Category: Ragam

  • Jelang Pemilu 2019, Sinode GPdI Sampaikan Surat Pastoral Bagi Warganya

    Jelang Pemilu 2019, Sinode GPdI Sampaikan Surat Pastoral Bagi Warganya

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Sambut Pesta Demokrasi yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019, Sinode Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) mengeluarkan Surat Pastoral bagi warga GPdI yang tersebar di 20.000 sidang jemaat di seluruh Indonesia termasuk yang berada di mancanegara. Pesan Pastoral ini, disampaikan langsung Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pdt. Dr. Johnny Weol MM. M.Th., dalam konferensi terbatas di ruang utama Wisma Pantekosta Sunter, Jakarta, Senin pagi ini (18/03).
    Didampingi Sekum, Pdt. Drs. Yohanes Lumenta (DKI Jakarta) dan beberapa Pengurus Inti Majelis Pusat (MP), Pdt. Johnny Weol menyampaikan bahwa sebagai Warga Negara Indonesia, warga GPdI memiliki hak suara berkaitan dengan Pemilu 2019. Oleh karenanya Ia pun mengajak semua warga GPdI dimanapun berada, untuk menggunakan hak suaranya dan tidak golput (tidak memilih – red).
    Terkait hal ini, Majelis Pusat GPdI telah memberikan wawasan dan pandangan yang jelas dan obyektif untuk seluruh pemilih yang akan menggunakan hak suara pada hari pemungutan suara 17 April 2019.
    “Hal ini perlu dijelaskan terutama dalam hal memilih presiden dan wakil presiden untuk masa kerja 5 tahun ke depan, termasuk memilih anggota legislatif tingkat pusat, propinsi dan daerah,” terang Pdt. Johnny Weol.
    Ditegaskannya pula bahwa kebijakan MP GPdI dalam Pileg adalah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada warga gereja untuk memilih sesuai hati nuraninya.
    “Karena kadang di lapangan ada banyak hal yang bisa saja ditemukan, misalnya saling berkaitan dengan keluarga, berkaitan dengan teman. Itu sebabnya diberikan kebijakan agar mereka memilih sebebas-bebasnya,” ungkap Weol.
    Sementara menyangkut pemilihan presiden dan wakil presiden, menurutnya, tidaklah etis kalau kemudian MP GPdI menyebutkan langsung nama yang harus dipilih. Sinode GPdI hanya menghimbau agar warganya menggunakan hak pilih dengan mencermati dan melihat realita di lapangan.
    ”Kepada seluruh warga jemaat GPdI yang memiliki hak suara kami menyarankan untuk : Memilih dari hati nurani, lalu tetap mencermati kondisi yang berkembang di tengah masyarakat, dan secara obyektif melihat realita di lapangan. Sejauh ini bagaimana dampaknya? Dalam artian, melihat bagaimana perkembangan perjalanan bangsa kita hingga saat ini, sehingga kepada seluruh warga GPdI yang memiliki hak suara, kami berikan penekanan untuk tidak bersikap golput, karena hal itu tidak baik, dan tentunya menggunakan hak pilih dengan penilaian dan pencermatan yang obyektif,” terang Pdt. Johnny Weol.
    Berikut ini salinan dari 6 poin pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Majelis Pusat GPdI yang dibacakan oleh Pdt. Dr. Johnny Weol, MM. MTh. :
    Pertama, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk membantu pemerintah, aparat keamanan (TNI/Polri) dalam hal menjaga ketertiban demi terciptanya keadaan yang kondusif.
    Kedua, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk tidak menyebarkan hoax yg berpotensi terciptanya keresahan di tengah masyarakat.
    Ketiga, Dalam rangka pelaksanaan Pemilu 2019, kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia untuk tidak bersikap golput.
    Keempat, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia yang telah memiliki hak suara untuk memilih presiden dan wakil presiden serta para wakil rakyat di semua tingkatan (pusat dan daerah) diminta untuk mendatangi Tempat Pemungutan Suara pada hari yang telah ditentukan yaitu 17 April 2019.
    Kelima, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk menggunakan hak suara pada hari tersebut, memilih presiden dan wakil presiden secara bertanggung jawab, menggunakan hati nurani, obyektif dengan memperhatikan realita di lapangan demi kelangsungan bangsa dan negara kita yang lebih baik, lebih maju dan lebih sejahtera ke depan.
    Keenam, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk senantiasa menaikkan Doa Syafaat bagi bangsa, negara RI, pemerintah serta aparat keamanan (TNI dan Polri) dan seluruh rakyat Indonesia. (*)
  • Sekjen SANI: Apresiasi PEWARNA Indonesia, Bawa PEWARNA Semakin Diperhitungkan

