Category: Liputan

  • Pdt. Manuel Raintung : Paskah Sebagai Perayaan Kemenangan Yang Pasti, Jadi Momentum Gereja Untuk Bersatu

    Pdt. Manuel Raintung : Paskah Sebagai Perayaan Kemenangan Yang Pasti, Jadi Momentum Gereja Untuk Bersatu

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Paskah adalah perayaan kemenangan yang pasti menjadi pesan penting Ketua PGIW DKI Jakarta, Pdt. Manuel E. Raintung, M.Th., MM., dalam Ibadah Perayaan Paskah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah DKI Jakarta yang berlangsung di Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Rajawali, Kemayoran, Jakarta, Senin (6/5/2019).

    whatsapp_image_2019-05-06_at_18.45.55_1

    Suasana Ibadah Paskah PGIW DKI Jakarta

    “Jangan ragu merayakan paskah, karena kita merayakan kemenangan yang pasti. Paskah adalah perayaan kemenangan yang pasti!”, tegas Pdt. Raintung dalam sambutannya di Paskah yang mengambil tema, “Kuasa KebangkitanNya Menjadikan Kita Hamba Kebenaran”.

    Raintung juga mengingatkan tentang sulitnya gereja-gereja bersatu sesuai piagam saling mengakui dan saling menerima dalam Dokumen Keesaan Gereja PGI. Namun iapun berharap, Ibadah Perayaan Paskah tahun ini menjadi momentum gereja-gereja untuk bersatu.

    “Bergerak bersaksi terlalu mudah, tapi bersatu sangatlah sulit. Keesaan dan kesatuan tidaklah mudah, namun dengan kuasa kebangkitan-Nya yang berlandaskan kasih, kita dapat bersatu,” pungkasnya.

    Terkait keanggotaan PGIW DKI Jakarta yang telah mencapai 66 anggota sinode gereja, Pdt. Raintung dengan penuh kerendahan mengungkapkan bahwa hal yang terpenting bukanlah besarnya PGIW DKI Jakarta, tetapi kuasa Tuhan yang mempersatukan gereja-gereja.

    “PGIW DKI Jakarta saat ini sudah beranggotakan 66 gereja anggota. Terakhir kami menerima pendaftaran keanggotaan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) dan Gereja Sidang Jemaat Kristus (GSJK). Namun besarnya PGIW DKI Jakarta bukanlah hal yang penting! Yang terpenting adalah besarnya kuasa Tuhan,” tegasnya.

    Pada bagian akhirnya sambutannya, Ketua PGIW DKI Jakarta ini menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada gembala jemaat Gereja Isa Almasih yang telah menjadi tuan rumah Ibadah Perayaan Paskah. Terima kasih juga disampaikannya kepada gereja-gereja yang telah menugaskan kelompok-kelompok pujian untuk mengisi acara.

    “Kepada Gereja Isa Almasih Jemaat Rajawali, terima kasih untuk semua kesediaan dalam merayakan Paskah bersama PGIW DKI Jakarta. Terima kasih juga kepada gereja-gereja yang telah menugaskan kelompok-kelompok pujiannya mengisi acara Paskah PGIW DKI Jakarta,” ungkap Pdt. Manuel Raintung, M.Th.

    whatsapp_image_2019-05-06_at_20.21.17_1

    Foto bersama selesai Ibadah Paskah PGIW DKI Jakarta

    whatsapp_image_2019-05-06_at_18.45.53_1

    Pembimas Kristen DKI Jakarta, Lisa Mulyati, S.Sos., M.Si saat memberi sambutan di Ibadah Paskah PGIW DKI Jakarta

    Sementara itu, Pembimas Kristen DKI Jakarta, Lisa Mulyati, S.Sos., M.Si., menyampaikan harapannya agar PGIW dapat menjadi teladan bagi lembaga dan aras gereja untuk bersatu, menjaga kedamaian dan persatuan di DKI Jakarta.

    “Saya mengajak kita semua bagaimana kita mengisi kemenangan yang sudah Tuhan Yesus lakukan untuk menebus dosa-dosa kita. Harapan saya sebagai Pembimas Kristen yang berkewajiban untuk menjadi sahabat semua lembaga aras di DKI Jakarta adalah PGIW harus menjadi teladan, harus bisa mengajak lembaga atau aras-aras yang lain, bagaimana kita bisa bersama-sama bersatu, duduk bersama untuk menjaga kedamaian dan persatuan di DKI Jakarta,” ungkapnya.

