Author: admin

  • Konferensi Pers BPP HIPMI: SDP II dan Rapimnas 2018 Jadi Momentum Lahirnya Undang-Undang Kewirausahaan

    Konferensi Pers BPP HIPMI: SDP II dan Rapimnas 2018 Jadi Momentum Lahirnya Undang-Undang Kewirausahaan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Jelang pelaksanaan Sidang Dewan Pleno (SDP) II dan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2018 BPP HIPMI, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia didampingi Ketua SC Anggawira, Ketua OC Ajib Hamdani, Bendahara OC Afan A Nugraha, Wasekjen Umar Ali Lessy, dan Wasekjen Harmen Saputra, menggelar konferensi pers di HIPMI CENTER, Menara Bidakara II Lt. 8, Jl. Jend. Gatot Subroto, Kav. 71-73 Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (2/3/2018).

    Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia (tengah) bersama , Ketua OC Ajib Hamdani (kanan), Wasekjen Umar Ali Lessy (paling kanan), Ketua SC Anggawira (kiri) , Bendahara OC Afan A Nugraha (paling kiri) saat konferensi pers pelaksanaan Sidang Dewan Pleno (SDP) II dan Rapimnas BPP HIPMI di Jakarta, Jumat (2/3). 

    SDP II dan Rapimnas HIPMI 2018 yang akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo ini, mengambil tema ‘Redistribusi Ekonomi dan Peran Pengusaha Muda dalam Memperkokoh Daya Saing Bangsa’, akan berlangsung dari tanggal 6 sampai dengan tanggal 9 Maret 2018 di Hotel Novotel, Kota Tangerang Selatan, Banten.

    Selain sebagai kegiatan konsolidasi dengan para anggota sendiri, bagi BPP HIPMI, Kegiatan Nasional SDP II dan Rapimnas HIPMI 2018 yang akan melibatkan 500 DPC HIPMI di 34 provinsi Indonesia, dengan 3500 sampai 4000 peserta ini, menjadi spesial, karena bisa menjadi momentum lahirnya Undang-Undang Kewirausahaan yang adalah buah perjuangan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.

    “Momentum acara SDP II dan Rapimnas kali ini berbeda dengan SDP-SDP sebelumnya, sebab kali ini kita akan mencoba untuk concern pada satu pembahasan undang-undang kewirausahaan. Undang-undang kewirausahaan ini merupakan pikiran murni dari HIPMI yang diawali dari forum disccusion disini pada tahun 2015 akhir dan awal tahun 2016,” ungkap Bahlil Lahadalia, Ketua Umum HIPMI.

    Ditambahkan Bahlil bahwa rancangan undang-undang kewirausahaan yang menurutnya menjadi jembatan para pengusaha pemula untuk bisa mendapatkan jumlah kredit yang proporsional dari perbankan serta  perlindungan kepada pengusaha pemula ini, dapat segera diselesaikan dan ditetapkan sebagai undang-undang, bahkan HIPMI siap untuk mengawal.

    “Undang-undang kewirausahaan tersebut saat ini sudah masuk di prolegnas dan HIPMI mencoba untuk mengawal. Karena itu acara besok ada pemaparan satu sesi khusus tentang Undang-Undang Kewirausahaan yang akan dibawakan oleh Ketua Panja RUU, Abang Maruarar Sirait, dan Ketua DPR. Kita minta tahun ini agar Undang-Undang Kewirausahaan segera selesai, karena ini adalah jawaban terhadap percepatan pertumbuhan dunia usaha dan sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk bisa berakselerasi bisa melakukan percepatan dan kerja dengan dinamika perkembangan ekonomi khususnya dibidang IT,” tegasnya.

    Selain itu, Bahlil juga menyampaikan soal pentingnya afirmasi tentang kebijakan yang tertuang dalam Undang-Undang Kewirausahaan.

    “Dan terlebih penting lagi adalah ada afirmatif dalam rangka keseimbangan untuk kemudian terjadi percepatan dan kebersamaan. Itu sebenarnya esensinya. Jadi sekali lagi dalam dunia ekonomi seperti sekarang, tidak ada perbedaan antara si A dan si B. Oleh karena itu diatur sedemikian rupa, harus ada afirmatif,” ungkapnya

    Kekompakkan BPP HIPMI menyambut SDP II dan Rapimnas 2018

    Dibagian lain, Anggawira Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan HIPMI sekaligus ketua SC, memaparkan berbagai persoalan yang terjadi dalam dunia usaha, yang menjadi latar belakang tema besar SDP II dan Rapimnas HIPMI 2018.

    Sementara Ketua Panitia, Ajib Hamdani, selain menyampaikan rangkaian acara dengan narasumber yang dihadirkan dalam SDP II dan Rapimnas HIPMI 2018, juga kembali menegaskan jumlah peserta serta kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla di hari terakhir penutupan SDP II dan Rapimnas.

    “Acara akan ditutup pada tanggal 8, hari kamis, jam delapan malam. Insya Allah undangan sudah kita kirimkan kepada Bapak Wapres, mohon doa rekan-rekan semua” sebut Ajib Hamdani penuh harap.

  • Asosiasi Pendeta Indonesia Hadir di Kota Bekasi

    Asosiasi Pendeta Indonesia Hadir di Kota Bekasi

    Sejarah API

    API adalah Organisasi Profesi Pendeta Protestan yang dideklarasikan tanggal 31 Oktober 2002 di Krida Bhakti – Setneg – Jakarta. Dalam pertemuan dan pelayanan bersama, akhirnya muncul gagasan membangun persekutuan para Pendeta, gayung bersambut ketika Pdt. Nugroho, Pdt. Yan Masengi dan Ev. Zakharias bertemu dalam sebuah kegiatan. Gagasan ini muncul dalam bentuk Asosiasi Pendeta Indonesia yang dideklarasikan 31 Oktober 2002.

    Organisasi ini adalah wadah Pendeta tanpa membedakan denominasi dan dogma gereja. Artinya bekerjasama membangun Tubuh Kristus dan pelayanan kesaksian bedasarkan Firman Tuhan. API tidak mencampuri urusan Gereja atau Dogma Gereja, tetapi bersama membantu pelayanan dan kesejahteraan para hamba Tuhan dalam melayani jemaat, masyarakat dan bangsa. API bukan pesaing persekutuan Gereja yang telah ada, tetapi mendukung mereka meningkatkan pelayanan para Pendeta secara pribadi dan keluarga.

     

    Visi Dan Misi

    Visi API adalah memenuhi panggilan iman, pengharapan yang sesuai dengan ajaran juruselamat kita Yesus Kristus. “Penuhilah panggilan pelayananmu di hadapan Allah dan Kristus yang menghakimi orang yang hidup dan mati. Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4 :1-5).

