Category: Liputan

  • Presiden Ingin Kebudayaan Menjadi Napas Kehidupan Bangsa

    Presiden Ingin Kebudayaan Menjadi Napas Kehidupan Bangsa

    Presiden Joko Widodo mengapresiasi banyak pelajar Indonesia yang berprestasi di berbagai ajang kompetisi nasional dan internasional. Bahkan mereka bukan berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Selasa 6 Februari 2018.

    Presiden menyebut  Made Radikia Prasanta dan Bagus Putu Satria Suarima, siswa SMA Negeri di Provinsi Bali. “Dari keluarga sederhana yang meraih penghargaan khusus dari American Meteorological Society tentang alat prediksi cuaca. Kemudian M. Naufal Giffary, siswa SMAN 1 Mataram, NTB, peraih emas dalam International Foundation for Art and Culture di Jepang 2017,” kata Presiden.

    Selain itu, Ahnaf Fauzy Zulkarnain siswa SDN Karangrejek 2 Kabupaten Gunung Kidul yang menemukan teknologi sederhana perontok jagung menjadi Peneliti Cilik Terunggul dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award 2016.

    “Prestasi-prestasi seperti ini memang harus dimunculkan dan diangkat agar anak-anak kita juga terpacu termotivasi untuk mengikuti teman-temannya yang memiliki prestasi-prestasi yang tadi saya sampaikan,” tutur Kepala Negara.

    Tapi, lanjut Presiden, dirinya juga masih menemukan hal-hal yang menyedihkan terkait dengan infrastruktur pendidikan karena masih banyak yang perlu dibenahi. Selain itu, anak-anak yang putus sekolah masih ada di beberapa daerah dan akses ke fasilitas-fasilitas pendidikan di daerah-daerah pedalaman masih buruk.

    Dari peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam proses pendidikan di Tanah Air.

    “Meninggalnya Guru SMA di Kabupaten Sampang Ahmad Budi Cahyono menjadi catatan besar kita ada apa ini? Kenapa ini terjadi?” ucap Presiden.

    Selain itu masih adanya aksi bullying antar-pelajar di beberapa daerah termasuk di Jakarta, tawuran antar geng sekolah di beberapa kota. “Ini harus menjadi perhatian kita semuanya,” tutur Presiden.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa anak-anak Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Teknologi harus digunakan untuk memperkaya kebudayaan  dan memperkuat kearifan lokal. “Jangan sampai kita kehilangan akar budaya kita dan justru anak-anak kita belajar lewat media sosial tentang hal-hal yang bukan budaya negara kita, Indonesia,” ujar Presiden.

    Oleh sebab itu, Presiden ingin agar kebudayaan menjadi napas dari kelangsungan hidup bangsa. “Menjadi darah kepribadian, menjadi mentalitas dan nilai-nilai kebangsaan anak didik kita,” katanya.

    Selain itu sistem pendidikan di sekolah, sistem pendidikan di masyarakat harus menjadi jantung dari kebudayaan kita. “Ekspresi seni dan budaya Indonesia jangan sampai tergeser dengan budaya-budaya asing yang belum tentu cocok dengan jati diri kita,” ujar Presiden.

    Kita harus bisa memastikan agar kebudayaan Indonesia menjadi sumber kekuatan, sumber persatuan, sumber energi bangsa Indonesia dalam memenangkan persaingan global. “Ini yang harus jadi jalan kebudayaan kita,” tutur Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

  • SDM Kunci Kemajuan Bangsa

    SDM Kunci Kemajuan Bangsa

    Kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah stabilitas sosial dan politik, manajemen pemerintahan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kreativitas dan inovasi dari SDM-nya. Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Selasa 6 Februari 2018.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan SDM di Indonesia. “Ini berada pada tanggung jawab yang besar sekali di pundak bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian yang hadir di sini,” ucap Presiden.

    Oleh karenanya Presiden mengingatkan pentingnya posisi pendidikan yang membangun watak Pancasila. Melalui pendidikan pula, kejujuran, kebersamaan, kesantunan, nilai dan budi pekerti pada anak-anak diajarkan.

    “Di sinilah posisi pentingnya pendidikan. Pendidikan yang mengajarkan daya juang, pendidikan yang membangun watak pembelajar, yang selalu belajar tanpa menunggu digurui, yang selalu berinovasi tanpa menunggu diajari,” tutur Kepala Negara.

    Itulah modal kita sebagai bangsa besar yang mampu memecahkan masalah-masalah di manapun. “Dan sekaligus mampu memenangkan kompetisi global,” ujarnya.

    Presiden mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak bisa menjamin kesejahteraan dan kesuksesan sebuah bangsa. Banyak negara maju justru tidak memiliki sumber daya alam (SDA), tapi sebaliknya banyak negara yang memiliki SDA melimpah didera kemiskinan, bahkan konflik dan perang saudara.

    “Sumber daya alam yang seringkali justru memanjakan dan membuat kita malas, mengalahkan daya juang, membuat kita lengah dan tidak mendorong kita semuanya untuk berinovasi dan berkreativitas,” ucap Presiden.

    Dalam kesempatan itu, Presiden mengingatkan bahwa pemerintah telah berusaha keras sekuat tenaga untuk meningkatkan pelayanan pendidikan, baik di pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) “Kita ingin berusaha menjamin akses pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu,” kata Presiden.

    Untuk itu dukungan anggaran dari Pusat ke Daerah juga terus ditingkatkan dan upaya untuk meningkatkan kualitas guru serta infrastruktur pendidikan terus dijalankan.

    Oleh karenanya, Presiden mengajak kepada semua peserta Rembuknas untuk tidak terjebak pada rutinitas karena sudah bertahun-tahun berjalan rutin tanpa ada sebuah pembaharuan, tanpa ada sebuah inovasi besar di dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.

    “Keberanian kita untuk membuat terobosan karena perubahan dunia sekarang ini berjalan begitu sangat cepat,” ucap Presiden.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

  • Kepala Staf Kepresidenan Sapa Milenial: “Jangan Lelah Produksi Konten Positif”

    Kepala Staf Kepresidenan Sapa Milenial: “Jangan Lelah Produksi Konten Positif”

    Jakarta, 6 Febrauari 2018, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengapresiasi anak-anak milenial yang sangat aktif memproduksi konten-konten positif melalui media sosial maupun dalam kehidupan yang nyata. Hal itu disampaikannya saat bertemu dengan puluhan anak-anak muda yang selama ini sudah berkiprah dan memanfaatkan media sosial untuk mengekspresikan ide-ide dan gagasannya, di Gedung Bina Graha, Jakarta.

