Category: Liputan

  • RAKERNAS PEWARNA, Angkat Tema Merajut Warna Indonesia

    RAKERNAS PEWARNA, Angkat Tema Merajut Warna Indonesia

    MALANG, WARTANASRANI.COM – Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) kembali menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) untuk yang Keempat kalinya. Kali ini, agenda kerja tahunan itu diselenggarakan di wilayah di Propinsi Jawa Timur, yakni di Kota Malang dan Kota Administratif Batu. Tema RAKERNAS yang diangkat PEWARNA Indonesia kali ini berbunyi, “Merajut Warna di Seluruh Indonesia”.

    Dengan tema ini PEWARNA ingin terus berupaya dalam mewarnai dunia Kekristenan di tanah air melalui karya-karya yang dampaknya dirasakan langsung oleh gereja dan umat.

    Agenda RAKERNAS PEWARNA Indonesia sendiri akan melaporkan capaian kinerja dari Pengurus Pusat dan daerah sepanjang tahun 2018. Selain itu, akan dilanjutkan dengan konsolidasi nasional dan penyusunan rencana kerja untuk satu tahun ke depan.

    img_20181129_101426

    Lokasi pembukaan RAKERNAS rencananya akan dilakukan di Graha Blessed Immanuel Families, Jl. Mundu, Kota Malang, Jawa Timur, pada Jumat sore (30/11/2018). Kemudian, rangkaian RAKERNAS akan dilanjutkan di Roemah Yayasan Warga Indonesia, Kota Batu, dari 1 hingga 2 Desember 2018.

    Ketua Umum Pengurus Pusat PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono mengatakan alasan dipilihnya Jawa Timur sebagai tempat penyelenggaraan RAKERNAS karena wilayah ini juga menjadi salah satu pusat berkembangnya nilai-nilai toleransi. Di lain sisi, Dia juga menginginkan agar peran PEWARNA juga makin terasa di Jawa Timur.

    “Selain konsolidasi, kita juga ingin mendorong PEWARNA daerah ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat. Jadi yang aktif bukan hanya di wilayah JABODETABEK saja,” ujar Yusuf saat ditemui di Mission House, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu petang (28/11/2018).

    Sementara itu Ketua PEWARNA Indonesia wilayah Jawa Timur yang juga merangkap sebagai Ketua Panitia Lokal, Immanuel Yosua, mengatakan pada penyelenggaraan RAKERNAS kali ini PEWARNA juga ingin memberikan apresiasi kepada sejumlah figur di daerah Jawa Timur yang dinilai berjasa bagi pelayanan media.

    “Kita juga ingin memberikan penghargaan kepada figur yang memang selama ini berjasa dalam mendukung pelayanan media Kristen yang ada di Jawa Timur,” ujar pria yang akrab di sapa Cak Yos itu, ketika meninjau lokasi pembukaan acara, Kamis pagi (29/11/2018).

    Tanggapan Positif Masyarakat

    Salah satu tokoh masyarakat di Kota Malang Genot Hariyono Said, turut menyambut dengan sukacita atas ditunjuknya wilayah Malang dan Batu sebagai tempat pelaksanaan RAKERNAS PEWARNA Indonesia. Dia berharap melalui agenda rutin tersebut para pewarta yang tergabung di PEWARNA dapat makin menyadari potensi yang dimilikinya, yaitu kemampuan untuk menyuarakan pesan kebenaran terkait keadaan sesungguhnya yang dihadapi oleh umat Kristen di Indonesia saat ini.

    “Kalau bisa wartawan juga bisa menunjukan kekuatannya. Kekuatan dalam hal apa? Kekuatan untuk menyuarakan kebenaran, kesetaraan. Contohnya bersuara tentang sulitnya perizinan untuk mendirikan sebuah Gereja. Padahal, beribadah dan mendirikan rumah ibadah kan dijamin oleh Undang-Undang. Sebagai contoh, pemilik Mission House Malang itu meminta agar pewarta bisa meniru apa yang telah dilakukan oleh mantan Presiden Indonesia yang dikenal selalu menyuarakan pesan-pesan toleransi, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

    “Kita bisa melihat, Gus Dur saja sudah sejak dulu menyuarakan pemikiran (toleran) seperti itu. RAKERNAS ini kan sebuah pertemuan yang besar, jadi semoga apa yang dihasilkan juga besar, dalam artian outputnya terhadap kelangsungan kebebasan beribadah di Indonesia,” kata kakak dari Pendeta Sudarmadji Said itu.

  • Gandeng PAHAT, GMDM Sosialisasikan Bahaya Narkoba

    Gandeng PAHAT, GMDM Sosialisasikan Bahaya Narkoba

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Penyalahgunaan narkoba masih menjadi sebuah kejahatan serius yang mengancam generasi penerus Indonesia. Situasi yang penuh keprihatinan ini direspon tegas oleh Garda Mencegah Dan Mengobati (GMDM) dengan gencar menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba dan kiat pencegahannya kepada masyarakat, khususnya kaum muda Indonesia. Kali ini, GMDM menggandeng Persekutuan Anak Hamba Tuhan (PAHAT) untuk menyelenggarakan “Seminar Bahaya Penyalahgunaan Narkoba dan Deklarasi Indonesia Bersih Dari Narkoba (BERSINAR)”, yang dilaksanakan di Glow Fellowship, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu pagi (24/11/2018).

    Salah satu pemateri yang hadir adalah staf ahli Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen (P) Dr. Victor Pudjiadi, SPB., FICS., DFM. Pada sesi itu Dr. Victor mengurai bahaya penyalahgunaan narkoba yang ditinjau dari aspek kesehatan, psikologis dan agama.

