018 PGLII  lalu,  PGLII  mengemas suatu rangkaian kegiatan guna menjawab pergumulan mendesak dalam rangka HUT PGLII KE 47, yakni dengan menyelenggarakan  simposium dan RAPIMNAS dan telah berhasil merumuskan  MANIFESTO INJILI,  yakni apakah yg dimaksud dengan injili, menginjil dan siapakah kaum Injili itu ?  serta  suatu pernyataan sikap dan pandangan PGLII tentang politik,  demokrasi,  kebangsaan PEMILU,  PILEG DAN PILPRES 2019.

    PGLII juga telah menerjunkan Tim Peduli Gempa Lombok dan Gempa Palu, bahkan hingga saat ini Tim Peduli paska gempa PGLII di Palu masih bekerja dilapangan melayani konseling dan pemulihan bagi para korban yg mengalami trauma akibat gempa. pada tanggal 14 Desember tahun 2018, PGLII telah mengadakan Perayaan dan Ibadah Natal PGLII dengan Tema : KAMI DATANG UNTUK MENYEMBAH DIA (Matius 2:2), Ketua Panitia, Ibu Dr Inge Handoko, dengan Pelayan Firman Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th, Ketua umum PP PGLII. Acara berlangsung sukses, dan dihadiri pimpi nan aras nasional FUKRI, sinode gereja-gereja dan lembaga-lembaga anggota PGLII, ormas dan lembaga Kristen , GMKI, JDN, UKIP dan Pejabat pemerintah DKI Jakarta Raya.

    Ketua Umum PGLII Bapak Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th telah menggagas dilaksanakannya Paskah Bersama Gereja-Gereja Se-Indonesia pada bulan April tahun 2019 bersama-sama FUKRI Sedangkan di dalam hubungan internasional saat ini, PGLII telah dipercaya untuk menjadi Panitia Pelaksana (OC) dari kegiatan dunia World Evangelical Alliance (WEA) yang pada tanggal 7-12 November 2019, di Bali atau Jakarta, akan melaksanakan “General Assembly – World Evangelical Alliance”.

    Dipilih dan ditetapkannya PGLII menjadi Panitia Pelaksana adalah kehormatan besar sekaligus penghargaan bahwa eksistensi dan perang PGLII kini semakin diakui di tingkat global. Kurang lebih akan hadir 120 negara dari seluruh dunia, anggota WEA yang hadir, mari kita doakan! Karena itu, rencana Musyawarah Nasional PGLII ke-XII yang rencanakan pada bulan Oktober 2019 diundur menjadi bulan Maret 2020.

    Akhirnya, kami Pengurus Pusat PGLII ingin terus mengajak dan mendorong, agar di tahun-tahun ke depan, PGLII semakin berkiprah di bangsa ini. Sampai Tuhan Yesus Kristus Raja di atas segala raja, akan datang kembali, kuta tetap setia membangun persekutuan dan pergi memberitakan Injil. “Segala jerih juang di dalam Tuhan tidak akan sia-sia”.

    Selamat hari Natal 25 Desember 2018, dan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2019.

    Salam Injili, Teriring hormat; Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th (Ketum PP) dan Pdt. Dr. Freddy Soenyoto, M.Th (Sekum PP). (*)

  • Dialog Anti-Korupsi, Grace Natalie: Anggota Legislatif PSI siap live report

    Dialog Anti-Korupsi, Grace Natalie: Anggota Legislatif PSI siap live report

    BANJARMASIN, WARTANASRANI.COM – Isu Anti-Korupsi dan Anti-Intolerasi diangkat Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) serta Komite Pemilih Indonesia (TePI) dalam diskusi  memasuki Pemilu 2019 di Hotel Victoria Banjarmasin, Jumat (21/12/2018). Fakta itu dianggap sudah sangat mewabah dan bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

    img-20181222-wa0015_1

    Empat pembicara yang hadir antara lain Grace Natalie (Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia), Jeirry Sumampouw (Koordinator TePI), Dr Mohammad Effendy (akademisi Universitas Lambung Mangkurat), dan Dr Darius Dubut (aktivis lintas iman).