    Beberapa aktivis media sosial hadir dalam acara ini antara lain Eka Gustiwana, Jesica Milla, Ayla Dimitri, Danny Syah Aryaputra, Vanesha Prescilla, Anggika Bolsterli, Melody Nurramdhani Laksani, Vikra Ijas, serta kakak beradik Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez, dan beberapa nama lain yang sangat populer sebagai influencer, endorser, maupun aktivis media sosial.

    Moeldoko memberikan gambaran bagaimana tantangan ke depan dalam dunia yang berubah sangat cepat. “Berbagai jenis pekerjaan akan menghilang, mulai dari perbankan sampai dengan manufaktur,”ujarnya. Teknologi informasi dan komunikasi yang dihadirkan oleh Revolusi Industri 4.0, lanjut Moeldoko, akan mengubah cara manusia berproduksi dan menghasilkan sesuatu. “Generasi seperti kalian-kalian ini, akan merasakan bagaimana teknologi akan menghimpit seluruh kehidupan manusia,” ujar Moeldoko mengingatkan.

    Mereka yang Bertahan

    Akan tetapi, Kepala Staf Kepresidenan juga memberikan panduan, bagaimana menghadapi perubahan tersebut. “Mereka yang bertahan adalah mereka yang berhasil membangun dirinya. Tidak cukup hanya itu, mereka yang berhasil adalah mereka yang berhasil membangun dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan melakukan hal-hal yang produktif,” ujar pria asal Kediri tersebut.

    Untuk itu, inovasi adalah salah satu jawabannya. “Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa UGM yang menemukan teknologi micro bubble untuk sistem perikanan. Setelah berdiskusi dan dimatangkan, teknologi tersebut kini sudah bisa masuk ke skala industri, dan dapat mempercepat pertumbuhan ikan-ikan menjadi lebih cepat,” ujarnya. Dengan teknologi tersebut, produksi ikan budidaya dapat ditingkatkan.

    Oleh karena itu, Moeldoko yang didampingi oleh Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menegaskan, “Tantangan nasionalisme bagi anak-anak muda ke depan bukan lagi mengangkat senjata, melainkan bagaimana ikut menyejahterakan masyarakat luas melalui inovasi dan produksi-produksi hal positif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.” Ia melanjutkan penegasannya dengan mengatakan bahwa kuncinya adalah bagaimana mendistribusikan apa yang kita punyai, apa yang kita mampu, untuk mewujudkan keadilan sosial di tengah-tengah masyarakat.

    Sementara itu Jaleswari menambahkan, Kantor Staf Presiden akan terus berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk menebarkan kebaikan dan hal-hal positif. Ia bercerita bahwa diskusi dan pertemuan semacam ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. “Ini sudah pertemuan ketiga, dan mudah-mudahan dengan kami memfasilitasi pertemuan semacam ini, lebih banyak anak-anak muda yang dapat terlibat dalam gerakan membangun hal-hal produktif.

    Sementara itu, ditanyakan perihal kekhawatiran dan keengganan anak-anak muda untuk terlibat dalam bidang politik, Moeldoko menjawab, “Dalam politik, kita seringkali hanya berfokus pada risiko. Padahal, dalam politik juga terdapat peluang-peluang. Oleh karena itu, yang paling penting adalah tetap berpikiran positif dan berbuat sesuatu, sekecil apapun, untuk membuat keadaan lebih baik.”

    Respons Milenial

    Ayla Dimitri, salah satu peserta diskusi dan juga tengah meneliti generasi milenial mengajak, “”Kita harus berkolaborasi untuk mengomunikasikan dan memberi motivasi kepada anak-anak muda, tentang kesiapan mereka untuk menghadapi kompetisi, kesiapan mental, supaya tidak gampang depresi. Karena banyak org tua kurang menyadari akan masalah itu.”

    Sementara itu, Vanesha Prescilla, pemeran Milea dalam film Dilan 1990 yang sedang populer menceritakan bagaimana film yang ikut dibintanginya dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak anak-anak muda lebih kritis dan terbuka. “Sosok Dilan dalam film sekarang menjadi tokoh publik yang diidam-idamkan generasi milenial. Dilan tidak hanya ditampilkan dengan menonjolkan karakter dan sifat yang terkesan negatif dengan kenakalan-kenakalannya.” Semangat bela negara, kepercayaan diri yang tinggi, yang muncul dalam sosok Dilan, menurut Vanesha dapat ditampilkan dengan cara kekinian yang disukai anak muda.

    Sementara Dany Syah Aryaputra yang kini mengelola web kolaboratif www.kitabisa.com mengutarakan, “Dari komunitas yang pertemuannya difasilitasi oleh Kantor Staf Presiden ini, kita jadi sering ketemu. Lalu muncul ide-ide dan kita sekarang sering berkolaborasi. Surya kolaborasi dengan Archi. Dan seterusnya. Banyak kegiatan yang terjadi. Kita sibuk bikin karya, itu akan sangat positif. Anak muda indonesia kehilangan sosok atau fitur yang layak ditiru. Jika anak-anak muda punya kesibukan, mereka nggak akan macam-macam.”

    Dany menambahkan, “Jika anak-anak muda dari berbagai kelompok dan komunitas sudah saling kenal, ketika tonggak kepemimpinan sudah beralih ke tangan anak-anak muda, kita sudah seperti kawan seperjuangan. Sudah saling kenal. Sudah nggak melihat seperti musuh.”

    Sementara itu Siwi, seorang remaja berlatar belakang keluarga Nahdlatul Ulama melihat, tantangan anak-anak muda hari ini justru lebih berat, karena dihadapkan dengan berbagai macam perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar. “Saya belum bisa membayangkan bagaimana nantinya saya sebagai ibu harus membesarkan dan memberikan pengertian kepada anak-anak saya,” ujarnya. Oleh karena itu, ia memilih untuk berkiprah dan berperan lebih aktif dalam berbagai literasi tentang bahaya radikalisme, ekstremisme, dan semacamnya.

    Dovi dan Jo da Lopez, kakak beradik yang juga Youtubers mengingatkan, berdasarkan temuan mereka, konten negatif itu menyebar empat kali lebih banyak dibandingkan konten positif. Oleh karena itu, mereka berdua mengingatkan untuk tak lelah-lelah membuat konten positif, persis seperti harapan Moeldoko kepada anak-anak muda tersebut.

  • Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

    Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Kepemimpinan millenial tidak hanya berfungsi memberi nasehat, perintah dan mandat pada bawahan, tetapi bagaimana memberi visi, misi, keterbukaan dan tujuan organisasi secara jelas dan komprehensif serta mampu memotivasi. Hal ini disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., dalam Kuliah Umum II STT Rahmat Emmanuel (REM), Jl.  Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapa Gading Jakarta Utara, Jakarta, jumat (2/2/2018).