    Sekjen SANI: Apresiasi PEWARNA Indonesia, Bawa PEWARNA Semakin Diperhitungkan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Apresiasi PEWARNA Indonesia (API) tahun 2019 yang akan diadakan pada 29 Maret mendatang mendapat pujian dari Sekretaris Jenderal SANI (Sahabat Advokat Nusantara Indonesia) Feni Yolandani SH. Feni meyakini melalui perhelatan API, kehadiran PEWARNA sebagai organisasi yang mewadahi profesi wartawan akan semakin diperhitungkan oleh khalayak luas. Hal ini dikatakan Feni saat bertemu dengan PEWARNA Indonesia di kawasan Batu Ceper, Jakarta Pusat, Jumat malam (15/03/2019).
    Menurut Feni, makin diperhitungkannya kehadiran PEWARNA berpangkal dari popularitas nama organisasi tersebut di kalangan lintas profesi.
    “Saya mendengar dari komunitas pengacara bahwa PEWARNA adalah suatu komunitas wartawan Kristen. Saya pikir PEWARNA ini kan komunitas yang biasa-biasa saja, baru muncul. Ternyata setelah saya ngobrol sana-sini PEWARNA itu sudah banyak yang kenal,” ungkapnya.
    Feni kemudian bercerita soal kenangan saat dirinya menerima penghargaan dari PEWARNA Indonesia di Seminyak, Bali, Agustus lalu. Menurutnya ada kebanggaan tersendiri ketika menerima penghargaan tersebut.
    “Satu hal yang perlu saya syukuri, anugerah Tuhanlah kalau saya bisa sampai mendapatkan apresiasi ini. Waktu menerima penghargaan di Bali, saya merasa bangga. jadi kalau saya mendapatkan penghargaan dari komunitas ini ya sangat bangga,” kata penerima anugerah ‘Sahabat PEWARNA Indonesia’ tahun 2018, itu.
    Terlebih di momen tersebut, lanjut Feni, PEWARNA bisa menghadirkan sejumlah tokoh penting yang di antaranya adalah Sekretaris Jenderal Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), Sugeng Teguh Santoso SH. Menurutnya, itu makin membuktikan bahwa PEWARNA sudah makin dikenal oleh banyak orang.
    “Ternyata ada juga advokat senior saya, pak Sugeng Teguh Santoso. Beliau ini adalah orang yang sangat pilah-pilah karena nggak bisa sembarang orang. Posisinya sebagai Sekjen di PERADI ya, PERADI se-Indonesia lagi. Saya sampai kaget kok sampai pak Sugeng sampai bisa ada di sini? Berarti PEWARNA ini sudah dikenal,” kata wanita yang juga menerima penghargaan ‘Advokat Wanita Terbaik Jawa Barat’ dan ‘Advokat Wanita Tangguh Jawa Barat’ dari salah satu media nasional tertua di Indonesia, itu.
    Jemaat GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia) Taman Holis, Kota Bandung, itu, juga mengutarakan bahwa dirinya siap mendukung kegiatan API 2019 yang akan dilaksanakan akhir Maret mendatang. Dia juga mengimbau agar wartawan yang tergabung di PEWARNA bisa terus menjaga kekompakan yang ada, sekaligus menjunjung tinggi profesionalitasnya dalam melahirkan karya.
    “Harapan saya ke depan, wartawan juga harus lebih hati-hati dalam menulis beritanya. Karena tidak semua yang mereka tuliskan benar apa adanya dari si orang yang berbicara. Kadang berlebihan, ditambahi, atau bahkan ada yang dipotong. Jangan seperti itu,” kritiknya. [RP/majalahgaharu.com)]
  • Bahaya, Jika Lemah Dalam Pemberantasan Narkoba, Indonesia Dikhawatirkan Mengalami Lost Generation

    Bahaya, Jika Lemah Dalam Pemberantasan Narkoba, Indonesia Dikhawatirkan Mengalami Lost Generation

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba Nasional (FOKAN), Jeffry Tambayong, mengatakan Indonesia dikhawatirkan akan mengalami lost generation di masa yang akan datang bila penyalahgunaan narkoba tidak segera diberantas secara menyeluruh. Hal ini dikatakan Jeffry berkaca dari sejarah negeri Tiongkok yang dikalahkan Inggris tanpa melalui peperangan senjata, melainkan menggunakan jenis Narkoba yang populer ketika itu, yakni candu.

    “Karena kalau tidak (diberantas), percaya kepada saya ke depan ini kita akan menghadapi lost generation. Jadi kita siap-siap kaya China waktu itu kalah sama Inggris karena perang candu,” ungkap Jeffry ketika berjumpa dengan awak PEWARNA Indonesia di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu malam (11/03/2019).

