Author: admin

  • Pdt. Dr. Adi Sudjaka: Warnai Firman Tuhan Dalam Hidup Seorang Wartawan Nasrani

    Pdt. Dr. Adi Sudjaka: Warnai Firman Tuhan Dalam Hidup Seorang Wartawan Nasrani

    MALANG, WARTANASRANI.COM – Bertempat di Graha Blessed Immanuel Families, Jalan Mundu, Kota Malang, Jawa Timur, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Id) hari ini, Jumat (30/11/2018) resmi dibuka.

    Pembukaan Rakernas ke-4 Pewarna ini diawali dengan Ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Adi Sudjaka, Ketua Majelis Daerah (MD) GPdI Prov. Jawa Timur.

    Dalam khotbahnya, Pdt. Sudjaka menyampaikan bahwa wartawan Kristen harus diwarnai dengan Firman Tuhan sehingga dapat menjadi berkat bagi banyak orang melalui tulisannya.

    “Kiranya dalam menjalankan tugasnya, wartawan Kristen selalu diwarnai firman Tuhan,” tegasnya

    “Tulisan itu sangat mempengaruhi. Bila seseorang menulis sesuatu bisa menjangkau banyaknya orang yang tak terbatas, apalagi di zaman sekarang. Bahkan ada ungkapan, siapa yang menguasai media dialah yang menguasai negara. Bila wartawan Kristen diwarnai firman Tuhan, maka akan memberkati banyak orang dengan tulisannya,” tegasnya lagi.

    Dijelaskan Pdt. Sudjaka, wartawan Kristen yang diwarnai firman Tuhan akan terlihat dari tulisannya yang berisi nilai-nilai kebenaran sesuai firman Tuhan, diantaranya menjunjung tinggi kebenaran.

    “Yang penting kontennya, apapun beritanya harus berkata benar, sesuai Efesus 4:25 dan Kolose 3:9. Wartawan kristen beritanya harus benar, bukan untuk mencari keuntungan, kesuksesan dengan cara dusta,” jelasnya.

    Selain hal diatas, beberapa poin penting yang menjadi penekanan dalam khotbah Pdt. Sudjaka adalah; perkataan atau tulisan yang membangun (efesus 4:29), berita yang dsertai dengan kasih (Efesus 4:6), tulisan-tulisan yang memberikan apologetika (1 Petrus 3″15), dan berita harus dengan hikmat (Pengkhotbah 9:17).

    Sementara itu, pembukaan RAKERNAS PEWARNA Indonesia yang dihadiri oleh para pengurus dan anggota PEWARNA lintas daerah, dibarengi dengan pemberian apresiasi atau penghargaan kepada lembaga dan perorangan yang telah memberi kontribusi positif dalam pengembangan media di Jawa Timur. Mulai dari kategori gereja lokal peduli media,  perintis pelayanan media, tokoh masyarakat peduli media, dan sahabat pelayanan media.

  • Pesan Kebenaran Membuka RAKERNAS PEWARNA di Malang

    MALANG, WARTANASRANI.COM – Penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (RAKERNAS PEWARNA Indonesia) secara resmi dimulai. Pembukaan RAKERNAS yang akan berlangsung dari 30 November hingga 2 Desember 2018 itu dilaksanakan di Graha Blessed Immanuel Families yang terletak di Jalan Mundu, kota Malang, Jawa Timur, Jumat petang (30/11/2018).

    Firman pembuka disampaikan oleh Ketua Majelis Wilayah GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia) wilayah Jawa Timur Pendeta Dr. Adi Sudjaka.

    Dalam pesan khotbahnya Dia mengatakan wartawan harus menuliskan berita yang mengandung unsur kebenaran, serta jauh dari sikap kebencian.

    “Wartawan Kristen itu persyaratan dasarnya adalah harus memberitakan kebenaran. Sampaikan fakta, lalu sampaikan perkataan dan tulisan yang membangun,” kata Pdt. Adi.

    Sebagai organisasi pewarta yang mengusung nama Nasrani, Pdt. Hadi juga mengingatkan para wartawan untuk meneladani John Calvin, di mana karya-karyanya sangat mempegaruhi dunia dengan pesan-pesan yang mendidik banyak orang.

    “Johanes Calvin itu seorang penulis, dan karya teologinya sangat mempengaruhi dunia ini. Jadi tulisan itu sangat mempengaruhi. Maka tulisan Anda haruslah informatif dan memiliki nilai edukatif,” imbuhnya.

    Secara khusus Dia menyampaikan nilai penting berikutnya yang harus dimiliki PEWARNA adalah kemampuan untuk mengasihi orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Firman Tuhan. Lebih lanjut, Dia berkata karya jurnalistik memiliki dasar nilai yang bertujuan memberi berkat.

    “Ada perkataan, ‘siapa yang menguasai media maka dia akan menguasai negara’. Jurnalistik itu seperti pisau, kalau digunakan untuk keperluan rumah tangga maka akan berguna dengan baik. Tetapi jika digunakan untuk membunuh orang akan berbahaya. Nah penekanannya adalah bagaimana supaya karya wartawan Kristen ini bisa memberkati,” sambung Pdt. Adi.

    Di penutup Pdt. Adi berpesan, wartawan harus selalu merendah dan meminta hikmat Tuhan setiap kali hendak memulai tugas-tugasnya. Di penutup Dia sekali lagi menekankan agar PEWARNA harus memuliakan nama Tuhan dan menjadi berkat dengan menyampaikan pesan kebenaran kepada banyak orang.