    Suasana sesi tanya jawab – Kuliah Umum STT REM

    Dikatakan Ade Supandi bahwa, generasi millenial yang lahir antara tahun 1981-2000, saat ini sudah memasuki usia produktif. Mereka tidak hanya unggul dalam Iptek tapi sudah menjadi trendsetter dalam bidang sospol, bahkan generasi milenial merupakan generasi modern yang aktif bekerja, giat dalam penelitian, berpikir inovatif tentang organisasi, memiliki rasa optimisme, kemauan untuk bekerja dengan kompetitif, terbuka dan fleksibel.

    Ade juga mengingatkan bahwa millenial leadership sangat berhubungan dengan keteladanan, sehingga keteladanan menjadi faktor penentu bagi generasi muda untuk menyongsong masa depan mereka.

    “Millenial Leadership itu adalah bagaimana kita memberikan contoh kepada generasi muda. Millenial leadership itu bagaimana membangun generasi muda ini dengan inspirasi, dengan keteladanan untuk menyongsong masa depan mereka,” tegas Laksamana kelahiran Batujajar- Bandung, 26 Mei 1960 ini.

    Kuliah Umum yang mengusung tema, “Millenials Leadership” (Kepemimpinan Generasi Millenial), dengan moderator Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center), KSAL Laksamana Ade Supandi lebih banyak menekankan pada millenial leadership dari sisi militer.

    “Saya hanya akan memberikan bagaimana kita memahami konstelasi dalam leadership dalam Generasi Millenial ini dari sisi militer. Saya tidak akan bahas dari sisi ahli-ahli motivator ataupun inspirator,” ujar Kasal didampingi oleh Kadisdikal, Kadispenal dan Wadan Seskoal.

    Ditegaskannya bahwa kepemimpinan dalam militer tidak akan lepas dari tiga ranah, yaitu; ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah afektif/attitude atau sikap yang bersangkutan. Menurutnya seorang pemimpin harus memahami ketiga ranah ini.

    “Kapasitas kepemimpinan terdiri dari tiga elemen, yaitu; pengetahuan, ketrampilan dan karakter,” tegasnya.

    Lebih lanjut Ade Supandi menguraikan dengan lugas tentang asas kepemimpinan yang ada dalam TNI, yaitu; Taqwa, Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri handayani, Waspada purba Wasesa, Ambeg Pramana Arta, Prasaja, Satya, Gemi Nastiti, Belaka dan Legawa.

    “Asas ini memang kalau dianggap kuno ya kuno, tapi bagi TNI, asas kepemimpinan ini adalah bagian yang membina kita. Sederhana tapi kalimat ini menjadi filosofi,” tegas Ade Supandi.

    Tukar-menukar Cinderamata dari KSAL, Laksamana Ade Supandi kepada Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM) dan sebaliknya dari Dr. Ariasa H Supit, M.Si ( Ketua STT REM) kepada Laksamana Ade Supandi.

    Pada bagian akhir paparannya, Ade Supandi menjelaskan soal ‘Kode Etik’ perwira TNI dan Trisila TNI Angkatan Laut, yang menurutnya bersifat universal, antara lain; Budhi atau selalu berbuat luhur, Bhakti atau mengerjakan dengan tuntas, Wira atau selalu di depan dan Utama atau menjunjung tinggi kehormatan. Adapun trisila TNI adalah; Disiplin yaitu sikap mentaati segala peraturan dan tata tertib berdasarkan kesadaran pengabdian, Hierarki yaitu bisa menempatkan diri dan bertindak sesuai kepangkatan, kedudukan dan jabatan, Kehormatan yaitu wajib menjunjung tinggi nama baik angkatan dan negara dengan selalu berpikir, bersikap dan berbuat tanpa cela.

    ‘Aku Smart’, menjadi tips pria lulusan Lemhannas RI PPSA angkatan-17 (2011) dihadapan mahasiswa/mahasiswi STT REM, alumni, dosen pengajar, tokoh Kristiani serta undangan yang memenuhi ruang kuliah umum STT REM.

    Tampak hadir dalam kuliah umum ini, Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM), Dr. Ariasa H Supit, M.Si ( Ketua STT REM), Dr. Antonius Natan, M.Th ( Wakil Ketua I STT REM/Sekum PGLII DKI Jakarta), Pdt. Brigjen TNI (Purn) Drs. Harsanto Adi, M.Th (Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) beserta jajaran pengurus pusat API, dan masih banyak lagi.

    Sebelum foto bersama dan pemberian Cinderamata, sesi tanya jawab mewarnai kuliah umum yang kedua STT REM di tahun 2018 ini.

  • DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH: Mereka adalah Keluarga kita juga

    DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH: Mereka adalah Keluarga kita juga

    CIBUBUR, WARTANASRANI.COM – Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Hal ini diungkapkan Dr. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH., dalam acara Talkshow dan Diskusi Interaktif yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Indonesia Jawa Barat bekerjasama dengan Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) di Saung Soka, Taman Wiladatika Cibubur, sabtu (03/02/2018).

    Suasana Talkshow dan Diskusi Interaktif

    Talkshow yang mengangkat tema, “Memberdayakan yang Terabaikan” menghadirkan juga dua narasumber lain yaitu; Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik).

    Sebagai pembicara kedua, Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan ini mengawali dengan memberi motivasi sesuai dengan prinsip hidupnya. Dikatakannya, untuk menjadi orang yang sukses dan berprestasi maka seseorang harus memiliki “Tertius, Altius dan Fortius”.

    “Menjadi orang yang sukses dan berprestasi, pertama ia harus menjadi orang yang tertius atau tercepat artinya tampil lebih dahulu, yang pertama, tepat waktu. Kedua ia harus altius atau yang tertinggi, artinya apa yang dilakukan harus maksimal. Ketiga harus fortius atau terkuat, artinya harus sehat dan bugar,” pungkas dokter yang dipanggil ‘Panglima Kesorga’ oleh bawahannya, karena gaya kepemimpinannya yang cenderung ala militer dan ‘Kesorga’ karena bidang kerjanya kesehatan olah raga.

    Berkaitan dengan tema Talkshow, Ampera Matippanna mengupas soal tugas dan tanggung jawab gereja terhadap umat yang terabaikan. Menurutnya, peran gereja terhadap umat yang terabaikan adalah bagaimana melatih dan memotivasi supaya bisa mandiri.

    “Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh gereja adalah melatih dan beri motivasi, supaya mereka bisa mandiri. Yang terabaikan itu, bukan saja mereka yang ada di penjara, tetapi mereka yang secara fisik tidak sempurna, mereka juga adalah yang terabaikan,” ujarnya.

    “Latih dan beri motivasi supaya mereka bisa mandiri,” ujarnya lagi

    Ditegaskan Ampera Matippanna, bahwa keterlibatan gereja terhadap mereka yang terabaikan memiliki dasar firman Tuhan yang kuat. Sehingga akibatnya bila gereja tidak melakukannya berarti gereja adalah pendusta.