    Dia juga menjelaskan, bahwa bahaya penyalahgunaan narkoba memiliki korelasi kuat dengan penyebaran sejumlah virus dan penyakit menular, yakni HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom).

    Yang terpenting, menurut Victor, salah satu kunci untuk tidak menggunakan atau lepas dari jerat narkoba adalah pilihan untuk berani bersikap dan mengatakan “Tidak Pada Narkoba”. “Hidup adalah pilihan. Mau pilih mana? Kiri pakai narkoba, atau kanan tidak pakai narkoba? Tentunya kita tidak mau pakai narkoba,” ujar Dr. Victor di hadapan peserta seminar yang didominasi oleh kaum remaja dan pemuda.

    Pembicara di sesi kedua datang dari Yayasan PIONIR (Pemuda Indonesia Bersinar) Richard Stevanus Nayoan. Richard membagikan kisahnya semasa menyosialisasikan bahaya narkoba di dua bekas lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di kota Surabaya, yaitu Doli dan Kremil.

    Tak hanya melayani, Richard ikut menjadi saksi betapa besarnya efek destruktif dari prostitusi dan narkotika bagi anak-anak yang hidup di tempat itu. Menurutnya, penutupan dua lokalisasi tersebut merupakan sebuah jawaban Tuhan.

    “Saya percaya Dolly bukan hanya ditutup oleh Walikota Surabaya, tetapi ditutup berkat doa yang tidak putus dari anak-anak yang menaruh harap agar praktek prostitusi dan peredaran narkoba tidak ada lagi di tempat itu,” kata Richard.

    Berbicara konteks “Tantangan dan Ancaman Dalam Era Perang Modern”, Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP DKI AKBP Maria Sorlury SH., MH, memaparkan bahwa Indonesia telah menjadi wilayah proxy war yang strategis. Keadaan itu dimanfaatkan oleh pihak asing untuk mengambil keuntungan, di antaranya dengan memanfaatkan wilayah Indonesia sebagai pasar potensial peredaran gelap narkoba.

    Yang menyedihkan ibu dari tiga orang anak itu adalah terungkapnya fakta masih banyak orang Kristen terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.

    “Dari lima orang yang saya tangkap, dua orang di antaranya pasti ada yang Kristen. Mulai dari nama Yohanes, Petrus hingga Alexander,” ungkapnya dengan nada penyesalan.

    Wanita yang akrab disapa Merry itu kemudian mengungkap beberapa modus pelaku kejahatan narkoba yang tidak segan melibatkan anak kecil sebagai kurir.

    “Jangan mau ketika ada yang meminta kalian mengantarkan paket yang tidak jelas isinya. Sekarang sudah banyak yang berpura-pura meminta membawakan air mineral, padahal isinya adalah carian sabu (sabu-sabu),” katanya lagi.

    Merry pun tak menampik hingga kini masih banyak oknum penegak hukum yang mencoba “bermain mata” dengan pelaku kejahatan narkotika. Namun tindakan tegas tetap harus dilakukan untuk memberikan sebuah efek jera.

    “Banyak sekali teman saya yang masuk penjara karena mereka bergaul dengan para bandar narkoba. Ketahuan, langsung dipecat,” tegasnya.

    Dia pun mengimbau agar generasi muda Kristen belajar arif dalam memilah cara bergaul.

    “Saya berpesan, adik-adik jangan bergaul dengan sembarang orang. Jangan sampai anak-anak Tuhan terjerumus ke kejahatan narkoba,” ajaknya.

    Ada alasan khusus mengapa seminar bahaya penyalahgunaan narkoba menyasar anak dan pemuda gereja. Menurut keterangan ketua panitia seminar Steven Tambayong, gereja sebagai elemen bangsa harus dirangkul untuk kemudian terlibat secara aktif melawan bahaya penyalahgunaan narkoba.

    “Acara ini menurut saya bertujuan menjadikan kita sebagai pionir untuk di lingkungan gereja, dan momen untuk mengobarkan semangat. Semangat kalau gereja dan tentunya tokoh-tokoh agama, anak-anak pendeta, anak-anak gembala ini untuk berperan aktif. Terjun langsung, karena semua elemen masyarakat bertanggungjawab terhadap permasalahan bangsa, tentang 7 juta jiwa pengguna narkoba, tentang 1 juta pengguna narkoba yang ada di Jakarta,” kata Steven di lokasi acara.

    Seminar Bahaya Penyalahgunaan Narkoba kali ini merupakan salah satu dari program rutin Badan Koordinasi Nasional GMDM selaku Intitusi Penerima Wajib Lapor.

    Kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan masyarakat kepada pemerintah untuk memerangi bahaya narkoba, khususnya POLRI dan pihak BNN. Peserta yang hadir pada seminar ini didominasi dari anak, remaja dan pemuda dari tingkat Sekolah Dasar hingga Menengah Atas.

    Tak hanya itu, GMDM turut berharap melalui acara ini masyarakat dapat lebih memahami dan mewaspadai bahaya penyalahgunaan narkoba yang selalu mengintai keluarga mereka.

    Di penutup nanti, GMDM bersama masyarakat akan ikut mendeklarasikan gerakan Indonesia BERSINAR, yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Bakornas GMDM Jeffry Tambayong.