    Berdasarkan pengamatan pendiri Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM} ini, ada fakta yang mengejutkan. Dikatakannya bahwa ancaman lost generation yang dimaksud bukanlah sekedar isapan jempol belaka, melainkan telah menunjukan tanda-tanda nyata di berbagai wilayah di Indonesia, dan terjadi saat ini.

    “Sekarang di pedalaman, orang-orang di pedalaman, petani-petani kalau nggak pakai sabu  nggak bisa kerja. Nelayan-nelayan di Pantura itu kalau nggak pakai sabu, rata-rata baik di Belawan, Bitung, itu para nelayan bisa patungan-patungan. Jangankan itu, anak-anak tangkapan Polres, anak tukang bajaj, tukang siomay yang dikirim ke kita (GMDM), mereka patungan perorang 50 ribu untuk nyabu bareng,” ungkapnya dengan nada prihatin.

    Jeffry yang datang bersama dengan aktivis muda anti narkoba, Richard Nayoan, kemudian memaparkan bahwa saat ini proses pengungkapan kejahatan narkoba belum menyentuh angka 10 persen jika dibandingkan dengan volume peredarannya. Pandangan itu disampaikan berdasarkan data yang dirilis oleh mantan Kepala BNN, Komjen. Pol. (Purn) Budi Waseso alias Buwas.

    “Karena waktu sebelum lengser pak Buwas (Komjen. Pol. Budi Waseso) bilang kurang lebih 350 sampai 600 ton sabu-sabu yang beredar. Nah sedangkan pak Arman Depari (Deputi Bidang Pemberantasan BNN) tangkap kurang lebih 5 ton, belum lagi Mabes Polri. Katakanlah kita anggap besarnya 10 ton, itu berarti tidak sampai sepuluh persen yang beredar bisa ditangkap,” ungkapnya.

    Kondisi itu menurut Jeffry ikut diperparah dengan masih adanya oknum dari instansi penegakan hukum yang bermain mata dengan para Bandar. Belum lagi minimnya pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang melebihi daya tampung semakin menjadikan Lapas sebagai tempat yang cukup “aman” bagi jaringan pengedar.

    “Kemarin kan pak Arman tangkap 1,5 ton, 200 kg Sabu di luar, tetapi dikendalikan di jaringan Lapas. Tapi saya mengerti mungkin tak bisa ditangani semua oleh orang Lapas karena kapasitas. Contoh di Cipinang seribu (daya tampung tahanan), tapi sekarang sudah empat ribu lima ratus. Siapa yang bisa jaga (jumlah) tersebut? Impossible bisa menjaga itu semua. Jadi ya beberapa Bandar lebih senang berada di Lapas karena mereka lebih gampang, nggak takut ketangkep,” ujarnya.

    Sikapi Dengan Ketegasan Hukum

    Dengan tergolongnya penyalahgunaan narkoba sebagai kejahatan luar biasa, Jeffry mengatakan tindakan tegas dengan menghukum mati Bandar adalah harga yang harus dibayar untuk menciptakan efek jera bagi para pelaku kejahatan ini. Kalau pun ada pihak yang memandang hukuman mati sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), Jeffry kemudian mengajak publik untuk melihat dengan kacamata yang lebih luas bahwa peredaran gelap narkoba telah merampas hak asasi para korban dan keluarga mereka.

    “Banyak orang tua yang kehilangan anak mereka, para istri yang kehilangan suami, atau pun kehilangan saudara yang mati karena narkoba. Sekarang justru mereka (keluarha korban) bangkit melawan dan menjadi yang terdepan untuk mendukung hukuman mati terhadap Bandar,” jelasnya lebih lanjut.

    Lebih dalam Jeffry berkata Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2018 tentang P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba) yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo telah memperkuat landasan hukum dalam melakukan penindakan penyalahgunaan narkoba.

    “Tetapi menurut saya, kan pak Jokowi sudah mengeluarkan Inpres (Instruksi Presiden) nomor 6 tahun 2018 tentang P4GN yang leading sectornya BNN. Kenapa Inpres ini timbul? Karena persoalan narkoba tidak bisa tertangani lagi, harus melalui penanganan dari hilir sampai hulu, begitu. Nah ini ambil saja kebijakan Pemerintah, orang yang sudah ditetapkan, sudah mengajukan PK satu-dua kali tembak mati saja sudah. Tetapi Jokowi harus ada (sebagai) Panglima di depan, artinya harus berani,” tutup Jeffry Tambayong.

