Category: Liputan

  • Ketum MPH PGI Dan Gubernur Sulut Buka KGM PGI

    Ketum MPH PGI Dan Gubernur Sulut Buka KGM PGI

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Ketua Umum MPH PGI, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang bersama Gubernur Sulut Olly Dondokambey secara resmi  membuka Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KGM-PGI), hari ini, Kamis (28/3/2019) di Convention Hall Sutan Raja Hotel, Airmadidi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

    img_20190328_140352

    Ketum MPH PGI Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang dan Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom saat prosesi ibadah pembukaan

    KGM PGI yang akan berlangsung sampai hari Minggu (31/3/2019), mengambil tema, “Aku adalah yang awal dan yang akhir” dan Sub Tema, “Bersama seluruh Warga Bangsa, Gereja memperkokoh NKRI yang demokratis, adil dan sejahtera bagi semua ciptaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.

    “Dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia di buka. Kiranya IA menolong, memimpin dan menyertai kita,” sebut Henriette, sambil memukul palu disaksikan Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Bupati Minahasa selaku Ketua Panitia Roy Roring.

    Dalam sambutan singkatnya, Henriette mengungkapkan bahwa KGM PGI yang diselenggarakan lima tahun sekali, merupakan persiapan menuju Sidang Raya PGI yang akan diselenggarakan di Sumba.

    “Banyak isu nasional yang harus di bahas, untuk itu KGM PGI ini dilaksanakan,” ungkapnya.

    Iapun berharap Konferensi Gereja dan Masyarakat PGI bisa menghasilkan hal-hal yang baik untuk di bawa ke Sidang Raya PGI di Sumba.

    Pemukulan tetengkoren dilakukan oleh Henriette bersama Gubernur Sulut Olly disaksikan Ketua Panitia Roy Roring.

    Sementara itu, dalam sambutannya Gubernur Olly Dondokambey berharap peserta KGM PGI mendoakan Sulawesi Utara yang dijuluki Bumi Nyiur Melambai, namun kondisi para petaninya sedang dalam kesulitan.

    Menurut Olly, pelaksanaan KGM PGI di Sulut bukanlah sebuah kebetulan, oleh karenanya ia berharap dukungan doa dari tokoh-tokoh gereja yang hadir, sehingga ada solusi yang baik dari Tuhan untuk masyarakat Sulawesi Utara.

    Adapun Ibadah yang mengawali sesi pembukaan Konferensi Gereja dan Masyarakat PGI ini, dipimpin oleh Pdt. Dr. Hein Arina, M.Th., Ketua Sinode GMIM yang mengambil nats pokok Injil Matius 24:27-44. (*)

  • Ketum MPH PGI Sampaikan Terima Kasih Kepada Gubernur Sulut Olly Dondokambey

    MANADO, WARTANASRANI.COM – Sebuah surprise kita diterima di tenda –tenda merah putih, menjadi pernyataan awal Ketua Umum Majelis Pekerja Harian PGI, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang saat memberi sambutan singkat sebelum memimpin doa ramah tamah Welcome Dinner Gubernur Sulawesi Utara dengan peserta Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), malam ini, Rabu (27/3) di Kawasan Mega Mas Manado, Sulawesi Utara.

    img_20190328_080057

    Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom duduk bersama Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw

    Menurut Henriette, tenda-tenda merah putih yang terpasang indah di kompleks Mega Mas Manado, telah mengingatkan peserta KGM PGI tentang negara Pancasila Indonesia dengan semangat Bhineka Tunggal Ika nya.

    “Dengan tenda-tenda merah putih diawal Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah mengingatkan kita, bahwa kita hadir dalam negara Pancasila, dengan merah putih dalam semangat Bhineka Tunggal Ika,” terangnya.

    Lebih lanjut Henriette memberi apresiasi kepada pemerintah provinsi Sulawesi Utara atas sambutan yang baik sebagai tuan rumah KGM PGI 2019.

    “Atas nama Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI, mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Utara . Bapak Gubernur, Bapak Olly Dondokambey dan Bapak Wakil Gubernur, Bapak Steven Kandouw, bersama-sama dengan semua panitia KGM. Panitia Pengarah Bapak Olly Dondokambey, Ketua Panitia Harian Bapak Roy Roring Bupati Minahasa,” ungkap Henriette.