    Menurut Grace Natalie, permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah korupsi dan intoleransi yang sudah sangat merusak. Bagi dia, hal itu sangat merugikan Indonesia ketika banyak program yang baik yang tidak bisa ter-realisasi karena makin maraknya kasus korupsi.

    “Bahkan, sekarang korupsi sudah dianggap tidak malu-malu dan dilakukan ramai-ramai,” kata Grace Natalie.

    Mantan presenter TV ini juga menyebutkan intoleransi hari ini sudah sangat terasa mengancam persatuan kesatuan bangsa. Grace melihat partai-partai religius maupun nasionalis, tidak ada yang terang-terangan bicara memerangi intoleransi.

    “Malah yang ada mereka ikut arus dan cenderung meng-entertain politik identitas tersebut,” katanya.

    Grace menyinggung banyak pihak yang memainkan politik identitas untuk kepentingan elektoral. Akhirnya, berbuah menjadi politisi korup karena tidak memiliki program yang substansial. Grace mempertanyakan, mengapa masih dicalonkan jika sudah jelas seorang caleg itu adalah mantan napi korupsi, misalnya.

    “Sekarang kita tahu bahwa KPU sempat melarang adanya mantan napi koruptor menjadi caleg. Tetapi beberapa partai tidak setuju, mereka protes ke Bawaslu dan Bawaslu mengabulkan. Hingga KPU menyarankan untuk menandai surat suara bagi mantan koruptor. Namun, tetap saja partai tidak setuju,” ujarnya.

    Menurut dia, parpol seharusnya melakukan pendidikan politik ke publik. Menyikapi hal itu, Grace menyebut isu anti-korupsi dan anti-intoleransi menjadi agenda perjuangan PSI.

    “Dalam sebulan terakhir kami menyatakan tidak mendukung perda yang diskriminatif dan juga berjuang mengangkat martabat perempuan,” ucap Grace.

    Menurut Grace, sekarang optimisme warga mulai mengemuka setelah mengikuti perkembangan politik dengan keterlibatan pemuda-pemudi dalam menyikapi isu yang dilontarkan PSI. PSI juga memperjuangkan keadilan bagi perempuan, yang menurutnya masih berkaitan dengan anti diskriminasi. Transparansi Dari Hulu ke Hilir Grace menjelaskan, partai memiliki peranan penting dalam rekrutmen hingga menyodorkan caleg yang bagus dan memiliki otoritas dalam melakukan pengawasan yang dibuka kepada publik. Tidak berhenti sampai situ, tapi anggota legislatif nantinya harus berani membuat report aktivitas kepada publik melalui media sosial secara live.

    Menurutnya, andaikata tidak ada transparansi, sudah dipastikan tak ada juga profesionalisme, yang lalu membuka ruang untuk korup.

    “Terbukti, tahun ini undang-undang yang jelas hanya lima dari yang masuk prolegnas 50 RUU. Setiap hari pada ngapain aja anggota DPR?” ucapnya.

    Grace mengungkapkan, jika Indonesia ingin berubah, tentunya harus ada transparansi mulai dari rekruitmen sampai menjabat sebagai anggota legislatif.

    “Ini harus jelas setiap hari apa yang dilakukan dari setiap wakil rakyat. Tidak hanya sekadar kamera ataupun CCTV pada saat sidang rapat komisi. Namun, ada report perhari yang membuktikan bahwa turut hadir dan mengerti terkait hal yang dibicarakan pada saat sidang,” pungkasnya.

    Jeirry Sumampouw, Koordinator Komite Pemilih Indonesia, menyampaikan bahwa narasi-narasi positif dan optimis sangat dibutuhkan dalam kontestasi 2019, ini untuk menjamin bahwa tahun 2019 bukan tahun pemilu terakhir.

    “Politisi-politisi muda ini mencoba memberikan ide-ide segar di tengah kondisi politik yang cenderung membosankan ini”, pungkasnya.