    “Apapun beritanya, firman Tuhan mengatakan bahwa harus berkata tentang kebenaran, seperti terdapat di Kitab Efesus dan Kolose,” tandasnya.

    Pembukaan RAKERNAS PEWARNA Indonesia dihadiri oleh para pengurus dan anggota PEWARNA lintas daerah. Selain itu hadir pula pengurus dan jemaat Blessed Immanuel Families. Pada kesempatan ini mitra kerja PEWARNA yakni Garda Mencegah Dan Mengobati (GMDM) serta Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) turut mengirimkan utusannya.

  • Pra RAKERNAS, PEWARNA Sambangi YPPII Batu

    Pra RAKERNAS, PEWARNA Sambangi YPPII Batu

    BATU MALANG, WARTANASRANI.COM – Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia bersama dengan Pengurus PEWARNA wilayah Jawa Timur menyambangi Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII), kota Batu, Malang, pada Kamis siang (29/11/2018). Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) PEWARNA Indonesia yang akan berlangsung di Malang, dari 30 November hingga 2 Desember 2018 mendatang.

    Delegasi PEWARNA Indonesia dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Yusuf Mujiono, serta didampingi Ketua PEWARNA Jawa Timur Immanuel Yosua.

    Pada bagian pertama, PEWARNA Indonesia mendatangi Radio SKS (Suara Kasih Sentosa), yang berada di kompleks kampus YPPII Batu.

    Mantan Ketua Departemen Multimedia YPPII Batu, Yusak Wagiyono, yang menerima langsung PEWARNA Indonesia menceritakan seputar sejarah pelayanan yang dilakukan oleh YPPII Batu, khususnya di bidang multimedia.

    “Dulu kami memulai bekerjasama dengan lembaga-lembaga misi asing, seperti Amerika dan Norwegia,” ujar Yusak.

    Yusak kembali bercerita bahwa di masa silam YPPII Batu pernah menjadi lembaga pelayanan media dengan menggunakan teknologi termutakhir di zamannya. Hal ini dibuktikan, katanya lagi, dengan keberadaan sejumlah peralatan rekaman dan siaran radio berstandar Inggris. Peralatan canggih itu didatangkan langsung ke Batu dan efektif beroperasi sejak tahun 1968.

    “Jadi memang pada waktu itu tim pelayanan kami melakukan studi banding ke Inggris dan mendatangkan alat-alat tersebut ke tempat ini. Bahkan band legendaris dunia sekelas The Beatles juga menggunakan alat serupa ketika proses rekaman album-album mereka di Abbey Road Studio. Sampai sekarang, peralatan yang pernah mendukung pelayanan kami tersebut masih tersimpan dengan baik di tempat ini,” kata Yusak sembari mengajak PEWARNA memasuki ruang audio visual milik YPPII Batu.

    Saat ini, Yusak kembali menginformasikan, YPPII Batu masih setia melayani menggunakan teknologi multimedia. Jangkauan pelayanannya meliputi wilayah Malang Raya dan Indonesia bagian Timur.

    “Pelayanan tersebut bergerak di media cetak, toko buku, audio video, radio streaming, produksi DVD khotbah, dengan tetap memerhatikan standar jurnalistik. Saat ini kami berkonsentrasi melayani di Indonesia bagian Timur, seperti Papua, Manado dan sekitarnya,” katanya lagi.

    Sementara itu Ketua Umum YPPII Batu, DR. Roland Octavianus, mengatakan penguasaan multimedia memang sangat diperlukan guna mendukung sebuah pelayanan. Menurutnya, mahasiswa sekolah teologia harus diperlengkapi dengan pengetahuan berbasis teknologi informasi demi menjawab tantangan pelayanan masa kini.

    “Kita memiliki prodi komunikasi. Jadi memang mereka (mahasiswa YPPII Batu) diperlengkapi dengan pengetahuan itu,” kata Roland.

    Dia kemudian menekankan bahwa pelayanan melalui media tetap akan dilakukan secara konsisten oleh YPPII Batu, demi menjangkau jemaat gereja yang tersebar di seluruh Indonesia dan Luar Negeri.

    “Ke depannya kami akan bangun minimal 5 radio streaming lagi dengan program-program khusus sesuai dengan kategori usia yang ingin kita capai,” pungkas Roland.

    Kunjungan khusus PEWARNA Indonesia ke YPPII Batu merupakan bentuk apresiasi terhadap pelayanan multimedia yang sudah dilakukan oleh lembaga itu sejak puluhan tahun silam.

    Pada pembukaan RAKERNAS yang akan langsungkan Jumat (30/11/2018), PEWARNA juga akan memberikan Anugerah Pelayanan kepada lembaga tersebut. Selain melayani lewat multimedia, YPPII Batu sendiri telah sejak lama berkiprah melalui bidang pendidikan, khususnya teologi. Saat ini, terdapat 400 mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di kampus yang didirikan sejak tahun 1964 itu.

  • RAKERNAS PEWARNA, Angkat Tema Merajut Warna Indonesia

    RAKERNAS PEWARNA, Angkat Tema Merajut Warna Indonesia

    MALANG, WARTANASRANI.COM – Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) kembali menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) untuk yang Keempat kalinya. Kali ini, agenda kerja tahunan itu diselenggarakan di wilayah di Propinsi Jawa Timur, yakni di Kota Malang dan Kota Administratif Batu. Tema RAKERNAS yang diangkat PEWARNA Indonesia kali ini berbunyi, “Merajut Warna di Seluruh Indonesia”.