  • PGI Himbau Warga Jemaat Tidak Golput, Pelajari Rekam Jejak Para Calon Dan Jauhi Hoaks

    PGI Himbau Warga Jemaat Tidak Golput, Pelajari Rekam Jejak Para Calon Dan Jauhi Hoaks

    WARTANASRANI.COM – Menyambut Pesta Demokrasi yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 yang akan datang, Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (MPH-PGI) mengeluarkan Pesan Pastoral yang berisi lima poin penting seruan PGI kepada Gereja-Gereja, Warga Jemaat, Para Kontestan – Capres/Cawapres dan Caleg, Penyelenggara Pemilu dan kepada Aparat Keamanan.

     

    Dalam isi seruan kepada Warga Jemaat, pertama PGI menyampaikan untuk tidak golput sebaliknya secara pro aktif mencek dan memastikan seisi rumahnya yang memiliki hak pilih terdaftar sebagai pemilih tetap.

     

    “Warga jemaat agar ikut hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab. Dengan demikian kita meminimalisasi kemungkinan penyalahgunaan kertas suara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Jangan golput! Kami mendorong seluruh warga jemaat untuk proaktif mencek Daftar Pemilih Tetap dan memastikan namanya tercantum di sana. Jika hendak bepergian hendaknya mengurus Formulir A5 agar dapat mencoblos di daerah yang dituju. Diharapkan seluruh warga gereja dapat memastikan seluruh anggota keluarga, teman kerja, asisten rumah tangga dan orang-orang di sekitar lingkungannya yang telah memiliki hak pilih namun tidak berada di tempat asal pada waktu pemilihan agar segera mengurus Form A5 di kantor KPU kabupaten/kota tempat yang dituju”.

     

    “Jika hendak berlibur pada hari pemilihan, kami sarankan untuk berangkat setelah menyelesaikan pencoblosan di TPS. Dalam menentukan pilihan, hendaknya merujuk kepada nasihat ketika hendak memilih pemimpin umat sbb.: “…carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap…(Kel.18:21), “sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutar balikkan perkara orang-orang yang benar.” (Kel.23:8)”.

     

    Pada bagian kedua, MPH-PGI berharap Warga Jemaat untuk mempelajari rekam jejak para calon, apakah sudah terbukti atau hanya sebatas janji-janji.

     

    “Pelajari track record atau rekam jejak para calon, apakah sudah terbukti dalam memikirkan dan melakukan hal-hal yang mensejahterakan seluruh rakyat atau baru sebatas janji-janji; utamakan pemimpin yang memiliki integritas, menghargai kemajemukan, menjunjung hak asasi manusia, kebebasan beragama serta kesetaraan gender; berwawasan lingkungan, jujur dan santun; tidak terindikasi korupsi dan melakukan politik uang; serta berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan mengutamakan persatuan bangsa”.

     

    Terakhir, pada bagian ketiga, PGI menegaskan agar Warga Gereja tidak mudah mempercayai  berita-berita hoaks/atau kebohongan.

     

    “Jauhi hoaks dan/atau kebohongan. Ingatlah nasihat Paulus dalam 1 Tesalonika 5:21: “ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Hargailah sesama warganegara walaupun pilihan politiknya mungkin berbeda. Warga gereja dapat berpartisipasi dalam memantau proses persiapan pemilu, waktu pelaksanaan pemilu, dan pada waktu penghitungan di TPS-TPS. Warga gereja dapat melaporkan kepada Bawaslu atau KPU terkait pelanggaran-pelanggaran dalam penyelenggaraan Pemilu tanpa takut”.

     

    Demikian seruan kepada Warga Jemaat dalam pesan  pastoral PGI tertanggal 8 Maret 2019, yang ditandatangani Pdt. Henriette Hutabarat Lebang (Ketua Umum) dan Pdt. Gomar Gultom (Sekum). (*)

  • Gelar Doa Kesatuan, Para Pemimpin Gereja Aras Nasional Dan Seluruh Umat Kristiani Berdoa Untuk Kedamaian Indonesia

    Gelar Doa Kesatuan, Para Pemimpin Gereja Aras Nasional Dan Seluruh Umat Kristiani Berdoa Untuk Kedamaian Indonesia

    SENTUL BOGOR, WARTANASRANI.COM – Menyikapi tantangan perkembangan teknologi, pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2019 serta berbagai bencana alam yang menimpa bangsa Indonesia, FUKRI, JDN, TCI dan My Home Indonesia menggelar acara Doa Kesatuan bertajuk Damailah Indonesiaku, Kamis (7/3) di SICC Sentul, Jawa Barat.

    img-20190308-wa0025

    Memasuki tahun 2019, kita memasuki era baru seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman. Di Indonesia khususnya akan memasuki pemilihan Presiden dan memilih Anggota Legislatif, peristiwa lima tahunan dalam menapaki kehidupan bernegara.

