Category: Ragam

  • ROSPITA NAPITUPULU: Siap Berjuang Untuk Pendidikan Berkualitas Bagi Warga Miskin Dan Pengentasan Kemiskinan Di Jabar

    ROSPITA NAPITUPULU: Siap Berjuang Untuk Pendidikan Berkualitas Bagi Warga Miskin Dan Pengentasan Kemiskinan Di Jabar

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Secara mendasar sebenarnya kemiskinan erat kaitanya dengan rendahnya kemampuan mengenyam pendidikan. Seseorang yang dilahirkan di tengah kemiskinan akan cenderung tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya untuk mengenyam pendidikan. Atas dasar inilah, Rospita Napitupulu terpanggil terjun ke dunia politik untuk memperjuangkan pengentasan kemiskinan dan pendidikan yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang tidak mampu secara ekonomi di Kota Bekasi dan Kota Depok.

    “Jika saya terpilih, kedua hal ini akan menjadi prioritas perjuangan saya di DPRD Provinsi Jawa Barat,” terang caleg milenial ini penuh semangat.

    Menurut srikandi kelahiran Balige, 31 Juli 1972 ini, pendidikan yang layak menjadi modal memutus mata rantai kemiskinan dan munculnya SDM berkualitas.

    “Jika setiap orang mendapatkan pendidikan layak, ia telah memiliki modal untuk memutus rantai kemiskinan di keluarganya. Selain itu, akan ada harapan besar bermunculan SDM berkualitas yang bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan di Indonesia,” ungkap Rospita

    Bagi Rospita, pendidikan yang baik dan berkualitas jangan sampai hanya dinikmati mereka yang mampu secara ekonomi. Sedangkan, mereka yang lemah akan semakin miskin dan bodoh teralienasi oleh realitas, terdiskriminasi untuk mendapatkan pendidikan bermutu.

    “Perjuangan saya jelas! Jangan sampai pendidikan yang baik dan berkualitas hanya dinikmati oleh yang mampu secara ekonomi. Semua warga masyarakat punya hak yang sama untuk bisa menikmati pendidikan yang berkualitas agar tidak ada lagi yang bodoh dan teralienasi oleh realitas, tidak boleh ada yang terdiskriminasi untuk menikmati pendidikan bermutu,” tegas wanita lulusan STBA Harapan Medan ini.

    Sebagai Caleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) nomor urut 5 dapil Kota Bekasi dan Kota Depok, Rospita siap bekerja keras untuk berjuang agar dana/anggaran pendidikan khusus untuk di wilayah miskin dan terpencil tidak dicuri dan di korupsi.

    “Sebagai Caleg PSI yang jelas-jelas anti korupsi, tentu saja akan berjuang, jangan sampai dana bantuan yang dialokasikan pemerintah khusus untuk warga negara miskin, diantaranya anggaran dana untuk BOS dan bantuan sosial yang ditujukan pemerintah untuk membangun gedung-gedung sekolah di wilayah miskin dan terpencil dicuri, di korupsi tangan-tangan biadab. Bisa saja, tingginya masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan disebabkan budaya korupsi di bidang pendidikan,” terang Rospita.

    “Mohon doa dan dukungan warga Kota Bekasi dan Kota Depok. Kiranya harapan bersama kita, untuk pendidikan dan pengentasan kemiskinan dapat terealisasi. Datanglah ke TPS, gunakan hak pilih Bapak/Ibu, pada tanggal 17 April nanti pilih dengan mencoblos nomor urut 5, untuk DPRD Provinsi Jawa Barat, dari Partai Solidaritas Indonesia, dapil Kota Bekasi dan Kota Depok,” seru Rospita penuh harap. (*)

  • Manajemen HMT Tour and Travel Minta Maaf Dan Siap Bertanggung Jawab Atas Penundaan Keberangkatan Ke Holyland

    Manajemen HMT Tour and Travel Minta Maaf Dan Siap Bertanggung Jawab Atas Penundaan Keberangkatan Ke Holyland

    JAKARTA,WARTANASRANI.COM – Ketidaksesuaian paket tour yang disepakati awal oleh agen di Israel dengan HMT Tour and Travel, membuat keberangkatan peserta peziarah rohani asal Indonesia, yang seharusnya tanggal 22 februari 2019, tertunda. Atas kejadian ini, pihak manajemen PT. Hidup Makmur Terencana (HMT Tour and Travel) menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada para peserta peziarah rohani.

    “Dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas penundaan keberangkatan yang terjadi semalam, tanggal 22 februari 2019,” ujar Ronny Tambayong, selaku Manajemen dan Direksi HMT Tour and Travel.

    Menurut Ronny, penundaan ini dilakukan, demi kenyamanan dan kepuasaan para peserta ziarah perjalanan rohani.