    Tak ketinggalan, Ketum MPH PGI ini menyampaikan terima kasih kepada tiga belas sinode am gereja-gereja di Sulawesi Utara-Tengah yang telah bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara KGM PGI yang berlangsung lima tahun sekali.

    “Kita semua mengucapkan terima kasih, adalah sinode am gereja-gereja di Sulawesi Utara dan Tengah yang mempunyai tiga belas gereja anggota ini. Saya mencoba menghafal; GMIM, GEMIBOM, Gereja Protestan Indonesia Gorontalo, GPIB, GKST, GEMPU, KGPM, GEMIST, GERMITA, mungkin masih ada yang saya lupa katakan, tapi tiga belas gereja anggota disini, terima kasih banyak atas kesediaan menjadi tuan rumah dari konferensi Gereja dan masyarakat ini,” ungkap Henriette tulus.

    Sementara itu, acara Welcome Dinner ini, dihadiri juga oleh Sekum Pdt. Gomar Gultom yang terlihat duduk bersama Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Wakil Gubernur Steven Kandouw dan Bupati Minahasa Roy Roring. (*)

  • KGM PGI Siap Digelar, Peserta Mulai Berdatangan Di Hotel Sutan Raja Airmadidi

    KGM PGI Siap Digelar, Peserta Mulai Berdatangan Di Hotel Sutan Raja Airmadidi

    AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Para peserta mulai mendatangi tempat pelaksanaan Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Hotel Sutan Raja, Kabupaten Minahasa. Menurut rencana KGM PGI ini akan dibuka esok, Kamis (28/3), oleh Gubernur Sulawesi Utara, Bapak Olly Dondokambey, SE. kgm4

    Registrasi peserta KGM PGI

    Disampaikan Beril Huliselan, M.Th., PIC KGM PGI bahwa sebelum pembukaan besok (28/3) , malam ini (27/3), akan ada makan malam bersama peserta dan Gubernur Sulawesi Utara Bapak Olly Dondokambey.

    “Direncanakan peserta KGM PGI akan disambut Gubernur Sulut, Olly Dondokambey,SE., dengan makan malam bersama. Namun untuk kepastiannya, menunggu rapat dengan panitia lokal sore ini,” ungkap Beril Huliselan.

    “Untuk finalisasi rundown acaranya jam tiga ini. Saya belum dapat informasi dari panitia lokal siapa yang buka acara ini, tapi yang pasti Gubernur yang buka, karena Gubernur ketua panitianya. Setelah jam 3, kita dapat clear acaranya seperti apa. Bahkan nanti malam, rencananya ada gala dinner Gubernur dan peserta KGM PGI,” ungkap Beril juga.

    Terkait acara pembukaan, Beril mengungkapkan bahwa pembukaan akan ramai karena selain peserta, akan hadir mitra-mitra PGI dan aparat sipil Pemda.

    “Peserta ada sekitar 250, tapi diperkirakan acara pembukaan bisa ramai karena ada aparat-aparat sipil Pemda yang hadir, juga ada mitra-mitra PGI yang ikut datang. Mungkin sekitar 400-san yang hadir pembukaan, tapi yang resmi terdaftar 250,” terangnya.

    Sementara itu, dari informasi yang diperoleh, dari jumlah peserta yang terdaftar sekitar 250 orang, sampai siang tadi (27/3), baru 15 orang yang telah melakukan registrasi. Namun perkiraan panitia sore ini, seluruh peserta sudah ter-registrasi.

    “Peserta yang mendaftar ada sikitar 250, Sejauh ini baru 15 orang yang melakukan registrasi, tapi perkiraan kami sore hari sudah semuanya registrasi,” ungkap Herman, panitia bagian registrasi.