    “Dasar pelayanan untuk memberdayakan mereka yang terabaikan, ada dalam hukum yang pertama dan terutama, yaitu dalam Matius 22:35-38. Jadi bila kita berkata mengasihi Tuhan tapi menelantarkan sesamanya, kita adalah pendusta sesuai firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:19-21,” tegasnya.

    Bicara soal siapa yang terabaikan, dr. Ampera Matippanna menguraikan lebih spesifik. Orang yang bodoh, orang nakal, orang lemah, orang jelek, disabilitas fisik, retardasi mental, kemiskinan, broken home, patologi sosial (Napi, HIV-Aids), dan lain-lain, disebutnya sebagai bagian dari orang yang terabaikan yang membutuhkan peran gereja untuk memberdayakan mereka.

    “Mereka adalah orang-orang yang perlu diberdayakan dan ini adalah tugas kita semua, bukan hanya tugas YKMI atau Pewarna. Ini adalah tugas gereja secara individu. Ini tugas kita semua!,” ujarnya.

    “Banyak anak pejabat yg terlibat narkotika yg tidak pernah dikunjungi karena orang tuanya merasa malu. Anak-anak Tuhan harus merubah mindset bahwa mereka adalah anak- anak kita yang harus disentuh, diberdayakan,” ujarnya lagi.

    Kehadiran gereja dalam tugas mulia ini, menurut dr. Ampera untuk mencegah atau meminimalisir akibat mereka yang terabaikan, seperti; kurang percaya diri, berpikiran negatif, tidak mampu bekerja sama, tdk mempercayai orang lain, merasa terasing, melihat orang lain sebagai musuh, iri melihat keberhasilan orang lain, selalu curiga, punya potensi besar membahayakan orang lain, akhirnya mereka menjadi mencuri, membunuh, memperkosa, narkotiks, dan lain lain.

    “Melihat dari Perubahan perilaku sesuai teori Kurt Lewin Kurt Lewin (1970), yaitu suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan2 pendorong dan kekuatan penahan, disinilah peran seorang konselor untuk menguatkan. Seorang konselor harus memahami 3 faktor determinan dari perilaku seseorang yaitu; faktor pembawa, faktor pendukung dan faktor pendorong sehingga maksimal pelayanannya pada mereka yang dilayani,” jelasnya.

    Lebih jauh, dr. Ampera menegaskan bahwa pemberdayaan orang yang terabaikan  harus ada komitmen bersama dalam penanganan dan pemberdayaan bagi orang-orang yang terabaikan, melakukan pendidikan dan pelatihan keterampilan produktif, membangun dan mengembangkan kepedulian sosial melalui dukungan pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan, pengembangan karakter kepribadian dan potensi individual dalam masyarakat.

    Pada bagian akhir paparannya, dr. Ampera menjelaskan 5 tanggung jawab gereja terhadap mereka yg terabaikan, seperti; tanggung jawab liturgi (liturgia) membawa mereka dekat dengan Tuhan, tanggung jawab pewartaan (Kerygma) pentingnya pemberitaan supaya banyak anak Tuhan yang mengetahui, tanggung jawab persekutuan (koinonia), tanggung jawab pelayanan (diakonia) dan terakhir tanggung jawab kesaksian (marturia).

    “Saya mengajak sebagai warga gereja untuk melibatkan diri secara aktif karena mereka adalah anak-anak Tuhan. Banyak napi yang setelah bebas, kembali dan kembali melakukan tindak pidana dan masuk penjara lagi. Menjawab hal ini, saya kembali mengajak kita semua untuk melihat betapa mahalnya, berharganya satu jiwa bagi Tuhan,” ungkapnya.

    “Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Kita butuh banyak tangan untuk hasil yang besar. Kita butuh tangan pejabat, kita butuh tangan pengusaha, kita butuh tangan pewarta dan tangan-tangan yang lain untuk hasil yang maksimal dalam memberdayakan mereka yang terabaikan,” ungkapnya lagi mengakhiri paparannya.

  • Talkshow Pewarna Indonesia dan YKMI

    Talkshow Pewarna Indonesia dan YKMI

    CIBUBUR, WARTANASRANI.COM – Pewarna Indonesia Jawa Barat bersama Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) menggelar Talkshow dan Diskusi Interaktif dengan tema, “Memberdayakan yang Terabaikan, sabtu (03/02/2018).

    Narasumber: Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia), DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH (Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik)

    Bertempat di Saung Soka, Taman Bunga Wiladatika, Cibubur, talkshow yang dipandu oleh Daniel Tanamal, menghadirkan narasumber, Pdt. Osil Torongan, S.Th., M.Min (Ketua Umum Yayasan Karmel Ministry Indonesia), DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH (Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan) dan Ir. Soleman Matippanna, ST., MH(c) (Direktur PT. Rande Buana Teknik).

    Setelah doa pembukaan oleh Pdt. Dwi Kurnia, Talkshow diawali dengan sambutan Ketua Umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia, Yusuf Mudjiono. Dalam sambutannya, pemilik majalah Gaharu ini menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Karmel Ministry Indonesia (YKMI) atas kesediaannya untuk bersinergi dengan Pewarna Indonesia Jawa Barat  dalam menyelenggarakan Talkshow dan Diskusi Interaktif yang diharapkan mampu memberi inspirasi kepada siapa saja untuk memberdayakan mereka yang terabaikan.

    “Terima kasih atas kesediaan YKMI untuk bersinergi dengan Pewarna Indonesia Jawa barat. Kiranya acara Talkshow dan Diskusi Interaktif hari ini bermanfaat dan dapat kita tularkan dimanapun kita berada,” ujarnya.

    Tampil sebagai pembicara pertama, Pdt. Osil Totongan dengan lugas memperkenalkan Yayasan Karmel Ministry Indonesia. Menurutnya, sejak berdiri tahun 2016, YKMI memang sangat fokus dalam soal bagaimana memberdayakan mereka yang terabaikan.

    “Berdiri sejak tahun 2016, YKMI banyak bergerak untuk memberdayakan mereka yang terabaikan. Misalnya, YKMI sedang membina seorang napi yang saat ini mengikuti pendidikan theologia di salah satu STT yang ada di Jakarta. Selain itu ada juga yang sudah membuka usaha warung kopi,” terangnya, memberi bukti peran YKMI dalam hal pemberdayaan mereka yang terabaikan.

    Dikatakan Pdt. Osil Totongan bahwa keteladanan Yesus menjadi dasar keterlibatan YKMI dalam hal pemberdayaan mereka yang terabaikan.

    “Keteladanan dari Yesus terhadap orang-orang yang terabaikan, membawa YKMI mengerjakan pelayanan seperti ini,” ujarnya.