    Dengan tema ini PEWARNA ingin terus berupaya dalam mewarnai dunia Kekristenan di tanah air melalui karya-karya yang dampaknya dirasakan langsung oleh gereja dan umat.

    Agenda RAKERNAS PEWARNA Indonesia sendiri akan melaporkan capaian kinerja dari Pengurus Pusat dan daerah sepanjang tahun 2018. Selain itu, akan dilanjutkan dengan konsolidasi nasional dan penyusunan rencana kerja untuk satu tahun ke depan.

    img_20181129_101426

    Lokasi pembukaan RAKERNAS rencananya akan dilakukan di Graha Blessed Immanuel Families, Jl. Mundu, Kota Malang, Jawa Timur, pada Jumat sore (30/11/2018). Kemudian, rangkaian RAKERNAS akan dilanjutkan di Roemah Yayasan Warga Indonesia, Kota Batu, dari 1 hingga 2 Desember 2018.

    Ketua Umum Pengurus Pusat PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono mengatakan alasan dipilihnya Jawa Timur sebagai tempat penyelenggaraan RAKERNAS karena wilayah ini juga menjadi salah satu pusat berkembangnya nilai-nilai toleransi. Di lain sisi, Dia juga menginginkan agar peran PEWARNA juga makin terasa di Jawa Timur.

    “Selain konsolidasi, kita juga ingin mendorong PEWARNA daerah ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat. Jadi yang aktif bukan hanya di wilayah JABODETABEK saja,” ujar Yusuf saat ditemui di Mission House, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu petang (28/11/2018).

    Sementara itu Ketua PEWARNA Indonesia wilayah Jawa Timur yang juga merangkap sebagai Ketua Panitia Lokal, Immanuel Yosua, mengatakan pada penyelenggaraan RAKERNAS kali ini PEWARNA juga ingin memberikan apresiasi kepada sejumlah figur di daerah Jawa Timur yang dinilai berjasa bagi pelayanan media.

    “Kita juga ingin memberikan penghargaan kepada figur yang memang selama ini berjasa dalam mendukung pelayanan media Kristen yang ada di Jawa Timur,” ujar pria yang akrab di sapa Cak Yos itu, ketika meninjau lokasi pembukaan acara, Kamis pagi (29/11/2018).

    Tanggapan Positif Masyarakat

    Salah satu tokoh masyarakat di Kota Malang Genot Hariyono Said, turut menyambut dengan sukacita atas ditunjuknya wilayah Malang dan Batu sebagai tempat pelaksanaan RAKERNAS PEWARNA Indonesia. Dia berharap melalui agenda rutin tersebut para pewarta yang tergabung di PEWARNA dapat makin menyadari potensi yang dimilikinya, yaitu kemampuan untuk menyuarakan pesan kebenaran terkait keadaan sesungguhnya yang dihadapi oleh umat Kristen di Indonesia saat ini.

    “Kalau bisa wartawan juga bisa menunjukan kekuatannya. Kekuatan dalam hal apa? Kekuatan untuk menyuarakan kebenaran, kesetaraan. Contohnya bersuara tentang sulitnya perizinan untuk mendirikan sebuah Gereja. Padahal, beribadah dan mendirikan rumah ibadah kan dijamin oleh Undang-Undang. Sebagai contoh, pemilik Mission House Malang itu meminta agar pewarta bisa meniru apa yang telah dilakukan oleh mantan Presiden Indonesia yang dikenal selalu menyuarakan pesan-pesan toleransi, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

    “Kita bisa melihat, Gus Dur saja sudah sejak dulu menyuarakan pemikiran (toleran) seperti itu. RAKERNAS ini kan sebuah pertemuan yang besar, jadi semoga apa yang dihasilkan juga besar, dalam artian outputnya terhadap kelangsungan kebebasan beribadah di Indonesia,” kata kakak dari Pendeta Sudarmadji Said itu.

  • Manado Ditetapkan Sebagai Kota Berdoa

    Manado Ditetapkan Sebagai Kota Berdoa

    MANADO, WARTANASRANI.COM – Bertempat di God Bless Park Manado, Pemerintah Kota Manado, hari ini, Rabu (28/11/2018) menetapkan Kota Manado sebagai “KOTA BERDOA”. Bersama tokoh agama dari Kristen, Katolik, Muslim, Budha, Konghucu dan Hindu, berdoa untuk Kota Manado agar selalu dalam perlndungan Tuhan.

    Ditengah berbagai bencana alam yang terjadi, para pemuka agama yang mewakili 6 agama, sepakat berdoa, supaya Kota Manado dijauhkan dari segala bencana dan hal-hal yang tidak diinginkan. Disamping patung tangan yang berdoa, doa-doa dipanjatkan agar Kota Manado semakin diberkati, lewat pemerintahan Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut dan Wakil Walikota Mor Bastiaan.

    “Karena semua agama kita mengajarkan umatnya untuk berdoa, doa tidak menjadi milik dari satu golongan agama atau kepercayaan. Dari situ kami menyimpulkan setelah pulang ke Manado, kami akan canangkan Manado sebagai Kota Doa,” cerita Walikota Manado, GS Vicky Lumentut tentang latar belakang tercetusnya ide pencanangan Manado sebagai Kota Doa.