    Doa Kesatuan Damailah Indonesiaku mengajak seluruh umat Kristiani untuk berdoa bagi damainya Indonesia, acara ini tidak merupakan ajang kampanye untuk salah satu pasangan calon presiden. Hal ini disampaikan Dr. Antonius Natan, Panitia Damailah Indonesiaku lewat press release.

    Lebih lanjut dijelaskan bahwa DAMAILAH INDONESIA merupakan inisiatif aktif dari FUKRI, JDN, TCI dan My Home Indonesia dan FGBMFI. sedangkan FUKRI terdiri dari Aras Nasional KWI, PGI, PGLII, PGPI, PBI, Bala Keselamatan, GMAHK, GOI.

    Pemimpin Gereja menyadari bahwa doa dan campur tangan Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi merupakan hal utama yang perlu dilakukan oleh Umat Kristiani Di Indonesia. Kita menyadari bahwa Indonesia dikelilingi gunung berapi yang aktif atau dikenal sebagai RING OF FIRE, eskalasi bencana semakin meningkat dan akan terus berlanjut.

    img-20190308-wa0027

    Keberagaman Suku, agama, ras dan antar golongan yang sangat banyak harus terus dirajut dan dirawat secara bersama. Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih terus diuji. Gereja memiliki tanggung jawab sosial mengajak seluruh umat Kristiani agar menjaga hubungan damai sejahtera dan membawa terang serta menjadi garam yang bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak.

    Disebutkan juga bahwa acara yang diselenggarakan, dibagi dalam 2 bagian besar, pada sesi pertama merupakan ajang ekspresi anak-anak muda dan seluruh umat menyatakan rasa syukur dan komitmen panggilan hidup yang kudus, menghidupi hukum kasih dan tidak kompromi terhadap dosa.

    Diacara ini anak-anak muda melihat masa depan yang gemilang serta berjanji akan berperan aktif dan menjadi jawaban bagi lingkungan, berdampak positif untuk komunitas, generasi dan bangsa Indonesia.

    Sementara pada sesi kedua yang dimulai pukul 5 sore menjadi puncak acara doa Damailah Indonesiaku dilaksanakan Live Streaming kelebih dari 500 Kota Kabupaten dan hampir 50 kota di mancanegara.

    Para pemimpin gereja Aras Nasional bersama sama seluruh Umat Kristiani akan berdoa serentak dengan diawali mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, selanjutnya doa doa dinaikan agar Umat Tuhan menyadari dan menerima keberagaman sebagai kekayaan dan bersedia bekerjasama dengan semua pihak untuk mewujudkan kemajuan Indonesia. Umat Tuhan Indonesia tetap setia untuk berdoa dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

    Umat Tuhan siap bekerja keras untuk menciptakan masyarakat adil makmur sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan. Umat Tuhan siap menjaga kedamaian dan keamanan menjelang dan saat pelaksanaan pemilu bahkan sesudah Pemilu 2019. Umat Tuhan akan menggunakan hak pilih dengan penuh rasa tanggung jawab berdasarkan hikmat dan takut akan Tuhan.

    img-20190308-wa0030

    Mengapa tema, Damailah Indonesiaku diangkat, dijelaskan bahwa kita tidak sekedar berdoa tetapi harus mendirikan MEZBAH bagi TUHAN dengan pengorbanan diri dan api Injil yang menyala (2 Samuel 24:25).

    Dipilihnya tema DAMAILAH INDONESIAKU tidak lepas dari Ayat Firman Tuhan yang tertulis; “Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” 2 Tawarikh 7:13-14 (TB); “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” Yeremia 29:7 (TB). (*)

  • PGI Undang Presiden Jokowi Hadiri Konferensi Gereja Dan Masyarakat Di Manado

    PGI Undang Presiden Jokowi Hadiri Konferensi Gereja Dan Masyarakat Di Manado

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Presiden Joko Widodo pada Selasa, 5 Maret 2019, menerima pengurus Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Pertemuan berlangsung pada pukul 11.15 WIB di Istana Merdeka, Jakarta.

    Kepala Negara dalam pertemuan tersebut didampingi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana.

    Sementara dari PGI hadir Henriette Lebang selaku Ketua Umum PGI beserta 14 orang lainnya dalam kepengurusan PGI.

    “Kami datang menyampaikan dan mengundang beliau untuk menghadiri Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) yang akan diselenggarakan di Manado pada tanggal 28-31 Maret (2019),” ujar Henriette menjelaskan maksud kedatangan.