    “Pelayanan ini akan dikerjakan sampai Tuhan Yesus datang! YKMI akan melakukan pendampingan khususnya untuk napi, dimulai saat masa kritis pertama, yaitu saat vonis sampai masa kritis kedua, yaitu ketika mereka bebas dan dikucilkan oleh masyarakat bahkan keluarga,” tambah Pdt. Osil Totongan, menjawab pertanyaan, sampai kapan YKMI menjalankan misinya untuk memberdayakan mereka yang terabaikan.

    Pada sessi ke dua, DR. dr. Ampera Matippanna, S.Ked., MH., dengan apik mengupas soal tugas dan tanggung jawab gereja terhadap umat yang terabaikan. Dilandasi dari hukum yang pertama dan terutama dalam Matius 22:35-38, Kepala BKOM Provinsi Sulawesi Selatan ini menekankan soal dasar pelayanan untuk memberdayakan mereka yang terabaikan.

    “Banyak yang berkata mengasihi Tuhan, tapi menelantarkan sesamanya. Itu adalah pendusta sesuai firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:19-21,” tegas dokter yang dipanggil Panglima Kesorga ini.

    Selama kurang lebih 30 menit, dengan gayanya yang khas dan penuh semangat, dr. Ampera Matippanna menguraikan soal siapa yang terabaikan, apa akibat mereka yang terabaikan, bagaimana memberdayakan orang yang terabaikan, sampai pada 5 tanggung jawab gereja terhadap mereka yang terabaikan.

    Pada akhirnya, dr. Ampera Matippanna mengajak semua umat Tuhan untuk ambil bagian dalam pelayanan mulia ini.

    “Saya mengajak sebagai warga gereja untuk melibatkan diri secara aktif karena mereka adalah anak-anak Tuhan. Tugas kita semua untuk memberitakan bahwa mereka adalah keluarga kita juga. Kita butuh banyak tangan untuk hasil yang besar. Kita butuh tangan pejabat, kita butuh tangan pengusaha, kita butuh tangan hamba-hamba Tuhan, kita butuh tangan wartawan, untuk hasil yang maksimal dalam pelayanan ini,” ujarnya penuh semangat.

    Suasana saat sessi tanya jawab

    Gayung bersambut, pemateri terakhir, Ir. Soleman Matippana yang mengupas lebih pada sisi orang yang terabaikan, kembali menyinggung soal kondisi kaum yang terabaikan.

    Menurut direktur PT. Rande Buana Teknik ini, kondisi tidak punya uang, tidak punya keluarga (terpisah), tidak percaya diri, pasrah pada nasib atau keadaan membawa mereka yang terabaikan rentan berbuat kriminal. Oleh karena itu dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan mereka.

    “Mereka perlu dukungan keluarga, sahabat, gereja dan lingkungan sekitar. Dukungan kita bisa mencegah mereka untuk kembali berbuat kriminal. Saatnya kita hadir untuk mereka,” seru Pembina YKMI ini.

    Kiat-kiat untuk berwiraswasta, kesiapan menghadapi tantangan sampai menemukan mentor atau teman diskusi, menjadi tema menarik bahasan pengusaha muda yang sukses ini selama 20 menit. Sebelum menutup pemaparannya, Soleman Matippanna menyampaikan kisah sukses seorang narapidana.

    “Mari kita tularkan semangat berwiraswasta atau enterpreneur untuk meraih sukses,” pesan Soleman Matippana singkat.

    Pada bagian akhir acara Talkshow, Bapak Temazisochi Zebua, seorang mantan narapidana memberikan testimony sekaligus mengiyakan tentang pentingnya pemberdayaan bagi mereka yang terabaikan, khususnya para mantan narapidana.

    “Talkshow hari ini sangat bermanfaat buat saya. Memang apa yang dijelaskan sesuai dgn apa yang saya dalam lapas. Secara pribadi kami membutuhkan kesinambungan pembinaan. Terima kasih kepada YKMI yang selalu membimbing saya sampai saat ini. Terima kasih atas acara ini karena memberikan kekuatan bagi kami,” ungkapnya penuh syukur.

    Sebelum ditutup dengan doa oleh Pdt. Ronald S. Onibala, koordinator acara Talkshow dan Diskusi Interaktif, setiap narasumber diberi kesempatan untuk memberikan kesimpulan.

  • Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Efendi Hadiri Natal Bersama PPKPPKB dan FORBAKTI

    Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Efendi Hadiri Natal Bersama PPKPPKB dan FORBAKTI

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Mengambil tema, “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu” (Kolose 3:5), dan sub tema, “Merajut Kebersamaan, Membangun Damai diantara Sesama, Menjalin Persatuan dan Kesatuan”, Persekutuan Pelangi Kasih Pegawai Pemerintah Kota Bekasi bersama Forum Umat Nasrani Bagi Kota Ikhsan Bekasi (FORBAKTI) menggelar Ibadah dan Perayaan Natal Bersama, Sabtu (27/01/2018).

    Suasana Perayaan Natal PPKPPKB dan FORBAKTI yang dihadiri Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Efendi.

    Acara yang diselenggarakan di Auditorium Marsudirini, Jl. Raya Narogong, Kemang Pratama, Kota Bekasi ini, dihadiri oleh Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Efendi. Sementara sesuai tata ibadah, bertindak sebagai khadim, Pdt. Ny. Meinita Wungo Damping, S.Th., M.M., Ketua Mupel GPIB.

    Seperti biasanya dalam perayaan Natal, prosesi penyalaan lilin mewarnai Ibadah Natal PPKPPKB dan Forbakti ini. Sambil diiringi pujian malam kudus, candle light service dimulai oleh Pdt. Ny. Meinita Wungo Damping, S.Th., M.M., kemudian diikuti oleh 12 Ketua Forbakti Kecamatan, aras PGIS, aras PGLII, aras PGPI, Ketua Dekanat, Penyelenggara Bimas Kristen, Penyelenggara Bimas Katolik, Pengawas Forbakti Devi Simanjuntak, SE., Ketua Umum Forbakti Pdt. Djajang Buntoro, M.Th., dan Ketua PPKPPKB Drs. P. Nefindo Imanuel M, M.Si.

    Sementara dalam khotbahnya yang mengambil nats pokok, 2 Korintus 13:11, Pdt. Meinita Wungo Damping mengajak warga Kristen dan Katolik yang memadati Auditorium Marsudirini untuk selalu menjadi pembawa damai sejahtera, dan untuk itu gereja harus bersatu.

    “Mulai awal kelahiran Kristus, damai sejahtera sudah diberitakan sampai puncaknya diatas kayu salib. Oleh karena itu marilah kita menghadirkan damai sejahtera dimanapun berada, termasuk di Kota Bekasi. Dan damai sejahtera itu bisa dihadirkan kalau gereja Tuhan di Kota Bekasi bersatu,” tegasnya.