    “Kita harus meniru dan meneladani Kristus yang telah mati menebus dosa-dosa kita. Untuk itu marilah kita menjaga bagaimana kita menjadi garam dan terang dan menebarkan damai sejahtera. Doakan negara dan bangsa kita setelah melakukan pesta demokrasi. Doakan agar bangsa kita tetap aman dan damai,” ungkapnya lagi. (*)

  • Pdt. Pariadji Sampaikan Refleksi Di Ibadah Paskah Nusantara Pewarna Indonesia dan Ormas Kristiani

    Pdt. Pariadji Sampaikan Refleksi Di Ibadah Paskah Nusantara Pewarna Indonesia dan Ormas Kristiani

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna) bekerja sama Sinode Gereja Tiberias Indonesia (GTI) dan ormas-ormas Kristiani seperti MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia), API (Asosiasi Pendeta Indonesia), Vox Point Institute, GMDM (Garda Mencegah Daripada Mengobati), GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), LPN (Lembaga Penginjilan Nusantara), PMKIT (Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur), Bamagnas (Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional) menggelar Ibadah Paskah Nusantara 2019 di Prosperity Tower SCBD District 8, Jakarta Selatan pada Jumat kemarin (26/04/2019).
    Perayaan Paskah Nusantara 2019 yang mengambil tema, “Bangkitlah dan Bersoraklah” diisi dengan beragam seni, budaya dan lagu, diantaranya; Budayawan Padmono SK yang menggelar wayang sabda serta duo maestro Eni Agustien dan Anes Guo memainkan alat musik petik tradisional China Guzheng dan Zhong Ruan.
    Tak ketinggalan pesona penampilan Clara Panggabean, Samuel Tobing, Paduan Suara STT IKAT dan juga grup vokal GMDM. Acara ditutup dengan tari asli suku Batak Toba yaitu tari Tor-Tor oleh MUKI dan GPIB Horeb, Jakarta Timur.  Adapun tim musik dan pujian, didukung penuh oleh Gereja Tiberias Indonesia.
    Refleksi Paskah dibawakan oleh Pdt. Dr. Yesaya Pariadji yang mengambil khotbah dari kitab Yohanes. Pendiri dan Gembala Sidang GTI ini mengingatkan bahwa di Surga ada kitab kehidupan. Karena itu setiap orang nanti harus bertanggung jawab dalam penghakiman kelak.
    “Setiap orang dari kita kelak harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang kita lakukan pada saat penghakiman, semuanya sudah dicatat kitab kehidupan,” terangnya.
    Pdt. Dr. Yesaya Pariadji didampingi oleh isterinya Pdt. Darniaty Pariadji memiliki salah satu ciri khas dalam pelayanannya adalah Kesembuhan Ilahi melalui Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan. Meski berasal dari latar belakang bukan orang percaya, penerima beasiswa di dalam dan luar negeri, dalam karier pernah bekerja di Istana dan menjadi chairman bank serta beberapa perusahaan internasional. Tetapi dalam perjalanan kehidupannya Pdt. Yesaya Pariadji telah mengalami kasih karunia TUHAN secara pribadi.
    “Tuhan memberi nazar kepada saya untuk melakukan perjamuan kudus dan menyelenggarakan minyak urapan. Carilah makanan yang membawakan hidup kekal,” pesannya sembari mengingatkan agar menjaga ucapan di hadapan Tuhan.
    Sementara itu, Ketua Pewarna Indonesia Yusuf Mujiono menyatakan acara Paskah Nusantara 2019 ini adalah bagian dari upaya kami bersama ormas-ormas Kristen menyelaraskan semangat kesatuan gereja, aras  dan ormas kristiani.
    “Internal kekristenan masih banyak yang harus dibenahi, antara lain suka saling curiga. Kami Pewarna bersama ormas-ormas lain seperti MUKI, GMDM, API, Voxpoint, bamagnas, akan terus menggelorakan semangat kesatuan dan kebersamaan ini. Marilah berkarya untuk bangsa ini, bukan saling menjatuhkan atau menjelekkan satu dengan lainnya. Keangkuhan akan menjatuhkan kita, mari kita bersinergi dan melihat perbedaan itu dengan positif”, terangnya.
    Yusuf Mujiono selaku pengangung jawab Paskah Nusantara 2019 juga menyampaikan bahwa kami (MUKI, GMDM, API, Voxpoint, Bamagnas, Pewarna) membuka diri bekerja sama dengan siapa saja yang memiliki komitmen bersama ini.
    “Kami tak terpengaruh oleh mereka yang tidak sepaham, biarlah apapun yang kami lakukan hanya bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus. Makna kebangkitan Kristus bukan untuk segelintir manusia, tapi untuk semua yang mengasihiNya. Sebagai penutup, terima kasih kami kepada seluruh ormas pendukung dan juga kepada Pdt. Gideon Simanjuntak dari Gereja Tiberias Indonesia.” ungkapnya. (*)
  • Save Srilanka dan Pray for Srilanka Jadi Tagar Aksi Damai Forum Masyarakat Peduli Ledakan Bom di Srilanka

    Save Srilanka dan Pray for Srilanka Jadi Tagar Aksi Damai Forum Masyarakat Peduli Ledakan Bom di Srilanka