  • Raker DPP MUKI 2018 Berlangsung Sukses

    Raker DPP MUKI 2018 Berlangsung Sukses

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – RAPAT KERJA (RAKER) DPP MUKI Tahun 2018, Selasa 20 November 2018 di Hotel Bunga-Bunga Jakarta Pusat berlangsung dengan baik dan sukses. Dibuka Ketua Umum DPP MUKI Djasarmen Purba, dan dihadiri Dewan Penasehat, Dewan Pengawas, Anggota DPP, Perwakilan DPW dan DPD se-Jabodetabek, seluruhnya berjumlah 100 orang, Raker Tahunan ini berlangsung dengan suasana penuh kegembiraan dan kebersamaan.

    Ketua Umum dalam sambutan pembukaan menyinggung situasi politik terkini dan topik hangat dalam perbincangan umat Kristen seperti RUU PESANTREN. Disamping itu Ketum melaporkan perkembangan dan capaian DPP tahun 2018 yang sudah membentuk 31 Pengurus DPW (Provinsi) dan sekitar 184 DPD (Kab/Kota).

    Raker DPP yang berlangsung satu hari itu juga diapresiasi oleh Dewan Pengawas Jerry Sirait menyatakan: MUKI ADALAH MUKI mesti merumuskan siapa/apa sesungguhnya MUKI melalui uraian tentang MUKI (identitas dan ciri khas, pembeda dengan yang lainnya). MUKI adalah “lembaga keumatan Kristiani bidang sosial kemasyarakatan. MUKI bukan Gereja, bukan Lembaga Gerejawi, bukan Partai Politik. MUKI adalah wadah berhimpun dari sejumlah umat Kristiani yang bertujuan mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah-tengah kehidupan bergereja serta bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Anggota Dewan Penasehat Pdt. DJ Sihite dan Marfin Panjaitan mengapresiasi apa yg sudah dicapai MUKI dan memberi pesan untuk menata organisasi dengan cara yang modern. Waketum Santun Lumbagaol selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan Raker kali ini strategis karena DPP MUKI telah mempersiapkan dokumen untuk pengajuan Dana Pembinaan Ormas Kepada Pemerintah yang sangat diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan anggota.

    fb_img_1542779423779

    Suasana Ibadah Pembukaan Raker yang dipimpin oleh Pdt. Joice Ester Raranta, M.Th

    Acara yang diawali dengan ibadah yang dipimpin Pendeta Joice Ester Raranta, M.Th (Pengurus DPP, red) mengambil tema Hidup Rukun, rukun dalam organisasi, rukun dalam administrasi dan juga rukun dalam keuangan, melayani dalam kebersamaan, memberi dalam melayani.

    Sekretaris Jenderal Mawardin Zega menjelaskan Raker Tahunan DPP ini memutuskan beberapa hal penting diantaranya konsolidasi organisasi dan bagi DPW/DPD yang tidak mampu konsolidasi organisasi perlu ditinjau ulang (diganti, red) kepengurusannya. Hal lainnya yang menjadi perhatian adalah sumbangsih MUKI untuk masyarakat, bangsa dan negara tentu untuk pembangunan umat, kita mau kedepan MUKI benar-benar berbuat untuk umat, demikian Sekjen MUKI menyampaikan.

    Bahkan diakhir pernyataannya, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Samuel Riwu, Sarifina Maringka, Marlin Suatan, Netty Herawati, Saltje Margaret dan juga Djanne Tando (Panitia) yang telah membuat Raker DPP MUKI berlangsung dengan baik dan meriah. (*)

  • Seminar Sehari : Keluarga, Tantangan dan Akhir Zaman

    Seminar Sehari : Keluarga, Tantangan dan Akhir Zaman

    Bekasi, WARTANASRANI.COM – Dilatar belakangi dengan keterbebanan dalam pelayanan dan melihat kebutuhan rohani orang percaya saat ini, maka Pdt. Joyke DH Killing, S.Th dan Bpk Drs. Bachtiar Manurung, SE, MM, M.Th menggagas acara seminar sehari, yang digelar pada Selasa (20/11/2018) di Jati Asih Jawa Barat.

    Pada pukul 09.00 Wib, para peserta mulai berdatangan dan melakukan registrasi. Peserta terlihat sangat antusias untuk mengikuti seminar ini. Peserta berasal dari berbagai macam denominasi gereja.

    Sesi pertama disampaikan oleh Pdt, Joyke DH Killing, S.Th. Dalam pendahuluannya ia menjelaskan definisi Keluarga yaitu terdiri dari Bapak, Ibu dan Anak-anak. Penjelasan selanjutnya mengenai asalmula keluarga, yang langsung dibentuk oleh Tuhan yaitu keluarga Adam dan Hawa.

    Tuhan memiliki peran penting dalam pembentukan keluarga. Keluarga pertama dirusak oleh Dosa sehingga akibatnya manusia harus bekerja keras dalam pemenuhan kebutuhan keluarganya.  Dan ibu-ibu menderita sakit bersalin.

    Menurutnya keluarga zaman sekarang diperhadapkan dengan berbagai macam masalah yang sangat kompleks. Contohnya untuk mendidik anak-anak sangat berbeda dengan zaman dahulu. Zaman sekarang anak-anak dimanjakan dengan gadget, oleh sebab itu orang tua memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya untuk mengenal Tuhan.

    Mengajar mereka agar, dalam situasi dan kondisi apapun mereka tidak mempertaruhkan iman percayanya kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Teruslah mendoakan anak-anak agar supaya mereka diberikan berkat-berkat yang terbaik dari Tuhan, pungkasnya.

    Pembicara kedua Bpk Bachtiar Manurung, SE.,MM.,M.Th, aktif dalam pelayanan dan usaha, mengupas tantangan orang percaya di akhir zaman dari sisi sekularitas.