    “Sebenarnya segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik, termasuk tiket perjalanan pesawat pulang pergi, sudah disiapkan. Namun kami melihat ada beberapa kendala yang terjadi dan kami melihat hal ini dapat mengganggu kenyamanan, kepuasan Bapak/Ibu dalam perjalanan rohani,” tuturnya lewat tayangan video dari Yerusalem.

    “Oleh sebab itu, kami menunda sementara keberangkatan semalam, 22 februari, untuk memastikan agar perjalanan berikutnya bisa terlaksana dengan baik dan kami bisa menyelesaikan masalah-masalah teknis di lapangan bersama partner kami di Holyland, agar semua berjalan dengan baik,” tuturnya lagi.

    Ronny juga memohon maaf karena tidak bisa menemui dan memberikan penjelasan secara langsung kepada peserta ziarah yang tertunda keberangkatannya. Ini dikarenakan ia sedang berada di Yerusalem. Namun Ronny memastikan, perwakilan manajemen Bapak Andre Victor Nainggolan akan berbicara langsung.

    “Sekali lagi kami minta maaf. Kebetulan saya masih di Yerusalem, belum bisa menemui langsung Bapak/Ibu. Ada perwakilan dan manajemen kami, Bapak Andre Victor Nainggolan yang akan berjumpa dan berbicara langsung. Bapak/Ibu dapat menyampaikan hal-hal terkait masalah ini secara langsung,” jelasnya.

    Lebih jauh, Ronny menyatakan bahwa pihaknya siap bertanggung jawab dan berjanji memberangkatkan kembali mereka yang tertunda.

    “Kami akan memberangkatkan kembali Bapak/Ibu dalam waktu dua atau tiga bulan, atau mungkin waktu yang akan diajukan kepada kami. Sekali lagi, kami akan bertanggung jawab untuk hal ini, dan kami minta maaf atas penundaan keberangkatan ini,” ungkapnya. (*)

  • Penutupan Akun Google Plus Pada Bulan April Segera Dilakukan

    Penutupan Akun Google Plus Pada Bulan April Segera Dilakukan

    Seperti yang dirilis langsung di website support.google.com pada Desember 2018 ternyata pihak Google secara resmi telah mengumumkan keputusan untuk menutup Google+ (Google Plus) sampai pada tanggal 2 April 2019. Alasannya adalah karena rendahnya penggunaan dan tangangan yang terlibat dalam mempertahankan produk yang sukses yang memenuhi harapan konsumen. Dan pihak Google sangat berterima kasih untuk seluruh konsumen yang selama ini telah menggunakan aplikasi Google+ (Google Plus).

    In December 2018, we announced our decision to shut down Google+ for consumers in April 2019 due to low usage and challenges involved in maintaining a successful product that meets consumers’ expectations.

    Secara resmi pada tanggal 2 April 2019 akun dan Halaman Google Plus atau apapun yang dibuat konsumen akan ditutup dan pihaknya akan mulai melakukan penghapusan konten/data dari akun Google Plus para konsumen, baik data berupa foto, video, di arsip album atau dihalaman Goolge Plus semuanya akan dihapus. Oleh karenanya pihaknya mengusulkan agar para pemilik akun Google Plus segera mengunduh dan menyimpan konten/data sebelum tanggal 2 April 2019. Tetapi kabar baiknya foto dan video yang dicadangkan di Google Foto tidak akan dihapus.

    Namun demikian proses penghapusan konten/data akan memakan waktu beberapa bulan, dan mungkin para pengguna masih bisa melihatnya sampai saat ini. Misalnya, mereka masih bisa melihat bagian dari akunnya melalui log aktivitas dan beberapa konten/data melalui pengguna G Suite.

    Dan sejak 4 Februari 2019, pengguna tidak dapat lagi membuat profil, halaman, komunitas, atau acara Goolge Plus yang baru. Untuk lebih lengkapnya lihat FAQ dan detail informasinya bahkan update terbaru menjelang penutupan akun.

    Bagi pengguna yang terlibat di komunitas Goolge Plus, baik pemilik atau moderator, mereka dapat mengunduh dan menyimpan data untuk komunitasnya. Awal Maret 2019, data tambahan unduhan akan tersedia,

    Apabila pengguna login dan menekan tombol Google Plus maka tidak akan berfungsi lagi tapi bisa login melalui Google.