    Visi para Pendeta adalah visi Kristen untuk menerangi dunia dengan Firman, menunjukkan kegelapan pikir manusia karena nafsu duniawi, kesombongan dan keinginan daging yang menggelapkan manusia.

    Misi API menjadi Saksi Kristus (Kisah 1:8), supaya muat meninggalkan dosa, kefasikan dan keinginan duniawi dengan hidup bijaksana untuk kemuliaan Allah. Para Pendeta sebagai pembawa Firman harus menunjukkan teladan kasih, kerendahan hati dan kesabaran. API memberikan pertimbangan, suara kenabian kepada pemimpin dunia, pemerintah dan tokoh masyarakat, sambil membebaskan umat Tuhan dari segala kejahatan. Beritakanlah semua itu, nasehatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu.

    Visi dan Misi API mewujudkan Amanat Agung Yesus Kristus untuk Membangun tubuh Kristus bagi kemuliaan Tuhan. Membangun hubungan antar umat Tuhan, terutama para hamba Tuhan bebas dari rasa benar sendiri, menang sendiri, kemuliaan sendiri, tetapi dengan rendah hati meninggikan Tuhan Yesus Kristus: Biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil.

    Pelantikan Pengurus API Kota Bekasi

    Pelantikan Pengurus Asosiasi Pendeta Indonesia (API) bertempat di  GBI Mega Kota Bekasi Rayon 18 (Senin, 12 Februari 2018). Dihadiri oleh hamba-hamba Tuhan serta jemaat dari wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi yang bernaung dari berbagai Denominasi Gereja.

    Mewakili pemerintah tampak hadir Bpk Ferry Lumban Gaol yang merupakan perwakilan dari Walikota Bekasi yang berhalangan hadir, dan beberapa anggota Dewan Kota Bekasi diantaranya Bpk Ir. Sihar Sitohang, Ibu Murfati Lidianto SE. Tampak hadir juga Ketua FKUB Kota Bekasi Bpk Hj. Abdul Manan dan Bpk Marudut Manik sebagai Penyelenggara Bimas Kristen Kota Bekasi. Hadirnya Asosiasi Pendeta Indonesia (API) disambut hangat oleh Pemerintah Kota Bekasi dengan harapan API dapat memberikan dampak positif dan dapat bekerjasama dengan Pemerintah untuk menjaga kerukunan di Kota bekasi.

    Acara Pelantikan API Kota Bekasi dibuka dengan Ibadah pujian penyembahan. Firman Tuhan disampaikan oleh Ketua Umum API Pdt Brigjend TNI Purn Drs Harsanto Adi, MTh. Mengacu pada Nats FirmanTuhan Yesaya 60:1-2 : Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang Tuhan terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Dia sampaikan bahwa perjalanan Spiritual Orang Percaya tidak bisa dipisahkan dari Firman Tuhan, apapun yang terjadi semuanya sudah difirmankan Tuhan.

     “Perjalanan Spiritual kita tidak pernah lepas, antara apa yang tertulis didalam Alkitab dan apa yang terjadi didalam perjalanan sejarah dunia ini. Kita tidak bisa memisahkan karena ternyata trus bergandengan, bergandengan, bergandengan. Baru saja kita ada fenomena alam yang luarbiasa kemarin, Gerhana Bulan itupun sudah digambarkan dalam Alkitab sebelumnya”, tuturnya.

    Pada kesempatan ini dia juga sampaikan bahwa Alkitab bukan saja sebagai pedoman hidup Orang Percaya tetapi juga memberitahukan apa yang sudah terjadi maupun apa yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang.

    “Jadi sebenarnya Alkitab ini tidak sekedar Ia Firman Allah yang menjadi pedoman hidup bagi kita tetapi juga sejarah dunia”, tambahnya.

    Dalam khotbahnya Harsanto mengajak API Kota Bekasi untuk bangkit menjadi terang bagaikan lilin didalam kegelapan. Untuk dapat menerangi lingkungan sekitar yang berada ditengah-tengah  awan kelabu. Kegelapan yang dimaksud adalah berbagai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan Korupsi yang masih melanda Negeri ini, juga perang terhadap Narkoba yang sudah sangat merajalela di kalangan anak-anak, pemuda dan orang dewasa, bahkan sampai kepada masalah LGBT.

    Oleh sebab itu Drs Harsanto Adi, MTh yang juga belum lama pensiun dari kemiliterannya menghimbau kepada Orang Percaya untuk menjaga hidupnya agar tetap berkenan kepada Tuhan, karena yang dibutuhkan dunia adalah seberkas cahaya terang.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan Pelantikan Pengurus API Kota Bekasi Periode 2018-2021 yang dipercayakan menjadi Ketua adalah Pdt. Andy Markus (Gembala GBI Rayon 18 – Giant Bekasi). Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Prosesi Pelantikan berjalan dengan baik sampai selesai.

  • Presiden Apresiasi Komitmen Pemuka Agama Perkokoh Kerukunan Bangsa

    Presiden Apresiasi Komitmen Pemuka Agama Perkokoh Kerukunan Bangsa

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasinya atas komitmen kuat para pemuka agama di seluruh Tanah Air dalam membantu pemerintah menjaga serta memperkokoh kerukunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


    Presiden Joko Widodo dengan para peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa, Sabtu, 10 Februari 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

    Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Negara saat bersilaturahmi dengan para peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa, pada Sabtu, 10 Februari 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

    “Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Din Syamsuddin, kepada seluruh pemuka agama, peserta musyawarah atas komitmennya untuk memperkuat kerukunan bangsa, serta atas komitmennya memperkokoh NKRI, memperkokoh Pancasila, serta memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Presiden.

    Berkat komitmen kuat dan peran penting para pemuka agama tersebut, Indonesia telah dikenal oleh dunia internasional sebagai negara yang penuh keberagaman namun masyarakatnya tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan.

    “Indonesia contoh masyarakat muslim yang mengedepankan Islam moderat, contoh keberhasilan menjaga Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.

    Oleh karena itu, Presiden mengajak para pemuka agama untuk bersama-sama dengan pemerintah membangun sinergi yang kuat guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang kokoh, toleran, dan saling pengertian.

    “Tetapi juga saling kerja sama, saling bersinergi menjaga pendidikan, menjaga sikap umat masing- masing. Bekerja sama mengembangkan pendidikan yang terbuka, meningkatkan pengertian antar agama, antar etnis, dan antar status sosial,” kata Presiden.