    Saat penyalaan lilin simbolisasi penjaga toleransi oleh Walikota, Kapolres, Dandim, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari), Ketua Pengadilan Negeri (PN), Perwakilan DPRD Kota Bekasi, Kemenag, Penyelenggara Bimas Kristen, Penyelenggara Bimas Katolik, Ketua FKUB, Ketua BAMAG LKKI dan Ketua Umum Forbakti.

    Selain pujian natal yang dipandu oleh MC, ibadah dan perayaan Natal ini dimeriahkan oleh beberapa paduan suara/koor, diantaranya; Koor dari GKI Kemang Pratama, Koor dari HKBP Bojong Monteng – Rawa Lumbu, Koor Wanita Bersinar dari Forbakti Bekasi Utara, dan Koor dari PPKPPKB/ASN Kota Bekasi.

    Kedamaian bagi bangsa Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang baik, memohon perlindungan dan pemeliharaan Tuhan atas Kota Bekasi, keamanan pelaksanaan Pilkada serentak khususnya Pilkada Jawa Barat dan Kota Bekasi menjadi pokok doa syafaat yang disampaikan oleh Pastor Thomas Bani, SVD.

    Setelah persembahan, doa penutup dan berkat dipimpin oleh Pastor Kesaryanto, Pr., yang didampingi pimpinan gereja dan aras gereja yang ada di Kota Bekasi.

    Pada acara perayaan yang diawali persembahan pujian dari “Vocalista Gracia”, diisi dengan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Natal Bersama ASN dan Forbakti, Ketua Umum PPKPPKB, penyalaan lilin simbolisasi penjaga toleransi, yang kemudian sambutan terakhir oleh Walikota Bekasi, Bapak Dr. Rahmat Efendi, sebelum pada akhirnya ditutup dengan acara doorprize dan foto bersama.

  • Setelah Ibadah Natal, Kuncikan 2017 dan Tahun Baru 2018, Warga Kawanua Kota Harapan Indah Pilih Ketua Baru Periode 2018-2021

    Setelah Ibadah Natal, Kuncikan 2017 dan Tahun Baru 2018, Warga Kawanua Kota Harapan Indah Pilih Ketua Baru Periode 2018-2021

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Bertempat di PT. Logamindo Pratama, Sentra Niaga 2 Kav. 23 Bulevar Hijau, Medan Satria, Kota Harapan Indah Bekasi, Warga Kawanua Kota Harapan Indah dan Sekitarnya, menggelar Ibadah dan Perayaan Natal 2017, Kuncikan 2017 dan Tahun Baru 2018, minggu (21/01/2018).

    Suasana Ibadah yang dipandu oleh Ibu Esty Suwu sebagai Worship Leader/MC

    Kristus Lahir Mempersatukan Kita, menjadi tema Ibadah dan Perayaan yang dilayani oleh Ev. Hanry Suwu, SH., pembina sekaligus pendiri organisasi sosial kedaerahan yang awalnya bernama Perkumpulan Warga Kawanua Kota Harapan Indah Bekasi.

    Sukacita dalam suasana kekeluargaan tampak di wajah warga Kawanua yang hadir memenuhi ruang Ibadah. Dipandu worship leader, Ibu Esty Suwu, pujian natal yang dilantunkan menambah sukacita semua yang hadir. Tak ketinggalan, Mars Kawanua Kota Harapan Indah yang berisi filosofi semangat persaudaraan warga kawanua untuk baku tolong, baku sayang, baku mapalus, yang dinyanyikan bersama, menambah cair suasana kekeluargaan malam itu.

    Sementara itu, sesuai dengan undangan yang diterima, selesai Ibadah dilaksanakanlah pemilihan ketua baru. Namun Alotnya pembahasan para pembina sekaligus pendiri yaitu; Elim Noldy Paendong, Hanry Suwu, Joutje Lampa, Sonny Tendean ditambah Pdt. Hendry F. Rumondor sebagai Ketua KKK Kota Harapan Indah, soal siapa calon ketua yang akan disodorkan kepada warga Kawanua untuk dipilih, membuat acara pemilihan sempat tertunda kurang lebih 15 menit.

    Pembina sekaligus pendiri yaitu; Elim Noldy Paendong, Hanry Suwu, Joutje Lampa, Sonny Tendean ditambah Pdt. Hendry F. Rumondor sebagai Ketua KKK Kota Harapan Indah saat mendiskusikan nama-nama calon ketua yang akan dipilih

    Akhirnya, mewakili Dewan Pembina dan Pendiri, Bapak Joutje Lampa tampil dengan membawa tiga nama calon Ketua periode 2018-2021.

    Bapak Joutje Lampa Pembina dan Pendiri Kawanua Harapan indah

    Sebelum menyampaikan tiga nama calon ketua, Joutje Lampa sempat mengungkapkan alasan mengapa pemilihan dilaksanakan berbarengan dengan perayaan natal, kuncikan dan tahun baru, yaitu supaya tercapainya kuorum saat pemilihan ketua yang baru.

    “Untuk mencapai kuorum yang hadir anggota, mungkin pertemuan biasa tidak akan tercapai. Makanya dilaksankan bersamaan dengan perayaan natal pada hari ini,” ungkapnya

    Ditambahkan Joutje Lampa, selain pemilihan pengurus baru, ada mandat yang nantinya diemban oleh siapa saja yang terpilih, yaitu perubahan nama untuk mempersatukan kembali warga Kawanua yang ada di Kota Harapan Indah dan Sekitarnya.

    “Ada hal yang sangat penting sekali yang sudah diputuskan bahwa dalam rangka membina kembali persatuan dan kesatuan diantara torang warga kawanua, jadi semua penasehat bersama beberapa pengurus inti sudah memutuskan bahwa, yang tadinya bernama Kerukunan Keluarga kawanua (KKK), torang kembalikan lagi kepada saat awal torang membentuk warga Kawanua yang ada di harapan indah menjadi Persekutuan Warga Kawanua di Harapan Indah. Jadi torang pe perkumpulan sifatnya adalah independen, jadi nantinya yang saya sampaikan calon-calon yang torang akan pilih, biarlah ketiga calon tersebut ada kesediaan untuk menjadi pengurus,” ujar Joutje Lampa.

    Lebih lanjut, Joutje Lampa mengharapkan agar warka Kawanua Kota harapan Indah akan mendukung penuh sipapun yang terpilih dari tiga nama yang disodorkan.