    G Suite tidak akan dihapus oleh pihak Google yang dihapus hanya lah Google Plus. (red)

  • Dies Natalis ke-33, STT IKAT Gelar Seminar Nasional

    Dies Natalis ke-33, STT IKAT Gelar Seminar Nasional

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Memperingati Dies Natalis ke-33, Sekolah Tinggi Teologia “IKAT” bekerjasama dengan Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (PERUATI) Jabodetabek menyelenggarakan Seminar Nasional di aula Kampus, Rempoa, Tangerang Selatan (11/02/2019). Seminar Nasional ini menghadirkan narasumber, Brigjen Pol. Martinus Hukom S.IK, Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 Anti Teror MABES POLRI, dan Vice President World Communion of Reformed Church (WCRC), Pdt. Sylvana Maria Apituley., Ph.D Cand.
    Sebagai pembicara pertama, Martinus mengupas soal Terorisme dan Radikalisme dalam Keindonesiaan Indonesia.
    Penjelasan seputar bahaya fanatisme sempit dan pola penyebaran radikalisme di Indonesia dan dunia menjadi awal paparannya. Menurutnya, radikalisme  menjadi pemicu dari sejumlah konflik bersenjata di dunia. Khususnya ketika pemahaman yang digunakan merupakan kebenaran suatu agama yang dipaksakan untuk berlaku mutlak bagi semua orang.
    Martinus juga mengingatkan bahwa keadaan itu pernah pula berlaku di tengah gereja, di masa abad pertengahan. Di mana siapa saja yang berbenturan dengan kebijakan gereja saat itu akan menerima atau diperhadapkan dengan hukuman sepihak.
    “Gereja punya pengalaman gelap ketika gereja berada di puncak kekuasaan,” ungkap Martinus.
    Sementara pembicara kedua, Vice President World Communion of Reformed Church (WCRC), Pdt. Sylvana Maria Apituley., Ph.D Cand., mengupas tema “Merawat dan Menjaga Indonesia yang Adil Makmur: Pengalaman dan Refleksi Teologis Feminis”. Dalam literasinya Sylvana menganalisis melalui perspektif gender terhadap fenomena terorisme yang terjadi di Tanah Air. Ia juga turut mengungkapkan keprihatinannya  terkait keberadaan kelompok radikal yang memanfaatkan kaum ibu, bahkan anak kecil sebagai media untuk menebar teror.
    “Kelompok radikal menggunakan tubuh perempuan dan anak sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka,” paparnya.
    Sylvana juga meminta agar gereja mewaspadai pola penyebaran radikalisme melalui platform media sosial. “Medsos jalur terbaik head to head penyebaran radikalisme di kalangan anak dan perempuan,” ungkapnya.
    Sylvana menambahkan bahwa orang Kristen harus mengedepankan sikap-sikap yang tidak antisosial. Menurutnya keterbukaan dan langkah membaur dengan masyarakat merupakan sebuah pilihan terbaik dalam menangkal laju penyebaran radikalisme.
    Tak ketinggalan, Sylvana juga memaparkan dari sisi hubungan internasional. Dikatakannya, sebagai anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia mengembang misi untuk ikut melaksanakan program pembangunan berkelanjutan (Suistanable Development Goal’s/SDG’s), di mana kelompok minoritas pun mendapatkan porsi yang setara di dalam pembangunan tersebut.
    “Setiap negara yang menjadi anggota PBB harus melaksanakan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Artinya tidak boleh ada yang tertinggal. Itu juga berarti kelompok minoritas pun harus menjadi subjek pembangunan,” kata lulusan STT Jakarta itu.
    Pada bagian akhir Seminar Nasional, Ketua STT “IKAT”, Pdt. Dr. Jimmy Lumintang, menyerahkan sertifikat kepada kedua narasumber. Hal menarik terlihat, sebelum rangkaian seminar berakhir, dimana moderator menyempatkan diri mengajak peserta yang hadir untuk berdiri dan memaklumatkan komitmen dalam berpancasila di kehidupan sehari-hari. “Indonesia rumah Kita bersama,” kata moderator. “Saya Indonesia, Saya Pancasila,” teriak seluruh peserta seminar. (*)
  • Presiden Berharap Media Arus Utama Pertahankan Misi Pencari Kebenaran

    Presiden Berharap Media Arus Utama Pertahankan Misi Pencari Kebenaran

    SURABAYA, WARTANASRANI.COM – Di tengah era digital dimana media sosial berkembang dengan masifnya, masyarakat pun disajikan dengan keberlimpahan informasi. Bahkan, saat ini setiap orang bisa menjadi wartawan dan bisa menjadi pemimpin redaksi, juga bisa menciptakan kegaduhan, membangun ketakutan, serta pesimisme.
    “Di tengah suasana seperti ini, saudara-saudara insan media arus utama, justru sangat dibutuhkan menjadi rumah penjernih informasi, dibutuhkan untuk menyajikan informasi yang terverifikasi, dan dibutuhkan untuk menjalankan peran sebagai communication of hope, dibutuhkan untuk memberi harapan kepada bangsa,” ucap Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2019 di Grand City Convention and Exhibition Hall, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu, 9 Februari 2019.

    Lebih lanjut Presiden juga mengatakan bahwa peran utama media kini semakin penting antara lain dalam mengamplifikasi kebenaran dan menyingkap fakta, terutama di tengah keganasan pasca fakta dan pasca kebenaran.