    Tak hanya sampai disitu, peran dan kontribusi Indonesia juga dinantikan oleh negara-negara lain dalam rangka menyelesaikan konflik kemanusiaan serta mewujudkan perdamaian dunia.

    “Para pemuka agama, visi kita memperkokoh Pancasila dan NKRI tapi kita juga ikut menjaga ketertiban dunia, berkontribusi pada perdamaian saudara kita baik di Afghanistan, Rakhine State, dan belahan dunia lain,” ucap Presiden.

    Hal tersebut penting dilakukan mengingat perdamaian merupakan fondasi berharga dalam kehidupan bernegara dan memenangkan persaingan dengan negara lain. Sehingga masyarakat harus terus dibimbing dan diingatkan tentang nikmatnya perdamaian, kerukunan, dan persatuan.

    “Ini yang harus terus kita syukuri jangan sampai lupa tentang anugerah dari Tuhan mengenai ini. Jangan sampai kita lupa nikmatnya kerukunan, karena kita selama ini selalu rukun,” ujar Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban Din Syamsuddin, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki.

  • Presiden Minta Pemuka Agama Ingatkan Masyarakat Tentang Nikmatnya Perdamaian

    Presiden Minta Pemuka Agama Ingatkan Masyarakat Tentang Nikmatnya Perdamaian

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Indonesia adalah contoh negara dengan masyarakat yang sangat majemuk dan miliki toleransi serta rasa kebersamaan. Oleh karenanya para pemuka agama harus mengingatkan kepada masyarakat tentang nikmatnya perdamaian, kerukunan dan persatuan.

     Foto bersama Presiden Joko Widodo dengan Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa di Istana Kepresidenan Bogor (Sabtu, 10 Februari 2018)

    Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika bersilaturahmi dengan Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu 10 Februari 2018.

    “Jangan sampai lupa tentang anugerah dari Tuhan mengenai ini. Jangan sampai kita lupa nikmatnya kerukunan, karena kita selama ini selalu rukun,” ucap Kepala Negara.

    Presiden meminta agar para pemuka agama selalu mengingatkan kepada masyarakat luas tentang saudara-saudara kita yang berada di beberapa negara yang sedang dilanda konflik dan juga perang saudara.

    “Yang kehidupan sehari-harinya selalu dihantui oleh perang, yang peradabannya mundur sampai puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke belakang,” tuturnya.

    Lebih lanjut Presiden menceritakan tentang kunjungan ke lima negara di Asia Selatan, yakni Sri Lanka, India, Pakistan, Bangladesh  dan Afghanistan. Di Bangladesh Presiden mengunjungi Cox’s Bazar. Lokasi pengungsi Rakhine State di Bangladesh.

    “Kondisinya sangat memprihatinkan. Saya Kepala Negara pertama yang mengunjungi Cox’s Bazar. Ini adalah komitmen kita untuk kemanusiaan dan komitmen kita untuk misi kemanusiaan,” ucapnya.

    Delapan hari sebelum berkunjung ke Kabul, Afghanistan, ada ledakan bom yang menewaskan 20 orang. Demikian pula saat dua hari jelang keberangkatan kembali terjadi ledakan bom yang menewaskan 103 orang.

    “Bahkan dua jam sebelum saya mendarat di Kabul, sebuah akademi militer di Kabul diserang, 5 tentara tewas dan puluhah lainnya luka-luka,” ujar Kepala Negara.

    Saat tiba di Kabul, Afghanistan, Presiden menyampai kekagetannya melihat kota yang sangat besar dan juga adanya gedung yang besar-besar.

    “Tapi kehidupan sehari-harinya betul-betul tidak bisa disampaikan dalam kata-kata. Di setiap jalan ada tank, di setiap gang ada tank, di setiap tempat ada,” ucap Presiden.

    Istana Presiden Agr di Kabul pun sangat besar.  Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyampaikan bahwa istana tersebut dibangun 340 tahun yang lalu.

    “Beliau menyampaikan kepada saya bahwa Afghanistan itu memiliki deposit gas dan minyak yang besar, emas terbesar di dunia. tetapi tidak bisa dikelola karena peperangan tadi,” ujar Presiden.

    Sementara itu, Ibu Negara Afghanistan Rula Ghani menyampaikan hal yang lain. “Presiden Jokowi 40 tahun lalu sebelum negara kami perang, negara kami bila dibandingkan dengan negara tetangga levelnya sedikit lebih tinggi dan perang yang berkecamuk sudah lebih dari 40 tahun ini menyebabkan peradaban mundur jauh ke belakang,” tutur Presiden menyampaikan ucapan Rula Ghani.

    Bahkan dulu di Afghanistan, perempuan mengemudikan mobil antar kota merupakan hal yang biasa.

    “Mungkin negara lain saat itu belum ada yang nyetir, di sini sudah bisa. Tapi akibat konflik perang, perempuan tidak bisa bersekolah lagi. Keluar rumah dibatasi karena masalah keamanan. Yang terkena dampak paling besar adalah dua, anak-anak dan perempuan,” ucap Presiden.

    Saat ini kondisi di Afghanistan jauh lebih baik meski ada ledakan bom. “Sekarang anak perempuan di lingkungan tertentu bisa naik sepeda. Itu bahagia sekali. Dulu naik mobil sekarang naik sepeda saja sudah bahagia dan merupakan hal luar biasa. Ini Ibu Rula Ghani yang menyampaikan ke saya,” kata Presiden.

    Perang dan konflik betul-betul menghancurkan nilai kemanusiaan. Karena dalam kondisi seperti itu, kelompok-kelompok yang bertikai akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dan menang, tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai yang benar dan salah. Dalam situasi seperti ini sudah tidak ada lagi nilai-nilai kemanusiaan.

    “Ini yang beliau (Rula Ghani) katakan, betapa yang namanya kerukunan, perdamaian, persaudaraan, nilai yang betul-betul harus dijunjung tinggi,” ucap Presiden.

    Luka psikologis karena konflik memerlukan waktu berpuluh tahun untuk menghilangkannya. “Anak yang dilahirkan di situasi kekerasan akan melahirkan generasi yang juga penuh kekerasan baru,” tutur Kepala Negara.

    Oleh karenanya perdamaian, kerukunan, persaudaraan dan stabilitas adalah fondasi berharga bernegara, dasar untuk memenangkan persaingan kompetisi dengan negara.

    “Sekali lagi atas nama rakyat Indonesia saya menyampaikan terima kasih atas kontribusi untuk Indonesia maju, untuk yang kita cita-citakan,” ujar Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban Din Syamsuddin, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki.