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Ledakan bom di gereja dan hotel pada Minggu Paskah (21/04/2019) di Sri Lanka yang menimpa umat Kristen saat ibadah, mendapat kecaman dari banyak pihak di pelbagai belahan dunia. Peristiwa teror yang telah memakan korban jiwa 359 orang telah membuat dunia berduka. Di Indonesia, berbagai lembaga keumatan dan elemen masyarakat tak ketinggalan menyuarakan kecaman dan keprihatinannya.
    Bertempat di kawasan Tugu Proklamasi, Sore tadi, Rabu (24/04) Forum Masyarakat Peduli Ledakan Bom Srilanka menyampaikan pernyataan sikap atas peristiwa pilu tersebut. Forum yang terdiri dari 7 elemen ormas tersebut melakukan aksi damainya, mengecam dan menyuarakan penolakan terhadap segala praktik radikalisme di muka bumi.
    Satu persatu perwakilan elemen ormas berorasi pada aksi damai tersebut. Mereka juga menyoroti situasi toleransi dan kelangsungan keberagaman di Indonesia.
    “Indonesia adalah gudangnya toleransi, keberagaman. Untuk itu kita mengajak masyarakat Indonesia menunjukan kepada dunia bahwa kita menolak terorisme dan mendukung toleransi, terutama kepada umat beragama yang sedang melaksanakan peribadatan,” ujar salah seorang peserta aksi dalam orasinya.
    Doa bersama bagi para korban peledakan bom dan keluarga yang ditinggalkan mewarnai aksi damai tersebut. Para peserta aksi terlihat ikut membagikan pernyataan sikap mereka kepada masyarakat yang melintasi jalan raya di kawasan Tugu Proklamasi.
    Let’s Stand United Against Terrorism“, “Mari Perangi Terorisme”, “Tolak Radikalisme dan Terorisme”, menjadi seruan yang dikumandangkan oleh massa aksi. Mereka juga menggunakan tagar “Save Srilanka” dan “Pray for Srilanka” sebagai simbol dari kepedulian masyarakat Indonesia kepada Srilanka.
    Vox Point Indonesia, Pemuda Katolik, PMKRI, PEWARNA Indonesia, KEMADA Baja, Mata Katolik dan LINKO AMM adalah 7 elemen ormas yang jadi bagian dari Aksi kemanusiaan Forum Masyarakat Peduli Ledakan Bom di Srilanka. (*)
  • Dialog Kebangsaan PGPI Bukan Untuk Mendukung Capres Tertentu

    Dialog Kebangsaan PGPI Bukan Untuk Mendukung Capres Tertentu

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Pdt. Jason Balompapueng dengan tegas membantah bahwa acara Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Persektuan Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) DKI Jakarta disebut mengarahkan untuk memilih pasangan Capres Prabowo-Sandi. Dialog Kebangsaan PGPI diadakan pada pada Sabtu (13/04/2019) di Restoran Angke, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

     

    Rilis yang diterima redaksi menyebutkan bahwa PGPI sebagai lembaga gereja aras nasional bersikap NETRAL, tidak berkiblat atau mendukung salah satu paslon, tetap siap mendukung pemenang untuk melanjutkan tugas pemerintahan dengan segala program pembangunan baik fisik maupun mental spiritual, khususnya untuk lima tahun kedepan.

     

    Justru bertujuan untuk semakin menyatukan bangsa ini dari berbagai ancaman perpecahan, dan mencapai tujuan pemilu damai yang didambakan seluruh masyarakat Indonesia. Siapapun presiden dan wakil presiden yang terpilih, kita tetap satu sebagai INDONESIA, dan mengemban tugas untuk membawa damai bagi Indonesia dan dunia.

     

    Kita menyadari bahwa pesta demokrasi ini bertujuan untuk memilih pemimpin negara, bukan memilih alim ulama atau pemimpin agama, apalagi memilih musuh, sehingga seluruh proses pilpres dan pileg ini harus mengacu kepada mempertahankan  Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI membawa Indonesia meningkat dewasa dalam berdemokrasi dan mencapai Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan PANCASILA, mengharamkan politisasi agama ditengah negara kita yang beragam suku, bahasa dan agama yang selama ini telah hidup rukun dan damai dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

     

    Dialog Kebangsaan memang menghadirkan Mayjen. (Purn) Glenny Kairupan dalam hal ini mewakili salah satu paslon yang akan maju untuk dipilih sebagai presiden untuk memberikan pembelajaran politik bagi warga gereja sebagai warga negara dalam rangka pelaksanaan pesta demokrasi ini, agar warga negara dan khususnya umat PGPI dapat mendapatkan bahan pertimbangan guna menentukan pilihannya, disamping untuk mencegah golput.