    “Kita wajib mengatasi dampak buruk gejala pasca kebenaran dan pasca fakta itu. Media arus utama diharapkan mampu menjaga dan mempertahankan misinya untuk mencari kebenaran, misinya untuk membangun optimisme,” kata Presiden.

    Di awal sambutannya, Kepala Negara menyampaikan bahwa sejalan dengan ekspansi jaringan internet, perkembangan media sosial juga melompat sangat tinggi. Saat ini, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta jiwa atau 54,68% dari total populasi.
    “Dari jumlah ini 87,13% mengakses layanan media sosial,” tutur Kepala Negara.
    Bahkan seringkali yang viral di media sosial biasanya menjadi rujukan dan bahkan tidak jarang menjadi rujukan media-media konvensional. Namun demikian, menurut Edelman Trust Barometer 2018, media konvensional atau media arus utama ternyata tetap lebih dipercaya dibandingkan dengan media sosial.
    “Saya sungguh bergembira dengan situasi ini, sangat bergembira. Dan selamat kepada saudara-saudara para insan media arus utama atas kepercayaan masyarakat terhadap bapak, ibu, saudara-saudara sekalian,” ucap Presiden.
    Dalam kesempatan tersebut, Presiden yang hadir didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, menyebutkan bahwa apabila pemerintah memaparkan tentang capaian pembangunan, tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan informasi jelas, ikut memanfaatkan capaian pembangunan yang ada, membangun optimisme, serta mengajak apa yang harus diperjuangkan bersama.
    “Kalau pemerintah aktif dalam membangun well-informed-society, ya janganlah terburu-buru itu dianggap sebagai pencitraan atau kampanye. Itu adalah bagian dari upaya membentuk masyarakat yang sadar informasi. Dan saya berharap media menjadi amplifier atas informasi tentang pembangunan, termasuk kekurangan yang harus kita benahi bersama-sama,” kata Kepala Negara.
    Oleh karenanya, Presiden mengajak pers untuk terus meneguhkan jati dirinya sebagai sumber informasi yang akurat bagi masyarakat, mengedukasi masyarakat, dan meneguhkan jati dirinya untuk tetap melakukan kontrol sosial, serta memberikan kritik konstruktif. Selain itu, Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah menjamin prinsip kemerdekaan pers dan kebebasan berpendapat.
    “Kebebasan yang dipandu oleh tanggung jawab moral, kebebasan yang beretika, dan kebebasan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran,” tutur Presiden.
    Di akhir sambutannya, Presiden tak lupa menyampaikan ucapan selamat kepada para insan pers nasional di seluruh Tanah Air.  Presiden juga memberikan apresiasinya kepada para penerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro.
    “Kepada rekan-rekan media yang hadir di sini, dan yang sedang bertugas di seluruh pelosok negeri. Saya sampaikan Selamat Hari Pers. Teruslah berkontribusi untuk kejayaan negeri kita tercinta,” ucap Presiden. (*)
  • Hadir di Acara Imlek Nasional, Presiden Ingatkan Jaga Persatuan dan Kerukunan

    Hadir di Acara Imlek Nasional, Presiden Ingatkan Jaga Persatuan dan Kerukunan

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Presiden Joko Widodo menghadiri perayaan Imlek Nasional di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, pada Kamis, 7 Februari 2019. Dalam perayaan tersebut, tema yang diangkat adalah “Merajut Kebinekaan Memperkokoh Persatuan”.

    “Saya ingin mengucapkan _xin nian kuai le_, selamat tahun baru,” ujar Presiden yang hadir dengan mengenakan kemeja batik berwarna biru tua.

    Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa perayaan imlek ini dirayakan hampir di semua daerah di Indonesia. Bahkan perayaan ini juga turut dihadiri oleh 29 raja dan sultan di seluruh Tanah Air.

    “Kita melihat bahwa Semakin terasa indah ketika rakyat Indonesia dari suku lain juga gembira dan mengucapkan selamat tahun baru Imlek. Bahkan banyak sekali yang ikut dalam kegiatan perayaan bersama ini,” tuturnya.

    Di hadapan ribuan orang yang hadir, Kepala Negara mengajak seluruh pihak untuk senantiasa menjaga persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Perbedaan dan keberagaman yang ada hendaknya disikapi dengan bijak dan disadari sebagai sebuah anugerah bagi bangsa Indonesia.

    “Pada kesempatan yang baik ini saya ingin mengajak kepada kita untuk terus memelihara persatuan, menjaga persaudaraan, dan merawat kerukunan. Karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan,” ucapnya.