    Dikatakan Lumentut, bahwa pencanangan Manado sebagai Kota Berdoa, kiranya menjadi perekat kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama.

    “Saya bersama pak wakil wali Kota Manado, sekda dan semua jajaran Pemerintah Kota Manado memberikan apresiasi yang tinggi atas komitmen ini, komitmen kebersamaan dalam rangka menjaga Kota Manado yang dikenal sebagai kota toleran, kota yang rukun,” katanya penuh harap.

    “Saya memohon masyarakat Kota Manado untuk bersama-sama melaksanakan apa yang dicanangkan hari ini. Mari kita selalu berdoa bersyukur kepada Tuhan dan memohon Tuhan menolong menjaga dan melindungi hari-hari hidup kita ke depan ini. Mari kita doakan Kota Manado, Sulawesi Utara, bangsa dan negara,” tambah Lumentut.

    Tampak hadir Wakil Wali Kota Manado Mor Bastiaan, Ketua dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Manado, Julyeta PA Lumentut Runtuwene dan Imelda Bastiaan Markus. Hadir juga, Sekretaris Kota Manado Micle Lakat SH MH, Ketua BKSAUA Manado Pendeta Roy Lengkong, dan Ketua FKUB Pendeta Renata Ticonuwu. Ketua Forum Pembauran Kebangsaan, Albert Wuysang, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat, James Karinda, mewakili Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Manado serta para tokoh agama se-Kota Manado serta ribuan aparatur sipil negara, tenaga harian lepas dan kepala lingkungan se-Kota Manado.

    Sementara itu, Ketua Jemaat GMIM Sion Malalayang, Pdt. Novly Pua mengatakan, dengan dicanangkannya Manado sebagai “Kota Doa”, menjadi prestasi yang melengkapi apa yang sudah dir as ih Kota Manado sebelumnya, yaitu predikat sebagai Kota paling toleran.

    “Memang terbukti walaupun kita masyarakat Kota Manado berbeda-beda agama, suku, tapi kita mampu hidup rukun dan damai. Kerukunan dan perdamaian itu memang dikuatkan dengan doa, tanpa doa, itu bisa rapuh,” ungkap Pdt. Novly Pua.

  • Gandeng PAHAT, GMDM Sosialisasikan Bahaya Narkoba

    Gandeng PAHAT, GMDM Sosialisasikan Bahaya Narkoba

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Penyalahgunaan narkoba masih menjadi sebuah kejahatan serius yang mengancam generasi penerus Indonesia. Situasi yang penuh keprihatinan ini direspon tegas oleh Garda Mencegah Dan Mengobati (GMDM) dengan gencar menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba dan kiat pencegahannya kepada masyarakat, khususnya kaum muda Indonesia. Kali ini, GMDM menggandeng Persekutuan Anak Hamba Tuhan (PAHAT) untuk menyelenggarakan “Seminar Bahaya Penyalahgunaan Narkoba dan Deklarasi Indonesia Bersih Dari Narkoba (BERSINAR)”, yang dilaksanakan di Glow Fellowship, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu pagi (24/11/2018).

    Salah satu pemateri yang hadir adalah staf ahli Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen (P) Dr. Victor Pudjiadi, SPB., FICS., DFM. Pada sesi itu Dr. Victor mengurai bahaya penyalahgunaan narkoba yang ditinjau dari aspek kesehatan, psikologis dan agama.

    Dia juga menjelaskan, bahwa bahaya penyalahgunaan narkoba memiliki korelasi kuat dengan penyebaran sejumlah virus dan penyakit menular, yakni HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom).

    Yang terpenting, menurut Victor, salah satu kunci untuk tidak menggunakan atau lepas dari jerat narkoba adalah pilihan untuk berani bersikap dan mengatakan “Tidak Pada Narkoba”. “Hidup adalah pilihan. Mau pilih mana? Kiri pakai narkoba, atau kanan tidak pakai narkoba? Tentunya kita tidak mau pakai narkoba,” ujar Dr. Victor di hadapan peserta seminar yang didominasi oleh kaum remaja dan pemuda.

    Pembicara di sesi kedua datang dari Yayasan PIONIR (Pemuda Indonesia Bersinar) Richard Stevanus Nayoan. Richard membagikan kisahnya semasa menyosialisasikan bahaya narkoba di dua bekas lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di kota Surabaya, yaitu Doli dan Kremil.

    Tak hanya melayani, Richard ikut menjadi saksi betapa besarnya efek destruktif dari prostitusi dan narkotika bagi anak-anak yang hidup di tempat itu. Menurutnya, penutupan dua lokalisasi tersebut merupakan sebuah jawaban Tuhan.

    “Saya percaya Dolly bukan hanya ditutup oleh Walikota Surabaya, tetapi ditutup berkat doa yang tidak putus dari anak-anak yang menaruh harap agar praktek prostitusi dan peredaran narkoba tidak ada lagi di tempat itu,” kata Richard.

    Berbicara konteks “Tantangan dan Ancaman Dalam Era Perang Modern”, Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP DKI AKBP Maria Sorlury SH., MH, memaparkan bahwa Indonesia telah menjadi wilayah proxy war yang strategis. Keadaan itu dimanfaatkan oleh pihak asing untuk mengambil keuntungan, di antaranya dengan memanfaatkan wilayah Indonesia sebagai pasar potensial peredaran gelap narkoba.