  • Presiden Jokowi Pimpin Rapat Terbatas soal Persiapan Libur Natal dan Tahun Baru

    Presiden Jokowi Pimpin Rapat Terbatas soal Persiapan Libur Natal dan Tahun Baru

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Menjelang libur dan perayaan Natal serta Tahun Baru 2019, pemerintah sudah bersiap untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat. Siang ini, Jumat, 21 Desember 2018, Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas mengenai persiapan Natal dan Tahun Baru.

    img-20181222-wa0003

    Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah jajaran terkait dan berlangsung di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

    “Siang hari ini membahas persiapan Natal dan Tahun Baru 2019. Ini adalah rapat rutin yang kita lakukan menjelang hari-hari besar,” ujar Presiden.

    Kepala Negara mewanti-wanti jajarannya akan tiga hal yang harus dijadikan perhatian. Yang pertama ialah mengenai stabilitas harga serta pasokan komoditas pangan termasuk ketersediaan bahan bakar minyak pada masa libur Natal dan Tahun Baru tersebut.

    “Kedua, mengenai kelancaran, kenyamanan, dan keselamatan pengguna transportasi. Kemudian yang terakhir menghadirkan rasa aman pada masyarakat,” imbuhnya.

    Selain itu, Kepala Negara juga mengingatkan aparat berwenang untuk tetap menjaga situasi dan kondisi keamanan yang kondusif serta kerukunan yang terjalin seperti sekarang ini.

    Berbicara setelah rapat terbatas, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan bahwa pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkah terkait dengan kelancaran laju transportasi selama libur. Koordinasi di tingkat pusat dan daerah telah dilakukan untuk menunjang hal itu.

    “Berkaitan dengan kelancaran, kita sudah melakukan koordinasi di tingkat pusat dan daerah,” ucapnya.

    Dari sisi kenyamanan dan bertepatan dengan telah dioperasikannya jalan tol Trans Jawa Jakarta-Surabaya, pihaknya juga sudah mempersiapkan sejumlah hal demi kenyamanan para pengguna jalan. Seperti misalnya kemudahan akses kepada kuliner khas daerah yang dilalui.

    “Di sepanjang jalan tol baru itu banyak makanan-makanan dari UMKM. Kami membuat secara khusus peta kuliner di kota-kota yang dilalui jalan tol,” kata Budi.

    Selain itu, pihaknya juga sudah mempersiapkan sejumlah layanan transportasi umum untuk dapat mendukung dan menghadapi puncak arus liburan pada 22 Desember besok.

  • PERADI RBA Gelar Perayaan Natal Bersama Masyarakat Binaan Rutan LP Cipinang Jakarta

    PERADI RBA Gelar Perayaan Natal Bersama Masyarakat Binaan Rutan LP Cipinang Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Bekerjasama dengan masyarakat binaan Rutan LP Cipinang dan Jemaat Gereja Galilea, Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) menggelar perayaan Natal bersama-sama napi di Rutan Kelas IA Cipinang, Jakarta Timur, Hari ini, Jumat (21/12). Sekitar 300 narapidana umum dan kurang lebih 100 advokat PERADI RBA (Rumah Bersama Advokat) pimpinan Ketua Umum Dr. Luhut Pangaribuan, SH., LLM dan Sekejen Soegeng Santoso, SH., memenuhi Gereja Rutan Cipinang.

    img-20181221-wa0020

    Disampaikan Ketua Panitia, Halomoan Sianturi, SH., MH., bahwa Perayaan Natal ini pada awalnya akan diselenggarakan istimewa di Hotel berbintang, namun oleh arahan Ketua Umum Peradi RBA, akhirnya ditetapkan di Rutan Cipinang.

    “Rencana awal kami memang mau dilaksanakan di tempat spesial, seperti hotel berbintang lima. Pokoknya beda dari yang lain. Namun karena arahan Ketua Umum Pak Luhut maka kemudian ditetapkan Natal di Rutan Cipinang. Alasannya selain berbagi kasih ingin merasakan suasana Natal 2018 bersama warga binaan Cipinang,” ungkapnya disela-sela acara.

    Sementara itu, Pdt. Dr. Denny W. M. Tumewa, SE., MA., dalam renungan Natalnya, memotivasi warga binaan agar percaya diri, rendah hati dan tetap pegang teguh imannya.