    Perayaan Imlek Nasional tahun ini juga dihadiri oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 RI Try Soetrisno, Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

    Tampak pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif. (*)

  • Sosialisasi Otoritas Jasa Keuangan OJK Di SMA Galatia Kota Bekasi

    Sosialisasi Otoritas Jasa Keuangan OJK Di SMA Galatia Kota Bekasi

    BEKASI, WARTANASRANI.COM – Tagline atau slogan, sikapi uangmu dengan bijak, merupakan kata-kata yang selalu disosialiasikan oleh OJK kepada seluruh lapisan masyarakat pada saat melakukan edukasi keuangan. Slogan tersebut diharapkan dapat menggugah dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar selalu bersikap sebaik dan setepat mungkin dalam membelanjakan uang atau penghasilan yang didapatkannya, terutama dikaitkan dengan produk keuangan. Uang atau penghasilan dihasilkan setelah bekerja keras sudah seyogyanya digunakan dengan sebaik mungkin untuk masa depan dan keluarganya.

    img_20190123_113218

    Bapak Budi Suprijanto, kepala bagian edukasi sedang memaparkan materi pergunakan uangmu dengan bijak

    Hal ini disampaikan Bapak Budi Suprijanto, Kepala Bagian Edukasi dalam kegiatan sosialisasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilaksanakan oleh Arka Sejahtera Mulia (ASM) di SMA Galatia Kota Bekasi, Hari ini, Rabu (23/1).

    “Selain tagline Sikapi Uangmu Dengan Bijak, ada juga tagline, Cerdas Mengelola, Masa Depan Sejahtera,” sebut Budi Suprijanto.

    Pada kesempatan itu, Budi Suprijanto memperkenalkan mikrosite, Sikapi Uangmu dari Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ). Menurutnya, mikrosite yang dimaksudkan tersebut, untuk memberikan informasi literasi dan edukasi terkait keuangan kepada masyarakat.

    “Website ini didesign dengan menggunakan pendekatan kepada semua golongan masyarakat sebagai target website, untuk itu website harus terkesan ramah , mudah diakses ,mudah dimengerti dan tidak kaku sebagaimana biasanya website pemerintahan,” ungkapnya.

    Adapun narasumber kedua, Bapak Dani Kartika, Staf Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan Untuk Perencanaan Keuangan, lebih spesifik memaparkan tentang bagaimana mengelola keuangan dengan bijak. Menurutnya, mengelola keuangan demi masa depan bukanlah sesuatu hal yang sangat rumit dan sulit untuk dilakukan. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan apa yang disebut dengan aktivitas Perencanaan Keuangan (Financial Planning).

    “Pesan kepada orangtua, kalau ada yang pinjam online, nanti bilang, jangan! Karena bunganya sangat tinggi dan memberatkan. Adik-adik punya peran untuk menyampaikan kepada orangtua,” ujarnya mengingatkan.

    Sementara itu, pada acara sambutan diawal acara, Bapak Jalius Deputi Direktur Edukasi OJK, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan ASM dan pihak SMA Galatia Kota Bekasi yang sudah menyelenggarakan acara ini. Jalius juga berharap kegiatan ini dapat memberi edukasi kepada semua yang hadir tentang bagaimana menyikapi keuangan dengan bijak.

    “Melalui kegiatan Edukasi dan Sosialisasi (Edu-sos) yang terus digalakkan oleh OJK, masyarakat diajak untuk menjadi makin pintar dan cerdas menggunakan uang dan penghasilannya. Setelah menjadi pintar dan cerdas, maka  menjadi bijak. Dan jika sikap tersebut sudah terwujud, maka masa depan akan menjadi lebih dapat dipersiapkan dan sejahtera,” terang Jalius.

    Mewakili Yayasan Pendidikan Galatia, Kepala SMA Galatia Kota Bekasi, Drs. A. Hary Subagio menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Arka Sejahtera Mulia dan Otoritas Jasa Keuangan yang sudah hadir memberikan pencerahan kepada keluarga besar SMA Galatia tentang bagaimana menyikapi uang dengan bijak.

    Sesi tanya jawab menjadi warna tersendiri dalam acara sosialisasi OJK yang dipandu Ibu Rahmani Fitra, SE., M.Pd sebagai moderator. Apresiasi kepada mereka yang menjawab pertanyaan dari narasumber memberi kesan tersendiri. Foto bersama narasumber dan dewan guru menjadi akhir sosialisasi OJK. (RSO)

  • SOSIALISASI MUKI UNTUK WARGA JEMAAT

    SOSIALISASI MUKI UNTUK WARGA JEMAAT

    img_20181224_151304

    KOTA BEKASI, WARTANASRANI.COM – Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) terus berupaya mensosialisasikan perannya di tingkat umat/jemaat. Kegiatan ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada umat dalam hal menyerap aspirasi dan memperkenalkan tugas-tugas MUKI kepada masyarakat.

    Kegiatan sosialisasi ini dipimpin langsung Sekjen MUKI (Ega Mawardin) pada kegiatan Natal Gereja Bethel Pembaruan di Keranggang Kota Bekasi, Minggu 23 Desember 2018.

    img-20181224-wa0005

    Kegiatan yang juga dihadiri Ketua MUKI KOTA Bekasi Pdt. Sinufa Marunduri dan Sekretaris MUKI KOTA Bekasi Pdt. Widada berlangsung meriah dan dalam suasana kekeluargaan.