    Adapun KGM PGI akan dihadiri Ketua Umum PGI Henriette T. Hutabarat-Lebang, Sekretaris Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, Pdt. Zakarias Widodo dan seluruh perwakilan gereja di Indonesia ini, akan berlangsung dari tanggal 28-31 Maret 2019. Sementara KGM PGI mengambil tema “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir” berdasarkan Kitab Wahyu 22:12-13 dengan sub tema, bersama seluruh warga bangsa, gereja memperkokoh NKRI yang demokratis, adil dan sejahtera bagi semua ciptaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (RSO)

  • Sidang MPH PGIW DKI Jakarta Hadirkan Mantan Ketua MK Prof. Jimly Asshiddiqie

    Sidang MPH PGIW DKI Jakarta Hadirkan Mantan Ketua MK Prof. Jimly Asshiddiqie

    CISARUA, WARTANASRANI.COM – Diawali Ibadah pembukaan yang dilayani Pdt. Jenny Karosekali, S.Th., Sidang Majelis Pekerja Harian Persatuan Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta, di Hotel Grand Prioritas, Puncak Bogor Jawa Barat ,hari ini, Selasa (19/03) di buka secara resmi.

    Adapun Sidang MPL PGIW DKI yang dihadiri 47 utusan dari 65 gereja anggota PGIW DKI Jakarta, menampilkan pembicara utama, Prof. Jimly Asshiddiqie, SH.

    UUD 1945 adalah dasar negara yang terbaik di dunia. Sayangnya sistem penegakan hukum di Indonesia tidak linier atau sejalan dengan dasar negara. Sebab pola penegakan hukum dengan metode pemenjaraan di lembaga permasyarakatan justru tidak membuat lebih baik, ungkap Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H pada sesi pembukaan Sidang MPL PGIW DKI Jakarta tahun 2019.

    “Saya kira sistem penegakan hukum lewat lembaga penjara, bukan semakin baik, tapi semakin jelek. Menurut data sebanyak 30 persen baik, ada 30 persen ketika keluar dendam sementara 30 persen berikutnya menjadi semakin besar kejahatannya. Contoh yang tadinya hanya jadi pemakai narkoba jadi penyebar,” tutur mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

    Dikatakan Guru Besar UI ini, sebenarnya yang paling efektif misalnya jika pegawai ASN kedapatan narkoba langsung sanksi di pecat.

    “Tidak perlu dipenjarakan karena di dalam pasti beberapa kali dapat remisi. Itu sudah pasti tidak membuat kapok atau jera. Makanya sanksinya di pecat,” tegas tokoh ICMI ini.

    Pembicara kedua, Pdt. Dr. Albertus Patty, menyoroti pentingnya keugaharian dalam hidup. Mengutamakan hidup dengan sederhana atau tidak. Bahkan menurut Ketua PGI ini, pemerintah sangat andil dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

    “Kalau sekarang harga BBM di Papua sama dengan di seluruh Indonesia, itu adalah kebijakan dari Presiiden Jokowi. Pemerintah sangat berperan besar dalam minciptakan pemerataan kesejahteraan,” papar pendeta GKI ini.

    Sementara itu, dalam rapat pembukaan, Ketua PGIW DKI Jakarta, Pdt. Manuel Raintung membacakan kehadiran peserta dan sudag kuorum, kemudian dilanjutkan membahas tata tertib acara persidangan oleh Pdt. Ferry Simanjuntak selaku sekretaris PGIW DKI Jakarta. Rapat dihadiri langsung Moderaman GBKP Pdt. Agustinus Purba selaku host atau tuan dan nyonya rumah. Acara akan berlangsung selama tiga hari. (*)

  • Bahaya, Jika Lemah Dalam Pemberantasan Narkoba, Indonesia Dikhawatirkan Mengalami Lost Generation

    Bahaya, Jika Lemah Dalam Pemberantasan Narkoba, Indonesia Dikhawatirkan Mengalami Lost Generation

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba Nasional (FOKAN), Jeffry Tambayong, mengatakan Indonesia dikhawatirkan akan mengalami lost generation di masa yang akan datang bila penyalahgunaan narkoba tidak segera diberantas secara menyeluruh. Hal ini dikatakan Jeffry berkaca dari sejarah negeri Tiongkok yang dikalahkan Inggris tanpa melalui peperangan senjata, melainkan menggunakan jenis Narkoba yang populer ketika itu, yakni candu.

    “Karena kalau tidak (diberantas), percaya kepada saya ke depan ini kita akan menghadapi lost generation. Jadi kita siap-siap kaya China waktu itu kalah sama Inggris karena perang candu,” ungkap Jeffry ketika berjumpa dengan awak PEWARNA Indonesia di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu malam (11/03/2019).