  • God’s DNA Conference: Konferensi Untuk Memperlengkapi Anak-anak Muda Gereja

    God’s DNA Conference: Konferensi Untuk Memperlengkapi Anak-anak Muda Gereja

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Bertempat di GBI Ruko Blok Q No. 4-5 Taman Harapan baru, Kota Bekasi, God’s DNA yang didirikan tahun 2012 oleh sekelompok anak muda yang suka melayani di Kabupaten Bekasi, menggelar konferensi pers terkait penyelenggaraan  God’s DNA Conference, jumat (09/02/2018).

    Mengawali konferensi pers, Andreas Klemens memperkenalkan kepada awak media tentang organisasi God’s DNA. Dikatakannya bahwa God’s DNA adalah organisasi yang dibangun diatas pondasi yang kuat, yaitu kasih Tuhan Yesus, yang memiliki beban atau panggilan untuk gereja-gereja di Indonesia, khususnya pemuda dan remaja. Selain itu komunitas yang bernama God’s DNA ini memiliki passion yang sama dalam hal pujian dan penyembahan.

    “God’s DNA adalah kumpulan atau organisasi anak-anak muda di Lippo Cikarang yang punya passion yang sama untuk melahirkan banyaknya pujian-pujian dan penyembah-penyembah dalam roh dan kebenaran,” ujarnya mengawali jumpa pers.

    Sementara itu, berkaitan dengan penyelenggaraan God’s DNA Conference, Ps. Gabriel Klemens menyampaikan latar belakang rencana pelaksanaan Konferensi anak-anak muda ini. Dari pengalamannya memberitakan firman Tuhan ke kota-kota di Indonesia, baik dalam ibadah dewasa maupun anak muda, ia melihat masih banyak pelayanan anak muda gereja yang belum dipersiapkan dengan baik dan terjadi di gereja yang sudah besar maupun kecil.

    “Sayangnya kemajuan di gereja lebih lambat dibanding perkembangan dunia luar. Itu membuat nak muda kehilangan area pujian, penyembahan dan firman. Jadi mereka punya fasilitas ibadah bagus, susunan ibadah bagus, tapi sayangnya nggak ada kuasa di dalamnya. Mereka nggak ngerti kenapa harus ada doa, penyembahan dan mereka tidak mengerti kenapa harus ada firman yang kuat, karena bagi mereka firman yang kuat hanya ada di gereja (ibadah) dewasa,” ungkapnya.

    Ditambahkan Gabriel, bahwa kemandulan kebangkitan pemuda gereja terkadang berasal dari gembala jemaatnya sendiri yang memandang bahwa ibadah remaja dan pemuda hanyalah pelengkap saja. Padahal menurutnya, kebangunan rohani terjadi ketika anak-anak muda kembali pada doa, pujian penyembahan dan firman yang tajam.

    “Masih banyak gembala jemaat yang memandang, ibadah (remaja dan pemuda) adalah ibadah kedua atau sebagai pelengkap saja. Bagi mereka yang penting ada ibadah anak muda,” tegasnya.

    “Saya percaya, kalau anak muda kembali kepada doa, kepada pujian dan penyembahan, firman yang tajam, saya percaya anak-anak muda akan dilepaskan dan memiliki hidup yang dahsyat,” tegasnya lagi.

    Dari apa yang didapat di lapangan oleh Gabriel, menjadi isu menarik dalam komunitas God’s DNA, sehingga munculah ide untuk menggelar God’s DNA Conference dengan tema, “Essence” yang akan dilaksanakan pada jumat-sabtu, 13-14 April 2018 di GBI Graha Bethany, Jl. Padjajaran Kav. 8. Lippo Cikarang.

    “Pembicara dalam God’s DNA Conference merupakan orang-orang yang ahli dalam bidangnya, seperti  Gabriel Klemens (God’s DNA Lippo Cikarang), Ps. Henry Setiawan (Revival Church Yogyakarta), Ps. Victor Waang (Elshaddai Creative Community Bandung), Ps. Benny Gunawan (GBI Jl. Gatot Subroto-Jakarta), Ps. Joseph Kelly (City Shakers Community Bandung), Franky Kuncoro (Gereja Mawar Sharon Jakarta), Ps. Dwiki Anugrah (Excellent Generation Bandung) dan Ps. Kenny Goh (Jakarta Praise Community Church),” sebut Andreas Klemens, terkait pembicara dalam konferensi ini.

    Andreas Klemens, Ketua Acara God’s DNA Conference (paling kanan) mendampingi Ps. Gabriel Klemens 

    Grup Band God’s DNA Worship yang terbentuk sejak bulan Agustus 2015

    Lebih lanjut, Ketua Acara God’s DNA Conference ini menjelaskan bahwa selama dua hari, para peserta akan diberikan pemaparan materi yang terdiri dari empat sesi. Selain itu juga ada workshop dengan tema-tema yang relevan.

    “Hari pertama peserta akan mengikuti workshop mengenai ‘Building the altar’ oleh Franky kuncoro, ‘Buliding a strong cell group’ oleh Dwiki Anugrah, dan ‘Building a youth team’ oleh Kenny Goh. Sementara workshop pada hari kedua, ‘Next generation’ oleh Gabriel Klemens, ‘Evangelist generation’ oleh Ps. Joseph Kelly, dan ‘Fathering the generation’ oleh Ps. Victor Waang,” terang Andreas.

    Konferensi yang sangat cocok bagi anak-anak muda gereja, terutama para leader pemuda untuk diperlengkapi dalam membangun pelayanannya dengan lebih dahsyat dikenakan biaya sebesar Rp. 305.000  untuk personal atau Rp. 255.000 untuk grup/5 orang. Biaya tersebut digunakan untuk mengikuti keseluruhan acara dari awal sampai akhir dan perlengkapan peserta selama kegiatan berlangsung. Sementara untuk pendaftaran, bisa dilakukan melalui website: www.godsdna.org/essence.

    “Pendaftaran sudah dimulai dari bulan november tahun 2017, dan puji Tuhan sudah banyak anak-anak muda bahkan ratusan anak-anak muda yang mendaftar untuk God’s DNA Conference ini,” ungkap Andreas Klemens.

    Ditegaskan Andreas, dalam menjaring peserta, dari berbagai denominasi gereja dan wilayah di Jabodetabek bahkan luar daerah, tim God’s DNA melakukan presentasi ke beberapa sekolah, kampus dan gereja.

    “Ada beberapa sekolah dan juga gereja yang kami samperin dan kami presentasi. Ada juga kampus dimana mereka mendapatkan harga spesial,” tegasnya.