    Dalam sambutannya Sekjen MUKI menyampaikan tugas-tugas MUKI diantaranya memberikan advokasi bagi kasus2 yang merugikan umat Kristen termasuk masalah-masalah gereja.

    Lebih lanjut Sekjen menyampaikan hanya di bulan Desember 2018 saja sudah ada tiga kasus yang viral yaitu kasus spanduk intoleran di Pangendaran, salib yang digergaji di Jogjakarta dan pernyataan warga di Sepatan Kabupaten Tangerang semuanya itu merugikan umat Kristen, seakan warga gereja tidak punya hak yang sama dinegeri NKRI ini. Kita tidak boleh diam pada kasus-kasus seperti ini, demikian Sekjen menutup sambutannya.

    Hadir juga dalam kegiatan Natal GBP di Kranggang Ketua Sinode GBP, Pdt. Charles Tobing dan dalam pernyataannya sangat mengapresiasi kerja MUKI dan GBP siap bekerja sama untuk tujuan mulia tersebut.

    Kegiatan yang dihadiri oleh Jemaat GBP dan simpatisan serta undangan di tutup dalam doa oleh Pendeta Jemaat Pdt. Sinufa Marunduri yang juga menjabat Ketua MUKI Kota Bekasi. (*)

  • SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

    SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

    pglii

    JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Mengakhiri tahun pelayanan 2018, PGLII mengeluarkan Surat Penggembalaan 2018. Berikut petikannya:

    logopglii

    Shalom! Pertama-tama marilah kita kaum Injili, Anggota dan Pengurus PGLII, mengucapkan puji dan syukur, yang karena kasih dan penyertaan Allah Tritunggal, telah membimbing dan menyertai seluruh perjalanan PGLII melewati tahun 2018. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

    Melewati perjalanan tahun 2018 sangatlah tidak mudah. Berbagai tantangan dan rintangan baik secara internal maupun eksternal selalu kita alami. Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII terus bergumul di dalam dirinya untuk tetap setia memenuhi tugas, panggilan dan mandat Ilahi Tuhan Yesus Kristus, yakni pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil, membaptis dan menjadikan mereka yang percaya sebagai murid Tuhan Yesus Kristus.

    Pekabaran Injil dalam konteks global dan lokal, khususnya di Indonesia, sedang terus menghadapi perubahan-perubahan teknologi, informasi, sosial dan kebudayaan yang begitu cepat. Teknologi digital dari 3G sudah memasuki 5G, dari era kertas berevolusi kepada dunia maya yang serba berubah cepat.

    Warga Gereja dan Lembaga Injili adalah masyarakat Kerajaan Allah, namun pada sisi yang bersamaan merupakan masyarakat dunia, keduanya berbeda, dapat saling berdistribusi positif tetapi juga negatif. Pada konteks ini, Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII, di satu sisi dituntut untuk tidak gagap teknologi melainkan harus cerdas mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat, tetapi pada sisi yang lain, dituntut juga untuk tidak mudah menjadi korban kemajuan teknologi yang melesat cepat.

    Intinya, Kitab Suci dan Injil harus tetap menjadi sentralitas dan panduan dalam kehidupan Gereja, Lembaga yakni kehidupan kaum Injili sehari-hari di masa kini. Di sini kita dituntut selalu mengasah dan mengandal hikmat Tuhan, agar eksistensi kaum Injili masih tetap kokoh dalam pendirian “Hendaklah kamu tidak menjadi serupa dengan dunia ini” Roma 12:2. Pengertian ini membawa kita selalu pada suatu kesadaran tinggi, kita berada di dalam dunia, namun dunia tidak boleh menguasai kita.

    PGLII memiliki motto: “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”. Motto ini terus mengajak dan menuntun kita, bahwa Tujuan PGLII adalah Membela dan Memelihara Teologi Injil yang diimplementasikan ke dalam Tujuan PGLII yang intinya melaksanakan pekabaran Injil. Prinsip ini semakin diteguhkan melalui hasil “Musyawarah Besar Pemuka Agama” yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 Februari 2018 di Jakarta, yang menghasilkan dokumen “7 Pokok Rekomendasi Pemuka Agama”, dan pada tanggal 28-31 Mei 2018 di Berastagi, digelar “Konperensi Pekabaran Injil 2018” yang diselenggarakan oleh PGLII, PGI, PGPI dan KWI.