    Pria kelahiran Medan ini memaparkan materi yang dilandasi firman Tuhan dalam 2 Timotius 3:1-5 bahwa zaman akhir ini banyak sekali tanda-tanda yang sudah difirmankan oleh Tuhan. Dengan menyimpangnya prilaku-prilaku manusia, orang percaya dihimbau untuk waspada dan siap sedia. Karena kedatangan Tuhan Yesus Kristus tidak ada seorangpun yang tahu.

    Melalui acara ini Bapak satu orang anak ini membagikan tips-tips yang dipakainya untuk menjalani hidup bersama dengan Tuhan, ditengah-tengah jabatan yang Tuhan percayakan, yaitu Pertama Andalkan lah Tuhan dalam segala hal, jangan pernah mengandalkan akan

    kekuatan manusia. Yang kedua ia memaparkan untuk memiliki kejujuran dalam didalam setiap situasi dan kondisi baik dirumah, sekolah maupun lingkungan pekerjaan. Yang ketiga Jangan menjadi orang yang sombong, rendahkanlah dirimu maka engkau akan ditinggikan oleh Tuhan.

    Seminar berjalan dengan baik sampai sore hari, namun demikian tidak menyurutkan semangat para peserta. Seminar kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab. Dengan banyaknya pertanyaan, ini sangat menarik dan artinya acara ini bisa dikatakan sukses sekalipun tidak semua materi dapat diselesaikan. Kemungkinan seminar yang sama akan kembali digelar, melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta. (red)

     

  • Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., Kembali Pimpin PGPI Lima Tahun Kedepan

    Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., Kembali Pimpin PGPI Lima Tahun Kedepan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Perhelatan Musyawarah Besar (Mubes) Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) 2018 yang berlangsung mulai tanggal 12-15 November 2018 di GBI Mawar Sharon Kelapa Gading, Jakarta, akhirnya ditutup dengan penetapan Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., sebagai Ketua Umum PGPI periode 2018-2023.

    “Atas nama Ketua Umum terpilih dan mengatasnamakan saudara sekalian sebagai stakeholder dari PGPI, saya mengucapkan terima kasih pertama kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang hadir sebagai tamu yang tidak kelihatan, dan mengendalikan segalanya dalam persidangan ini,” ungkap Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA., saat menerima palu pimpinan sidang dari Ketua Panitia sekaligus Ketua Majelis Persidangan, Pdt. Jason Balompapueng dihadapan peserta Mubes PGPI VIII.

    Ketua Umum terpilih inipun menyampaikan apresiasi kepada pimpinan majelis persidangan yang diketuai oleh Pdt. Jason Balompapueng.

    “Saya berterima kasih kepada Bapak-Bapak sekalian yang ada pada meja majelis ketua yang dipimpin oleh Bapak Pdt. Jason Balompapueng yang dengan hikmat Tuhan telah mengatur segala perkara ini. Tuhan memberkati Bapak-Bapak sekalian dalam pelayanan. Sampai kita jumpa dalam Mukernas pertama PGPI. Tuhan memberkati Bapak-Bapak sekalian,” ungkapnya lagi.

    Sementara itu, dalam konferensi pers setelah acara pelantikan, Ketua Panitia sekaligus Ketua Persidangan, Pdt. Jason Balompapueng mengungkapkan kepada media tentang terpilihnya kembali Pdt. Jacob Nahuway sebagai Ketua Umum PGPI.

    “Satu hal yang luar biasa, PGPI pengurusan dari periode 2013-2018 telah berhasil menyelenggarakan Musyawarah Besar. Musyawah Besar ini ada pemilihan Ketua Umum dan Bapak Pdt. Dr. Jacob Nahuway sebagai Ketua Umum periode 2013-2018 terpilih kembali secara aklamasi, 50 persen plus suara. Jadi sudah terpilih kembali dan ini membuktikan bahwa kepemimpinan beliau diakui dan diterima bahkan di banggakan oleh seluruh sinode-sinode yang bergabung dalam PGPI,” ungkap Ketua Panitia Mubes VIII PGPI saat mendampingi Ketua terpilih Pdt. Jacob Nahuway dalam konferensi pers, Kamis, (15/11/2018).

    “Dalam hal ini yang hadir dalam Musyawarah Besar kali ini, peserta ada 625 orang, yang terdiri dari para MPR (Majelis Penasihat Rohani), Pengurus PGPI Pusat dan Ketua-Ketua Sinode dari 84 dan sekarang telah menjadi 91 Sinode. Sudah bertambah 7 Sinode. Jadi PGPI sekarang sudah membawahi 91 Sinode, dan para ketua-ketua Provinsi dan Kabupaten/Kota, dan membawahi 13,5 juta umat pentakosta seluruh Indonesia. Ini adalah hal yang luar biasa!,” tambah Pdt. Jason.

    pgpi2

    Ketua Umum terpilih PGPI periode 2018-2023, Pdt. Dr. Jacob Nahuway bersama Ketua Panitia Mubes VIII PGPI, Pdt. Jason Balompapueng

    Menjawab pertanyaan media soal program kerja kedepan PGPI, Pdt. Jacob Nahuway menyatakan bahwa sebagai Ketua Umum terpilih, ia sudah menyiapkan program kerja PGPI untuk lima tahun kedepan.

    “Aneh kalau organisasi sebesar ini tidak mempunyai program kedepan. Bahkan sebelum saya terpilihpun, saya telah memimpin organisasi ini selama lima tahun dan banyak hal yang kita kerjakan sehingga pemilihan saya sebagai ketua umum kali ini, itu sangat signifikan,” sebut Pdt. Jacob Nahuway.