    Andreas juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan konferensi anak muda ini tidak melibatkan pihak lain diluar tim God’s DNA sendiri.

    “Jujur aja, untuk membuat acara konferensi ini nggak mudah. Karena kami bukanlah gereja yang besar, tapi semua kami yang pelayanan adalah anak-anak muda, remaja pemuda, ada dari SMP, SMA, kuliah dan selesai kuliah. Jadi yang mengambil bagian kumpulin kita semua, yang buat musiknya, yang buat digitalnya, yang soundmannya, tidak sewa dari yang lain. Kami pakai tim  sendiri supaya konferensi ini benar-benar berasa dari anak-anak muda,” ungkapnya penuh semangat.

    Pada kesempatan itu, diperkenalkan juga Grup Band God’s DNA Worship yang terbentuk sejak bulan Agustus 2015. Grup Band ini sudah meluncurkan album perdananya saat konser Rock With Jesus dan akan merilis album kedua.

    Akhir dari kegiatan, sebelum menutup dengan doa, Gabriel Klemens berharap lewat kegiatan ini, anak-anak muda bisa mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus, anak-anak muda bisa mengalami kedahsyatan Allah dalam hidupnya. Oleh karenanya, Gabriel memohon dukungan media dalam acara God’s DNA Conference sehingga esensi dari kegiatan konferensi bisa tersampaikan khususnya kepada anak-anak muda.

    “Saya pengen anak-anak muda yang datang kesini bisa melihat Allah yang dahsyat! Allah yang menyembuhkan itu ada dalam gereja mereka, Allah yang perkasa itu benar-benar mendampingi hidup mereka. Saya ingin mengajak teman-teman media bekerjasama dalam konferensi ini, supaya banyak anak-anak muda bisa ikut bukan untuk menarik kuota, tapi supaya mereka bisa hadir, dan mereka akan melihat bahwa Allah mereka benar-benar dahsyat. Saya percaya lewat tulisan tangan teman-teman media, banyak anak muda bisa datang dan dilawat oleh Tuhan,” terang Gabriel penuh harap mengakhiri jumpa pers dengan media.

  • Presiden Ingin Kebudayaan Menjadi Napas Kehidupan Bangsa

    Presiden Ingin Kebudayaan Menjadi Napas Kehidupan Bangsa

    Presiden Joko Widodo mengapresiasi banyak pelajar Indonesia yang berprestasi di berbagai ajang kompetisi nasional dan internasional. Bahkan mereka bukan berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Selasa 6 Februari 2018.

    Presiden menyebut  Made Radikia Prasanta dan Bagus Putu Satria Suarima, siswa SMA Negeri di Provinsi Bali. “Dari keluarga sederhana yang meraih penghargaan khusus dari American Meteorological Society tentang alat prediksi cuaca. Kemudian M. Naufal Giffary, siswa SMAN 1 Mataram, NTB, peraih emas dalam International Foundation for Art and Culture di Jepang 2017,” kata Presiden.

    Selain itu, Ahnaf Fauzy Zulkarnain siswa SDN Karangrejek 2 Kabupaten Gunung Kidul yang menemukan teknologi sederhana perontok jagung menjadi Peneliti Cilik Terunggul dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award 2016.

    “Prestasi-prestasi seperti ini memang harus dimunculkan dan diangkat agar anak-anak kita juga terpacu termotivasi untuk mengikuti teman-temannya yang memiliki prestasi-prestasi yang tadi saya sampaikan,” tutur Kepala Negara.

    Tapi, lanjut Presiden, dirinya juga masih menemukan hal-hal yang menyedihkan terkait dengan infrastruktur pendidikan karena masih banyak yang perlu dibenahi. Selain itu, anak-anak yang putus sekolah masih ada di beberapa daerah dan akses ke fasilitas-fasilitas pendidikan di daerah-daerah pedalaman masih buruk.

    Dari peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam proses pendidikan di Tanah Air.

    “Meninggalnya Guru SMA di Kabupaten Sampang Ahmad Budi Cahyono menjadi catatan besar kita ada apa ini? Kenapa ini terjadi?” ucap Presiden.

    Selain itu masih adanya aksi bullying antar-pelajar di beberapa daerah termasuk di Jakarta, tawuran antar geng sekolah di beberapa kota. “Ini harus menjadi perhatian kita semuanya,” tutur Presiden.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa anak-anak Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Teknologi harus digunakan untuk memperkaya kebudayaan  dan memperkuat kearifan lokal. “Jangan sampai kita kehilangan akar budaya kita dan justru anak-anak kita belajar lewat media sosial tentang hal-hal yang bukan budaya negara kita, Indonesia,” ujar Presiden.

    Oleh sebab itu, Presiden ingin agar kebudayaan menjadi napas dari kelangsungan hidup bangsa. “Menjadi darah kepribadian, menjadi mentalitas dan nilai-nilai kebangsaan anak didik kita,” katanya.

    Selain itu sistem pendidikan di sekolah, sistem pendidikan di masyarakat harus menjadi jantung dari kebudayaan kita. “Ekspresi seni dan budaya Indonesia jangan sampai tergeser dengan budaya-budaya asing yang belum tentu cocok dengan jati diri kita,” ujar Presiden.

    Kita harus bisa memastikan agar kebudayaan Indonesia menjadi sumber kekuatan, sumber persatuan, sumber energi bangsa Indonesia dalam memenangkan persaingan global. “Ini yang harus jadi jalan kebudayaan kita,” tutur Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

  • SDM Kunci Kemajuan Bangsa

    SDM Kunci Kemajuan Bangsa

    Kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah stabilitas sosial dan politik, manajemen pemerintahan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kreativitas dan inovasi dari SDM-nya. Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Selasa 6 Februari 2018.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan SDM di Indonesia. “Ini berada pada tanggung jawab yang besar sekali di pundak bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian yang hadir di sini,” ucap Presiden.

    Oleh karenanya Presiden mengingatkan pentingnya posisi pendidikan yang membangun watak Pancasila. Melalui pendidikan pula, kejujuran, kebersamaan, kesantunan, nilai dan budi pekerti pada anak-anak diajarkan.

    “Di sinilah posisi pentingnya pendidikan. Pendidikan yang mengajarkan daya juang, pendidikan yang membangun watak pembelajar, yang selalu belajar tanpa menunggu digurui, yang selalu berinovasi tanpa menunggu diajari,” tutur Kepala Negara.

    Itulah modal kita sebagai bangsa besar yang mampu memecahkan masalah-masalah di manapun. “Dan sekaligus mampu memenangkan kompetisi global,” ujarnya.