    “Nanti ketika saudara keluar melangkah kaki dan bebas, saudara harus bertekad harus sukses dan berubah tidak akan melalukan kriminal lagi. Bersama Yesus tatap masa depan,” tegasnya.

    Terkait tema yang diambil dari Kitab Injil Matius 6:33 dan sub tema; “Hidup di dalam Tuhan meluputkan kita dari kesalahan dan nafsu dunia”, Ketua Umum PERADI RBA, Dr. Luhut Pangaribuan, SH, LLM., dalam sambutannya  mengajak semua yang hadir untuk merenungkan dan mengaplikasikan tema dan sub tema ini dalam kehidupan masa kini dengan menjaga kekudusan hidup pribadi serta memiliki pengharapan beroleh kehidupan yang baru.

    “Dengan semangat Natal, saya mengajak kita sekalian, keluarga besar Advokat Indonesia dan segenap masyarakat binaan di Rutan, staf dan pimpinan di Rutan Cipinang, yang ada ditempat ini untuk hidup dan bergantung kepada Yesus Kristus, menjaga kekudusan penuh harapan, menjauhkan diri dari kesalahan dan nafsu dunia serta berfikir cerdas di tengah kehidupan berkebangsaan majemuk,” pesannya.

    Lebih jauh kata Luhut, kelahiran Yesus di dunia ini, dapat menjadi rujukan, sumber motivasi yang luar biasa bahkan pedoman dalam menghadapi kesulitan apapun dalam hidup. Dikatakannya juga bahwa dalam menjalankan tugas dan profesi sebagai penegak hukum, adalah kewajiban Peradi untuk bersama elemen yang lain, membangun kedamaian dan kesejahteraan segenap bangsa Indonesia. Tuhan Yesus Kristus mengajarkan kasih kepada kita semua sehingga berdasarkan kasih itu, perbedaan/kemajemukan menjadi satu hal yang harus kita syukuri sebagai anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa ungkap Luhut.

    img-20181221-wa0019

    Persembahan pujian dari Ir. Esterina D. Ruru, SH., dan Maria Lince Sitohang yang tampil memukau membawakan lagu, One Day at the Time dan penampilan Paduan Suara Togihon Voice, memeriahkan acara Perayaan Natal ini. Bahkan di puncak, sekaligus akhir perayaan Natal menampilkan stand up comedy kawakan, Rony Immanuel yang dikenal dengan nama bekennya Mongol Stress. Kehadiran Mongol selama 45 berhasil membuat para warga binaan tertawa gembira dan riang. Joke-joke kentang menyinggung kehidupan penjara (Mongol cerita pengalaman penjara Cipinang) bercampur lawakan satire gereja membuat suasana segar dan gembira.

    “Kami sangat bahagia apalagi merayakan natal bersama para pengacara, puji Tuhan ini momen spesial Natal,” tutur Harianto seorang warga binaan berlatarbelakang pengusaha yang divonis empat tahun dan sudah menjalani dua tahun. Senada dengan itu, Joni Tampubolon menyatakan bahwa perayaan bersama ini mendorongnya untuk bertekad tidak mengulangi lagi perbuatan yang sama. “Saya di vonis lima tahun, kasus peredaran narkoba. Saya baru jalani satu tahun dan ini natal pertama saya lalui di Rutan. Kotbah pendeta membuat saya merasa diberkati,” saksinya.

    Adapun Sekjen PERADI RBA Soegeng Santoso, SH disela-sela acara tampak berbaur akrab dan berbagi cerita dengan para beberapa warga binaan. Pengacara yang terkenal dengan pembela hak wong cilik ini terlihat menikmati kebersamaan.

    “Tetap semangat ya pak, kadang kita mungkin tidak terima karena merasa tidak diperlakukan adil, tetapi hanya bersama Tuhan Yesus ada keadilan sejati,” tutur pria yang kerap tampil dengan topi kopiah dan yang sedang maju mencalonkan diri calon DPRD Kota Bogor 2019, kepada seorang warga binaan yang telah berumur sepuh. (*)