    Dengan gayanya yang khas diselingi tawa, gembala GBI Mawar Sharon Kelapa Gading ini menguraikan bagaimana PGPI menjalankan perannya untuk menggalang persatuan dan kerjasama yang baik antar umat Kristiani, antar umat beragama dan dengan pemerintah.

    “Peranan kita kedepan adalah bahwa kita harus menggalang umat Kristiani dulu diantara kita dari berbagai kelompok, berbagai denominasi dengan liturgi-liturgi Ibadah yang berbeda. Setelah itu antara Kristen dengan umat beragama. PGPI harus berperan dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Lalu yang berikut, kita dengan pemerintah. Kalaupun ada gereja yang sudah resmi, punya Ijin atau IMB dan toh dibakar oleh lingkungan, PGPI akan bersuara mengatasnamakan umat. Kalau misalnya ada bencana seperti di Palu, minggu depan saya punya rombongan akan turun di Palu dan selidiki apakah yang perlu dibantu,” tegas Pdt. Jacob Nahuway.

    Berikut hasil voting yang membawa  Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA., kembali pimpin PGPI lima tahun kedepan: Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA (83 suara), Pdt. DR. Sherlina Kawilarang (60 suara), Pdt. DR. Japarlin Marbun (12 suara), Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman (3 suara), Pdt. IR. Timotius Subekti (2 suara), Pdt. DR. Daniel Tumbel (1 suara), Pdt. DR. Johnny Weol (1 suara), Pdt. Sevina (1 suara).

  • Pernyataan Sikap Keprihatinan Warnai Penetapan Ketua Umum PGPI Periode 2018-2023

    Pernyataan Sikap Keprihatinan Warnai Penetapan Ketua Umum PGPI Periode 2018-2023

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Penetapan Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA sebagai Ketua Umum PGPI 2018-2023 dalam Sidang Pleno Pemilihan Ketua Umum PGPI, ternyata menimbulkan polemik pada sebagian peserta Musyawarah Besar (Mubes) VIII PGPI 2018 yang berlangsung mulai tanggal 12-15 November 2018 di GBI Mawar Sharon Kelapa Gading, Jakarta.

    Hal ini dibuktikan dengan keluarnya press release yang berisi pernyataan sikap keprihatinan atas hasil musyawarah besar PGPI tentang pemilihan Ketua Umum periode 2018-2023 yang dianggap melanggar Anggaran Rumah Tangga PGPI.

    “Hari ini kita memberikan press release untuk keprihatinan dan dikemudian hari apakah ada langkah selanjutnya atau tidak, kita menyerahkan kepada pemegang hak suara,” ujar Pdt. Dr. Sherlina Kawilarang, MBA., kepada awak media saat konferensi pers di Hotel POP Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, (15/11/2018).

    Salah satu poin penting yang menjadi alasan keprihatinan para pemegang hak suara yang mendukung Pdt. Sherlina adalah tidak dilakukannya verifikasi terlebih dahulu terhadap Balon Ketua Umum Pdt. Dr. Jacob Nahuway terkait apakah sudah memiliki ijin dan rekomendasi dari sinodenya. Berikut petikannya:

    Seharusnya pimpinan sidang tidak langsung menetapkan Pdt. DR. Jacob Nahuway sebagai Ketua Umum PGPI 2018-2023, berdasarkan alasan: Pertamaseharusnya dilakukan verifikasi terlebih dahulu, tentang terpenuhinya seluruh persyaratan sebagai Ketua Umum, sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Rumah Tangga Bab V, Pasal 6, Ayat II, No. 9, halaman 100. Kedua, Manakala dilakukan verifikasi, kuat dugaan kami, Pdt. DR. Jacob Nahuway, tidak memiliki ijin dan rekomendasi dari sinodenya. Ketiga, Sebelumnya pimpinan sidang telah menyampaikan akan dilakukan verifikasi Calon Ketua Umum sebelum pemilihan dilakukan. Keempat, Kenyataannya, Pimpinan Sidang tanpa melakukan verifikasi dengan meminta persetujuan Peserta Sidang (tidak memperhatikan interupsi BANYAK Peserta Sidang), begitu saja menetapkan Pdt. DR. Jacob Nahuway, sebagai Ketua Umum PGPI 2018-2023. Kelima, Bilamana benar Pdt. DR. Jacob Nahuway tidak ada Surat Rekomendasi Sinodenya, maka telah terjadi pelanggaran Anggaran Rumah Tangga Bab V Pasal 6 ayat II angka 9, yaitu “tidak ada rekomendasi dari Sinodenya”.

    Terkait tidak adanya surat ijin dan rekomendasi, Pdt. Dr. Japarlin Marbun lewat sambungan telepon, kepada wartawan membenarkan hal itu.

    “Masalahnya bukan Sinode tidak memberi, tetapi Pak Jacob Nahuway tak pernah meminta surat rekomendasi ke Sinode GBI untuk maju menjadi calon Ketua Umum PGPI,” terang Ketua umum Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) ini.

    Menyikapi proses yang dianggap melanggar Anggaran Rumah Tangga PGPI serta diduga tidak berjalan jurdil ini, pemilik suara tertinggi kedua bakal calon Ketua Umum, Pdt. Sherly Kawilarang akhirnya menengahi keinginan pimpinan sinode gereja yang mendukungnya dengan membuat pernyataan keprihatinan bersama.