    KGM ini digelar untuk menghimpun pandangan-pandangan dari peserta konferensi atas berbagai perkembangan yang muncul di Indonesia dalam rangka berpartisipasi aktif membangun bangsa Indonesia.

    Selain itu, PGI juga menyampaikan dukungannya bagi kesuksesan pemilihan umum presiden dan legislatif tahun 2019 ini. PGI berharap agar pemilu ini dapat berlangsung dengan aman dan damai.

    “Sama-sama kita datang ke TPS untuk menentukan pemimpin kita di masa depan yang akan membawa bangsa kita ke arah damai sejahtera, ke arah situasi yang lebih baik bagi segenap warga masyarakat,” tandasnya. (*)

  • Presiden menerima PGI di Istana Merdeka

    Presiden menerima PGI di Istana Merdeka

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Bertempat di Istana Merdeka, Pimpinan dan Staf PGI diterima oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang didampingi oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dan Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana. Ada beberapa poin penting yang dibicarakan dalam pertemuan yang berlangsung Hari Selasa, 5 Maret 2019, pukul 11.15 WIB.

    img-20190306-wa0004

    Pada bagian awal, PGI mengapresiasi kesediaan Bapak Presiden menerima Pimpinan dan staf PGI. Selanjutnya, menyambut Pemilu 2019, Ketum menyampaikan keprihatinan terkait dengan maraknya hoaks dan pembohongan-pembohongan publik serta ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa hanya karena pilihan yang berbeda.

    Ketum juga menyampaikan keprihatinan dengan adanya fenomena pertarungan ideologi, karena munculnya gagasan alternatif terhadap Pancasila.

    Sementara itu, terkait Pemilihan Umum 2019, Ketua Umum MPH PGI Pdt. DR. Henriette Hutabarat Lebang menyatakan dukungan gereja-gereja di seluruh Indonesia bagi pelaksanaan Pemilu 2019. Beberapa usaha yang dilakukan oleh PGI dalam rangka mendukung pelaksanaan Pemilu 2019 adalah mengeluarkan beberapa himbauan berupa Surat Pastoral dan video agar semua warga gereja ikut terlibat aktif dalam Pemilu dan menghindarkan diri dari Golput.

    Ketum juga menyampaikan bahwa bagi gereja-gereja, ikut mencoblos adalah juga merupakan panggilan iman. Gereja-gereja di Indonesia dari tingkat sinode hingga jemaat menyelenggarakan ragam bentuk voter education. Bahkan ada jemaat-jemaat yang mendirikan semacam posko untuk menjadi pusat informasi terkait pemilu yang akan datang. PGI sendiri sudah melakukan beberapa ToT untuk Pemilu Damai melalui program Ayo Nyoblos.

    Meresponi hal-hal tersebut, Presiden Jokowi mengapresiasi upaya-upaya yang dilakukan oleh PGI menyambut Pemilu 2019. Presiden juga mengatakan agar tidak terlalu kuatir dengan Pilpres yang kelihatannya memanas dan sejauh ini masih bisa diatasi. Diakuinya bahwa ada persoalan ideologis dengan munculnya organisasi yang bertentangan dengan Pancasila namun hal tersebut sudah diatasi dengan dibubarkan dan dilarangnya organisasi tersebut.

    Lebih lanjut presiden mengemukakan bahwa saat ini penyebaran hoaks tidak hanya melalui media social namun juga sudah dari pintu ke pintu. Hal tersebut juga sudah diatasi dengan ditangkapnya beberapa orang yang turut menyebarkan berita hoaks.

    Pada kesempatan itu, Ketum menyampaikan bahwa tahun ini juga PGI akan menyelenggarakan Sidang Raya PGI XVII pada Nopember yang akan datang di Pulau Sumba. Ketum menyampaikan penyesalan bahwa Ketua Sinode GKS, yang menjadi host Sidang Raya tersebut, tidak bisa hadir hari ini karena masalah jadwal penerbangan yang tidak pas. Saat itu juga, Ketum menyampaikan Undangan kepada Presiden untuk menghadiri SR tersebut.

    Lebih jauh, disampaikan juga kepada Presiden, sebagai bagian dari persiapan Sidang Raya, PGI akan menyelenggarakan Konperensi Gereja dan Masyarakat, 28-31 Maret yang akan datang di Manado. KGM ini adalah sebuah studi yang dilakukan oleh pimpinan gereja anggota PGI bersama ragam lapisan warga untuk studi kecenderungan masalah-masalah sosio-ekonomi, politis dan budaya untuk setidaknya lima tahun ke depan.