    KPI 2018 berhasil menyepakati suatu dokumen “Rekomendasi dan Komitment Pekabaran Injil 2018” yang berisi beberapa hal, antara lain yang sangat mendasar, kesepakatan bahwa pekabaran Injii merupakan hakikat gereja, jika gereja berhenti melaksanakan pekabaran Injil, maka gereja telah selesai. Namun demikian, dalam melaksanakan pekabaran Injil, seluruh gereja dan lembaga dituntut untuk melakukan dengan sopan, tidak menyinggung pihak tertentu, dan tidak manipulatif. Selain itu, gereja-gereja diminta untuk membangun jejaring secara lintas denominasi, peduli kepada lingkungan dan berdampak bagi warga di sekitarnya.

    PGLII sebagai aras gerejawi nasional, tetap berkomitmen membangun Keesaan Gereja, tubuh Kristus dalam spirit oikumenis bersama gereja aras nasional lainnya, berkomitmen ikut hadir dalam pergumulan kaum Injili, terlibat dalam pembangunan nasional dengan menjadi mitra Pemerintah, terlibat dalam menjaga lingkungan hidup, berkomitmen ikut terlibat menjaga dan merawat “empat konsensus kebangsaan” yakni: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika yang telah dibangun dan diperjuangkan dengan jiwa dan darah oleh para founding father serta rakyat Indonesia dari berbagai golongan dan agama, dan empat konsensus kebangsaan adalah harga mati!

    Ketika bangsa Indonesia sedang tergerus oleh isu-isu intolerasi, radikalisme, terorisme yang membuat banyak pihak dan golongan terpapar, maka PGLII tetap berdiri bersama Pemerintah ikut menggaungkan bahwa empat konsensus kebangsaan dan nasionalis adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Perjuangan PGLII dalam kehidupan berbangsa dan benegara, adalah ikut berpartipasi dalam visi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) namun tetap bersuara kenabian.

    Pada tanggal 8 Agustus 2018 PGLII  lalu,  PGLII  mengemas suatu rangkaian kegiatan guna menjawab pergumulan mendesak dalam rangka HUT PGLII KE 47, yakni dengan menyelenggarakan  simposium dan RAPIMNAS dan telah berhasil merumuskan  MANIFESTO INJILI,  yakni apakah yg dimaksud dengan injili, menginjil dan siapakah kaum Injili itu ?  serta  suatu pernyataan sikap dan pandangan PGLII tentang politik,  demokrasi,  kebangsaan PEMILU,  PILEG DAN PILPRES 2019.

    PGLII juga telah menerjunkan Tim Peduli Gempa Lombok dan Gempa Palu, bahkan hingga saat ini Tim Peduli paska gempa PGLII di Palu masih bekerja dilapangan melayani konseling dan pemulihan bagi para korban yg mengalami trauma akibat gempa. pada tanggal 14 Desember tahun 2018, PGLII telah mengadakan Perayaan dan Ibadah Natal PGLII dengan Tema : KAMI DATANG UNTUK MENYEMBAH DIA (Matius 2:2), Ketua Panitia, Ibu Dr Inge Handoko, dengan Pelayan Firman Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th, Ketua umum PP PGLII. Acara berlangsung sukses, dan dihadiri pimpi nan aras nasional FUKRI, sinode gereja-gereja dan lembaga-lembaga anggota PGLII, ormas dan lembaga Kristen , GMKI, JDN, UKIP dan Pejabat pemerintah DKI Jakarta Raya.

    Ketua Umum PGLII Bapak Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th telah menggagas dilaksanakannya Paskah Bersama Gereja-Gereja Se-Indonesia pada bulan April tahun 2019 bersama-sama FUKRI Sedangkan di dalam hubungan internasional saat ini, PGLII telah dipercaya untuk menjadi Panitia Pelaksana (OC) dari kegiatan dunia World Evangelical Alliance (WEA) yang pada tanggal 7-12 November 2019, di Bali atau Jakarta, akan melaksanakan “General Assembly – World Evangelical Alliance”.

    Dipilih dan ditetapkannya PGLII menjadi Panitia Pelaksana adalah kehormatan besar sekaligus penghargaan bahwa eksistensi dan perang PGLII kini semakin diakui di tingkat global. Kurang lebih akan hadir 120 negara dari seluruh dunia, anggota WEA yang hadir, mari kita doakan! Karena itu, rencana Musyawarah Nasional PGLII ke-XII yang rencanakan pada bulan Oktober 2019 diundur menjadi bulan Maret 2020.

    Akhirnya, kami Pengurus Pusat PGLII ingin terus mengajak dan mendorong, agar di tahun-tahun ke depan, PGLII semakin berkiprah di bangsa ini. Sampai Tuhan Yesus Kristus Raja di atas segala raja, akan datang kembali, kuta tetap setia membangun persekutuan dan pergi memberitakan Injil. “Segala jerih juang di dalam Tuhan tidak akan sia-sia”.

    Selamat hari Natal 25 Desember 2018, dan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2019.