    “Saya menahan teman-teman yang mendukung saya. Ada yang meminta hasil pemilihan kita tolak. Ada yang mengusulkan agar mendirikan PGPI tandingan, bahkan ada pemikiran untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Saya menahan teman-teman agar kita membuat surat keprihatinan saja,” ungkap Ketua Asosiasi Tekstil Indonesia Se-Jawa Timur ini.

    “Hal lumrah dalam setiap pemilihan ketua organisasi ada menang dan kalah. Saya tak berambisi menjadi ketua umum. Saya diusulkan teman-teman, Saya direkomendasikan sinode gereja Saya. Yang membuat kami bersikap ini, oleh karena sesungguhnya belum ada yang terpilih menjadi ketua, tahu-tahu sudah ditetapkan. Ini tak benar! Tahap awal masih penetapan bakal calon,” ungkapnya lagi

    Sementara itu, dengan keluarnya press release pernyataan keprihatinan yang ditandatangani kurang lebih tiga puluhan pendeta dari berbagai sinode ini menjadi tantangan tersendiri untuk PGPI kedepan.

    “Sekarang kami hanya membuat surat keprihatinan. Itu pernyataan sikap kami sementara. Tetapi tentu, kami prihatin atas pemilihan Ketua Umum dalam Mubes ini. Ini sangat memprihatinkan! Ujar Pdt. Dr. Sherlina Kawilarang wanita pertama yang menghiasi sejarah panjang PGPI sebagai calon Ketua Umum.

  • Pukul Gong 5 Kali, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin Buka Mubes VIII PGPI

    Pukul Gong 5 Kali, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin Buka Mubes VIII PGPI

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Didampingi Ketua Umum Pengurus Pusat PGPI Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA., dan Ketua Panitia Mubes Pdt. Jason Balompapueng, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin secara resmi membuka Musyawarah Besar (Mubes) VIII Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) yang berlangsung di Gereja Bethel Indonesia Mawar Sharon, Jl. Hibrida Timur, Kelapa Gading Permai, Jakarta, hari ini, Selasa (13/11/2018).

    “Sesuai dengan permintaan Ketua Umum PGPI, Pdt. DR. Jacob Nahuway, saya akan memukul gong ini lima kali, sesuai Pancasila dengan lima sila-nya” ujar Menteri Agama Indonesia yang menjabat sejak 9 Juni 2014 di Kabinet Indonesia Bersatu II dan kembali menjadi menteri di Kabinet Kerja sejak 27 Oktober 2014.

    Sebelum pukul gong lima kali, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, diawal sambutan, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bapak Presiden Joko Widodo.

    “Pertama saya menyampaikan permohonan maaf dari Bapak Presiden, beliau tidak bisa hadir karena dalam waktu yang bersamaan ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Beliau menyampaikan salam kepada Bapak Ketua Umum PGPI dan seluruh Pengurus Harian PGPI,” ungkapnya.

    Selanjutnya, dalam sambutan, Lukman Saifuddin memberi apresiasi kepada PGPI dengan 85 anggota Sinode. Menurutnya, PGPI telah sangat membantu pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peradaban hidup bersama.

    “Sebagai menteri Agama, sebagai pemerintah, saya menyampaikan terima kasih, apresiasi saya yang sebesar-besarnya kepada PGPI yang tidak menjadikan gereja sebagai rumah ibadah semata, tetapi juga menjadikan gereja sebagai pusat aktifitas sosial, sebagai pusat pengembangan masyarakat yang menjadi faktor penting kita untuk upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan peradaban hidup kita bersama,” ungkapnya pada sepuluh ribu, baik peserta, undangan dan jemaat yang memadati ruang ibadah GBI Mawar Sharon, Kelapa Gading, Jakarta.

    “Harapan pemerintah lewat Mubes VIII PGPI betul-betul mampu menggali, membahas, mendiskusikan, memusyawarahkan dan pada akhirnya memutuskan, menyepakati rumusan-rumusan program yang tentu akan ditindaklanjuti oleh semua kita dalam upaya menjadikan gereja sebagai pusat kegiatan dalam meningkatkan kesejahteraan bersama,” ungkapnya lagi.

    _20181113_160709

    Mubes yang mengambil tema, “Dalam TUHAN Kita Satu”, dihadiri juga oleh Dirjen Bimbingan Masyarakat Kristen, Bapak Prof. Dr. Thomas Pentury yang sekaligus meresmikan Kantor Sekretariat Pengurus Pusat PGPI.

    “Ini bukan kantor baru, tapi ini adalah kantor pertama PGPI! Dari sejak 50 tahun yang lalu, PGPI tidak pernah punya kantor. Jadi ini kantor yang pertama,” terang Ketua Umum PP PGPI, Pdt. Jacob Nahuway saat sambutan singkatnya.

    Dari info panitia, Mubes VIII PGPI dengan agenda penting, pemilihan Ketua Umum periode 2018-2022, sampai siang ini, teregistrasi 420 peserta. Adapun peserta Mubes merupakan pengurus PGPI tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota di Indonesia.

  • Presiden Jokowi: Dari Paduan Suara Kita Belajar Toleransi

    Presiden Jokowi: Dari Paduan Suara Kita Belajar Toleransi

    BOGOR, WARTANASRANI.COM – Aset terbesar bangsa Indonesia tak lain adalah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Pemahaman soal itu terus disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sejumlah kesempatan. Saat bersilaturahmi dengan panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tahun 2018 di Istana Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 12 November 2018, Kepala Negara mengatakan bahwa paduan suara juga dapat mengajarkan kita mengenai filosofi dari kerukunan yang dibutuhkan bangsa Indonesia.

    Menurutnya, paduan suara mampu mengharmoniskan karakter-karakter vokal yang beragam menjadi sebuah kesatuan yang lengkap dan indah.

    “Suara sopran, alto, tenor, dan bas semua harus saling menghargai. Enggak mungkin satu minta dominan, satu lainnya minta terus-terusan. Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapat sebuah suara yang padu, harmonis, dan indah,” tuturnya.

    img-20181112-wa0007

    Selain itu, Kepala Negara mengajak para peserta Pesparani untuk turut mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Saat ini, bangsa Indonesia membutuhkan pemahaman lebih soal pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan antarelemen bangsa.

    “Kebutuhan kita saat ini akan persatuan, mengingatkan akan pentingnya persatuan. Saya ingin itu betul-betul terus disampaikan kepada masyarakat. Karena banyak kita ini yang tidak ingat bahwa negara ini memang sangat beragam,” ujarnya.

    “Jangan sampai intoleransi dan ekstremisme menganggap dirinya yang paling benar dan merasuk ke mana-mana. Akhirnya nantinya masyarakat merasa tidak rukun. Itu yang sangat berbahaya,” tandasnya.

    Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo. (*)

  • Pewarna Banten  Gelar FGD Dengan Tema, Merebut Massa Mengambang

    Pewarna Banten Gelar FGD Dengan Tema, Merebut Massa Mengambang

    TANGSEL, WARTANASRANI.COM – Saya termotivasi dengan pak Ahok. Kalau kita mau membuat perubahan hanya ada dua pilihan, yaitu kita terjun ke dalam system atau mendukung orang lain yang akan membenahi system, tegas Hendrik Setiawan, Caleg PSI DPRD Provinsi Banten dapil 3, saat mengawali paparannya dalam Focus Group Discussion yang diselenggarakan Pewarna Banten, Jumat, (09/11/2018), di Pasta Kangen Cafe, Gading Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

    Hendrik yang berlatarbelakang sebagai seorang profesional di bidang bisnis, menyoroti soal pengurusan perizinan bisnis di Banten yang belum maksimal dan perlu pembenahan.

    “Fokus utama adalah membenahi pembuatan perizinan bisnis di Propinsi Banten yang terksesan masih menganut system “Wani Piro?”. Pembenahan ini diperlukan agar semakin memperluas ruang usaha di Banten, sehingga peluang penyerapan tenaga kerja juga akan semakin besar,” pungkasnya.

    Dari visinya membuat Banten menjadi lebih baik, Hendrik memiliki misi; memangkas alur serapan aspirasi dari masyarakat untuk dibawa langsung ke tingkat DPR maupun pemerintahan, sehingga solusi yang tepat dapat segera diberikan untuk masyarakat Banten, dan misi berikutnya adalah melakukan pengawasan penerapan kebijakan di Banten, kemudian melakukan pembenahan infrastruktur di daerah dengan menggunakan dana reses, seperti yang diatur di dalam Undang-Undang.

    Sementara itu, terkait bagaimana merebut suara massa mengambang, Hendrik mengakui bahwa pendekatan ke massa mengambang pastilah tidak mudah. Namun Hendrik percaya jika pendekatan dilakukan menggunakan hati, maka akan selalu ada jalan.

    Setelah Hendrik, tampil narasumber kedua, Hasudungan Manurung, SH., MH. Caleg PSI Dapil Tangerang Selatan ini lebih menyoroti soal strateginya merebut massa mengambang yaitu generasi milenial.

    Menurut Hasudungan, di saat masa bonus demografi seperti saat ini umat Kristen harus ikut menjawab tantangan yang sedang dihadapi oleh generasi millenial. Di mana permasalahan utama yang dihadapi mereka terkait lapangan pekerjaan, biaya nikah, hingga kualitas pengetahuan yang memiliki hubungan erat dengan daya saring dan serap mereka terhadap kemajuan teknologi informasi.

    “Setiap warga negara berhak mendapatkan perlakuan yang setara, adil, dan tidak diskriminatif. Termasuk hak dalam memperoleh pekerjaan, pendidikan, hingga hak untuk membela negaranya. Hal ini dijamin oleh Undang-Undang. “Nah nilai-nilai inilah yang juga harus ikut menjadi perhatian dari warga gereja,” ungkapnya.

    “Gereja juga tidak boleh merasa tabu mendorong kader-kader muda mereka untuk terjun ke dunia politik dan membawa perubahan di sana. Terkait perjuangan melawan intoleransi dan diskriminasi, kader-kader Kristen harus berani untuk masuk ke dalam system dan menciptakan perubahan dari dalam,” ungkapnya lagi.

    Hasudungan tak menampik bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana cara agar namanya dikenal. Namun dia meyakini kalau pemegang hak suara akan memilih berdasarkan karya-karya apa saja yang telah dibuat para CALEG.

    Terlepas apa pun pilihan politiknya, Hasudungan menegaskan bahwa suara Kristen harus tetap bulat untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat.

    Selain Hendrik Setiawan, Caleg PSI DPRD Prov Banten, Dapil 3 dan Hasudungan Manurung SH, MH., Caleg PSI Dapil Tangerang Selatan, tampil juga sebagai narasumber, Anthony Maruli Purba SH., Ketua DPW MUKI Banten dan Dony Susanto S.Th., Ketua DPA GBI Banten. FGD yang merupakan kegiatan Pra Rakernas Pewarna Indonesia ini di pandu oleh Luke Luther Kembaren sebagai moderator.

  • HMT Tours and Travel dan TLT beri klarifikasi serta permohonan maaf terkait Peserta Wisata Ziarah yang terkendala masuk Israel

    HMT Tours and Travel dan TLT beri klarifikasi serta permohonan maaf terkait Peserta Wisata Ziarah yang terkendala masuk Israel

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Manajemen HMT Tours & Travel menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya terkait kejadian beberapa peserta wisata ziarah yang terkendala masuk ke Negara Israel dengan keberangkatan bulan Oktober 2018 melalui PT. Hidup Makmur Terencana (HMT Tours and Travel). Ini dilakukan, karena pihak manajemen tidak ingin mengecewakan para peserta dan pelayanan terbaik kepada konsumen adalah prioritas utama bagi perusahaan yang sudah berdiri selama 9 tahun ini.

    “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, karena selama 9 tahun berdiri dan sudah memberangkatkan hampir 15.000 orang peserta ziarah ke Holyland, PT. HMT belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Lewat kejadian ini menjadi perhatian khusus kami untuk perbaikan yang lebih baik lagi di kemudian hari,” kata Direktur Utama PT. HMT Tours and Travel, Ronny Benyamin Tambayong kepada MBN di ruang kerjanya, Rabu (31/10/2018).

    “Seluruh peserta ziarah yang terkendala masuk ini juga sudah ditangani dengan sangat baik oleh TIM HMT selama berada di Mesir dan Jordan. Mereka diberikan pelayanan maksimal serta diberikan bonus itinerary tambahan selama di Mesir dan Jordan” tambah Ronny.

    Melalui Tim Legal PT. HMT Andre Victor, SH, MH dan Mohammad Hasan, SH, pihak manajemen juga memberikan klarifikasi terkait ketidaknyamanan tersebut. Salah satunya disebutkan bahwa HMT telah memproses dan mengurus semua pengajuan visa Israel untuk keberangkatan Oktober 2018 ini sesuai ketentuan yang berlaku di Israel melalui partnernya yang berada di Israel, dalam hal ini The Land Tours (TLT).

    “Kami informasikan bahwa HMT bekerja dengan sangat baik dan menyajikan semuanya tepat waktu untuk mendapatkan visa,” kata pihak TLT dalam suratnya kepada PT. HMT terkait visa tersebut.

    Tak hanya itu, pihak TLT juga sudah mendapatkan approval Letter (Surat Persetujuan) masuk ke Israel untuk seluruh group HMT bulan Oktober 2018 dari pejabat berwenang di Ministry Israel. Namun ternyata terjadi di lapangan, terdapat miss-administrasi antara pihak TLT dengan Ministry Israel yang menyebabkan group HMT bulan Oktober ini terkendala masuk ke Israel.

    Untuk itu sebagai bentuk pertanggungjawaban, dalam surat klarifikasinya, pihak TLT bersedia memberangkatkan kembali seluruh peserta wisata ziarah Oktober 2018 ini melalui HMT Tours & Travel pada Januari, Februari atau Maret 2019 mendatang, sesuai tanggal yang diminta peserta. Adapun untuk semua biaya keberangkatan akan ditanggung pihak TLT sehingga lagi tidak dibebankan kepada para peserta ziarah. Sedangkan untuk group keberangkatan HMT pada bulan November 2018 dan seterusnya, pihak manajemen akan tetap memberangkatkan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, dan tidak ada kendala untuk masuk ke Israel.

    Sementara, pihak TLT sendiri dalam suratnya kepada PT. HMT mengakui bahwa hal ini bukanlah kesalahan di pihak HMT tetapi masalah internal di Israel, di samping untuk aplikasi visa di kantor Israel. Di Israel, TLT berkolaborasi dengan HMT dan mereka sudah menerapkan visa untuk semua group pada Oktober 2018 oleh sistem.

    “Tetapi pada saat ini di Israel, ini masalah teknis dan sistem, dan yang menentukan group-group tersebut akan menerima izin khusus dari otorisasi pelayanan resmi,” kata Eduardo Yosef, Silvera Incoming Departement TLT dalam keterangannya.

    Dalam suratnya Eduardo juga menerangkan, pihaknya telah menerima surat persetujuan dari Kementerian berwenang sehingga semua group HMT bulan Oktober dapat memasuki Israel. Surat persetujuan ini juga jaminan dan berlaku masuk Israel untuk group HMT bulan Oktober 2018. Namun pada 25 Oktober 2018, kata Eduardo, tanpa diketahui TLT dan HMT, Kementerian membatalkan surat persetujuan tanpa alasan yang jelas dan kemungkinan ada masalah tehnis/administrasi yang terjadi . Inilah alasan mengapa group itu terkendala bisa masuk Israel.

    “Saat ini kami terus mengurus dan berkoordinasi dengan pihak terkait guna mengetahui titik permasalahannya,” kata Eduardo Yosef.

    Untuk itu ia menegaskan, TLT dan HMT bukan yang utama dalam situasi ini. Namun keduanya bersama-sama akan memikul tanggungjawab bahwa setiap turis yang tidak dapat masuk ke Israel tahun ini dapat melakukannya tahun depan, tanpa biaya.

    “Kami di TLT akan menanggung biaya terestrial sesuai dengan nama dan nama keluarga dari setiap penumpang yang terkena dampak selama bulan Oktober ini,” kata Yosef.

    Tanggal 2 November 2018 2 group HMT berjumlah 83 orang sudah kembali masuk ke Israel dan berziarah. Semua group HMT bulan November 2018 sudah bisa masuk ke Israel tanpa halangan. (*)