     

    Menurut Jason, “Hal lain yang patut dicatat bahwa, Dialog Kebangsaan ini di inisiasi oleh pihak pasangan 02 (Prabowo-Sandi). PGPI hanya fasilitator dan tentunya harus kita sikapi dengan baik dan tetap positif.” Netralitas PGPI dibuktikan dengan surat edaran yang ditanda tangani Ketua Umum PGPi Pdt. Dr. Yakub Nahuway. “Dan hari ini juga di acara Dialog Kebangsaan, panitia mengeluarkan rilis yang saya tanda tangani bahwa PGPI tetap pada keputusan dari pusat sampai ke daerah isinya sama, sebagai lembaga aras gereja PGPI tetap tidak mengarahkan untuk memilih salah satu paslon.”

     

    Jason mengakui bahwa dua pasangan Capres-cawapres Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandi adalah putera-putera terbaik bangsa. “PGPI siap membantu dan bekerja sama dengan pemerintah, siapapun presidennya yang akan terpilih nanti. Tuhan akan berikan yang terbaik untuk bangsa ini.”  (*)

  • Sekum MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom Tutup KGM PGI 2019

    Sekum MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom Tutup KGM PGI 2019

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Bertempat di Ballroom Niaranan 1, Hotel Sutan Raja, Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sekretaris Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI, Pdt. Gomar Gultom, M.Th., secara resmi menutup Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KGM-PGI) yang telah berlangsung sejak Rabu (27/3) sampai Sabtu, (30/3/2019).

    gomar_kgm2

    Suasana Sidang Sebelum Ibadah Penutupan KGM PGI 2019

    “Atas nama Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, di dalam pengasihan Tuhan, saya menutup Konferensi Gereja dan Masyarakat 2019, pada hari ini, di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus,” kata Pdt. Gomar Gultom disambut tepuk tangan semua yang hadir.

    Sebelumnya, dalam sambutan singkat, Sekum PGI ini menyampaikan ucapan terima kasih dari MPH PGI, kepada berbagai pihak yang telah bekerja keras untuk mensukseskan pelaksanaan KGM PGI 2019 di Manado Sulawesi Utara.

    Secara khusus, dengan segala kerendahan dan ketulusan hati, Pdt. Gomar Gultom memberi apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Gubernur Provinsi Sulawesi Utara, Bapak Olly Dondokambey, SE., yang dengan sepenuh hati mendukung kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan KGM PGI 2019.

    “Terima kasih kepada pemerintah provinsi Sulawesi Utara di bawah pimpinan Bapak Olly Dondokambey sebagai Gubernur, atas seluruh waktu, tenaga, pikiran dan dana yang dicurahkan, untuk pelaksanaan Konferensi Gereja dan Masyarakat,” katanya.

    “Terima kasih kepada Bapak Olly Dondokambey dan seluruh kepala dinas, kepala unit dan seluruh bagian-bagian di Provinsi Sulawesi Utara,” ujarnya lagi, memastikan betapa besar peran pemerintah provinsi Sulawesi Utara dalam KGM PGI 2019 ini.

    Gomar juga menyampaikan terima kasih kepada panitia pelaksana yang telah bekerja maksimal sehingga KGM PGI dapat berjalan dengan baik.

    “Kami juga berterima kasih kepada panitia, yang telah begitu mencurahkan seluruh upaya dibawah pimpinan Pnt. Roy Roring sebagai ketua dan Drs. Asiano Kawatu sebagai ketua pelaksana,” ungkapnya.

    Dengan lengkap, ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, sesuai dengan perannya, disebutkan oleh Pdt. Gomar. Setelah itu, Pdt. Gomar Gultom secara jelas, padat dan singkat menjelaskan kembali perjalanan DGI yang kemudian berubah nama menjadi PGI. Bagi Pdt. Gomar, perubahan yang terjadi pada DGI ke PGI merupakan sebuah revolusi.

    “1950-1984 adalah 35 tahun pertama, kita asik berkutat dalam pergulatan keesaan fungsional atau keesaan institusional. Dan tahun 1984 sesudah 35 tahun, gereja-gereja tiba pada sebuah revolusi pertama. Kalau boleh kita katakan, 35 tahun pertama kita tiba pada perubahan nama dan perubahan struktur serta perubahan tujuan PGI. Sekarang, dari 1984, 35 tahun kemudian, november yang akan datang, kita tiba pada 35 tahun kedua, revolusi apalagi-kah yang akan kita lakukan di Sumba?,” terangnya.

    “Banyak harapan ditujukan ke Sumba untuk sebuah revolusi. Apakah gerakan Oikoumene kita, akan berakhir seperti-seperti ini saja dari persidangan ke persidangan? Itu semua sangat tergantung dari hasil yang sudah kita sumbangkan disini,” terang Gomar lagi, mengkritisi sekaligus memotivasi peserta untuk semakin maksimal berkarya, memancangkan tonggak sejarah kedua, dalam perjalanan sejarah gerakan Oikoumene.