    “Kami berharap warga Kawanua akan mendukung bersama-sama siapapun yang terpilih supaya perkumpulan kita akan berjalan dengan baik diwaktu-waktu yang akan datang. Ketiga nama tersebut adalah, yang pertama Bapak Pdt. Ronny Soriton, yang kedua Pdt. Ronald S. Onibala, dan ketiga Bapak Darwil Agouw,” ungkapnya.

    Terkait siapa yang memiliki hak suara dalam pemilihan, Elim Noldy Paendong, yang juga pembina Kawanua, tampil menjelaskan sesuai AD/ART yang ada.

    “Jadi yang berhak memilih sesuai dengan AD/ART adalah anggota. Siapa itu anggota? Orang Kawanua yang tinggal di Harapan Indah tetapi ada juga yang sudah berpindah ke Harapan Indah dan sudah aktif di organisasi ini, mereka juga bagian dari Kawanua Harapan Indah. Jadi mohon maaf kalau ada teman-teman, kawan-kawan, Bapak/Ibu tamu yang terundang dalam acara natal dan kunci taon, kalau bukan anggota, mohon maaf tidak bisa memilih sesuai dengan tatib organisasi,” terang Noldy paendong.

    Penghitungan suara pemilihan Ketua Kawanua Harapan Indah

    Foto Calon Ketua bersama beberapa pengurus lama setelah pemilihan

    Serah-terima dari pengurus lama ke Ketua terpilih Pdt. Ronald S. Onibala

    Saat pemilihan putaran pertama, Bapak Darwil Agouw terpilih dengan suara mayoritas, 44 pemilih diikuti Pdt. Ronald S. Onibala, 20 pemilih dan Pdt. Ronny Soriton, 15 pemilih. Namun dikarenakan pengunduran diri Bapak Darwil Agouw, akhirnya disepakati untuk diadakan pemilihan ulang dengan dua calon yang tersisa.

    Pada pemilihan kedua ini, Pdt. Ronald S. Onibala meraih suara terbanyak dan ditetapkan sebagai Ketua Kawanua Kota Harapan Indah Periode 2018-2021, dan Pdt. Ronny Soriton sebagai wakil ketua. Serah terima secara simbolis-pun dilakukan oleh pengurus yang lama dibawah kepemimpinan Pdt. Hendry F. Rumondor kepada Ketua teripilih Pdt. Ronald S. Onibala disaksikan oleh Dewan Pembina dan Pendiri Kawanua kota Harapan Indah.

    Dalam sambutan pembina dan penasihat, ada beberapa tugas yang diemban oleh kepengurusan yang baru, diantaranya adalah perubahan nama dan melengkapi kepengurusan yang ada.

  • Rajawali Spirit Indonesia Gelar Perayaan Natal

    Rajawali Spirit Indonesia Gelar Perayaan Natal

    PONDOK GEDE, WARTANASRANI.COM – Perayaan Natal Rajawali Spirit Indonesia ini adalah kali pertama, bertempat di GPdI Bethesda Pondok Gede, (Pdt. Hesky Rorong) Rabu (17/01/2018). Dihadiri oleh hamba-hamba Tuhan Jawa Barat. Penerobos akan maju di depan  mereka; mereka akan menerobos dan berjalan melewati pintu  gerbang dan akan keluar dari situ. Raja mereka akan berjalan terus di depan mereka, TUHAN sendiri di kepala barisan mereka!  (Mikha 2:13). Demikian kutipan ayat firman Tuhan yang melandasi tema : Break Through/Terobosan.

    Suasana Ibadah Perayaan Natal Rajawali Spirit Indonesia

    Rajawali Spirit Indonesia yang di motori oleh beberapa hamba Tuhan di Jawa Barat, merindukan suatu Terobosan Besar terjadi dalam misi penjangkauan jiwa-jiwa untuk kemajuan pekerjaan Tuhan di Jawa Barat. Dengan dasar inilah Yayasan Rajawali Spirit Indonesia terbentuk.

    Acara Perayaan Natal tersebut di awali dengan pujian penyembahan yang sangat memberkati, dan kehadiran kuasa Roh Kudus begitu terasa, sehingga seluruh hadirin terlihat sangat antusias untuk memuji dan memuliakan Tuhan Yesus Kristus.

    Pada kesempatan tersebut beberapa pengurus Rajawali Spirit Indonesia, Pdt. Mervin Soedjak, Pdt. Stanley Sekeon, dan Pdt. Yohanes Hutagalung mensosialisasikan beberapa kegiatan yang sudah dilakukan seperti  Rajawali Leaders Camp, yang memberikan dampak positif baik secara pribadi maupun pengembangan pelayanan pekerjaan Tuhan bagi para peserta. Dan beberapa kegiatan lainnya yang sudah terlaksana.

    Juga menginformasikan kegiatan-kegiatan yang akan diadakan pada awal 2018 ini. Bulan Februari akan diadakan fellowship dan tanggal 20-22 Maret 2018 kegiatan Rajawali Leaders Camp II kembali digelar . Pada kesempatan ini pengurus mengajak rekan-rekan hamba Tuhan yang ingin menjadi peserta untuk segera mendaftar.

    Doa Firman Tuhan oleh Pdt. Andreas Tairas.

    Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Loudewyk E. Saerang, M.Th dengan Nats Injil Lukas 5:4-6. Mengacu pada ayat firman Tuhan ini dia sampaikan dalam khotbahnya “Bersama Yesus kita lakukan Terobosan Besar”. Kalimat tersebut di imani dan di aminkan oleh para hadirin.

    Ayat 5 : Simon menjawab: “Guru,  telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

    Telah semalam-malaman mereka berusaha dengan berbagai daya dan upaya namun hasilnya nol besar. Ini seperti terperangkap dalam kegagalan. Sepertinya hidup ini tidak ada kemajuan, gagal dan gagal lagi. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jelas President Rajawali Spirit Indonesia.

    Ketika Petrus dan kawan-kawan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, disaat seperti inilah Yesus membuat mujizat, lanjutnya. Ada tiga point penting yang di sampaikan dalam khotbahnya, untuk mengalami Terobosan, yaitu :

    1. Memiliki Kerendahan Hati
    2. Bangkit dari Keterpurukan
    3. Mengikut Yesus

    Acara kemudian dilanjutkan dengan pemasangan lilin yang di wakili oleh beberapa hamba Tuhan, yaitu : Pdt. Johan Rorong, Pdt. Yantje Rumbayan, Pdt. Lexy Woley, Pdt. Oscar Kumolontang, Pdt. Andreas Tairas, Pdt. Meydi Saerang, dan Pdt. Saymonang Pardede.

    Suasana Pemberian Bingkisan dan Ulang Tahun.

    Acara diwarnai dengan sukacita, dimana Rajawali Spirit Indonesia juga memberikan bingkisan sebagai bentuk apresiasi bagi hamba-hamba Tuhan senior yang hadir. Juga memberikan ucapan selamat ulang tahun bagi hamba-hamba Tuhan yang berulang tahun di bulan Januari.