    Salam Injili, Teriring hormat; Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th (Ketum PP) dan Pdt. Dr. Freddy Soenyoto, M.Th (Sekum PP). (*)

  • Dialog Anti-Korupsi, Grace Natalie: Anggota Legislatif PSI siap live report

    Dialog Anti-Korupsi, Grace Natalie: Anggota Legislatif PSI siap live report

    BANJARMASIN, WARTANASRANI.COM – Isu Anti-Korupsi dan Anti-Intolerasi diangkat Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) serta Komite Pemilih Indonesia (TePI) dalam diskusi  memasuki Pemilu 2019 di Hotel Victoria Banjarmasin, Jumat (21/12/2018). Fakta itu dianggap sudah sangat mewabah dan bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

    img-20181222-wa0015_1

    Empat pembicara yang hadir antara lain Grace Natalie (Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia), Jeirry Sumampouw (Koordinator TePI), Dr Mohammad Effendy (akademisi Universitas Lambung Mangkurat), dan Dr Darius Dubut (aktivis lintas iman).

    Menurut Grace Natalie, permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah korupsi dan intoleransi yang sudah sangat merusak. Bagi dia, hal itu sangat merugikan Indonesia ketika banyak program yang baik yang tidak bisa ter-realisasi karena makin maraknya kasus korupsi.

    “Bahkan, sekarang korupsi sudah dianggap tidak malu-malu dan dilakukan ramai-ramai,” kata Grace Natalie.

    Mantan presenter TV ini juga menyebutkan intoleransi hari ini sudah sangat terasa mengancam persatuan kesatuan bangsa. Grace melihat partai-partai religius maupun nasionalis, tidak ada yang terang-terangan bicara memerangi intoleransi.

    “Malah yang ada mereka ikut arus dan cenderung meng-entertain politik identitas tersebut,” katanya.

    Grace menyinggung banyak pihak yang memainkan politik identitas untuk kepentingan elektoral. Akhirnya, berbuah menjadi politisi korup karena tidak memiliki program yang substansial. Grace mempertanyakan, mengapa masih dicalonkan jika sudah jelas seorang caleg itu adalah mantan napi korupsi, misalnya.

    “Sekarang kita tahu bahwa KPU sempat melarang adanya mantan napi koruptor menjadi caleg. Tetapi beberapa partai tidak setuju, mereka protes ke Bawaslu dan Bawaslu mengabulkan. Hingga KPU menyarankan untuk menandai surat suara bagi mantan koruptor. Namun, tetap saja partai tidak setuju,” ujarnya.

    Menurut dia, parpol seharusnya melakukan pendidikan politik ke publik. Menyikapi hal itu, Grace menyebut isu anti-korupsi dan anti-intoleransi menjadi agenda perjuangan PSI.

    “Dalam sebulan terakhir kami menyatakan tidak mendukung perda yang diskriminatif dan juga berjuang mengangkat martabat perempuan,” ucap Grace.

    Menurut Grace, sekarang optimisme warga mulai mengemuka setelah mengikuti perkembangan politik dengan keterlibatan pemuda-pemudi dalam menyikapi isu yang dilontarkan PSI. PSI juga memperjuangkan keadilan bagi perempuan, yang menurutnya masih berkaitan dengan anti diskriminasi. Transparansi Dari Hulu ke Hilir Grace menjelaskan, partai memiliki peranan penting dalam rekrutmen hingga menyodorkan caleg yang bagus dan memiliki otoritas dalam melakukan pengawasan yang dibuka kepada publik. Tidak berhenti sampai situ, tapi anggota legislatif nantinya harus berani membuat report aktivitas kepada publik melalui media sosial secara live.

    Menurutnya, andaikata tidak ada transparansi, sudah dipastikan tak ada juga profesionalisme, yang lalu membuka ruang untuk korup.

    “Terbukti, tahun ini undang-undang yang jelas hanya lima dari yang masuk prolegnas 50 RUU. Setiap hari pada ngapain aja anggota DPR?” ucapnya.

    Grace mengungkapkan, jika Indonesia ingin berubah, tentunya harus ada transparansi mulai dari rekruitmen sampai menjabat sebagai anggota legislatif.

    “Ini harus jelas setiap hari apa yang dilakukan dari setiap wakil rakyat. Tidak hanya sekadar kamera ataupun CCTV pada saat sidang rapat komisi. Namun, ada report perhari yang membuktikan bahwa turut hadir dan mengerti terkait hal yang dibicarakan pada saat sidang,” pungkasnya.

    Jeirry Sumampouw, Koordinator Komite Pemilih Indonesia, menyampaikan bahwa narasi-narasi positif dan optimis sangat dibutuhkan dalam kontestasi 2019, ini untuk menjamin bahwa tahun 2019 bukan tahun pemilu terakhir.

    “Politisi-politisi muda ini mencoba memberikan ide-ide segar di tengah kondisi politik yang cenderung membosankan ini”, pungkasnya.