    Berdasarkan pengamatan pendiri Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM} ini, ada fakta yang mengejutkan. Dikatakannya bahwa ancaman lost generation yang dimaksud bukanlah sekedar isapan jempol belaka, melainkan telah menunjukan tanda-tanda nyata di berbagai wilayah di Indonesia, dan terjadi saat ini.

    “Sekarang di pedalaman, orang-orang di pedalaman, petani-petani kalau nggak pakai sabu  nggak bisa kerja. Nelayan-nelayan di Pantura itu kalau nggak pakai sabu, rata-rata baik di Belawan, Bitung, itu para nelayan bisa patungan-patungan. Jangankan itu, anak-anak tangkapan Polres, anak tukang bajaj, tukang siomay yang dikirim ke kita (GMDM), mereka patungan perorang 50 ribu untuk nyabu bareng,” ungkapnya dengan nada prihatin.

    Jeffry yang datang bersama dengan aktivis muda anti narkoba, Richard Nayoan, kemudian memaparkan bahwa saat ini proses pengungkapan kejahatan narkoba belum menyentuh angka 10 persen jika dibandingkan dengan volume peredarannya. Pandangan itu disampaikan berdasarkan data yang dirilis oleh mantan Kepala BNN, Komjen. Pol. (Purn) Budi Waseso alias Buwas.

    “Karena waktu sebelum lengser pak Buwas (Komjen. Pol. Budi Waseso) bilang kurang lebih 350 sampai 600 ton sabu-sabu yang beredar. Nah sedangkan pak Arman Depari (Deputi Bidang Pemberantasan BNN) tangkap kurang lebih 5 ton, belum lagi Mabes Polri. Katakanlah kita anggap besarnya 10 ton, itu berarti tidak sampai sepuluh persen yang beredar bisa ditangkap,” ungkapnya.

    Kondisi itu menurut Jeffry ikut diperparah dengan masih adanya oknum dari instansi penegakan hukum yang bermain mata dengan para Bandar. Belum lagi minimnya pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang melebihi daya tampung semakin menjadikan Lapas sebagai tempat yang cukup “aman” bagi jaringan pengedar.

    “Kemarin kan pak Arman tangkap 1,5 ton, 200 kg Sabu di luar, tetapi dikendalikan di jaringan Lapas. Tapi saya mengerti mungkin tak bisa ditangani semua oleh orang Lapas karena kapasitas. Contoh di Cipinang seribu (daya tampung tahanan), tapi sekarang sudah empat ribu lima ratus. Siapa yang bisa jaga (jumlah) tersebut? Impossible bisa menjaga itu semua. Jadi ya beberapa Bandar lebih senang berada di Lapas karena mereka lebih gampang, nggak takut ketangkep,” ujarnya.

    Sikapi Dengan Ketegasan Hukum

    Dengan tergolongnya penyalahgunaan narkoba sebagai kejahatan luar biasa, Jeffry mengatakan tindakan tegas dengan menghukum mati Bandar adalah harga yang harus dibayar untuk menciptakan efek jera bagi para pelaku kejahatan ini. Kalau pun ada pihak yang memandang hukuman mati sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), Jeffry kemudian mengajak publik untuk melihat dengan kacamata yang lebih luas bahwa peredaran gelap narkoba telah merampas hak asasi para korban dan keluarga mereka.

    “Banyak orang tua yang kehilangan anak mereka, para istri yang kehilangan suami, atau pun kehilangan saudara yang mati karena narkoba. Sekarang justru mereka (keluarha korban) bangkit melawan dan menjadi yang terdepan untuk mendukung hukuman mati terhadap Bandar,” jelasnya lebih lanjut.

    Lebih dalam Jeffry berkata Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2018 tentang P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba) yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo telah memperkuat landasan hukum dalam melakukan penindakan penyalahgunaan narkoba.

    “Tetapi menurut saya, kan pak Jokowi sudah mengeluarkan Inpres (Instruksi Presiden) nomor 6 tahun 2018 tentang P4GN yang leading sectornya BNN. Kenapa Inpres ini timbul? Karena persoalan narkoba tidak bisa tertangani lagi, harus melalui penanganan dari hilir sampai hulu, begitu. Nah ini ambil saja kebijakan Pemerintah, orang yang sudah ditetapkan, sudah mengajukan PK satu-dua kali tembak mati saja sudah. Tetapi Jokowi harus ada (sebagai) Panglima di depan, artinya harus berani,” tutup Jeffry Tambayong.