    Yang menyedihkan ibu dari tiga orang anak itu adalah terungkapnya fakta masih banyak orang Kristen terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.

    “Dari lima orang yang saya tangkap, dua orang di antaranya pasti ada yang Kristen. Mulai dari nama Yohanes, Petrus hingga Alexander,” ungkapnya dengan nada penyesalan.

    Wanita yang akrab disapa Merry itu kemudian mengungkap beberapa modus pelaku kejahatan narkoba yang tidak segan melibatkan anak kecil sebagai kurir.

    “Jangan mau ketika ada yang meminta kalian mengantarkan paket yang tidak jelas isinya. Sekarang sudah banyak yang berpura-pura meminta membawakan air mineral, padahal isinya adalah carian sabu (sabu-sabu),” katanya lagi.

    Merry pun tak menampik hingga kini masih banyak oknum penegak hukum yang mencoba “bermain mata” dengan pelaku kejahatan narkotika. Namun tindakan tegas tetap harus dilakukan untuk memberikan sebuah efek jera.

    “Banyak sekali teman saya yang masuk penjara karena mereka bergaul dengan para bandar narkoba. Ketahuan, langsung dipecat,” tegasnya.

    Dia pun mengimbau agar generasi muda Kristen belajar arif dalam memilah cara bergaul.

    “Saya berpesan, adik-adik jangan bergaul dengan sembarang orang. Jangan sampai anak-anak Tuhan terjerumus ke kejahatan narkoba,” ajaknya.

    Ada alasan khusus mengapa seminar bahaya penyalahgunaan narkoba menyasar anak dan pemuda gereja. Menurut keterangan ketua panitia seminar Steven Tambayong, gereja sebagai elemen bangsa harus dirangkul untuk kemudian terlibat secara aktif melawan bahaya penyalahgunaan narkoba.

    “Acara ini menurut saya bertujuan menjadikan kita sebagai pionir untuk di lingkungan gereja, dan momen untuk mengobarkan semangat. Semangat kalau gereja dan tentunya tokoh-tokoh agama, anak-anak pendeta, anak-anak gembala ini untuk berperan aktif. Terjun langsung, karena semua elemen masyarakat bertanggungjawab terhadap permasalahan bangsa, tentang 7 juta jiwa pengguna narkoba, tentang 1 juta pengguna narkoba yang ada di Jakarta,” kata Steven di lokasi acara.

    Seminar Bahaya Penyalahgunaan Narkoba kali ini merupakan salah satu dari program rutin Badan Koordinasi Nasional GMDM selaku Intitusi Penerima Wajib Lapor.

    Kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan masyarakat kepada pemerintah untuk memerangi bahaya narkoba, khususnya POLRI dan pihak BNN. Peserta yang hadir pada seminar ini didominasi dari anak, remaja dan pemuda dari tingkat Sekolah Dasar hingga Menengah Atas.

    Tak hanya itu, GMDM turut berharap melalui acara ini masyarakat dapat lebih memahami dan mewaspadai bahaya penyalahgunaan narkoba yang selalu mengintai keluarga mereka.

    Di penutup nanti, GMDM bersama masyarakat akan ikut mendeklarasikan gerakan Indonesia BERSINAR, yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Bakornas GMDM Jeffry Tambayong.

  • Raker DPP MUKI 2018 Berlangsung Sukses

    Raker DPP MUKI 2018 Berlangsung Sukses

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – RAPAT KERJA (RAKER) DPP MUKI Tahun 2018, Selasa 20 November 2018 di Hotel Bunga-Bunga Jakarta Pusat berlangsung dengan baik dan sukses. Dibuka Ketua Umum DPP MUKI Djasarmen Purba, dan dihadiri Dewan Penasehat, Dewan Pengawas, Anggota DPP, Perwakilan DPW dan DPD se-Jabodetabek, seluruhnya berjumlah 100 orang, Raker Tahunan ini berlangsung dengan suasana penuh kegembiraan dan kebersamaan.

    Ketua Umum dalam sambutan pembukaan menyinggung situasi politik terkini dan topik hangat dalam perbincangan umat Kristen seperti RUU PESANTREN. Disamping itu Ketum melaporkan perkembangan dan capaian DPP tahun 2018 yang sudah membentuk 31 Pengurus DPW (Provinsi) dan sekitar 184 DPD (Kab/Kota).

    Raker DPP yang berlangsung satu hari itu juga diapresiasi oleh Dewan Pengawas Jerry Sirait menyatakan: MUKI ADALAH MUKI mesti merumuskan siapa/apa sesungguhnya MUKI melalui uraian tentang MUKI (identitas dan ciri khas, pembeda dengan yang lainnya). MUKI adalah “lembaga keumatan Kristiani bidang sosial kemasyarakatan. MUKI bukan Gereja, bukan Lembaga Gerejawi, bukan Partai Politik. MUKI adalah wadah berhimpun dari sejumlah umat Kristiani yang bertujuan mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah-tengah kehidupan bergereja serta bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Anggota Dewan Penasehat Pdt. DJ Sihite dan Marfin Panjaitan mengapresiasi apa yg sudah dicapai MUKI dan memberi pesan untuk menata organisasi dengan cara yang modern. Waketum Santun Lumbagaol selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan Raker kali ini strategis karena DPP MUKI telah mempersiapkan dokumen untuk pengajuan Dana Pembinaan Ormas Kepada Pemerintah yang sangat diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan anggota.

    fb_img_1542779423779

    Suasana Ibadah Pembukaan Raker yang dipimpin oleh Pdt. Joice Ester Raranta, M.Th

    Acara yang diawali dengan ibadah yang dipimpin Pendeta Joice Ester Raranta, M.Th (Pengurus DPP, red) mengambil tema Hidup Rukun, rukun dalam organisasi, rukun dalam administrasi dan juga rukun dalam keuangan, melayani dalam kebersamaan, memberi dalam melayani.