    Presiden mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak bisa menjamin kesejahteraan dan kesuksesan sebuah bangsa. Banyak negara maju justru tidak memiliki sumber daya alam (SDA), tapi sebaliknya banyak negara yang memiliki SDA melimpah didera kemiskinan, bahkan konflik dan perang saudara.

    “Sumber daya alam yang seringkali justru memanjakan dan membuat kita malas, mengalahkan daya juang, membuat kita lengah dan tidak mendorong kita semuanya untuk berinovasi dan berkreativitas,” ucap Presiden.

    Dalam kesempatan itu, Presiden mengingatkan bahwa pemerintah telah berusaha keras sekuat tenaga untuk meningkatkan pelayanan pendidikan, baik di pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) “Kita ingin berusaha menjamin akses pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu,” kata Presiden.

    Untuk itu dukungan anggaran dari Pusat ke Daerah juga terus ditingkatkan dan upaya untuk meningkatkan kualitas guru serta infrastruktur pendidikan terus dijalankan.

    Oleh karenanya, Presiden mengajak kepada semua peserta Rembuknas untuk tidak terjebak pada rutinitas karena sudah bertahun-tahun berjalan rutin tanpa ada sebuah pembaharuan, tanpa ada sebuah inovasi besar di dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.

    “Keberanian kita untuk membuat terobosan karena perubahan dunia sekarang ini berjalan begitu sangat cepat,” ucap Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

  • Kepala Staf Kepresidenan Sapa Milenial: “Jangan Lelah Produksi Konten Positif”

    Kepala Staf Kepresidenan Sapa Milenial: “Jangan Lelah Produksi Konten Positif”

    Jakarta, 6 Febrauari 2018, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengapresiasi anak-anak milenial yang sangat aktif memproduksi konten-konten positif melalui media sosial maupun dalam kehidupan yang nyata. Hal itu disampaikannya saat bertemu dengan puluhan anak-anak muda yang selama ini sudah berkiprah dan memanfaatkan media sosial untuk mengekspresikan ide-ide dan gagasannya, di Gedung Bina Graha, Jakarta.

    Beberapa aktivis media sosial hadir dalam acara ini antara lain Eka Gustiwana, Jesica Milla, Ayla Dimitri, Danny Syah Aryaputra, Vanesha Prescilla, Anggika Bolsterli, Melody Nurramdhani Laksani, Vikra Ijas, serta kakak beradik Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez, dan beberapa nama lain yang sangat populer sebagai influencer, endorser, maupun aktivis media sosial.

    Moeldoko memberikan gambaran bagaimana tantangan ke depan dalam dunia yang berubah sangat cepat. “Berbagai jenis pekerjaan akan menghilang, mulai dari perbankan sampai dengan manufaktur,”ujarnya. Teknologi informasi dan komunikasi yang dihadirkan oleh Revolusi Industri 4.0, lanjut Moeldoko, akan mengubah cara manusia berproduksi dan menghasilkan sesuatu. “Generasi seperti kalian-kalian ini, akan merasakan bagaimana teknologi akan menghimpit seluruh kehidupan manusia,” ujar Moeldoko mengingatkan.

    Mereka yang Bertahan

    Akan tetapi, Kepala Staf Kepresidenan juga memberikan panduan, bagaimana menghadapi perubahan tersebut. “Mereka yang bertahan adalah mereka yang berhasil membangun dirinya. Tidak cukup hanya itu, mereka yang berhasil adalah mereka yang berhasil membangun dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan melakukan hal-hal yang produktif,” ujar pria asal Kediri tersebut.

    Untuk itu, inovasi adalah salah satu jawabannya. “Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa UGM yang menemukan teknologi micro bubble untuk sistem perikanan. Setelah berdiskusi dan dimatangkan, teknologi tersebut kini sudah bisa masuk ke skala industri, dan dapat mempercepat pertumbuhan ikan-ikan menjadi lebih cepat,” ujarnya. Dengan teknologi tersebut, produksi ikan budidaya dapat ditingkatkan.

    Oleh karena itu, Moeldoko yang didampingi oleh Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menegaskan, “Tantangan nasionalisme bagi anak-anak muda ke depan bukan lagi mengangkat senjata, melainkan bagaimana ikut menyejahterakan masyarakat luas melalui inovasi dan produksi-produksi hal positif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.” Ia melanjutkan penegasannya dengan mengatakan bahwa kuncinya adalah bagaimana mendistribusikan apa yang kita punyai, apa yang kita mampu, untuk mewujudkan keadilan sosial di tengah-tengah masyarakat.

    Sementara itu Jaleswari menambahkan, Kantor Staf Presiden akan terus berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk menebarkan kebaikan dan hal-hal positif. Ia bercerita bahwa diskusi dan pertemuan semacam ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. “Ini sudah pertemuan ketiga, dan mudah-mudahan dengan kami memfasilitasi pertemuan semacam ini, lebih banyak anak-anak muda yang dapat terlibat dalam gerakan membangun hal-hal produktif.

    Sementara itu, ditanyakan perihal kekhawatiran dan keengganan anak-anak muda untuk terlibat dalam bidang politik, Moeldoko menjawab, “Dalam politik, kita seringkali hanya berfokus pada risiko. Padahal, dalam politik juga terdapat peluang-peluang. Oleh karena itu, yang paling penting adalah tetap berpikiran positif dan berbuat sesuatu, sekecil apapun, untuk membuat keadaan lebih baik.”

    Respons Milenial

    Ayla Dimitri, salah satu peserta diskusi dan juga tengah meneliti generasi milenial mengajak, “”Kita harus berkolaborasi untuk mengomunikasikan dan memberi motivasi kepada anak-anak muda, tentang kesiapan mereka untuk menghadapi kompetisi, kesiapan mental, supaya tidak gampang depresi. Karena banyak org tua kurang menyadari akan masalah itu.”

    Sementara itu, Vanesha Prescilla, pemeran Milea dalam film Dilan 1990 yang sedang populer menceritakan bagaimana film yang ikut dibintanginya dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak anak-anak muda lebih kritis dan terbuka. “Sosok Dilan dalam film sekarang menjadi tokoh publik yang diidam-idamkan generasi milenial. Dilan tidak hanya ditampilkan dengan menonjolkan karakter dan sifat yang terkesan negatif dengan kenakalan-kenakalannya.” Semangat bela negara, kepercayaan diri yang tinggi, yang muncul dalam sosok Dilan, menurut Vanesha dapat ditampilkan dengan cara kekinian yang disukai anak muda.