  • PGI Undang Presiden Jokowi Hadiri Konferensi Gereja Dan Masyarakat Di Manado

    PGI Undang Presiden Jokowi Hadiri Konferensi Gereja Dan Masyarakat Di Manado

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Presiden Joko Widodo pada Selasa, 5 Maret 2019, menerima pengurus Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Pertemuan berlangsung pada pukul 11.15 WIB di Istana Merdeka, Jakarta.

    Kepala Negara dalam pertemuan tersebut didampingi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana.

    Sementara dari PGI hadir Henriette Lebang selaku Ketua Umum PGI beserta 14 orang lainnya dalam kepengurusan PGI.

    “Kami datang menyampaikan dan mengundang beliau untuk menghadiri Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) yang akan diselenggarakan di Manado pada tanggal 28-31 Maret (2019),” ujar Henriette menjelaskan maksud kedatangan.

    KGM ini digelar untuk menghimpun pandangan-pandangan dari peserta konferensi atas berbagai perkembangan yang muncul di Indonesia dalam rangka berpartisipasi aktif membangun bangsa Indonesia.

    Selain itu, PGI juga menyampaikan dukungannya bagi kesuksesan pemilihan umum presiden dan legislatif tahun 2019 ini. PGI berharap agar pemilu ini dapat berlangsung dengan aman dan damai.

    “Sama-sama kita datang ke TPS untuk menentukan pemimpin kita di masa depan yang akan membawa bangsa kita ke arah damai sejahtera, ke arah situasi yang lebih baik bagi segenap warga masyarakat,” tandasnya. (*)

  • Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Prof. Dr. Thomas Pentury Resmikan Kampus Baru STT Ekumene Jakarta

    Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Prof. Dr. Thomas Pentury Resmikan Kampus Baru STT Ekumene Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Bertempat di Mall Artha Gading lantai 5, tepatnya di ruang serba guna atau Function Hall GSKI, Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Thomas Pentury. M. Si., meresmikan Kampus Baru Sekolah Tinggi Theologi Ekumene (STTE), Kamis (28/2).

    img_20190301_112140

    Sekolah Tinggi Theologi Ekumene (STTE) yang di pimpin Dr. Erastus Sabdono sebagai ketua merupakan penyempurnaan dari Sekolah Tinggi Theologi Bethel (STTB) yang bertempat di Pekan Baru Riau. Seperti diketahui, pada tahun 2012, Sekolah Tinggi Theologi Bethel (STTB) berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Theologi Ekumene (STTE).

    Saat peresmian Sekolah Tinggi Theologi Ekumene yang di hadiri oleh para Guru besar, dosen dan alumni STT Ekumene Jakarta, Prof. Dr. Thomas Pentury. M. Si., menyatakan harapannya agar kedepan STT Ekomene dapat ikut berperan serta dalam membangun kepribadian anak bangsa yang berkarakter dalam mengasihi Tuhan dan mengasihi bangsanya serta turut membangun bangsa dalam bidang pendidikan terutama mencetak pribadi-pribadi berkarater kebangsaan yang sesuai dan setia kepada Pancasila dan UUD 1945.

    STT Ekumene saat ini menempati kampus barunya di gedung Mall Artha Gading lantai 3 kawasan Kelapa Gading. Adapun jurusan yang ada dalam kurikulum STT Ekumene adalah; Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S1 PAK), Progran Studi Magister Pendidikan Agama Kristen (S2 PAK), Program Studi Magister Teologi (S2 Teologi), dan Program Studi Doktor Teologi (S3 Teologi).

    Dalam perjalanan pengembangan dan peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan, STT Ekumene Jakarta mengikuti standar akreditasi yang diselenggarakan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN – PT) sebagai lembaga yang ditugaskan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk menilai kualitas penyelenggaraan pendidikan.

    STT Ekumene Jakarta berhasil mendapatkan nilai lulus terakreditasi penyelenggara pendidikan program studi (prodi) S1 PAK pada tahun 2014, Prodi S2 PAK pada tahun 2015, dan prodi S3 Teologi pada tahun 2017.