    Sekretaris Jenderal Mawardin Zega menjelaskan Raker Tahunan DPP ini memutuskan beberapa hal penting diantaranya konsolidasi organisasi dan bagi DPW/DPD yang tidak mampu konsolidasi organisasi perlu ditinjau ulang (diganti, red) kepengurusannya. Hal lainnya yang menjadi perhatian adalah sumbangsih MUKI untuk masyarakat, bangsa dan negara tentu untuk pembangunan umat, kita mau kedepan MUKI benar-benar berbuat untuk umat, demikian Sekjen MUKI menyampaikan.

    Bahkan diakhir pernyataannya, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Samuel Riwu, Sarifina Maringka, Marlin Suatan, Netty Herawati, Saltje Margaret dan juga Djanne Tando (Panitia) yang telah membuat Raker DPP MUKI berlangsung dengan baik dan meriah. (*)

  • Seminar Sehari : Keluarga, Tantangan dan Akhir Zaman

    Seminar Sehari : Keluarga, Tantangan dan Akhir Zaman

    Bekasi, WARTANASRANI.COM – Dilatar belakangi dengan keterbebanan dalam pelayanan dan melihat kebutuhan rohani orang percaya saat ini, maka Pdt. Joyke DH Killing, S.Th dan Bpk Drs. Bachtiar Manurung, SE, MM, M.Th menggagas acara seminar sehari, yang digelar pada Selasa (20/11/2018) di Jati Asih Jawa Barat.

    Pada pukul 09.00 Wib, para peserta mulai berdatangan dan melakukan registrasi. Peserta terlihat sangat antusias untuk mengikuti seminar ini. Peserta berasal dari berbagai macam denominasi gereja.

    Sesi pertama disampaikan oleh Pdt, Joyke DH Killing, S.Th. Dalam pendahuluannya ia menjelaskan definisi Keluarga yaitu terdiri dari Bapak, Ibu dan Anak-anak. Penjelasan selanjutnya mengenai asalmula keluarga, yang langsung dibentuk oleh Tuhan yaitu keluarga Adam dan Hawa.

    Tuhan memiliki peran penting dalam pembentukan keluarga. Keluarga pertama dirusak oleh Dosa sehingga akibatnya manusia harus bekerja keras dalam pemenuhan kebutuhan keluarganya.  Dan ibu-ibu menderita sakit bersalin.

    Menurutnya keluarga zaman sekarang diperhadapkan dengan berbagai macam masalah yang sangat kompleks. Contohnya untuk mendidik anak-anak sangat berbeda dengan zaman dahulu. Zaman sekarang anak-anak dimanjakan dengan gadget, oleh sebab itu orang tua memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya untuk mengenal Tuhan.

    Mengajar mereka agar, dalam situasi dan kondisi apapun mereka tidak mempertaruhkan iman percayanya kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Teruslah mendoakan anak-anak agar supaya mereka diberikan berkat-berkat yang terbaik dari Tuhan, pungkasnya.

    Pembicara kedua Bpk Bachtiar Manurung, SE.,MM.,M.Th, aktif dalam pelayanan dan usaha, mengupas tantangan orang percaya di akhir zaman dari sisi sekularitas.

    Pria kelahiran Medan ini memaparkan materi yang dilandasi firman Tuhan dalam 2 Timotius 3:1-5 bahwa zaman akhir ini banyak sekali tanda-tanda yang sudah difirmankan oleh Tuhan. Dengan menyimpangnya prilaku-prilaku manusia, orang percaya dihimbau untuk waspada dan siap sedia. Karena kedatangan Tuhan Yesus Kristus tidak ada seorangpun yang tahu.

    Melalui acara ini Bapak satu orang anak ini membagikan tips-tips yang dipakainya untuk menjalani hidup bersama dengan Tuhan, ditengah-tengah jabatan yang Tuhan percayakan, yaitu Pertama Andalkan lah Tuhan dalam segala hal, jangan pernah mengandalkan akan

    kekuatan manusia. Yang kedua ia memaparkan untuk memiliki kejujuran dalam didalam setiap situasi dan kondisi baik dirumah, sekolah maupun lingkungan pekerjaan. Yang ketiga Jangan menjadi orang yang sombong, rendahkanlah dirimu maka engkau akan ditinggikan oleh Tuhan.

    Seminar berjalan dengan baik sampai sore hari, namun demikian tidak menyurutkan semangat para peserta. Seminar kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab. Dengan banyaknya pertanyaan, ini sangat menarik dan artinya acara ini bisa dikatakan sukses sekalipun tidak semua materi dapat diselesaikan. Kemungkinan seminar yang sama akan kembali digelar, melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta. (red)

     

  • Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., Kembali Pimpin PGPI Lima Tahun Kedepan

    Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., Kembali Pimpin PGPI Lima Tahun Kedepan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Perhelatan Musyawarah Besar (Mubes) Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) 2018 yang berlangsung mulai tanggal 12-15 November 2018 di GBI Mawar Sharon Kelapa Gading, Jakarta, akhirnya ditutup dengan penetapan Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., sebagai Ketua Umum PGPI periode 2018-2023.