    Sementara Dany Syah Aryaputra yang kini mengelola web kolaboratif www.kitabisa.com mengutarakan, “Dari komunitas yang pertemuannya difasilitasi oleh Kantor Staf Presiden ini, kita jadi sering ketemu. Lalu muncul ide-ide dan kita sekarang sering berkolaborasi. Surya kolaborasi dengan Archi. Dan seterusnya. Banyak kegiatan yang terjadi. Kita sibuk bikin karya, itu akan sangat positif. Anak muda indonesia kehilangan sosok atau fitur yang layak ditiru. Jika anak-anak muda punya kesibukan, mereka nggak akan macam-macam.”

    Dany menambahkan, “Jika anak-anak muda dari berbagai kelompok dan komunitas sudah saling kenal, ketika tonggak kepemimpinan sudah beralih ke tangan anak-anak muda, kita sudah seperti kawan seperjuangan. Sudah saling kenal. Sudah nggak melihat seperti musuh.”

    Sementara itu Siwi, seorang remaja berlatar belakang keluarga Nahdlatul Ulama melihat, tantangan anak-anak muda hari ini justru lebih berat, karena dihadapkan dengan berbagai macam perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar. “Saya belum bisa membayangkan bagaimana nantinya saya sebagai ibu harus membesarkan dan memberikan pengertian kepada anak-anak saya,” ujarnya. Oleh karena itu, ia memilih untuk berkiprah dan berperan lebih aktif dalam berbagai literasi tentang bahaya radikalisme, ekstremisme, dan semacamnya.

    Dovi dan Jo da Lopez, kakak beradik yang juga Youtubers mengingatkan, berdasarkan temuan mereka, konten negatif itu menyebar empat kali lebih banyak dibandingkan konten positif. Oleh karena itu, mereka berdua mengingatkan untuk tak lelah-lelah membuat konten positif, persis seperti harapan Moeldoko kepada anak-anak muda tersebut.

  • Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

    Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Kepemimpinan millenial tidak hanya berfungsi memberi nasehat, perintah dan mandat pada bawahan, tetapi bagaimana memberi visi, misi, keterbukaan dan tujuan organisasi secara jelas dan komprehensif serta mampu memotivasi. Hal ini disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., dalam Kuliah Umum II STT Rahmat Emmanuel (REM), Jl.  Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapa Gading Jakarta Utara, Jakarta, jumat (2/2/2018).

    Suasana sesi tanya jawab – Kuliah Umum STT REM

    Dikatakan Ade Supandi bahwa, generasi millenial yang lahir antara tahun 1981-2000, saat ini sudah memasuki usia produktif. Mereka tidak hanya unggul dalam Iptek tapi sudah menjadi trendsetter dalam bidang sospol, bahkan generasi milenial merupakan generasi modern yang aktif bekerja, giat dalam penelitian, berpikir inovatif tentang organisasi, memiliki rasa optimisme, kemauan untuk bekerja dengan kompetitif, terbuka dan fleksibel.

    Ade juga mengingatkan bahwa millenial leadership sangat berhubungan dengan keteladanan, sehingga keteladanan menjadi faktor penentu bagi generasi muda untuk menyongsong masa depan mereka.

    “Millenial Leadership itu adalah bagaimana kita memberikan contoh kepada generasi muda. Millenial leadership itu bagaimana membangun generasi muda ini dengan inspirasi, dengan keteladanan untuk menyongsong masa depan mereka,” tegas Laksamana kelahiran Batujajar- Bandung, 26 Mei 1960 ini.

    Kuliah Umum yang mengusung tema, “Millenials Leadership” (Kepemimpinan Generasi Millenial), dengan moderator Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center), KSAL Laksamana Ade Supandi lebih banyak menekankan pada millenial leadership dari sisi militer.

    “Saya hanya akan memberikan bagaimana kita memahami konstelasi dalam leadership dalam Generasi Millenial ini dari sisi militer. Saya tidak akan bahas dari sisi ahli-ahli motivator ataupun inspirator,” ujar Kasal didampingi oleh Kadisdikal, Kadispenal dan Wadan Seskoal.

    Ditegaskannya bahwa kepemimpinan dalam militer tidak akan lepas dari tiga ranah, yaitu; ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah afektif/attitude atau sikap yang bersangkutan. Menurutnya seorang pemimpin harus memahami ketiga ranah ini.

    “Kapasitas kepemimpinan terdiri dari tiga elemen, yaitu; pengetahuan, ketrampilan dan karakter,” tegasnya.

    Lebih lanjut Ade Supandi menguraikan dengan lugas tentang asas kepemimpinan yang ada dalam TNI, yaitu; Taqwa, Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri handayani, Waspada purba Wasesa, Ambeg Pramana Arta, Prasaja, Satya, Gemi Nastiti, Belaka dan Legawa.

    “Asas ini memang kalau dianggap kuno ya kuno, tapi bagi TNI, asas kepemimpinan ini adalah bagian yang membina kita. Sederhana tapi kalimat ini menjadi filosofi,” tegas Ade Supandi.

    Tukar-menukar Cinderamata dari KSAL, Laksamana Ade Supandi kepada Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM) dan sebaliknya dari Dr. Ariasa H Supit, M.Si ( Ketua STT REM) kepada Laksamana Ade Supandi.

    Pada bagian akhir paparannya, Ade Supandi menjelaskan soal ‘Kode Etik’ perwira TNI dan Trisila TNI Angkatan Laut, yang menurutnya bersifat universal, antara lain; Budhi atau selalu berbuat luhur, Bhakti atau mengerjakan dengan tuntas, Wira atau selalu di depan dan Utama atau menjunjung tinggi kehormatan. Adapun trisila TNI adalah; Disiplin yaitu sikap mentaati segala peraturan dan tata tertib berdasarkan kesadaran pengabdian, Hierarki yaitu bisa menempatkan diri dan bertindak sesuai kepangkatan, kedudukan dan jabatan, Kehormatan yaitu wajib menjunjung tinggi nama baik angkatan dan negara dengan selalu berpikir, bersikap dan berbuat tanpa cela.

    ‘Aku Smart’, menjadi tips pria lulusan Lemhannas RI PPSA angkatan-17 (2011) dihadapan mahasiswa/mahasiswi STT REM, alumni, dosen pengajar, tokoh Kristiani serta undangan yang memenuhi ruang kuliah umum STT REM.

    Tampak hadir dalam kuliah umum ini, Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM), Dr. Ariasa H Supit, M.Si ( Ketua STT REM), Dr. Antonius Natan, M.Th ( Wakil Ketua I STT REM/Sekum PGLII DKI Jakarta), Pdt. Brigjen TNI (Purn) Drs. Harsanto Adi, M.Th (Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) beserta jajaran pengurus pusat API, dan masih banyak lagi.

    Sebelum foto bersama dan pemberian Cinderamata, sesi tanya jawab mewarnai kuliah umum yang kedua STT REM di tahun 2018 ini.

  • DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH: Mereka adalah Keluarga kita juga

    DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH: Mereka adalah Keluarga kita juga

    CIBUBUR, WARTANASRANI.COM – Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Hal ini diungkapkan Dr. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH., dalam acara Talkshow dan Diskusi Interaktif yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Indonesia Jawa Barat bekerjasama dengan Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) di Saung Soka, Taman Wiladatika Cibubur, sabtu (03/02/2018).

    Suasana Talkshow dan Diskusi Interaktif

    Talkshow yang mengangkat tema, “Memberdayakan yang Terabaikan” menghadirkan juga dua narasumber lain yaitu; Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik).

    Sebagai pembicara kedua, Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan ini mengawali dengan memberi motivasi sesuai dengan prinsip hidupnya. Dikatakannya, untuk menjadi orang yang sukses dan berprestasi maka seseorang harus memiliki “Tertius, Altius dan Fortius”.

    “Menjadi orang yang sukses dan berprestasi, pertama ia harus menjadi orang yang tertius atau tercepat artinya tampil lebih dahulu, yang pertama, tepat waktu. Kedua ia harus altius atau yang tertinggi, artinya apa yang dilakukan harus maksimal. Ketiga harus fortius atau terkuat, artinya harus sehat dan bugar,” pungkas dokter yang dipanggil ‘Panglima Kesorga’ oleh bawahannya, karena gaya kepemimpinannya yang cenderung ala militer dan ‘Kesorga’ karena bidang kerjanya kesehatan olah raga.

    Berkaitan dengan tema Talkshow, Ampera Matippanna mengupas soal tugas dan tanggung jawab gereja terhadap umat yang terabaikan. Menurutnya, peran gereja terhadap umat yang terabaikan adalah bagaimana melatih dan memotivasi supaya bisa mandiri.

    “Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh gereja adalah melatih dan beri motivasi, supaya mereka bisa mandiri. Yang terabaikan itu, bukan saja mereka yang ada di penjara, tetapi mereka yang secara fisik tidak sempurna, mereka juga adalah yang terabaikan,” ujarnya.

    “Latih dan beri motivasi supaya mereka bisa mandiri,” ujarnya lagi

    Ditegaskan Ampera Matippanna, bahwa keterlibatan gereja terhadap mereka yang terabaikan memiliki dasar firman Tuhan yang kuat. Sehingga akibatnya bila gereja tidak melakukannya berarti gereja adalah pendusta.

    “Dasar pelayanan untuk memberdayakan mereka yang terabaikan, ada dalam hukum yang pertama dan terutama, yaitu dalam Matius 22:35-38. Jadi bila kita berkata mengasihi Tuhan tapi menelantarkan sesamanya, kita adalah pendusta sesuai firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:19-21,” tegasnya.

    Bicara soal siapa yang terabaikan, dr. Ampera Matippanna menguraikan lebih spesifik. Orang yang bodoh, orang nakal, orang lemah, orang jelek, disabilitas fisik, retardasi mental, kemiskinan, broken home, patologi sosial (Napi, HIV-Aids), dan lain-lain, disebutnya sebagai bagian dari orang yang terabaikan yang membutuhkan peran gereja untuk memberdayakan mereka.

    “Mereka adalah orang-orang yang perlu diberdayakan dan ini adalah tugas kita semua, bukan hanya tugas YKMI atau Pewarna. Ini adalah tugas gereja secara individu. Ini tugas kita semua!,” ujarnya.

    “Banyak anak pejabat yg terlibat narkotika yg tidak pernah dikunjungi karena orang tuanya merasa malu. Anak-anak Tuhan harus merubah mindset bahwa mereka adalah anak- anak kita yang harus disentuh, diberdayakan,” ujarnya lagi.

    Kehadiran gereja dalam tugas mulia ini, menurut dr. Ampera untuk mencegah atau meminimalisir akibat mereka yang terabaikan, seperti; kurang percaya diri, berpikiran negatif, tidak mampu bekerja sama, tdk mempercayai orang lain, merasa terasing, melihat orang lain sebagai musuh, iri melihat keberhasilan orang lain, selalu curiga, punya potensi besar membahayakan orang lain, akhirnya mereka menjadi mencuri, membunuh, memperkosa, narkotiks, dan lain lain.

    “Melihat dari Perubahan perilaku sesuai teori Kurt Lewin Kurt Lewin (1970), yaitu suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan2 pendorong dan kekuatan penahan, disinilah peran seorang konselor untuk menguatkan. Seorang konselor harus memahami 3 faktor determinan dari perilaku seseorang yaitu; faktor pembawa, faktor pendukung dan faktor pendorong sehingga maksimal pelayanannya pada mereka yang dilayani,” jelasnya.

    Lebih jauh, dr. Ampera menegaskan bahwa pemberdayaan orang yang terabaikan  harus ada komitmen bersama dalam penanganan dan pemberdayaan bagi orang-orang yang terabaikan, melakukan pendidikan dan pelatihan keterampilan produktif, membangun dan mengembangkan kepedulian sosial melalui dukungan pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan, pengembangan karakter kepribadian dan potensi individual dalam masyarakat.

    Pada bagian akhir paparannya, dr. Ampera menjelaskan 5 tanggung jawab gereja terhadap mereka yg terabaikan, seperti; tanggung jawab liturgi (liturgia) membawa mereka dekat dengan Tuhan, tanggung jawab pewartaan (Kerygma) pentingnya pemberitaan supaya banyak anak Tuhan yang mengetahui, tanggung jawab persekutuan (koinonia), tanggung jawab pelayanan (diakonia) dan terakhir tanggung jawab kesaksian (marturia).

    “Saya mengajak sebagai warga gereja untuk melibatkan diri secara aktif karena mereka adalah anak-anak Tuhan. Banyak napi yang setelah bebas, kembali dan kembali melakukan tindak pidana dan masuk penjara lagi. Menjawab hal ini, saya kembali mengajak kita semua untuk melihat betapa mahalnya, berharganya satu jiwa bagi Tuhan,” ungkapnya.

    “Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Kita butuh banyak tangan untuk hasil yang besar. Kita butuh tangan pejabat, kita butuh tangan pengusaha, kita butuh tangan pewarta dan tangan-tangan yang lain untuk hasil yang maksimal dalam memberdayakan mereka yang terabaikan,” ungkapnya lagi mengakhiri paparannya.