    Adapun pengelolaan STT Ekumene Jakarta mengalami perubahan yayasan yang menaunginya, dari Yayasan Jalan Lurus menjadi Yayasan Jalan Kebenaran. Perubahan yayasan ini turut mempengaruhi susunan pengurus dan pemimpin STT Ekumene Jakarta. Kepemimpinan STT Ekumene Jakarta saat ini diketuai oleh Dr. Erastus Sabdono. (DL)

  • BSK Hadir Untuk Membuat Laki-Laki Berfungsi Sebagai BSK

    BSK Hadir Untuk Membuat Laki-Laki Berfungsi Sebagai BSK

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda secara universal, yaitu; keretakan dalam keluarga (broken home), pencarian jati diri/keutuhan diri, pergaulan yang buruk, merosotnya nilai luhur dan moral akibat pengaruh perubahan nilai kehidupan (lingkungan/media), dan tidak memiliki tujuan hidup (visi) menjadi latar belakang lahirnya BSK (Bapa Sepanjang Masa). Hal ini disampaikan Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ (K) dalam konferensi pers setelah Rapat Kerja Bapa Sepanjang Masa yang berlangsung di Maple Meeting Room, Lantai 9, Mercure Jakarta Pantai Indah Kapuk, Jumat (15/2).

    img_20190215_165153

    Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ saat Conference Pers tentang BSK

    “Dari masalah-masalah itu, maka yang harus diupayakan tentunya dimulai dari keluarga. Karena fungsi keluarga itu seperti transmiter untuk memproses sesuatu, yang kemudian ditransmiter kepada masyarakat. Jadi kalau masyarakat itu jelek, sumbernys bukan dari luar masyarakat, sumbernya dari keluarga yang adalah anggota masyarakat. Cara berpikirnya kan begitu! Kota Jakarta jelek, sumbernya dari masing-masing keluarga yang tinggal di Jakarta,” tutur pendiri gerakan BSK ini.

    “Nah, atas dasar itu kemudian kami sangat teguh untuk memperbaiki atau mengembangkan kehidupan itu, mulai dari seorang laki-laki, yaitu laki-laki berfungsi sebagai bapak, yang kemudian kita sebut Bapa Sepanjang Kehidupan,” tambah Pdt. dr. Dwidjo Saputro.

    Lebih lanjut, Ketua Pokja Keluarga GBI ini menyebutkan visi yang ingin dicapai Bapa Sepanjang Kehidupan. “Jadi visi BSK (father for life) adalah setiap laki-laki menjadikan setiap laki-laki BSK bagi keluarga, masyarakat, kota dan bangsa. Ini visinya! Jadi ini yang akan diwujudkan,” tutur Pdt. dr. Dwidjo Saputro.

    Untuk mewujudkan visi ini BSK melakukan kegerakan mempengaruhi. Salah satunya antara lain kegiatan TFT (Training for Trainer) yang membekali anggota BSK. “Sampai saat ini kami sudah melatih 4.178 TFT hampir diseluruh Indonesia,” ungkap Pdt. Hengky So, M.Th., Ketua Bapa Sepanjang Kehidupan (BSK).

    Sementara itu, Rapat Kerja yang berlangsung sehari dari Pukul 10.00 sampai Pukul 16.00 Wib., diisi dengan pengarahan dan pembinaan oleh Ketua Pokja Keluarga GBI dan Pendiri Gerakan Bapa Sepanjang Kehidupan, Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ., Pengarahan dan Laporan Kerja Tahunan oleh Ketua BSK, Pdt. Hengky So, M.Th., Laporan Keuangan Tahunan BSK, Laporan Unlimited Godly Generation oleh Pdm. Antonius Sitompul, M.Th., dan Pembahasan Strategi dan Rencana Kerja BSK 2019 oleh Pdt. Togi Simanjuntak, M.A. Pada bagian akhir, diisi dengan sumbang saran dari peserta rapat kerja, foto bersama dan press conference.