    “Atas nama Ketua Umum terpilih dan mengatasnamakan saudara sekalian sebagai stakeholder dari PGPI, saya mengucapkan terima kasih pertama kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang hadir sebagai tamu yang tidak kelihatan, dan mengendalikan segalanya dalam persidangan ini,” ungkap Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., saat menerima palu pimpinan sidang dari Ketua Panitia sekaligus Ketua Majelis Persidangan, Pdt. Jason Balompapueng dihadapan peserta Mubes PGPI VIII.

    Ketua Umum terpilih inipun menyampaikan apresiasi kepada pimpinan majelis persidangan yang diketuai oleh Pdt. Jason Balompapueng.

    “Saya berterima kasih kepada Bapak-Bapak sekalian yang ada pada meja majelis ketua yang dipimpin oleh Bapak Pdt. Jason Balompapueng yang dengan hikmat Tuhan telah mengatur segala perkara ini. Tuhan memberkati Bapak-Bapak sekalian dalam pelayanan. Sampai kita jumpa dalam Mukernas pertama PGPI. Tuhan memberkati Bapak-Bapak sekalian,” ungkapnya lagi.

    Sementara itu, dalam konferensi pers setelah acara pelantikan, Ketua Panitia sekaligus Ketua Persidangan, Pdt. Jason Balompapueng mengungkapkan kepada media tentang terpilihnya kembali Pdt. Jacob Nahuway sebagai Ketua Umum PGPI.

    “Satu hal yang luar biasa, PGPI pengurusan dari periode 2013-2018 telah berhasil menyelenggarakan Musyawarah Besar. Musyawah Besar ini ada pemilihan Ketua Umum dan Bapak Pdt. Dr. Jacob Nahuway sebagai Ketua Umum periode 2013-2018 terpilih kembali secara aklamasi, 50 persen plus suara. Jadi sudah terpilih kembali dan ini membuktikan bahwa kepemimpinan beliau diakui dan diterima bahkan di banggakan oleh seluruh sinode-sinode yang bergabung dalam PGPI,” ungkap Ketua Panitia Mubes VIII PGPI saat mendampingi Ketua terpilih Pdt. Jacob Nahuway dalam konferensi pers, Kamis, (15/11/2018).

    “Dalam hal ini yang hadir dalam Musyawarah Besar kali ini, peserta ada 625 orang, yang terdiri dari para MPR (Majelis Penasihat Rohani), Pengurus PGPI Pusat dan Ketua-Ketua Sinode dari 84 dan sekarang telah menjadi 91 Sinode. Sudah bertambah 7 Sinode. Jadi PGPI sekarang sudah membawahi 91 Sinode, dan para ketua-ketua Provinsi dan Kabupaten/Kota, dan membawahi 13,5 juta umat pentakosta seluruh Indonesia. Ini adalah hal yang luar biasa!,” tambah Pdt. Jason.

    pgpi2

    Ketua Umum terpilih PGPI periode 2018-2023, Pdt. Dr. Jacob Nahuway bersama Ketua Panitia Mubes VIII PGPI, Pdt. Jason Balompapueng

    Menjawab pertanyaan media soal program kerja kedepan PGPI, Pdt. Jacob Nahuway menyatakan bahwa sebagai Ketua Umum terpilih, ia sudah menyiapkan program kerja PGPI untuk lima tahun kedepan.

    “Aneh kalau organisasi sebesar ini tidak mempunyai program kedepan. Bahkan sebelum saya terpilihpun, saya telah memimpin organisasi ini selama lima tahun dan banyak hal yang kita kerjakan sehingga pemilihan saya sebagai ketua umum kali ini, itu sangat signifikan,” sebut Pdt. Jacob Nahuway.

    Dengan gayanya yang khas diselingi tawa, gembala GBI Mawar Sharon Kelapa Gading ini menguraikan bagaimana PGPI menjalankan perannya untuk menggalang persatuan dan kerjasama yang baik antar umat Kristiani, antar umat beragama dan dengan pemerintah.

    “Peranan kita kedepan adalah bahwa kita harus menggalang umat Kristiani dulu diantara kita dari berbagai kelompok, berbagai denominasi dengan liturgi-liturgi Ibadah yang berbeda. Setelah itu antara Kristen dengan umat beragama. PGPI harus berperan dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Lalu yang berikut, kita dengan pemerintah. Kalaupun ada gereja yang sudah resmi, punya Ijin atau IMB dan toh dibakar oleh lingkungan, PGPI akan bersuara mengatasnamakan umat. Kalau misalnya ada bencana seperti di Palu, minggu depan saya punya rombongan akan turun di Palu dan selidiki apakah yang perlu dibantu,” tegas Pdt. Jacob Nahuway.

    Berikut hasil voting yang membawa  Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA., kembali pimpin PGPI lima tahun kedepan: Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA (83 suara), Pdt. DR. Sherlina Kawilarang (60 suara), Pdt. DR. Japarlin Marbun (12 suara), Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman (3 suara), Pdt. IR. Timotius Subekti (2 suara), Pdt. DR. Daniel Tumbel (1 suara), Pdt. DR. Johnny Weol (1 suara), Pdt. Sevina (1 suara).