    Dalam kaitan ini, PGI berharap Presiden bisa hadir dalam Pembukaan KGM ini, yang kepanitiaannya diketuai oleh Olly Dondokambe (Gubernur Sulut) yang turut serta dalam rombongan PGI.

    Pada bagian lain, Sekum PGI, Pdt Gomar Gultom, juga menyampaikan harapan dan aspirasi masyarakat dan gereja-gereja di Papua yang berhasil dikumpulkan oleh PGI, baik melalui perkunjungan dan percakapan selama ini, maupun melalui KGM Papua Mei 2018 di Sorong, serta hasil perkunjungan Delegasi World Council of Churches (WCC) ke Papua Pebruari 2019 lalu. MPH menyampaikan harapan agar dihentikannya pendekatan keamanan, terutama operasi militer atau operasi pemulihan keamanan yang banyak menimbulkan luka batin di tengah masyarakat Papua. Juga disampaikan agar masalah Papua ditangani dengan pendekatan kultural dan dialog yang lebih bermartabat serta merujuk pada semangat UU Otsus Papua.

    Pertemuan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Sekum PGI. (Humas PGI)

  • Siap Gelar API, PEWARNA Sambangi Pesantren Al-Zaytun, Indramayu

    Siap Gelar API, PEWARNA Sambangi Pesantren Al-Zaytun, Indramayu

    INDRAMAYU, WARTANASRANI.COM – Dipimpin langsung Ketua Umum, Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) mengunjungi sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) terkemuka yang terletak di kawasan Indramayu, Jawa Barat, Al-Zaytun.

    Rombongan diterima langsung oleh perwakilan Pengurus Pondok Pesantren Al-Zaytun, yakni Rukyal Basri dan Latif Wahyu Haryono, di Wisma Tamu Al-Islah, Komplek Ponpes Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (27/02/2019).

    Saat menerima delegasi PEWARNA, Rukyal dan Latif membuka perbincangan seputar ide-ide dalam menjaga perdamaian dan keberagaman yang memang selama ini menjadi concern dari Ponpes Al-Zaytun. Ide itu pula, lanjutnya, seperti yang selama ini dipopulerkan oleh Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, sang pendiri Ponpes.

    “Ada banyak pendeta yang datang ke sini, kebetulan juga tempat kami beberapa kali pernah digunakan untuk penyelenggaraan perayaan natal. Jadi sewaktu bapak masuk di gerbang kami tadi terdapat prasasti yang tertulis ‘Al Zaytun Pusat Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian’,” jelas Latif.

    Di tengah perbincangan Sekretaris Ponpes Al-Zaytun, Abdul Halim, menyempatkan diri untuk menemui awak PEWARNA Indonesia. Halim menjelaskan sekilas kiprah Al-Zaytun yang diresmikan sejak tahun 1999.

    “Kita mulai membangun gedung ini pada tahun 1996. Lalu pada tahun 1999 barulah jadi satu asrama dan 1 unit gedung pembelajaran. Lalu saat ini kami sudah memiliki 10 gedung asrama dan 10 gedung pembelajaran,” jelasnya.

    Dalam menjalankan sistem pendidikannya, jelas Halim, Al Zaytun memadukan sistem pendidikan berbasis tradisional maupun kontemporer. Hal itu dilakukan, tambahnya, untuk membangun wawasan berpikir para santri yang modern sekaligus ikut menguatkan akar pemikiran tradisional yang bertumpu kepada ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

    “Tradisional dan kontemporer dipadukan secara berimbang,” ujar Halim.

    Kunjungan delegasi PEWARNA Indonesia ke Pondok Pesantren Al-Zaytun juga dilakukan dalam rangka pemberian Apresiasi PEWARNA Indonesia (API) kepada lembaga pendidikan ini, yang akan diselenggarakan pada 29 Maret 2019 mendatang, di Kota Bandung.

    PEWARNA Indonesia menilai Pondok Pesantren ini telah memberikan dampak positif yang nyata di tengah masyarakat Indonesia, khususnya dalam mempertahankan nilai keberagaman dan perdamaian, di dalam bingkai Pancasila. (*)

  • Pdt. David Cakra: Perlu Terobosan Untuk Mengapresiasi Orang-Orang Yang Berjasa

    Pdt. David Cakra: Perlu Terobosan Untuk Mengapresiasi Orang-Orang Yang Berjasa

    BANDUNG, WARTANASRANI.COM – Setelah sukses dihelat di dua tempat sebelumnya yakni Jakarta dan Bali, kali ini penyelenggaraan API akan dilaksanakan di Kota Bandung, Jawa Barat. Perhelatan Apresiasi PEWARNA Indonesia (API) tahun ini direncanakan digelar pada 29 Maret mendatang.

    Persiapan penyelenggaraan API sudah dilakukan sejak Selasa (26/02/2019). Ketika meninjau sejumlah lokasi yang akan digunakan untuk mendukung acara pemberian apresiasi kepada sejumlah figur yang telah menunjukan dedikasinya di dunia Kekristenan Indonesia itu, PEWARNA Indonesia berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Gembala Gereja Bethel Indonesia (GBI) Sukawarna, Kota Bandung, Pdt. David Cakra.

    Saat ditemui PEWARNA di ruang kerjanya, David Cakra menyambut baik ikhtiar yang dilakukan oleh PEWARNA Indonesia dalam mengapresiasi atas capaian yang telah dilakukan oleh sejumlah figur Kristiani di pelbagai bidang.

    “Sebuah tradisi di bangsa kita ini ada yang perlu dirombak. Kita kurang memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh yang sudah berjasa kepada bangsa ini. Mungkin sejak dari jaman penjajahan bangsa Belanda, apresiasi ini kurang. Sehingga kita perlu memiliki sebuah terobosan untuk mengapresiasi orang-orang yang berjasa,” ujar David didampingi seorang hamba Tuhan yang giat melayani kaum marjinal di Kota Bandung, Pdt. Lukman Pandji.

    David kemudian melanjutkan, saat ini masyarakat memang terkadang kurang menghargai arti dari sebuah prestasi. Terlebih, bagi pengukir prestasi yang telah mengharumkan nama bangsa.

    “Contohnya pahlawan olahraga, bulu tangkis misalnya. Padahal mereka mengharumkan nama bangsa ini. Jadi memang harus ada suatu perbedaan, dan ini sangat bagus. Sebagai anak bangsa harus ada sebuah kemajuan di dalam sebuah tatanan yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

    Kunjungan PEWARNA ke GBI Sukawarna dalam rangka persiapan API dipimpin oleh Ketua Umum PEWARNA Indonesia, Yusuf Mujiono. Selain ke GBI Sukawarna, PEWARNA juga berkesempatan untuk mengunjungi Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat pada keesokan harinya. Apresiasi PEWARNA Indonesia juga akan diberikan kepada lembaga pendidikan berbasis agama itu, karena peranannya dalam mengawal toleransi dan perdamaian, khususnya di lingkup Jawa Barat. (*)

  • Maksimalkan Peran Tagana GBI Sulsel, Berita Bethel Dan Pewarna Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalistik

    Maksimalkan Peran Tagana GBI Sulsel, Berita Bethel Dan Pewarna Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalistik

    MAKASSAR, WARTANASRANI.COM – Upaya memaksimalkan peran Tagana, beritabethel.com bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia menggelar pelatihan dasar-dasar jurnalistik kepada anggota Tagana Rajawali GBI Sulawesi Selatan. Menurut staf editor beritabethel.com, Pdp. Soelispramboedie, S.Th., hal ini dilakukan guna memperlengkapi anggota Tagana dalam penulisan serta pengiriman berita dari lokasi bencana ke beritabethel.com.

    Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini (Selasa 26/2 – Rabu, 27/2) digelar di GBI Marturia Ministry, Makassar. Hadir Gembala setempat, Pdt. Anton Yosep dan sekitar 29 peserta yang terdiri dari Tagana Rajawali dan beberapa orang jemaat.

    Materi pertama dengan konten teori meliputi syarat bahasa jurnalistik, fungsi utama pers, rumus menulis berita, komposisi berita [teras berita, tubuh berita, kaki/penutup berita], kriteria judul, macam-ragam teras berita, teknik wawancara, teknik memotret.

    Esok hari adalah hari kedua pelatihan [Rabu, 27/2]. Sesuai skedul, sesi pertama yaitu peserta akan menerima penjelasan soal UU No. 40/1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, UU ITE dan Pedoman Penyiaran Siber.

    Selanjutnya, sesi kedua akan diisi dengan penilaian hasil foto-foto peserta di lokasi bencana, praktek dan presentasi tulisan peserta di lokasi bencana dan diakhiri dengan praktek wawancara.

    Nara sumber, Staf editor beritabethel.com juga memperkenalkan organisasi Pewarna Indonesia dan persyaratan pendaftaran untuk menjadi anggota dengan mempresentasikan form registrasi, termasuk menginfokan kepada peserta Contact Person Pewarna Indonesia khusus bagian yang menghandel pendaftaran.

    Sementara itu, sesuai arahan Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono, STh, hasil kepenulisan peserta dengan ketentuan memenuhi kriteria jurnalistik bisa juga dikirimkan kepada Pewarna Indonesia dan akan dipublikasikan di media-media online dan cetak yang tergabung dalam Pewarna Indonesia. (*)