    Hadir dalam Rapat Kerja ini, Ketua BSK Pdt. Hengky So, Sekretaris Ricky Rido Sinaga, Bendahara Bagwanto Antony, Deputi Organisasi Pdt. Kiki Rusmin, Deputi Networking Pdt. Togi Simanjuntak, Deputi Litbang Pdt. Antonius Sitompul, Katalis Jawa Barat Pdt. Yosef Antonius, Katalis Kalimantan Pdt. Ronny Taufik, dan Katalis Jakarta Banten Pdt. Roditus. (*)

  • Dies Natalis ke-33, STT IKAT Gelar Seminar Nasional

    Dies Natalis ke-33, STT IKAT Gelar Seminar Nasional

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Memperingati Dies Natalis ke-33, Sekolah Tinggi Teologia “IKAT” bekerjasama dengan Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (PERUATI) Jabodetabek menyelenggarakan Seminar Nasional di aula Kampus, Rempoa, Tangerang Selatan (11/02/2019). Seminar Nasional ini menghadirkan narasumber, Brigjen Pol. Martinus Hukom S.IK, Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 Anti Teror MABES POLRI, dan Vice President World Communion of Reformed Church (WCRC), Pdt. Sylvana Maria Apituley., Ph.D Cand.
    Sebagai pembicara pertama, Martinus mengupas soal Terorisme dan Radikalisme dalam Keindonesiaan Indonesia.
    Penjelasan seputar bahaya fanatisme sempit dan pola penyebaran radikalisme di Indonesia dan dunia menjadi awal paparannya. Menurutnya, radikalisme  menjadi pemicu dari sejumlah konflik bersenjata di dunia. Khususnya ketika pemahaman yang digunakan merupakan kebenaran suatu agama yang dipaksakan untuk berlaku mutlak bagi semua orang.
    Martinus juga mengingatkan bahwa keadaan itu pernah pula berlaku di tengah gereja, di masa abad pertengahan. Di mana siapa saja yang berbenturan dengan kebijakan gereja saat itu akan menerima atau diperhadapkan dengan hukuman sepihak.
    “Gereja punya pengalaman gelap ketika gereja berada di puncak kekuasaan,” ungkap Martinus.
    Sementara pembicara kedua, Vice President World Communion of Reformed Church (WCRC), Pdt. Sylvana Maria Apituley., Ph.D Cand., mengupas tema “Merawat dan Menjaga Indonesia yang Adil Makmur: Pengalaman dan Refleksi Teologis Feminis”. Dalam literasinya Sylvana menganalisis melalui perspektif gender terhadap fenomena terorisme yang terjadi di Tanah Air. Ia juga turut mengungkapkan keprihatinannya  terkait keberadaan kelompok radikal yang memanfaatkan kaum ibu, bahkan anak kecil sebagai media untuk menebar teror.
    “Kelompok radikal menggunakan tubuh perempuan dan anak sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka,” paparnya.
    Sylvana juga meminta agar gereja mewaspadai pola penyebaran radikalisme melalui platform media sosial. “Medsos jalur terbaik head to head penyebaran radikalisme di kalangan anak dan perempuan,” ungkapnya.
    Sylvana menambahkan bahwa orang Kristen harus mengedepankan sikap-sikap yang tidak antisosial. Menurutnya keterbukaan dan langkah membaur dengan masyarakat merupakan sebuah pilihan terbaik dalam menangkal laju penyebaran radikalisme.
    Tak ketinggalan, Sylvana juga memaparkan dari sisi hubungan internasional. Dikatakannya, sebagai anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia mengembang misi untuk ikut melaksanakan program pembangunan berkelanjutan (Suistanable Development Goal’s/SDG’s), di mana kelompok minoritas pun mendapatkan porsi yang setara di dalam pembangunan tersebut.
    “Setiap negara yang menjadi anggota PBB harus melaksanakan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Artinya tidak boleh ada yang tertinggal. Itu juga berarti kelompok minoritas pun harus menjadi subjek pembangunan,” kata lulusan STT Jakarta itu.
    Pada bagian akhir Seminar Nasional, Ketua STT “IKAT”, Pdt. Dr. Jimmy Lumintang, menyerahkan sertifikat kepada kedua narasumber. Hal menarik terlihat, sebelum rangkaian seminar berakhir, dimana moderator menyempatkan diri mengajak peserta yang hadir untuk berdiri dan memaklumatkan komitmen dalam berpancasila di kehidupan sehari-hari. “Indonesia rumah Kita bersama,” kata moderator. “Saya Indonesia, Saya Pancasila,” teriak seluruh peserta seminar. (*)
  • Presiden Berharap Media Arus Utama Pertahankan Misi Pencari Kebenaran