  • Pernyataan Sikap Keprihatinan Warnai Penetapan Ketua Umum PGPI Periode 2018-2023

    Pernyataan Sikap Keprihatinan Warnai Penetapan Ketua Umum PGPI Periode 2018-2023

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Penetapan Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA sebagai Ketua Umum PGPI 2018-2023 dalam Sidang Pleno Pemilihan Ketua Umum PGPI, ternyata menimbulkan polemik pada sebagian peserta Musyawarah Besar (Mubes) VIII PGPI 2018 yang berlangsung mulai tanggal 12-15 November 2018 di GBI Mawar Sharon Kelapa Gading, Jakarta.

    Hal ini dibuktikan dengan keluarnya press release yang berisi pernyataan sikap keprihatinan atas hasil musyawarah besar PGPI tentang pemilihan Ketua Umum periode 2018-2023 yang dianggap melanggar Anggaran Rumah Tangga PGPI.

    “Hari ini kita memberikan press release untuk keprihatinan dan dikemudian hari apakah ada langkah selanjutnya atau tidak, kita menyerahkan kepada pemegang hak suara,” ujar Pdt. Dr. Sherlina Kawilarang, MBA., kepada awak media saat konferensi pers di Hotel POP Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, (15/11/2018).

    Salah satu poin penting yang menjadi alasan keprihatinan para pemegang hak suara yang mendukung Pdt. Sherlina adalah tidak dilakukannya verifikasi terlebih dahulu terhadap Balon Ketua Umum Pdt. Dr. Jacob Nahuway terkait apakah sudah memiliki ijin dan rekomendasi dari sinodenya. Berikut petikannya:

    Seharusnya pimpinan sidang tidak langsung menetapkan Pdt. DR. Jacob Nahuway sebagai Ketua Umum PGPI 2018-2023, berdasarkan alasan: Pertamaseharusnya dilakukan verifikasi terlebih dahulu, tentang terpenuhinya seluruh persyaratan sebagai Ketua Umum, sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Rumah Tangga Bab V, Pasal 6, Ayat II, No. 9, halaman 100. Kedua, Manakala dilakukan verifikasi, kuat dugaan kami, Pdt. DR. Jacob Nahuway, tidak memiliki ijin dan rekomendasi dari sinodenya. Ketiga, Sebelumnya pimpinan sidang telah menyampaikan akan dilakukan verifikasi Calon Ketua Umum sebelum pemilihan dilakukan. Keempat, Kenyataannya, Pimpinan Sidang tanpa melakukan verifikasi dengan meminta persetujuan Peserta Sidang (tidak memperhatikan interupsi BANYAK Peserta Sidang), begitu saja menetapkan Pdt. DR. Jacob Nahuway, sebagai Ketua Umum PGPI 2018-2023. Kelima, Bilamana benar Pdt. DR. Jacob Nahuway tidak ada Surat Rekomendasi Sinodenya, maka telah terjadi pelanggaran Anggaran Rumah Tangga Bab V Pasal 6 ayat II angka 9, yaitu “tidak ada rekomendasi dari Sinodenya”.

    Terkait tidak adanya surat ijin dan rekomendasi, Pdt. Dr. Japarlin Marbun lewat sambungan telepon, kepada wartawan membenarkan hal itu.

    “Masalahnya bukan Sinode tidak memberi, tetapi Pak Jacob Nahuway tak pernah meminta surat rekomendasi ke Sinode GBI untuk maju menjadi calon Ketua Umum PGPI,” terang Ketua umum Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) ini.

    Menyikapi proses yang dianggap melanggar Anggaran Rumah Tangga PGPI serta diduga tidak berjalan jurdil ini, pemilik suara tertinggi kedua bakal calon Ketua Umum, Pdt. Sherly Kawilarang akhirnya menengahi keinginan pimpinan sinode gereja yang mendukungnya dengan membuat pernyataan keprihatinan bersama.

    “Saya menahan teman-teman yang mendukung saya. Ada yang meminta hasil pemilihan kita tolak. Ada yang mengusulkan agar mendirikan PGPI tandingan, bahkan ada pemikiran untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Saya menahan teman-teman agar kita membuat surat keprihatinan saja,” ungkap Ketua Asosiasi Tekstil Indonesia Se-Jawa Timur ini.

    “Hal lumrah dalam setiap pemilihan ketua organisasi ada menang dan kalah. Saya tak berambisi menjadi ketua umum. Saya diusulkan teman-teman, Saya direkomendasikan sinode gereja Saya. Yang membuat kami bersikap ini, oleh karena sesungguhnya belum ada yang terpilih menjadi ketua, tahu-tahu sudah ditetapkan. Ini tak benar! Tahap awal masih penetapan bakal calon,” ungkapnya lagi

    Sementara itu, dengan keluarnya press release pernyataan keprihatinan yang ditandatangani kurang lebih tiga puluhan pendeta dari berbagai sinode ini menjadi tantangan tersendiri untuk PGPI kedepan.

    “Sekarang kami hanya membuat surat keprihatinan. Itu pernyataan sikap kami sementara. Tetapi tentu, kami prihatin atas pemilihan Ketua Umum dalam Mubes ini. Ini sangat memprihatinkan! Ujar Pdt. Dr. Sherlina Kawilarang wanita pertama yang menghiasi sejarah panjang PGPI sebagai calon Ketua Umum.