    Akhirnya Pdt. Gomar Gultom memberi apresiasi kepada peserta serta berharap, kasih dan berkat Tuhan menyertai apa yang telah dihasilkan KGM PGI 2019.

    “Terima kasih untuk kita semua, semoga Tuhan memberkati seluruh pekerjaan kita, menjadi kemuliaan hanya bagi nama-NYA dan menjadi berkat bukan saja bagi gereja-gereja di Indonesia, tetapi bagi seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia,” Ungkap Sekum PGI ini penuh harap.

    Sementara itu, sebelumnya dilakukan Ibadah Penutupan yang dipimpin Pdt. Zakarias Wahyu Widodo, M.Th., Sekretaris Jenderal Moderamen SAG Sulutteng. (RSO)

  • Hadapi Tantangan Bangsa dengan Optimisme dan Kebanggaan, Jadi Pesan Penting Presiden Jokowi Saat Silahturahmi Dengan Peserta KGM PGI 2019

    Hadapi Tantangan Bangsa dengan Optimisme dan Kebanggaan, Jadi Pesan Penting Presiden Jokowi Saat Silahturahmi Dengan Peserta KGM PGI 2019

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Sebagai bangsa dan negara besar, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan dan kekuatan yang patut kita banggakan. Namun demikian, di balik sebuah bangsa yang besar, terdapat tantangan yang juga besar yang harus dihadapi dengan optimisme, kebanggaan, dan produktivitas.
    “Jangan sampai ada yang mengecilkan arti negara ini, apalagi pesimistis. Enggak, kita harus optimistis. Negara ini memerlukan perjalanan besar lewat tahapan-tahapan besar untuk menjadi negara maju. Negara besar pasti tantangannya juga besar,” ujar Presiden Joko Widodo.
    Dalam acara silaturahmi dengan para peserta Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) X dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang berlangsung di Hotel Sutan Raja, Minahasa Utara, pada Minggu, 31 Maret 2019, tersebut Presiden Jokowi kembali mengingatkan bahwa negara kita sesungguhnya memiliki banyak kekuatan yang menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara besar.
    kgmpgi2
     Presiden Jokowi bersama Ketua MPH PGI Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang
    “Bangsa ini bangsa besar. Penduduk kita juga besar. Ekonomi kita, PDB kita, juga besar. GDP kita itu 45 persen dari GDP seluruh 10 negara ASEAN. Ini negara besar. Jangan kita lupa. Kita harus bangga terhadap negara ini,” tutur Presiden.
    Dijelaskan oleh Kepala Negara, saat ini Indonesia dan juga banyak negara lain bersiap menghadapi perubahan global seiring revolusi industri baru yang sudah di depan mata. Inilah salah satu tantangan besar yang menjadi tugas besar bersama untuk dapat merespons dan memenangkan persaingan di tengah perubahan itu.
    “Hati-hati dengan perubahan-perubahan ini. Bagaimana kita cepat menyikapi tanpa kehilangan karakter, kepribadian, dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Kita tidak bisa lagi mencegah. Tidak bisa lagi kita menghambat,” ucap Presiden.
  • PRESIDEN JOKOWI BERSILATURAHIM DENGAN PESERTA KONFERENSI GEREJA DAN MASYARAKAT

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Presiden Republik Indonesia bersilaturahmi dengan peserta Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) dan tokoh agama se Sulawesi Utara pada hari Minggu, 31 Maret 2019 di Convention Center Hotel Sutan Raja Jalan Manado – Bitung Minahasa Utara.

    Acara ini dihadiri oleh 4000 peserta yang terdiri dari peserta KGM, tokoh-tokoh agama se Sulawesi Utara serta aparat pemerintah.

    Dalam sambutannya Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengucapakan terima kasih kepada Presiden Jokowi atas perhatiannya ke Sulawesi Utara. Pembangunan infrastruktur dan pengembangan wisata telah memajukan provinsi Sulut. Berharap besok akan meresmikan asrama mahasiswa IAIN dan UKIT Tomohon.

    Sementara itu, dalam laporannya, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Pdt. DR. Henriette Hutabarat Lebang mengucapkan selamat datang kepada presiden RI dan terima kasih atas kesediaan menghadiri KGM. Disebutkan bahwa KGM ini untuk menggumuli persoalan bangsa dan bagaimana gereja memahami kehadirannya dalam masyarakat majemuk.

    KGM membahas membahas 4 konteks pergumulan bangsa yaitu krisis kebangsaan, krisis ekologis, krisis keesaan gereja dan tantangan digital.

    Gereja harus mewujudnyatakan kehadirannya di Indonesia sebagai bagian dari bangsa Indonesia dalam merawat keutuhan bangsa berlandaskan Pancasila dan UUD 45.

    Gereja harus berpihak kepada kelompok rentan dan bersama pemerintah dan lintas iman, gereja harus berkolaborasi secara aktif, kritis dan realistis dan turut dalam menjaga keutuhan alam.

    Dalam menghadapi revolusi industri 4.0 gereja perlu menyiapkan diri agar tidak gagap.

    Gereja dituntut memberdayakan umat, melakukan pendidikan politik untuk merespon politik identitas.

    Hasil KGM akan dibahas dalam Sidang Raya PGI di Sumba pada bulan November 2019 yang akab datang dan berharap Pak Jokowi bisa hadir.

    Presiden Joko Widodo dalam sambutannya mengatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan penduduk ratusan juta penduduk. Tuhan menciptakannya dengan berbagai keragaman. Kita bangsa besar dan harus bangga dan optimis mengelolanya karena negara ini memerlukan tahapan besar untuk menjadi negara maju.

    Lebih lanjut disebutkan bahwa perubahan dunia telah terjadi dan kita berada di revolusi industri 4.0. Semua negara negara gagap menghadapinya.

    Dampak revolusi 4.0 adalah 3000 kali lebih cepat dari revolusi industri pertama. Kita harus siap dan merespon secara cepat karena akan ada perubahan terhadap landskap politik, ekonomi, sosial dan budaya secara global.

    Kita harus sikapi tanpa kehilangan karakter diri sebagai bangsa Indonesia. Teknologi telah muncul di depan tetapi aturan regulasi belum ada. Keterbukaan informasi sudah sangat luas. Setiap individu sdh bisa membuat informasi apa saja bahkan tanpa kontrol.

    Jemaat harus tanggap terhadap perubahan ini. Jangan sampai ikut dalam pusaran politik ini yang memecah belah bangsa melalui konten tak bertanggungjawab.

    Lebih lanjut Pak Jokowi mengajak semua umat untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 17 April 2019. Pemilu ini membutuhkan biaya triliyunan dan Pemilu merupakan saat yang menentukan untuk arah negara yang kita cintai ini.

    Acara diakhiri dengan Doa Penutup oleh Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM Pdt. DR. Hein Arina. (HUMAS PGI/Irma Riana Simanjuntak)

  • Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom: Pleno Hari Ini Untuk Hasilkan Putusan Akhir KGM PGI

    Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom: Pleno Hari Ini Untuk Hasilkan Putusan Akhir KGM PGI

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Diskusi berbagai masukkan yang perlu disikapi bersama oleh gereja-gereja ke depan, sebagaimana tergambar dalam percakapan KGM PGI 2019, dan implikasinya bagi draft Dokumen Keesaan Gereja mewarnai pleno yang berlangsung di Balroom Niaranan 1 Hotel Sutan Raja, Airmadidi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (30/3/2019) hari ini.

    img_20190330_115622

    Ketum PGI Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang dan Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom, bersama Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Prof. Thomas Pentury

    Seperti diketahui, kemarin, Jumat (29/3), seharian penuh secara paralel peserta KGM-PGI mendiskusikan empat bidang, yaitu; Bidang Ekologi, Sosial dan Budaya; Bidang Sosial Politik; Bidang Ekonomi; dan Bidang Generasi Milenial dan Pasca Milenial.

    Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom mengatakan bahwa peserta KGM PGI disatukan dalam ruangan yang sama, untuk mendengar laporan-laporan dan usulan-usulan setelah hari jumat (29/3) kemarin, terpisah dalam empat cluster.

    “Para peserta mendengarkan laporan dari cluster-cluster, karena tidak semua peserta bisa mengikuti diskusi di cluster, karena di cluster itukan hanya seperempat bagian dari peserta yang ikut di setiap cluster,” jelasnya.

    “Oleh karena itu, semua peserta yang lain, yang ikut di cluster lain, harus mendengar apa laporan yang terjadi di cluster, isu-isu apa yang muncul, dan itu di dengar disini,” ujarnya lagi.

    Ditambahkan Sekum PGI, lewat pleno hari ini, akan merumuskan berbagai usulan sesuai empat bidang yang kemudian melahirkan rekomendasi untuk di bawa ke Sidang Raya PGI di Sumba.

    “Pleno hari ini diharapkan menghasilkan rekomendasi dari KGM terhadap isu-isu yang berkembang yang nantinya akan di bawa ke Sidang Raya di Sumba. Jadi tujuan sesi ini untuk menghasilkan putusan akhir dari KGM,” terang Pdt. Gomar Gultom.

    Sementara itu, Pleno hari ini dipimpin oleh para moderator/pendamping dari tiap kelompok atau cluster dengan moderator Pdt. Dr. Julianus Mojau. (RSO)

  • Peserta KGM PGI Ikut Ramaikan Acara Jalan Santai Pemilu Damai Tanpa Golput Pemprov Sulut dan FKUB

    Peserta KGM PGI Ikut Ramaikan Acara Jalan Santai Pemilu Damai Tanpa Golput Pemprov Sulut dan FKUB

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Menempuh jarak sekitar enam kilometer, tak mengurangi semangat peserta Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KGM-PGI)  untuk mengikuti acara jalan santai bertajuk pemilu rukun tanpa golput, yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara , Jumat (29/3/2019) pagi.

     jalan1

    Gubernur Sulut Olly Dondokambey saat membuka acara Jalan Santai Pemilu Damai Tanpa Golput

    Kegiatan yang langsung dipimpin Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey ini dimulai dari Bundaran Patung Soekarno, Jalan Soekarno, Minahasa Utara dan finish di kediaman Gubernur Sulut.

    “Ayo sama-sama jalan sehat agar badan kita sehat. Merdeka!,” ucap Olly singkat seraya mengangkat bendera start tanda dimulainya acara jalan sehat yang diikuti ribuan ASN dan THL dilingkungan Pemerintah Provinsi Sulut.

    Ditengah perjalanan, Gubernur diikuti semua peserta, berhenti sejenak untuk membubuhkan tanda tangan pada kanvas yang telah tersedia di pinggir jalan. Tanda tangan tersebut sebagai bentuk komitmen untuk ikut ambil bagian dalam pemilu 17 April nanti dan komitmen menjaga kerukunan dan kedamaian sekalipun berbeda pilihan.

    Jalan sehat yang dibuka dengan doa oleh Ketua FKUB Sulut, Pdt. Lucky Rumopa, berakhir di kediaman Gubernur. Peserta KGM-PGI pun, dijamu Gubernur Olly Dondokambey dengan berbagai makanan khas Sulawesi Utara untuk sarapan pagi atau “smokol” dalam bahasa manado.

     jalan3

    Sekum MPH PGI Pdt. Gomar Gultom ikut berbaur dengan rombongan KGM-PGI menikmati berbagai hidangan khas Sulut

    Tampak Ketum MPH PGI Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang dan Sekum MPH PGI Pdt. Gomar Gultom ikut berbaur dengan rombongan KGM-PGI menikmati berbagai hidangan khas Sulut di tempat VIP bersama Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.

    “Jalannya cape, tapi terbalas dengan sajian makanan khas Sulawesi Utara,” seloroh seorang peserta KGM-PGI yang berasal dari pulau Sumatera.

    Setelah mengikuti jalan santai pemilu damai tanpa golput dan sarapan pagi, seluruh peserta kembali ke Hotel Sutan Raja untuk melanjutkan acara KGM-PGI hari kedua. Sesuai rundown acara, kegiatan sepanjang hari ini, Jumat (29/3/2019) akan diisi dengan diskusi kelompok yang dibagi dalam 3 bidang, yaitu; bidang sosial ekologi dan budaya, bidang generasi milenial dan pasca milenial, dan bidang sosial politik. (RSO)

  • PGI Bersama FKUB Sulut Gelar Talkshow Pemilu Damai Tanpa Golput

    PGI Bersama FKUB Sulut Gelar Talkshow Pemilu Damai Tanpa Golput

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Ditengah padatnya acara Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KGM-PGI), Pimpinan PGI bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut  mengelar Talk Show pemilu damai tanpa golput, Kamis (28/3/2019) malam, di Ruang Maakaroya Lt. 1 Sutan Raja Hotel, Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

    Di momen itu para pemuka agama menegaskan komitmen dan harapannya pemilu 2019 berlangsung aman, damai, rukun dan tanpa golput. KH. Rizali Muh Noor, Wakil Ketua FKUB perwakilan agama Islam mengatakan bahwa megikuti aturan-aturan yang ada akan membuat pemilu berlangsung damai, rukun dan terhindar dari pertentangan, percekcokkan dan fitnah.

    “Sangat tepatlah kita harus mengikuti aturan-aturan dalam pemilu itu sendiri, untuk kedamaian, kerukunan dan keberhasilan,dan menghindari dari pada pertentangan, percekcokkan, fitnah dan sebagainya. Dalam petunjuk Al- Quran, bahwa Allah mengingatkan kita jangan berbuat dosa dan bermusuh-musuhan. Itu jelas!,” ungkapnya.

    Terkait komitmen untuk tidak Golput, Wakit Ketua FKUB Sulut ini menegaskan komitmen umat Islam khususnya NU untuk menggunakan hak suaranya pada Pemilu 17 April nanti.

    “Kami dari NU secara khusus mendukung bahkan mewajibkan kita mencoblos pada hari H. Ini kewajiban kami dan sudah ada fatwa untuk itu, untuk semua umat Islam, untuk semua umat Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

    Hal yang sama juga disampaikan perwakilan umat Konghucu, Pon Riano Baggy. Dikatakannya bahwa agama Konghucu, Pemilu untuk memilih pemimpin yang terbaik merupakan suatu keharusan bagi umatnya.

    “Suara rakyat adalah suara Tuhan, jadi Pemilu harus dilakukan. Seorang pemimpin yang terpilih akan menjadi  milik semua, untuk kepentingan umum. Jadi mengikuti Pemilu adalah suatu keharusan dan ketika seorang menjadi pemimpin, dia harus menjadi milik semua golongan, menjadi milik rakyat indonesia. Dalam ajaran Konghucu, kalau negara dalam keadaan goncang, kita tidak boleh santai, jadi harus ikut berpartisipasi sebagai warga negara,” ujar Pon Riano yang juga Wakil Ketua FKUB Sulut ini.

    Adapun perwakilan Katolik Emmy Lumintang Senewe , Bendahara FKUB Sulut mengatakan, soal komitmen umat Katolik dalam Pemilu 2019 lewat himbauan Uskup supaya jangan golput sebagai seorang warga negara, dan umat Katolik.

    “Himbauan Bapak Uskup Manado, supaya jangan golput sebagai warga negara dan seorang Katolik. Laksanakan pemilu dengan baik dan jujur dan memilih pemimpin jangan lihat partainya tapi pilih sesuai hati nurani. Pesan kepada umat Katolik supaya selalu mensukseskan pemilu,” terangnya.

    Tak ketinggalan Honny Lionardhy, Perwakilan Umat Budha, yang juga Wakil Ketua FKUB menyampaikan harapannya agar dunia selalu damai dan para pemimpin berlaku tulus.

    “Dalam ajaran Budha semoga dunia damai dan pemimpin yangg berlaku lurus. Golput tidak dianjurkan dalam Agama Budha. Pesta harusnya kita bergembira, bukannya dipenuhi rasa takut dan kecemasan. Pilihlah pilihan kita dengan menjaga toleransi. Hoaks dan money politik dihindari,” kata dia.

    Sekretaris FKUB, Tenny Assa dari KGPM, mengatakan, pemilu harus berjalan rukun, beda pilihan boleh tapi semangat persatuan harus dijaga.

    “Kita boleh berbeda pilihan tapi tetap menjaga kerukunan. Pemilu berlangsung aman dan damai dan akhirnya kita memilih sesuai keinginan,” ungkap dia.

    Dari perwakilan Gereja-Gereja Pentakosta/Karismatik menyampaikan harapan yang sama khususnya peran tokoh-tokoh agama untuk menjadi corong menolak isu-isu yang bersifat intoleransi mencederai bangsa dan bisa tercerai berai.

    Turut memberi sumbang pikiran, Ketua Sinode GMIM Pdt. Hein Arina menyatakan komitmen GMIM yang terlihat dari berbagai seminar, pembekalan-pembekalan yang telah dilakukan kepada para pelayan khusus, terkait hubungan gereja dan politik.

    Sementara itu, Ketua FKUB Sulut, Pdt. Lucky Rumopa menyatakan kesiapan FKUB sebagai mitra pemerintah untuk berpartisipasi menjaga pemilu rukun, aman, damai dan berintegritas tanpa golput. Menurutnya pesan-pesan rukun dan damai harus terus dilakukan karena  ada indikasi ancaman terhadap toleransi dan kerukunan beragama.

    “Pemilu 2019 ini tensi amat naik, begitu kuat! Sehingga FKUB sebagai bagian dari pemerintah ikut berpartisipasi menjaga pemilu rukun, aman damai tanpa golput. Marilah kita sama-sama terus menyampaikan kepada umat supaya pemilu dapat berlangsung aman damai dan tentram,” ajaknya kepada semua tokoh agama yang hadir.

    Pada bagian akhir, mewakili MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom memaparkan beberapa alasan mengapa tidak boleh golput pada pemilu tahun ini. Menurut Sekum PGI ini, memilih bukan hanya soal hak tapi juga sebuah kewajiban, sehingga semestinya rakyat harus hadir.

    “Ketidak hadiran saat pencoblosan berisiko terhadap dua kemungkinan; pertama, akan terpilih orang yang kurang baik. Oleh karena itu kita harus usahakan hadir untuk memilih. Resiko kedua bila tidak hadir adalah, kemungkinan surat suara yang mustinya kita pakai, mustinya kita coblos, itu disalahgunakan oleh oknum-oknum lain. Membiarkan kecurangan, membiarkan penyalahgunaan itu sama dengan ikut berpartisipasi dalam penyalahgunaan itu,” tegasnya.

    “Membiarkan kecurangan, membiarkan penyalahgunaan itu sama saja dengan ikut berpartisipasi dalam penyalahgunaan itu! Jadi ketidak hadiran kita di bilik pencoblosan, sesungguhnya  juga sedang membiarkan diri terlibat dalam proses kecurangan  dalam pemilu,” tegas Gomar lagi, mengingatkan agar semua warga ikut berpartisipasi dalam pemilu dan tidak golput.

    Tanya jawab dan clossing statement menjadi bagian penutup dari talkshow “Pemilu Aman, Damai, Rukun Tanpa Golput” yang dipandu oleh Humas PGI, Irma Riana Simanjuntak. (RSO)