    Presiden Berharap Media Arus Utama Pertahankan Misi Pencari Kebenaran

    SURABAYA, WARTANASRANI.COM – Di tengah era digital dimana media sosial berkembang dengan masifnya, masyarakat pun disajikan dengan keberlimpahan informasi. Bahkan, saat ini setiap orang bisa menjadi wartawan dan bisa menjadi pemimpin redaksi, juga bisa menciptakan kegaduhan, membangun ketakutan, serta pesimisme.
    “Di tengah suasana seperti ini, saudara-saudara insan media arus utama, justru sangat dibutuhkan menjadi rumah penjernih informasi, dibutuhkan untuk menyajikan informasi yang terverifikasi, dan dibutuhkan untuk menjalankan peran sebagai communication of hope, dibutuhkan untuk memberi harapan kepada bangsa,” ucap Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2019 di Grand City Convention and Exhibition Hall, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu, 9 Februari 2019.

    Lebih lanjut Presiden juga mengatakan bahwa peran utama media kini semakin penting antara lain dalam mengamplifikasi kebenaran dan menyingkap fakta, terutama di tengah keganasan pasca fakta dan pasca kebenaran.

    “Kita wajib mengatasi dampak buruk gejala pasca kebenaran dan pasca fakta itu. Media arus utama diharapkan mampu menjaga dan mempertahankan misinya untuk mencari kebenaran, misinya untuk membangun optimisme,” kata Presiden.

    Di awal sambutannya, Kepala Negara menyampaikan bahwa sejalan dengan ekspansi jaringan internet, perkembangan media sosial juga melompat sangat tinggi. Saat ini, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta jiwa atau 54,68% dari total populasi.
    “Dari jumlah ini 87,13% mengakses layanan media sosial,” tutur Kepala Negara.
    Bahkan seringkali yang viral di media sosial biasanya menjadi rujukan dan bahkan tidak jarang menjadi rujukan media-media konvensional. Namun demikian, menurut Edelman Trust Barometer 2018, media konvensional atau media arus utama ternyata tetap lebih dipercaya dibandingkan dengan media sosial.
    “Saya sungguh bergembira dengan situasi ini, sangat bergembira. Dan selamat kepada saudara-saudara para insan media arus utama atas kepercayaan masyarakat terhadap bapak, ibu, saudara-saudara sekalian,” ucap Presiden.
    Dalam kesempatan tersebut, Presiden yang hadir didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, menyebutkan bahwa apabila pemerintah memaparkan tentang capaian pembangunan, tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan informasi jelas, ikut memanfaatkan capaian pembangunan yang ada, membangun optimisme, serta mengajak apa yang harus diperjuangkan bersama.
    “Kalau pemerintah aktif dalam membangun well-informed-society, ya janganlah terburu-buru itu dianggap sebagai pencitraan atau kampanye. Itu adalah bagian dari upaya membentuk masyarakat yang sadar informasi. Dan saya berharap media menjadi amplifier atas informasi tentang pembangunan, termasuk kekurangan yang harus kita benahi bersama-sama,” kata Kepala Negara.
    Oleh karenanya, Presiden mengajak pers untuk terus meneguhkan jati dirinya sebagai sumber informasi yang akurat bagi masyarakat, mengedukasi masyarakat, dan meneguhkan jati dirinya untuk tetap melakukan kontrol sosial, serta memberikan kritik konstruktif. Selain itu, Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah menjamin prinsip kemerdekaan pers dan kebebasan berpendapat.
    “Kebebasan yang dipandu oleh tanggung jawab moral, kebebasan yang beretika, dan kebebasan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran,” tutur Presiden.
    Di akhir sambutannya, Presiden tak lupa menyampaikan ucapan selamat kepada para insan pers nasional di seluruh Tanah Air.  Presiden juga memberikan apresiasinya kepada para penerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro.
    “Kepada rekan-rekan media yang hadir di sini, dan yang sedang bertugas di seluruh pelosok negeri. Saya sampaikan Selamat Hari Pers. Teruslah berkontribusi untuk kejayaan negeri kita tercinta,” ucap Presiden. (*)