  • Pernyataan Sikap FUKRI Merespon Situasi Bangsa Jelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019

    Pernyataan Sikap FUKRI Merespon Situasi Bangsa Jelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Merespon situasi bangsa menjelang, pada saat dan setelah Pilkada serentak di 171 Provinsi/Kabupaten/Kotamadya, juga dalam rangka persiapan Momentum Doa Se-Dunia 2019, hari ini Kamis, 18 Januari 2018, bertempat di Bala Keselamatan, Jl. Kramat Raya 55 Jakarta Pusat, Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI) yang terdiri dari delapan pimpinan aras gereja nasional mengeluarkan pernyataan sikap lewat siaran pers bersama.

    Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI) yang terdiri dari delapan Pimpinan Aras Gereja Nasional 

    Kedelapan aras gereja yang hadir adalah; Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Bala Keselamatan Indonesia, Persekutuan Baptis Indonesia, Gereja Ortodoks, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

    Secara garis besar ada empat poin penting pernyataan sikap FUKRI yang dibacakan oleh Romo Guido Suprapto dari KWI. Berikut isi pernyataan sikap FUKRI secara lengkap.

     

    UMAT KRISTIANI INDONESIA

    MENDUKUNG PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019:

    Sebagai Upaya Mewujudkan Demokrasi dan Menjaga

    Eksistensi Bangsa Indonesia

     

    1. Arti Penting Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

    Pemilu merupakan sarana yang sah menurut Undang-Undang untuk memilih calon pemimpin bangsa dan pejabat publik. Maka semua warga masyarakat harus ikut berperan dan bertanggungjawab. Proses pemilu harus berjalan dengan baik, yakni: pertama, terbukanya peluang bagi setiap warga negara untuk menyatakan hak memilih dan dipilih dalam kontestasi jabatan publik ini; Kedua, tersedianya fasilitas yang memadai dan sama bagi berlangsungnya hubungan pengenalan secara timbal balik antara kontestan dan pemilih; ketiga, terjaminnya proses penentuan pilihan oleh pemilih terhadap konstestan secara langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil.

    Tahun 2018 akan diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah dan Tahun 2019 akan berlangsung Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Sangat penting bagi semua warga masyarakat Indonesia untuk berupaya agar Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019 berjalan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, damai dan berkualitas. Tidak boleh terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung, karena bila kekerasan terjadi, damai dan rasa aman tidak akan mudah dipulihkan.

    Kita harus selalu waspada dan berupaya agar usaha-usaha siapapun yang ingin memecah belah atau adu domba demi tercapainya suatu target politik tidak terjadi.

    Hal penting yang harus menjadi perhatian bersama adalah menghindari penggunaan isyu/sentimen agama sebagai cara dan sarana memperoleh suara atau dukungan. Oleh karena itu, menghimbau kepada semua pihak baik sebagai pribadi maupun parpol dan para pendukungnya agar tidak menggunakan isu/sentimen agama dalam kontestasi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 karena selain menciderai semangat demokrasi, juga bisa menimbulkan disharmoni dalam kebersamaan sebagai warga bangsa.

     

    1. Ikut Menjaga Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

    Pemilu sebagai upaya memajukan dan mewujudkan demokrasi tetapi potensi-potensi persoalan yang menyertainya selalu ada. Karena itu, Gereja bersama semua warga negara terpanggil untuk terselenggaranya Pemilu dengan baik dan bermartabat. Sebagaimana bunyi Firman Allah, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer.29:7). Berikut adalah hal-hal yang bisa dan perlu diperankan oleh Umat Kristiani:

    • Peran Pimpinan Lembaga GerejaPimpinan Lembaga Gereja atau pemuka jemaat hendaknya mendorong jemaatnya untuk menggunakan haknya dengan berpartisipasi dalam pilkada dan mengingatkan serta memberi contoh agar keterlibatannya cerdas, bertanggung dan berdasarkan suara hati. Pemimpin Lembaga Gereja harus memastikan untuk tidak membawa lembaga Gereja ke dalam politik praktis. Para pemimpin jemaat diharapkan hadir untuk membimbing jemaatnya agar tidak mudah terpecah-pecah oleh pilihan politik yang berbeda, tahan terhadap berbagai kampanye yang berbau SARA, dan mendorong jemaatnya yang ikut kontestasi politik untuk memegang teguh moralitas dan integritas sebagai orang beriman.
    • Umat KristianiUmat Kristiani yang telah memenuhi syarat harus ikut terlibat menentukan dan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin di daerahnya melalui mekanisme yang telah ditentukan oleh peraturan dan undang-undang yang berlaku. Ikut memilih dalam Pilkada 2018 dan pemilu 2019, selain merupakan hak, juga merupakan panggilan Umat Kristiani sebagai bagian dari warga negara. Dengan ikut memilih berarti Anda ambil bagian dalam menentukan arah perjalanan dan kelangsungan kehidupan daerahnya. Oleh karena itu, penting disadari bagi pemilih untuk tidak saja datang dan memberikan suara, melainkan menentukan pilihannya dengan cerdas, bertanggungjawab dan sesuai dengan suara hati sehingga partisipasi kita bermartabat.

     

    1. Kriteria Pilihan.

    Para calon pimpinan daerah yang akan Anda pilih, harus dipastikan bahwa yang bersangkutan adalah orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan anti kekerasan. Calon pimpinan daerah yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan tidak layak dipilih. Hati-hatilah dengan sikap ramah-tamah dan kebaikan yang ditampilkan sang calon hanya ketika berkampanye, seperti membantu secara material atau memberi uang. Pastikan Anda tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan sang calon mendapatkan dukungan suara. Ikut dalam politik uang dilarang oleh ajaran Kristiani. Sebab uang/suap dapat memutarbalikkan kebenaran. Seperti yang tertulis dalam Alkitab â€œSuap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Kel. 23:8). Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah Anda memperhitungkan calon pimpinan yang berjuang menjaga dan menegakan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia!

     

    1. Berdoa Untuk Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

    Sebagai umat Kristiani, marilah kita mengiringi proses pilkada dan pemilu dengan doa memohon berkat dari Tuhan, agar berlangsung dengan damai, berkualitas dan bermartabat sehingga menghasilkan para pemimpin yang benar-benar memperhatikan rakyat dan setia berjuang demi terwujudnya cita-cita bangsa dan Negara kita tercinta!

     

    Jakarta, 18 Januari 2018,

    Atas Nama Forum Umat Kristiani Indonesia.

    1. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
    2. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
    3. Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII)
    4. Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI)
    5. Persekutuan Baptis Indonesia (PBI)
    6. Bala Keselamatan
    7. Gereja Ortodoks Indonesia
    8. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK)